Merpati Tak akan Andalkan Pinjaman Pemerintah

JAKARTA—PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) tidak akan mengandalkan pinjaman dana dari pemerintah untuk selamat dari jurang kebangkrutan.

”Kami tidak akan meminta pinjaman kembali dari pemerintah. Cukup yang digelontorkan dulu. Sekarang Merpati akan berjuang untuk bangkit dan bisa mencatat keuangan positif pada Oktober 2012,” tegas Presiden Direktur Merpati Rudy Setyopurnomo di Jakarta, akhir pekan lalu.

Berdasarkan catatan, pada tahun ini Merpati mendapatkan dana dari pemerintah sebesar 296,47 miliar rupiah berupa Penyertaan Modal Negara (PMN). Tahun lalu pemerintah mencairkan dana penyertaan modal negara kepada Merpati sebesar  561 miliar rupiah

Diungkapkan Rudy, aksi yang dipersiapkannya untuk menjadikan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu kembali positif dari menderita kerugian tiga miliar rupiah setiap hari salah satunya  akan merestrukturisasi rute.

“Kemungkinan ada 10-20 persen rute yang akan ditutup karena merugi pada Juni nanti. Merpati mencatat 90% dari 124 rute yang diterbanginya merugi, atau hanya 12 rute yang memberi keuntungan,” jelasnya.

Diungkapkannya, dampak dari dibiarkannya rute yang merugi beroperasi,   pihaknya mencatat kerugian 350 miliar rupiah  pada kuartal I/2012, sedangkan pada akhir 2011,
tercatat rugi 750 miliar rupiah. Untuk itu pihaknya akan melakukan pemulihan biaya operasi dan bahan bakar dengan melakukan efisiensi.

“Tidak benar kalau alasan pada kuartal I biasanya maskapai mengalami musim sepi penumpang atau low seassion, karena pada Januari itu seharusnya mampu menghasilkan pendapatan yang tinggi karena masih musim liburan, untuk itu kami akan melakukan restrukturisasi rute. Masa rute Halim (Jakarta)-Bandung penumpangnya hanya 2 orang,”
kesalnya.

Lebih lanjut dikatakannya, selama melakukan restrukturisasi rute,   manajemen juga
akan menghentikan sementara pembelian pesawat, termasuk pesawat yang baru dipesan yakni pesawat jet ARJ 21-700 sebanyak 40 unit.

Sebelumnya, Direktur Utama Merpati yang lama Sardjono Jhony melakukan penandatangan memorandum of understanding (MoU) pembelian 40 pesawat jet ARJ 21-700 berkapasitas 100 tempat duduk buatan China senilai total1,2 miliar dollar AS.

“Perjanjian beli 40 pesawat ARJ itukan masih MoU, belum mengikat, dengan demikian masih bisa dihentikan, selain itu, pembelian itu tidak ada dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP,” tegas Rudy.

Ditambahkannya,  pihaknya akan fokus membenahi rute-rute yang ada dengan menggunakan pesawat yang tersedia, yakni 30 unit, dengan 10 diantaranya jenis jet.

“Tetapi, untuk pesawat yang akan datang dan sudah deal, akan tetap didatangkan karena sudah mengikat,” ucapnya.

Dia optimistis,   dengan pengalamannya membenahi sejumlah perusahaan di Indonesia, akan   mampu membawa Merpati untung operasional pada enam bulan pasca pengangkatannya sebagai dirut baru di Merpati.

“Enam bulan kedepan, dengan kerja keras dan doa, kami akan untung operasi, yakni Oktober 2012. Untuk itu kami perlu berbenah, termasuk merubah budaya kerja, melakukan tes IQ untuk karyawan yang selanjutnya akan menempatkan orang-orang yang tepat diposisinya. Akibatnya akan ada perombakan susunan organisasi termasuk jabatan direktur,” katanya.

Dijelaskannya,  pasca mencapai laba operasi, barulah kembali memikirkan untuk menambah armada termasuk menambah rute penerbangan, juga memberikan peningkatan kesejahteraan bagi karyawan.

”Saya memiliki target membawa Mepati menjadi pemain kedua besar untuk rute domestik. Kita akan melayani rute-rute pariwisata yang tak bisa dimasuki pesawat berbadan besar. Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah mendukung aksi ini,” katanya.[dni]

Iklan

Merpati Kembali Rujuk dengan Garuda

JAKARTA–PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) akan lebih intensif menjalin kerjasama dengan salah satu pemegang sahamnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), baik dari sisi bisnis atau sumber daya manusia (SDM).

“GIAA adalah pemilik 10 persen saham Merpati. Kami tidak akan berkompetisi atau saling berhadapan dengan Garuda. Kita akan jalan beriringan,” ungkap President Director  Merpati Nusantara Rudy Setyopurnomo di Jakarta, Jumaat (25/5).

Dijelaskannya, aliansi dengan Garuda adalah langkah realistis yang dilakukan perseroan mengingat sumber daya yang dimiliki Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu sangat besar.

Misalnya, dari sisi SDM, para pilot Merpati yang ingin promosi menerbangkan pesawat tipe jet, akan ditawarkan ke Garuda yang membutuhkan pilot lokal.

“Para pilot Merpati hebat-hebat, sementara pesawat tipe jet hanya 10 unit. Bagi pilot menerbangkan pesawat jet itu satu kebanggaan,” jelasnya.

Sementara aliansi secara bisnis adalah menjadi feeder dari Garuda untuk rute-rute kota-kota kabupaten atau kecil yang tidak bisa dimasuki oleh pesawat besar.

“Kita akan bantu para turis yang dibawa Garuda ke Raja Ampat atau daerah-daerah wisata lainnya. Daerah-daerah itu biasanya dimasuki oleh pesawat kecil. Ini juga akan menyukseskan industri wisata lokal,” jelasnya.

Aliansi secara bisnis lainnya adalah membidik pekerjaan pemeliharaan pesawat yang dilakukan oleh anak usaha Garuda Indonesia, yakni Garuda Maintenance Facilities (GMFY).

“Merpati Maintenance Facilities (MMF) memiliki kompetensi memperbaiki pesawat tipe propeller dan jet. Belum lama ini MMF memiliki sertifikat dari European Aviation Safety Aagency (EASA). Nilai bisnis pemeliharaan pesawat itu di Indonesia 10 miliar dollar AS, GMF hanya menggarap 10 persen karena kurang kapasitas. Jika MMF dan GMF beraliansi tentu akan besar pasarnya,” katanya.

Rudy optimistis, hubungan manis antara kedua BUMN akan kembali terjadi karena dirinya sebelumnya lama menjadi eksekutif di Garuda Indonesia dan masakpai itu juga yang ikut mengangkat dirinya menggantikan Sardjono Jhonny pada pertengahan Mei 2012.

“Saya optimistis berbagai kerjasama itu akan terwujud. Bahkan ada wacana GIAA akan memberikan pesawat tipe ATR ke Merpati kok,” ungkapnya.

Lebih lanjut Rudy mengaku tetap optimistis laba operasi dari maskapainya akan positif pada Oktober 2012 atau enam bulan usai dirinya diangkat menjadi orang nomor satu di maskapai itu.

“Saya sudah siapkan banyak program yang dikemas dalam Patriotic Action. Pada tanggal 20 dan 21 Mei 2012, Merpati sudah mulai positif. Bayangkan sebelumnya setiap hari rugi 3 miliar,” jelasnya.

Untuk diketahui, pada 2011 Merpati mengalami rugi usaha 458 miliar rupiah, rugi bersih 745 miliar rupiah, dan negatif equity 2.791 triliun rupiah.
Sementara pendapatan usaha hanya 1,6 triliun rupiah, jauh dari target yang ditetapkan 3 triliun rupiah.

Hingga April 2012 Merpati mengalami kerugian 350 miliar rupiah.

Secara terpisah, Direktur Pemasaran Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengaku terbuka untuk bekerjasama dengan Merpati.

“Kita sambut gembira rencana itu,” katanya.

Sebelumnya, di era kepemimpinan Sardjono Jhonny, Merpati terkesan berkompetisi dengan GIAA, walaupun keduanya adalah BUMN transportasi.

Hal itu terlihat jelas kala Merpati ikut-ikutan membeli pesawat kelas Sub-100 dari China dengan merek ARJ 72-100,  setelah GIAA memborong 18 unit Bombardier kala Singapore Airshow Februari 2012.

“Kami belum ada rencana menambah pesawat, kecuali yang sudah deal atau akan datang 8 jet tahun ini. Tetapi kalau untuk tipe Sub 100 harus direview semua. Kemarin itu baru sebatas Memorandum of Understanding,” katanya.[Dni]

Garuda Incar 9 juta Anggota Accor Hotel

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) meningcar sembilan juta anggota Accor Hotels di kawasan Asia Pasifik melalui kerjasama kemitraan global antara kedua perusahaan yang ditandatangani pada Rabu (23/5).

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar  mengatakan kerjasama kemitraan global dengan Accor Group sebagai pemilik  memiliki jaringan hotel yang sangat luas sebagai upaya perseroan untuk secara terus menerus meningkatkan layanan kepada para pengguna jasa, serta untuk menjadi pemain global.

”Anggota Accor Hotels yang tercantum dalam websitenya sudah 9 juta di Asia Pasifik. Nah, inilah yang kami sasar untuk menggunakan Garuda sebagai transportasi udaranya untuk terbang ke destinasi-destinasi di seluruh dunia,” katanya di Jakarta Rabu (23/5).

Dijelaskannya, sejalan dengan transformasi bisnis yang dilaksanakan, maka Garuda secara intensif terus melakukan sinergi dengan institusi internasional untuk mengembangkan pangsa pasarnya.

”Kami berterima kasih kepada Accor Group, karena selain akan memberikan benefit (manfaat) bagi pengguna  jasa kedua perusahaan, kerjasama ini juga tentunya akan semakin meningkatkan pangsa pasar Garuda di Internasional. Kru Garuda akan menggunakan jaringan hotel Accor sehingga akan menghemat biaya,” jelasnya.

Menurutnya, dengan ditandatanganinya kerjasama yang berlaku di seluruh destinasi dan jaringan Garuda Indonesia dan Accor ini, maka para penumpang Garuda yang menggunakan fasilitas Accor Group dan tamu Accor Group yang terbang dengan Garuda akan mendapatkan discount khusus sebesar 10 persen,  baik untuk harga tiket pesawat Garuda maupun untuk harga kamar di setiap hotel Accor Group melalui website Accor Hotel yakni http://www.accorhotels.com/garuda.

Kerjasama ini juga meliputi pemberian harga khusus di hotel-hotel Accor Group di seluruh dunia anggota Garuda Frequent Flyer (GFF) melalui http://www.accorhotels.com/gff, serta bagi para pegawai Garuda Indonesia Group.

“Garuda Indonesia juga memiliki 600.000 pemegang kartu GFF. GFF ini berkontribusi 10%-15% terhadap penjualan Garuda, karena dalam setahun rata-rata terbang 3-4 kali,” kata Emirsyah.

Direktur Utama PT Accor Asia Pacific Corporation (AAPC) Indonesia Gerard Guillouet mengakui Garuda Indonesia merupakan mitra Accor yang telah bekerja sama selama bertahun-tahun.

”Kami sangat antusias untuk melanjutkan kemitraan strategis dengan Garuda Indonesia, tidak hanya untuk loyalty programs, namun juga untuk mengembangkan program kemitraan korporat yang lebih erat. Salah satu elemen penting dalam kemitraan kami yang baru ini adalah komitmen Accor untuk memastikan tersedianya akomodasi bagi para awak pesawat serta penumpang Garuda Indonesia di seluruh hotel-hotel jaringan Accor,” tuturnya.[dni]

Emiten Transportasi Bidik Omset Tumbuh 17,21%

JAKARTA—PT Samudera Indonesia Tbk ( Samudera Indonesia) membidik pertumbuhan omset sebesar 17,21 persen pada tahun ini atau mencapai 6 triliun rupiah dari posisi akhir 2011 sekitar 5,119 triliun rupiah.

“Pada tahun lalu omset Samudera Indonesia 5,119 triliun atau tumbuh 18,2 persen dibandingkan 2010 sekitar 4.33 triliun rupiah. Kita optimistis pada tahun ini bisa meraih sekitar enam triliun atau sama dengan umur saya sekarang,” ungkap Direktur Utama Samudera Indonesia Masli Mulia di Jakarta, Selasa (22/5).

Diungkapkannya, kenaikan pendapatan pada 2011 tak bisa dilepaskan dari bergeraknya bisnis inti perseroan yaitu pelayaran, logistic, dan terminal. “Hampir 50% omset dipasok dari bisnis pelayaran. Sementara terminal 15% dan keagenan 15%,” ungkapnya.

Dikatakannya, untuk laba yang diraih perseroan selama 2011 sebesar 97,9% atau tumbuh 44,6 persen dibandingkan 2010 sekitar 67,7 miliar rupiah. “Bottom line perseroan tertekan oleh beban jasa, usaha, dan lain-lain. Akhirnya margin yang didapat kecil,” jelasnya.

Namun, perseroan tetap membagikan dividen bagi pemegang saham sekitar 32% dari laba bersih yakni sekitar 31.32 miliar rupiah dengan nilai saham per lembar 200 rupiah. Angka itu naik dari 2010 yang 160 rupiah per lembar saham.

“Kita mencadangkan sisa laba bersih sebagian untuk membayar hutang  dan digunakan sebagai modal kerja,” katanya.

Wakil Direktur Utama Samudera Indonesia Torkis David Parlaungan Batubara mengungkapkan, perseroan pada tahun ini akan lebih fokus ke pasar domestic karena kondisi pasar regional masih tidak menentu. “Krisis  di Amerika Serikat dan Eropa belum selesai. Selain itu, harga minyak sebagai kebutuhan utama transportasi terus naik. Kami harus fokus dalam investasi agar pertumbuhan terus terjaga,” katanya.

Diprediksinya pasar regional tetap akan memasok sebesar 40% bagi pendapatan perseroan tahun ini, sedangkan pasar domestic 30%, dan sisanya dari jasa logistic. “Jika pada tahun lalu kami menetapkan belanja modal sebesar 900 miliar rupiah, maka tahun ini kita tidak berani menetapkan nilai  investasi. Jika pun ada yang kita lakukan adalah memprioritaskan infrastruktur dan utilisasi secara maksimal. Untuk investasi akan sangat selektif,” jelasnya.[dni]

Q1, Keuntungan Pelindo II Naik 45,9%

JAKARTA –  PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) berhasil membukukan keuntungan sebesar 513 miliar rupiah selama kuartal I-2012 atau  naik 45,9% dibanding periode yang sama tahun lalu, sebesar 351 miliar rupiah.

Direktur Utama Pelindo II RJ Lino menjelaskan naiknya keuntungan perseroan selama kuartal I-2012 tak bisa dilepaskan dari  pendapatan sebesar 1.269 triliun rupiah  pada triwulan pertama tahun 2012. Angka ini lebih tinggi 42% dibanding periode yang sama tahun lalu, sebesar 894 miliar rupiah.

“Kinerja Pelindo II sangat memuaskan selama kuartal pertama tahun 2012,” katanya di Jakarta, Selasa (22/5).

Diungkapkannya, pendapatan perusahaan diperoleh dari pendapatan jasa kapal, jasa barang, pengusahaan alat, pelayanan terminal, pelayanan terminal peti kemas, pengusahaan TBAL, fasilitas rupa-rupa, dan kerjasama dengan mitra usaha.

Dikatakannya, dalam triwulan pertama 2012, IPC menanamkan investasi sebesar 357 miliar rupiah. Angka ini sendiri baru menyerap 8,32% anggaran investasi 2012 sebesar 4,3 triliun rupiah.

Beberapa investasi yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok adalah penguatan dan pemasangan rel gantry luffing crane dan pekerjaan pembangunan lapangan peti kemas. Di luar Pelabuhan Tanjung Priok, IPC melakukan investasi seperti perbaikan besar-besaran pada Pelabuhan Pontianak, pengerukan pelabuhan Banten dan Bengkulu, serta pembangunan stock pile batu bara di Pelabuhan Jambi.

Perusahaan juga menambah dua puluh tujuh cranes di 5 (lima) pelabuhan untuk mempercepat  proses bongkar muat barang. Investasi tersebut masih ditambah dengan pengadaan 8 (delapan) kapal yang mendukung operasional pelabuhan-pelabuhan yang dikelola oleh IPC. Untuk pengembangan sumber daya manusia, IPC terus melaksanakan program pasca sarjana luar negeri atas biaya perusahaan yang teranggarkan hingga Rp576,05 miliar. Perubahan logo pun diikuti oleh penyusunan roadmap dan implementasi corporate restructuring sehingga perbaikan layanan benar-benar terlaksana secara menyeluruh.
“Investasi besar yang kami lakukan, bertujuan untuk memperbaiki seluruh layanan pelabuhan. Jika  layanan pelabuhan baik, kapal-kapal besar mau dan pasti datang  di pelabuhan-pelabuhan yang dikelola IPC. Itu akan mengurangi biaya logistik di Indonesia, meng-energize perdagangan dan roda ekonomi!” tegasnya.

Dari segi pelayanan peti kemas, Pelabuhan Tanjung Priok melayani 1,4 juta TEUs kontainer atau mencapai 93% dari seluruh kontainer yang dilayani oleh pelabuhan-pelabuhan di bawah pengelolaan IPC. Angka tersebut juga menunjukkan kenaikan layanan Tanjung Priok sebesar 13,6% dibanding tahun lalu.

Pada triwulan pertama 2012, perusahaan juga telah memulai kajian pembentukan 9 (sembilan) anak perusahaan, yang pembentukannya akan dilaksanakan bertahap dalam 5 (lima) prioritas.

Selain itu, IPC pun semakin mengintensifkan penggunaan information communication and technology (ICT) untuk mempercepat terkoneksinya sistem kepelabuhan. Setelah sebelumnya diterapkan di 4 (empat) pelabuhan, IPC mulai menerapkan pembangunan aplikasi car terminal dan TPK Teluk Bayur.

“Aplikasi ini memungkinkan pemilik kapal dan pemilik barang mengetahui jadwal sandar kapal serta bongkar muat barang, sehingga proses logistik di pelabuhan dapat menjadi lebih efisien,”katanya.[dni]

TPK Koja Layani Kapal Panamax Class

JAKARTA—Terminal Peti Kemas (TPK) Koja  berhasil melayani kapal berkapasitas 5.000 TEUs  atau  dikenal sebagai  Panamax Class yang  merupakan standar kapal kontainer  digunakan oleh perusahaan pelayaran internasional karena sifat efisiensinya.

General Manager TPK Koja Arif Isnawan melalui keterangan tertulisnya mengungkapkan, kapal berkapasitas 5.000 TEUs yang tiba di TPK Koja dioperasikan oleh  Orient Overseas Container Line, Ltd  (OOCL ) sebuah perusahaan pelayaran besar dari Hongkong.

“OOCL  semakin memantapkan posisinya sebagai sebuah perusahaan pelayaran yang memiliki reputasi tinggi, dengan memperbesar (upsize) pengoperasian kapalnya dari kapasitas 3.200 TEUs menjadi 4.600 (hingga 5.000) TEUs, serta memberikan kepercayaan pada TPK Koja untuk melayani kegiatan bongkar muat peti kemas setiap minggunya,” ungkapnya di Jakarta, Selasa (15/5).

Menurutnya, upsize kapal ini jelas merupakan suatu kepercayaan yang tinggi dari OOCL sebagai pelanggan terbesar. Adanya upsize kapal ini semakin memantapkan komitmen TPK Koja untuk meningkatkan level of service dan produktivitasnya.

Dijelaskannya, TPK Koja sebelumnya memiliki kapasitas terpasang sebesar 680.000 TEUs. Namun dengan melakukan berbagai upaya optimalisasi atas fasilitas infra dan suprastruktur yang ada, TPK Koja kini mampu meningkatkan kapasitasnya menjadi 840.000 TEUs. Hal ini telah dibuktikan dengan pencapaian throughput lebih dari 823.000 TEUs pada tahun 2011 lalu.

Perolehan throughput TPK Koja pada tahun 2012 ini, sampai dengan April, mencapai 271.781 TEUs, mengalami kenaikan 10.55% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 245.844 TEUs. Sementara, untuk kinerja GCR (Gross Crane Rate) mengalami kenaikan sebesar 17.49% dari 22,3 box/jam pada tahun 2011 menjadi 26,2 box/jam pada tahun 2012.

“Pencapaian ini merupakan bentuk kepercayaan yang sangat tinggi dari seluruh pelanggan setia kami kepada TPK Koja, dan juga merupakan bentuk dedikasi dan profesionalisme dari semua karyawan TPK Koja,” jelasnya.

Diungkapkannya,  pada awal tahun 2013, TPK Koja akan memperluas container yard, menambah jalur gate, serta menambah fasilitas bangunan dan pendukung operasional. Untuk paralatan pendukung, TPK Koja akan melakukan penambahan 1 unit QCC, 3 unit RTG, 8 unit head truck, serta fasilitas suprastruktur lainnya. Perbaikan fasilitas dan penambahan area ini akan mampu meingkatkan kapasitas layanan TPK Koja menjadi 1.000.000 TEUs.

“Capaian TPK Koja ini menjadi suatu hal yang sangat menggembirakan. Ini membuktikan bahwa Pelabuhan Tanjung Priok dengan layanan berstandar internasional, telah benar-benar siap menjadi hub-port regional guna mengantisipasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, kawasan Asia, dan dunia, “  kata Direktur Utama Pelindo II RJ Lino.[dni]

Pejabat Merpati Ramai-ramai Mengundurkan Diri

JAKARTA—Pergantian Direktur Utama (Dirut) Merpati Nusantara yang terkesan mendadak dan tidak transparan ternyata berbuntut panjang. Para pejabat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) transportasi itu ramai-ramai mengundurkan diri dengan alasan memberikan jalan bagi Dirut yang baru menjalankan tugasnya.

“Setahu saya sudah ada tiga pejabat yang mengundurkan diri dan mengirimkan surat resmi ke Dirut. Mereka adalah Sekretaris Perusahaan Imam Turidi, SVP Corporate Planning Erry Wardhana, dan  VP Marketing  Yose Rizal,” ungkap Sekretaris Perusahaan Imam Turidi kala dihubungi Selasa (15/5).

Diungkapkannya, dirinya memilih jalan mengundurkan diri karena ingin memberikan kesempatan bagi Dirut yang baru untuk menetapkan strategi bagi perseroan.

“Saya terlalu dekat dan banyak menjadi bagian dari Dirut yang lama dalam pengambilan keputusan. Lebih baik saya mundur dan memberikan kesempatan bagi yang lain untuk mendukung pimpinan baru. Sekarang tinggal menunggu keputusan direksi saja terkait surat yang dikirimkan,” katanya.

Untuk diketahui, pada Senin (14/5) Menneg BUMN Dahlan Iskan merealisasikan niatnya mengganti Dirut Merpati Nusantara dari Sardjono Jhony Tjitrokusumo ke  PJS  Dirut  Rudy Setyopurnomo.

Alasan yang diapungkan Dahlan Iskan adalah Merpati terus mengalami kerugian dan membutuhkan pemimpin yang lebih tegas dalam memimpin BUMN tersebut.  Merpati  selama kuartal I 2012 mencatat rugi hingga 250 miliar rupiah dan per hari rugi dua miliar rupiah.

Senior Vice President Corporate Planning Merpati Erry Wardhana  mengatakan langkah mengundurkan diri dilakukan karena menilai  pencopotan Jhony tidak sesuai mekanisme yang seharusnya.

Jhony kala dimintai tanggapan terkait aksi yang dilakukan mantan anak buahnya menegaskan tidak tahu sama sekali terkait aksi tersebut. “Saya tidak tahu menahu. Saya sekarang lebih senang diam ketimbang dituduh yang tidak-tidak. Bagi saya, biarkan semua berlalu,” katanya.

Menurutnya, dirinya sudah banyak memberikan sumbangsih bagi Merpati. “Saya rela standar gaji diturunkan demi menjadi Dirut Merpati  supaya maskapai ini bisa lebih bagus lagi. Sekarang semua sudah berlalu dan lebih baik bicara masa depan,” katanya.

Sementara Rudy kala dimintai pendapatnya mengaku tidak khawatir pejabat teras perseoran mengundurkan diri. “Tidak masalah. Kalau ada yang mundur tentu kita siap menggantinya dengan yang muda-muda, cerdas dan berbakti kepada negara,” kata Rudy.

Menurut Rudy, selain dari dari luar perusahaan, orang dalam Merpati juga masih banyak yang pintar-pintar dan potensial. “Mundur atau tidak itu merupakan hak setiap karyawan. Tidak masalah, karena dari internal perusahaan juga masih banyak yang memiliki kemampuan untuk memajukan Merpati,” kata Rudy.

Diungkapkannya, mulai besok  akan menseleksi dan melakukan tes ke para pegawai Merpati yakni test psikotes, dimana diharapkan ada bibit-bibit baru yang potensial untuk membawa Merpati menuju sukses.

“Kalau semuanya pegawai internal juga bekerja keras bersama-sama, maka dalam enam bulan Merpati sudah meraup untung,” tegasnya.[dni]