010510 RI – Rusia Sepakati Penerbangan Berjadwal Langsung

JAKARTA–Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Rusia menyepakati  draft Air Service Agreement (ASA) sebagai isi perjanjian induk antara kedua negara di   bidang angkutan udara dan pengaturan pelaksanaan penerbangan berjadwal yang dituangkan dalam Record of Discussion.

“Telah dicapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Diharapkan Perjanjian Angkutan Udara (Air Service Agreement) segera ditandatangani oleh kedua negara dalam waktu dekat,” ungkap Ketua Delegasi Pemerintah Indonesia yang juga  Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Tri S Sunoko melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (30/4).

Dijelaskannya, tercapainya kesepakatan  membuat penerbangan langsung Moscow – Denpasar yang selama ini dilakukan perusahaan penerbangan Rusia, Transaero secara charter 2 kali seminggu dapat dilakukan dengan penerbangan berjadwal tetap.

Sementara perusahaan penerbangan negara Rusia, Aeroflot yang akan melakukan kerjasama code sharing dengan  Garuda Indonesia  juga  merencanakan akan menerbangi rute Moscow-Denpasar 1 kali seminggu mulai Desember 2010 ini.

“Sedangkan dalam hal pengaturan designation airlines, kedua belah pihak sepakat menganut prinsip multi designated airlines,” katanya.

Dikatannya, dalam pengaturan frekuensi dan  kapasitas, perusahaan penerbangan yang ditunjuk dari masing-masing pihak dapat melaksanakan penerbangan langsung dengan frekuensi 14 kali per minggu. Untuk pengaturan Rute penerbangan, kota tujuan yang ditetapkan dalam route schedule adalah  di Indonesia yaitu  Jakarta, Denpasar, Solo dan Manado serta kota di Rusia yaitu Moscow, Vladivostok, St. Petersburg dan Novosibirsk.

Kedua negara juga  menyepakati perusahaan-perusaha an penerbangan masing-masing negara yang ditunjuk (designated airlines) dapat melaksanakan hak angkut kelima secara bekerjasama (

codeshare) dengan perusahaan negara mitra antara any intermediate points ke point distinasi sesuai Route Schedule dengan ketentuan perusahaan penerbangan negara mitra hanya berlaku sebagai marketing carrier.

Selanjutnya diungkapkan, di bidang penerbangan kargo disepakati dapat dilaksanakan oleh perusahaan angkutan udara dari masing-masing pihak frekuensi penerbangan kargo dilaksanakan sebanyak 3 kali seminggu ke atau dari point yang telah ditentukan dalam rute schedule.

Perundingan hubungan udara tersebut juga menyepakati bahwa perusahaan penerbangan masing-masing negara yang ditunjuk (

designated airlines) dapat melaksanakan hak angkut kelima secara bekerjasama (codeshare) dengan perusahaan negara mitra antara any intermediate points ke point distinasi sesuai Route Schedule dengan ketentuan perusahaan penerbangan negara mitra hanya berlaku sebagai marketing carrier.

Perundingan Hubungan Udara tersebut juga mengatur tentang Co-terminalisasi yaitu masing-masing negara dapat melaksanakan hak co-terminalisasi sekaligus hak own stop-over pada point yang ditentukan dalam Route Schedule serta Aircraft Leasing yaitu masing-masing pihak dapat melakukan sewa pesawat dengan tetap mengacu pada ketentuan Artikel 6 (Aviation Security) dan Artikel 7 (Aviation Safety).

Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia, DR. Hamid Awaluddin menilai,   adanya penerbangan langsung Indonesia – Rusia,  membuat  hubungan dagang dan pariwisata kedua negara akan semakin meningkat.

Disampaikan Dubes bahwa hubungan bilateral Indonesia – Rusia secara umum berjalan positif dan dalam tiga tahun terakhir (2007-2009) menunjukkan peningkatan yang siginifikan, baik dalam kerjasama bilateral, regional maupun internasional. Dubes Indonesia untuk Rusia tersebut sangat berharap kiranya penerbangan langsung Moscow – Denpasar dapat meningkatkan jumlah wisatawan Rusia ke Indonesia karena Denpasar merupakan tujuan yang sangat potensial untuk dipasarkan bahwa masyarakat Rusia.

Menurut data Kedubes Indonesia, turis Rusia yang melakukan perjalanan keluar negeri hampir berjumlah 30 juta orang, sebagai contoh turis tujuan Mesir 2,7 juta dan tujuan Thailand 300.000 orang. Pilihan kota Vladivostok, St. Petersburg dan Novosibirsk selain Moscow juga dinilai tepat karena St. Peterburg dan Vladivostok merupakan kota besar yang telah berkembang di Rusia, sementara Novosibirsk yang terletak di Siberia diperkirakan akan berkembang pesat dalam 4-5 tahun mendatang sejalan dengan program pembangunan Pemerintah Rusia yang mengembangkan Novosibirsk sebagai kota industri.
Berdasarkan data Bandara Ngurah Rai Bali, penerbangan charter Moscow-Denpasar oleh Transaero (perusahaan penerbangan swasta Rusia) dilakukan 2 kali seminggu dan selama tahun 2009 telah dilakukan 104 kali penerbangan dengan jumlah penumpang datang 28.351 dan berangkat 27.593 serta yang diangkut ke Moscow berjumlah 31.332 kg.[Dni]

010510 Telkom Kaji Obligasi Dipecah Dua

JAKARTA– PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengaji penerbitan obligasi senilai tiga triliun rupiah  pada 24 Juni 2010 dibagi atas dua nominal sesuai kebutuhan perseroan.

“Kami sedang mengaji obligasi itu dipecah dua. Bisa masing-masing 1,5 triliun rupiah atau komposisinya berubah. Untuk tenornya 5 hingga 10 tahun. Sedangkan nilai kupon masih dikaji,” ungkap Direktur. Keuangan Telkom Sudiro Asno di Jakarta, Jumat (30/4).

Dijelaskannya, tujuan dari penerbitan obligasi adalah multi tujuan, bisa untuk pemenuhan belanja modal atau pembayaran hutang (refinancing). “Tidak ada dilokasikan secara khusus. Satu hal yang pasti obligasi ini di-rating Pefindo AAA,” katanya.

Selain rencana penerbitan obligasi, Sudiro mengungkapkan, perseroan juga memiliki standby loan dari tiga bank domestik senilai 3 triliun rupiah. “Dua bank pemerintah dan satu bank swasta,” katanya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menambahkan, anak usaha di jasa seluler, Telkomsel, juga sedang menjajaki pinjaman dari perbankan domestik senilai tiga triliun rupiah. “Pinjaman itu digunakan untuk memenuhi belanja modal dan membayar hutangnya,” katanya.

Kinerja Kuartal I
Berkaitan dengan kinerja dari kuartal I 2010, Rinaldi mengungkapkan perseroan berhasil  mencatat laba bersih 2,8 triliun rupiah atau  tumbuh 13 persen dari kuartal I 2009 sebesar 2,5 triliun rupiah.

“Kinerja kuartal I 2010 mengindikasikan pertumbuhan yang menggembirakan sebesar dua digit,” katanya.

Sudiro menambahkan, laba bisa melonjak selain ditunjang pertumbuhan pendapatan usaha, juga karena adanya keuntungan dari kurs. “Tahun lalu kita rugi sekitar 200 miliar rupiah. Periode ini kita untung dari kurs 164 miliar rupiah,” jelasnya.

Sedangkan untuk pendapatan usaha, pada kuartal I 2010 tercatat sebesar 16,6 triliun, naik 6,25 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar 15,6 triliun rupiah.

Pertumbuhan pendapatan usaha  dipicu peningkatan pada pendapatan data, internet, dan teknologi informasi yang mencapai 24,7 persen atau sebesar  5 triliun rupiah.

Dengan pencapaian ini, maka kontribusi pendapatan data, internet dan teknologi informasi terhadap total pendapatan operasi mencapai 30,1 persen, meningkat dari periode sama 2009 sebesar 25,7 persen.

Menurut Rinaldi, pertumbuhan pendapatan data, internet dan teknologi sebesar 45,9 persen disebabkan peningkatan yang signifikan atas jumlah pelanggan dan user layanan pita lebar yang fixed maupun begerak, yaitu Speedy dan Flash masing-masing 79 persen dan 60 persen. Di samping pendapatan internet, pendapatan SMS juga tumbuh sebesar 11,5 persen.

“Pertumbuhan pada pendapatan data, internet, dan teknologi informasi mencerminkan strategi perusahaan dalam menumbuhkan bisnis baru (new wave) semakin menunjukkan hasil yang terus meningkat,” tegas Rinaldi.

Sementara itu, pendapatan layanan seluler tumbuh tiga persen menjadi 6,7 triliun rupiah dari periode sama tahun lalu sebesar 6,5 triliun. Ini membuat jasa seluler berkontribusi 40 persen bagi total pendapatan.

Adapun pelanggan telepon tetap nirkabel (flexi) mencapai 15,9 juta nomor tumbuh 19 persen dari tahun sebelumnya.

Peningkatan pelanggan Flexi didorong penambahan jumlah BTS (Base Transceiver/BTS) yang berjumlah 5.543 unit pada Maret 2010, saat yang sama BTS seluler mencapai 32.243 unit. Dengan begitu total BTS Telkom Grup mencapai 37.789 unit.

Sementara pada pos Ebitda pada triwulan I 2010 mencapai 9 triliun rupiah atau  tumbuh 5,5 persen dari periode sama 2009 sebesar 8,6 triliun rupiah dengan margin sebesar 54,5 persen.

Dari sisi beban operasi, tumbuh 9,1 persen dari 10,3 triliun rupiah  menjadi 11,3 triliun rupiah.

Pertumbuhan total beban disebabkan beban operasi dan pemeliharaan sebesar 14,6 persen menjadi 4 triliun rupiah  dan beban depresiasi sebesar 13,2 persen menjadi 3,4 triliun rupiah.

“Pertunbuhan beban operasi dan pemerliharaan terutama pertumbuhan infrastruktur jaringan, antara lain BTS yang mempengarui biaya-biaya terkait, seperti listrik, biaya hak penyelenggaraan dan biaya pemakaian frekuensi radio.” kata Rinaldi.

Sedangkan untuk anak usaha lainnya, Rinaldi mengungkapkan, juga menunjukkan kinerja yang positif seperti Metra yang tumbuh 34 persen atau mencapai 200 miliar rupiah dan Sigma Cipta Caraka yang mendapatkan pendapatan 100 miliar rupiah.

“Prediksi kami pada kuartal kedua akan semakin baik kinerja dari Telkom. Tetapi kita juga harus lihat kompetisi secara keseluruhan,” katanya.[Dni]

300410 XL Pertahankan Pertumbuhan Pendapatan Dobel Digit

JAKARTA–PT XL Axiata Tbk (XL) berhasil mempertahankan pertumbuhan pendapatannya dikisaran dobel digit pada kuartal pertama 2010 berkat strategi perseroan yang fokus menggarap produktifitas pelanggan.

“Strategi yang kami kembangkan berhasil berbuah positif. Kami tetap tumbuh di atas rata-rata industri,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (29/4).

Diungkapkannya, pada kuartal pertama 2010 pendapatan usaha diperoleh sebesar  4,2 triliun rupiah atau naik 42 persen dibandingkan periode sama tahun lalu senilai 2,9 triliun rupiah.

Sementara  Earning Before Interest Depreciation Amortization (EBITDA) pada kuartal I 2010  sebesar  2,1 triliun rupiah atau naik  92 persen dibandingkan periode sama tahun lalu senilai 1,1 triliun rupiah.

Sedangkan EBITDA marjin pada periode kuartal I 2010  sebesar 51 persen, naik dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 38 persen.

Terakhir, laba bersih pada periode kuartal I 2010  sebesar 598 miliar rupiah. Dibandingkan pada  kuartal pertama 2009, perseroan  membukukan rugi bersih  306 miliar rupiah. Rugi bersih pada periode itu disebabkan rugi kurs perusahaan yang mencapai 643 miliar rupiah.

Berkaitan dengan jumlah  pelanggan yang diraih pada kuartal pertama, Hasnul mengungkapkan, berhasil diraih sebanyak 32,6 juta pelanggan atau naik 31 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Sementara itu, jumlah pelanggan RGB (Revenue Generating Base) mengalami peningkatan 5 persen  dengan jumlah total pelanggan RGB pada kuartal pertama 2010  sebesar 32,9 juta dibandingkan dengan jumlah pelanggan RGB pada akhir tahun 2009 sebesar 31,4 juta.

Total pelanggan adalah pengguna yang memakai layanan XL selama 25 hari terakhir sejak masa aktif, sedangkan RGB adalah pelanggan yang dihitung aktif hingga 30 hari.

Diungkapkannya, pada kuartal pertama 2010  penggunaan outgoing minutes pada kuartal pertama mencapai 23,3 miliar menit, sementara SMS meningkat sebanyak  32,2 miliar SMS.

Peningkatan penggunaan ini pada kuartal pertama 2010  mendorong pertumbuhan ARPU sebesar 21 persen dibandingkan periode sama tahun lalu menjadi 35 ribu rupiah.

Selanjutnya Hasnul mengatakan, pendapatan dari data meningkat 349  dibanding kuartal pertama 2009 dan memberikan kontribusi sebesar 7 persen  terhadap total pendapatan usaha di periode kuartal I 2010.

“Untuk lebih meningkatkan penggunaan data, tahun ini XL mengalokasikan 25 dari belanja modal sebesar 450 juta dollar AS untuk layanan data,” katanya.

Sebelumnya, pemain Indosat mengumumkan kinerja perseroan pada kuartal pertama 2010 dimana mencatat laba bersih sebesar 285,9 miliar rupiah atau naik 139,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Sayangnya, kenaikan laba bukan dipacu oleh pertumbuhan organik melainkan laba kurs dari perusahaan. Dari sisi pendapatan usaha Indosat hanya mencatat nilai 4,730,9 triliun rupiah atau tumbuh 2,5 persen dibandingkan periode lalu sebesar 4,616,9 triliun rupiah. Padahal jumlah pelanggan yang diraih mencapai 39,1 juta nomor alias naik 17,6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 33,3 juta nomor.[Dni]

300410 Kemenhub Percepat Pendidikan Pelaut

JAKARTA–Kementrian Perhubungan (Kemenhub) mempercepat pendidikan pelaut agar bisa menutupi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di industri pelayaran.

“Masa pendidikan diploma akan dikurangi. Bila sebelumnya pendidikan di akademi mencapai empat tahun, maka tahun ini akan jadi 2,5 tahun,” ungkap Sekretaris Direktur Jendral Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Bobby Mamahit  di Jakarta, Kamis (29/4).

Dijelaskannya, pengurangan waktu pendidikan ini dilakukan karena kebutuhan akan pelaut yang sangat besar. Indonesia membutuhkan ribuan  pelaut dengan posisi nakhoda, petugas dek dan teknisi kapal tahun ini.

Kebutuhan sangat besar tersebut tidak mungkin dipenuhi dalam waktu cepat bila pendidikan pelaut memakan waktu empat tahun.

“Kebutuhan pelaut di Indonesia masuk kategori emergency,” ujarnya.

Meski waktu pendidikan dikurangi, jelasnya, namun kualitas pendidikan tetap akan terjamin.

Kurikulum yang bakal dikurangi adalah pelajaran pendukung dari Depdiknas, sedangkan kurikulum yang dikeluarkan International Maritim Organization (IMO) tetap akan diberikan secara penuh.

Dalam kurikulum tersebut para taruna akan belajar teori selama satu setengah tahun, sedangkan satu tahun dipergunakan untuk praktik di kapal

Selanjutnya Bobby mengungkapkan, krisisnya penyediaan SDM pelaut menjadikan gaji perwira laut di Indonesia saat ini sudah mencapai 200 dollar AS per hari menyusul  penambahan armada niaga nasional dalam rangka asas cabotage.

Kepala Diklat Kementerian Perhubungan Dedi Darmawan menambahkan,  dunia kekurangan 84.000 perwira pelaut, sedangkan kekurangan Indonesia bisa mencapai 18.000 perwira pelaut, ini sejalan dengan penambahan 3.000 unit kapal berbagai jenis.

Dedi mengatakan selain memperpendek waktu pendidikan kementerian Perhubungan juga meningkatkan jumlah taruna hingga dua kali lipat.

“Tujuannya adalah mengejar kekurangan perwira pelaut baik kepentingan luar negeri perusahaan pelayaran domestik maupun luar negeri,” katanya.

Kontingensi
Berkaitan dengan hari Buruh yang jatuh pada 1 Mei nanti, Bobby menegaskan, Kemenhub telah menyiapkan rencana kontingensi di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara untuk mengatasi kemungkinan mogok massal.

Dijelaskannya, rencana kontigensi disiapkan oleh sejumlah pihak yang menangani keamanan pelabuhan terbesar di Indonesia itu.

Dikatakannya,   pihaknya bersama Kementerian BUMN telah sepakat agar keamanan di Pelabuhan Tanjung Priok ditingkatkan dengan melibatkan Kantor Utama Administratur Pelabuhan Tanjung Priok dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II.

“Kami bersama Adpel dan Pelindo II juga memperketat pengamanan selama aksi mogok,” ucapnya.

Namun, Bobby menyakini aksi mogok massal di Pelabuhan Tanjung Priok tidak akan terjadi karena International Transportworkers Federation (ITF) tidak mendukung aksi mogok di Hari Buruh.

Sebelumnya, Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu akan melakukan aksi mogok di sejumlah kota besar di Indonesia untuk memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2010.

Aksi itu dimaksudkan sebagai desakan kaum buruh kepada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera merumuskan sejumlah program peningkatan kesejahteraan buruh.

Sesuai rencana, aksi mogok nasional akan digelar secara serentak di berbagai kota besar seperti Medan, Jakarta, Pontianak, Semarang, Surabaya, Makassar, Batam dan Bandung.[Dni]

300410 PT KAI Minta Izin Kenaikan Tarif.

JAKARTA–PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI meminta pemerintah untuk
memberikan izin kenaikan tarif sebesar yang dibutuhkan guna menjaga kelangsungan operasional perseroan.

“Kenaikan diminta 50 persen  dimana  dilakukan secara  bertahap 12,5 persen  per semester selama empat semester mulai Juli 2010,” kata Vice President Public Relations PT KAI Adi Suryatmini di Jakarta, Kamis (29/4).

Ditegaskannya, meski ada
kenaikan bertahap tidak akan terasa membebani penumpang
kereta ekonomi.

“Mudah-mudahan bisa disetujui pemerintah, baik besarannya maupun waktu
awal mulai kenaikannya,” katanya.

Menurutnya, perseroan  tidak mempermasalahkan opsi akhir yang nantinya diambil pemerintah untuk menutupi kerugian operasional akibat mengemban tugas menjalankan kereta ekonomi dari pemerintah. Baik dengan cara mengizinkan kenaikan tarif maupun menambah besaran subsidi public service obligation (PSO) dari 535 miliar rupiah  yang setiap tahun
diberikan, menjadi 670 miliar rupiah untuk 2010.

“Kalau opsi tarif yang diambil, artinya dana pemerintah bisa digunakan untuk menambah kehandalan infrastruktur jaringan KA,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menyelesaikan survey kemampuan membayar (ability to pay) dan kemauan membayar (willingnes to pay) penumpang kereta api
kelas ekonomi.

Survey yang dimulai 17 Februari sampai 14 Maret 2010 terhadap 7.468 responden penumpang 30 kereta api antar kota dan 9 kereta api perkotaan di sembilan lintas menunjukkan responden memiliki kemampuan untuk membayar. Asalkan kenaikan tarif bisa menjamin meningkatnya
keamanan dan keselamatan kereta ekonomi.

Dalam waktu satu bulan ke depan, Direktorat yang dipimpin Tundjung
Inderawan tersebut akan menguji survey kemampuan membayar dengan kemauan membayar untuk dijadikan dasar berapa besar kenaikan tarif yang masih memungkinkan, atau berapa banyak dana PSO yang bisa
ditambah.

Berdasarkan catatan, dana PSO yang diberikan kepada PT KAI untuk 2009 terserap sebesar 96 persen.[Dni]

300410 Konsumsi Lubrikasi Meningkat 5%

JAKARTA–Konsumsi lubrikasi nasional pada 2010 diperkirakan mencapai 735 juta liter atau naik 5 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 700 juta  liter.

“Kenaikan dipicu membaiknya penjualan produk otomotif seperti mobil dan sepeda motor. Sektor ini setiap tahunnya penyumbang konsumsi terbesar di industri lubrikasi,” ungkap Director/GM Sales Indonesia, Lubricants Shell Indonesia Hardeep Singh di Jakarta, Kamis (29/4).

Diungkapkannya, walaupun ada segmen lain yang ikut mengonsumsi lubrikasi atau pelumas seperti manufaktur, tetapi frekuensinya tidak setinggi otomotif dimana setiap bulan selalu ada penjualan, khususnya untuk kendaraan pribadi.

“Laporan dari Gaikindo penjualan mobil kuartal pertama membaik. Itu sinyal bagi sektor pelumas ada kabar gembira,” jelasnya.

Diungkapkannya, perseroan juga semakin optimistis menggarap pasar Indonesia karena sejauh ini baru menguasai 8 hingga 10 persen pangsa pasar. “Kami memiliki target menguasai 25 persen pangsa pasar,” katanya.

Berkaitan dengan rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), Hardeep menegaskan, tidak memberikan pengaruh bagi produksi sektor lubrikasi. “Bagi kami jika harga minyak mentah berubah itu baru berpengaruh,” tegasnya.[Dni]

290410 Struktur TDL Harus Disederhanakan

JAKARTA–Struktur Tarif Dasar Listrik (TDL) harus disederhanakan agar subsidi yang diterapkan tepat sasaran.

“Di Indonesia struktur tarifnya terlalu rumit. Selain itu pihak yang disubsidi tidak tepat, akhirnya kaum kaya justru menikmati subsidi,” ungkap Anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo kepada Koran Jakarta, Rabu (28/4).

Dijelaskannya, di Indonesia struktur tarif TDL dibagi atas industri, residensial, dan sosial. “Untuk industri tidak ada subsidi yang berlaku harga keekonomian. Sementara di residensial terjadi kesalahan pemberian subsidi karena kaum kaya yang disubsidi. Sementara di segmen sosial banyak yang belum menikmati listrik,” katanya.

Hal ini berbeda dengan di luar negeri dimana segmen industri disubsidi karena ada dampak keekonomian berupa produktifitas, sementara untuk rumah tangga tidak ada subsidi karena dianggap meningkatkan konsumsi energi.

Berkaitan dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan TDL, Sudaryatmo menilai, untuk kelompok 450 VA besarannya terlalu tinggi, sedangkan untuk rumah tangga kelompok kaya kenaikan tidak masalah.

Diingatkannya, jika subsidi dikurangi maka harus ada jaminan segmen masyarakat yang belum menikmati listrik menggunakan energi itu. “Sebenarnya kenaikan ini bisa ditunda jika ada jaminan pasokan gas untuk pembangkit berbasis BBM terjamin. Jika itu tidak ada, kenaikan solusinya,” katanya.

Pada kesempatan lain, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, jika kenaikan TDL terjadi, maka Earning Before Interest Tax and Depreciation (EBITDA) operator bisa tertekan sebesar satu hingga dua persen.

“Biaya operasional BTS untuk energi lumayan besar. Tetapi ini tidak akan mempengaruhi tarif ke pelanggan karena kompetisi di telekomunikasi sudah ketat,” katanya.

Sarwoto meminta, jika TDL dinaikkan maka jaminan ketersediaan energi harus ada kontinuitas karena di beberapa area masih terjadi kelangkaan listrik. “Jangan tarif naik, tapi masih suka byar pett,” tandasnya.[Dni]