Jagoan Pasti Menang

JAKARTA—Presiden Komisaris TiPhone Mobile Tbk (TELE) Hengky Setiawan selalu memiliki cara mematahkan serangan lawan. Termasuk, pertanyaan dari kalangan wartawan yang terkesan memojokkan dirinya atau perusahaan yang dibesarkannya secara susah payah.

Usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tiphone belum lama ini, wartawan mempertanyakan pertumbuhan dari pendapatan TiPhone yang kedodoran dibandingkan kompetitornya selama kuartal I-2012.

Tercatat, TiPhone hanya  berhasil mencetak omset sebesar 1.627 triliun rupiah  di kuartal pertama 2012 atau naik 16,5%  dari periode sama tahun lalu sebesar  1.396 triliun rupiah.

Sedangkan  laba bersih  pada kuartal pertama 2012 sebesar   39.083 miliar rupiah atau naik  6,9% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar   36.528 miliar rupiah.

Bandingkan dengan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) yang berhasil membukukan keuntungan sebesar  79.716  miliar rupiah selama kuartal pertama 2012 atau naik
naik 40,7% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar  56.622 miliar rupiah.

Sementara pendapatan yang dicetak oleh emiten dengan kode ERAA ini melesat jauh yakni sekitar 220% dari  989.263 miliar rupiah pada kuartal pertama 2011 menjadi  3.172 triliun rupiah  di kuartal pertama 2012.

Menanggapi hal itu, Pria yang akrab disapa Hengky ini secara santai mengatakan, senjata pamungkasnya belum dikeluarkan semua. “Saya ini jagoan, dimana-mana jagoan itu selalu menang di akhir cerita. Kita lihat saja nanti di akhir tahun,” katanya enteng.

Menurutnya, naiknya kinerja kompetitor karena pencatatan hasil perusahaan yang diakuisisi sudah bisa dikonsolidasi. Hal ini berbeda dengan TiPhone yang masih tahap penjajakan untuk mengakuisisi beberapa perusahaan.

“Kami nanti akan bikin heboh industri jika berhasil mengakuisisi beberapa pemain distributor. Pertumbuhan kita akan melesat. Lihat saja nanti. Jagoan selalu ada unsur kejutan,” katanya.

Hengky boleh optimistis, tetapi pesaingnya, ERAA, baru saja berhasil mengakuisisi iBox Indonesia dengan nilai transaksi 18 juta dollar AS. Jika terus bersikap santai, title sebagai jagoan tentu akan dicopot di akhir tahun nanti.[dni]

Indosat Mulai Proses Penawaran Obligasi Rp 2,5 Triliun

Jakarta— PT Indosat Tbk (Indosat) memulai proses penawaran surat utangnya ke publik dengan nilai  2,5 triliun rupiah yang terdiri atas obligasi Indosat VIII senilai dua triliun rupiah dan sukuk ijarah V senilai 500 miliar rupiah.

“Kami akan memulai Public Expose,  besok (Selasa, 29/5). Artinya mulai penawaran ke investor,” ungkap Corporate Secretary Indosat Strasfiatri Auliana ketika dihubungi Senin (28/5).

Sedangkan dalam prospektus ringkas perseroan  yang dipublikasikan pada Senin (28/5) disebutkan surat utang atau obligasi dan sukuk ijarah yang ditawarkan tersebut mempunyai peringkat AA+ dari lembaga pemeringkat efek Pefindo.

Obligasi VIII Indosat dibagi dalam dua seri yakni seri A mempunyai jangka waktu tujuh tahun dan seri B berjangka waktu 10 tahun. Sukuk ijarah V berjangka waktu tujuh tahun.

Dana dari hasil penerbitan obligasi dan sukuk ijarah akan digunakan sebanyak 65 persen untuk pembayaran lisensi jaringan kepada pemerintah, yaitu pembayaran hak penggunaan izin pita spektrum radio (IPSFR) penyelenggaraan jaringan bergerak selular di frekuensi radio 800 mhz, 900 mhz, dan 1.800 mhz untuk periode 15 Desember 2012-14 Desember 2013.

Sisanya 25 persen akan digunakan untuk pembelian base station subsystem untuk menambah kapasitas di area dengan trafik tinggi dan memperluas jaringan.

Sekitar 10 persen lagi akan digunakan untuk melaksanakan opsi beli atas obligasi Indosat II tahun 2002 seri B sebesar 200 miliar rupiah. Surat utang ini semula akan jatuh tempo pada 2031 dengan nilai pokok  200 miliar rupiah.

Sebelumnya, perseroan mengungkapkan rencana penerbitan obligasi dan sukuk ijarah  dengan maksimum penerbitan masing–masing   2,5 triliun rupiah  dan   500 miliar rupiah dengan jangka waktu maksimal 10 (sepuluh) tahun guna memperkuat struktur pemodalan pada 2012.

Penerbitan surat hutang ini rencananya dibantu oleh sindikasi penjamin emisi yang terdiri dari PT. DBS Vickers Securities Indonesia, PT. Danareksa Sekuritas, PT. HSBC Securities Indonesia, PT. Mandiri Sekuritas, dan PT. Standard Chartered Securities Indonesia.Sedangkan  wali amanat adalah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero).

Berkaitan dengan pelunasan lebih awal obligasi Indosat II tahun 2002, Presiden Direktur Indosat harry Sasongko, kala Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) medio Mei lalu mengungkapkan,  pelunasan awal obligasi Indosat II Seri B Tahun 2002 dengan harga 101 persen dari nilai pokok.

Genjot Penjualan
Sementara itu, Chief Marketing Officer Indosat Erik Meijer mengatakan, perseroan tengah menggenjot penjualan dari produk prabayar IM3 dengan memanfaatkan momentum liburan sekolah yang akan datang tak lama lagi.

“Pada musim liburan sekolah, biasanya penjualan mengalami peningkatan sedikit karena pelanggan yang liburan sekolah ada uang sisa yang bisa dipakai belanja dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan gadget sehingga penggunaan meningkat,” katanya.

Dijelaskannya, untuk memanfaatkan momentum tersebut, IM3 muncul dengan paket prabayar yang
memberikan akses gratis ke social media sesuai dengan tren berkomunikasi pengguna muda saat ini.

“Sayangnya penjualan akan melambat usai liburan sekolah karena uang digunakan untuk keperluan pendidikan. Tetapi nanti ada harapan kala Ramadan,” katanya.

Brand Manager IM3 Andre Reinaldy mengungkapkan, penjualan produk IM3 selama liburan sekolah biasanya lebih tinggi ketimbang industri. “Jika industri terjadi kenaikan 5%, kami bisa lebih tinggi. Pasalnya, merek IM3 sudah kuat di mata anak muda,” katanya.

Untuk diketahui, kinerja Indosat selama kuartal I/2012 kurang menggembirakan. Tercatat,  laba  mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I/2012 dari posisi  483,7 miliar  rupiah pada kuartal I/2011 menjadi   16,7 miliar rupiah   di kuartal I tahun ini.

Sedangkan  omset Indosat pada kuartal I/2012 naik sebesar 2,1% dari  4,874 triliun rupiah  pada kuartal I/2011 menjadi   4,977 triliun rupiah  di kuartal I/2012. Pelanggan seluler Indosat hingga kuartal I-2012 tercatat 52,1 juta nomor dimana produk IM3 berkontribusi hingga 65%.[dni]

Emiten Produk Telekomunikasi Bidik Laba Tumbuh 30,8%

JAKARTA– PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk (TELE) membidik membukukan laba sebesar 200 miliar rupiah pada akhir 2012 atau tumbuh 30,8 persen dibandingkan 2011 yang sebesar 152,8 miliar rupiah.

Presiden Direktur Tiphone Mobile Indonesia Tan Lie Pin menjelaskan, untuk mencapai target keuntungan yang ditetapkan, perseroan harus mencapai omset pada 2012 sebesar 8 triliun rupiah atau naik 14,5% dibandingkan perolehan 2011 sebesar 6,6 triliun rupiah.

“Hingga kuartal pertama 2012 perseroan telah meraih omset 1,6 triliun rupiah dengan laba sebesar 39.083 miliar rupiah,” ungkapnya usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta, Rabu (30/5).

Diungkapkannya, strategi perseroan untuk menjaga pertumbuhan pendapatan perseroan ada dua yakni meningkatkan jalur distribusi dari penjualan ponsel merek sendiri (Tiphone) dan voucher dari mitra operator, serta melakukan akuisisi perusahaan distributor perangkat dan voucher.

“Kita mengandalkan pertumbuhan dari organik dan anorganik. Komposisinya 50:50, setidaknya ada empat perusahaan distribusi yang akan diakuisisi pada tahun ini dengan total alokasi bujet yang disiapkan sekitar 400 miliar rupiah. Sementara untuk perluasan saluran distribusi disiapkan dana 50 miliar rupiah, sedangkan total belanja modal sebesar 750 miliar rupiah yang didapat dari kas internal dan eksternal,” ungkapnya.

Saat ini pendapatan terbesar TiPhone berasal dari pemasaran voucher telepon seluler. Dari keseluruhan penjualan, voucher Telkomsel menempati proporsi terbesar, 70 persen. Sebanyak 20 persen merupakan voucher dari konten dan TiPhone.

Presiden Komisaris Tiphone Mobile Indonesia Hengky Setiawan mengharapkan, aksi akuisisi yang dilakukan perseroan bisa tuntas pada kuartal keempat tahun ini. “Ada beberapa perusahaan yang kita bidik. Sinar Mas Grup menjadi penasihat keuangan untuk membantu aksi ini. Salah satu yang dibidik adalah perusahaan yang menjadi  distributor produk Apple Inc terbesar di Indonesia dan perusahaan distributor voucher,” katanya.

Sekretaris Perusahaan Tiphone Mobile Indonesia Samuel Kurniawan menjelaskan, perusahaan yang akan diakuisisi profilnya harus memiliki kontribusi omset diatas 30-40 persen jika dibandingkan dengan total omset Tiphone. “Jika hanya omset setara 10 persen, itu buang-buang energi. Sekarang kita sedang menunggu hasil audit terhadap perusahaan yang dibidik, jika dianggap bagus, maka aksi akusisi berlanjut,” katanya.

Untuk diketahui, rencananya pada  semester pertama 2012 Tiphone  akan membeli satu perusahaan yang menjadi distributor produk Apple di Indonesia dengan nilai  mencapai  40 juta dollar AS.

Setelah akuisisi distributor Apple,  TiPhone membidik dua perusahaan yang bergerak di bidang distribusi voucher dan ritel. Kemungkinan besar akuisisi ini dilakukan pada semester kedua 2012.

Berkaitan dengan isu yang merebak bulan lalu sebagian saham dari perseroan akan dibidik oleh Samsung atau Research In Motion (RIM), Samuel mengaku hingga saat ini tidak ada pembicaraan yang dilakukan dengan kedua raksasa tersebut. “Kami belum pernah dihubungi oleh kedua perusahaan itu. Jadi, hingga sekarang tidak ada pembicaraan,” tegasnya.

Sebelumnya, beredar kabar TELE tengah dibidik oleh produsen BlackBerry, Research in Motion (RIM), dan vendor ponsel dari Korea, Samsung. Dikabarkan harga saham yang ditawarkan oleh kedua perusahaan tersebut berkisar  600 rupiah per lembar saham.[dni]

Dari Time ke Times

JAKARTA – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) telah memiliki nakhoda baru sejak pertengahan Mei lalu. Arief Yahya atau yang akrab di sapa AY sejak menjabat posisi Telkom-1 terkesan menjauh dari media.

Selidik punya selidik, ternyata AY sedang berkonsentrasi untuk konsolidasi di internal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) halo-halo itu. Rotasi di Telkomsel dengan ditunjuknya pejabat baru adalah bentuk kongkrit aksi AY.

Berikutnya, gerbong  The Dream Team yang digadang-gadang mantan Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom ini sedang mempersiapkan pejabat-pejabat yang akan menduduki posisi yang ditinggalkan oleh personal karena dipromosikan menjadi direksi di Telkom atau Telkomsel.

Kesibukan lain yang dilakukan oleh AY dalam rangka konsolidasi internal adalah mensosialisasikan tentang Time ke Times. Telecomunication Information Media dan Edutainment (TIME) adalah jargon transformasi yang dilakukan oleh Telkom sejak 2009.

“Saya menambah huruf  “S” alias service sehingga menjadi TIMES. Telkom punya produk yang banyak dan menyasar segmen beragam. Service harus dihaja oleh semua elemen Telkom,” katanya beberapa waktu lalu.

AY menegaskan, jika terkesan Telkom memiliki produk yang saling bermain di pasar yang sama, itu tak bisa dilepaskan dari strategi merek. “Misalnya Simpati dan AS di kartu prabayar seluler. Kita posisikan AS itu attacker sementara Simpati defender. Semua ada porsinya Telkom sebagai penguasa pasar tetap terjaga,” katanya.

Menurutnya, masa depan dari produk-produk Telkom nantinya akan datang dari tiga segmen yakni eksisting market, new market, dan future market.
“Saya tebak-tebakan kalau untuk produk  bisa hidup itu harus menggarap new dan future market. Jika tak menggarap kedua pasar itu, berarti tidak berjiwa muda,” katanya.[dni]

Anak Usaha Telkom Bidik Keuntungan Rp 22,75 Miliar

JAKARTA–PT Finnet Indonesia (Fin@Net) membidik keuntungan sebesar 22,75 miliar rupiah hingga akhir 2012 atau tumbuh 75 persen dibandingkan 2011 sebesar 13 miliar rupiah.

Presiden Direktur Finnet Indonesia Walden R Bakara mengungkapkan, guna mencapai target keuntungan tersebut perseroan mengharapkan omset tumbuh sekitar 21 persen pada tahun ini.

“Pada 2011 Finnet mendapatkan omset 165 miliar rupiah. Tahun ini kita bidik 200 miliar rupiah. Sedangkan alokasi belanja modal sekitar 30 miliar rupiah yang banyak diserap untuk membangun aplikasi dan interface antara merchant dengan bank,” jelasnya di Jakarta, Rabu (30/5).

Diungkapkannya perseroan bergerak di bisnis penyediaan layanan solusi sistem transaksi pembayaran secara elektronik (e-payment) untuk segala keperluan transaksi pembayaran transaksi.

Finnet Indonesia bekerjasama dengan lebih dari 50 bank guna menyediakan layanan proses mengintegrasikan dan mentransformasikan semua entitas bisnis baik bank, billers atau merchant, regulator, agents, dan end user yang terlibat dalam transaksi finansial menjadi lebih sederhana dengan menggunakan switching Fin@Net.

“Kami sekarang menjadi platform e-payment dan juga memiliki portal belanja http://www.belanjakeinternet.com guna mendorong penggunaan produk Finpay sebagai layanan proses pembayaran yang ditujukan untuk bisnis online,” jelasnya.

Menurutnya, Finnpay adalah sistem pembayaran yang mudah serta aman bagi pembeli dan pebisnis.

Sistem ini memungkinkan transaksi secara online dari pembeli atau pelanggan dengan menggunakan berbagai cara pembayaran antara lain dengan kartu kredit, bank transfer secara elektronik melalui ATM, internet banking, mobile banking atau e-money seperti Mcmobilecash.

“Kita bidik ada satu juta transaksi terjadi di toko belanjakeinternet dengan finnpay melalui 1000 merchant. Saat ini kontribusi utama pemasukan perseroan masih Telkom grup seperti Telkomsel atau pelanggan telepon kabel. Itu hampir 80%, sisanya dari voucher prabayar PLN dan lainnya,” katanya.

Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengharapkan Finnet akan menjadi penyedia platform payment terbesar di Indonesia karena memiliki produk yang lengkap baik secara online atau offline.

“Perubahan teknologi membuat ekosistem berubah, begitu juga dengan metode pembayaran. Finnet akan menjadi pemain besar jika mampu mengoptimalkan pelanggan eksisting, baru, dan masa depan dengan membangun komunitas,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, praktisi telematika Bayu Samudiyo mengatakan, Telkom sudah memiliki lini produk yang banyak di bisnis internet.

“Pekerjaan rumah Telkom adalah membuat setiap produk itu tumbuh dan melakukan penetrasi di luar pasar Telkom Grup,” katanya.[Dni]

2013, Emiten Seluler Optimistis Catat BEP

JAKARTA– PT Smartfren Telecom Tbk (Smartfren) optimistis di akhir 2013 nanti akan mampu mencatat kinerja keuangan yang positif seiring kian kuatnya kontribusi jasa data bagi omset perseroan.

“Kami optimistis pada 2013 akan mencatat Break Even Point (BEP), jika semua rencana yang dibuat pada tahun ini berjalan mulus,” ungkap Deputy CEO Commercial Smartfren Djoko Tata Ibrahim di Jakarta, Rabu (30/5).

Diungkapkannya, rencana besar yang dimiliki perseroan pada tahun ini adalah bisa meraih omset sekitar dua hingga 2,5 triliun rupiah dimana jasa data berkontribusi 60-75 persen bagi total omset.

“Pada tahun lalu omset data baru berkontribusi 35% dengan jumlah pelanggan ratusan ribu nomor. Jika pendapatan terus  naik, sementara beban dapat dijaga flat pertumbuhannya. itu signifikan menekan bottom line perseroan,” jelasnya.

Menurutnya, mencetak omset dua kali lipat dibandingkan 2011 bukan merupakan pekerjaan berat melihat penjualan yang berhasil dilakukan perseroan belum lama ini.

Pasalnya, produk donggle atau modem Smartfren menguasai hampir 60 persen pangsa pasar. Tercatat, dari 10 ribu modem yang terjual, sekitar 6 ribu merupakan produk Smartfren.

Menurutnya, diminatinya donggle yang dijual Smartfren tak bisa dilepaskan dari paket berlangganan data yang terjangkau. Terbaru, perseroan melepas USB Modem EV-DO Rev B Phase 2 seri CE 81B seharga 399 ribu rupiah.

Belum lagi di layanan BlackBerry yang pada April lalu berjumlah 110-120 ribu pelanggan. “Sejak bulan lalu, setiap bulan ada sekitar 30 ribu pelanggan BlackBerry baru datang ke galeri Smartfren. Ini karena mereka mencari jaringan yang berkualitas,” katanya.

Dia optimistis, pengguna jasa data Smartfren hingga akhir tahun nanti bisa berjumlah sekitar 3,8 juta nomor melonjak dari posisi sekarang  1,8 juta nomor.

Lebih lanjut diungkapkannya, untuk menopang jasa data perseroan  berencana akan menambah 40 persen BTS dari jumlah yang ada saat ini, 4300 BTS.

Berikutnya, membangun serat optik untuk koneksi ke luar negeri bekerjasama dengan Moratel dengan rute Jawa-Bangka-Batam-Singapura yang menelan investai sekitar 20 juta dollar AS.

Sementara untuk rute Surabaya-Jakarta yang selama ini menjadi backhaul baru saja ditingkatkan kapasitasnya dari 5 Gbps menjadi 10 Gbps.

Terakhir, menggunakan solusi Netsnapper untuk membantu  optimize bandwidth dan memindahkan trafik kala padat (offloading)  ke ke Wifi.

Untuk diketahui, berdasarkan laporan keuangan perseroan pada otoritas bursa,  Smartfren mengalami kerugian bersih sebesar 533.430 miliar rupiah   pada kuartal pertama 2012 atau naik 89 persen dibandingkan periode sama 2011 sebesar  281.0477 miliar rupiah .

Namun, Smartfren masih mampu mempertahankan kinerja yang positif untuk omset dimana terjadi kenaikan 48% yakni   210 688 miliar rupiah  pada kuartal pertama 2011 menjadi  312.093 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Sedangkan pada 2011, perseroan  mencetak kerugian  sebesar  2,4 triliun rupiah  atau naik 71% dibandingkan 2010 sebesar  1,4 triliun rupiah. Kerugian yang dialami oleh  Fren karena naiknya  beban usaha dan hutang.[Dni]

Indosat Utilisasi Pasar Korporasi

JAKARTA–PT Indosat Tbk (Indosat) tetap mengutilisasi pasar korporasi guna menjaga pertumbuhan omset menyamai industri yakni sekitar 5-6 persen hingga akhir tahun ini.

“Pasar korporasi di bawah direktorat  wholesale infrastructure tetap digenjot penjualannya tahun ini, meskipun penopang utama pendapatan masih dari jasa seluler di retail,” ungkap Director and Chief Wholesale Infrastructure Officer Fadzri Sentosa di Jakarta

Diungkapkannya, pada tahun lalu segmen korporasi mampu berkontribusi sebesar  25 persen bagi total omset. Dimana sumbangan utama berasal dari jasa Multimedia, Komunikasi Data, dan Internet (MIDi), disusul sambungan langsung internasional.

Berdasarkan catatan, Indosat pada 2011 meraih omset sebesar   sebesar  20.576,9 triliun rupiah  atau naik 3,9 persen dibandingkan 2010 sebesar 19.796,5 triliun rupiah.

Bisnis seluler dengan 51,7 juta pelanggan  membukukan omset 16.750,9 triliun rupiah  pada 2011 atau naik 4,5 persen dibandingkan 2010 sebesar  16.027 triliun rupiah.

Jasa MIDI meraup omset 2.576 triliun rupiah pada 2011 atau naik 4 persen dibandingkan 2010 2.476 triliun rupiah.

Dijelaskannya, salah satu cara untuk menggenjot pasar korporasi dengan menawarkan solusi cloud computing yang masuk sebagai bagian dari Value Added Services (VAS) untuk segmen korporasi.

Cloud Computing  adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dan pengembangan berbasis internet (awan) dimana informasi secara permanen tersimpan di server internet, dan sementara di komputer pengguna (client) termasuk pada desktop, komputer tablet, notebook, gadget dan lainnya.

“Secara industri VAS berbasis cloud computing tumbuh 40 persen. Kami membidik sama dengan itu,” katanya.

Diungkapkannya, perseroan memiliki infrastruktur berupa jaringan seluler untuk koneksi internet dan data center guna mendukung cloud computing. Data center di kantor pusat Indosat disiapkan seluas 1.000 meter, sementara Disaster Recovery Center (DRC) dengan tingkat okupansi 70 persen dimiliki seluas 2 ribu meter.

“Kami rencananya akan menambah kapasitas data center di kantor Indosat seluas 200 meter tahun ini. Investasinya sekitar satu juta dollar AS. vendornya Dimension data,” jelasnya.

Aksi  Telkom
Pada kesempatan sama Direktur IT Solution and Strategic Telkom Indra Utoyo mengungkapkan, perseroan telah terlebih dahulu mengembangkan inovasi cloud computing

“Pada tahun lalu Telkom berinvestasi sekitar 10 juta dolar AS untuk cloud computing. Pada tahun ini besaran investasi untuk cloud computing akan diseuaikan dengan tren bisnis. Jika diperlukan kita akan meningkatkannya,” kata Indra.

Menurut Indra, sejak resmi meluncurkan awal Juni 2011, layanan cloud computing Telkom sudah digunakan sejumlah Usaha Kecil Menengah dan korporasi (UKM).

“Kita memang menargetkan aplikasi layanan cloud untuk masuk ke pasar enterprise termasuk ke lembaga-lembaga pemerintah melalui program e-government,” ujarnya.

Ditegaskannya,  Telkom akan terus mengembangkan layanan ke ekosistem bisnis seperti perbankan, perindustrian, rumah sakit hingga koperasi.

“Saat ini sektor UKM dan perbankan mendominasi penggunaan cloud computing dengan aplikasi BPR-1 yang sudah diperkenalkan sejak tahun 2010,” ujarnya.

Menurutnya, solusi cloud banyak diaplikasikan pada sisi Enterprises Resources Planning (ERP), Customer Relationship Management (CRM), dan horizontal aplication.

“Kita memiliki semua platform tersebut yang disesuaikan dengan keinginan pengguna,” ujarnya.

Ditegaskannya, bisnis cloud computing di Indonesia sudah menunjukkan geliat yang lumayan besar cuma saja harus segera diikuti dengan regulasi karena inovasi ini menjadi penopang omset di segmen korporasi.

“Kita memperkirakan dalam 2-3 tahun ke depan nilai bisnis cloud computing di Indonesia akan semakin membesar, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan akan akses jaringan internet,” katanya.

Secara terpisah, Aktivis Indonesia Cloud Forum Teguh Prasetya mengatakan, cloud computing memang akan menjadi salah satu mesin pendapatan bagi operator di masa depan jika mampu membangun ekosistem secara bersama-sama.

“Operator tidak bisa hanya mengambil posisi sebagai penghantar data dalam menjual cloud computing. Model bisnis saling menguntungkan harus dicari secara bersama agar tidak hanya menjadi penonton,” katanya.[dni]

Icon+ Bidik Omset Tembus Rp 1 triliun

JAKARTA–PT Indonesia Comnets Plus (ICON+) membidik omsetnya bisa menembus angka lebih dari satur triliun rupiah hingga akhir tahun 2012 dengan agresif menggarap pasar korporasi.

“Pada 2011, ICON+ meraih pendapatan 700 miliar rupiah. Tahun ini kita harapkan pertumbuhan omset sebesar 50 persen sehingga berhasil menembus sekitar 1,050 triliun rupiah,” ungkap Presiden Director ICON+, M Danny Buldansyah di Jakarta, Kamis (24/5).

Diungkapkannya, guna mencapai target tersebut perseroan terus berbenah diri dengan lebih serius menggarap pasar korporasi diluar melayani solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari  induk perusahaan, PT PLN (Persero).

“Saat ini perseroan telah melayani lebih dari 920 perusahaan di Indonesia. Perusahaan itu termasuk perusahaan 110 telekomunikasi, 70 perbankan serta sektor keuangan, pemerintahan dan manufaktur,” ungkapnya.

Dijelaskannya, komposisi penopang omset perseroan pada tahun lalu adalah dari induk perusahaan sebesar 40 persen, sedangkan dari pasar korporasi di luar PLN sisanya.

“Perusahaan ini didirikan memang untuk melayani solusi TIK bagi PLN, tetapi kita juga tidak mau kapasitas dari infrastruktur yang ada menjadi sia-sia. Dan pemanfaatan kapasitas dengan melayani pasar non PLN justru memberikan dampak positif. Buktinya pada 2011 keuntungan ICON + mencapai 50 miliar rupiah dengan Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) margin sekitar 30 persen,” katanya.

Diungkapkannnya, pada tahun ini perseroan mengalokasikan dana sekitar 600 miliar rupiah untuk membangun serat optik di Sulawesi, Sumatera, dan meningkatkan performa dari infrastruktur yang sudah ada. Pendanaan berasal dari kas internal dan pinjaman induk usaha, khususnya untuk proyek pengadaan bagi PLN.

“Kami memiliki serat optik sepanjang hampir 89.000 km di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Kalimantan. Tetapi baru menguasai 10 persen pangsa pasar jasa data komunikasi untuk pasar korporasi. Ini artinya kita belum  optimal, karena itu pada tahun ini akan didorong lebih agresif,” katanya.

Dikatakannya,  salah satu strategi untuk lebih agresif adalah  menyediakan layanan yang selelu siap dengan down time minimal sehingga memenuhi service level agreement, ICON+ didukung oleh SDM yang berkompeten dan jaringan

“Kami punya keunggulan dalam soal pemasangan jika bicara infrastruktur dengan right of way karena tiang listrik milik PLN tinggal dipasang serat optik. Apalagi harga kita terjangkau, sehingga tidak minder untuk bersaing dengan pemain besar,” tegasnya.[dni]

Telkom Investasi Rp 3 triliun Demi Satu Juta Titik WiFi

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengalokasikan investasi sekitar tiga triliun rupiah untuk membangun satu juta titik WiFi guna mendukung bisnis Information, Media, dan Edutainment (IME).

“Proyek membangun satu juta titik WiFi ini dimulai pada tahun ini. Lelang akan dilakukan dimana dari 19 peserta sudah 7 yang lolos,” ungkap EGM Telkom Multimedia Joddy Hernandy di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, para peserta yang sudah lolos dan akan ditentukan pemenang tender tak lama lagi diantaranya Cisco, Ruckus, Bellair, dan HP. “Proyek ini akan selesai empat tahun dari sekarang atau sekitar 2016,” ungkapnya.

Direktur IT Solution & Strategic Telkom Indra Utoyo menambahkan, pada tahun ini perseroan membidik ada 50 ribu titik WiFi yang selesai dibangun. “Itu anggarannya sekitar  285 miliar rupiah, dimana didalamnya sudah termasuk  mengembangkan konten, aplikasi, dan  membangun 50 ribu titik WiFi,” jelasnya.

Menurutnya, Telkom dalam membangun ekosistem bisnis IME berbasiskan pada Device, network, dan Application (DNA). “Kita harus bisa memberikan konten yang multi play (telephone, internet, dan video) di multi screen  yakni ponsel, desktop, dan televisi. Membangun akses WiFi sebagai salah satu cara mendukung ekosistem itu.,” katanya.

Dikatakannya,  Telkom dalam melihat bisnis IME juga mengapresiasi shadow revunue yang dihasilkan jasa ini guna mendukung bisnis akses. Hal itu sudah dipertunjukkan anak usaha, Telkom Sigma yang bisa memberikan multiplier effect 4,8 kali bagi omset Telkom grup pada 2010 dan 6,3 kali di kuartal pertama 2011.

“Pada 2011 bisnis IME berkontribusi sekitar 9% bagi total omset perseroan dan mengalami pertumbuhan di atas rata-rata industri. Pada 2015, IME diharapkan  bisa berkontribusi 15% bagi total omset,” katanya.[dni]

2013, Indosat Kembali Jual Menara

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) berencana kembali menjual menara sebagai bagian dari upaya perseroan mendapatkan dana segar dan efisiensi operasional.

 

“Untuk 2012, Indosat fokus menyelesaikan transaksi penjualan 2.500 menara dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Kemungkinan pada tahun depan akan dilakukan lelang untuk penjualan menara Indosat yang berpotensi dilepas ke peminat aset tersebut. Kami memiliki sekitar 10-12 ribu menara yang siap dijual,” ungkap Direktur Keuangan Indosat Curt Stefan Carlsson usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Indosat di Jakarta, Senin (14/5).

 

Ditegaskannya, dalam penjualan tahap kedua tersebut, belum tentu TBIG menjadi preferred buyer karena lelang menyesuaikan dengan kondisi pada tahun depan.

 

“Kita akan mengevaluasi nilai tambah yang diberikan calon penawar dan faktor penentu lainnya. Urusan dengan TBIG untuk 2.500 menara, sedangkan sisa menara yang akan dilepas pada 2013 itu komitmen berbeda. Bisa saja TBIG kembali memenangkan lelang tersebut, bisa juga pihak lain,” katanya.

 

Menurutnya, penjualan aset tersebut akan menentukan kinerja dari bottom line perseroan tidak hanya pada tahun ini, tetapi juga tahun depan. “Jika transaksi dengan TBIG untuk 2.500 menara itu bisa diselesaikan pada kuartal kedua atau awal kuartal ketiga,  akan mengangkat kinerja dari bottom line perseroan,” ungkapnya.

 

Untuk diketahui, pembelian menara Indosat dilakukan oleh  anak usaha TBIG, PT Solusi Menara Indonesia (SMI) seharga US$ 518,5 juta.

 

Dari nilai tersebut, sekitar US$ 406 juta merupakan harga pembelian menara telekomunikasi termasuk pengambilalihan hak dan kewajiban Indosat berdasarkan kontrak sewa menyewa tempat pada menara telekomunikasi tersebut.

 

Sementara sebesar US$ 112,5 juta  merupakan klaim kontijen jika tercapai kondisi dan persyaratan seperti tertera dalam asset purchase management.

 

SMI akan melakukan pembayaran atas US$ 406 juta dengan menebitkan surat utang (promissory notes) senilai  Rp 661,2 miliar. TBIG  akan mengambil alih kewajiban SMI tersebut (Rp 661,2 miliar) dengan menebitkan surat utang wajib konversi yang akan dilego ke Indosat.

 

Pada saat bersamaan, Indosat akan menukarkan surat utang wajib konversi tersebut dengan jumlah saham 239,8 juta saham. Tower Bersama akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement.

 

TBIG sendiri masih berminat untuk menuntaskan pembelian menara Indosat, minimal mencapai 4 ribu unit sesuai dengan kajian awal kala penjajakan dilakukan.

 

Proyeksi

Lebih lanjut Stefan mengungkapkan, perseroan pada tahun ini mencadangkan belanja modal sekitar 700 juta dollar AS, dimana sumber pendanaan berasal dari kas internal, pinjaman, dan penerbitan obligasi.

 

“Acuannya bisa naik 10 persen dari belanja modal tahun lalu sebesar 6 triliun rupiah. Untuk penerbitan obligasi obligasi dan sukuk ijarah telah diajukan dengan maksimum penerbitan masing–masing  2,5 triliun rupiah  dan  500 miliar rupiah, sekarang dalam tahap persiapan, kita harapkan bisa segera terealisasi,” katanya.

 

Sementara untuk target pertumbuhan pendapatan pada tahun ini diharapkan sama dengan industri yakni sebesar 5-6 persen dengan Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) di kisaran 46-48 persen.

 

Sedangkan strategi untuk menghindari rugi atas transaksi yang melibatkan dollar AS, ditetapkan nilai lindung (hedging) sebesar 25 persen dari transaksi. “Kami tidak ingin terlalu  besar melakukan hedging karena 50 persen belanja modal berasal dari dollar AS, sementara hutang 40 persen juga menggunakan mata uang yang sama,” jelasnya.

 

Untuk diketahui, laba  Indosat  mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I-2012 dari posisi  483,7 miliar rupiah pada kuartal I-2011 menjadi 16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini karena rugi kurs.

 

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko Tirtojondro menambahkan, perseroan akan terus melakukan efisiensi dan memfokuskan anak usaha guna mendukung bisnis inti yakni seluler yang menjadi penopang utama pendapatan.

 

“Anak usaha Indosat Mega Media (IM2) yang berjualan produk data difokuskan kepada inovasi, sementara produknya ditarik ke Indosat. Lintas Arta sekarang lebih difokuskan untuk pasar korporasi,” katanya.

 

Harry optimistis pada 2012 perseroan akan lebih agresif menggarap pasar seluler dengan masuknya mantan Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menjadi Direktur Pemasaran dan Chief Marketing Officer Indosat menggantikan Lazlo Imre Brata.

 

“Masuknya Erik akan memperkuat posisi Indosat sebagai pemain kedua terbesar di pasar seluler Indonesia,” katanya.

 

Berkaitan dengan pembagian dari dividen, Harry mengungkapkan,  alokasi penggunaan laba bersih tahun buku yang berakhir 31 Desember 2011 untuk dividen sebesar  76,83  rupiah per saham, dengan dividen pay out ratio sebesar 50% dan sisa untuk re-investasi dan modal kerja.

 

Indosat pada 2011 membukukan laba bersih sebesar 835 miliar rupiah, hal ini berarti dividen yang dibagikan mencapai 417,5 miliar rupiah.[dni]