050210 Maret, Regulasi Tarif Batas Atas Disahkan

JAKARTA—Menteri Perhubungan Freddy Numberi diperkirakan mensahkan revisi regulasi tarif batas atas untuk angkutan udara pada bulan depan setelah masa sosialisasi ke seluruh pemangku kepentingan selama bulan ini diselesaikan.

“Draft  memang sudah final disusun, tetapi masih harus sosialisasi antara satu hingga dua  minggu lagi. Hari ini (Kamis, 4/2) sosialisasi baru dilakukan dengan asosiasi penerbangan nasional (Inaca). Seterusnya dilanjutkan ke pengguna dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI),” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bhakti S Gumay, di Jakarta, Kamis (4/2).

Diungkapkannya, secara umum maskapai yang tergabung dalam Inaca setuju dengan prinsip revisi regulasi. “Jika  semua tahapan sosialisasi mulus,  bulan depan mungkin akan kami ajukan ke Menhub untuk ditandatangani,” katanya.

Direktur Angkutan Udara Tri S Sunoko mengungkapkan, maksimum kenaikan tariff batas atas mencapai 10 persen dari harga tiket yang berlaku saat ini. Harga tiket yang berlaku saat ini adalah tarif batas atas versi 2002, ditambah pajak, asuransi, dan fuel surcharge. Nantinya dalam revisi tersebut fuel surcharge akan disesuaikan dengan harga avtur yang berlaku saat ini.

“Kenaikannya bervariasi mulai 0-10 persen. Persentase ini rasional karena bisnis maskapai dalam kondisi kondusif dan sesuai dengan daya beli masyarakat,” jelasnya.

Dijelaskannya, nanti dalam   revisi akan ditegaskan golongan dari maskapai yang bisa menggunakan tarif batas atas sesuai dengan golongannya. Golongan berdasarkan jasa yang ditawarkan itu adalah  layanan maksimum (full service), menengah (medium services) dan minimum (no frill/ LCC).

Kategorisasi ini sesuai Pasal 97 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.

Nantinya untuk   maskapai full service 100 persen diperkenankan menggunakan tariff batas atas hingga 100 persen, medium (90 persen), dan no frill 85 persen.

Sebagai contohnya, tarif batas atas  rute Jakarta-Surabaya sebesar  1 juta rupiah, maka maskapai dengan full service diperkenankan membanderol harga satu juta rupiah,  kategori menengah paling tinggi memasang tarif  900 ribu rupiah dan kategori minimum  850 ribu rupiah.

Sementara Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Angkutan Udara Nasional (Inaca) Tengku Burhanuddin menegaskan,  belum ada kata sepakat antara  maskapai  dengan regulator terkait   draft revisi   secara keseluruhan.

“Masih ada beberapa hal  hal mendasar yang harus diubah,” katanya.
Misalnya, soal dasar perhitungan. Jika maskapai menggunakan perhitungan berbasis pesawat yang dipakai  Boeing 737-400, tetapi  regulator menggunakan   hitungan lain, tentunya    hasilnya ada perbedaan.

Namun, Tengku mengaku, senang karena banyak usulan-usulan dari pihaknya  yang diakomodir, meski tidak 100 persen diterima. Misalnya, soal pengenaan surcharge jika tarif belum ditetapkan ketika ada perubahan harga minyak di atas  10 ribu rupiah  per liter.

“ Kami juga realistis dengan membiarkan penetapan harga surcharge-nya ditentukan pemerintah supaya tidak ada perbedaan antaroperator seperti sebelumnya,” jelasnya.

Berkaitan dengan  perhitungan tarif berdasarkan pelayanan (full, medium, low), Tengku mengatakan,  secara prinsip mayoritas anggotanya setuju dengan itu.

“  Tetapi untuk tarif yang full service, ada anggota yang   masih belum bisa terima 100 persen, yaitu Garuda. Garuda minta treatment sendiri, minta dibedakan karena sekarang dia sudah bintang empat. Garuda tidak mau perbedaan tarif untuk full service terlalu dekat dengan yang lain,” katanya.[dni]

050210 Garuda Tambah Pesawat

JAKARTA—Maskapai nasional, Garuda Indonesia, berencana untuk menambah  sebanyak 23 pesawat baru jenis  Boeing 737-800 Next generation dan satu Airbus A330-200 pada tahun 2010 guna mendukung ekspansi ke rute domestik dan internasional.

“Pesawat yang akan datang pada tahun ini merupakan bagian dari  50 unit Boeing 737-800 Next Generation yang di pesan oleh perseroan dalam jangka waktu lima tahun ke depan,” jelas Direktur Utama  Garuda Indonesia Emirsyah Satar melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (4/2).

Dikatakannya,  pesawat – pesawat tersebut akan dilengkapi dengan interior terbaru dengan TV LCD layar sentuh pada setiap kursi di kelas bisnis dan kelas ekonomi dengan “Audio & Video on Demand (AVOD) entertainment systems” yang menawarkan 25 feature film and 25 audio tracks.

”Pada tahun ini Garuda berencana menambah 10 rute baru di domestik dan internasional, selain menambah frekuensi pada rute penerbangan ke  Singapura dan Hong Kong,” katanya.

Emirsyah mengungkapkan, pada 2014 nanti Garuda akan meningkatkan jumlah penerbangan domestik hingga 150 persen menjadi 2,072 penerbangan per minggu dan peningkatan penerbangan internasional menjadi tiga kali menjadi 1,222 penerbangan per minggu hingga 2014.

Garuda Indonesia juga merencanakan untuk melipat-gandakan jumlah pesawatnya dari 67 pesawat saat ini menjadi 116 pesawat selama lima tahun ke depan dengan tulang punggung pesawat Boeing 737-800 Next Generations dan A330-300/200 yang akan dioperasikan pada rute jarak pendek dan menengah.. Garuda Indonesia juga akan memperkenalkan 10 Boeing 777-300ER pada penerbangan jarak jauh mulai tahun 2011 sebagai bagian rencana ekspansi pada rute internasional.

”Pada tanggal 1 Juni 2010 Garuda  akan membuka penerbangan setiap hari non-stop rute Jakarta – Dubai – Amsterdam. Amsterdam akan menjadi kota pertama yang akan diterbangkan selain kota kota lainnya di Eropa yaitu Frankfurt, Paris, London dan Roma yang akan dilayani Garuda Indonesia sebagai bagian dari ekspansi-nya di rute internasional dalam lima tahun ke depan,” jelasnya.

Rencananya, rute penerbangan Amsterdam  awalnya akan dilayani dengan pesawat canggih Airbus 330-200 Garuda Indonesia dengan disain interior dan exterior baru yang diinspirasikan oleh semangat dan energy “nature’s wing”. Nantinya rute penerbangan ini akan dilayani secara nonstop dari Jakarta ke Eropa dengan Boeing 777-300ER setelah kedatangannya pada tahun 2011.

Berikutnya Emirsyah mengungkapkan, Garuda   juga telah melaksanakan “refurbish” atas enam pesawat Airbus 330-300 yang dimilikinya dengan fasilitas interior dan eksterior baru termasuk “full lie-flat beds” pada kelas bisnis dan “Video on Demand system”. Pelaksanaan refurbish ini akan selesai pada tahun 2010 ini dan pesawat dengan penampilan baru ini akan melayani beberapa rute internasional ke Australia, Korea dan Jepang.[dni]

050210 Lion Air Tambah Frekuensi Jakarta-Jeddah

JAKARTA—Maskapai swasta nasional, Lion Mentari Airlines (Lion Air)   akan menambah frekuensi penerbangan Jakarta – Jeddah (p.p) dari 2  kali seminggu menjadi 5  kali seminggu mulai 10 Februari 2010.

”Penerbangan Internasional itu   menggunakan  dua  pesawat Boeing 747-400 yang beregistrasi PK-LHF dan PK-LHG, berkapasitas 506 tempat duduk dengan konfigurasi 22 tempat duduk kelas Bisnis dan 484 tempat duduk kelas Ekonomi,” ungkap Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Jakarta, Kamis (4/2).

Dijelaskannya,  pada penerbangan internasional ini Lion Air memberikan full international in-flight service diantaranya full meal kepada para penumpangnya.

Dijadwalkan penerbangan akan dilaksanakan setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu dengan registrasi penerbangan JT 110 berangkat pukul 12.00 LT (Local Time) dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng dan tiba pukul 17.40 LT di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Sementara itu penerbangan JT 111 berangkat pukul 19.40 LT  dari Jeddah dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 09.10 LT keesokan harinya.

”Penambahan frekuensi sebagai konsekuensi adanya pencapaian load factor (daya angkut pesawat) yang cukup signifikan  yakni rata-rata 80 persen dan sudah semakin dikenalnya layanan penerbangan Lion Air ke Jeddah baik  di kalangan masyarakat tanah air maupun di wilayah Timur Tengah khususnya Jeddah serta untuk memenuhi permintaan pasar yang masih cukup besar,” jelasnya.

Diharapkannya,  penambahan layanan operasi penerbangan   akan semakin meningkatkan pangsa pasar penerbangan nasional untuk rute internasional khususnya pasar Timur Tengah serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang ingin melakukan perjalanan ke Timur Tengah khususnya Jeddah.

”Konsumen penerbangan ke Timur Tengah terdiri dari kalangan pebisnis, perjalanan rohani (umroh), serta tenaga kerja Indonesia. Penerbangan Jakarta – Jeddah ini dapat terkoneksi ke 32 rute domestik di Indonesia (via Jakarta) sehingga makin mempermudah perjalanan para penumpang yang berasal dari kota-kota tersebut atau sebaliknya,” katanya.[dni]

050210 Tender Trayek R-10 Langgar UU No 5/99

JAKARTA—Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan tender pekerjaan subsidi pengoperasian kapal perintis trayek R-10 di  Pangkalan Surabaya yang menggunakan tahun Anggaran 2009 melanggar Pasal 22 UU No 5/99 tentang  larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Pasal 22 berbunyi  pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.

Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan  pelaku usaha yang diduga melakukan pelanggaran dan ditetapkan sebagai terlapor  PT Samudrajaya Niaga Perkasa  (Terlapor I), PT Inti Samudera Abdi Nusantara (Terlapor II), dan Panitia Pengadaan Pekerjaan Subsidi Pengoperasian Kapal Perintis Trayek R-10 Pangkalan Surabaya Tahun Anggaran 2009 (Terlapor III).

“Dari hasil pemeriksaan ditemukan ada beberapa pelanggaran seperti  mengumumkan adanya lelang di  harian Media Indonesia dan Harian Bangsa tanpa menyebutkan nilai pekerjaan,  HPS disusun setelah proses aanwijzing, dan tidak melakukan evaluasi dokumen penawaran sesuai dengan kriteria evaluasi yang tercantum dalam RKS,” jelasnya di Jakarta, Kamis (4/2).

Selain itu ditemukan, PT Samudrajaya Niaga Perkasa telah memenangkan tender Pekerjaan Subsidi Pengoperasian Kapal Perintis Trayek R-10 Pangkalan Surabaya sejak tahun 2005 sampai dengan 2009 secara berturut-turut. Pada tahun 2009, KM Amukti Palapa (kapal yang digunakan selama ini) harus melakukan docking yang membutuhkan biaya yang cukup besar yang merupakan tanggung jawab pelaksana pekerjaan.

Terdapat persesuaian dokumen penawaran antara PT. Samudrajaya Niaga Perkasa dan PT. Inti Samudera Abdi Nusantara dalam mengikuti tender ini pada format laporan keuangan perusahaan dan RAB dan pendapatan kapal.

PT. Inti Samudera Abdi Nusantara tidak serius dalam mengikuti Tender Pekerjaan Subsidi Pengoperasian Kapal Perintis Trayek R-10 Pangkalan Surabaya Tahun Anggaran 2009 karena terdapat beberapa dokumen yang sebenarnya dimiliki oleh perusahaan.

Berdasarkan alat bukti, fakta serta kesimpulan  maka Majelis Komisi memutuskan menyatakan Terlapor I, Terlapor II, dan Terlapor III terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Untuk itu  Terlapor I membayar denda sebesar  dua ratus juta rupiah  yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).

“Kami juga melarang Terlapor II mengikuti proses tender pengoperasian kapal perintis  Trayek R-10 Pangkalan Surabaya selama jangka waktu 1 (satu) tahun setelah putusan ini berkekuatan hukum tetap,” katanya.[dni]