Mandiri Sekuritas Perkuat Infrastruktur Back Office System

JAKARTA –Mandiri Sekuritas menanamkan dana investasi mencapai 1,7 juta dollar AS atau sekitar  16 miliar rupiah untuk memperkuat infrastruktur Back Office System guna meningkatkan kualitas layanan bagi pelanggannya.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Harry M. Supoyo mengungkapkan, sistem yang digunakan adalah olympic Banking System dari ERI.

”Investasi ini merupakan bagian dari komitmen Mandiri Sekuritas untuk selalu memberikan yang terbaik bagi seluruh nasabah.  Dimana dengan semakin tingginya aktivitas dan volume transaksi nasabah serta makin kompleksnya kebutuhan pelaporan baik untuk keperluan eksternal maupun internal, maka kami juga berupaya untuk terus meningkatkan kualitas layanan,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Rabu (30/5).

Dijelaskannya, saat ini sudah dimulai proses implementasi dari sistem baru  dan akan siap pada awal tahun depan. Dengan Back Office System yang baru ini maka dapat membantu Mandiri Sekuritas untuk menangani pemrosesan data secara Straight Through Processing (STP) untuk multi-product, multi-client, multi-currencies, dan multi-channel. Selain itu, system yang baru ini nantinya  memiliki keandalan dan ketersediaan (Reliability & Availability) sekaligus dapat mengantisipasi penambahan data secara cepat (Scalability & Capacity), yang sejalan dengan pertumbuhan bisnis Mandiri Sekuritas termasuk kesiapan Perusahaan untuk go regional.

Hingga saat ini, Mandiri Sekuritas telah memiliki lebih dari 10 ribu nasabah dan 12 Mandiri Investment Gallery (MIG) di seluruh Indonesia. ”Upaya peningkatan kualitas layanan dengan Back Office System akan mampu meningkatkan kinerja sekaligus memperkuat posisi Mandiri Sekuritas sebagai pemain utama di industri pasar modal Indonesia,” kata Harry.[dni]

Mandiri Sekuritas Bidik Jamin 25 Emisi

JAKARTA –PT Mandiri Sekuritas membidik menjadi penjamin 25 emisi pada 2012 yang terdiri atas 17 emisi obligasi dan 8 emisi saham.

“Kami menaikkan target penjaminan emisi. Sebelumnya pada awal tahun ditargetkan penjaminan sebanyak 17 emisi, sekarang dinaikkan menjadi sebanyak 25 emisi,” ungkap  Executive Vice President Corporate Communication Mandiri Sekuritas, Febriari Nadira, usai  Paparan Publik Penerbitan Obligasi Indosat VIII, di Jakarta, Selasa (29/5).

Dijelaskannya,  penambahan jumlah penjaminan pada tahunini didorong situasi pasar saham dan obligasi yang terus membaik.

“Kita optimis penjaminan Mandiri Sekuritas tercapai, sejalan dengan momentum pertumbuhan ekonomi nasional, serta masuknya Indonesia ke dalam kategori investment grade.  Situasi tersebut diutarakan Nadira, juga mendorong sejumlah perusahaan untuk melakukan aksi korporasi,”jelasnya.

Diungkapkannya,  nilai penjaminan dari 25 emisi (obligasi dan saham) pada 2012 tersebut ditargetkan sekitar 10 triliun rupiah.

“Jumlah penjaminan kami naikkan, tapi nilai penjaminan belum kami revisi, masih pada target semula 9 triliun-10 triliun rupiah. Kita lihat situasinya saja,” katanya.

Sayangnya, Wanita yang akrab disapa Ira ini tidak merinci nama-nama perusahaan yang akan menerbitkan surat utang (obligasi) dan yang melakukan penawaran saham perdana kepada publik (IPO) tersebut.

Dikatakannya,  penjaminan emisi tahun ini meliputi perusahaan yang bergerak di sektor otomotif, perbankan, telekomunikasi, pembiayaan.

Mandiri Sekuritas merupakan pemimpin bisnis penjaminan emisi saham dan obligasi di Indonesia dengan menguasai 15,5 persen pangsa pasar penjaminan emisi.

Pada tahun 2011 realisasi penjaminan oleh Mandiri Sekuritas mencapai 22 perusahaan, terdiri atas emisi saham (IPO) 5,93 triliun rupiah  dan emisi surat utang 8,15 triliun rupiah.

Sejumlah perusahaan yang menggunakan jasa penjaminan Mandiri Sekuritas selama tahun 2011 meliputi Astra Sedaya Finance, Federal International Finance, Adira Finance, Agung Podomoro Land, Aneka Tambang, Garuda Indonesia, ABM Investama, Salim Ivomas Pratama dan Greenwood Sejahtera.[Dni]

Antam Negosiasi Harga Jual Komoditas

JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) segera melakukan negosiasi harga jual komoditas yang dimilikinya ke para pembeli potensial terkait adanya ketentuan bea keluar 20 persen yang harus ditanggung perseroan.

“Kami akan melakukan negosiasi dengan para pembeli. Umumnya para pembeli mau menanggung secara bersama Pass through sebesar 20 persen itu. Adanya keinginan negosiasi ini sudah angin segar bagi Antam,” ungkap Direktur Antam, Alwinsyah Loebis di Jakarta, usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Kamis (31/5).

Untuk diketahui, bea keluar 20 persen sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar. Beleid tersebut berlaku sejak 16 Mei 2012. Melalui aturan itu, 65 jenis mineral mentah dikenakan tarif 20 persen.

Diungkapkannya, perseroan sudah mendapatkan izin untuk melanjutkan kembali ekspor bijih nikel dan bauksit dengan kuota 2,275 juta ton untuk tiga bulan ke depan.   Antam tidak mengubah target volume penjualan bijih nikel dan bauksit di tahun 2012, walaupun ijin telah dikeluarkan.

“Sebanyak 24 persen dari total omset pada 2011 dikontribusi oleh Nikel. Kami harus melakukan negosiasi dengan pembeli untuk mau menanggung minimal 50:50 biaya pass through itu. Jika sebanyak 20 persen beban ditanggung oleh Antam, maka omset dari penjualan nikel bisa turun sekitar 8-10 persen,” ungkapnya.

Alwinsyah mengungkapkan, komposisi pemasaran komoditas perseroan ke Eropa pada tahun lalu sebanyak 25%, Korsel (15%), Jepang (10%), China (9%), Singapura (10%), dan domestik (30%).

“Kita harapkan ada efek seperti menekan balon dengan adanya krisis di Eropa, dimana permintaan dari Asia justru meningkat untuk komoditas yang dihasilkan oleh Antam. Untungnya, pembeli dari Eropa komoditas Antam itu dari Jerman dan Inggris yang tidak begitu terkena krisis,” jelasnya.

Direktur Operasional Antam Winardi mengungkapkan, saat ini pembeli dari China sudah bersedia untuk ikut menanggung biaya pass through sebesar 20 persen.
“Bisnis Feronikel di China masih bergairah, karena itu pelaku usahanya tidak keberatan menanggung pass through. Hal ini berbeda dengan pembeli yang terikat kontrak jangka panjang seperti dari Eropa dan Jepang. Kita harapkan tim pemasaran bisa bernegosiasi,” katanya.

Winardi memperkirakan adanya kebijakan pass through sebesar 20 persen akan menekan ekpor biji nikel dari Indonesia.” Jika pada tahun lalu ada 33 juta ton yang diekspor, tahun ini pasti akan kurang. Antam mensiasati dengan negosiasi, efisiensi, dan mengejar target produksi,” katanya.

Hingga akhir  April 2012, Antam telah mengapalkan 2,34 juta wmt bijih nikel.  Sampai dengan akhir bulan April 2012, Antam telah melakukan ekspor bijih bauksit sebesar 31.402 wmt. Antam menargetkan capaian produksi (feronikel) di tahun 2012 sebesar 18.000 TNi (ton nikel) dengan target volume penjualan sebesar 19.500 TNi.

Produksi feronikel tahun ini diperkirakan mengalami penurunan 8,5 persen dibandingkan produksi tahun 2011 yang tercatat 19.600 TNi. Namun, dari sisi penjualan, Antam memperkirakan akan relatif sama dengan 2011 sebesar 19.500 TNi.

Sedangkan untuk produksi bijih nikel, tingkat permintaan bijih nikel di tahun 2012 masih tetap kuat dan menargetkan volume produksi bijih nikel mencapai 9,4 juta wmt (wet metric ton) dengan volume penjualan sebesar 7,8 juta wmt.

Antam juga akan memacu produksi emasnya di tahun ini. Perseroan mengincar pertumbuhan produksi hingga 16,5 persen, dari 2.667 kilogram di 2011 menjadi 3.109 kilogram di tahun 2012.

Pada 2011 lalu, Antam melalui anak perusahaan, PT Indonesia Coal Resources (ICR), berhasil memproduksi 583.794 ton batu bara. Pada 2012, ICR menargetkan peningkatan produksi batu bara menjadi 1 juta ton.

Bagi Dividen
Lebih lanjut Alwinsyah mengungkapkan, RUPS Tahunan menyetujui untuk membagi dividen sebesar 867,55 miliar atau 45% dari laba bersih 2011 sekitar 1,9 triliun rupiah.

“Tadinya sempat ada wacana pembagian dividen mencapai 50% dari laba bersih, tetapi kami ada kebutuhan untuk investasi. Manajemen malah mengusulkan 30%, akhirnya diambil jalan tengah 45%,” jelasnya.

Sementara Direktur Keuangan Antam Djaja Tambunan mengatakan, perseroan masih menahan diri untuk mengeluarkan obligasi sebesar satu triliun rupiah yang sebelumnya sudah direncanakan sejak tahun lalu untuk pembiayaan proyek yang mendukung kinerja perseroan.

“Obligasi sebesar satu triliun rupiah akan menunggu kondisi pasar keuangan kembali stabil dan kemajuan dari proyek yang dibiayai oleh obligasi itu. Sebelumnya kita sudah menerbitkan obligasi sebesar 3 triliun rupiah untuk membiayai beberapa proyek,” katanya.

Diungkapkannya, strategi lainnya yang memungkinkan untuk membiayai proyek adalah melalui pinjaman ke bank lokal atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Export Credit Agency (ECA) di Eropa, khususnya untuk pengadaan peralatan proyek. “Kita incar ECA dari Eropa dan Asia Utara yang sedang melirik pasar baru untuk berinvestasi,” katanya.

Untuk diketahui, Antam saat ini  tengah berfokus pada pembangunan proyek-proyek utama perusahaan, diantaranya   pembangunan pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan yang menelan investasi 450 juta dollar AS, pembangunan pabrik Feronikel Halmahera Timur dengan investasi 1,6 miliar dollar AS, proyek Modernisasi dan Optimasi Pabrik Feronikel Pomalaa , yang juga mencakup pembangunan PLTU Pomalaa dengan investasi 450-500 juta dollar AS. Konstruksi ketiga proyek ini telah dimulai dan diharapkan telah dapat beroperasi pada tahun 2014.

Kinerja BUMN ini selama kuartal I-2012  membukukan  laba bersih  379 miliar rupiah  atau naik 9,6 persen dibandingkan periode sama sebelumnya sebesar 346,16 miliar rupiah. Komoditas emas kembali menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan perusahaan pelat merah tersebut.

Sedangkan penjualan bersih perusahaan selama kuartal I-2012 meningkat 24 persen dibandingkan periode sama 2011 menjadi 2,5 triliun rupiah. Peningkatan ini seiring naiknya volume penjualan feronikel, bijih nikel, dan emas. Sementara omset Antam selama 2011 sebesar  10,3 triliun rupiah.[dni]

Penguasa dengan Nakhoda Baru

Kejutan dihadirkan Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan sebagai kuasa pemegang saham Dwiwarna di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Luar Biasa pada Jumaat (11/5) lalu, Dahlan mengganti  Direktur Utama Rinaldi Firmansyah dengan Arief Yahya yang sebelumnya menjabat Direktur Enterprise and Wholesale Telkom.

Arief Yahya yang akrab dipanggil AY pun diberikan kebebasan untuk menunjuk The Dream Team yang akan mendampinginya hingga 2017 mendatang.

AY memilih  anggota komisaris Mitratel Honesti Basyir, sebagai Direktur Keuangan menggantikan Sudiro Asno,  Presiden Direktur Infomedia M Awaludin menjadi Direktur Enterprises and Wholesales.

Priyantono Rudito menjadi Direktur Human Capital General Affair menggantikan Faisal Syam. Direktur Utama Telkom Internasional Ririek Adriansyah  menjadi Direktur Compliance and Risk Management menggantikan Prasetio.

Berikutnya, Direktur Utama Telkom Sigma Rizkan Chandra  menjadi Direktur Network Services menggantikan Ermady Dahlan, dan Sukardi Silalahi  menajdi Direktur Konsumer menggantikan I Nyoman G Wiryanata. Hanya   Indra Utoyo yang  tetap menjabat Direktur IT  Solution and  Strategic.

Komisaris Utama Telkom  Jusman Syafii Djamal  menjelaskan alasan pergantian tampuk pimpinan di penguasa pasar telekomunikasi itu untuk regenerasi dan penyegaran.

“Pergantian ini hanya untuk penyegaran agar Telkom menjadi lebih baik. Kinerja manajemen lama tidak jelek, bahkan saya nilai mereka sudah menyelesaikan tugasnya secara baik dan amanah,” tegasnya.

Dijelaskannya,  para direksi banyak diisi kalangan muda dan internal Telkom sehingga bisa lebih kompetitif menghadapi persaingan.

Strategi
Arief Yahya dalam konferensi pers pertamanya usai diangkat menjadi Telkom-1 menegaskan  akan lebih mempertajam bisnis yang selama ini digeluti perseroan dengan cara organik maupun anorganik.

“Telkom memiliki portofolio produk  Telecommunication, information, media and edutainment (TIME) dan  consumer portofolio. TIME kita akan akselerasi secepatnya. Kalau IME nanti akan lebih banyak aliansi dan akuisisi,” jelasnya.

Dikatakannya,  melalui anak usaha Telkom akan lebih mempertajam bisnis consumer. “Nanti ada divisi wholesales dan international juga. Akan kita pertajam,” katanya.

Diharapkannya, pertumbuhan bisnis perseroan, akan jauh melebihi industri. “Kini harus di atas rata-rata industri. Industri 6,1%, Telkom akan tumbuh  6,8%. Tapi susah menghafalkannya tapi rata-rata 8%- lah,” harapnya.

Menjanjikan
Guru Besar ITB Suhono Harso Supangkat menilai susunan direksi Telkom di bawah kepemimpinan AY cukup menjanjikan karena rekam jejak para direksi sudah teruji di beberapa lini memberikan pengalaman yang menambahkan.

”Namun, tantangan industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) juga semakin tajam. Tidak mudah untuk bisa menang dalam persaingan. Mudah-mudahan tim ini bisa memberikan inpirasi atau energi baru untuk menambah daya saing,” katanya.

Diharapkannya, Telkom di bawah kepemimpinan AY bisa mengubah cara pikir dari pemain telekomunikasi menjadi industri layanan dengan kompetisi dan model bisnis yang baru. ”Google atau Yahoo! Bisa menjadi tolak ukurnya. Telkom harus berani mengubah model bisnisnya di industri konten,” katanya.

Praktisi Telematika Suryatin Setiawan yang juga mantan direktur Telkom mengakui, sebagai karyawan yang merintis karir dari bawah di BUMN tersebut, AY pantas menjadi orang nomor satu.

”Pengalaman dan persiapannya sudah lengkap, jadi memang sudah waktunya untuk menjadi Telkom-1. Susunan direksi yang dipilih juga saling menutup kekurangan sehingga diharapkan bisa kompak hingga akhir masa bakti. Saya harapkan Telkom di bawah AY mulai menyiapkan diri ekspansi dengan tegas dan berskala ke luar Indonesia,” katanya.

Sementara Mantan Sekretaris Menneg BUMN Said Didu mengatakan, terdapat tiga hal yang harus dipertahankan oleh para direksi di bawah kepemimpinan AY yakni pintar mengelola keuangan dan investasi, selalu bisa beradaptasi dengan teknologi, dan tidak mau didikte oleh pemilik teknologi.

”Para direksinya banyak anak-anak muda. Semoga integritas dan idealismenya tetap terjaga,” katanya.[dni]

Dirut Merpati Mendadak Diganti

JAKARTA—Kementrian Badan Usaha Milik Negara (KBUMN) dikabarkan mengganti
Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Sardjono Jhony secara mendadak tanpa alasan yang jelas.

”Saya memang mendengar adanya pergantian Dirut dan rencanan pelantikan pejabat baru pada Senin (14/5),” ungkap SVP Corporate Planning Merpati Nusantara Erry Wardhana ketika dihubungi Minggu (13/5).

Dijelaskannya, sebagai perwakilan manajemen atau karyawan, dirinya tidak mengetahui alasan pergantian dan tidak ingin berspekulasi. ”Tetapi jika bicara soal kinerja, kami berani mempertanggungjawabkan. Di bawah kepemimpinan Pak Jhony selama satu setengah tahun belakangan ini ada perbaikan signifikan,” tegasnya.

Diungkapkannya, calon pengganti Jhonny kemungikinan Komisaris Utama Merpati  Rudi Setyopurnomo yang baru menggantikan Said Didu satu setengah bulan lalu. ”Saya sudah telepon Pak Rudi. Beliau seolah mengiyakan menjadi pengganti Dirut,” katanya.

Sebelumnya, pada Februari 2012, Jhony pernah mengisyaratkan akan mundur terkait  kasus kecelakaan pesawat Merpati MA-60 yang jatuh di Perairan Kaimana, Papua, 7 Mei 2011.

Permintaan mundur itu langsung diutarakannya pada saat rapat dengar pendapat di gedung DPR beberapa waktu lalu. Namun permintaan mundur dirinya tidak diterima oleh Menneg BUMN Dahlan Iskan.

”Kalau bicara isu Februari itu sudah clear. Pak Dahlan bicara dengan Pak Jhony dimana saya menyaksikan, meminta masalah Merpati secepatnya diselesaikan dan pencairan sebesar 296,47 miliar rupiah berupa Penyertaan Modal Negara (PMN),” katanya.

Perwakilan Pilot Merpati Nusantara Capt Hendra Jusack meminta jika pergantian dilakukan terhadap pimpinannya harus dengan alasan yang jelas. “Kami tidak akan mempertanyakan jika pergantian tidak mendadak dan tanpa alasan jelas. Kami masih berharap keputusan itu bisa berubah. Semoga Pak Dahlan Iskan bisa memutuskan dengan jernih,” katanya.

Diungkapkannya, Merpati selama kepemimpinan Jhony mampu mengangkat kesejahteraan karyawannya  dan sinyal perbaikan terjadi  di BUMN transportasi itu. “Bagi saya jika seorang pimpinan berhasil mengangkat  kesejahteraan karyawan itu hal yang baik. Kesejahteraan seluruh karyawan naik 30 persen di era Pak Jhony,” katanya.

Jhoni sendiri kala dikonfirmasi hanya menjawab singkat dengan membenarkan dirinya akan diganti oleh Komisaris Utamanya.  “Saya dipecat, bukan mundur,” ucapnya.

Namun dalam rilis resminya kepada para pilot yang dikabarkan menyiapkan aksi mogok karena simpati dengan nasib dirinya Jhony meminta para penerbang membatalkan aksi mogok karena bsia berakibat  berakibat fatal bagi perusahaan maupun orang banyak.

“Saya memohon, dan saya menghimbau, sebagai sesama penerbang maupun sebagai direktur Utama di perusahaan ini, jangan melakukan tindakan tindakan yang kontra produktif. Saya pribadi, menganggap bahwa pergantian direksi adalah sesuatu yang alami, dan jangan dijadikan dasar untuk melakukan hal hal yang nantinya bisa berakibat fatal,” tulis Jhony.

Sayangnya, Deputi Bidang Infrastruktur dan Logistik KBUMN Sumaryanto Widayatin tak bisa dikonfirmasi terkait pergantian direksi Merpati. Pesan singkat yang dikirimkan tak berbalas.

Kabar beredar mengatakan, tegangnya hubungan Jhony dengan Sumaryanto dan Rudi menjadi pemicu pergantian ini.[dni]

Telkom Bidik Omset Anak Usaha di Bidang IME Capai Rp 7,15 triliun

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menargetkan anak-anak usaha yang bergerak di bidang Information (IT Services) , Media, dan Edutainment (IME) bisa meraih omset sekitar 7,15 triliun rupiah pada akhir 2012 atau tumbuh 30 persen dibandingkan 2011 yang sebesar 5,5 triliun rupiah.

 

“Pada tahun lalu bisnis IME berkontribusi sekitar 9 persen bagi total omset perseroan. Kita optimistis anak-anak usaha di bidang IME itu bisa mencapai target, karena tahun lalu tumbuh di atas rata-rata industri,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Selasa (8/5).

 

Berdasarkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2012, Telkom memasang target pendapatan  sebesar Rp 76,4 triliun. Sedangkan pada 2011, perseroan   mencatat pertumbuhan realisasi pendapatan sebesar 3,8 persen menjadi Rp 71,25 triliun.

 

Diungkapkannya, anak-anak usaha yang bergerak di bidang IME adalah Telkom Sigma, Finnet, Ad Medika, Infomedia, Melon Music, Telkom Vision, Metrasat, dan Plasa.com. “Kami mengalokasikan investasi sekitar  3,285 – 4,285 triliun rupiah. Sekitar 285 miliar rupiah dialokasikan untuk mengembangkan konten, aplikasi, dan  membangun 50 ribu titik WiFi. Sementara tiga hingga empat triliun rupiah untuk memodernisasi kabel dan infrastruktur,” ungkapnya.

 

Direktur IT Solution and Strategic Indra Utoyo posisi yang ada sekarang bisnis IME belum bisa menggantikan kontribusi jasa telekomunikasi atau memberikan akses, terutama seluler bagi total omset Telkom grup.

 

“Namun  jika melihat dari sisi pertumbuhan, bisnis IME pada 2011 tumbuh 80%, internet 34%, fixed line turun 8%, dan seluler hanya 7%. Bisnis IME itu memberikan nilai sinergi yang tinggi bagi Telkom grup. Misalnya, Telkom Sigma, dari solusi IT Services-nya bisa memberikan multiplier effect hingga 6 kali bagi bisnis akses,” jelasnya.

 

Dijelaskan Indra, untuk mengakselerasi bisnis IME, Telkom menerapkan strategi invention dan investasi, partnership, Intergrated dengan akuisisi, atau membentuk perusahaan patungan. “Kami juga melakukan pendekatan ekosistem secara grup dimana setiap anak-anak usaha harus paham dan mengerti tugas dan porsinya dalam mengembangkan IME agar tidak terjadi saling tindih dalam berbisnis,” katanya.

 

Rinaldi menambahkan, dari sisi infrastruktur juga akan digeber pembangunan serat optik sebagai tulang punggung untuk akses broadband agar konten yang dihasilkan bisnis IME bisa dinikmati dengan nyaman.

 

“Kami sedang melakukan pelelangan proyek Palapa Ring tahap II. Satu atau dua bulan ke depan akan dilakukan e-auction. Paket pengerjaannya bisa satu atau dua. Salah satu pesertanya yang dulu mengerjakan Palapa Ring I, Huawei Marine,” ungkapnya.

 

Berdasarkan catatan, proyek Palapa Ring tahap II  diperkirakan akan menelan investasi sekitar 2,4 triliun rupiah dengan panjang serat optic sekitar 5.300 km. Rute yang akan dilalui adalah Menado, Ternate, Halmahera, Ambon, Fak-fak, Timika, hingga Sorong. Sedangkan Palapa Ring Tahap I telah selesai dibangun  dengan nama proyek Mataram-Kupang Cable System (MKCS)  sepanjang 1.041 km yang menelan biaya sekitar 600 miliar rupiah.

 

Isu Akuisisi

 

Indra mengatakan, dalam mengembangkan backbone dan last mile berbasis serat optic, perseroan menerapkan dua strategi. Pertama, tukar guling kabel tembaga dengan serat optic seperti yang dilakukan sejak tahun lalu dengan PT Inti, atau membeli serat optic baru.

 

Kala ditanya tentang rencana akuisisi perseroan terhadap operator kabe laut,   Pacnet Ltd, Indra enggan berkomentar lebih jauh. “Saya tidak tahu isu itu dan baru mendengar dari Anda,” kilahnya.

 

Sebelumnya, seperti diberitakan Reuters, Telkom diisukan memasukkan proposal untuk mengambil sebagian saham Pacnet dengan nilai satu miliar dollar AS termasuk hutang dari operator itu.

 

Dikabarkan, transaksi akan selesai pada  akhir kuartal kedua 2012.  Pacnet diinformasikan telah menunjuk  Credit Suisse dan  Goldman Sachs untuk konsultan penjualan. Isu Pacnet akan dijual sebenarnya telah beredar di pasar global sejak November 2011. Perusahaan ini memiliki equity value  sekitar 600 juta dollar AS, hutang sekitar 300 juta dollar AS, dan uang kas 100 juta dollar AS.

 

Pada 2011, Pacnet mencatat omset  528.6 juta dollar AS atau naik  4.4  persen dibandingkan 2010.  Saham Telkom sendiri pada Selasa (8/5) diperdagangkan di kisaran terendah 8.200, dan tertinggi 8.400 rupiah, sejak isu ini beredar Selasa (8/5) pagi.[dni]

Emiten Transportasi Tunda Aksi Korporasi

JAKARTA–PT Trada Maritime Tbk (TRAM) menunda dua aksi korporasi yang telah dirancang sejak tahun lalu karena ingin lebih fokus kepada rekonsiliasi internal organisasi dan penyelesaian ganti rugi satu kapal jenis Floating Storage & Offloading (FSO) yang terbakar pada akhir September 2011.

Dua aksi korporasi yang ditunda adalah rencana penerbitan saham baru (rights issue) yang sebelumnya akan  mendukung kebutuhan pendanaan ekspansi perseroan tahun ini dan  rencana akuisisi tambang batubara di Kalimantan.

“Aksi korporasi terpaksa ditunda dulu karena terbakarnya kapal FSO dengan nama Lentera Bangsa secara signifikan menganggu hubungan perseroan dengan perbankan. Jadi, kami lebih ingin fokus memperbaiki kembali hubungan dengan perbankan dan menyelesaikan masalah kapal yang terbakar itu,” ungkap Direktur Utama Trada Maritime, Danny Sihanouk de Mita di Jakarta, Rabu (9/5).

Dijelaskannya, kapal Lentera Bangsa harus diselesaikan masalah ganti ruginya karena menyangkut pinjaman dari perbankan untuk membeli armada tersebut yakni sebesar 50 juta dollar AS. “Kami sudah memiliki perusahaan asuransi dari Inggris, London yakni QBE untuk mengurus masalah ganti rugi. Kita harapkan akhir Juni 2012 proses pemindahan kapal dari Merak selesai sehingga bisa ditaksir kerugian,” jelasnya.

Menurutnya, jika pun masalah dengan asuransi bisa diselesaikan pada Juni nanti, potensi aksi korporasi yang bisa direalisasikan adalah mengakuisisi tambang batu bara di Kalimantan tersebut. “Tetapi kami tidak mau berandai-andai. Kita memang akan sangat fokus pada masalah Lentera Bangsa dulu,” katanya.

Ditegaskannya, walau satu kapal FSO terbakar, namun ada penggantinya jenis Panamax dengan nama Aquarius yang mendapatkan kontrak dari perusahaan asing, TORM, untuk mengangkut gas cair (LNG). “Kapal itu dibeli seharga 30 juta dollar AS. Lentera Bangsa biasanya berkontribusi sebesar 25 persen bagi total omset perseroan tetapi Aquarius dengan mengangkut LNG bisa menutupi potensi kerugian dari Lentera Bangsa itu,” katanya.

Dia optimistis, walau keadaan lumayan berat bagi perseroan dengan kehilangan satu kapal, namun tidak akan memberikan pengaruh bagi kinerja laba bersih yang diperediksi nominalnya sama dengan tahun lalu. Pada 2011, perseroan membukukan laba bersih sebesar 118 miliar rupiah.

“Kami memutuskan tidak membagi dividen pada tahun ini karena sebanyak 20 persen dari laba bersih akan dicadangkan sebagai laba ditahan 20 persen, sisanya untuk modal kerja dan investasi,” katanya.

Dikatakannya, perseroan pada tahun ini menganggarkan belanja modal sebesar 50 juta dollar AS  untuk peremajaan kapal, pengembangan segmen bisnis baru yaitu pengangkutan LNG serta mengembangkan lini bisnis yang sudah ada

Sumber dana untuk pengadaan belanja modal  akan diambilkan dari gabungan kas internal dan eksternal yaitu pinjaman perbankan.

“Komposisinya sekitar 70 persen dari kas internal dan 30 persen dari eksternal yaitu pinjaman bank. Hingga triwulan I 2012, perseroan telah menyerap dana hingga US$30 juta yang digunakan untuk pengembangan segmen bisnis baru yaitu pengangkutan LNG,” ujarnya.[dni]

Dua Emiten Telekomunikasi Bukukan Kinerja Suram di Kuartal I-2012

JAKARTA–Dua emiten telekomunikasi membukukan kinerja yang suram selama kuartal
pertama 2012. Kedua emiten tersebut adalah PT Sarana Menara Nusantara Tbk
(TOWR) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

Sarana Menara  membukukan laba bersih  75,187 miliar rupiah pada periode
kuartal I-2012 atau anjlok 50,3% dibandingkan periode sama tahun lalu yang
mencapai 151,255 miliar rupiah.

Dalam laporan keuangan sarana Menara ke otoritas bursa dirilis Senin (7/5)
terungkap,  keuntungan merosot meskipun di kuartal pertama tahun ini perusahaan
mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 30,4% dari 369.047 miliar rupiah pada
kuartal pertama 2011 menjadi  481,504 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Laba kotor Perseroan pun masih tercatat naik sebesar 34 persen menjadi  319,804
miliar rupiah, meskipun beban pokok juga melonjak hingga 42 persen.
Bottom line Sarana Menara digerus oleh  kerugian akibat selisih kurs.

Di kuartal pertama tahun ini, rugi selisih kurs mencapai  55 miliar rupiah
dibanding periode sama 2011  yang mencatatkan laba kurs  132 miliar rupiah.
Kerugian kurs tersebut berasal dari pinjaman perusahaan kepada Stewat island
investment Pte.Ltd., dan pinjaman fasilitas lainnya.

Merosotnya keuntungan Sarana Menara menjadikan  laba bersih per saham dasar
atau earning per share (EPS)  juga tergerus dari semula  148 rupiah per saham
di triwulan pertama 2011, menjadi  74 rupiah per saham di triwulan 2012.
Namun, kinerja yang suram tidak menjadikan saham Sarana Menara tidak bersinar.
Saham Sarana menara pada perdagangan Senin (7/5) ditutup 14.900 rupiah dan
sempat mencapai 15 ribu rupiah.

FREN
Sementara itu, Smartfren melanjutkan kinerja buruk yang diperoleh pada akhir
2011, dimana mengalami kerugian bersih sebesar 533.430 miliar rupiah pada
kuartal pertama 2012 atau naik 89 persen dibandingkan periode sama 2011 sebesar
281.0477 miliar rupiah.

Kerugian yang dialami Smartfren salah satunya karena beban usaha mengalami
kenaikan sebesar 17 persen dari 629.679 miliar rupiah pada kuartal pertama 2011
menjadi 739.139 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Namun, Smartfren masih mampu mempertahankan kinerja yang positif untuk omset
dimana terjadi kenaikan 48 persen yakni 210 688 miliar rupiah pada kuartal
pertama 2011 menjadi 312.093 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Kinerja Smartfren ini meleset dari perkiraan banyak analis pada awal tahun ini
dimana diperkirakan mulai cerah  karena sukses menggelar rights issue awal
2012.

Kala itu diprediksi keuntungan Smartfren mencapai 80 miliar rupiah  didukung
penjualan perusahaan yang meningkat 20% dibanding tahun lalu.Saham Smartfren
pun belum terangkat secara signifikan walaupun rumor tentang kepemilikan
frekuensi yang besar coba diapungkan. Saham Smartfren ditutup pada perdagangan
Senin (7/5) 101 rupiah dan sempat mencapai 104 rupiah.[dni]

XL Siapkan US$ 20 juta Kembangkan Bisnis Non Seluler

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) menyiapkan dana sebesar 20 juta dollar AS atau sekitar 1,8 triliun rupiah untuk mengembangkan bisnis diluar jasa seluler.

“Sekitar 22,5 persen dari total belanja modal 8 triliun rupiah dialokasikan untuk pengembangan bisnis diluar seluler atau yang dikenal dengan New Wave,” ungkap Direktur Teknology, Content, & New Business XL Dian Siswarini di Jakarta, Kamis (10/5).

New wave adalah bisnis baru di industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi tetapi beralih kepada konten, portal, media, dan solusi teknologi informasi dimana infrastruktur telekomunikasi dijadikan sebagai tulang punggungnya.  Jasa yang dijual XL untuk New Wave adalah mobile payment, machine to machine, cloud computing, dan mobile commerce.

“Alokasi dana banyak terserap untuk mengemmbangkan platform di jasa new wave. Kami belum menargetkan omset yang besar dari bisnis new wave karena baru mulai membangunnya pada tahun ini. Jika pun ada rencana perolehan omset pada tahun ini diperkirakan sekitar satu triliun rupiah atau hanya 4,7 persen dari total target omset keseluruhan sebesar 21 triliun rupiah,” jelasnya.

Rencana
Lebih lanjut Dian mengungkapkan, perseroan telah memiliki beberapa rencana untuk mengembangkan bisnis new wave agar mampu menopang penurunan di jasa seluler atau suara dan SMS. “Kami sudah meluncurkan layanan cloud computing hari ini. Menyusul mPayement akhir bulan ini. Sedangkan untuk Machine to machine pada Juni 2012, dan mobile commerce di akhir tahun nanti,” ungkapnya.

General Manager Cloud and Marketing Machine Technology XL  Arkav Juliandri mengungkapkan, perseroan menanamkan investasi satu juta dollar AS atau sekitar 9 miliar rupiah untuk mengembangkan cloud computing dengan merek dagang  XCloud.

“Kami hanya investasi di supporting platform dan web channel. Misalnya tenaga penjual, customer service, dan pemasaran. Sementara untuk masalah infrastruktur seperti data center dan lainnya, ada mitra yang diajak bekerjasama, “ ungkapnya.

Diungkapkannya, untuk merealisasikan XCloud, XL bekerjasama dengan 6 mitra bisnis. Mereka adalah Huawei, Fujitsu, IBM, Intratech, Mandawani, dan Microsoft. Saat ini solusi yang ditawarkan oleh XCloud memiliki fokus pada area Public Infrastructure as a Services (IaaS). Pada jenis layanan ini, XL menyiapkan layanan hosting, penyimpanan data, serta server melalui jaringan publik internet. Selain itu, XCloud juga siap menyediakan layanan Software as a Services (SaaS) bagi produk Microsoft Office 365, yang merupakan produk baru dari Microsoft.

“Kami membidik sekitar 200 dari 2000 perusahaan yang telah menjadi pelanggan enterprise XL mau berlangganan jasa XCloud. Kita optimistis pada tahun depan XCloud bisa menghasilkan omset sekitar 5-6 juta dollar AS,” ujarnya.

Vice President Enterprise and Community XL Axiata Titus Dondi mengungkapkan, selain segmen korporasi, XCloud juga akan menggarap pasar Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan komunitas. “Kami percaya bisa kompetitif karena untuk menyediakan layanan Cloud Computing lebih efisien dari sisi operasional sehingga tarif yang ditawarkan bisa lebih terjangkau,” katanya.

Pengamat Telematika dari Swiss German University Charles Lim  mengungkapkan, bisnis cloud computing sebenarnya sudah lama ada tetapi banyak pihak tidak menyadari hal itu sudah digunakan. Masuknya operator telekomunikasi ke bisnis tersebut, menjadikan kian mendesak adanya  badan regulasi untuk cloud computing di Indonesia yang bisa mengatur standarisasi aspek bisnis, regulasi, teknis, dan keamanan data.

“Pemerintah bisa meniru badan sejenis di Amerika Serikat, Eropa, atau Korea Selatan,” katanya.[dni]

Dua Distributor Telekomunikasi Catat Kinerja Positif Kuartal I-2012

JAKARTA—Dua emiten distributor perangkat dan vocher telekomunikasi mencatat kinerja yang positif selama kuartal pertama 2012. Kedua emiten tersebut adalah PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dan PT PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk (TELE).

Erajaya membukukan laba bersih selama kuartal pertama 2012 sebesar 79.716  miliar rupiah atau naik 40,7 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 56.622 miliar rupiah. Sementara omsetnya melesat jauh yakni sekitar 220 persen dari 989.263 miliar rupiah pada kuartal pertama 2011 menjadi 3.172 triliun rupiah di kuartal pertama 2012.

Kinerja Erajaya yang kinclong tak bisa dilepaskan dari selesainya perseroan mengakuisisi PT Teletama Artha Mandiri (TAM) senilai 736,3 miliar rupiah pada tahun lalu. Saat ini Teletama memiliki 18 cabang distribusi dan mengelola 18 BlackBerry Expert Centres di Indonesia. Teletama dikenal sebagai distributor BlackBerry, Sony, Samsung, dan Venera. Teletama  diperkirakan akan menyumbang kontribusi omset lebih dari 50% bagi perseroan pada 2012.

Saham Erajaya pada perdagangan Senin (7/5) ditutup di 1.690 rupiah dan sempat menyentuh angka 1.730 rupiah.

TELE
Sementara Tiphone membukukan laba bersih naik tipis sebesar 6,9 persen dari 36.528 miliar rupiah pada kuartal pertama 2011 menjadi 39.083 miliar rupiah pada kuartal pertama 2012. Omset TiPhone juga hanya tumbuh 16,5 persen dair 1.396 triliun rupiah di kuartal pertama 2011 menjadi 1.627 triliun rupiah di kuartal pertama 2012.

Naik tipisnya laba bersih emiten yang dikabarkan tengah dibidik sahamnya oleh Samsung dan Research In Motion (RIM) karena beban usaha melonjak 27 persen dari 31.231 miliar rupiah pad kuartal pertama 2011 menjadi 39.934 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Aksi korporasi TiPhone terdekat  segera menuntaskan akuisisi atas perusahaan distributor produk Apple Inc terbesar di Indonesia semester pertama 2012. Nilai aksi korporasi ini diperkirakan mencapai  40 juta dollar AS.

Rencananya TiPhone menggunakan kas internal untuk aksi korporasi ini. Setelah akuisisi selesai, TiPhone akan menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan distributor Apple tersebut.

Setelah akuisisi distributor Apple,  TiPhone membidik dua perusahaan yang bergerak di bidang distribusi voucher dan ritel. Kemungkinan besar akuisisi ini dilakukan pada semester kedua 2012.

Saat ini pendapatan terbesar TiPhone berasal dari pemasaran voucher telepon seluler. Dari keseluruhan penjualan, voucher Telkomsel menempati proporsi terbesar, 70 persen. Sebanyak 20 persen merupakan voucher dari konten dan TiPhone.

Saham TiPhone sejak beredar isu akan diakuisisi oleh dua perusahaan asing terus naik. Pada perdagangan Senin (7/5) ditutup 390 rupiah dan sempat menyentuh 400 rupiah.[dni]