011009 Pendapatan Fixed Broadband Capai US$ 44,9 Miliar

JAKARTA—Pendapatan jasa fixed broadband di  Asia-Pacific diperkirakan pada akhir tahun nanti akan mencapai 44,9 miliar dollar AS atau meningkat 13,3 persen ketmbang tahun lalu.

Lembaga konsultan Frost & Sullivan memperkirakan peningkatan pendapatan tersebut karena jumlah pengguna mencapai 182 juta orang atau meningkat    17.3 persen  dibandingkan tahun lalu.

“Bahkan sewaktu mobile broadband tumbuh secara bersamaan, penggunaan Fixed broadband tetap akan naik,” ujar Country Director  Frost & Sullivan  Eugene van de Weerd di Jakarta, Rabu (30/9).

Menurut dia peningkatan penggunaan Fixed broadband karena gencarnya pemerintah lokal di Asia Pasifik membangun infrastruktur  seperti proyek broadband kecepatan tinggi Malaysia (HSBB), Jaringan broadband nasional Australia (NBN) dan rencana induk iN2015 Singapura. Perusahaan telekomunikasi pun dalam rangka mengembangkan pasar akan melanjutkan pembangunan infrastruktur dasar xDSL (Digital Subscriber Line).

“Di tahun depan, disaat sebagian besar proyek pemerintah mulai beroperasi dalam skala penuh, para pemakai broadband di Asia-Pasifik diperkirakan akan menembus angka 200 jutaan mencapai kisaran 212.6 juta pada akhir tahun 2010,” ujarnya.

Diungkapkannya, berdasarkan analisa yang baru dilakukan belum lama ini pasar fixed broadband di  Asia-Pacific    termasuk Jepang , akan tumbuh sebesar 14.1 persen setiap tahun (CAGR) pada periode 2009-2014 dan akan mencapai 342.9 juta pelanggan pada akhir 2014.

Pada tahun yang sama, penetrasi pemakaian broadband rumah tangga di kawasan Asia Pacific akan bertumbuh sebesar 37.2 persen, dari hanya sekitar 18 persen tahun lalu, dengan estimasi pendapatan akan mendekati 69 miliar dollar AS.

“Sebagian besar pertumbuhan bandwidth serta roll-outs jaringan dalam tahun berikutnya akan didorong oleh pemasangan fibre-to-the-node yang didukung oleh belanja negara untuk proyek broadband kecepatan tinggi nasional,” jelasnya.

Menurut dia,  xDSL  bagaimanapun akan tetap menjadi platform dominan di negara-negara sedang berkembang. “Selera Konsumen untuk koneksi broadband akan terlihat dari permintaan yang tinggi untuk Value-Added Services seperti IPTV serta video-on-demand.” Jelasnya.

Pada tahun 2008, enam negara Asia-Pasifik dengan laju penetrasi penggunaan broadband residensial tertinggi adalah Korea Selatan – sebagai salah satu yang tertinggi di dunia – dengan 92.8 persen, Hong Kong – 85 persen, Singapura – 78.5 persen, Taiwan – 66 persen, Australia – 63.7 persen, dan Jepang – 62.7 persen. Delapan negara Asia Pacific  lainnya mempunyai laju penetrasi pemakaian broadband residensial kurang dari 60 persen.

Berdasarkan jumlah pelanggan, pada tahun 2008 China memiliki pengguna broadband sebanyak 83.4 juta (53.8 persen daerah total dasar pelanggan), diikuti oleh Jepang dengan 30 juta dan Korea Selatan dengan 15.5 juta.[dni]

Iklan

011009 Mulai Barang Selundupan hingga Perang Mitra

Penggunaan   BlackBerry di Indonesia mulai menunjukkan tren positif sejak tahun lalu.

Pemicunya ada dua. Pertama, munculnya layanan BlackBerry prabayar dengan pola langganan mulai harian hingga mingguan. Kedua, banyaknya beredar barang di luar milik mitra resmi tetapi masih bisa digunakan karena adanya layanan prabayar.

Fenomena penjualan melalui non mitra ini sempat menimbulkan kontroversi seiring RIM melakukan pemblokiran Personal Identification Number (PIN) pada awal tahun ini.

Akibatnya perangkat tidak bisa digunakan untuk aplikasi yang bersentuhan dengan BlackBerry Internet Services (BIS). Tanpa BIS, perangkat tidak ubahnya ponsel kuno yang hanya bisa digunakan untuk SMS dan suara.

Penjualan melalui non mitra atau lebih dikenal dengan Black Market (BM) tersebut memang simalakama bagi para mitra resmi khususnya operator.

Di satu sisi, operator merasa terbantu karena adanya ketersediaan perangkat dengan harga yang lebih murah sehingga potensi penggunaan layanan semakin besar. Di sisi lain, BlackBerry  yang dimiliki oleh para operator justru tidak laku dijual karena kalah bersaing dari sisi harga.

“Isu importir paralel ini belum juga terselesaikan hingga sekarang. Jika ini belum beres, percuma operator berjualan ala pre order jika akhirnya kalah harga dengan milik importir paralel,” ujar pengamat telematika Bayu Samudiyo kepada Koran Jakarta Rabu (30/9).

Bayu bisa jadi benar. Pantauan Koran Jakarta di sentra-sentra ponsel di Ibukota menemukan banyaknya BlackBerry Gemini dijual dengan harga sekitar 3,350 juta rupiah.  Padahal,  pemerintah baru membuka izin impor resmi bagi para mitra RIM  Ramadan lalu.
Pengamat telematika  Ventura Elisawati mempertanyakan cara masuknya Gemini  meski izin impor masih dicekal. “Barang BM  atau pemerintah kecolongan,” katanya.

Menurut Ventura, jika dihitung dari proses dibukanya kembali keran impor varian baru, Oktober nanti baru bisa masuk Gemini resmi.

“Artinya, waktu sertifikat impor Gemini milik RIM dicekal, ada importir lain yang lolos. Sebab, rata-rata barang operator baru ada minggu kedua Oktober, Gemini baru masuk,” katanya.
Direktur Standarisasi Ditjen Postel Azhar Hasyim menjelaskan, pemerintah telah membuka kembali keran impor varian baru bagi RIM pada Ramadan lalu.

“Kami sudah informasikan ke Bea dan Cukai jika barang tidak ada sertifikat jangan diloloskan. Saya rasa yang dijual itu barang tentengan (selundupan),” katanya.

Azhar pun berjanji akan melakukan sweeping ke pasar dengan berkoordinasi bersama Depdag dan Kepolisian. “Belum lama ini sudah ada sweeping barang ilegal di Sumatera dan Jakarta. Pemerintah tentu tidak rela pajak hilang,” tegasnya.

Perang Mitra

Hal menarik lainnya dari penjualan BlackBerry adalah perang antarmitra RIM, khususnya Indosat dan XL dalam berjualan Gemini. Simak saja polah Indosat sesaat setelah mengetahui XL berhasil mendapatkan pre order sebanyak 1.000 pemesan dan meningkatkan kuota menjadi dua kali lipatnya.

Indosat langsung menjawab keesokan harinya dengan mengumumkan telah berhasil menyamai prestasi XL dan ikut-ikutan meningkatkan jumlah kuota setara XL.

Bahkan operator yang sahamnya dikuasai oleh Qatar Telecom tersebut menegaskan telah memiliki kapasitas ke server RIM hingga 100 Mbps untuk melayani 150 ribu pelanggannya.

Untuk diketahui, Indosat di Indonesia adalah pionir dalam menyediakan layanan BlackBerry. Sayangnya, dalam perjalanan operator ini selalu kesalip memberikan inovasi layanan tersebut dibanding Telkomsel atau XL yang datang belakangan.

Bahkan untuk layanan prabayar harian, Indosat baru meluncurkannya menjelang Lebaran lalu dengan harga yang lebih mahal ketimbang XL. Dari sisi kapasitas ke RIM pun Indosat sekarang kalah ketimbang XL yang memiliki besaran 120 mbps karena memiliki dua link.

Namun, Bayu mengingatkan, mitra RIM jangan terlalu jor-joran menggenjot penjualan layanan BlackBerry terutama dengan pola harian. “Berjualan pola harian itu hanya akan membuat bleeding operator karena marginnya tipis,” katanya.

Hal ini karena  utilisasi jaringan meningkat, uang yang didapat kecil. Berbeda dengan berjualan bulanan dimana layanan dipakai atau tidak uang tetap didapat.

“Selain itu, operator harus mulai berfikir bagaiman mendorong maraknya aplikasi lokal bisa berjalan di BlackBerry, ini akan lebih signifikan mendorong industri kreatif ketimbang berjualan perangkat yang hanya menguntungkan RIM,” katanya.[dni]

011009 BlackBerry Gemini : Menuju Perangkat Sejuta Umat

Research in Motion (RIM) belum lama ini mengumumkan kinerjanya sepanjang  kuartal kedua tahun fiskal  ini.
Produsen perangkat BlackBerry tersebut mengklaim telah berhasil menambah  3,8 juta pelanggan selama tiga bulan pada kuartal kedua yang berakhir pada Agustus 2009 lalu. Artinya, hingga dengan kuartal tersebut, pelanggan RIM telah berjumlah  32 juta di seluruh dunia.
Pada periode itu  pendapatan  perusahaan asal Kanada tersebut    mencapai  3,53 miliar dollar AS atau  meningkat 37 persen dibandingkan periode sama tahun fiskal lalu sebesar  2,58 miliar dollar AS.
Keberhasilan RIM meraih pendapatan  sebesar itu lebih banyak dikontribusi melalui hasil penjualan perangkat, yang mencapai 81 persen dari total keseluruhan pendapatan. Sepanjang kuartal kedua ini, RIM mengklaim telah berhasil mengapalkan sekitar 8,3 juta perangkat Blackberry.
Sedangkan kontribusi dari layanan dan software, masing-masing hanya memiliki kontribusi 14 persen dan 2 persen. Sisanya diperoleh RIM dari unit bisnis mereka yang lain.
Di Indonesia, RIM sendiri diperkirakan memiliki sekitar 480 ribu pelanggan yang berasal dari empat operator yakni Telkomsel, Indosat, XL, dan Axis.  Selain empat operator itu, RIM juga memiliki  importir dan distributor lainnya yakni  PT Indosat Mega Media (IM2), PT Malifax Indonesia, dan PT Erajaya Swasembada.

Varian Baru

Di Indonesia, diyakini penjualan perangkat milik RIM akan terus tumbuh karena potensi pasar yang lumayan besar. Hal itu bisa dibuktikan dari tingginya   jumlah pemesanan awal (pre order) untuk setiap varian baru yang  dikeluarkan.

Salah satu buktinya adalah pre order untuk   seri Curve 8520 atau lebih dikenal dengan nama Gemini. Produk ini telah lama ditunggu kehadirannya di Indonesia, tetapi karena sejak Juni lalu RIM tersandung kasus pembukaan purna jual yang berujung pada ditahannya  sertifikasi A miliknya, maka diperkirakan pada Oktober nanti Gemini baru masuk ke pasar Indonesia.

Indosat dan XL mengklaim pre order Gemini telah mencapai dua ribu pemesan. Sedangkan Axis mengambil sikap low profile dengan tidak mengumumkan jumlah pemesan. Sementara Telkomsel baru akan membuka pemesanan pada akhir minggu ini. Diperkirakan masing-masing mitra memesan 20 ribu unit Gemini ke RIM untuk tahap awal pemasarannya di Indonesia.

Gemini memiliki keunikan pada   trackpad untuk navigasi menu yang bukan merupakan scrol seperti biji kelereng kecil layaknya seri terdahulu. Ha ini membuat pengguna   hanya perlu menggeser dengan lembut untuk masuk ke menu – menu.

Gemini juga dilengkapi   tampilan QVGA, papan ketik QWERTY dan slot memori microSD yang mudah diganti mendukung hingga kapasitas kartu memori 16GB, Quad band GSM/GPRS/EDGE, WiFi, Bluetooth 2.0 dan Kamera 2 MP.

Terakhir, tentunya harga yang ditawarkan oleh Gemini diperkirakan sangat terjangkau oleh pasar. Meskipun belum ada harga resmi dikeluarkan para mitra RIM, tetapi rentang harga produk ini tak jauh dari 3,4 juta rupiah. Banderol itu lebih murah tentunya ketimbang varian Bold atau Javelin yang bermain di harga 5 hingga 4 jutaan rupiah.

Picu Penggunaan

Praktisi telematika Ventura Elisawati menjelaskan, Gemini memang ditujukan bagi pengguna awal (Entry level) dari masyarakat yang ingin menggunakan BlackBerry. “Ini boleh dibilang BlackBerry  versi ekonomis. Karena dari sisi perangkat tidak ada bedanya dengan generasi sebelumnya.  Dari sisi harga, varian ini  merupakan revolusi dari RIM,” jelasnya kepada Koran Jakarta, Rabu (30/9).

Ventura menyakini, Gemini bisa menjadi BlackBerry sejuta umat (massal) layaknya Nokia kala meluncurkan seri 5110 dengan permainan ularnya. “Untuk menjadi  perangkat sejuta umat ada  beberapa hal yang menunjang yakni  momentum, ketersedian produk dan servis, serta harga.  Momentum dan kebutuhan sudah ada karena jejaring sosial dan komunikasi non suara sedang hype. Tinggal masalah ketersediaan dan harga,” katanya.

Berdasarkan survei yang dilakukan MarkPlus terhadap beban trafik data operator penyedia layanan BlackBerry, 45 persen di antaranya dipergunakan untuk email, 45 persen untuk chatting dan social networking khususnya Facebook dan 10% sisanya untuk browsing.

Penggagas id-blackberry@yahoogroups.com Abul A’la Almaujudy menambahkan, jika harga yang dipatok oleh mitra RIM bisa lebih murah, dipastikan Gemini bisa membuka jalan bagi BlackBerry menjadi perangkat sejuta umat. “Bisa saja nanti anak-anak kecil menggunakan Gemini layaknya Nokia seri 5110 dulu,” katanya.

Menurut Praktisi Telematika Faizal  Adiputra,  Gemini akan banyak digunakan oleh pengguna yang sebelumnya telah menggunakan seri curve. Pemicunya apalagi kalau bukan track pad yang inovatif.

Sudah bukan rahasia lagi dikalangan pengguna BlackBerry, track ball di seri curve lama sangat rentan rusak sehingga paling sering diganti.

“Nanti yang pakai Gemini itu pengguna Curve seri lama dan varian lainnya yang ingin memiliki BlackBerry kedua, guna berjaga-jaga jika layanan dari operator sedang ngadat,” katanya.

Seiring adanya pengguna yang mengganti BalckBerry miliknya, maka akan terbentuk pasar bekas. Di sinilah muncul pengguna baru dari layanan BlackBerry.

“Harga perangkat bekas tentu lebih murah. Jika sudah seperti ini, masyarakat yang sebelumnya tidak bisa memiliki BlackBerry akan mendapatkan harga terjangkau. Bisa kalah itu  ponsel-ponsel China yang meniru BlackBerry,” jelasnya.

Secara terpisah, Chief Marketing Indosat Guntur S Siboro  mengharapkan hadirnya Gemini mampu menambah jumlah pelanggan BlackBerry Indosat pada akhir tahun nanti. “Kami memiliki 150 ribu pelanggan BalckBerry. Tetapi masalah jumlah pelanggan ini menjadi tidak critical lagi karena sekarang mudah sekali berganti layanan seiring adanya BlackBerry prabayar,” katanya.

Sementara Direktur Komersial XL Joy Wahjudi tetap optimistis pada akhir tahun nanti akan 200 ribu pelanggan menggunakan layanannya setelah saat ini memiliki 160 ribu pelanggan. “Tetap ada peningkatan. XL selalu optiistis kalau soal berjualan,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Pengamat Telematika Bayu Samudiyo mengingatkan para mitra RIM berhati-hati dengan gelembung jumlah pre order.

“Di luar negeri Gemini dua minggu setelah dilepas ke pasar responsnya justru tidak bagus, padahal hargnya sudah dibanting. Jika para mitra RIM tidak bisa menawarkan paket bundling yang menarik, maka bisa saja pemesan mundur dan lebih mencari barang di black market,” katanya.

Bayu meragukan Gemini akan menjadi perangkat sejuta umat jika harga yang dibanderol masih  3,4 juta rupiah. “Kalau harganya 1,5 juta rupiah atau diatas sedikit ponsel China yang meniru BlackBerry baru bisa menjadi sejuta umat.  Justru perangkat sejuta umat itu  China-berry, fiturnya lengkap untuk aplikasi gaul (Facebook, chatting) dan harganya relatif terjangkau,” katanya.[dni]

011009 XL Tidak Tertarik Bermain di IPTV

JAKARTA—PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) menegaskan tidak tertarik untuk bermain di jasa  Internet Protocol TV (IPTV) meskipun pemerintah sudah mengeluarkan regulasi terkait layanan tersebut pada 19 Agustus lalu.

IPTV adalah teknologi yang menyediakan layanan konvergen dalam bentuk siaran radio dan televisi, video, audio, teks, grafik, dan data yang disalurkan ke pelanggan melalui jaringan protokol internet yang dijamin kualitas layanannya, keamanannya, kehandalannya, sehingga mampu memberikan layanan komunikasi dengan pelanggan secara dua arah atau interaktif dan real time dengan menggunakan televisi standar.

“Kami tidak tertarik untuk bermain di IPTV. Perseroan masih fokus di jasa suara dan SMS,” tegas Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kepada Koran Jakarta, Rabu (30/9).

Diungkapkannya, perseroan saat ini justru sedang menunggu nasib dari proposal lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI) yang sudah dimasukkan ke regulator. “Jika SLI, XL memang butuh. Nantinya itu akan digunakan bagi pelanggan XL yang berjumlah 24 juta nomor,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk persiapan mendapatkan lisensi SLI perseroan  sedang mengaji untuk membuat Sentra Gerbang Internasioanl (SGI) di Bali, Jakarta, atau Sulawesi. “Kalau bisa posisinya sama dengan backbone serat optik yang dimiliki perusahaan di Lombok, Kalimantan, atau Sulawesi,” katanya.

Dikatakannya, untuk backbone dimana XL belum memilikinya, rencananya akan menyewa dari penyedia yang sudah ada. “Kemungkinan kita akan sewa rute Surabaya-Hongkong milik Fangbian Iskan Corporindo, minimal 4 core,” jelasnya.

Sedangkan untuk membangun SGI itu tidak mengeluarkan biaya berat karena Mobile Switching Center (MSC) sebanyak 120 buah tinggal diganti gateway-nya.

“Nanti kita tinggal pilih MSC mana yang pantas dijadikan SGI. Harga satu gateway itu biasanya 1,5 juta dollar AS,” katanya.

Ketika ditanya tentang masuknya nama XL sebagai salah satu pihak yang memasukkan pendapat dalam regulasi IPTV, Hasnul mengatakan, hal itu sebatas karena perseroan memiliki pengetahuan tentang jasa tersebut. “Tidak lebih dari itu. Bahkan terpikir membentuk konsorsium pun tidak,” katanya.
Dalam regulasi, operator yang ingin menyelenggarakan jasa IPTV diwajibkan membentuk konsorsium yang terdiri atas penyedia jaringan, penyiaran, dan konten.
Saat ini baru  konsorsium yang dibentuk PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang menjalankan uji coba di lima kota yakni   Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Denpasar.

Telkom sendiri menggandeng Indonusa sebagai penyelenggara penyiaran yang terkenal dengan merek dagang Telkomvision.
Telkom mengharapkan  IPTV mampu meningkatkan pendapatan dari telepon kabelnya yang cenderung menurun. Jasa tersebut diyakini akan membuat 8,7 juta pelanggan telepon kabel memiliki layanan yang lebih bervariasi seperti IPTV dan akses internet.[Dni]

300909 Posindo Siap Utilisasi Aset

JAKARTA —PT Pos Indonesia (Posindo) akan memaksimalkan utilisasi aset yang dimilikinya   seiring datangnya era liberalisasi di jasa pengiriman dengan hadirnya UU Pos pada bulan ini.

“Tentunya utilisasi aset harus dimiliki secepatnya. Jika tidak, Posindo bisa tergilas oleh pesaing. Sekarang sudah era pasar bebas,” ujar Direktur Utama PT Pos Indonesia  I Ketut Marjana di Jakarta, Selasa (29/9).

Ketut menjelaskan, selama ini Posindo memiliki tiga lini bisnis yakni mail, logistik, dan keuangan. “Ketiga ini didukung oleh aset bergerak dan tidak bergerak, misalnya kantor cabang yang mencapai tingkat kecamatan,” katanya.

Secara terpisah, Pelaksana Tugas (PLT) Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar menambahkan, jika Posindo ingin bertahan harus membuka diri menggarap inovasi baru dalam jasa pengiriman.

“PT Pos harus  memperluas unit bisnisnya. Sudah saatnya menggarap  non tradisional bisnis seperti logistik,  supply chain management, atau pergudangan. Tantangan di perusahaan itu adalah  bagaimana aset tidak hanya menjadi kewajiban,” katanya.

Untuk diketahui, seiring telah disahkannya UU Pos maka hak monopoli yang dimiliki oleh Posindo dalam pengiriman dokumen dicabut. Namun, UU tersebut juga mengamanatkan kepada pemerintah untuk menyehatkan Posindo dalam jangka waktu lima tahun. Setelah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut disehatkan, maka program Public Service Obligation (PSO)  akan ditenderkan.

Selanjutnya Ketut mengingatkan, keberadaaan dari Posindo tidak bisa dilepaskan dari kewajian negara untuk memberikan layanan pos bagi masyarakat. “Posindo ini ada dua sisi mata uang. Di satu sisi sebagai lembaga bisnis harus mampu menghidupi diri sendiri, tetapi di sisi lain harus melayani di wilayah-wilayah yang dianggap tidak menguntungkan. Karena itu kami minta tetap diberikan ada margin bagi Posindo,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk   merestrukturisasi Posindo diperlukan dana yang lumayan esar mengingat hampir   70 persen kantor cabang masih menjadi  cost center. “ Lima tahun itu untuk menyetarakan kondisi Posindo dengan pesaing.  Harus diketahui dana  operasional masih dibawah rata-rata untuk industri,” jelasnya

Menurut Ketut, dana PSO yang  selama ini dikelola oleh Posindo tidak mencukupi sehingga berujung pada kekurangannya di tutupi oleh perseroan. “Memang sudah tepat PSO itu ditender. Hal ini agar keluar nominal aktual untuk menyelenggarakan PSO,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspres Indonesia (Asperindo) M. Kaderial menyarankan, sebelum PSO ditentukan, ada baiknya dibuat studi  komprehensif.

“Harus jelas dulu siapa yang akan dapat subsidi, besaran, dan areanya. Jangan sampai subsidi tersebut menjadi salah sasaran seperti sekarang ini. Selain itu harus jelas jenis usaha yang akan ditarik dana untuk PSO. Harus diingat jasa pengiriman itu banyak pengusaha kecilnya,” katanya.

Pada kesempatan lain, juru bicara Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM (Pustral UGM) Danang Parikesit menyarankan, menjalankan tender PSO harus melewati beberapa tahap.

Tahap pertama adalah   pemisahan rekening  PSO dan commercial ventures di Posindo, kedua, melakukan  restrukturisasi layanan pos, ketiga,  “pemutihan” hutang Posindo karena kebijakan masa lalu yang belum berorientasi commercial corporate.

“Setelah itu baru dilakukan trial tender dan dilanjutkan   full tender,” katanya.

Menurut Danang, selama ini terjadi salah pengertian di Posindo dimana PSO malah dijadikan seagai sumber pendapatan. “Selama ini PSO lebih pada pendekatan politis. Itu yang ingin diperbaiki di UU Pos,” katanya.[dni]

300909 Mereguk Keuntungan di Hari Fitri

Tak terasa bulan suci Ramadan sudah usai dijalankan oleh umat muslim dan hari kemenangan melawan hawa nafsu pun dirayakan pada pekan lalu.

Sama dengan umat muslim yang sedang merayakan kemenangan, operator telekomunikasi pun pada pekan lalu menikmati ’kemenangan” dalam bentuk lain yakni berupa melonjaknya trafik penggunaan jasanya yang berujung pada bertambahnya pundi-pundi perusahaan.

Bagi operator,  bulan Ramadan merupakan  lumbung keuntungan   dalam siklus tahunan pendapatan perseroan. Puncaknya adalah pada hari kemenangan dimana trafik bisa melonjak dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Jasa yang menjadi andalan adalah SMS, suara, dan akses data.

Biasanya bulan Ramadan berkontribusi hingga   30 persen dari pendapatan satu tahun sebuah operator telekomunikasi. Setelah bulan Ramadan, masa-masa indah bagi operator adalah  Natal dan Tahun Baru yang menyumbang 20 persen bagi total pendapatan, serta   liburan sekolah 15 persen, sisanya operator berharap dari hari-hari biasa.

Data resmi Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) memperkirakan trafik telekomunikasi jasa pesan singkat (SMS) pada lebaran 2009  dari tiga operator besar akan mencapai 1,283 miliar SMS per menit atau meningkat 31 persen ketimbang lebaran lalu dengan 977 juta SMS per menit.

Sementara untuk jasa suara diperkirakan akan mencapai 2,9 miliar panggilan per  menit atau naik 27 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar 2,28 miliar panggilan per menit. Ketiga operator besar yang dijadikan perhatian adalah Telkomsel, Indosat, dan XL yang menguasai hampir 80 persen pangsa pasar seluler.

Asosiasi Telekomunikasi Seluler (ATSI) sendiri memperkirakan lonjakan trafik percakapan mencapai 30-150 persen,   SMS (30%-200%), dan   data (50%-60%) dibandingkan dengan trafik harian.

Lantas bagaimana kinerja trafik operator di saat-saat hari puncak kemenangan? Berhasilkah keuntungan direguk di hari nan fitri.

Manager Komunikasi Telkomsel Suryo Hadiyanto mengungkapkan, jasa SMS masih menjadi primadona pada lebaran kali ini. Tercatat, 78 juta pelanggan Telkomsel mengirimkan 593 juta SMS pada H-1 dan 594 juta SMS pada hari H. Angka itu naik 65 persen dibanding pengiriman SMS di hari biasa yang mencapai 360 juta SMS

”Sedangkan untuk komunikasi suara,  saat hari H lebaran mencapai 953 juta erlang  atau meningkat 100 juta erlang dibandingkan trafik di hari normal,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Group Head Corporate Communication Indosat Adita Irawati mengatakan, jasa  SMS Indosat yang memiliki 33 juta pelanggan menjelang hari lebaran  atau 19 September 2009  meningkat menjadi sekitar 360,7 Juta  SMS  atau naik 39,5 persen  dibandingkan trafik SMS pada hari biasa di pertengahan Agustus.

Kenaikan tertinggi terjadi di daerah Jawa Barat (73,15%), Jawa Tengah  (57,35%) dan  Jawa Timur (48,50%).

Sementara pada hari H, terkirim   377,9 juta SMS atau naik 46,1 persen dibandingkan   pada hari biasa di pertengahan Agustus.

Sedangkan trafik suara pada   H-1 mengalami penurunan menjadi sekitar 3,05 juta Erlang atau sama dengan   183.309.147,60  menit okupansi jaringan,   atau turun sekitar 81.67 persen  dibandingkan dengan trafik  suara  pada hari biasa.

Adapun  pada hari H Lebaran trafik suara  mencapai 199,3 juta menit atau turun sekitar 11,22 persen dibandingkan dengan hari biasa pertengahan Agustus 2009.

Manager Komunikasi XL Febriati Nadira mengungkapkan, terjadi kenaikan trafik dari sekitar 24 juta pelanggannya mulai H-2 lebaran dengan 210 juta SMS atau naik 40 persen ketimbang hari biasa yang mencapai 150 juta SMS per hari.

Berikutnya pada H-1  terjadi pengiriman 270 juta SMS  dan  pada hari H terkirim 240 juta SMS.

”Kami mengalami trafik percakapan tertinggi pada hari H (20/9) dengan 925 juta panggilan atau naik 66 persen ketimbang hari biasa yang mencapai  555 juta panggilan dengan total durasi 505 juta menit,” kata Ira.

Medioker Bersinar

Tak hanya tiga besar yang bersinar, cahaya kemenangan pun sepertinya ikut dinikmati oleh pemain medioker seperti Mobile-8 dan Bakrie Telecom dengan merek dagang Esia.

Manager Komunikasi Mobile-8 Yolanda Nainggolan menjelaskan, mobile-8  yang memiliki 3,3 juta pelanggan juga mengalami lonjakan penggunaan SMS. Tercatat, pada hari H-1 terkirim 3,664 juta SMS atau naik 21,25 persen dibandingkan hari biasa. Sedangkan pada hari H, mencapai 3,459 juta SMS atau naik 16,8 persen dibandingkan hari biasa yang mencapai 2,885 juta SMS.

Panggilan suara juga mengalami kenaikan pada H-1 mencapai 7,513 juta panggilan atau naik 6 persen dibandingkan hari biasa yang mencapai  7.037 juta panggilan.

Sementara Wakil Direktur Bidang Jaringan Bakrie Telecom M. Buldansyah mengatakan, rta-rata trafik suara pelanggan Esia mengalami kenaikan 40 persen sedangkan  untuk sms kenaikannya rata-rata 20 persen.

Bahkan pada saat puncak yaitu hari lebaran, trafik percakapan telepon dan suara di jaringan Esia mengalami lonjakan sampai hampir 100 persen. „Sedangkan sehari sebelum dan sesudah hari lebaran trafik sms mengalami pertumbuhan hampir 50 persen dari rata-rata trafik sms sebelumnya,“ katanya.

Berdasarkan catatan, Esia dihari biasa mengirimkan 65 juta SMS per hari dan 18 juta panggilan dengan rata-rata durasi  5 hingga 10 menit.

Perkiraan Pendapatan

Jika dihitung pendapatan dari hanya jasa SMS dengan melihat dari trafik tertinggi, pada satu hari masing-masing operator dengan menggunakan asumsi biaya pengiriman SMS sebesar 150 rupiah, maka Telkomsel diperkirakan dalam  mendapatkan dana segar sebesar 89,1 miliar  rupiah, Indosat (56.6 miliar rupiah), XL (40,5 miliar rupiah), dan Mobile-8 ( 549,6 juta rupiah).

Memperkirakan pendapatan dari SMS lebih mudah karena tidak ada biaya interkoneksi yang harus dibagi dua dengan operator lainnya layaknya di jasa suara. Begitu juga untuk akses data, pola langganan dengan unlimited membuat perkiraan perhitungan sulit dilakukan.

Praktisi telematika Ventura Elisawati mengatakan, terjadinya peningkatan jasa basic telephony di hari-hari besar merupakan hal yang biasa..

“Jika pun ada pendapatan yang terkesan masuk lumayan besar bagi operator harus dilihat juga upaya yang dikeluarkan berupa dana promosi dan program retensi. Itu kan juga lumayan besar,“ jelasnya.

Ventura mencatat, terjadi perubahan penggunaan jasa di operator tiga besar seiring arah promosi yang dibuat.

XL mengalami lonjakan di suara karena gencar mempromosikan tarif murah. Telkomsel meskipun ada kenaikan di trafik suara tetapi tidak begitu besar karena program promosi mengincar kualitas layanan.

Terakhir, penggunaan jasa suara Indosat  anjlok karena program promosi fokus di  SMS dan data. “Hal ini karena program promosinya memang menggencarkan produk IM3 yang terkenal murah SMS dan akses datanya,“ jelasnya.

Secara terpisah,  Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengakui, momentum Ramadan signifikan menaikkan penjualan. “Dari tahun ke tahun memang begitu. Tetapi dari sisi pendapatan tidak akan setinggi tahun lalu karena sudah terlalu banyak promosi  yang mengikis pendapatan,” katanya.

Promo yang dimaksud adalah   SMS murah unlimited dengan satu harga sepuasnya, paket murah bicara on net, dan bundling SMS atau suara. “Paket itu berarti bayar di depan.  Jangan-jangan malah banyakan SMS gratis yang terkirim lebaran lalu,” katanya.

Pada kesempatan lain, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan, meskipun secara umum operator mampu memberikan layanan yang berkualitas selama lebaran lalu, tetapi masih ada catatan penting yang harus diperbaiki.

“Masih ditemukan adanya SMS yang terkirim di atas 3 menit dalam satu jaringan operator. Ini harus diklarifikasi   karena standar regulator itu SMS harus terkirim di bawah 3 menit,” tegasnya.[dni]

300909 Akses Data Mulai Bersinar

Selain jasa suara dan SMS yang beberapa tahun belakangan ini menjadi primadona bagi pendapatan operator, maka pada lebaran tahun ini ada jasa lainnya yang mulai menunjukkan sinarnya. Jasa itu adalah akses data.

Tercatat, di jaringan Indosat   trafik akses  data   pada   H-1   meningkat menjadi sekitar 17,5 Terabyte atau naik 6,7 persen dibandingkan trafik data pada hari biasa di pertengahan Agustus.

Tetapi pada  pada hari H lebaran trafik data hanya  mencapai 15,7 terrabyte atau turun 4,6 persen dibandingkan dengan trafik data hari biasa di pertengahan Agustus 2009.

Keberhasilan akses data pelanggan Indosat lebih dari 99 persen yang berarti tidak ada permasalahan yang signifikan dalam koneksi data di jaringan Indosat. Kenaikan tertinggi terjadi di daerah Sumatra Selatan (32,4%), Sumatra Utara (22,3%), dan Jatim (18,3%).

Sedangkan di XL,  akses data mulai mengalami peningkatan pada H-2  yang mencapai 2,7 terabytes atau  naik 33 persen  dari trafik data di hari biasa.

Mobile-8 pun mengalami kenaikan   akses data melalui teknologi CDMA 1x  dimana terjadi 522 ribu percobaan atau naik 13 persen dibandingkan hari biasa yang mencapai 435 ribu percobaan.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi menduga, naiknya pamor jasa data pada lebaran tahun ini karena dipicu penggunaan datacard, smartphone seperti BlackBerry, iPhone dan ponsel canggih lainnya yang memungkinkan pengguna mengucapkan selamat hari raya melalui fasilitas instant messaging BlackBerry Messenger, Yahoo Messenger maupun Facebook

”Seharusnya jika kantor-kantor sedang libur terjadi penurunan trafik data. Secara delta (selisih) itu bisa mencapai 50 persen,” katanya di Jakarta, Minggu (26/9).

Tetapi adanya trafik   hari raya yang meningkat rata-rata 10 persen membuat adanya delta  60 persen.

Praktisi telematika Ventura Elisawati mengatakan, di beberapa operator memang terjadi pergeseran pola trafik dari basic telephony ke Value Added Servicess (VAS) yang membutuhkan akses data.

”Lihat saja di Indosat,  primadona operator itu tahun ini SMS dan data. Ini sejalan dengan  kampanye  yang menonjolkan pemakaian data   di kalangan anak muda. Artinya, arah pasar dan yang ditawarkan perusahaan ini sudah mulai bertemu, tinggal bagaimana jaringan datanya mendukung perkembangan itu,” jelasnya.

Sementara itu Heru menegaskan, seiring meningkatnya trafik data, mulai tahun depan regulator akan lebih memperhatikan kualitas layanan yang diberikan operator untuk jasa tersebut.

”Kami menerima laporan tentang perilaku semena-mena terhadap pelanggan untuk jasa data ini tanpa memperhatikan kualitas layanan menjelang lebaran lalu. Ini harus diklarifikasi,” katanya.

Dicontohkannya, XL yang mengalami gangguan di jaringan BlackBerry selama hampir lima hari menjelang lebaran, Telkomsel yang memotong bandwitdh langganan Telkomsel Flash tanpa pemberitahuan, atau masih memburuknya kualitas akses data IM2 milik Indosat.

”Kami sadar untuk menyelenggarakan akses data itu banyak terlibat pihak ketiga. Misalnya untuk BlackBerry juga tergantung pada akses ke server Research In Motion (RIM). Tetapi itu bukan menjadi permisif kualitas layanan diabaikan. Di industri ini tetap butuh contingency plan,” tegasnya.[dni]