010510 RI – Rusia Sepakati Penerbangan Berjadwal Langsung

JAKARTA–Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Rusia menyepakati  draft Air Service Agreement (ASA) sebagai isi perjanjian induk antara kedua negara di   bidang angkutan udara dan pengaturan pelaksanaan penerbangan berjadwal yang dituangkan dalam Record of Discussion.

“Telah dicapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Diharapkan Perjanjian Angkutan Udara (Air Service Agreement) segera ditandatangani oleh kedua negara dalam waktu dekat,” ungkap Ketua Delegasi Pemerintah Indonesia yang juga  Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Tri S Sunoko melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (30/4).

Dijelaskannya, tercapainya kesepakatan  membuat penerbangan langsung Moscow – Denpasar yang selama ini dilakukan perusahaan penerbangan Rusia, Transaero secara charter 2 kali seminggu dapat dilakukan dengan penerbangan berjadwal tetap.

Sementara perusahaan penerbangan negara Rusia, Aeroflot yang akan melakukan kerjasama code sharing dengan  Garuda Indonesia  juga  merencanakan akan menerbangi rute Moscow-Denpasar 1 kali seminggu mulai Desember 2010 ini.

“Sedangkan dalam hal pengaturan designation airlines, kedua belah pihak sepakat menganut prinsip multi designated airlines,” katanya.

Dikatannya, dalam pengaturan frekuensi dan  kapasitas, perusahaan penerbangan yang ditunjuk dari masing-masing pihak dapat melaksanakan penerbangan langsung dengan frekuensi 14 kali per minggu. Untuk pengaturan Rute penerbangan, kota tujuan yang ditetapkan dalam route schedule adalah  di Indonesia yaitu  Jakarta, Denpasar, Solo dan Manado serta kota di Rusia yaitu Moscow, Vladivostok, St. Petersburg dan Novosibirsk.

Kedua negara juga  menyepakati perusahaan-perusaha an penerbangan masing-masing negara yang ditunjuk (designated airlines) dapat melaksanakan hak angkut kelima secara bekerjasama (

codeshare) dengan perusahaan negara mitra antara any intermediate points ke point distinasi sesuai Route Schedule dengan ketentuan perusahaan penerbangan negara mitra hanya berlaku sebagai marketing carrier.

Selanjutnya diungkapkan, di bidang penerbangan kargo disepakati dapat dilaksanakan oleh perusahaan angkutan udara dari masing-masing pihak frekuensi penerbangan kargo dilaksanakan sebanyak 3 kali seminggu ke atau dari point yang telah ditentukan dalam rute schedule.

Perundingan hubungan udara tersebut juga menyepakati bahwa perusahaan penerbangan masing-masing negara yang ditunjuk (

designated airlines) dapat melaksanakan hak angkut kelima secara bekerjasama (codeshare) dengan perusahaan negara mitra antara any intermediate points ke point distinasi sesuai Route Schedule dengan ketentuan perusahaan penerbangan negara mitra hanya berlaku sebagai marketing carrier.

Perundingan Hubungan Udara tersebut juga mengatur tentang Co-terminalisasi yaitu masing-masing negara dapat melaksanakan hak co-terminalisasi sekaligus hak own stop-over pada point yang ditentukan dalam Route Schedule serta Aircraft Leasing yaitu masing-masing pihak dapat melakukan sewa pesawat dengan tetap mengacu pada ketentuan Artikel 6 (Aviation Security) dan Artikel 7 (Aviation Safety).

Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia, DR. Hamid Awaluddin menilai,   adanya penerbangan langsung Indonesia – Rusia,  membuat  hubungan dagang dan pariwisata kedua negara akan semakin meningkat.

Disampaikan Dubes bahwa hubungan bilateral Indonesia – Rusia secara umum berjalan positif dan dalam tiga tahun terakhir (2007-2009) menunjukkan peningkatan yang siginifikan, baik dalam kerjasama bilateral, regional maupun internasional. Dubes Indonesia untuk Rusia tersebut sangat berharap kiranya penerbangan langsung Moscow – Denpasar dapat meningkatkan jumlah wisatawan Rusia ke Indonesia karena Denpasar merupakan tujuan yang sangat potensial untuk dipasarkan bahwa masyarakat Rusia.

Menurut data Kedubes Indonesia, turis Rusia yang melakukan perjalanan keluar negeri hampir berjumlah 30 juta orang, sebagai contoh turis tujuan Mesir 2,7 juta dan tujuan Thailand 300.000 orang. Pilihan kota Vladivostok, St. Petersburg dan Novosibirsk selain Moscow juga dinilai tepat karena St. Peterburg dan Vladivostok merupakan kota besar yang telah berkembang di Rusia, sementara Novosibirsk yang terletak di Siberia diperkirakan akan berkembang pesat dalam 4-5 tahun mendatang sejalan dengan program pembangunan Pemerintah Rusia yang mengembangkan Novosibirsk sebagai kota industri.
Berdasarkan data Bandara Ngurah Rai Bali, penerbangan charter Moscow-Denpasar oleh Transaero (perusahaan penerbangan swasta Rusia) dilakukan 2 kali seminggu dan selama tahun 2009 telah dilakukan 104 kali penerbangan dengan jumlah penumpang datang 28.351 dan berangkat 27.593 serta yang diangkut ke Moscow berjumlah 31.332 kg.[Dni]

010510 Telkom Kaji Obligasi Dipecah Dua

JAKARTA– PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengaji penerbitan obligasi senilai tiga triliun rupiah  pada 24 Juni 2010 dibagi atas dua nominal sesuai kebutuhan perseroan.

“Kami sedang mengaji obligasi itu dipecah dua. Bisa masing-masing 1,5 triliun rupiah atau komposisinya berubah. Untuk tenornya 5 hingga 10 tahun. Sedangkan nilai kupon masih dikaji,” ungkap Direktur. Keuangan Telkom Sudiro Asno di Jakarta, Jumat (30/4).

Dijelaskannya, tujuan dari penerbitan obligasi adalah multi tujuan, bisa untuk pemenuhan belanja modal atau pembayaran hutang (refinancing). “Tidak ada dilokasikan secara khusus. Satu hal yang pasti obligasi ini di-rating Pefindo AAA,” katanya.

Selain rencana penerbitan obligasi, Sudiro mengungkapkan, perseroan juga memiliki standby loan dari tiga bank domestik senilai 3 triliun rupiah. “Dua bank pemerintah dan satu bank swasta,” katanya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menambahkan, anak usaha di jasa seluler, Telkomsel, juga sedang menjajaki pinjaman dari perbankan domestik senilai tiga triliun rupiah. “Pinjaman itu digunakan untuk memenuhi belanja modal dan membayar hutangnya,” katanya.

Kinerja Kuartal I
Berkaitan dengan kinerja dari kuartal I 2010, Rinaldi mengungkapkan perseroan berhasil  mencatat laba bersih 2,8 triliun rupiah atau  tumbuh 13 persen dari kuartal I 2009 sebesar 2,5 triliun rupiah.

“Kinerja kuartal I 2010 mengindikasikan pertumbuhan yang menggembirakan sebesar dua digit,” katanya.

Sudiro menambahkan, laba bisa melonjak selain ditunjang pertumbuhan pendapatan usaha, juga karena adanya keuntungan dari kurs. “Tahun lalu kita rugi sekitar 200 miliar rupiah. Periode ini kita untung dari kurs 164 miliar rupiah,” jelasnya.

Sedangkan untuk pendapatan usaha, pada kuartal I 2010 tercatat sebesar 16,6 triliun, naik 6,25 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar 15,6 triliun rupiah.

Pertumbuhan pendapatan usaha  dipicu peningkatan pada pendapatan data, internet, dan teknologi informasi yang mencapai 24,7 persen atau sebesar  5 triliun rupiah.

Dengan pencapaian ini, maka kontribusi pendapatan data, internet dan teknologi informasi terhadap total pendapatan operasi mencapai 30,1 persen, meningkat dari periode sama 2009 sebesar 25,7 persen.

Menurut Rinaldi, pertumbuhan pendapatan data, internet dan teknologi sebesar 45,9 persen disebabkan peningkatan yang signifikan atas jumlah pelanggan dan user layanan pita lebar yang fixed maupun begerak, yaitu Speedy dan Flash masing-masing 79 persen dan 60 persen. Di samping pendapatan internet, pendapatan SMS juga tumbuh sebesar 11,5 persen.

“Pertumbuhan pada pendapatan data, internet, dan teknologi informasi mencerminkan strategi perusahaan dalam menumbuhkan bisnis baru (new wave) semakin menunjukkan hasil yang terus meningkat,” tegas Rinaldi.

Sementara itu, pendapatan layanan seluler tumbuh tiga persen menjadi 6,7 triliun rupiah dari periode sama tahun lalu sebesar 6,5 triliun. Ini membuat jasa seluler berkontribusi 40 persen bagi total pendapatan.

Adapun pelanggan telepon tetap nirkabel (flexi) mencapai 15,9 juta nomor tumbuh 19 persen dari tahun sebelumnya.

Peningkatan pelanggan Flexi didorong penambahan jumlah BTS (Base Transceiver/BTS) yang berjumlah 5.543 unit pada Maret 2010, saat yang sama BTS seluler mencapai 32.243 unit. Dengan begitu total BTS Telkom Grup mencapai 37.789 unit.

Sementara pada pos Ebitda pada triwulan I 2010 mencapai 9 triliun rupiah atau  tumbuh 5,5 persen dari periode sama 2009 sebesar 8,6 triliun rupiah dengan margin sebesar 54,5 persen.

Dari sisi beban operasi, tumbuh 9,1 persen dari 10,3 triliun rupiah  menjadi 11,3 triliun rupiah.

Pertumbuhan total beban disebabkan beban operasi dan pemeliharaan sebesar 14,6 persen menjadi 4 triliun rupiah  dan beban depresiasi sebesar 13,2 persen menjadi 3,4 triliun rupiah.

“Pertunbuhan beban operasi dan pemerliharaan terutama pertumbuhan infrastruktur jaringan, antara lain BTS yang mempengarui biaya-biaya terkait, seperti listrik, biaya hak penyelenggaraan dan biaya pemakaian frekuensi radio.” kata Rinaldi.

Sedangkan untuk anak usaha lainnya, Rinaldi mengungkapkan, juga menunjukkan kinerja yang positif seperti Metra yang tumbuh 34 persen atau mencapai 200 miliar rupiah dan Sigma Cipta Caraka yang mendapatkan pendapatan 100 miliar rupiah.

“Prediksi kami pada kuartal kedua akan semakin baik kinerja dari Telkom. Tetapi kita juga harus lihat kompetisi secara keseluruhan,” katanya.[Dni]

300410 XL Pertahankan Pertumbuhan Pendapatan Dobel Digit

JAKARTA–PT XL Axiata Tbk (XL) berhasil mempertahankan pertumbuhan pendapatannya dikisaran dobel digit pada kuartal pertama 2010 berkat strategi perseroan yang fokus menggarap produktifitas pelanggan.

“Strategi yang kami kembangkan berhasil berbuah positif. Kami tetap tumbuh di atas rata-rata industri,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (29/4).

Diungkapkannya, pada kuartal pertama 2010 pendapatan usaha diperoleh sebesar  4,2 triliun rupiah atau naik 42 persen dibandingkan periode sama tahun lalu senilai 2,9 triliun rupiah.

Sementara  Earning Before Interest Depreciation Amortization (EBITDA) pada kuartal I 2010  sebesar  2,1 triliun rupiah atau naik  92 persen dibandingkan periode sama tahun lalu senilai 1,1 triliun rupiah.

Sedangkan EBITDA marjin pada periode kuartal I 2010  sebesar 51 persen, naik dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 38 persen.

Terakhir, laba bersih pada periode kuartal I 2010  sebesar 598 miliar rupiah. Dibandingkan pada  kuartal pertama 2009, perseroan  membukukan rugi bersih  306 miliar rupiah. Rugi bersih pada periode itu disebabkan rugi kurs perusahaan yang mencapai 643 miliar rupiah.

Berkaitan dengan jumlah  pelanggan yang diraih pada kuartal pertama, Hasnul mengungkapkan, berhasil diraih sebanyak 32,6 juta pelanggan atau naik 31 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Sementara itu, jumlah pelanggan RGB (Revenue Generating Base) mengalami peningkatan 5 persen  dengan jumlah total pelanggan RGB pada kuartal pertama 2010  sebesar 32,9 juta dibandingkan dengan jumlah pelanggan RGB pada akhir tahun 2009 sebesar 31,4 juta.

Total pelanggan adalah pengguna yang memakai layanan XL selama 25 hari terakhir sejak masa aktif, sedangkan RGB adalah pelanggan yang dihitung aktif hingga 30 hari.

Diungkapkannya, pada kuartal pertama 2010  penggunaan outgoing minutes pada kuartal pertama mencapai 23,3 miliar menit, sementara SMS meningkat sebanyak  32,2 miliar SMS.

Peningkatan penggunaan ini pada kuartal pertama 2010  mendorong pertumbuhan ARPU sebesar 21 persen dibandingkan periode sama tahun lalu menjadi 35 ribu rupiah.

Selanjutnya Hasnul mengatakan, pendapatan dari data meningkat 349  dibanding kuartal pertama 2009 dan memberikan kontribusi sebesar 7 persen  terhadap total pendapatan usaha di periode kuartal I 2010.

“Untuk lebih meningkatkan penggunaan data, tahun ini XL mengalokasikan 25 dari belanja modal sebesar 450 juta dollar AS untuk layanan data,” katanya.

Sebelumnya, pemain Indosat mengumumkan kinerja perseroan pada kuartal pertama 2010 dimana mencatat laba bersih sebesar 285,9 miliar rupiah atau naik 139,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Sayangnya, kenaikan laba bukan dipacu oleh pertumbuhan organik melainkan laba kurs dari perusahaan. Dari sisi pendapatan usaha Indosat hanya mencatat nilai 4,730,9 triliun rupiah atau tumbuh 2,5 persen dibandingkan periode lalu sebesar 4,616,9 triliun rupiah. Padahal jumlah pelanggan yang diraih mencapai 39,1 juta nomor alias naik 17,6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 33,3 juta nomor.[Dni]

300410 Kemenhub Percepat Pendidikan Pelaut

JAKARTA–Kementrian Perhubungan (Kemenhub) mempercepat pendidikan pelaut agar bisa menutupi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di industri pelayaran.

“Masa pendidikan diploma akan dikurangi. Bila sebelumnya pendidikan di akademi mencapai empat tahun, maka tahun ini akan jadi 2,5 tahun,” ungkap Sekretaris Direktur Jendral Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Bobby Mamahit  di Jakarta, Kamis (29/4).

Dijelaskannya, pengurangan waktu pendidikan ini dilakukan karena kebutuhan akan pelaut yang sangat besar. Indonesia membutuhkan ribuan  pelaut dengan posisi nakhoda, petugas dek dan teknisi kapal tahun ini.

Kebutuhan sangat besar tersebut tidak mungkin dipenuhi dalam waktu cepat bila pendidikan pelaut memakan waktu empat tahun.

“Kebutuhan pelaut di Indonesia masuk kategori emergency,” ujarnya.

Meski waktu pendidikan dikurangi, jelasnya, namun kualitas pendidikan tetap akan terjamin.

Kurikulum yang bakal dikurangi adalah pelajaran pendukung dari Depdiknas, sedangkan kurikulum yang dikeluarkan International Maritim Organization (IMO) tetap akan diberikan secara penuh.

Dalam kurikulum tersebut para taruna akan belajar teori selama satu setengah tahun, sedangkan satu tahun dipergunakan untuk praktik di kapal

Selanjutnya Bobby mengungkapkan, krisisnya penyediaan SDM pelaut menjadikan gaji perwira laut di Indonesia saat ini sudah mencapai 200 dollar AS per hari menyusul  penambahan armada niaga nasional dalam rangka asas cabotage.

Kepala Diklat Kementerian Perhubungan Dedi Darmawan menambahkan,  dunia kekurangan 84.000 perwira pelaut, sedangkan kekurangan Indonesia bisa mencapai 18.000 perwira pelaut, ini sejalan dengan penambahan 3.000 unit kapal berbagai jenis.

Dedi mengatakan selain memperpendek waktu pendidikan kementerian Perhubungan juga meningkatkan jumlah taruna hingga dua kali lipat.

“Tujuannya adalah mengejar kekurangan perwira pelaut baik kepentingan luar negeri perusahaan pelayaran domestik maupun luar negeri,” katanya.

Kontingensi
Berkaitan dengan hari Buruh yang jatuh pada 1 Mei nanti, Bobby menegaskan, Kemenhub telah menyiapkan rencana kontingensi di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara untuk mengatasi kemungkinan mogok massal.

Dijelaskannya, rencana kontigensi disiapkan oleh sejumlah pihak yang menangani keamanan pelabuhan terbesar di Indonesia itu.

Dikatakannya,   pihaknya bersama Kementerian BUMN telah sepakat agar keamanan di Pelabuhan Tanjung Priok ditingkatkan dengan melibatkan Kantor Utama Administratur Pelabuhan Tanjung Priok dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II.

“Kami bersama Adpel dan Pelindo II juga memperketat pengamanan selama aksi mogok,” ucapnya.

Namun, Bobby menyakini aksi mogok massal di Pelabuhan Tanjung Priok tidak akan terjadi karena International Transportworkers Federation (ITF) tidak mendukung aksi mogok di Hari Buruh.

Sebelumnya, Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu akan melakukan aksi mogok di sejumlah kota besar di Indonesia untuk memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2010.

Aksi itu dimaksudkan sebagai desakan kaum buruh kepada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera merumuskan sejumlah program peningkatan kesejahteraan buruh.

Sesuai rencana, aksi mogok nasional akan digelar secara serentak di berbagai kota besar seperti Medan, Jakarta, Pontianak, Semarang, Surabaya, Makassar, Batam dan Bandung.[Dni]

300410 PT KAI Minta Izin Kenaikan Tarif.

JAKARTA–PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI meminta pemerintah untuk
memberikan izin kenaikan tarif sebesar yang dibutuhkan guna menjaga kelangsungan operasional perseroan.

“Kenaikan diminta 50 persen  dimana  dilakukan secara  bertahap 12,5 persen  per semester selama empat semester mulai Juli 2010,” kata Vice President Public Relations PT KAI Adi Suryatmini di Jakarta, Kamis (29/4).

Ditegaskannya, meski ada
kenaikan bertahap tidak akan terasa membebani penumpang
kereta ekonomi.

“Mudah-mudahan bisa disetujui pemerintah, baik besarannya maupun waktu
awal mulai kenaikannya,” katanya.

Menurutnya, perseroan  tidak mempermasalahkan opsi akhir yang nantinya diambil pemerintah untuk menutupi kerugian operasional akibat mengemban tugas menjalankan kereta ekonomi dari pemerintah. Baik dengan cara mengizinkan kenaikan tarif maupun menambah besaran subsidi public service obligation (PSO) dari 535 miliar rupiah  yang setiap tahun
diberikan, menjadi 670 miliar rupiah untuk 2010.

“Kalau opsi tarif yang diambil, artinya dana pemerintah bisa digunakan untuk menambah kehandalan infrastruktur jaringan KA,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menyelesaikan survey kemampuan membayar (ability to pay) dan kemauan membayar (willingnes to pay) penumpang kereta api
kelas ekonomi.

Survey yang dimulai 17 Februari sampai 14 Maret 2010 terhadap 7.468 responden penumpang 30 kereta api antar kota dan 9 kereta api perkotaan di sembilan lintas menunjukkan responden memiliki kemampuan untuk membayar. Asalkan kenaikan tarif bisa menjamin meningkatnya
keamanan dan keselamatan kereta ekonomi.

Dalam waktu satu bulan ke depan, Direktorat yang dipimpin Tundjung
Inderawan tersebut akan menguji survey kemampuan membayar dengan kemauan membayar untuk dijadikan dasar berapa besar kenaikan tarif yang masih memungkinkan, atau berapa banyak dana PSO yang bisa
ditambah.

Berdasarkan catatan, dana PSO yang diberikan kepada PT KAI untuk 2009 terserap sebesar 96 persen.[Dni]

300410 Konsumsi Lubrikasi Meningkat 5%

JAKARTA–Konsumsi lubrikasi nasional pada 2010 diperkirakan mencapai 735 juta liter atau naik 5 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 700 juta  liter.

“Kenaikan dipicu membaiknya penjualan produk otomotif seperti mobil dan sepeda motor. Sektor ini setiap tahunnya penyumbang konsumsi terbesar di industri lubrikasi,” ungkap Director/GM Sales Indonesia, Lubricants Shell Indonesia Hardeep Singh di Jakarta, Kamis (29/4).

Diungkapkannya, walaupun ada segmen lain yang ikut mengonsumsi lubrikasi atau pelumas seperti manufaktur, tetapi frekuensinya tidak setinggi otomotif dimana setiap bulan selalu ada penjualan, khususnya untuk kendaraan pribadi.

“Laporan dari Gaikindo penjualan mobil kuartal pertama membaik. Itu sinyal bagi sektor pelumas ada kabar gembira,” jelasnya.

Diungkapkannya, perseroan juga semakin optimistis menggarap pasar Indonesia karena sejauh ini baru menguasai 8 hingga 10 persen pangsa pasar. “Kami memiliki target menguasai 25 persen pangsa pasar,” katanya.

Berkaitan dengan rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), Hardeep menegaskan, tidak memberikan pengaruh bagi produksi sektor lubrikasi. “Bagi kami jika harga minyak mentah berubah itu baru berpengaruh,” tegasnya.[Dni]

290410 Struktur TDL Harus Disederhanakan

JAKARTA–Struktur Tarif Dasar Listrik (TDL) harus disederhanakan agar subsidi yang diterapkan tepat sasaran.

“Di Indonesia struktur tarifnya terlalu rumit. Selain itu pihak yang disubsidi tidak tepat, akhirnya kaum kaya justru menikmati subsidi,” ungkap Anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo kepada Koran Jakarta, Rabu (28/4).

Dijelaskannya, di Indonesia struktur tarif TDL dibagi atas industri, residensial, dan sosial. “Untuk industri tidak ada subsidi yang berlaku harga keekonomian. Sementara di residensial terjadi kesalahan pemberian subsidi karena kaum kaya yang disubsidi. Sementara di segmen sosial banyak yang belum menikmati listrik,” katanya.

Hal ini berbeda dengan di luar negeri dimana segmen industri disubsidi karena ada dampak keekonomian berupa produktifitas, sementara untuk rumah tangga tidak ada subsidi karena dianggap meningkatkan konsumsi energi.

Berkaitan dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan TDL, Sudaryatmo menilai, untuk kelompok 450 VA besarannya terlalu tinggi, sedangkan untuk rumah tangga kelompok kaya kenaikan tidak masalah.

Diingatkannya, jika subsidi dikurangi maka harus ada jaminan segmen masyarakat yang belum menikmati listrik menggunakan energi itu. “Sebenarnya kenaikan ini bisa ditunda jika ada jaminan pasokan gas untuk pembangkit berbasis BBM terjamin. Jika itu tidak ada, kenaikan solusinya,” katanya.

Pada kesempatan lain, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, jika kenaikan TDL terjadi, maka Earning Before Interest Tax and Depreciation (EBITDA) operator bisa tertekan sebesar satu hingga dua persen.

“Biaya operasional BTS untuk energi lumayan besar. Tetapi ini tidak akan mempengaruhi tarif ke pelanggan karena kompetisi di telekomunikasi sudah ketat,” katanya.

Sarwoto meminta, jika TDL dinaikkan maka jaminan ketersediaan energi harus ada kontinuitas karena di beberapa area masih terjadi kelangkaan listrik. “Jangan tarif naik, tapi masih suka byar pett,” tandasnya.[Dni]

290410 Mandala Jajaki Masuk IATA

JAKARTA– maskapai swasta, Mandala Airlines, tengah melakukan penjajakan untuk masuk asosiasi perusahaan transportasi udara internasional (International Air Transport Association).

“Sekarang  masih dalam penjajakan. Melihat keuntungan-keuntungan yang bisa didapatkan. Tetapi belum ada keputusan,” kata Presiden Direktur Mandala, Diono Nurjadin di Jakarta, Rabu (28/4).

Dinyatakannya,  pihaknya telah ditawari untuk bergabung ke IATA setelah Mandala memperoleh sertifikat IOSA beberapa bulan lalu.

Tawaran itu, lanjut dia, disampaikan langsung oleh pimpinan perwakilan IATA di Singapura saat menyerahkan  sertifikat IATA Operational Safety Audit (IOSA) di Jakarta belum lama ini.

“Memang, mereka (IATA) menawari kami bergabung ke IATA. Namun, kami masih mempertimbangkannya,” ucapnya.

Untuk diketahui, Mandala mendapatkan capaian luar biasa saat ini, setelah lepas dari embargo penerbangan Uni Eropa, maskapai ini juga telah mendapatkan IATA IOSA dimana standar keselamatannya telah diakui dunia internasional.

Di Indonesia, hanya ada dua maskapai yang dapat sertifikat IOSA yaitu Garuda Indonesia dan Mandala.

Terakhir, Mandala mampu mengurangi emisi karbon hingga 5 persen. Tidak banyak juga maskapai di dunia yang bisa mengurangi tingkat emisi karbonnya.

Saat ini Mandala tengah merencanakan penerbangan rute regional antara lain negara-negara di ASEAN, Australia dan India.

Di Indonesia sendiri  hanya satu maskapai menjadi anggota IATA yakni PT Garuda Indonesia. Maskapai itu juga telah memperoleh sertifikat IOSA pada pertengahan dua tahun lalu.

Secara global anggota IATA mencapai di atas 400 maskapai yang tersebar di lima benua.[Dni]

290410 Pemerintah Harus Ciptakan Iklim Investasi Kondusif

JAKARTA–Pemerintah harus menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk menarik investor asing menanamkan modalnya di Indonesia.

“Tidak bisa investasi itu dipaksa dengan membuat regulasi yang memaksa bekerja sama dengan perusahaan lokal. Pemerintah harus menciptakan suasana yang kondusif agar modal asing masuk ke domestik,” tegas Chief Government and Regulatory Affairs Officer GSMA, Tom Philips di Jakarta, Rabu (28/4).

Menurutnya, suatu regulasi yang dibuat memaksakan peluang bagi konten lokal justru berbahaya untuk satu negara, apalagi jika investasi dalam manufaktur teknologi informasi. “Kajiannya dari investor asing cukup panjang. Sebenarnya untuk Indonesia lebih cocok pengembangan lokal konten di bidang aplikasi,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk pengembangan aplikasi, GSMA yang merupakan asosiasi dari operator pengusung teknologi GSM dari seluruh dunia telah meminta vendor handset untuk membuat standar aplikasi yang bisa dikembangkan oleh semua negara. “Mengembangkan aplikasi lokal itu justru menumbuhkan ekonomi domestik. Apalagi tren ke depan adalah komunikasi dari mesin ke mesin,” tandasnya.

Sementara itu, Menkominfo Tifatul Sembiring mengungkapkan, investasi baru di sektor Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam dua tahun ke depan senilai. 30 triliun rupiah.

“Nilai bisnisnya bisa 300 triliun rupiah. Hanya saja, sangat disayangkan belanja modal di sektor TIK mencapai 70-80 triliun rupiah pertahun porsinya masih banyak dimanfaatkan oleh asing dan sedikit yang dikuasai lokal,” ujarnya.

Ditegaskannya, Indonesia memiliki peluang mengambil untung dari industri kreatif berbasis teknologi informasi yang akan diserap oleh telekomunikasi dan penyiaran.

Untuk mendukung itu, pemerintah telah mengupayakan sejumlah program. “Diantaranya kami sedang menyusun roadmap dari sisi frekuensi dengan menghitung berapa porsi ideal untuk telekomunikasi, radio dan televisi,” paparnya.

Diungkapkannya, pemerintah telah melobi Ericsson dan Huawei agar mereka memperluas penggunaan konten lokal di Indonesia. Sebagai contoh mengirim tenaga ahli teknologi long term evolution (LTE/4G)ke Indonesia sehingga dapat belajar bersama dibandingkan operator di Indonesia melakukan riset sendiri.

Selain dua vendor itu, menkominfo juga telah bertemu dengan pimpinan Nokia, vendor handset yang akan mendirikan pabrik di China dan India.

“Menurut Nokia, Indonesia punya peluang namun mereka akan memperhitungkannya secara bisnis. Selama industri TIK di Indonesia berkembang dan prospektif, mereka membuka peluang untuk ekspansi di sini,” tegasnya.[Dni]

290410 Meretas Jalan Menuju 4G

Belum lama ini dua operator GSM yang memiliki lisensi 3G mengumumkan kesiapannya untuk menyongsong era 4G.

Kedua operator itu adalah  Indosat dan XL. Indosat mengklaim menjadi operator pertama di Asia yang berhasil menyajikan teknologi Dual Carrier HSPA (HSPA+) yang mampu menghantarkan kecepatan hingga 42 Mbps per pelanggan.

HSPA+ adalah teknologi 3G/ 3,5G hasil evolusi dari Wide Code Division Multiple Access (WCDMA) yang dipercaya mampu  meningkatkan data through put hingga mencapai kecepatan 21 Mbps, 28 Mbs, 42 Mbps, dan seterusnya.

Implementasi HSPA+ umumnya dilakukan dengan mengaktifkan  perangkat lunak di BTS 3G (Node B) dan RNC, di radio network dengan konsekuensi operator harus merogoh kocek membayar  lisensi ke vendor.  Persiapan lain yang harus dilakukan juga design radio   dan menambah bandwidth (backhaul) dari Node B ke RNC, serta ke Core Network.

Indosat membenamkan inovasi terbaru  itu di  lebih  62 Node B di Jakarta untuk  melayani   1,5 juta pelanggan mobile datanya. Pada tahun ini diharapkan ada 2,5 juta pelanggan yang menggunakan mobile broadband seiring HSPA+ dikembangkan ke 5 ribu Node B di 90 kota di Indonesia. Investasi yang dikeluarkan untuk inovasi ini sekitar 0,5 dollar AS per Mbps, per pelanggan.

“Inovasi ini diharapkan bisa membuat kontribusi dari layanan data meningkat pada 2010 bagi total pendapatan. Pada 2009 kontribusi data sekitar 4-5 persen, tahun ini diharapkan menjadi 6-7 persen,” ungkap Group Head and Vas Marketing Indosat Teguh Prasetya di Jakarta, belum lama ini.

Sementara XL menjalin kerjasama dengan penyedia jaringan Ericsson mengaji kesiapan implementasi Long Term Evolution (LTE) selama 6 bulan ke depan. “Kami tidak mau mengulangi kesalahan kala 3G dulu dikomersialkan dimana investasi dua triliun rupiah pada dua tahun pertama seperti mengambang. Kami ingin ketika LTE dikomersialkan sudah ada trafik yang mengalir,” tegas Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi.

LTE adalah evolusi komunikasi seluler menuju jaringan broadband berbasis Internet Protocol (IP) secara menyeluruh. Teknologi ini bisa menghantarkan kecepatan akses data mencapai 100 Mbps dan efisien dalam penggunaan frekuensi. Di dunia, Swedia dan Norwegia adalah negara-negara yang telah mengimplementasikan inovasi itu.

Sedangkan Telkomsel sejak akhir tahun lalu lebih berani lagi dengan  membenamkan uang 1,3 triliun rupiah untuk mengembangkan HSPA+  di 24 kota pada 2010. Bahkan untuk LTE, Telkomsel bersama SingTel akan melakukan uji coba pada Juni nanti. Semua ini adalah bagian dari proyek Next Generation Flash dimana Telkomsel  ingin mengoptimalisasi penggunaan metro ethernet (transmisi serat optik) miliknya.

Tarik Menarik

Gencarnya operator merintis jalan menuju era 4G, kembali memunculkan isu tarik menarik untuk rute yang dipilih menuju 4G. Pertama, melalui evolusi dengan mengembangkan  HSPA, HSPA+ setelah itu ke LTE. Kedua,  langsung melompat ke LTE.

LTE baru memenuhi skala ekonomis pada 2013 dan  akan   memberikan  kinerja baik bila beroperasi di atas pita  spektrum 3G selebar 10 MHz, serta lebih ideal di  lebar pita 20 MHz.

“HSPA+ dikembangkan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas layanan, serta merupakan evolusi dari teknologi GSM.  Kami ingin memberikan pengalaman dulu ke pelanggan akses kecepatan tinggi sembari menunggu ekosistem dari LTE terbentuk,” ujar Teguh.

Ekosistem yang dimaksud adalah seperti ketersediaan frekuensi, perangkat (handset/modem), kesiapan pasar, layanan, dan bisnis

Direktur Jaringan XL Dian Siswarini mengungkapkan, sebenarnya 10 persen dari   total 2.100 Node B milik  XL sudah ditingkatkan menjadi HSPA+ dan 60 persen mendukung HSPA.

“Sebanyak 25 persen dari belanja modal 450 juta dollar AS dialokasikan untuk pengembangan HSPA. Jadi, sebenarnya kita juga mengikuti evolusi GSM sembari menunggu regulator dan masyarakat siap dengan LTE,” katanya.

Dian memprediksi, teknologi HSPA tidak akan dimasifkan pengembangannya oleh operator karena adanya keterbatasan frekuensi. “HSPA itu hanya untuk menambal bolongnya kecepatan di wilayah yang permintaannya tinggi. Bagaimana pun LTE tetap ditunggu karena menjanjikan kecepatan lebih cepat dan penggunaan frekuensi yang lebih efisien,” katanya.

Hasnul menjelaskan, untuk LTE masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan seperti alokasi spektrum, lisensi, dan ekosistem. “Jika dijalankan di spektrum 3G saat ini tidak ideal karena minimal butuh 20 MHz. Sementara di 3G itu tersisa 15 MHz. Belum lagi jika peminatnya banyak karena pemain CDMA bisa juga mengembangkan LTE. Bisa jadi regulator berfikir untuk mengadakan lelang,” katanya.

Ericsson Regional Head Of South East Asia and Oceania Arun Bansal mengatakan, jika operator ingin LTE sukses di Indonesia maka masalah harga pasar harus diperhatikan.

“Harga pasar ini mulai dari nilai frekuensi hingga perangkat di pelanggan. Jika harga frekuensi saja sudah mahal, tentu tarif retail ke pelanggan ikut naik. Kalau begini susah berkembangnya,” katanya.

Sementara Senior Director PT Qualcomm Indonesia Harry K. Nugraha menegaskan, optimalisasi  HSPA dengan teknik rekayasa memungkinkan operator   menyediakan  teknologi berkecepatan tinggi setara LTE.

Hal ini karena pendekatan secara rekayasa  pada HSPA+ berpeluang menyediakan  kemampuan membawa data dan suara dalam  kapasitas yang lebih baik yaitu 168 Mbps. “Kemampuan ini setara dengan LTE sehingga operator  tidak harus menggunakan  spektrum baru. Secara engineering,  kecepatan 168-300 mbps bisa disediakan  dengan dukungan software upgrade 3G di bandwitdh minimal 10 MHz.  Investasi ini lebih murah dibandingkan menggelar LTE,”  tegasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia M. Ridwan Effendi mengatakan, jika operator ingin mengembangkan LTE di frekuensi eksisting tidak memerlukan lisensi dari pemerintah. “Tetapi syaratnya Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi harus berbasis pita dulu,” katanya.

Sedangkan untuk alokasi frekuensi lainnya, Ridwan mengungkapkan, pemerintah sedang mengaji alokasi spektrum TV analog yang dimigrasi ke digital untuk dimanfaatkan oleh LTE. “Kalau di spektrum baru tentu ada lelang. Masalahnya migrasi dari analog ke digital itu belum selesai dijalankan,” katanya.

Menanggapi hal itu, GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra mengatakan idealnya lisensi ke depan bersifat teknologi netral walau frekuensi yang dipakai sekarang  dipakai untuk teknologi lain. Sedangkan untuk harga frekuensi perlu diadakan studi banding   agar dapat dipilih mekanisme yang paling tepat dalam pemberian.

Pada kesempatan lain, Ketua Bidang Pengembangan Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan  mengatakan,  perubahan dari HSPA langsung ke LTE akan membuat biaya operasional operator membengkak karena banyak  mengganti perangkat yang ada, padahal utilisasi dari infrastruktur itu belum balik modal.

“Dengan HSPA+ yang sudah mulai dibangun semua arsitek jaringan berbasis  IP  yang mudah murah dan cepat digelar, maka  pada waktunya ketika penggunaan dan permintaan sudah tinggi, migrasi ke LTE akan lebih optimal,” katanya.

Taufik mengingatkan, operator jangan terburu-buru memilih satu teknologi karena selalu ada agenda besar dari satu inovasi. “Harus diingat ada permainan vendor yang seolah-olah menciptakan kebutuhan. Ini yang namanya market driven by vendor. Praktik ini harus dihentikan jika sebenarnya tidak ada kebutuhan masyarakat akan inovasi itu,” tegasnya.[dni]

Tabel Evolusi Teknologi GSM

Sumber: Wireless Intelligence