310511 Janji Manis Belum Terpenuhi

Gaung masuknya industri telekomunikasi ke era broadband telah dimulai sejak tiga tahun lalu. Semua pemangku kepentingan di sektor ini pun sudah kasak-kusuk mempersiapkan diri menyambut datangnya era ini.

Hasil riset bank dunia  di 120 negara selama 1980-2006 menunjukkan  setiap kenaikan  10 persen dari penetrasi broadband akan meningkatkan Gross Domestic Product (GDP) 1,21 persen di negara maju dan  1.38 persen untuk negara berkembang.

Sedangkan setiap peningkatan satu persen penetrasinya,  tenaga kerja yang terpakai naik 0,2-0,3 persen. Sementara  setiap investasi sebesar satu dollar AS untuk broadband, maka masyarakat akan mendapatkan keuntungan 10 kali lipatnya. Di Indonesia sendiri diperkirakan  setiap pertumbuhan 10 persen dari broadband di Indonesia memberikan dampak tidak langsung mencapai 500 triliun rupiah.

Pemerintah pun sepertinya mulai menyadari pentingnya Broadband dengan memasukkan  National Broadband Plan (NBP) ke dalam 23 kajian pembangunan enam koridor ekonomi.

Menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S. Dewa Broto,  NBP bakal berdampak positif pada semua sektor seiring dengan proyeksi daya tarik investasinya yang mencapai 169,5 triliun rupiah.

“Dalam penyusunan draf NBP yang dipimpin oleh Kementerian Perekonomian, Kemenkominfo memberikan rambu-rambu dari berbagai aspek seperti  regulasi, potensi pemain, kendala yang dihadapi, hingga roadmap,” ujarnya di Jakarta, Senin (30/5).

Diungkapkannya,  dari sisi regulasi, Kemenkominfo telah memaparkan kapasitas ketersediaan frekuensi yang menjadi domainnya, di mana tidak dapat dibuat kebijakan di luar itu yang bertentangan. Selain itu,  pemaparan soal konsep arah pengembangan broadband harus mengikuti perkembangan regulasi Kemenkominfo agar nantinya tidak terjadi pertentangan diantara pemangku kepentingan.

Berdasarkan draf NBP  yang beredar,  mekanisme pembangunan  terdiri dari dua konsep, yakni mengembangkan jaringan eksisting (sharing) dan pembangunan baru. Jika konsep sharing dapat diterapkan secara ideal, potensi penghematan biaya bisa mencapai 73,5 triliun rupiah.

Sementara itu, sumber dana yang dialokasikan dari APBN nantinya hanya sebesar 8 persen dari total investasi, sedangkan 92 persen berasal dari dana swasta atau private public partnership (PPP).

Pada 2014, adanya NBP membuat  Broadband  mampu menjangkau minimal 30 persen  populasi yang tersebar pada enam koridor ekonomi untuk memberikan layanan akses broadband yang berkualitas berbasis service level guarantee dengan kecepatan mulai 2 Mbps, selain layanan Internet murah yang tetap tersedia dan didukung dengan kinerja layanan terbaik.

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, jika penetrasi broadband tumbuh hingga 30 persen baru signifikan bagi perekonomian Indonesia.

”Nanti itu daya saing satu negara dilihat dari bandwitdh per kapita. Indonesia saat ini butuh konsumsi bandwitdh per orang sekitar 150 Mbps. Kita ini sudah terlambat dibandingkan Malaysia dan Singapura yang membidik kebutuhan bandwitdh per rumah tangga masing-masig 100 Mbps dan 1 Gbps,” jelasnya.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengungkapkan,  pemerintah sebenarnya sudah mencanangkan tentang pentingnya industri telematika dalam perekonomian nasional sejak  1997, tetapi janji manis itu belum terpenuhi hingga saat ini.

“Hingga kini belum ada langkah nyata yang diambil. Bahkan, badan legislatif pun belum memiliki visi yang jelas tentang broadband di Indonesia,” keluhnya.

Menurut Nonot, salah satu masalah yang dihadapi Indonesia dalam mewujudkan era broadband economy itu adalah pembangunan infrastruktur. Saat ini, pembangunannya diserahkan kepada swasta, yakni operator telekomunikasi.

”Kita sudah lama bergelut dan mendiskusikan dana Universal Service Obligation (USO) digunakan untuk pengembangan broadband. Hingga sekarang untuk menggelontorkan ICT Fund dari dana USO masih digantung terus oleh Kemenkeu, walaupun Kemenkominfo sudah datang dengan konsep yang lumayan kuat,” sesalnya.[dni]

310511 Strategi Operator: Transformasi Telkomsel Hadapi Era Broadband. Menjaga Singgasana di Kurva Kedua

Penguasa pasar seluler Indonesia, Telkomsel,  merayakan ulang tahun ke-16 pada 26 Mei lalu. Hadiah istimewa bagi anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) ini adalah ditasbihkan sebagai salah satu operator di dunia  yang mengelola 100 juta pelanggan.

Sebelumnya, hanya ada enam operator di dunia yang memiliki pelanggan di atas 100 juta nomor yakni China Mobile (600 juta pelanggan), China Unicom (174 juta pelanggan), Bharti Airtel (162 juta pelanggan), Reliance Communications (135 juta pelanggan), Vodafone Essar (134 juta pelanggan), dan Verizon Wireless (104 juta pelanggan).

“Operator seluler yang berhasil melayani 100 juta pelanggan itu sedikit di dunia. Bagi Telkomsel dengan raihan 100 juta pelanggan, saatnya bertaransformasi dimana  harus bisa memberikan layanan baru yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan,” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, layanan baru itu adalah jasa broadband yang akan menjadi tren setelah era beyond telecommunication mencapai titik jenuh. “Beyond telecommunication yang saya maksud adalah jasa dasar seperti suara dan SMS yang teledensitasnya telah melebihi populasi. Pertaruhan baru adalah di Broadband ini,” tegasnya.

Dijelaskannya, saat ini Telkomsel memiliki 23 juta pelanggan yang aktif menggunakan jasa broadband yang ditargetkan menjadi 30 juta pelanggan pada akhir tahun nanti. Jasa ini pada 2009 berkontribusi 7 persen bagi total omset dan tumbuh menjadi 12 persen pada 2010. “Pada tahun ini ditargetkan kontribusi broadband sekitar 19 persen bagi total omset Kuartal I 2011 kontribusi broadband sudah 14 persen terhadap omset atau sekitar 1,6 triliun rupiah,” ungkapnya.

Strategi
Sejumlah strategi pun sudah disiapkan oleh manajemen Telkomsel untuk mempertahankan singgasananya di era masuknya industri telekomunikasi pada kurva kedua di industri atau era broadband ini.

Pertama, menjadikan 40 kota berbasis broadband yang menelan investasi sekitar 6,6 triliun rupiah atau 60 persen dari total belanja modal 2011 sebesar 11 triliun rupiah. Telkomsel kini didukung tidak kurang dari 38 ribu BTS, yang 8.300 di antaranya adalah BTS 3G (Node B). Rencananya tahun ini akan ditambah 4.000 Node B.

Kedua, mensinergikan titik layanan bagi pelanggan dengan induk usaha sehingga menjadi  1,3 juta titik pelayanan. ”Kami menyadari di era broadband ini perangkat makin rumit sehingga pelanggan harus diedukasi dengan tepat. Menyebarnya titik layanan yang didukung oleh petugas yang memiliki pengetahuan produk lengkap adalah kebutuhan utama,” jelasnya.

Ketiga, mengalokasikan dana sebesar 1,2 triliun rupiah  untuk mengembangkan sistem informasi (TI) dalam menangani pelanggan. Pengembangan teknologi informasi meliputi sistem tagihan (billing system), customer relationship management (CRM), dan mesin data base storage (mesin penyimpan data). Kapasitas dari sistem ini akan menampung data sebesar 4 Pentabyte. ”Investasi untuk sistem TI meningkat 400 miliar rupiah dibandingkan tahun lalau sebesar 800 miliar rupiah,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk sistem penagihan dan CRM, Amdocs, ditunjuk menangani dengan dana yang digelontorkan secara multiyears mencapai tiga triliun rupiah. Sedangkan proyek Service Delivery Platform (SDP) untuk menangani layanan konten akan dilelang pada pertengahan tahun ini.
”Amdocs cukup berhasil mengerjakan proyek sistem penagihan karena itu menang di CRM.  Kemungkinan Juni, Amdocs mulai menggarap CRM,” katanya.

Efisiensi
Praktisi Telematika Bayu Samudiyo mengingatkan, Telkomsel harus mulai melakukan efisiensi dari setiap aksinya baik  untuk pemasaran atau investasi perangkat karena jasa suara dan SMS sudah masuk era saturasi. ”Suara dan SMS itu akan tetap menjadi pemasok utama omset operator dalam waktu lima tahun ke depan. Telkomsel harus pintar menyeimbangkan perhatiannya antara jasa dasar dan broadband. Terlalu fokus kepada broadband yang belum menghasilkan dana signifikan bagi omset itu bisa beresiko,” jelasnya.

Menurutnya, investasi yang besar dikeluarkan untuk mengembangkan jasa broadband belum akan dipetik hasilnya oleh operator dalam kurun waktu lima tahun mendatang apalagi ada tantangan mulai terjadinya perang tarif di jasa ini. ”Konsumen Indonesia terlanjur dimanjakan dengan tarif murah untuk broadband sehingga esensi jasa ini sebagai generator revenue  tidak didapat karena trafik melonjak tanpa diimbangi pendapatan yang siginifikan,” katanya.

Masih menurut Bayu, jika dilihat dari besaran investasi yang dikeluarkan oleh Telkomsel dikomparasi dengan pertumbuhan kontribusi jasa data dari pesaing terdekat, seperti XL,  maka efisiensi belum tercapai.

Berdasarkan catatan, XL pada tahun ini menargetkan kontribusi jasa data  mencapai 18-20 persen, naik dari tahun 2010 yang mencapai 13 persen dari total omset sekitar 17,6 triliun rupiah. Operator ini hanya mengalokasikan belanja modal sebesar lima triliun rupiah dimana 30 persen akan digunakan untuk pengembangan jaringan 3G.

Secara pertumbuhan performansi keuangan, XL memang memimpin industri pada  tahun lalu. XL mengalami pertumbuhan omset 27 persen, Indosat (5%), dan Telkomsel (3%). Sedangkan Earning Before Interest Tax Depereciation, and Amortization (EBITDA), XL (50%), Indosat (10%), dan Telkomsel (-3%).

Sementara Praktisi Telematika Teguh Prasetya menyarankan, bagi operator sekelas Telkomsel sudah saatnya masuk ke segmen yang penggunanya bukan lagi “orang” akan tetapi “peralatan” atau  machine  dan  devices untuk langkah akuisisi. Sedangkan  untuk pelanggan lama  diperlukan upaya inovatif untuk meretensi dan mempertahankan bahkan kalau memungkinkan  menaikkan Average Revenue Per User (ARPU).

“Telkomsel untuk pasar suara dan SMS komunikasi pemasarannya jangan terjebak dengan langkah pesaing. Penguasa pasar harusnya mengedepankan kualitas bukan berbalas pantun dalam beriklan dengan pesaing,” tegasnya.

Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro menyarankan, Telkomsel jangan terpancing dengan aksi pemasaran yang dilakukan kompetitor yang berujung pada penderitaan dalam meraup omset.

”Kekurangan Telkomsel sekarang adalah tidak ada figur lokal untuk mengkomunikasikan pemasaran dan penjualan. Padahal, dunia pemasaran Indonesia selalu membutuhkan icon sehingga informasi yang diberikan tidak generik ke pasar,” jelasnya.[dni]

310511 FlexiCerdas Bidik Komunitas Pendidikan

JAKARTA—Layanan Fixed Wireless Access (FWA) milik PT Telekomunikasi  Indonesia Tbk (Telkom), Flexi,  meluncurkan konten FlexiCerdas yang berisikan  informasi seputar dunia pendidikan untuk membidik komunitas sektor tersebut.

“Konten FlexiCerdas didedikasikan bagi siswa dan para orangtua untuk memperoleh informasi seputar kegiatan akademis murid sekolah mulai dari tingkat SD-SMP hingga SMU. Komunitas ini lumayan menjanjikan untuk digarap oleh Flexi,” ungkap  Executive General Manager TelkomFlexi Mas’ud Khamid, di Jakarta, Senin (30/5).

Dijelaskannya, melalui konten tersebut  orangtua secara on-line dapat mengawasi aktivitas anaknya di sekolah mulai dari absensi, nilai pelajaran, pembayaran SPP, kegiatan ekstra kulikuler, bimbingan belajar,  hingga tingkat kepatuhan siswa.

Terdapat tiga konten FlexiCERDAS yaitu My School, aplikasi panduan belajar mengajar di sekolah atau komunitas. Pertama, Gaul Abizz, konten ini berisi talent exhibit dan ekstra kulikuler, edutainment serta student lifestyle, atau  informasi seputar kegiatan yang mengarah penyaluran bakat dan hobi para siswa.

Selanjutnya, Bimbel yang memungkinkan pelajar dapat mengakses dan melakukan latihan ujian soal yang disediakan oleh Tim Pembuat Soal Ujian Nasional pimpinan Prof. Yohanes Surya.

“Program  FlexiCerdas  dapat diakses khusus dari tiga varian ponsel yaitu ZTE S189, ZTE Q200 dan IVIO C500+. Pada ponsel ini juga dilengkapi fitur “social networking seperti  Facebook, Twitter, maupun Chatting,” jelasnya.

GM Commerce Telkom Regional 2 Jakarta, Sujito menambahkan,  sekolah-sekolah di wilayah Jakarta Timur dipilih sebagai proyek percontohan FlexiCerdas, dan selanjutnya akan diperluas ke sekolah seluruh wilayah Jabodetabek.

“Untuk tahap awal sebanyak 1.300 ponsel ZTE S189, ZTE Q200 dan IVIO C500 disiapkan di pasar, dan disesuaikan  dengan respon masyarakat,” ujar Sujito.

Sebelumnya, untuk  melayani dunia pendidikan,  Flexi  telah menghadirkan perangkat khusus bagi para pengajar melalui program Flexi Guru. Di dalamnya terdapat konten seperti Info Klub Guru yang berisikan Aturan Kebijakan, Hot News, Kompetensi dan Kurikulum Pendidikan, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, Kios Musik, Kios Buku, Kios Digital, Discount Klub dan Siraman Rohani.

Pelanggan Flexi sendiri  pada 2011 diharapkan bisa tumbuh sekitar 10-11 persen setelah pada 2010 berhasil memikat 18 juta pengguna dengan rata-rata penggunaan per pelanggan (Average Revenue Per User/ARPU) sekitar  30 ribu rupiah  per bulan.[dni]

310511 CCSI Raih Sertifikat UJC

JAKARTA–Produsen kabel optik nasional, PT Communication Cable Systems Indonesia (CCSI) berhasil meraih sertifikat  lulus uji kabel optic dasar laut dari Universal Joint Consortium (UJC) belum lama ini.

UJC adalah konsorsium yang berwenang menetapkan standarisasi dalam sistem kabel laut yang beranggotakan empat perusahaan kabel ternama yaitu Alcatel Submarine Networks, Global Marine System Ltd (GMSL), Kokusai Cable Ship, dan Tyco Telecommunication Inc.

“Diraihnya sertifikat lulus uji kabel optik dasar ini menunjukkan kualitas produk CCSI telah diakui setara dengan besutan perusahaan-perusahaan ternama di luar negeri. Perusahaan kami adalah satu-satunya di Asia Tenggara yang telah terbukti dan teruji produknya untuk dioperasikan sampai kedalaman 1.500 meter di bawah permukaan laut,” tegas Direktur Utama CCSI Peter Djatmiko di Jakarta, Senin (30/5).

Diungkapkannya, untuk meraih sertifikat UJC serat optik besutan perseroan diuji selama 6 bulan di laboratorium GMSL, Inggris. Jenis tes yang dilakukan adalah melihat kekuatan terhadap tekanan air sampai kedalaman 1500 meter di bawah permukaan laut. Keberhasilan dalam uji tes ini juga dicapai berkat inovasi perseroan mengganti Copper Tube dengan Stainless Tube.

“Kabel optik dari CCSI untuk tipe single amoured memiliki kandungan lokal mencapai 41,48 persen dan tipe double amoured kandungan lokalnya sebesar 45,1 persen,” jelasnya.

Direktur Sales dan Marketing CCSI Julian Sudarno mengharapkan, diraihnya sertifikat dari UJC ini membuat operator telekomunikasi di Indonesia lebih memberikan kepercayaan kepada perusahaannya untuk memasok kebutuhan kabel optik laut karena selama ini segmen tersebut dikuasai oleh pemain asing. “Kami memiliki harapan besar agar diikutsertakan dalam proyek Palapa Ring II yang akan digelar oleh Telkom. Selama ini, selain Telkom, produk kami juga dipakai oleh Moratel, Indosat, Telkomsel, dan XL,” katanya.

Diungkapkannya, jika operator lokal memilih produk CCSI maka penghematan bisa terjadi pada dua sisi yaitu dari pengiriman ongkos kirim jika membeli produk luar negeri. Biasanya ongkos kirim itu memakan investasi dua juta dollar AS. Selain itu dari instalasi terjadi penghematan biaya operasional 35 persen dan harga produk sendiri lebih murah 10 persen ketimbang barang asing.

“Sebenarnya belanja untuk serat optik itu dari satu proyek hanya 20-30 persen dari nilai total investasi. Kami memiliki harapan besar produk dalam negeri diberikan kesempatan di pasar ini karena Indoensia masih rendah penetrasi kabel lautnya dibandingkan China. Di China setiap tahunnya dibentangkan 50 juta serat optik kilometer, Indoensia 1,5 juta serat optik kilometer. Melihat jumlah penduduk Indonesia harusnya dibentangkan 3-4 juta serat  optic kilometer setiap tahunnya,” jelasnya.[dni]

310511 Axis Dapatkan Pembiayaan US$ 1,2 Miliar

JAKARTA—PT Natrindo Telepon Seluler (NTS/Axis) berhasil mendapatkan pembiayaan  1,2 miliar dollar AS dengan jangka waktu 7,5 tahun dari institusi keuangan lokal dan internasional untuk memperkuat pendanaan operator berbasis teknologi GSM itu.

Chief Financial Officer CFO Saudi Telecom Company Ameen Al Shiddi, menjelaskan,  pembiayaan  mencakup tiga fasilitas yakni  senilai 450 juta dollar AS dalam bentuk perjanjian perdagangan Murabaha, melalui  Deutsche Bank dan HSBC dimana  proses underwriting oleh Deutsche Bank dan Saudi British Bank (SABB).

Pinjaman  senilai 400 juta dollar AS dalam bentuk pembelian perangkat dari Huawei, dimana  proses underwriting dilakukan China Development Bank. Terakhir, dana senilai 350 juta dollar AS dalam bentuk pembelian perangkat dari Ericsson, melalui HSBC dan didukung oleh EKN, Agensi Kredit Ekspor dari Swedia. Semua bentuk pembiayaan ini diatur dalam struktur pembiayaan Syariah.

“Perjanjian adalah salah satu pembiayaan dengan struktur Islam terbesar di Asia dan  internasional yang terbesar di Asia Timur. Pembiayaan ini akan mendanai ekspansi anak usaha Saudi Telecom, Axis, dan pertumbuhan strategis untuk lima tahun ke depan,” jelasnya di Jakarta, Senin (30/5).

Dijelaskannya, fokus ekspansi Axis lima tahun ke depan adalah  mobile broadband serta meningkatkan cakupan layanan secara nasional, yang nantinya diharapkan akan memberikan pendapatan financial yang lebih besar bagi grup perusahaan. “Saat ini Axis telah digunakan 11 juta pelanggan serta  tersedia di lebih 400 kota di seluruh Indonesia,” katanya.

Chief Executive Officer Axis Erik Aas menjelaskan, industri telekomunikasi Indonesia tumbuh dengan cepat dan sangat dinamis dengan penggunaan mobile broadband yang terus meningkat. “Hal ini karena 50 persen  dari populasi di Indonesia merupakan usia di bawah 30 tahun, dan semua menggunakan aplikasi jejaring sosial di ponsel mereka,” ujarnya.[dni]

310511 Truk Tua Akan Dinonaktifkan

JAKARTA— Pemerintah akan menonaktifkan truk yang berumur tua dan tidak memenuhi ketentuan karena selama ini dinilai sebagai pemicu  kemacetan di jalan tol.

“Kita akan menyuruh truk tersebut tidak beroperasi, dan akan menghimbau perusahaan yang memiliki truk tersebut untuk melakukan peremajaan armada,” kata Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Suroyo Alimoeso di Jakarta, Senin (30/5).

Dikatakannya, untuk menyukseskan program ini pemerintah juga akan akan membantu peremajaan truk dengan  mengupayakan kebijakan fiskal. “Nanti kita akan bantu secara fiskal kalau memang dalam proses pemberlakuan ini banyak merugikan mereka, soalnya truk enyokong ekonomi sehingga perlu kita bantu,” jelasnya.

Sebelumnya, Ditjen Darat dan Organda  menyepakati beberapa poin terkait pembatasan truk masuk tol. Poin kesepakatan tersebut diantaranya mengatur kecepatan truk di tol yakni minimal 60 km/jam dan maksimal 80 km/jam. Bagi yang kecepatannya kurang dari ketentuan, akan ditindak.

Poin selanjutnya yakni Organda harus mematuhi ketentuan berat tonase yakni maksimal 10 ton. Poin ketiga yakni hanya truk dengan berat kosong maksimal 5.500 kg yang boleh masuk tol.

Sementara Ketua Forum Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno mengatakan truk yang tidak layak dilarang operasi, harus diadakan uji petik terhadap muatan lebih yang kerap menghambat perjalanan, sehingga memacetkan kendaraan dibelakangnya.

“Jadi kalau mau atasi kemacetan lalu lintas, revolusi perbaikan transportasi massal. Jangan beri subsidi BBM kepada kendaraan pribadi,” kata Djoko.

Ketua Umum organisasi pengusaha nasional angkutan bermotor di jalan (Organda) Eka Sari Lorena Surbakti mengatakan keinginan pemerintah untuk meremajakan kendaraan dapat dilakukan pada saat yang sama dengan adanya insentif fiskal untuk peremajaan kendaraan truk dan adanya dukungan finansial yang memadai untuk meremajakan kendaraan.

Hal ini karena di Indonesia memerlukan investasi mahal untuk meremajakan kendaraan dibandingkan dengan tarif yang ada di lapangan, sehingga kendaraan umum sulit bersaing dengan kendaraan pribadi yang membuat kendaraan pribadi lebih diminati dari kendaraan umum.

“Inilah yang membuat macet di Jakarta, terlalu banyak kendaraan pribadi, infrastruktur jalan raya yang pembangunannya lambat sehingga tidak bisa mengejar pertambahan kendaraan pribadi yang diatur oleh regulator,” kata Eka.

Presiden Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Masita  mendukung keputusan pemerintah untuk menertibkan operasional truk. “Kita memang sudah sejak 3 tahun lalu meminta kepada pemerintah untuk menindak lanjuti truk yang angkutannya melebihi tonase,” ujarnya.

Dikatakannya, truk yang mengangkut muatan melebihi kapasitas telah membuat kemacetan. “Kemacetan itu yang justru selama ini membuat kami rugi,” ujarnya.[dni]

310511 Telkom Investasi Rp 21,198 Triliun Kembangkan True Broadband

JAKARTA—PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menanamkan dana sebesar  21,198 triliun rupiah untuk membangun  true broadband dalam mendukung    pengembangan Enam Koridor Ekonomi Nasional yang telah ditetapkan Pemerintah,

“Dana yang kami siapkan itu dari internal. Pembangunan dimulai tahun ini hingga 2015 dengan target mencapai 13 juta homepass di 497 kota dan kabupate,” ungkap  Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Senin (30/5).

Menurutnya,  guna mensukseskan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, Indonesia perlu didukung oleh infrastruktur telekomunikasi yang berkemampuan true broadband alias  akses yang menghubungkan rumah-rumah pelanggan (home pass) dengan content provider yang berkecepatan 20 Mbps dan 100 Mbps.

“Semua itu akan memperkuat konektivitas nasional yang meliputi konektivitas intra dan antar pusat-pusat pertumbuhan dalam koridor ekonomi, antar koridor ekonomi (antar pulau) dan internasional, antara lain untuk membuka pintu perdagangan dan wisatawan,” katanya.

Masih menurutnya, penggelaran infrastruktur tersebut sangat tepat, yaitu sesuai dengan lifestyle yang berkembang serta untuk meningkatkan daya saing wilayah-wilayah yang selama ini kurang berkembang karena hambatan infrastruktur telekomunikasi.

Dikatakannya, salah satu pemanfaatan infrastruktur true broadband access, antara lain  pembangunan National e-Health Ecosystem sebagai media transaksi berbasis teknologi informasi dan komunikasi bagi para pelaku kesehatan di mana pun berada, baik manfaat untuk pemerintah, masyarakat, rumah sakit, farmasi dan lain-lain.

Telkom True Broadband Access juga diharapkan dapat menumbuhkan Usaha Kecil Menengah melalui pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang tepat dengan memanfaatkan infrastruktur true broadband yang menjangkau seluruh Nusantara.

Pengembangan true broadband tidak terlepas dari kebutuhan akan layanan akses pita lebar yang terus meningkat dari semula kebutuhan coverage menjadi kebutuhan bandwidth dan kemudian menjadi kebutuhan keduanya. Sebagai Telecommunication, Information, Media dan Edutainment (TIME)) enabler, infrastruktur Telkom terus disiapkan untuk mampu melayani kebutuhan dimaksud.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P Santosa menyambut gembira langkah yang dilakukan oleh Telkom karena akses broadband dengan kecepatan tinggi sudah menjadi kebutuhan di era ekonomi berbasis broadband. “True broadband itu identik dengan fixed broadband yang didukung serat optik,” katanya.

Direktur Utama Communication Cable Systems Indonesia (CCSI) Peter Djatmiko mengharapkan, Telkom dalam mengembangkan true broadband  menggandeng perusahaan lokal dalam pengadaan serat optik. CCSI adalah salah satu perusahaan lokal yang bermain di kabel laut.

“Untuk tulang punggung jaringan yang berbasis kabel laut dalam mewujudkannya kami mengharapkan Telkom membeli produk lokal. Ini bisa menghemat biaya instalasi 30 persen dan ongkos angkut 10 persen,” jelasnya.[dni]