250210 Bersaing Demi Sang Bintang

Perangkat besutan Research In Motion (RIM), BlackBerry, bisa dikatakan sebagai sang Bintang di industri telekomunikasi dalam negeri sejak tahun lalu.

Tak percaya? Sejak dibesut oleh Indosat enam tahun lalu, pada 2009 bisa dikatakan sebagai eranya BlackBerry. Pertumbuhan perangkat yang identik dengan push mail dan BlackBerry Messenger itu mencapai ratusan persen pada 2009 berkat adanya pola berlangganan harian, mingguan, atau bulanan.

Sebelumnya, ketika BlackBerry digeber oleh tiga operator, (Telkomsel, Indosat, dan XL) yang banyak menyasar pasar korporat, perangkat ini penjualannya adem ayem karena harga berlangganan bisa mencapai 500 ribu rupiah sebulan.

Saat ini diperkirakan pengguna layanan RIM di Indonesia berdasarkan mitra  adalah XL (260 ribu pelanggan),  Indosat (275 ribu pelanggan), Telkomsel (250 ribu pelanggan), Axis (20 ribu pelanggan), dan Smart Telecom (200 pelanggan).

Jika pada tahun lalu terdapat lima operator yang bermain di jalur BlackBerry, maka mulai tahun ini akan bertambah satu pemain lagi yaitu, Hutchison CP Telecom (HCPT). Belum lagi ada Indosat yang mengekstensifikasi jasa BlackBerry untuk pelanggan Fixed Wireless Access (FWA) StarOne.

Layaknya ketika pertama kali masuk ke industri seluler, HCPT pun menggebrak dengan harga murah. Jasa BlackBerry dibanting dari biasanya per bulan sekitar 150-180 ribu rupiah dipangkas menjadi 88 ribu rupiah.

Keberanian dari HCPT menawarkan harga murah ini tentu tak bisa dilepaskan dari dukungan induk usahanya Hutchison Whampoa Telecommunication yang memiliki kerjasama dengan RIM dan backbone langsung ke server RIM.

Sedangkan  operator lainnya seperti XL menyewa backbone untuk ke server RIM milik Aicent dan Tata, Telkomsel ke Singtel dan Aicent, Smart ke Aicent, dan Indosat menggunakan serat optic sendiri.

Tetapi banyak kalangan menilai, HCPT hanya mendapatkan margin tipis dari harga tersebut karena RIM selama ini menetapkan per pelanggan biaya sebesar 6 hingga 10 dollar AS untuk menggunakan jasa BlackBerry Internet Services (BIS).  Angka itu diluar   biaya data.

Siap Bersaing

Group Head VAS Marketing Indosat Teguh Prasetya, GM Sales XL Handono Warih dan VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo, mengaku siap bersaing dengan HCPT dalam menjual sang bintang.

“Pertumbuhan penjualan dari BlackBerry tetap akan mencapai 2-3 kali lipat dari tahun lalu. Kami saja menawarkan BlackBerry untuk StarOne dengan harapan nantinya akan menyumbang 10 persen dari total pengguna BlackBerry Indosat,” kata Teguh.

Teguh mengaku tidak khawatir dengan gaya HCPT yang membanting harga karena sebagai pendatang baru hanya itu alat yang bisa digunakan untuk menarik perhatian pasar.

“Beda harga yang mereka tawarkan tidak signifikan. Loyalitas di segmen ini ditentukan oleh brand awareness yang didapat melalui word of mouth. Sekarang persaingan tinggal siapa yang bisa  memberikan solusi   lebih menarik  dengan  dukungan  kehandalan kualitas jaringan dan pelayanan,” tegasnya.

Menurut Warih, bertambahnya pemain yang memasarkan BlackBerry di Indonesia sebagai strategi dari RIM untuk mempercepat pertumbuhan jasanya di Indonesia agar operator tidak berjualan perangkat saingannya seperti iPhone atau android.

Hal ini karena BlackBerry bsia menawarkan pendapatan yang menjanjikan dan konsumsi bandwidth yang bisa dikontrol. “Tetapi kami tidak khawatir karena peluang pasarnya masih luas,” katanya.

Sedangkan Gideon mengaku, semakin bergairah dengan adanya pemain baru karena pasar akan semakin kompetitif. “ Kami akan menyesuaikan diri dengn perkembangan pasar,” katanya.

Sementara Head of Core Marketing Product & Branding Smart Telecom Ruby Hermanto menegaskan tidak gentar dengan langkah Indosat yang menawarkan BlackBerry berbasis teknologi CDMA.

“Kami masih operator pertama berbasis teknologi CDMA di Indonesia yang memiliki kerjasama dengan RIM, sehingga masih banyak yang bisa dieksplorasi. Selain itu, lisensi Smart adalah seluler, tentunya kami lebih mendukung kinerja pengguna ketimbang FWA,” katanya.

Dijelaskannya, Smart dalam menawarkan BlackBerry juga membundel dengan akses internet  unlimited menggunakan teknologi Evolution Data Optimized (EVDO) menggunakan APN Smart bukan RIM. “Jadinya perangkat bisa dijadikan modem dengan tarif lebih murah. Selain itu, dalam peluncuran BlackBerry Tour nantiya kami akan menawarkan paket lainnya yang lebih kompetitif,” tegasnya.

Belum Turun

Sayangnya, walau pemain sudah mulai banyak, para pemain incumbent sepakat tidak akan memangkas biaya berlangganan pada tahun ini. Pasalnya, selain harus membayar biaya bulanan per pelanggan ke RIM, letak server  yang masih di Kanada sebagai pemicu masih mahalnya tarif.

“Kalau server RIM ada di Asia, itu bisa lain cerita. Bisa jadi tarif menjadi turun. Sekarang marginnya tipis sekali,” ungkap Gideon.

Warih menambahkan, makin banyak pemain tidak menjamin tarif akan turun karena skala eknomi yang diciptakan masing-masing operator berbeda. “Pelanggan jangan melihat tarif murah dari pemain baru. Bisa saja itu hanya bagian dari strategi meraup pelanggan baru, setelah itu tarif promosinya hilang,” katanya.

Sebagai incumbent, XL akan memperkaya layanan ke pelanggan dengan memberikan Value Added Services (VAS) berupa aplikasi XL Mall atau roaming internasional. “Sayangnya untuk VAS pelanggan BlackBerry masih butuh edukasi. Pelanggan masih senang dengan instant messaging atau situs jejaring sosial,” keluhnya.

Secara terpisah, Praktisi Telematia  Faizal Adiputra melihat ada berbagai motivasi bertambahnya pemain baru untuk sang bintang. Bagi Indosat  untuk menyelamatkan StarOne yang tidak mengalami pertumbuhan pelanggan signifikan sejak beberapa tahun lalu.

Bagi RIM upaya untuk menghadang pemain sejenis. “Sedangkan HCPT, ingin mengoptimalkan backbone yang telah dimiliki oleh induk usahanya. Apalagi, HCPT tidak memerlukan investasi besar untuk edukasi, sekarang tinggal diacak-acak dengan tarif murahnya,” katanya.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan, tidak dapat berbuat apa-apa terkait penurunan tarif jasa BlackBerry karena saat ini belum ada laporan resmi dari operator.

“Kami tidak bisa bergerak jika tidak ada laporan dari pengguna atau operator. Baiknya jangan berteriak di media massa ingin pemindahan server. Harusnya bicara tegas ke RIM. Posisi tawar Indonesia itu kuat, kok malah dibiarkan diobok-obok perusahaan asing,” keluhnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s