240210 Pendapatan Data Center di Asia Pasific Tumbuh 14,7%

JAKARTA—Pendapatan dari pengelolan data center dan hosting di Asia Pasific diharapkan tumbuh 14,7 persen atau mencapai 9,18 miliar dollar AS pada akhir tahun nanti.

Analisa yang dilakukan lembaga konsultan  Frost & Sullivan di  14 negara Asia Pasifik, termasuk Jepang, mencatat pendapatan kotor dari kedua layanan itu  sebesar 8.0 miliar dollar AS pada  2009 atau meningkat 12.8 persen dari tahun-ke-tahun.  Sedangkan pada 2011 diharapkan terjadi pertumbuhan sebesar 16.4 persen.

Country Director Frost & Sullivan Indonesia, Eugene van de Weerd mengungkapkan, lokasi data center dan pengelolaan layanan pasar hosting di Asia Pasifik telah menguat selama hampir satu dekade ini, sejalan dengan peningkatan bisnis dan pelanggan internet.

“Saya mengharapkan  pertumbuhan di Asia Pasifik ini terus berlanjut pada CAGR (compound annual growth rate) sebanyak 14.6 persen (2009-2011) dengan pendapatan membesar sebanyak  10.68 miliar dollar AS pada akhir 2011,” katanya di Jakarta, Selasa (23/2).

Menurutnya, layanan  Data Center merupakan bisnis besar yang sedang berkembang dan merupakan salah satu bisnis yang bertahan dari resesi. Hal ini karena  sebanyak 2/5 dari total konsumsi energi suatu perusahaan dihabiskan untuk keperluan data center, dan hal tersebut membuat biaya pemeliharaan data center menjadi sangat mahal.

“Permintaan penyediaan data center saat ini telah melebihi pasokan. Lebih dari 80 persen data center terbesar di Asia Pasifik telah berjalan hingga 90 persen dari kapasitasnya” katanya.

Pemain besar data center di kawasan regional adalah Jepang, Australia, Singapura, Hong Kong dan diikuti oleh Cina, India dan Malaysia.  Jepang adalah negara terbesar dengan   memiliki nilai pasar lebih dari 71 persen (US$5.7 milyar) dari total pendapatan tahun lalu.

Kebanyakan dari pertumbuhan di banyak negara ini dipicu oleh kuatnya permintaan domestik, dan didukung oleh para pembuat kebijakan melalui e-governance dan e-readiness. Singapura dan Hong Kong berlanjut menjadi pusat fasilitas utama  di kawasan regional.

“ Dorongan pemerintah untuk berinvestasi pada jaringan broadband generasi selanjutnya, infrastruktur TI dan negara yang telah e-ready, telah menciptakan komunitas internet yang kritis dan mengharapkan konten yang bermutu, kolaborasi dan aplikasi web. Permintaan ini merupakan penggerak utama pertumbuhan data centre di kawasan” katanya.

Diungkapkannya, media Internet, telekomunikasi dan industri TI   telah mencakup 45 persen dari permintaan jasa data center. Sektor ini masih terus berkembang di hampir semua negara Asia Pasifik dan diharapkan akan berlanjut menjadi pengguna data center terbesar dalam empat sampai lima tahun kedepan.

“Di Asia, data center cenderung berpusat di kota-kota dengan biaya hidup tinggi, seperti Tokyo, Hong Kong, Singapura, Shanghai dan Sydney, “ tambahnya.

Sehubungan dengan meningkatnya OPEX (operational expenditure), teknologi yang dapat mengganggu  juga menekan para operator data center untuk meningkatkan fasilitas mereka secara berkala untuk tetap mengikuti perkembangan teknologi.

Sebagai contoh, banyak data center terpaksa meningkatkan sistem pendinginan mereka untuk memenuhi permintaan blade server, yang walaupun membutuhkan ruangan yang kecil tetapi menghabiskan banyak energi. Hal tersebut memperlihatkan bahwa hampir dua persen dari persediaan listrik dunia dihabiskan untuk keperluan data center.

“Fokus dari program inisiatif hijau telah bergeser menjadi program penghematan biaya daripada untuk corporate social responsibility pada 12 bulan terakhir ini, dengan berbagai diskusi tentang konsep terbaru seperti virtualisasi, data center yang ramah lingkungan dan peralatan computer yang dibutuhkan untuk data center,” jelasnya.

Sayangnya, tidak banyak pemilik data center di Asia Pasifik yang cukup peka untuk menerapkan fasilitas ini dikarenakan kurangnya kemampuan dan besarnya biaya untuk implementasi dan perawatan.

Sementara GM Pemasaran Aplikanusa Lintasarta, M. Ma’ruf memprediksi, nilai pasar data center di Indonesia bisa tumbuh di atas angka regional karena di nusantara masih banyak perusahaan yang menempatkan data center satu lokasi dengan Disaster Recovery Center (DRC).

“Harusnya itu dipisah. Karena itu kami melihat potensinya masih besar,” katanya.

Anak usaha dari Indosat ini pun berani menargetkan layanan data center akan berkontribusi sebesar 5 persen dari total pendapatan pada tahun ini. Pada tahun lalu Lintasarta berhasil meraup omzet satu triliun rupiah dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 20 persen pada tahun ini.

“Banyak segmen yang akan digarap, salah satunya segmen multi finance melalui solusi Business Continuity Plan (BCP),” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s