170210 Garuda Janji Patuhi Revisi Tarif Batas Atas

JAKARTA—Maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia, berjanji akan mematuhi hasil revisi tariff batas atas sebagai bentuk kepatuhan pada regulasi yang dibuat oleh regulator.

“Kami akan mematuhi hasil revisi dari tarif batas atas yang sedang digodok oleh pemerintah. Tetapi, jika dalam perjalanan waktu tidak sejalan dengan rencana bisnis, bisa saja diminta ada perubahan,” ungkap juru bicara Garuda Pudjobroto di Jakarta, Selasa (16/2).

Pudjo mengakui, awalnya perseroan meminta ada perlakuan berbeda kepada regulator terkait diraihnya prestasi sebagai maskapai bintang dari  lembaga  pemeringkat maskapai penerbangan dunia, Skytrax.

“Sekarang kita bisa menerima adanya perbedaan penggunaan tariff batas atas berdasarkan persentase dengan melihat konsep layanan yang diusung maskapai. Sekarang kita jalani saja dulu, jika ada kekurangan akan dikoreksi,” katanya..

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bhakti S Gumay menegaskan, revisi  tarif batas atas untuk Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri  yang dilakukan oleh Kementrian Perhubungan (Kemenhub) berlaku untuk semua maskapai lokal berdasarkan jenis layanan yang diberikan.

Revisi   berlaku untuk semua pemain dengan melihat nanti jasa yang ditawarkan yaitu full service, medium, atau Low Cost Carrier (LCC).
Menurut Herry,   operator nanti berhak untuk menentukan masuk dalam kategori layanan yang ditawarkan oleh regulator (Full Service, Medium,LCC).

Jika ada jenis kategori yang didapat di luar ketentuan pemerintah, dianggap sebagai bagian dari  gimmick pemasaran .

Maskapai yang boleh mengenakan tarif batas atas sampai 100 persen adalah yang memberikan layanan penuh seperti memberikan full meal alias makanan dan minuman di atas pesawat, memberikan jasa handling atau angkutan untuk barang dan penumpang, menyediakan bagasi gratis untuk penumpangnya dengan bobot tertentu, serta menyediakan jarak minimum 32″ antara kursi di dalam pesawat.

Untuk yang menengah, sebagian dari pelayanan itu dihilangkan sehingga maskapai bisa mengutip hingga 90 persen dari batas atas. Sementara untuk yang no frill atau minimum semua itu dihilangkan, maskapai bisa mengutip 85 persen dari batas atas. Revisi dari tarif batas atas untuk rute domestik ini diperkirakan akan selesai pada Maret nanti.

Tidak Kalah
Berkaitan dengan dirilisnya jumlah penumpang selama tahun lalu dimana Lion Air memimpin selama dua tahun berturut-turut untuk angkutan dalam negeri, Pudjo mengaku, tidak khawatir dengan paparan data tersebut.

“Harus dilihat, Garuda ini adalah maskapai yang membidik segmen menengah ke atas. Untuk segmen tersebut, ruangnya memang ada sesuai paparan data dari regulator itu,” katanya.

Namun, meskipun dari sisi jumlah penumpang kalah, Pudjo mengaku, tidak demikian dari sisi pendapatan. “Kami mengusung keterbukaan, lihat saja pendapatan yang kami raih tahun lalu. Saya rasa yang mengaku mendapatkan penumpang banyak itu yield-nya tidak tinggi. Mereka banyak bermain di segmen menengah bawah yang segmennya memag sedang umbuh,” katanya.

Berdasarkan catatan, pada 2009 jumlah penumpang angkutan udara   48.514.639 penumpang.  Angka itu terdiri atas  43.556.083 penumpang  domestik dan 4.958.556 penumpang internasional.

Dari seluruh jumlah penumpang tersebut, maskapai Lion Mentari Airlines (Lion Air) menjadi pemimpin penerbangan domestik dengan jumlah penumpang 13, 377 juta penumpang atau menguasai   market share   30,7 persen.

Selanjutnya Garuda Indonesia menyusul dengan 8,398 juta penumpang dengan pangsa pasar sebesar 19,28 persen. Kemudian menyusul Batavia Air dengan 6,107 persen (14 persen), Sriwijaya Air 5,464 juta (12,55 persen), Mandala Airlines 3,552 juta (8,64 persen), Merpati Nusantara Airlines 1,95 juta (4,48 persen), Indonesia AirAsia  1,454 juta (4,34 persen).

Garuda sendiri pada 2009  mencatat  pendapatan sebesar 17 triliun rupiah atau meningkat tiga persen dibandingkan 2008.   Sementara untuk laba  bersih pada 2009 diperkirakan sebesar satu  triliun rupiah.[dni]

160210 Mandala Gandeng Cipaganti Group

JAKARTA—Mandala Airlines menggandeng Cipaganti Group untuk memberikan kenyamanan bagi  penumpangnya memperoleh layanan transportasi darat di kota besar Jawa dan Bali.

“Kerjasama dilakukan dengan Cipaganti karena perusahaan ini memiliki jaringan yang luas. Kerja sama ini merupakan salah satu yang membedakan maskapai kami dengan yang lain,” ungkap Presiden Direktur Mandala Diono Nurjadin seusai   menandatangani MoU dengan Presdir Cipaganti Group Andianto Steiabudi, di Jakarta, Senin (15/2).

Dia menyatakan tujuan utama menggandeng Cipaganti untuk mendongkrak jumlah penumpang maskapainya yang selama ini dikisaran 3,55 juta orang. “Cipaganti memiliki  120.000 penumpang per bulan, dengan pelayanan yang terintegrasi kami berharap dapat mengangkut lebih banyak penumpang pada tahun ini,” katanya.

Andianto Setiabudi, Presdir Cipaganti Group,menambahkan pihaknya telah memiliki jaringan layanan di hampir semua kota di Jawa dan Bali.

Menurut dia, pihaknya telah memiliki layanan transportasi darat di sejumlah bandara di Jawa dan Bali dengan jumlah penumpang terbanyak di sumbangkan rute Bandung-Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Andianto menyatakan kerja sama itu akan memungkinkan penumpang Mandala langsung membeli tiket Cipaganti secara on board.

Tambah Armada
Pada kesempatan sama, Head of Corportae Communication Mandala  Trisia Megawati mengungkapkan, perseroan  akan menambah enam pesawat Airbus A320 dan A319 pada 2011 untuk meningkatkan ekspansi di rute luar negeri. Penambahan itu merupakan bagian mendatangkan 30 armada A320 mulai 2011-2014.

“Mulai 2011 pesawat akan berdatangan sebanyak enam unit sebagai bagian pemesanan 30 unit hingga 2014,” katanya hari ini.

Dijelaskannya,   pihaknya tengah membidik sejumlah rute domestik dan internasional seiring dengan penambahan armada itu.

Sejumlah rute yang dibidik antara lain kota besar di Asean, China dan Australia. “Saat ini kami melayani 17 tujuan penerbangan dengan menggunakan pesawat A320 dan A319.”

Trisia menambahkan maskapainya menjadi maskapai swasta nasional yang diizinkan mendarat negara Eropa. Sampai saat ini, Mandala telah menjalani audit dari Airbus, Boeing dan sejumlah perusahaan di bidang perminyakan.[dni]

160210 Prediksi Kinerja Kuartal I : Geliat Pemasaran di Awal Tahun Macan

Belum lama ini  The Nielsen Company Indonesia (Nielsen) mengumumkan hasil surveinya  terhadap 17.500 pengguna Internet di 29 pasar dunia selama Desember tahun lalu.

Berdasarkan riset yang dilakukan, terungkap  indeks kepercayaan konsumen Indonesia mencapai  119 atau naik empat poin dibanding Q3 2009 sebesar 115 poin. Angka ini adalah yang tertinggi di dunia.
Hal yang menggembirakan dari data itu adalah  sebanyak  70 persen konsumen menunjukkan keuangan pribadinya akan lebih baik pada tahun ini. Bahkan, 43 persen dari konsumen Indonesia mengatakan 12 bulan ke depan adalah waktu yang baik atau sangat baik untuk membeli hal-hal yang mereka butuhkan.

Diperkirakan, untuk pengelolaan keuangan pribadi, 65 persen konsumen di Indonesia akan mengalokasikan dananya untuk menabung, sementara 41 persen akan menaruh uang cadangan ke reksadana.
Sedangkan untuk sektor telekomunikasi,  akan dialokasikan 37 persen guna membeli produk   teknologi baru seperti ponsel atau layanan dari operator.

Executive Director Consumer Research The Nielsen Company Indonesia, Catherine Eddy mengatakan, sinyal tersebut menunjukkan sektor telekomunikasi Indonesia tetap sebagai lahan yang menjanjikan karena masih menjadi primadona bagi konsumen menghabiskan uangnya.

Tangkap Peluang

Lantas bagaimana pelaku usaha di sektor telekomunikasi memanfatkan peluang itu? Operator telekomunikasi sejak Januari lalu sudah mulai melepaskan berbagai program pemasaran.

Simak yang dilakukan oleh Telkom grup melalui anak usaha Telkomsel dan unit usaha Telkom Flexi. Kedua operator ini adalah penguasa pasar di masing-masing segmen  yang digelutinya.

Telkomsel belum lama ini meluncurkan ulang program simPATI TalkMania, memberikan tambahan bonus SMS dan akses internet bagi pelanggan kartu AS, meluncurkan paket bundling Sepulsa dalam rangka Valentine, dan terbaru adalah meluncurkan   iPhone 3GS  pada 18 Februari nanti.

Sementara Telkom Flexi lebih serius menggarap pasar komunitas dengan menggandeng Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan Klub Guru Indonesia. Flexi mengharapkan dari paket bundling SPSI bisa mendapatkan dua juta pelanggan baru, sementara dari Klub Guru ada satu juta pelanggan baru. Selain itu pada awal tahun Flexi meluncurkan tiga konten anyar yaitu   Flexi ngROOMpi, Flexi Mobile Games, dan Hape Flexi Chatting.

“Kami tidak ingin terjebak dalam perang harga. Memberikan konten yang berguna bagi pelanggan itu efektif meningkatkan pendapatan dan membuat nyaman pengguna menggunakan Flexi ” jelas Executive General Manager Telkom Flexi Triana Mulyatsa di Jakarta, Senin (15/2).

Tak mau kalah dengan Flexi, Bakrie Telecom pun meluncurkan fitur Telesur Teman Mu dan Esia Gratis Nelpon Nasional (GANAS)  guna meraih target 14 juta pelanggan di tahun 2010. Ganas adalah fitur yang memberikan komunikasi gratis ke sesama 10,5 juta pelanggan Esia dengan syarat harus mengisi pulsa 50 ribu rupiah.

Sementara XL dan Indosat tidak tinggal diam juga. Pada Januari lalu Indosat menunjuk duta merek terbaru untuk produk IM3 dan sedikit memperbaharui tarif akses datanya. Sementara Xl meluncurkan paket  Combo bagi pelanggan prabayar, di samping roaming internasional bagi pelanggan BlackBerry.

Ponsel Lokal Bergairah

Kegairahan yang ditunjukkan oleh operator juga terlihat di pemain ponsel merek lokal yang diimpor dari China. Elzio Mobile Telephony melempar   10 ribu unit ponsel bercorak casing Batik pada minggu lalu.

“Kami menargetkan ponsel batik ini terjual sekitar 50 ribu unit dalam dua tiga bulan, tapi tahap awal kami melempar 10 ribu unit dulu,” ujar Managing Director Elzio Mobile Telephony.

Ponsel i1u bermotif batik diklaim sebagai ponsel pertama berdesain batik oleh Elzio.terbukti dengan diberikannya penghargaan oleh MURI. Ponsel i1u berbalut batik ini memiliki fitur gsm-gsm dan kamera 2MP, untuk konektivitas, Elzio batik mendukung jaringan GPRS/EDGE class 12. Untuk layar. Elzio memasang LCD QVGA 2,2.( TFT). Untuk fitu hiburan Elzio menawarkan 5 game menarik dan FM radio. Ponsel seri batik ini dibanderol   679 ribu rupiah. “Kami mencoba untuk menggugah rasa nasionalisme generasi muda, kami tak pernah mengkloning ponsel luar seperti Nokia atau yang lainnya,” ujarnya.

Pemain lokal lainnya, XP Mobile Setelah meluncurkan produk ketiganya, XP 8500. Pada ponsel Qwerty bernavigasi trackpad ini, XP Mobile mengaku tak lagi mengandalkan desain dan fitur, melainkan kualitas dan VAS. XP 8500 sendiri merupakan ponsel dual GSM di frekuensi 900/1800 Mhz bernavigasi trackpad dan berdesain menyerupai BlackBerry Onyx dengan harga 699 ribu rupiah.

Managing Director XP Mobile Isra Ruddin mengungkapkan,   di tahap awal  telah menyiapkan sekitar 10 ribu unit XP 8500 yang sudah dikapalkan secara nasional. “Angka ini tidak muluk. Untuk seri XP 8900 saja, bersama Telkomsel, kami berhasil memasarkan sampai 20 ribu unit sampai hari ini,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Komersial Joy Wahjudi memperkirakan angka penjualan tertinggi pada   kuartal pertama ini adalah milik ponsel.  ”Indonesia memiliki angka yang tinggi untuk pergantian ponsel baik di kalangan  low, mid, atau high end. Selama ini  kalangan  low end masih menjadi mayoritas. Bagi operator potensi pelanggan baru itu ada disana,” jelasnya.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S. Siboro mengungkapkan, sebenarnya di kuartal pertama 2010 tidak ada sesuatu yang besar dilakukan operator karena semua masih  lanjutan dari program   lama dengan kampanye yang tematik.

”Tetapi operator fokus di  inovasi dalam mobile data karena akan banyak perangkat baru yang mengandalkan jasa tersebut,” katanya.

Guntur memprediksi, kinerja operator pada kuartal pertama ini akan lebih baik dibanding periode yang sama tahun lalu karena krisis sudah ditinggalkan Indonesia. ”Secara  historis kuartal I  lebih rendah dari kuartal IV. Tapi kelihatannya penurunan kuartal I tahun ini tidak terlalu jelek dibanding tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Untuk diketahui, biasanya pada kuartal pertama pertumbuhan penjualan operator  bisa mencapai tiga hingga empat persen. Namun, sejak 2008 terjadi penurunan dimana penjualan hanya tumbuh dua persen.

Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Bayu Samudiyo memperkirakan kinerja selama kuartal pertama tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan tahun lalu. ”Persaingan   makin ketat. Jasa yang akan menunjukkan pertumbuhan adalah mobile data karena masyarakat masih gandrung dengan instant messaging dan jejaring sosial,” katanya.

Bayu memperkirakan, potensi penambahan pelanggan baru akan terjadi jika operator menggandeng pemain ponsel lokal yang membidik kalangan menengah bawah. ”Daya beli masyarakat makin turun. Jika bermain dengan ponsel lokal, operator akan  memasyarakatkan handset untuk kalangan bawah yang merupakan pasar potensial  terbesar. Kalangan menengah atas itu sudah jenuh,” ketusnya.

Bayu mengingatkan, operator jangan terjebak dalam pemberian bonus akses data dalam emnjerat pelanggan karena itu hanya  “kenikmatan sesaat” yang tidak akan bertahan lama untuk mendapatkan pelanggan. ”Langkah itu  cuma akan meningkatkan tingkat pindah layanan  karena masyarakat  membeli kartu baru untuk mendapatkan bonus, terus dibuang untuk mencari kartu baru dengan bonus yang lebih banyak. Kalau begini, yang diuntungkan pemilik merek ponsel lokal,” katanya.[dni]

160210 Lonjakan yang Meragukan

Kala mulai tutup 2009, isu hangat yang menjadi pembicaraan di kalangan pemasar operator telekomunikasi adalah adu pacu jumlah pelanggan Indosat dan XL hingga akhir tahun nanti.

Banyak kalangan memprediksi, PT XL Axiata Tbk (XL) akan menyalip posisi Indosat di nomor dua pada akhir 2009. Hal itu merujuk pada kinerja kuartal ketiga   posisi pertama masih diduduki oleh Telkomsel dengan 80 juta pelanggan, kedua Indosat (28,7 juta pelanggan), dan XL (26,6 juta pelanggan). Telkomsel tercatat menguasai 47 persen pangsa pasar, disusul Indosat 18 persen, dan XL 15 persen.

Prediksi bahwa XL akan menduduki nomor dua menguat karena  XL memiliki sekitar  18.790 BTS, sementara  Indosat hanya 17.618 BTS. Pada pertengahan Januari lalu, XL mengumumkan kinerja selama 2009 dimana berhasil  meraih 31,4 juta pelanggan atau tumbuh   21 persen dibandingkan 2008. XL juga berhasil   mencetak laba sebesar  1,7 triliun rupiah  atau naik dibandingkan pencapaian 2008 dimana  mengalami kerugian  15,109 miliar rupiah.

Sedangkan Telkomsel berhasil mempertahankan posisi nomor satu dengan 82 juta pelanggan dan meraup omzet sekitar 40 triliun rupiah.
Selang seminggu setelah XL mengumumkan  raihan kinerja untuk 2009, akhirnya Indosat membuka jumlah pelanggan selama 2009 yaitu  33,1 juta atau mendapatkan 4,4 juta hanya dalam satu kuartal. Sayangnya Indosat tidak memaparkan kinerja keuangan, sehingga memunculkan spekulasi adanya aksi penggelembungan jumlah pelanggan demi memperetahankan posisi nomor dua.

Apalagi ini diperkuat dengan tidak adanya aksi pemasaran yang fenomenal oleh anak usaha Qatar Telecom (Qtel) itu selama kuartal keempat 2009. Bahkan dari survei yang dilakukan oleh Konsultan Brand TNS selama November 2009, terlihat merek prabayar XL memimpin pasar. (lihat tabel).

Survei dilakukan di 14 kota di seluruh Indonesia dengan melibatkan 2.000 responden yang memiliki  margin error untuk survei    5 persen.

“Saya melihat lonjakan pelanggan yang diraih Indosat itu sebagai sesuatu yang semu. Tak lebih dari kosmetik manajemen baru yang menjabat sejak pertengahan 2009 lalu,” ketus Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono kepada Koran Jakarta,  belum lama ini.

Menurut Nonot, jika mengikuti mekanisme penjualan kartu perdana seluler, maka selama kuartal keempat 2009 Indosat menjual sekitar 22 juta nomor, hal ini mengingat biasanya setiap lima nomor terjual, hanya satu yang menjadi pelanggan.

“Ini pemborosan penomoran namanya demi mengejar kosmetik sesaat. Ke depan regulator akan meminta semua data nomor yang vacum baik untuk jangka waktu satu, dua, atau tiga bulan guna mengetahui jumlah pelanggan riil dari operator,” tegasnya.

Praktisi telematika Bayu Samudiyo juga meragukan data yang diungkap Indosat karena selama menjelang tutup tahun 2009 tidak ada sesuatu program pemasaran luar biasa dilakukan Indosat.

“Saya sangsi dengan jumlah itu. Tetapi laporan keuangan utuh dari Indosat belum keluar, jadinya kita hanya bisa meraba-raba. Seandainya ada pemaksaan lonjakan pelanggan, nantinya akan terlihat dari pendapatan selulernya yang tertekan,” katanya.

Sementara Analis  CIMB Securities Indonesia  Mastono Ali menilai kenaikan pelanggan baru  Indosat   sebagai hasil subscriber churn program, brand positioning, dan faktor musiman. “Selain itu, hasil yang dicapai Indosat lebih rendah ketimbang XL yang  naik 23 persen,” katanya.

Direktur Utama Indosat Harry Sasongko Tirtojondro ketika memaparkan jumlah pelanggan yang diraih meminta semua pihak untuk tidak melihat kinerja perseroan secara instant. “Ada proses yang harus dilalui. Tetapi kami yakin dalam jalur yang benar. Lihat saja nanti kinerja keuangan secara komprehensif,” katanya.[dni]

160210 Aspimtel Desak Menara Dimasukkan ke UU Konvergensi

JAKARTA—Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel) mendesak bisnis menara telekomunikasi dimasukkan sebagai salah satu topik pembahasan dalam pembuatan Undang-undang (UU) Konvergensi karena infrastruktur tersebut salah satu kunci majunya telekomunikasi.

“Kami meminta UU Konvergensi yang akan disusun oleh pemerintah dan DPR juga membahas persoalan menara. Infrastruktur ini memiliki potensi bisnis besar dan sudah dikuasai oleh anak negeri. Jika tidak ada UU yang melindungi, bisnis ini bisa diambil alih oleh asing atau tercemar praktik persaingan tidak sehat,” tegas Sekjen Aspimtel Peter Simanjuntak kepada Koran Jakarta, Senin (15/2).

Dijelaskannya, kebutuhan akan menara tetap ada di sektor telekomunikasi, bahkan dengan maraknya penggunaan teknologi wireless broadband memaksa operator untuk membangun BTS secara lebih rapat. “Menara tetap dibutuhkan, tetapi ke depan tidak tinggi-tinggi seperti sekarang. Bisa saja hanya tinggi dua meter dan berbentuk kamuflase,” katanya.

Berdasarkan catatan,  industri seluler Indonesia dalam lima tahun ke depan diperkirakan membutuhkan sekitar 158.030 menara mengingat  perbandingan jumlah pelanggan per menara di Indonesia belum ideal. Di India sekitar 1.142 pelanggan dilayani satu menara. Sedangkan di Indonesia satu menara melayani 2.318 pelanggan. Investasi untuk membangun satu menara  sekitar satu miliar rupiah dengan potensi pendapatan setiap bulan   2,1 miliar rupiah.

Peter menegaskan, saat ini vendor asing banyak menggandeng pengusaha lokal untuk membangun menara karena untuk mendirikan infrastruktur tersebut tidak memerlukan keahlian tingat tinggi. “Pemain lokal sudah ahli. Tetapi belakangan ada sinyal usaha ini dibuka untuk asing, ini sama saja menjadikan pemain lokal sebagai kuli di negeri sendiri,” tegasnya.

Untuk itu, Aspimtel mendesak agar masalah bisnis menara diatur juga di UU Konvergensi agar payung hukum yang melindungi lebih tinggi tidak hanya Peraturan Bersama Menkominfo, Mendagri, Menteri Pekerjaan Umum, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

“Jika hanya setingkat aturan menteri itu bisa dianulir oleh peraturan lebih tinggi, bahkan oleh kepala daerah tidak diindahkan. Lihat saja kasus perubuhan menara di Badung. Itu bukti kongkrit adanya pengingkaran terhadap aturan pusat,” tegasnya.[dni]

160210 Regulator Kaji Tambah Pemain SLI

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) bersama  Kementrian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) sedang mengaji tentang diperlukannya penambahan pemain untuk jasa Sambungan Langsung Internasional (SLI) mengingat pasar dari layanan tersebut masih besar.

“Sedang dilakukan kajian yang komprehensif untuk jasa tersebut mengingat sudah ada dua operator yang memasukkan proposal untuk meminta kode akses SLI,” ungkap Anggota Komite BRTI Iwan Krisnandi di Jakarta, akhir pekan lalu.

Kedua operator yang mengajukan proposal adalah PT XL Axiata Tbk (XL) dan PT Natrindo Telepon Seluler (NTS).

Dikatakannya, jika peminat dari jasa tersebut hanya dua pemain, kemungkinan proses pemberian hanya berdasarkan evaluasi bukan tender. “Kalau peserta sedikit tentunya evaluasi saja. Tetapi akan diberikan standar pemenuhan pembangunan infrastruktur atau layanan minimal sama dengan pemenang tender sebelumnya yaitu PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL),” katanya.

Menurut Iwan, peluang terbesar bagi pemain yang akan mendapatkan kode akses SLI adalah pelaku usaha yang bisa menjanjikan pelanggan yang akan dilayani serta pembangunan infrastruktur.

“Jika hanya menyediakan infrastruktur itu sama saja dengan menyewa. Nanti kita lihat juga tujuan penggunaan kode akses itu, melayani pelanggan dengan jumlah besar atau tidak,” katanya.

Berdasarkan catatan, Saat ini XL memiliki jumlah pelanggan sekitar 31,4 juta dengan dukungan 18.790 BTS dan telah memiliki serat optik baik dikawasan Indonesia Timur dan Barat untuk persiapan membangun Sentra Gerbang Internasional (SGI). Sementara NTS hanya memiliki sekitar 6 juta pelanggan dengan   3.700 BTS. Axis untuk memperluas layanannya memanfaatkan jasa roaming nasional dengan memanfaatkan jaringan milik XL di Sumatera.

Saat ini layanan SLI dijalankan oleh Telkom dengan kode akses 007, Indosat (001 dan 008), serta Bakrie Telecom (009). Telkom memiliki pelanggan paling besar yaitu sekitar 100 juta nomor (seluler dan Fixed), diikuti Indosat sekitar 40 juta (Fixed dan seluler), serta Bakrie Telecom 10,5 juta nomor hanya di Fixed.[dni]

160210 Speedy Bidik Pertumbuhan 50 %

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) membidik pertumbuhan pelanggan broadband internet Speedy sebesar 50 persen atau mendapatkan 600 ribu pelanggan baru pada 2010.

“Pada 2009 pelanggan Speedy mencapai 1,2 juta satuan sambungan layanan (SSL). Berbagai prestasi pun di dapat. Salah satunya baru-baru ini adalah Top Brand Award,” ungkap Direktur Konsumer Telkom I Nyoman G Wiryanata di Jakarta, Senin (15/2).

Nyoman mengungkapkan,  pihaknya mengandalkan Paket Speedy Multispeed untuk meraih tambahan pelanggan baru. “Ini salah satu inovasi yang kami lakukan. Disamping itu kita juga membidik komunitas dengan meluncurkan Paket Speedy untuk komunitas gamers,” katanya.

Secara terpisah, Praktisi internet, Onno W Purbo mengingatkan, penyelenggara internet akan mendapatkan sandungan dalam mengekspansi layanannya jika rancangan peraturan menteri (RPM) tentang konten multimedia disahkan Kementrian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo).

“Banyak aturan di RPM itu yang tidak secara komprehensif mengatur masalah internet. Para penyelenggara dibebani investasi tambahan hanya untuk menjaga konten internet. Ini sangat berbahaya,” katanya.

Menurut Onno, dalam RPM salam sekali tidak ada pertanggungjawaban sumber berita, informasi, atau pengupload. Padahal di dunia Internet, prinsip tanggung jawab yang dipegang adalah end-to-end, bukan medium yang bertanggung jawab.  “Jika semaunya dibebani ke penyelenggara internet, kasihan mereka. Bagaimana penyelenggara itu bisa mengontrol semua isi dari internet,” kesalnya.

Sebelumnya, Menkominfo Tifatul Sembiring mengungkapkan, RPM Konten Multimedia sudah dibahas selama empat bulan lalu dan tinggal menunggu finalisasi untuk ditandatangani. “Sudah ada di meja saya. Belum ditandatangani karena ingin dibaca secara keseluruhan, siapa tahu masih ada kekurangan,” katanya.

RPM Konten Multimedia rencananya akan berisi tentang pengaturan isi dari internet agar tidak melanggar SARA, sex, budaya, dan pendidikan.

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengatakan, RPM itu bisa diterima oleh masyarakat internet asalkan tidak mengatur hal-hal teknis yang terkait bisnis. “Selama tidak masuk ke ranah teknis rasanya baik saja ada regulasi ini,” katanya.[dni]