270210 Aturan Investasi di Penerbangan Terlalu Longgar

JAKARTA—Aturan investasi di industri penerbangan Indonesia dinilai terlalu longgar sehingga rentan dengan munculnya investor yang hanya mencari keuntungan sesaat.

“Aturan investasi di industri penerbangan memang terlalu longgar. Akhirnya bisa muncul investor dengan tipikal hanya mencari keuntungan tanpa adanya keinginan membangun industri,” kata Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesi (MTI) Danang Parikesit kepada Koran Jakarta, Kamis (25/2).

Menurutnya, regulator seharusnya dalam memberikan lisensi bagi satu perusahaan harus juga menyertakan kewajiban komitmen untuk melayani rute perintis layaknya di industri telekomunikasi adanya kewajiban membangun jaringan melalui program Universal Service Obligation (USO) sehingga konsolidasi dan ekspansi terjadis secara natural.

“Kalau itu tidak ada walau sudaha da kewajiban kepemilikan pesawat bisa membuat   investor baru hanya akan menggarap rute gemuk. Lama-lama pemain berjatuhan karena pasar yang digarap hanya itu-itu saja. Padahal transportasi udara salah satu sarana konektifitas perekonomian,” katanya.

Selanjutnya Danang mengingatkan, jajaran Perhubungan Udara harus semakin memperkuat infrastruktur pengawasannya karena para pemain bertambah banyak. “Saya dengar ada 11 perusahaan  mengajukan  Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP). Ini akan membuat pemain bertambah banyak. Standar keselamatan ahrus diperketat,” katanya.

Secara terpisah Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti Singayudha Gumay menegaskan,  pemerintah   mengizinkan maskapai asing untuk
mendapatkan SIUP dan beroperasi melayani penumpang antar rute di dalam negeri setelah   memenuhi syarat Undang-undang Penanaman Modal

Sesuai dengan UU Penanaman Modal, perusahaan asing yang masuk ke Indonesia mayoritas sahamnya harus dimiliki oleh pengusaha lokal. Sebagai contohnya perbandingan saham 51 persen untuk pengusaha lokal dan 49 persen untuk pengusaha asing.

“Ada maskapai asing ajukan SIUP seperti Firefly dari Malaysia.  boleh saja mendaftar ke Kemenhub. Kita akan laksanakan apabila telah memenuhi syarat yaitu mayoritas kepemilikan saham dari pemain lokal,” katanya.

Firefly adalah maskapai anak perusahaan Malaysia Airlines. Maskapai yang menggunakan pesawat baling-baling jenis ATR 72 tersebut telah sukses melayani rute jarak dekat antar negara Malaysia-Indonesia.

Herry menegaskan, pihaknya tidak gegabah mengeluarkan SIUP dengan memeriksa dulu investor lokal dari  Firefly. “ Kecil kemungkinan kalau mereka sendiri yang mengusulkan, karena jelas akan kami tolak,” katanya.

Sementara Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Tengku Burhanuddin menilai, masuknya Firefly ke pasar lokal  berpotensi merusak bisnis maskapai nasional.

“Pakai nama brand perusahaan penerbangan asing dapat merusak dinama perusahaan penerbangan sedang bangkit jangan dirusak dan dirugikan,” katanya hari ini.

Dia menduga, Firefly nantinya akan berpatungan dengan investor nasional  membentuk Firefly Indonesia dan dipastikan dikendalikan induk perusahaannya  Firefly Malaysia.

“Harus hati-hati karena pada umumnya di atas kertas  sahamnya memang 51 persen Indonesia dan 49 persen Malaysia tetapi yang berkuasa dalam  menentukan kebijakan  perusahaan yang minoritas,” ungkap dia.

Dia mendesak,   pemerintah tetap memikirkan kepentingan nasional  dengan membuat aturan baku yang lebih ketat guna mencegah penguasaan  maskapai asing dalam penerbangan domestik dan internasional.

Sebelumnya, Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan Tri S. Sunoko mengungkapkan,  maskapai asal Malaysia itu telah mengajukan SIUP maskapai penerbangan berjadwal penumpang pada awal tahun ini.”Pihak yang sedang mengajukan SIUP baru adalah Firefly Indonesia,  Saat ini sedang kami kaji,” katanya.

Sayangnya,  Tri enggan menyebutkan nama investor nasional yang digandeng FlyFirefly Sdn  Bhd.  “Yang jelas investor dalam negerinya perorangan bukan perusahaan. Orangnya  tidak terkenal dan saya sendiri tidak kenal. Saat ini persetujuan PMDN dan PMA dievaluasi oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),” katanya.[dni]

270210 Indonesia Butuh “Grid Server”

JAKARTA—Indonesia membutuhkan “Grid Server” agar menjadi pusat informasi sehingga trafik yang datang dan keluar dari wilayah nusantara menjadi berimbang.

Grid server semacam pusat server untuk semua hal, baik data center, content center, atau data perusahaan.

“Singapura dan Malaysia sudah membangun Grid Server dengan dukungan serat optik nasionalnya. Kedua perusahaan ini berambisi menjadi tempat berkumpulnya data (hub) regional. Indonesia sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara harusnya tidak boleh ketinggalan,” tegas Angota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono kepada Koran Jakarta, Kamis (24/2).

Menurut Nonot, jika negeri ini memiliki infrastruktur tersebut maka operator dari luar negeri akan lebih tertarik untuk bekerjasama dengan Indonesia karena semua informasi bisa diakses melalui Grid Server. “Investor dari luar negeri itu butuh banyak informasi tentang Indonesia mulai  seni budaya,  pariwisata, national digital library, dan lainnya. Ini tentu membuat  trafik akses dari luar negerimenigkat sehingga ada devisa yang masuk,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, keberadaan infrastruktur tersebut akan membuat  trafik domestik  naik, industri konten semarak,  dan akses terasa cepat karena pusat server berada di dalam negeri. “Lebih besar dari itu, Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri dan dihargai orang asing,” tandasnya.

Dikatakannya, investasi dari membangun  Grid Server tidaklah mahal karena bisa dicicil server farm-nya. “Sayangnya banyak pemimpin operator belum tertarik dengan bisnis ini. Jika diserahkan ke vendor server, mereka tidak mau karena inginnya manage data saja Padahal ini adalah bisnis masa depan, sepertinya butuh insentif dari negara layaknya Palapa Ring,” ketusnya.

Secara terpisah, GM Pemasaran Aplikanusa Lintasarta, M. Ma’ruf mengakui bisnis data center akan tumbuh di Indonesia, bahkan lebih besar dari  nilai pasar  regional karena di nusantara masih banyak perusahaan yang menempatkan data center satu lokasi dengan Disaster Recovery Center (DRC). “Harusnya itu dipisah. Karena itu kami melihat potensinya masih besar,” katanya.

Anak usaha dari Indosat ini pun berani menargetkan layanan data center akan berkontribusi sebesar 5 persen dari total pendapatan pada tahun ini. Pada tahun lalu Lintasarta berhasil meraup omzet satu triliun rupiah dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 20 persen pada tahun ini.

“Banyak segmen yang akan digarap, salah satunya segmen multi finance melalui solusi Business Continuity Plan (BCP),” jelasnya.

Sebelumnya, lembaga konsultan Frost & Sullivan mengungkapkan pendapatan dari pengelolan data center dan hosting di Asia Pasific akan  tumbuh 14,7 persen atau mencapai 9,18 miliar dollar AS pada akhir tahun nanti. Sedangkan pada 2011 diharapkan terjadi pertumbuhan sebesar 16.4 persen.

Tumbunya jasa data center   di Asia Pasifik  selama hampir satu dekade ini sejalan dengan peningkatan bisnis dan pelanggan internet.  Pemain besar data center di kawasan regional adalah Jepang, Australia, Singapura, Hong Kong dan diikuti oleh Cina, India dan Malaysia.  Jepang adalah negara terbesar dengan   memiliki nilai pasar lebih dari 71 persen (US$5.7 milyar) dari total pendapatan tahun lalu.

Kebanyakan dari pertumbuhan di banyak negara ini dipicu oleh kuatnya permintaan domestik, dan didukung oleh para pembuat kebijakan melalui e-governance dan e-readiness. Singapura dan Hong Kong berlanjut menjadi pusat fasilitas utama  di kawasan regional.[dni]

250210 Wimax bisa menjadi icon Indonesia

Oleh : Gunadi Dwi Hantoro

(Pengamat dan Praktisi Telekomunikasi)

Bicara  BWA (Broadband Wireless Access) tentunya tidak bisa lepas dengan yang namanya teknologi WiMAX (Worldwide Interoperablity for Microwave Access). Dengan potensi yang dimiliki, WiMAX menjadi bahan gunjingan dan harapan baru baik bagi operator, regulator, vendor maupun masyarakat calon pengguna broadband.

Persepsi yang berkembang, WiMAX merupakan teknologi yang mampu untuk memberikan kecepatan data hingga 70 MBps dan dengan jarak jangkau hingga 50 km.

Namu demikian untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah karena sangat tergantung dengan besarnya bandwidth dan juga dengan kondisi lingkungan berada. Yang pasti bisa disimpulkan bahwa untuk WiMAX di Indonesia tidak bakal mampu memberikan layanan hingga 70 Mbps karena terkait dengan kanalisasi yang tersedia.

WiMAX merupakan salah satu teknologi broadband yang menggunakan teknologi wireless sebagai media penghubung antara sentral office (operator) ke user (pelanggan). Berbeda dengan teknologiwireless broadband sebelumnya seperti WiFi maupun 3G,  WiMAX menjanjikan efisiensi frekuensi, kecepatan data maupun jangkauan yang lebih luas.

Operator

Di Indonesia, kondisi telekomunikasi memiliki keunikan tersendiri dari sisi jumlahnya.Lihat saja kasus operator seluler baik yang berbasis teknologi GSM maupun CDMA.Dengan penjumlahan operator CDMA dan  GSM, Indonesia menjadi negara dengan pemain terbanyak di dunia (ada 12 operator).

Operator BWA (WiMAX) di Indonesia tidak kalah denganjumlah operator seluler. Biladijumlahantara operator 3,3 GHz dan 2,3 GHz digabung, terdapat 16 operator.

TKDN

Berdasarkan Peraturan Menkominfo No 7/2009 tentang Penataan Frekuensi Radio untuk Keperluan Layanan Pita LebarNirkabel (Wireless Broadband) pasal 17 ayat 1 disebutkan, perangkat telekomunikasi yang digunakan pada frekuensi radio 2,3 GHz dan 3,3 GHz wajib memenuhi kandungan lokal (TKDN) minimal 30% untuk subscriber station (SS) dan 40% untuk base station (BS).

Berbeda dengan perangkat broadband yang lain seperti 3G, WiFi maupun DSL. Perangkat tersebut tanpa ada syarat kandungan TKDN untuk dapat diimplementasikan oleh operator. Sehingga bisa dibayangkan investasi triliunan rupiah dari banyak operator seluler di Indonesia terhempas keluar negeri. Hanya sekitra 3-4 % saja yang masih tertinggal di dalam negeri.

Dan demikian juga tidak jauh berbeda dengan investasi dari hotspot (menggunakan teknologi WiFi) atau DSL

Sampai sekarang tidak ada pabrikan lokal yang memproduksi baik perangkat seluler, WiFi maupun DSL. Jangankan untuk produksi perangkat seluler guidance yang berupa buku-buku seluler yang berbahasa Indonesia sangat jarang apalagi menyangkut aspek design yang dapat dikatakan tidak ada.  Kita hanya sebatas pengguna.

Dengan demikian, WiMAX disini dapat menjadi cirikhas Indonesia karena dengan munculnya peraturan yang baru dimaksud munculah perusahaan (pabrikan) dalam negeri yang mampu untuk memproduksi perangkat WiMAX. Sebut saja TRG, Harifft,  LEN dan Abhimata yang mengusung perangkat tersebut.

Bukan tidak mungkin Indonesia akan seperti China, karena banyak vendor yang mau bekerjasama dengan industri lokal sehingga menciptakan ekses baru seperti pembukaan lapangan kerja, peningkatan kompetensi  dan meningkatkan kemandirian bangsa.

Standar

Jika kita melihat kestandar WiMAX yang ada (mengacukestandar WiMAX Forum), maka standar yang beredar di Indonesia memiliki karakteristik khusus. Sebagai contoh BWA  frekuensi 2,3 GHz. Bila melihat ke WiMAX Forum maka frekuesni dimaksud diperuntukkan untuk alokasi frekuensi mobile WiMAX sedangkan di Indonesia untuk fixed WiMAX.

Selain itu juga bisa dibandingkan lebih detil lagi terkait dengan channel bandwidth (kanalisasi) tiap carriwe yang banyak mengacu keteknologi Fixed WiMAX.  Di frekeunsi 3,3 GHz, tidak mengacu ke profile WiMAX forum untuk fixed WiMAX karena di profile WiMAX forum maka yang ada hanya untuk frekuensi 3,5 GHz dan 5,8 GHz. Dengan demikian Indonesia menganut frekuensi minoritas.

Selain memiliki karakteristik khusus, maka bagi pemerintah dan vendor dalam negeri, spesifikasi teknis tersebut dapat dijadikan sebagai entry barrier masuknya produk asing kedalam negeri. Namun demikian, ini adalah suatu tantangan bagi vendor dalam negeri untuk menunjukkan kualitas baik dari sisi barang dan harga yang tidak kalah bersaing dengan produk asing.

Market Broadband

Bila melihat dari infrastruktur broadband yang telah tersedia seperti 3G, DSL maupunWiFi, maka pelanggan broadband Indonesia masih sangat sedikit. Menurut beberapa sumber,penetrasi broadband di Indonesia masih hanyasekitar 0,1 % dengan jumlah pengguna internet hanya sekitar 20 juta. Dan bila dibandingkan dengan jumlah penduduk dan potensi pasar yang ada maka masih banyak peluang yang bisa diambil oleh para operator untuk memberikan layanan broadband internet.

IKON Indonesia

Berdasar uraian diatas dan semakin banyaknya ekosistem yang terlibat dalam pengembangan BWA atau WiMAX Indonesia, maka diyakini bahwa WiMAX dapat menjadi IKON Indonesia. Bagaimana tidak dari sisi banyaknya operator, jumlah pabrikan atau vendor dalam negeri, besarnya potensi pasar maka Indonesia bisa menjadi IKON atau negeri WiMAX. Dalam seminar WiMAX strategies Asia bulan November 2009 yang lalu, operator WiMAX Packet One  menyatakan bahwa Malaysia merupakan negeri WiMAX.

Kalaupun demikian kenapa kita tidak jugamempromosikan bahwa WiMAX  bisa menjadi IKON Indonesia. Bandingkan dengan jumlah operator WiMAX di Malaysia, jumlah potensi pasar, jumlah pabrikan dalam negeri, maka Indonesia jauh memimpin bila disbanding dengan negeri jiran dimaksud. Semoga saja dan tentunya tidak sebatas IKON namun dapat bermanfaat bagi pengembangan ICT dan internet murah nasional.

250210 Bersaing Demi Sang Bintang

Perangkat besutan Research In Motion (RIM), BlackBerry, bisa dikatakan sebagai sang Bintang di industri telekomunikasi dalam negeri sejak tahun lalu.

Tak percaya? Sejak dibesut oleh Indosat enam tahun lalu, pada 2009 bisa dikatakan sebagai eranya BlackBerry. Pertumbuhan perangkat yang identik dengan push mail dan BlackBerry Messenger itu mencapai ratusan persen pada 2009 berkat adanya pola berlangganan harian, mingguan, atau bulanan.

Sebelumnya, ketika BlackBerry digeber oleh tiga operator, (Telkomsel, Indosat, dan XL) yang banyak menyasar pasar korporat, perangkat ini penjualannya adem ayem karena harga berlangganan bisa mencapai 500 ribu rupiah sebulan.

Saat ini diperkirakan pengguna layanan RIM di Indonesia berdasarkan mitra  adalah XL (260 ribu pelanggan),  Indosat (275 ribu pelanggan), Telkomsel (250 ribu pelanggan), Axis (20 ribu pelanggan), dan Smart Telecom (200 pelanggan).

Jika pada tahun lalu terdapat lima operator yang bermain di jalur BlackBerry, maka mulai tahun ini akan bertambah satu pemain lagi yaitu, Hutchison CP Telecom (HCPT). Belum lagi ada Indosat yang mengekstensifikasi jasa BlackBerry untuk pelanggan Fixed Wireless Access (FWA) StarOne.

Layaknya ketika pertama kali masuk ke industri seluler, HCPT pun menggebrak dengan harga murah. Jasa BlackBerry dibanting dari biasanya per bulan sekitar 150-180 ribu rupiah dipangkas menjadi 88 ribu rupiah.

Keberanian dari HCPT menawarkan harga murah ini tentu tak bisa dilepaskan dari dukungan induk usahanya Hutchison Whampoa Telecommunication yang memiliki kerjasama dengan RIM dan backbone langsung ke server RIM.

Sedangkan  operator lainnya seperti XL menyewa backbone untuk ke server RIM milik Aicent dan Tata, Telkomsel ke Singtel dan Aicent, Smart ke Aicent, dan Indosat menggunakan serat optic sendiri.

Tetapi banyak kalangan menilai, HCPT hanya mendapatkan margin tipis dari harga tersebut karena RIM selama ini menetapkan per pelanggan biaya sebesar 6 hingga 10 dollar AS untuk menggunakan jasa BlackBerry Internet Services (BIS).  Angka itu diluar   biaya data.

Siap Bersaing

Group Head VAS Marketing Indosat Teguh Prasetya, GM Sales XL Handono Warih dan VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo, mengaku siap bersaing dengan HCPT dalam menjual sang bintang.

“Pertumbuhan penjualan dari BlackBerry tetap akan mencapai 2-3 kali lipat dari tahun lalu. Kami saja menawarkan BlackBerry untuk StarOne dengan harapan nantinya akan menyumbang 10 persen dari total pengguna BlackBerry Indosat,” kata Teguh.

Teguh mengaku tidak khawatir dengan gaya HCPT yang membanting harga karena sebagai pendatang baru hanya itu alat yang bisa digunakan untuk menarik perhatian pasar.

“Beda harga yang mereka tawarkan tidak signifikan. Loyalitas di segmen ini ditentukan oleh brand awareness yang didapat melalui word of mouth. Sekarang persaingan tinggal siapa yang bisa  memberikan solusi   lebih menarik  dengan  dukungan  kehandalan kualitas jaringan dan pelayanan,” tegasnya.

Menurut Warih, bertambahnya pemain yang memasarkan BlackBerry di Indonesia sebagai strategi dari RIM untuk mempercepat pertumbuhan jasanya di Indonesia agar operator tidak berjualan perangkat saingannya seperti iPhone atau android.

Hal ini karena BlackBerry bsia menawarkan pendapatan yang menjanjikan dan konsumsi bandwidth yang bisa dikontrol. “Tetapi kami tidak khawatir karena peluang pasarnya masih luas,” katanya.

Sedangkan Gideon mengaku, semakin bergairah dengan adanya pemain baru karena pasar akan semakin kompetitif. “ Kami akan menyesuaikan diri dengn perkembangan pasar,” katanya.

Sementara Head of Core Marketing Product & Branding Smart Telecom Ruby Hermanto menegaskan tidak gentar dengan langkah Indosat yang menawarkan BlackBerry berbasis teknologi CDMA.

“Kami masih operator pertama berbasis teknologi CDMA di Indonesia yang memiliki kerjasama dengan RIM, sehingga masih banyak yang bisa dieksplorasi. Selain itu, lisensi Smart adalah seluler, tentunya kami lebih mendukung kinerja pengguna ketimbang FWA,” katanya.

Dijelaskannya, Smart dalam menawarkan BlackBerry juga membundel dengan akses internet  unlimited menggunakan teknologi Evolution Data Optimized (EVDO) menggunakan APN Smart bukan RIM. “Jadinya perangkat bisa dijadikan modem dengan tarif lebih murah. Selain itu, dalam peluncuran BlackBerry Tour nantiya kami akan menawarkan paket lainnya yang lebih kompetitif,” tegasnya.

Belum Turun

Sayangnya, walau pemain sudah mulai banyak, para pemain incumbent sepakat tidak akan memangkas biaya berlangganan pada tahun ini. Pasalnya, selain harus membayar biaya bulanan per pelanggan ke RIM, letak server  yang masih di Kanada sebagai pemicu masih mahalnya tarif.

“Kalau server RIM ada di Asia, itu bisa lain cerita. Bisa jadi tarif menjadi turun. Sekarang marginnya tipis sekali,” ungkap Gideon.

Warih menambahkan, makin banyak pemain tidak menjamin tarif akan turun karena skala eknomi yang diciptakan masing-masing operator berbeda. “Pelanggan jangan melihat tarif murah dari pemain baru. Bisa saja itu hanya bagian dari strategi meraup pelanggan baru, setelah itu tarif promosinya hilang,” katanya.

Sebagai incumbent, XL akan memperkaya layanan ke pelanggan dengan memberikan Value Added Services (VAS) berupa aplikasi XL Mall atau roaming internasional. “Sayangnya untuk VAS pelanggan BlackBerry masih butuh edukasi. Pelanggan masih senang dengan instant messaging atau situs jejaring sosial,” keluhnya.

Secara terpisah, Praktisi Telematia  Faizal Adiputra melihat ada berbagai motivasi bertambahnya pemain baru untuk sang bintang. Bagi Indosat  untuk menyelamatkan StarOne yang tidak mengalami pertumbuhan pelanggan signifikan sejak beberapa tahun lalu.

Bagi RIM upaya untuk menghadang pemain sejenis. “Sedangkan HCPT, ingin mengoptimalkan backbone yang telah dimiliki oleh induk usahanya. Apalagi, HCPT tidak memerlukan investasi besar untuk edukasi, sekarang tinggal diacak-acak dengan tarif murahnya,” katanya.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan, tidak dapat berbuat apa-apa terkait penurunan tarif jasa BlackBerry karena saat ini belum ada laporan resmi dari operator.

“Kami tidak bisa bergerak jika tidak ada laporan dari pengguna atau operator. Baiknya jangan berteriak di media massa ingin pemindahan server. Harusnya bicara tegas ke RIM. Posisi tawar Indonesia itu kuat, kok malah dibiarkan diobok-obok perusahaan asing,” keluhnya.[dni]

250210 Telkomsel Siapkan 15 Layanan Mobile Advertising

JAKARTA—Telkomsel menyiapkan sebanyak 12 hingga 15 fitur mobile advertising hingga akhir tahun nanti sebagai upaya mempertegas diri bermain di layanan New Services.

Mobile Advertising adalah layanan yang menajdikan ponsel sebagai media beriklan dari produsen. Saat ini Telkomsel telah memiliki enam fitur mobile advertising yaitu Bulk Services, Fress Ads, SMS 2.0, mobile media, Pop Screen, dan Wap Banner.

“Kami akan terus menambah fitur mobile advertising karena jasa ini adalah salah satu masa depan new services. Tak lama lagi kartu As Fress yang identik dengan mobile advertising pun akan direvitalisasi untuk mendukung jasa ini,” ungkap  VP Digital Music & Content Management Telekomsel Krish Pribadi di Jakarta, Rabu (24/2).

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, perseroan menargetkan mampu meraup omzet 400 miliar rupiah dari mobile advertising atau 10 persen dari 4 triliun rupiah yang dialokasikan oleh pengiklan untuk beriklan di media ponsel.

“Targetnya memang kecil karena ini adalah bisnis baru. Kami saja memulainya sejak dua tahun lalu dan sudah jatuh bangun. Tetapi sebagai pemimpin pasar ini harus dilakukan untuk membangun ekosistem,” jelasnya.

Krish menambahkan, industri periklanan kini telah memasuki tahapan baru untuk menyampaikan pesan pada masyarakat, yakni dengan memanfaatkan teknologi digital. “Layanan mobile advertising memiliki keunggulan lebih bisa dihitung responsnya, targeted, dan lebih hemat budget. Sekarang tinggal edukasi ke pengiklan dan biro iklan,” katanya.

Dikatakannya, Telkomsel telah bekerjasama dengan  33 media seller tahun ini dan diharapkan bisa  mencapai 100 perusahaan akhir tahun nanti. “Pengiklan pun sudah ada  100 dan semoga bisa mencapai 1000 mitra advertiser,” ujarnya.

Berdasarkan catatan, sepanjang tahun 2009 Telkomsel telah melakukan lebih dari 500 ekseskusi iklan yang melibatkan lebih dari 100 merek ternama dari berbagai kategori produk, mulai dari perbankan makanan dan minuman, consumer goods dan otomotif. “Kami memiliki basis pelanggan 82 juta nomor. Inilah daya tarik pengiklan bekerjasama dengan Telkomsel,” tandasnya.[dni]

250210 KemenKominfo Tetap Kaji RPM Konten Multimedia

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) tetap akan mengaji keberadaan dari Rancangan Peraturan Menteri (RPM) Konten Multimedia walaupun mendapatkan banyak penolakan di masyarakat.

“Sekarang kami sedang cooling down dulu sambil menanti masukan dari masyarakat terkait RPM ini. Silahkan jika ada masukan diberikan kepada Kemenkominfo,” kata Menkominfo Tifatul Sembiring di Jakarta, Rabu (24/2).

Ditegaskannya, RPM itu dibutuhkan untuk melindungi pengguna internet dari pornografi atau aksi yang bertentangan dengan nilai SARA. “Tetapi saya tegaskan tidak  tidak akan ada poin mengenai penutupan penyedia jasa internet (PJI) maupun yang mengusik kebebasan pers, jika rancangan  nantinya   disahkan,” tegasnya.

Dijelaskannya,   semangat pemerintah bukan hanya ingin memajukan bangsa Indonesia, yang maju di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tapi juga ntuk membangun karakter nasional.

“Kami hanya khawatir dengan adanya kemungkinan, hanya dengan tiga ribu rupiah   anak-anak di Indonesia bisa mengakses konten porno. Maka dari itu RPM ini kami tawarkan lagi,” ujar Tifatul  merujuk pada murahnya tarif untuk mengakses internet di warnet.

Dijelaskan Tifatul, RPM konten sendiri mulai dirancang pada tahun 2006, ketika jaman kepemimpinan Sofyan Djalil di Kemkominfo, kemudian diteruskan oleh Muhammad Nuh.

Lalu pada  2007, Kemkominfo mengundang para pakar untuk membahasa RPM tersebut, yang sebenarnya bernama kode etik konten multimedia. Baru pada tahun 2008 dilakukan uji publik pertama. Sedangkan pada tahun 2010, masa kepemimpinan Menkkominfo Tifatul Sembiring, Kemkominfo memposting kembali untuk uji publik.

“Kami sengaja melempar ke masyarakat karena sangat wajar, kalau ada peraturan, sebelum ditandatangani, harus dilempar ke publik, untuk mendapatkan masukan dan koreksi,” katanya.

Pada kesempatan sama, anggota komisi I DPR-RI Ramadhan Pohan mempertanyakan perihal cooling down yang dilakukan Kemenkominfo.”Kalau memang tidak setuju, kenapa RPM tak dicoret saja,” ketusnya.

Sebelumnya, , Direktur Operasional Indonesia Mobile & Online Content Provider Association (Imoca) Tjandra Tedja mendesak Tifatul untuk mengundurkan diri dari jabatan  Menkominfo sebagai wujud tanggungjawab simpang siurnya informasi  RPM Konten Multimedia.

“Sudah sewajarnya ada yang bertanggungjawab dari karut marut yang ditimbulkan akibat
RPM tersebut. Tentunya pejabat yang paling tinggi di Kemenkominfo harus bertanggungjawab. Jangan malah balik melempar tanggungjawab atau bilang tidak tahu,” tegasnya.

Menurut Tjandra, hal yang aneh jika Menkominfo tidak tahu tentang RPM tersebut, padahal sejak November 2009 termasuk sosok yang ikut melontarkan akan ada RPM tersebut ke publik. “Jika beliau memang tidak tahu berarti ada masalah komunikasi di kementrian yang memiliki label komunikasi itu,” ketusnya. [dni]

240210 Pendapatan Data Center di Asia Pasific Tumbuh 14,7%

JAKARTA—Pendapatan dari pengelolan data center dan hosting di Asia Pasific diharapkan tumbuh 14,7 persen atau mencapai 9,18 miliar dollar AS pada akhir tahun nanti.

Analisa yang dilakukan lembaga konsultan  Frost & Sullivan di  14 negara Asia Pasifik, termasuk Jepang, mencatat pendapatan kotor dari kedua layanan itu  sebesar 8.0 miliar dollar AS pada  2009 atau meningkat 12.8 persen dari tahun-ke-tahun.  Sedangkan pada 2011 diharapkan terjadi pertumbuhan sebesar 16.4 persen.

Country Director Frost & Sullivan Indonesia, Eugene van de Weerd mengungkapkan, lokasi data center dan pengelolaan layanan pasar hosting di Asia Pasifik telah menguat selama hampir satu dekade ini, sejalan dengan peningkatan bisnis dan pelanggan internet.

“Saya mengharapkan  pertumbuhan di Asia Pasifik ini terus berlanjut pada CAGR (compound annual growth rate) sebanyak 14.6 persen (2009-2011) dengan pendapatan membesar sebanyak  10.68 miliar dollar AS pada akhir 2011,” katanya di Jakarta, Selasa (23/2).

Menurutnya, layanan  Data Center merupakan bisnis besar yang sedang berkembang dan merupakan salah satu bisnis yang bertahan dari resesi. Hal ini karena  sebanyak 2/5 dari total konsumsi energi suatu perusahaan dihabiskan untuk keperluan data center, dan hal tersebut membuat biaya pemeliharaan data center menjadi sangat mahal.

“Permintaan penyediaan data center saat ini telah melebihi pasokan. Lebih dari 80 persen data center terbesar di Asia Pasifik telah berjalan hingga 90 persen dari kapasitasnya” katanya.

Pemain besar data center di kawasan regional adalah Jepang, Australia, Singapura, Hong Kong dan diikuti oleh Cina, India dan Malaysia.  Jepang adalah negara terbesar dengan   memiliki nilai pasar lebih dari 71 persen (US$5.7 milyar) dari total pendapatan tahun lalu.

Kebanyakan dari pertumbuhan di banyak negara ini dipicu oleh kuatnya permintaan domestik, dan didukung oleh para pembuat kebijakan melalui e-governance dan e-readiness. Singapura dan Hong Kong berlanjut menjadi pusat fasilitas utama  di kawasan regional.

“ Dorongan pemerintah untuk berinvestasi pada jaringan broadband generasi selanjutnya, infrastruktur TI dan negara yang telah e-ready, telah menciptakan komunitas internet yang kritis dan mengharapkan konten yang bermutu, kolaborasi dan aplikasi web. Permintaan ini merupakan penggerak utama pertumbuhan data centre di kawasan” katanya.

Diungkapkannya, media Internet, telekomunikasi dan industri TI   telah mencakup 45 persen dari permintaan jasa data center. Sektor ini masih terus berkembang di hampir semua negara Asia Pasifik dan diharapkan akan berlanjut menjadi pengguna data center terbesar dalam empat sampai lima tahun kedepan.

“Di Asia, data center cenderung berpusat di kota-kota dengan biaya hidup tinggi, seperti Tokyo, Hong Kong, Singapura, Shanghai dan Sydney, “ tambahnya.

Sehubungan dengan meningkatnya OPEX (operational expenditure), teknologi yang dapat mengganggu  juga menekan para operator data center untuk meningkatkan fasilitas mereka secara berkala untuk tetap mengikuti perkembangan teknologi.

Sebagai contoh, banyak data center terpaksa meningkatkan sistem pendinginan mereka untuk memenuhi permintaan blade server, yang walaupun membutuhkan ruangan yang kecil tetapi menghabiskan banyak energi. Hal tersebut memperlihatkan bahwa hampir dua persen dari persediaan listrik dunia dihabiskan untuk keperluan data center.

“Fokus dari program inisiatif hijau telah bergeser menjadi program penghematan biaya daripada untuk corporate social responsibility pada 12 bulan terakhir ini, dengan berbagai diskusi tentang konsep terbaru seperti virtualisasi, data center yang ramah lingkungan dan peralatan computer yang dibutuhkan untuk data center,” jelasnya.

Sayangnya, tidak banyak pemilik data center di Asia Pasifik yang cukup peka untuk menerapkan fasilitas ini dikarenakan kurangnya kemampuan dan besarnya biaya untuk implementasi dan perawatan.

Sementara GM Pemasaran Aplikanusa Lintasarta, M. Ma’ruf memprediksi, nilai pasar data center di Indonesia bisa tumbuh di atas angka regional karena di nusantara masih banyak perusahaan yang menempatkan data center satu lokasi dengan Disaster Recovery Center (DRC).

“Harusnya itu dipisah. Karena itu kami melihat potensinya masih besar,” katanya.

Anak usaha dari Indosat ini pun berani menargetkan layanan data center akan berkontribusi sebesar 5 persen dari total pendapatan pada tahun ini. Pada tahun lalu Lintasarta berhasil meraup omzet satu triliun rupiah dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 20 persen pada tahun ini.

“Banyak segmen yang akan digarap, salah satunya segmen multi finance melalui solusi Business Continuity Plan (BCP),” jelasnya.[dni]