310810 Dua Perusahaan Perawatan Pesawat Masuki Industri Rancang Bangun

JAKARTA–Dua perusahaan perawatan pesawat nasional memasuki industri rancang bangun setelah menerima sertifikasi Design Approval Organization (DOA) dari Ditjen Hubungan Udara Kementrian Perhubungan.

Kedua perusahaan itu adalah PT GMF AeroAsia dan PT Nusantara. Turbine & Propulsi (NTP). GMF meraih sertifikat class B, sementara NTP sertifikat class A.

Sertifikasi DOA merupakan pendelegasian pekerjaan
dari otoritas penerbangan sipil kepada perusahaan yang berkaitan
dengan rancang bangun. Sertifikat DOA diberikan dalam empat kelas
yakni A, B, C, dan D. Kelas A diberikan untuk pekerjaan minor repair design atau minor repair alteration.

Sedangkan Kelas C untuk design suplemental type certificate (STC),
part manufacturing approval (PMA), APU technical standard order dan
kelas D untuk part certificate.

“Diraihnya sertifikat DOA membuat adanya penghematan devisa di industri penerbangan. Selama ini untuk rancang bangun devisa lari keluar negeri sebesar 100 juta dollar AS. Adanya sertifikat ini diharapkan dana itu diserap pemain lokal,” ungkap Direktur Utama GMF AeroAsia Richard Budhihadianto di Jakarta, Senin (30/8).

Diungkapkannya, selama ini sebagai perusahaan perawatan pesawat mengalami kendala jika ingin merancang bangun karena harus menunggu persetujuan dari pabrikan. “Sekarang kita tidak perlu menunggu lagi. Semua dikerjakan sendiri,” katanya.

Diungkapkannya, proses GMF mendapatkan sertifikat itu cukup panjang, mulai diajukan
sejak Juli 2009 dan baru diperoleh 9 Agustus lalu. Dimana dengan
sertifikat itu, GMF bisa melakukan pekerjaan minor repair design and
minor alteration design terkait APU, struktur, interior kabin, dan
avionic.

Selain itu GMF juga bisa melakukan major repair design dan major
alteration design. Intinya sertifikat ini khusus untuk pekerjaan yang
kaitannya dengan airframe.

“Kondisi ini membuat  ongkos yang dikeluarkan maskapai untuk pekerjaan ini jauh lebih murah 50 persen . Namun dengan kualitas yang tidak kalah dengan pekerjaan bengkel luar negeri,” imbuhnya.

Rencana ke depan dari GMF adalah.  mulai merintis tahapan untuk mendapat sertifikasi DOA
dari European Aviation Safety Agency (EASA). Sehingga ke depan GMF bisa dirujuk untuk mendapat pekerjaan rancang bangun dari seluruh maskapai asing.

Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Kemenhub Yurlis Hasibuan mengatakan, adanya bengkel lokal yang memiliki sertifikat DOA membuat industri penerbangan semakin diperhitungkan.

“Jika ada masalah dengan hasil rekayasa pemain lokal diambil alih oleh negara. Kepercayaan negara jangan disalahgunakan oleh dua pemain ini,” katanya.

Rawat IAA
Berkaitan dengan perawatan dari armada milik Indonesia Air Asia (IAA), Richard mengungkapkan, sudah ada kesepakatan awal dimana satu armada telah dilakukan C-Check di hanggar perseroan.

“Tiga hari lalu kita merawat armada IAA. Ini semacam tes dari mereka akan kemampuan kami. Kita harapkan kerjasama bisa dilakukan dalam jangka panjang untuk seluruh armadanya,” katanya.

Diungkapkannya, perseroan juga sedang membidik Mandala Airlines untuk dirawat dibengkelnya dalam masa depan.[Dni]

Iklan

310810 Mendesak, Hadirnya PP Khusus USO-Broadband

JAKARTA—Industri telekomunikasi memerlukan hadirnya Peraturan Pemerintah (PP) tentang Universal Service Obligation (USO) Broadband untuk memberikan kepastian hukum dalam pembangunan infrastruktur pita lebar.

“Selama ini PP yang ada untuk dana USO adalah PP 52/200. PP ini semangatnya lebih dalam memungut kutipan ke pelaku usaha tanpa ada arahan jelas kegunaannya, khsusnya pengembangan jaringan broadband,” tegas Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi (BRTI) Nonot Harsono kepada Koran Jakarta, Senin (30/8).

Dalam PP 52/2000, Pasal 26-31 bab USO dinyatakan  terdapat tiga macam kontribusi USO. Pertama , Operator jaringan tetap lokal (Jartaplok) wajib membangun jaringan di wilayah USO.  Kedua  Operator lain yang menyambung ke jartaplok-USO wajib membayar biaya interkoneksi. Ketiga operator selain itu  wajib berkontribusi dalam bentuk lain. Setiap tahunnya dana USO yang terkumpul sekitar 1,2 triliun rupiah.

Kemenkominfo sendiri sedang berjuang dana USO bisa digunakan dalam bentuk ICT Fund untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan wewenang  dari Badan Telekomunikasi Informasi Pedesaan (BTIP) sebagai pengelola ICT Fund.
.
Diungkapkannya, seiring datangnya era pita lebar, maka paradigma menggunakan dana USO harus diubah dari membangun desa berdering menjadi berbasis broadband. Langkah membuat PP USO-Broadband dinilai tidak melanggar hukum karena UU No 36/99 Telekomunikasi dalam pasar 16 ayat 3 menyatakan harus dibuat PP tentang pelaksanaan USO.

Sementara itu, Staf Khusus Menkominfo Adiseno mengakui  infrastruktur broadband akan mendorong perekonomian nasional sehingga perlu dicari solusi pengadaannya. “  Sebagai contoh dari hasil selama ini dilakukan studi di berbagai negara penetrasi 10 persen broadband membuat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara itu naik 1.27 persen. Bandingkan dengan seluler yang cuma 0.5 sampai 0.6 persen,” katanya.

Diungkapkannya, ICT Fund sedang digodok oleh instansinya. “Visi kami pada 2018  setiap ibu kota kabupaten terhubung dengan serat optik.  Kita sudah mengusulkan ICT Fund itu cukup menalangi saja 10 persen dari total nilai satu proyek. Tetapi hingga kini belum ada kata putus,” katanya.[dni]

310810 Tri Siap Blokir SMS Spam

JAKARTA—Operator seluler Tri siap memblokir SMS sampah (Spam) yang memanfaatkan bonus SMS lintas operator untuk menipu pengguna.

“Kami mendukung kebijakan pemerintah untuk melakukan filterisasi SMS Spam. Pada dasarnya kami telah melakukan filterisasi  baik secara reaktif  maupun proaktif,” ungkap Chief Marketing Officer Tri Suresh Reddy kepada Koran Jakarta, Senin (30/8).

Dijelaskannya, secara reaktif Tri  akan menindaklanjuti keluhan yang  diterima dari pelanggan, sedangkan secara proaktif akan memonitor berkala nomor  Tri yang melakukan pengiriman SMS diatas dari kewajaran.

Sebelumnya, BRTI beranggapan bonus SMS lintas operator  yang tidak wajar yakni sebesar 10 ribu atau 100 ribu SMS milik Axis dan Tri adalah pemicu kembalinya muncul SMS Spam di masyarakat. SMs Spam yang muncul adalah penawaran Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau meminta bantuan pulsa dan uang atas nama orang tua.

Menanggapi tudingan itu, Suresh membantah keras  karena SMS Spam  sudah ada sebelum program  bonus SMS diluncurkan. “Dari mana data yang mengatakan nomor kami mendominasi SMS Spam?  Kita memang  menemukan beberapa nomor Tri tapi jumlahnya kecil sekali. Secara khusus kita melakukan monitoring atas nomor Tri yang dikeluhkan oleh pelanggan dan kami telah blok nomor yang  melakukan pengiriman SMS diluar batas kewajaran,” tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, untuk menghindari penyalahgunaan SMS, Tri  memberikan syarat dan ketentuan atas penawaran SMS  i guna memfilter dan memperkecil penyalahgunaan bonus SMS.

Pada kesempatan lain, penyedia akses mobile broadband  IM2 mulai menyediakan Micro SIM Card untuk memenuhi kebutuhan koneksi para pengguna gadget terbaru seperti iPad 3G dan iPhone 4. Untuk tahap awal, kartu yang 52 persen  lebih kecil dari SIM Card biasa ini dipasok sebanyak 900 unit.

“Kami menyediakan 300 unit Micro SIM Card untuk pascabayar Prime dan 600 unit untuk prabayar BroomBastis,” ungkap    Direktur Sales & Marketing Indosat Indosat Mega Media (IM2) Abu Syukur Nasution,

Dijelaskanya, meski iPad 3G belum resmi diluncurkan di Indonesia, namun animo penggemar gadget ini cukup tinggi di Tanah Air.  Jumlahnya sendiri diperkirakan sudah ribuan.

Bagi operator, pengguna iPad tentunya dipandang sebagai potensi pelanggan yang menggiurkan untuk menggenjot tingkat average revenue per user (ARPU) untuk koneksi layanan data internet. Itu sebabnya, hampir semua operator 3G berlomba-lomba menawarkan Micro SIM Card kepada pelanggan.

“Dibandingkan operator telekomunkasi lain, layanan Broadband IM2 lebih cocok untuk perangkat layar lebar seperti laptop maupun iPad karena interaksi dengan pelanggan mulai aktivasi, isi ulang hingga cek penggunaan dapat diakses via web. Sehingga tidak perlu cabut pasang SIM Card untuk mendaftar layanan via SMS atau UMB (user menu browser),” jelasnya.[dni]

310810 Flexi Luncurkan Android Pertama Berbasis CDMA

JAKARTA—Layanan Fixed Wireless Access (FWA) milik PT Telekomunikasi  Indonesia Tbk (Telkom), Flexi, menjadi operator Code Division Multiple Access (CDMA) pertama di Indonesia  meluncurkan ponsel berbasis  sistem operasi operasi Google Android.

Android adalah  sistem operasi  yang di standardisasi oleh Open Handset Alliance dan saat ini berada di ranking pertama digunakan oleh smartphone di negeri Obama dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 33 persen.  Keunggulan dari sistem operasi ini adalah realtime OS, multitasking, dan didukung sekitar  100 ribu  applikasi.

“Kami yang pertama di Indonesia mendukung inovasi Android untuk pemain FWA atau CDMA. Ini menunjukkan Flexi tidak hanya lebih irit dalam bicara, tetapi juga mendukung akses data para pelanggannya,”  ungkap  Deputy Commerce Telkom Flexi Judi Achmadi di Jakarta, Senin (30/8).

Diungkapkannya, untuk tahap awal program bundling akan dilakukan dengan penyedia ponsel IVIO. Setelah itu, Flexi juga segera menambah empat mitra lainnya yaitu Hisense, Haier Mobile, ZTE, dan TiPhone.

“Hingga akhir tahun ini, kami menargetkan bisa meraih 100.000 pelanggan baru Flexi dari bundling ponsel Android ini,” jelasny.

Dijelaskannya,  peluncuran Flexi Android untuk memenuhi gaya  berkomunikasi pelanggan yang telah bergeser dari era mulut dan telinga (suara) ke mata dan jari (akses data). “Kami optimistis layanan ini diminati pelanggan jika melihat pengalaman dari berjualan    data Flexinet yang telah  menembus 1 juta pengguna aktif,” katanya.

Dijelaskannya, untuk menyemarakkan layanan Android,  Flexi menggandeng 150 mitra penyedia konten untuk mengembangkan aplikasi Flexi di Google Android Market.
Aplikasi Flexi Market ini dijadwalkan hadir September mendatang dengan metode pembayaran lewat FlexiCash.

“Inti dari Android itu adalah aplikasi yang gratis dan mendukung kreatifitas. Karena itu Flexi Market hadir dengan dukungan  akses data teknologi CDMA 1X yang memiliki  kecepatan akses 153 Kbps. Namun untuk pengembangan ke depan, Flexi akan mengupgrade teknologi jaringannya menjadi Evolution Data Only (EVDO) dengan memanfaatkan satu carrier di pita 800 MHz,” katanya.

Rencananya, Flexi akan melanjutkan evolusi CDMA ke  EVDO yang bisa menyediakan akses data hingga 3 Mbps. “Akhir tahun nanti, layanan EVDO akan resmi kami hadirkan secara komersil di enam kota besar di Indonesia,” ujarnya.

Saat ini Telkom Flexi telah melayani 16,2 juta pelanggan yang ditunjang oleh 5.800 unit infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) berbasis CDMA yang tersebar di seluruh Indonesia.[dni]

310810 Sengit di Pasar Browser

Saat ini Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki tingkat pertumbuhan penggunaan internet tertinggi di dunia. Berbagai survei menyebutkan dalam 10 tahun terakhir tingkat pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia meningkat lebih dari 1000 persen. Kontribusi  terbesar dari pertumbuhan itu berkat akses melalui ponsel. Diperkirakan lebih dari 40 juta pengguna secara rutin mengakses Internet  dengan menggunakan media ponsel.

Diperkirakan pada tahun 2010 ini, akan ada lebih dari 40 juta ponsel baru yang terjual di pasaran yang mana 80 persen berasal dari ponsel kelas low-end dengan harga dibawah 1,5 juta rupiah.

“Kondisi  ini memunculkan pasar bagi mobile browser. Apalagi,  kondisi Indonesia hampir mirip dengan China dimana awalnya jaringan yang dibangun adalah 2G, setelah itu 3G. Maka dari itu optimisasi browser seperti kecepatan dan interface di layar kecil sangat diperhatikan,” ungkap Chief Operating Officer Numedia Jimmy Halim kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Numedia belum lama ini bekerjasama dengan  UC Mobile Ltd, perusahaan Internet global terkemuka dari China, meluncurkan  UC Browser edisi Bahasa Indonesia.

Aplikasi browser Internet ini memiliki  dukungan terluas melingkupi semua sistim operasi populer, termasuk Java, Symbian, Android, Blackberry, iPhone, Windows Mobile dan ponsel chipset MTK yang digunakan oleh banyak ponsel merek lokal.  Mobile Internet browser ini hingga Juli 2010 telah didownload lebih dari 400 juta kali, dengan pengguna aktif melebihi 100 juta orang yang mengakses lebih dari 45 milyar halaman per bulan.  Pesaing untuk aplikasi ini adalah Opera Mini.

Jimmy mengharapkan, jika di Indonesia aplikasi ini banyak digunakan oleh pengguna ponsel merek lokal, maka uang akan mengalir dari  pemasangan iklan dan links.

CEO UC Mobile Ltd Yu Yongfu mengungkapkan, selama enam tahun terakhir bersaing ketat dengan  Opera Mini di China. “Di negeri kami  pangsa pasar UC Browser telah mencapai 80 persen, sedangkan pengguna Opera Mini di sana cuma 5 persen. Di Indonesia mungkin butuh 3 tahun  untuk menguasai 50 persen pangsa pasar,” jelasnya.

Dijelaskannya, bila dibandingkan dengan Opera Mini, UC browser  memiliki tiga keunikan. Antara lain kecepatan. Kedua adalah faktor user experience.  Terakhir,  aspek fungsi dimana UC browser yang  pertama yang mengembangkan arsitektur cloud computer untuk browser dan  yang pertama  mendukung flash 10.

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika Faizal Adiputra menilai, UC Browser masuk ke Indonesia di saat yang tepat ketika banyak smartphone  mengakses data melalui teknologi GPRS / EDGE / 1X hingga ke 3G / HSDPA / EVDO.

“Kekuatan secara teknologi dari  UC Browser adalah kemampuan  mem-pause dan resume download yang tidak di miliki oleh kompetitornya.  Sedangkan Opera Browser, dalam hal teknologi dikembangkan berdasarkan proprietary protocol yang memungkinkan beberapa hal di lakukan lebih baik dibandingkan kompetitor nya. Namun proprietary tersebut bisa menjadi kelemahan dari Opera di bandingkan dengan Bolt dan UC Browser yang di bangun berdasarkan teknology web-kit yang pertama kali di usung oleh Apple,” jelasnya.

Diperkirakannya,  maraknya smartphone buatan China  masuk ke Indonesia dan  kustomisasi bahasa, bukan tidak mungkin UC Browser akan menjadi pemegang market share mobile browser di Indonesia menggantikan Opera yang saat ini masih bertahan. “Konsep kerjasama baik dengan operator dan OEM/ODM yang di usung oleh UC Browser akan mempercepat penetrasinya di Indonesia,” katanya.[dni]

310810 Telco 3.0 : Menjadikan Konten Sebagai Layanan

Masuknya industri telekomuniksi ke era Telco 3.0 ternyata membawa perubahan bagi pelaku usaha dalam memasarkan produknya. Telco 3.0 sejalan dengan marketing 3.0 dimana pola pemasaran secara massal ditinggalkan dan beralih ke pola interaktif dengan komunitas yang bersifat sangat personal dan kontekstual.

Ciri-ciri dari Telco 3.0 adalah digital dan social media digunakan sebagai salah satu alat  untuk pemasaran dan layanan purna jual. Produk pun  sangat tailor made (customised) sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Bahkan  nantinya  langsung bisa dilakukan sendiri oleh penggunanya. Di sinilah letak perbedaannya dengan era Telco 2.0 dimana masih mengandalkan segmentasi walau komunikasi interaktif dengan pengguna masih terjalin.

Bentuk nyata dari usaha operator telekomunikasi beradaptasi dengan era Telco 3.0 adalah  layanan  BlackBerry yang beragam pilihan berlangganan sesuai kebutuhan.

“Konten di era Telco 3.0 tidak lagi dianggap hanya sebagai aksesori. Konten menjadi layanan yang diberikan ke pelanggan. Konten yang paling diminati saat ini adalah musik karena menjadi ibu dari semua hiburan,” ungkap Direktur Teknologi dan Informasi Telkom Indra Utoyo di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya,  saat ini industri musik lokal  masih  dikuasai oleh para pembajak. Hal itu terlihat dari penguasaaan nilai bisnis musik sebesar 69 persen atau 4,5 triliun rupiah dari total nilai  6,5 triliun rupiah oleh para pembajak.

Secara bisnis perusahaan rekaman hanya mendapatkan 600 miliar rupiah. Kala lagu dijadikan  konten digital yang ditawarkan ke pelanggan secara  signifikan memberikan nilai mencapai  1,2 triliun rupiah. Penjualan secara digital itu bisa dari Ring Back Tone (RBT) atau Full Track Download.

“Telkom sendiri secara grup akan masuk ke bisnis musik secara lebih serius. Hal ini karena sejak tahun lalu industri ini telah berkontribusi ke perseroan sebesar 660 miliar rupiah dan akan tumbuh lima persen pada tahun ini,” ungkapnya.

Diungkapkannya, langkah Telkom untuk serius di bisnis musik ditunjukkan dengan mendukung ekosistem industri tersebut. Hal ini dimulai dengan membuat label musik atas nama Indigo yang menggaet artis-artis indie. Memaksimalkan jalur pendistribusian dengan memanfaatkan anak usaha yang memiliki lebih dari 100 juta pelanggan. Jalur distribusi yang dipakai berdasarkan anak usaha adalah Langit musik.com (Telkomsel), Fleximusik.com (Telkom Flexi), dan Fulltrack (Speedy).  Pengakses dari Langit musik.com per bulannya tercatat sebanyak  40 hingga  50 ribu, sedangkan pengguna aktif sebasar  30-35 ribu nomor.

Telkom pun menggandeng SK Telecom dari Korea Selatan untuk membuat anak usaha yang bergerak di bidang Digital Content Exchange Hub (DCEH).

DCEH adalah jenis baru hub untuk mendistribusikan konten digital, seperti file musik, permainan dan klip video yang nantinya dapat diakses  tidak hanya oleh konsumen tetapi juga toko musik online dan operator telepon baik yang berbasis kabel maupun selular. Dana sebesar 100 miliar ditanamkan oleh kedua perusahaan dimana komposisinya 51 persen untuk Telkom dan sisanya ditalangi SK Telecom.

“Perusahaan patungan itu akan menjadi Master Lisence Bank (MLB) dengan merek dagang Melon Indonesia. Rekanan Telkom di MLB lainnya adalah GenId. Rencananya Melon Indonesia akan diluncurkan pada Oktober 2010,” jelasnya.

Dijelaskannya,  masuk ke industri musik merupakan konsekuensi dari konektivitas telah menjadi komoditasi di telekomunikasi. “Sangat banyak bisa dieksploitasi jika musik dijadikan sebagai servis, misalnya berlangganan berbasis waktu atau potongan lagu. Ini sesuatu yang tidak terpikir sebelumnya oleh pelaku usaha di industri musik,” jelasnya.

EGM Divisi Flexi Triana Mulyatsa menambahkan, bentuk kongkrit distribusi musik melalui penjualan digital dengan  menawarkan ponsel Flexi Musik

“Ponsel Flexi Musik memiliki  sekitar 1.000 lagu dengan pola  berlangganan mingguan, dua mingguan, bulanan, atau permanen. Untuk langganan mingguan dikenakan tarif seribu rupiah  per minggu yang dapat mengunduh hingga 30 lagu, dan dua ribu rupiah per dua minggu. Sedangkan untuk langganan secara permanen dikenakan biaya sebesar lima ribu rupiah per lagu. Hingga akhir Agustus diperkirakan penjualan ponsel ini mencapai 100.000 unit,” katanya.

Grup Head Vas Marketing Indosat  Teguh Prasetya mengungkapkan, Indosat pun serius menggarap konten musik melalui  Arena Musik sejak 2009. Sedangkan untuk tahap membuat label musik atau MLB belum ada rencana ke arah itu.

“Kami sekarang membuat divisi khusus untuk mengelola konten musik dan game. Saat ini Vas dalam kategori  Mobile Data, Mobile Messaging, Mobile Mail dan Social Networking, Mobile Advertising, dan Mobile Games kontribusinya sudah mencapai  45 persen bagi total pendapatan perusahaan,”ungkapnya.

GM Mobile Data Services Channel Development XL Handono Warih mengatakan, pemicu lain beralihnya operator menggenjot konten karena semua pemain menawarkan layanan dasar yang sama. “Konten diadopsi pelanggan yang sering mengakses data. Jika operator ingin meningkatkan pendapatan dari data, harus menawarkan konten yang bervariatif. Soalnya semua sudah mulai bermain di harga untuk layanan dasar,” jelasnya.

Ditegaskannya, di era Telco 3.0 operator tidak akan rela hanya menjadi penyalur pipa (Dumb Pipe) saja, sehingga juga berupaya untuk memproduksi konten yang menarik. “Cara implementasi di lapangan saja yang berbeda. Tinggal model bisnis dan operasinya yang berbeda-beda. Semua tergantung strategi masing-masing,” jelasnya.

Chief Marketing Officer Nexian Andy Jobs mengungkapkan, tidak hanya operator yang berubah beradaptasi dengan era Telco 3.0, produsen ponsel pun melakukan hal yang sama.

“Produk  Nexian Music Card Player salah satu contoh upaya produsen ponsel yang tidak hanya menjual perangkat. Kami menawarkan ke pelanggan berlangganan lagu yang didukung oleh 4 label musik  yakni Musica, Sony BMG, Trinity, dan Warner,” katanya.

Dijelaskannya, keunggulan konten yang dimiliki Nexian adalah lagu sudah ditanam dalam ponsel sehingga bisa menepis masalah jaringan operator yang suka tidak stabil ketika  mengunduh karena konsumsi  data yang cukup besar dan lama. Namun, untuk mendengarkan lagu membutuhkan otrisasi dari operator.

“Ini bentuk simbiosis mutualisme kerjasama yang manis antara vendor dan operator. Bagaimana pun tak bisa dipungkri musik itu adalah konten yang universal untuk semua target pasar  selain social media. Hal itu terlihat baru diluncurkan, ponsel Nexian  sudah diserap pasar sebanyak 40 ribu unit,” katanya.

Ke depannya, Nexian  akan mengeluarkan tipe ponsel baru yang mampu menampung kapasitas lagu lebih besar. Model baru itu  mampu menampung seribu lagu, sedangkan model lama sebanyak 600 lagu.[dni]

300810 Kerusakan Sistem Radar Soetta karena Teknis

JAKARTA–Kerusakan sistem radar yang dialami oleh bandara Soekarno-Hatta (Soetta) disebabkan oleh faktor teknis hingga menyebabkan adanya penundaan sejumlah penerbangan.

“Kerusakan murni karena masalah teknis bukan manusia. Soalnya kala dilakukan pemeriksaan rutin pada jam 7 pagi tidak ada masalah. Dugaan ini karena anomali system karena data tidak dikenali,” ungkap Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura II Hari Cahyono di Jakarta, Minggu, (29/8).

Direktur Utama Angkasa Pura II Tri S Sunoko menjelaskan, kerusakan pada radat JAATS terjadi pada jam 09.05, namun pada jam 09.38 keadaan penerbangan sudah normal kembali. “Semua gangguan dapat teratasi dengan baik berkat kerjasama antara Air Traffic Control (ATC), teknisi, dan pilot,” katanya.

Diungkapkanya, dampak dari kerusakan tersebut pemanduan terhadap pesawat secara manual (prosedural/non radar), 9 pesawat datang tertunda 10-15 menit, 15 pesawat yang akan berangkat tertunda 15-20 menit. “Pesawat yang dialihkan tidak ada, semua mendarat dengan selamat,” jelasnya.

Hari menegaskan, penundaan terjadi karena operator ingin memastikan keselamatan dan kenyamanan maskapai yang ingin mendarat. “Teknisi mengatasi gangguan secara cepat sesuai standar prosedur, back up system pun berjalan baik,” katanya.

Juru bicara Garuda Indonesia Pujobroto mengungkapkan,   karena adanya gangguan radar terdapat  delapan penerbangan Garuda yang mengalami penundaan atau keterlambatan keberangkatan (antara 10 sampai 30 menit), yaitu penerbangan dari Jakarta ke Denpasar, Pangkalpinang, Ambon, Canton, Balikpapan dan penerbangan yang menuju Jakarta, yaitu penerbangan dari Solo dan Semarang.

Juru bicara Indonesia Air Asia Audrey P mengungkapkan, maskapainya juga mengalami penundaan untuk tujuan ke Kuala Lumpur kira-kira setengah jam.[Dni]