Terima Beasiswa Harvard, Dirut Sarinah Mundur

JAKARTA — Direktur Utama PT Sarinah (Persero) Jimmy Gani  meminta izin untuk mundur dari  dari jabatannya ke Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, karena ingin melanjutkan studi ke Harvard Kennedy School, Boston, Amerika Serikat.

“Saya sudah resmi mengirimkan  surat untuk izin menjadi  Dirut Sarinah , hari ini,” ungkap Jimmy di Jakarta, Senin (28/5).

Diungkapkannya, dirinya memilih untuk hanya tiga tahun menjadi orang nomor satu di Sarinah karena ingin  menimba ilmu di luar negeri di bidang administrasi publik di Amerika Serikat dengan masa waktu kuliah selama satu tahun di Harvard.”Saya mendapat beasiswa dari Harvard,” katanya.

Diharapkannya, pengganti dirinya yang akan ditunjuk adalah perwakiland dari direksi  lama yang sudah ada guna menjamin keberlangsungan Rencana Jangka Panjang (RJP) perseroan.

“Saya berpikir dalam menjalankan RJP dilakukan secara laancar diharapkan ada regenerasi sehingga peralihan bisa lebih baik. Para direksi dimasa saya ini akan bisa mengawal RJP itu,” kata.

Diakuinya, selama tahun lalu memimpin Sarinah, belum berhasil mencapai target yang ditetapkan oleh Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) baik dari laba atau omset. “Hanya 90 persen dari RKAP terpenuhi. Tapi tahun ini kita masih berani menetapkan pertumbuhan 20-30 persen untuk laba dan omset,” jelasnya.

Sarinah Square
Lebih lanjut diungkapkannya, dalam RJP dicantumkan untuk  mengembangkan bisnis properti akan  mendirikan Sarinah Squre yang mulai dibangun pada tahun 2013.

“Semester II pencanangan pembangunan Sarinah Square dilakukan, sehingga diharapkan dapat mulai dibangun pada tahun depan,” katanya.

Sarinah Square  akan dibangun di kawasan MH Thamrin, Jakarta,  dengan konsep pusat perbelanjaan terpadu yang juga terdapat kondominium, hotel dan perkantoran.

Properti setinggi 47 lantai itu akan berdiri di lahan seluas 2,7 hektare, sementara saat ini yang sudah dimiliki seluas 1,7 hektare.

Untuk merealisasikan pembangunan Sarinah Square tersebut, Sarinah akan menggandeng pengembang yang sudah pengalaman termasuk mencari pihak yang ingin bermitra dalam hal pendanaan.

“Kita akan melibatkan pihak-pihak yang memiliki reputasi di bidang properti, sehingga dapat memberikan hasil maksimal kepada Sarinah,” ujarnya.[dni]

Iklan

Obligasi Indosat Bisa Tembus Rp 3 Triliun

JAKARTA – Nilai obligasi yang diterbitkan PT Indosat Tbk (Indosat) bisa menembus angka tiga triliun rupiah jika kondisi pasar merespons positif surat hutang yang dilepas ke pasar pada medio Juni 2012.

“Kami menawarkan obligasi VIII sebesar dua triliun rupiah dan sukuk ijarah Indosat V tahun 2012 sebesar 500 miliar rupiah. Tetapi ada upsize room menembus angka tiga triliun rupiah dengan alokasi yang fleksibel sekitar 500 miliar rupiah tambahannya. Angka 2,5 triliun rupiah itu hanya minimal,” ungkap Presiden Direktur & CEO Indosat Harry Sosongko di Jakarta, Selasa (29/5).

Dijelaskannya, obligasi terdiri dari dua seri yaitu obligasi seri A berjangka waktu 7 tahun dengan kupon bunga di kisaran 7,875%-8,875% dan obligasi seri B berjangka waktu 10 tahun dengan kupon bunga di kisaran 8,125%-9,125%. Sedangkan sukuk ijarah senilai 500 miliar rupiah  berjangka waktu 7 tahun.  Adapun imbal hasil (return) yang diperolah 78,750 juta rupiah hingga 88,750 juta rupiah untuk satu miliar rupiah per tahun

Diharapkannnya, penerbitan obligasi  dapat mengurangi beban kupon bunga perseroan. Perseroan memiliki kupon bunga obligasi II seri B sebesar 16%. “Kami memutuskan membayar lebih awal obligasi yang diterbitkan 2002 lalu untuk meringankan beban bunga,” katanya.

Rincian lain penggunaan dana hasil penerbitan obligasi nantinya untuk  pembayaran lisensi jaringan kepada pemerintah sekitar 65 persen, sedangkan sekitar 25 persen untuk pembelian base station subsystem (BSS), serta sekitar 10 persen untuk melaksanakan opsi beli atas obligasi Indosat II tahun 2002.

Hal ini berarti untuk pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi alokasinya  sebesar 1,3 triliun rupiah, BSS mencapai satu triliun rupiah dengan asumsi adanya tambahan dari sukuk ijarah 500 miliar rupiah, dan 200 miliar rupiah untuk opsi beli atas obligasi Indosat II.

Berkaitan dengan rencana penambahan frekuensi 3G, Harry mengaku, terbuka untuk menambah kanal, asalkan harga yang ditawarkan pemerintah rasional. “Kita mau menambah kanal, tetapi harganya harus realistis,” katanya.

Direktur PT Mandiri Sekuritas Iman Rachman mengungkapkan, jika  melihat dari rating, penawaran obligasi dimungkinkan untuk dinaikkan. “Namun potensi kenaikan penawaran tersebut akan bergantung dari hasil book building dan kupon yang ditawarkan,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, Pefindo, pada 16 April 2012 lalu memberikan peringkat untuk Indosat berikut obligasi-obligasi yang ditawarkannya. Peringkat itu adalah id AA+/Stable Outlook untuk obligasi Indosat VIII tahun 2012 dan id AA (sy)+/Stable Outlook untuk Sukuk Ijarah Indosat V tahun 2012. Sedangkan Fitch pada 30 April 2012 telah memberikan peringkat nasional AAA(idn) untuk kedua obligasi tersebut.

Bookbuilding akan berlaku mulai 29 Mei 2012 dan berlanjut sampai dengan 8 Juni 2012. Tanggal efektif diharapkan pada 18 Juni 2012 bersamaan dengan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 Juni 2012.

Secara terpisah, Managing Research Indosurya Asset Management, Reza Priyambada menilai kupon yang ditawarkan untuk obligasi Indosat lumayan menarik dengan peringkat yang disandangnya dari lembaga pemeringkat.

“Kalau melihat beberapa tahun ini dari penerbit obligasi dengan status yang sama, memang rata-ratanya sebesar itu. Rentangnya lumayan menarik dibanding yang ditawarkan LPS,” katanya.

Menurutnya, obligasi yang ditawarkan Indosat ini masih tergantung pada kondisi pasar yang masih dihantui sentiment negatif belakangan ini. “Jika sentiment positif mulai muncul, biasanya yang diburu pertama itu obligasi ketimbang saham. Pasalnya, kupon yang ditawarkan memberikan jaminan keuntungan bagi investor.  Tetapi harus diingat, sekarang investor banyak menahan diri karena belum ada sentiment positif untuk masuk ke pasar,” jelasnya.[dni]

BTEL akan Terus Merugi

JAKARTA – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan terus merugi hingga semester pertama 2012 karena tekananhutang dalam bentuk dollar AS dan belum membaiknya penjualan dari pemilik merek dagang Esia itu sejak tahun lalu.

“Kami sudah pernah ungkapkan beberapa waktu lalu perseroan akan terus merugi karena turn around belum selaesai. Kita perkirakan kondisi rugi ini akan berlanjut hingga semester pertama tahun ini. Baru di semester kedua, sinyal positif didapat,” ungkap Wakil Deputi Presiden Direktur dan Direktur Keuangan Jastiro Abi ketika dihubungi Jumaat (1/6).

Diungkapkannya, faktor pemicu meruginya perseroan pada kuartal I-2012 tak bisa dilepaskan dari tidak bagusnya penjualan dari Esia. “Kita investasi besar, wajar ada depresiasi. Tetapi penjualan tidak mampu menaikkan Average Revenue Per User (ARPU). Beberapa perbaikan sedang dilakukan seperti membentuk tim pemasaran baru. Kalau bicara hutang dalam bentuk dollar AS, kita lakukan lindung nilai (hedging) hampir 75 persen,” jelasnya.

Dalam keterbukaan informasi perseroan pada otoritas bursa, terungkap  BTEL mengalami kerugian 355,62 miliar rupiah atau naik  764,67 persen  dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang hanya 41,128 miliar rupiah.

Direktur Utama Bakrie Telecom  Anindya Bakrie dalam keterbukaan tersebut menyatakan perseroan  mengalami  rugi kurs  sebesar 56,466 miliar rupiah dalam tiga bulan pertama di 2012, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang membukukan keuntungan kurs 115,871 miliar rupiah.

Sedangkan pendapatan bunga  mengalami penurunan sebesar 88,71 persen dari 4,07 miliar rupiah kini tercatat 452,205 juta rupiah. Beban keuangan turut meningkat  tipis 4,801 persen menjadi 210,206 miliar rupiah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 200,575 miliar rupiah.

Kondisi ini menyebabkan beban lain-lain perseroan melonjak 256,83 persen menjadi 266,365 miliar rupiah dari sebelumnya  74,646 miliar rupiah.

Pendapatan usaha   turun 26,61 persen menjadi 526,599 miliar  rupiah di tiga bulan pertama 2012 dibanding dengan periode yang sama tahun lalu 717,940 miliar rupiah.

Penurunan pendapatan usaha ini disebabkan turunnya pendapatan jasa telekomunikasi sebesar 26,07 persen dari 830,999 miliar rupiah menjadi 614,355 miliar rupiah. Selain itu, jasa interkoneksi juga turut turun 14,58% menjadi 58,963 miliar rupiah dibanding periode yang sama tahun lalu 69,033 miliar rupiah.

Posisi kas dan setara kas anak usaha Kelompok Usaha Bakrie ini melorot sampai 215,29 miliar rupiah pada Maret 2012 dibandingkan Maret 2011 yang sebesar 802,3 miliar rupiah.

Perseroan hanya berhasil menekan beban usaha sekitar 1,13% dari 704,981 miliar rupiah menjadi 696,967 miliar rupiah.Sedangkan rugi usaha diderita sebesar 170,368 miliar rupiah.

Hingga kuartal I-2012, total aset esia tercatat 12,028 triliun rupiah. Angka ini mengalami penurunan 1,51 persen  bila dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2011 sebesar 12,213 triliun rupiah.

Sebelumnya, peringkat  Bakrie Telecom  dan obligasi I tahun 2007 diturunkan menjadi idBBB- dari sebelumnya idBB oleh Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Peringkat tersebut pun ditempatkan pada posisi credit watch dengan implikasi negatif.

Penurunan peringkat ini mencerminkan meningkatnya risiko pembiayaan kembali untuk obligasi perseroan sebesar 650 miliar rupiah yang jatuh tempo 4 September 2012. Padahal,  BTEL dikabarkan  akan mendapatkan  fasilitas kredit baru yang akan digunakan untuk melunasi 70 persen dari jumlah pokok obligasi  yang tengah difasilitasi oleh Credit Suisse AG cabang Singapura.

Makin runyam, rencana perusahaan untuk mengundang investor strategis baru melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) yang akan digunakan untuk melunasi 30 persen sisa hutang juga masih memiliki ketidakpastian yang tinggi.[dni]

Waspadai Apresiasi Dollar AS

Pergerakan mata uang dollar AS yang terus menunjukkan penguatan terhadap Rupiah patut diwaspadai oleh pelaku usaha, terutama bagi yang banyak mengandalkan  transaksi atau pendanaan dengan dollar AS.

Pada akhir pekan lalu posisi satu dollar AS setara dengan 9.239 rupiah. Jika dirujuk pada seminggu terakhir bulan April, nilai tukar rupiah   mengalami kondisi yang stagnan.  Jelang tutup April Rupiah bergerak tipis di posisi  9.183 rupiah  dipicu oleh intervensi Bank Indonesia di pasar uang.

Sedangkan pada awal Mei ini hal yang memicu terpuruknya rupiah adalah  kekhawatiran terhadap pertumbuhan global dimana menjelang keluarnya data tenaga kerja dan angka pengangguran AS yang diperkirakan mengecewakan membuat pelaku pasar melepas portofolio asetnya dalam mata uang yang dianggap berisiko tinggi di pasar berkembang, seperti rupiah dan mata uang regional lainnya. Imbasnya, bursa dan mata uang Asia kembali terdepreasi terhadap dolar AS.

Secara keseluruhan menguatnya dollar sejak kuartal pertama 2012 tak bisa dilepaskan dari masih belum menentunya kondisi perekonomian di Eropa. Sedangkan di dalam negeri  kebijakan pemerintah terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih mengambang membuat Rupiah menari-nari memicu jantung berdegup kencang.
 

Pengamat pasar uang dari Monex Investindo Futures  Yohanes Ginting mengungkapkan ekonomi yang mulai mengalami kontraksi, melambatnya aktivitas manufaktur kawasan Eropa, serta sinyal perlambatan ekonomi AS membuat para pelaku pasar kembali memburu mata uang yang dianggap aman, yakni dolar AS dan yen Jepang.

Diduganya, jika pun terjadi penguatan rupiah tak bisa dilepaskan dari Bank Indonesia yang selalu konsisten di pasar untuk menjaga mata uangnya agar tidak berfluktuasi terlalu tajam mampu meredam pelemahan rupiah lebih dalam.  

Analis dari Indosurya Asset Management Reza Priyambada menyarankan pelaku usaha untuk mewaspadai apresiasi dollar AS selama kuartal kedua 2012 karena akan berpengaruh pada bottom line perseroan.

“Pelaku usaha seperti di telekomunikasi harus mewaspadai melemahnya rupiah. Kondisi di kuartal pertama jangan terulang dimana bottom line banyak terpukul karena apresiasi dollar AS,” katanya.

Berdasarkan catatan, dua operator besar terhantam oleh apresiasi dollar AS kinerjanya. Laba  Indosat mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I/2012 dari posisi  483,7 miliar rupiah pada kuartal I/2011 menjadi  16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini.

Penurunan laba terjadi karena menguatnya (Apresiasi) nilai tukar dollar Amerika Serikat sehingga walau terjadi pertumbuhan pendapatan tak mampu menutupi penurunan. Indosat memiliki transaksi dengan dollar AS yakni dalam menjual Sambungan Langsung Internasional (SLI), tetapi anak usaha Qatar Telecom (Qtel) ini banyak juga berhutang dan berinvestasi menggunakan dollar AS.
 
Kondisi yang sama juga terjadi di XL. Anak usaha Axiata ini menderita penurunan laba bersih 11% di triwulan I-2012, menjadi 667,207 miliar rupiah dari tahun sebelumnya dengan periode yang sama  756,052 miliar rupiah.

Turunnya kinerja laba XL tak bisa dilepaskan juga  dari kerugian nilai tukar mata uang asing karena terapresiasinya dollar AS. Apalagi, beban operasional mengalami kenaikan  terutama pada biaya infrastruktur yang biasanya dalam dollar AS naik hingga 33% di kuartal I/2012 dari  918 miliar rupiah  menjadi  1,216 triliun rupiah.
 
Disarankan Reza, operator   melakukan lindung nilai (Hedging) untuk setiap transaksi yang melibatkan dollar AS. ”Ini bisa melindungi dari kerugian jika dollar AS menguat seperti kuartal pertama lalu. Apalagi tren penguatan dollar AS ini berlanjut ke kuartal kedua 2012,” sarannya.

Menurutnya, jika operator melakukan Hedging akan menguntungkan karena nilai dollar AS dipatok di angka tertentu kala transaksi dilakukan, ketimbang mengandalkan nilai pasar. ”Jika ada potensi kerugian itu kalau salah hitung dalam angka hedging. Tetapi jika semua aspek dihitung dengan tepat, tidak akan meleset,” jelasnya.

Masih menurutnya, pertumbuhan industri telekomunikasi pada kuartal kedua tak akan jauh berbeda dengan kuartal pertama 2012 karena kondisi pasar yang sudah jenuh. ”Operator mengandalkan pertumbuhan dari segmen komunitas dan jasa data. Kalau membuka pasar baru rasanya tidak ada yang mau beresiko tinggi karena nilai investasinya besar,” katanya.[dni]
 
 

Telkom Patok Omset Tumbuh 6,5%

JAKARTA— PT Telekomunikasi  Indonesia Tbk (Telkom) optimistis  pertumbuhan pendapatan pada tahun 2012  mencapai 6,5 persen dengan dukungan belanja modal sebesar 16 triliun rupiah.

“Pertumbuhan pendapatan akan  didorong peningkatan jaringan infrastruktur, pengembangan layanan internet, media, dan edutaintment,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah  di Jakarta, Rabu (14/3).

Diungkapkannya, Telkom tetap akan agresif berinvestasi pada tahun ini terutama untuk mendorong layanan data. Hal itu bisa terlihat dari naiknya belanja modal dari 14 triliun rupiah menjadi 16 triliun rupiah dimana pendanaan berasal dari dana internal dan pinjaman.  “Kenaikan belanja modal didorong peningkatan investasi pada infrastruktur dan layanan,” katanya.

Diungkapkannya,  investasi terbesar dialokasikan untuk perluasan jaringan seluler sebesar 60 persen, selebihnya untuk pengembangan layanan data dan jasa nilai tambah (Value Added Services/VAS).  Untuk infrastruktur, Telkom terus memperluas jaringan broadband dan pembangunan kabel bawah.

“Melalui program Nusantara Highway, Telkom sudah menyelesaikan pembangunan jaringan serat optik Mataram-Kupang. Kita juga segera merealisasikan jaringan dari Manado hingga Papua,” tegas Rinaldi.

Dikatakannya, perseroan  mengalokasikan investasi sekitar satu triliun rupiah  untuk mengganti seluruh jaringan kabel tembaga miliknya dengan serat  optik. Penggantian jaringan kabel tembaga sudah dilakukan sejak tahun 2011, diharapkan rampung pada tahun 2015.   Untuk menyelesaikan penggantian jaringan kabel tembaga tersebut, Telkom menggandeng PT Inti (Persero). Dalam dua tahun ke depan seluruh jaringan kabel Telkom sudah berganti menjadi serat optik.

Dijelaskannya, perseroan memiliki strategi untuk fokus pada bisnis data dan internet, memperkuat jasa seluler, menumbuhkan bisnis Information, Media, and Edutainment (IME), dan mempertahankan bisnis telepon kabel.

“Cloud computing atau komputasi awan akan kita geber.    Melalui cloud computing, Telkom menyediakan solusi teknologi informasi bagi segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar pelaku usaha mendapatkan jaminan dalam menjalankan usaha,” katanya.

Telkom   juga terus mengembangkan layanan triple play  yang memadukan internet, televisi dan telekomunikasi pada saat yang bersamaan. “Kami tidak saja melakukan pengembangan layanan secara internal, tetapi juga menjalin aliansi strategis dengan sejumlah pihak seperti Microsoft, termasuk dengan dengan anak usaha Telkom sendiri,” katanya.

Diungkapkannya, hingga akhir tahun 2011, jumlah pelanggan seluler mencapai 107 juta nomor, pelanggan Speedy 2 juta nomor, telepon tetap nirkabel (FWA) Telkom Flexi sebanyak 15 juta nomor, telepon tetap kabel (fixed line) 8 juta nomor, dan pelanggan BlackBerry sekitar 3 juta nomor.

Akuisisi StarOne

Berkaitan dengan isu akuisisi StarOne, Rinaldi mengakui ada  keinginan untuk mengakuisisi layanan Fixed Wireless Access (FWA) berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) dari Indosat tersebut.

“Kita selalu pada posisi mengkaji setiap rencana akuisisi yang akan dijalankan perusahaan.  Memang belum ada proposal kepada Kementerian BUMN, namun setiap kajian kalau akan direalisasikan akan disampaikan kepada pemegang saham. Kalau Pak Dahlan Iskan  selalu mendukung,” jelasnya.

Sementara Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko menjelaskan, pihaknya terbuka untuk bekerjasama dengan operator mana saja untuk mengutilisasi aset yang dimiliki. “Kita selalu mengaji kemungkinan yang bisa dikerjakan dengan para rekanan. Baik itu untuk jaringan aktif, penyediaan konten, atau lainnya.” Jelas Harry.

Analis dari Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengatakan, jika aksi akuisisi itu terjadi akan menguntungkan bagi Indosat karena beban perseroan berkurang. Sementara dari sisi Telkom memiliki peluang untuk mengembangkan jasa Flexi, tetapi dengan tantangan nantinya bisa berhadapan dengan anak usaha lainnya, yakni Telkomsel.

Sebelumnya,  Menneg BUMN Dahlan Iskan mempersilahkan Telkom melakukan aksi akuisisi  StarOne dengan syarat dapat dipertanggungjawabkan dan memberikan pertumbuhan bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu.[dni]

Garuda Konsumsi 20% Avtur Pertamina

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengonsumsi 20 persen dari produksi avtur milik PT Pertamina (Persero).

“Garuda dengan 89 pesawat yang dimilikinya mengonsumsi 20 persen aviasi nasional. Jika jumlah armadanya meningkat menjadi  154 unit, maka konsumsi aviasinya bisa naik dua kali lipat,” ungkap Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan di Jakarta, Senin (5/3).

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengungkapkan, setiap tahunnya perseroan  mengeluarkan dana sebesar  9 triliun rupiah  untuk pembelian avtur kepada Pertamina dan juga Perusahaan asing penyuplai avtur di bandara-bandara luar negeri.

“Kami mengonsumsi  avtur sebanyak 1,1 miliar liter per tahun untuk pengoperasian pesawat-pesawat.  Pertamina   menyuplai avtur kepada Garuda Indonesia sebanyak 700 juta liter per tahun atau 74 persen dari total konsumsi, sedangkan sisanya sebanyak 400 juta liter berasal dari perusahaan minyak asing,” katanya.

Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan menambahkan,  pada saat ini perseroan tidak memiliki utang pembelian avtur kepada  Pertamina. Perseroan melakukan pembayaran avtur Pertamina setiap dua minggu sekali.

“Harga avtur pertamina lebih mahal dibandingkan dengan harga avtur di luar negeri. Kita tidak tahu  kenapa avtur Pertamina lebih mahal. Makanya pembayaran selalu cepat,” tutur Elisa.

Karen kala dikonfirmasi menjelaskan, harga avtur Pertamina lebih mahal dibandingkan dengan bandara-bandara luar negeri dikarenakan Pertamina dikenakan biaya tambahan dari pengelola bandara Indonesia. “Misalnya, untuk penggunaan selang pengisian avtur kita dikenakan biaya tambahan.” ungkap Karen.

Akurat

Lebih lanjut Emirsyah menjelaskan, guna  meningkatkan efisiensi dan akurasi proses penyiapan data dan pembayaran penggunaan avtur antara kedua perusahaan, diluncurkan  aplikasi fuel reconcile system (sistem pembayaran avtur terintegasi) melalui Fuel Online Garuda (FOGA) dan Online Sales Distribution System (OSDS).

“Melalui aplikasi ini, data pengisian avtur dapat diketahui kedua belah pihak secara cepat. Dengan transaksi 25 miliar rupiah perhari atau 9 triliun rupiah  per tahun, maka verifikasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat. Garuda juga dapat melakukan penghitungan perencanaan penggunaan avtur secara lebih cepat dan tepat,” kata Emir.

Menurutnya,   sistem aplikasi ini juga akan mengurangi tingkat keterlambatan dalam pengisian bahan bakar ke pesawat.  “Dalam empat tahun kedepan jumlah pesawat kami mencapai 154 unit pesawat, sedangkan jika ditambah anak usaha PT Citilink Indonesia menjadi 180 unit pesawat, untuk itu sistem pembayaran avtur terkoneksi ini sangat dibutuhkan,” lanjutnya.

Saat ini keseluruhan proses FOGA sudah dilakukan di bandara yang diterbangi oleh Garuda meliputi 33 bandara domestik dan 17 bandara internasional. Ke depannya, sistem FOGA-OSDS ini akan dikembangkan untuk Branch Office Garuda overseas yang dilayani oleh Pertamina, yaitu Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Hongkong, dan Seoul,

Karen menambahkan,  aplikasi FOGA-OSDS ini dipastikan dapat membuat proses bisnis menjadi lebih efektif dan efisien. “Melalui FOGA-OSDS, kedua perusahaan dapat memonitor transaksi pengisian bahan bakar dan delivery receipt sebagai bukti pengisian fuel secara realtime,” kata Karen.

Selain itu, tambah dia, proses verifikasi sejak dini dapat dilakukan, sehingga proses pencatatan dan penagihan menjadi sangat efektif dan efisien bagi kedua perusahaan. Hal ini, menurutnya, akan membantu Pertamina dalam hal angkut penagihan, sehingga cash flow perseroan akan lebih baik.

“Sebelumnya pembayaran avtur oleh Garuda kepada Pertamina dilakukan dalam tempo dua minggu sekali. Sedangkan untuk sistem yang baru ini pembayaran dilakukan pada keesokan harinya,” tambah Elisa.[dni]

 

Akusisi PPD-Damri Tuntas 2012

JAKARTA–Kementrian Badan Usaha Milik Negara (KemenBUMN) menargetkan akuisisi Perum PPD dan Perum Damri oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI)  bisa tuntas tahun ini agar integrasi di sektor transportasi bisa terjadi.

“Tahun ini harus bisa diselesaikan. Tidak sulit bagi KAI untuk mengakuisisi PPD dan Damri karena jenis usahanya hampir sama yakni  transportasi darat,” ungkap Menteri BUMN Dahlan Iskan di Jakarta, Senin (5/3).

Dijelaskannya,  sebelum diakuisisi, badan usaha PPD dan Perum Damri harus terlebih dahulu berbentuk Perseroan Terbatas (PT), setelah itu. Selanjutnya diakuisisi KAI dan dijadikan anak usaha.

“Pokoknya saham Perum PPD dan Damri bisa 100 persen dikuasai KAI,” ujar Dahlan.

Menurutnya,  PPD dan Damri layak untuk dimerger dan sudah sesuai dengan rencana pemerintah untuk tidak lagi mengurusi BUMN yang bergerak dalam jasa angkutan bus.

Dikatakannya,  sinergi pada BUMN sektor transportasi  merupakan bagian dari program right sizing (penataan) BUMN dari berjumlah 140 BUMN pada 2011 menjadi sebanyak 77 BUMN pada 2014.

 Tidak hanya mengakuisisi PPD dan Damri, KAI nanti juga akan dimerger dengan PT Industri Kereta Api (Inka).

 “INKA dan KAI juga masuk dalam rencana jangka panjang Kementerian BUMN untuk membenahi perusahaan milik negara,” ujarnya.

Untuk merealisasikan aksi korporasi antara INKA dan KAI tersebut dibutuhkan waktu yang lebih lama.

“Butuh waktu 2 tahun, karena harus mengkaji berbagai aspek dari kedua pihak,” ujarnya.

 KAI selama ini selain membeli gerbong dari INKA juga melakukan pembelian gerbong bekas. Sementara INKA memiliki keterbatasan pendanaan untuk memproduksi pesanan gerbong untuk KAI maupun pesanan dari luar negeri.

 “Adanya merger tersebut diharapkan masalah pengadaan gerbong untuk KAI termasuk pendanaannya bakal dapat diatasi,” ujarnya.

PT KAI sendiri pada 2011 mengangkut. 157,68 juta penumpang dengan  pendapatan angkutan penumpang sebesar 2,64 triliun rupiah.

Pada tahun ini KAI menargetkan total pendapatan operasi 2012 sebesar  6,22 triliun rupiah.

Pendapatan angkutan barang ditargetkan dapat berkontribusi 47,58 persen atau 2,96 triliun rupiah. Sedangkan pendapatan angkutan penumpang ditargetkan menyumbang  3,26 triliun rupiah.

Target pendapatan angkutan barang 2012 yang ditingkatkan dari target 2011 sebesar  2,76 triliun rupiah.[Dni]