230210 Alcatel-Lucent Lakukan Panggilan LTE Pertama

JAKARTA—Alcatel-Lucent (ALU) berhasil  melakukan panggilan 4G pertama dalam rangka tes laboratorium Long Term Evolution (LTE) bersama  operator asal Amerika Latin, Telefónica pada pertengahan Februari lalu.

President of LTE/4G Solutions for Alcatel-Lucent Ken Wirth melalui keterangan tertulisnya menjelaskan,  tes tersebut bertujuan menganalisa kematangan teknologi LTE dalam situasi nyata.

Dalam uji coba itu  solusi end-to-end LTE yang digunakan Telefonica  milik ALU, termasuk base station, peralatan transmisi, Evolved Packet Core (EPC), berikut

desain profesional dan  layanan integrasi  yang dikombinasikan dengan perangkat dari

LG Electronics.

“Penyebaran LTE akan memberikan pengalaman dan kualitas layanan yang jauh lebih unggul daripada jaringan 3G/3.5G yang ada saat ini kepada para

penggunanya. Karena itu para penyedia jaringan terus-menerus mematangkan teknologi ini,” katanya.

Dijelaskannya, dalam fase kedua uji lapangan yang akan dimulai dilakukan di frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz digunakan untuk menilai performa LTE dalam hal cakupan dan kapasitas  untuk  pengiriman aplikasi multimedia mobile yang baru bagi para penggunanya, seperti video streaming berdefinisi tinggi, game mobile, transfer data berkecepatan tinggi, dan video conference.

Secara terpisah, Praktisi Telekomunikasi Gunadi Dwi Hantoro mengatakan, teknologi LTE akan mendapatkan tantangan jika inovasi  Worldwide Interoperablity for Microwave Access (Wimax) dioperasionalkan oleh operator Broadband Wireless Access (BWA) mulai tahun depan.

“Terdapat 16 operator BWA di Indonesia yang menempati frekuensi 2,3 dan 3,3 GHz,” katanya.

Wimax merupakan salah satu teknologi broadband yang menggunakan teknologi wireless sebagai media penghubung antara sentral office (operator) ke user (pelanggan). Berbeda dengan teknologi wireless broadband sebelumnya seperti WiFi maupun 3G,  Wimax menjanjikan efisiensi frekuensi, kecepatan data maupun jangkauan yang lebih luas.

Kecepatan akses data yang diberikan Wimax  hingga 70 MBps  dengan jarak jangkau hingga 50 km.

“Di Indonesia memang tidak akan mencapai  70 Mbps karena terbatasnya kanal, tetapi itu sudah cukup sebagai pesaing LTE nantinya,” katanya.[dni]

230210 BTS Tenaga “Telek” Sapi Susah Diimplementasikan

JAKARTA—Perangkat Base Transciver Station (BTS) menggunakan tenaga “Telek” (Tahi) sapi susah diimplementasikan karena terkendala faktor sustainability.

“Tahi sapi memang merupakan salah satu sumber tenaga alternatif untuk energi. Gas yang diberikannya bisa menghidupkan BTS. Masalahnya, faktor sustainability-nya tidak bisa dijamin,” ungkap Manager Power System Yogi Bahar kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, sustainability adalah jaminan keberlangsungan dari pasokan tahi sapi bagi BTS. “Biasanya jika sapinya sudah mulai dewasa, masyarakat cenderung untuk menjual sapinya. Kalau sudah begini, pasokan darimana,” katanya.

Dikatakannya, idealnya BTS berbasis tahi sapi dijalankan di desa energi, tetapi dengan tingkat kepahaman penduduk yang tinggi akan utilitas dari sapi. “Kalau Telkomsel sendiri untuk BTS menggunakan energi alternatif lebih fokus pada  solar cell atau hydro cell,” katanya.

Ide BTS berbasis Telek Sapi dilontarkan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring sebagai kampanye BTS green. Tifatul mengaku sedang menjajaki kerjasama dengan Kementrian Pertanian untuk mengembangkan idenya itu.

Sementara itu, Direktur Operasional Indonesia Mobile & Online Content Provider Association (Imoca) Tjandra Tedja mendesak Tifatul untuk mengundurkan diri dari jabatan  Menkominfo sebagai wujud tanggungjawab simpang siurnya informasi Rancangan Peraturan Menteri (RPM) Konten Multimedia.

“Sudah sewajarnya ada yang bertanggungjawab dari karut marut yang ditimbulkan akibat

RPM tersebut. Tentunya pejabat yang paling tinggi di Kemenkominfo harus bertanggungjawab. Jangan malah balik melempar tanggungjawab atau bilang tidak tahu,” tegasnya.

Menurut Tjandra, hal yang aneh jika Menkominfo tidak tahu tentang RPM tersebut, padahal sejak November 2009 termasuk sosok yang ikut melontarkan akan ada RPM tersebut ke publik. “Jika beliau memang tidak tahu berarti ada masalah komunikasi di kementrian yang memiliki label komunikasi itu,” ketusnya. [dni]

230210 Belum Menyerah


Semangat Telkomsel, untuk menjual produk besutan Apple, iPhone, memang pantas diacungkan jempol.

Lihat saja, sejak diluncurkan di Indonesia pada tahun lalu, iPhone yang telah menyedot biaya pemasaran dari anak usaha Telkom itu sebesar 50 miliar rupiah, bisa dibilang kalah pamor dengan BlackBerry milik Research In Motion (RIM) atau China Berry dari ponsel-ponsel China.

Iphone diperkirakan hanya terjual sebanyak 30 ribu unit. Angka itu jauh dari target awal yang dipatok yakni sekitar 200 ribu unit. Bandingkan dengan BlackBerry yang telah digunakan oleh sekitar 700 ribu penguna.

Padahal, untuk mengatrol penjualan, Singapore Telecom (SingTel) sebagai salah satu pemegang saham, telah mengirimkan seorang Ekspatriat menduduki jabatan penting di direktorat pemasaran Telkomsel.

Tapi, pasar Indonesia memang banyak anomali. iPhone boleh berjaya di luar negeri, tidak di Indonesia. Sang Ekspatriat pun dikabarkan balik kandang dan digantikan dengan salah satu petinggi pemasaran dari Bakrie Telecom saat ini.

VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo menjelaskan, kegigihannya menjual iPhone tak bisa dilepaskan dari keinginan memberikan pengalaman ke pelanggan menggunakan perangkat multimedia.

“Iphone ini untuk memberikan pengalaman agar pelanggan enjoy di jaringan, bukan bermain di volume penjualan. Iphone pun berbeda dengan BlackBerry yang lebih banyak kepada fungsi praktikal.  Harus diingat,  penjualan iPhone ini bagian dari roadmap Telkomsel bermain di bisnis data,” tegasnya kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, keberhasilan Telkomsel menggaet Apple sebagai mitra bisa menaikkan citra perseroan karena tidak ada operator lain di Indonesia yang memasarkan Iphone. Walaupun dari komunikasi pemasaran, sosok Apple lebih kental ketimbang Telkomsel. Padahal, biaya pemasaran berasal dari Telkomsel.

“Itu hal yang biasa, bagian dari kerjasama eksklusif. Kami tetap ingin melanjutkan kerjasama dengan Apple. Itu dibuktikan  dengan menjual iPhone 3GS tahun ini. Targetnya ada sekitar 30 ribu unit seri ini yang terjual, untuk tahap awal disediakan lima ribu unit,” katanya.

iPhone 3GS  adalah   versi upgrade dari seri iPhone sebelumnya. Sejumlah perbaikan yang membuat ponsel ini jadi lebih nyaman, seperti kecepatan akses data dua kali lipat, daya tahan baterai lebih baik, kamera autofokus beresolusi 3 megapixel, kemudahan merekam video, pengatur suara handsfree, dan tentunya fitur copy paste untuk mengedit tulisan.

Fitur lain yang diandalkan iPhone adalah Apple App Store yang menyediakan lebih dari 140.000 aplikasi mulai dari games, layanan jejaring sosial, fitur perencanaan keuangan, hingga aplikasi informasi kesehatan. Aplikasi yang ada di toko online ini telah diunduh lebih dari 3 miliar kali.

Ponsel layar sentuh buatan Apple ini telah dipasok ke 31 gerai Grapari dan gerai Halo Telkomsel serta mitra penjualannya seperti Sarindo, Oke Shop, dan Telesindo Shop.

IPhone 3GS sendiri tersedia dalam dua model dengan kapasitas masing-masing 16 GB dan 32 GB. Untuk versi ritel tanpa perlu kontrak berlangganan setahun, iPhone 3GS 16 GB yang dibundel dengan kartu Simpati akan dibanderol  7.099 juta rupiah  Sementara untuk iPhone 3GS 32 GB banderolnya 8.299 juta rupiah

Harganya memang sedikit lebih turun jika dibanding versi iPhone 3G sebelumnya yang sempat menyentuh banderol  11-12 juta rupiah  untuk kapasitas 16 GB. Sementara versi 8 GB iPhone 3G versi sebelumnya kini ‘hanya’ dibanderol  5.909 juta rupiah.

Secara terpisah, Praktisi telematika Faizal Adiputra menilai, seandainya Telkomsel dari awal memasarkan iPhone dengan pola terbaru, tentu penjualannya akan lebih booming. “Sayang, tidak dari awal pola ini dilakukan. Dulu, dengan harga selangit, pelanggan sudah takut duluan. Apalagi BlackBerry sudah hadir duluan. Jadinya, iPhone untuk take off di Indonesia tertunda setahun,” katanya.

Menurut Faizal, iPhone 3GS pun tak akan se-Hype BlackBerry atau China Berry karena yang menyukai perangkat ini sangat tersegmentasi. “Pembeli yang butuh iPhone 3GS adalah  yang telah memiliki seri sebelumnya. Mereka ingin upgrade  dari  2G ke 3G. Justru yang harus diwaspadai iPhone sekarang adalah Android karena segmen yang disasar sama,” jelasnya.

Menangapi itu, Gideon mengatakan, sebagai operator yang telah menawarkan Android sejak tahun lalu belum melihat sistem operasi itu akan booming di Indonesia.  “Kita belum ketemu klik di pasar dengan  Android,” katanya.[dni]

230210 Menyambut Era Layar Keempat

Badan PBB untuk sektor telekomunikasi, International Telecommunication Union (ITU),

memperkirakan pada tahun ini jumlah pengguna telepon seluler (ponsel) akan membengkak sampai lima miliar orang  berkat pertumbuhan ponsel cerdas di negara-negara maju dan layanan bergerak (mobile) di negara-negara miskin.

Pada tahun lalu,  jumlah pengguna ponsel mencapai 4,6 miliar orang dengan jumlah pelanggan mobile broadband 600 juta orang. Diperkirakan pada tahun ini jumlah pengguna mobile broadband akan meningkat menjadi satu miliar orang pada tahun ini.

Meningkatnya akses mobile broadband tak bisa dilepaskan dari semakin diterimanya varian smartphone di masyarakat. Hal ini karena masyarakat mulai bergeser pola mencari informasi. Jika dulu informasi menyebar dari layar bioskop, TV, dan komputer, maka sekarang bergeser ke layar keempat yaitu mobile phone.

Berdasarkan kajian yang dilakukan Strategy Analytics , pada tahun ini secara global penjualan ponsel hanya naik 9 persen, namun  varian smartphone akan meroket  46 persen. Konsultan bisnis Deloitte pun memperkirakan dalam waktu dua tahun ke depan ponsel yang memiliki fitur ungulan akses ke internet dan multimedia itu akan terjual sekitar setengah miliar unit dengan harga yang lebih terjangkau.

Pimpinan lembaga sistem operasi Symbian Lee Williams memperkirakan pada  tahun ini  beberapa telepon pintar berbasis symbian akan dijual dengan harga 100 euro atau sekitar  137 dollar AS. Symbian adalah sistem operasi  yang paling banyak digunakan di dunia,

Menurutnya, harga smartphone turun drastis karena ramainya persaingan vendor ponsel dalam memperluas pangsa pasar. Pembuat perangkat keras juga akan mendukung produksi telepon pintar murah tahun 2010 guna bersaing dengan kompetitor.
Menurut lembaga riset Strategy Analytics, Samsung menguasai 20,1 persen pasar ponsel dunia atau berada di posisi kedua setelah Nokia. Namun, untuk smartphone, pabrikan asal Korea Selatan itu hanya mampu mengambil 3,2 persen pasar global, ditinggalkan Nokia, RIM, dan Apple.

Kondisi Indonesia

Head of Department Handheld Product PT Samsung Mobile Indonesia Hioe An Kin memperkirakan, pada tahun ini penjualan ponsel di Indonesia akan  menembus 30 juta unit atau tumbuh 17 persen dari   26 juta unit pada tahun lalu.
Dijelaskannya,  dari proyeksi 30 juta unit ponsel yang akan terserap tahun ini sekitar 10 persennya adalah ponsel pintar dengan spesifikasi berbasis sistem operasi tertentu (smarthphone).

Operator telekomunikasi pun menangkap sinyal naiknya penjualan smartphone sebagai peluang untuk menjadikan layanan data sebagai revenue generator bukan lagi sebagai bagian dari jasa tambahan.

Telkom  memperkenalkan portal musik FullTrek.Com. Situs musik ini merupakan layanan musik digital legal yang menyediakan fungsi download dalam format full track, Ring Back Tone (RBT), music video, dan ringtone.

Menurut VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, pembuatan situs itu  salah satu bukti keseriusan Telkom untuk memasuki bisnis konten. “Di era data, konten memegang peranan. Kita tidak bisa hanya menyediakan jaringan saja sebagai pipa,” katanya.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengungkapkan, dibutuhkan tiga komponen untuk membuat jasa data tumbuh hingga 40 persen di industri dalam waktu empat tahun ke depan. Ketiga komponen itu adalah perangkat, konektivitas, dan konten.

“Perangkat yang disediakan haruslah memiliki harga terjangkau dengan  dukungan jaringan operator yang kuat dan luas, serta  konten yang mematikan,” katanya.

Fenomena perangkat dengan harga terjangkau mulai terlihat sejak tahun lalu dengan adanya ponsel-ponsel dari China yang mirip BlackBerry, sedangkan untuk konten yang mematikan adalah mobile social networking seperti Facebook dan streaming content.

“Dulu smartphone hanya dijadikan alat sebagai gaya hidup tanpa dimaksimalkan fiturnya. Sekarang tidak lagi, semua fiturnya untuk akses internet digunakan. Inilah yang membuat XL berencana akan ikut menggarap Android dengan menggandeng Samsung tahun ini,” katanya.

Antisipasi

Group Head Vas Marketing Indosat Teguh Prasetya mengatakan, operator telah menyiapkan paket pemasaran atau jaringan untuk menghadapi lonjakan penggunaan smartphone yang akan membebani jaringan, khususnya untuk layanan data.

“Kita persiapkan solusi yang merupakan kesatuan antara perangkat, service,  aplikasi dan konten yang dibutuhkan untuk memasuki segmen pengguna.  Tentunya paket itu akan di-sesuaikan kan dengan sasaran yang dituju.  Kuncinya tahun ini buat operator adalah  personalisasi dan total solusi,” jelasnya.

Indosat pada bulan ini menunjukkan total solusi dengan meluncurkan BlackBerry bagi pengguna Fixed Wireless Access (FWA) StarOne dan menggandeng enam vendor ponsel ternama untuk menyediakan pasokan ponsel bundling Android.Keenam vendor ponsel  itu  adalah HTC, LG, Sony Ericsson, Huawei, Samsung, dan Motorola. Total stok barang yang disiapkan  50 ribu unit sampai akhir tahun.

Secara terpisah, Praktisi Telematika Faizal Adiputra memperkirakan, smartphone yang akan booming adalah berbasis symbian, android, atau BlackBerry. “Kalau iPhone itu sulit bersaing. Setahun hanya keluar satu tipe. Bandingkan dengan BlackBerry yang bisa keluar tiga-lima tipe dalam periode sama,” katanya.

Faizal pun memperkirakan, penjualan smartphone akan ikut menggerek pendapatan dari para operator, khususnya untuk jasa data. “Tahun lalu itu masih perkenalan mencari bentuk yang ideal. Tahun ini pasti akan signifikan kontribusinya bagi omzet,” katanya.

Teguh pun mengakui, kondisi saat ini sudah mendekati ideal karena secara  permintaan sudah tinggi,  tinggal penawarannya saja. “Kalau  cocok  pasti akan nendang,  apalagi tren  sudah mengarah ke situ (data) juga,”katanya.

Teguh memperikirakan,  smartphone yang akan laris adalah dengan harga murah karena segmen penggunanya banyak. “Untuk  BlackBerry dari sisi pertumbuhan  akan tumbuh 2-3 kali lipat dari tahun 2009 terutama untuk segmen A-B.  Namun patut dijuga dicermati laju android yang bisa memenuhi kebutuhan pengguna untuk personal guide di segmen A-B dengan ragam perangkat yang bervariasi,” katanya.[dni]

220210 XL Siapkan US$ 112,5 Juta untuk 3G

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) menyiapkan dana sebesar 112,5 juta dollar AS atau 25 persen dari total belanja modal 450 juta dollar AS untuk mengembangkan teknologi akses data 3G.

“Sekitar 352 miliar rupiah akan disiapkan untuk menambah frekuensi sebesar 5 Mhz pada semester pertama tahun ini. Angka itu untuk membayar up front fee dan Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) frekuensi ke pemerintah. Proposal pengajuan tambahan frekuensi sudah dimasukkan belum lama ini,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kepada Koran Jakarta, Minggu (21/2).

Investasi lainnya akan dilakukan untuk    membangun sekitar 1.500 BTS baru. Pada tahun 2009 jumlah BTS mencapai 19.349 unit, melonjak dari 16.729 BTS pada 2008.

Dijelaskannya, perseroan memiliki kepentingan untuk mengembangkan akses data berbasis teknologi 3G karena jasa ini menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan dari tahun ke tahun.

Diungkapkannya, dua tahun lalu jasa ini berkontribusi satu persen bagi total pendapatan perseroan. Pada 2009 melonjak menjadi enam persen dan pada tahun ini diperkirakan menjadi 10 persen.

Berdasarkan catatan, pada tahun  lalu  pendapatan XL sebesar  13,9 triliun rupiah, hal ini berarti  jasa  data  selama tahun 2009 menghasilkan omzet  sekitar 834 miliar rupiah.

Menurut Hasnul, naiknya pendapatan dari jasa data tidak bisa dilepaskan dari berubahnya gaya berkomunikasi masyarakat yang mulai keranjingan instant messaging dan situs jejaring sosial. “Trafik data di XL per hari mencapai 5 Terabytes. Kapasitas yang dipersiapkan 37 Terabyte. Saat ini jasa data digunakan 3,4 juta dari total  31,4 juta pelanggan,” katanya.

Hasnul memperkirakan, akses data dalam waktu empat tahun ke depan secara industri bisa mengalami pertumbuhan sebesar 40 pesen. Sementara XL sendiri mengharapkan dalam kurun waktu empat tahun itu jasa data bisa berkontribusi sebesar 15 persen bagi total pendapatan perseroan.

“Sedangkan untuk suara akan terjadi peningkatan kontribusi dalam kurun waktu empat tahun ke depan itu sebesar  5 persen dan  SMS turun 5 persen,” katanya.

Tidak Berhutang
GM Corporate Finance XL Silvia Hardiman menambahkan, pada tahun ini perseroan tidak memiliki rencana untuk melakukan hutang baru dan akan melunasi hutang yang jatuh tempo pada tahun ini.

“Pada tahun ini total hutang jatuh tempo sebesar 1,7 triliun rupiah. Kami akan bayar semuanya dengan belanja modal yang ada. Tidak ada rencana berhutang karena XL ingin mempertahankan cash flow yang positif,” katanya.

Hasnul menambahkan, untuk hutang dalam bentuk dollar AS pun sudah dilakukan lindung nilai oleh perusahaan, sehingga pihaknya optimistis kinerja perseroan pada tahun ini akan lebih baik ketimbang tahun lalu.

“Kami memiliki target pada tahun ini pertumbuhan pendapatan mencapai 15 persen atau diatas rata-rata industri dengan EBITDA margin sekitar 45 persen,” katanya.[dni]

230210 Telkom Tunda IP-TV

AKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menunda implementasi layanan Internet Protocol TV (IP-TV) karena alasan teknis.

IP-TV adalah layanan televisi layaknya penyiaran biasa, namun jaringannya berbasis kepada internet protocol (IP).  Telkom rencananya mengimplementasikan IP-TV pada kuartal pertama tahun ini  di lima kota. Kelima kota itu adalah Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

“Kelihatannya implementasi akan mundur dari jadwal. Masih banyak yang perlu dipersiapkan agar hasilnya bagus,” ungkap VP Public Relations and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia kepada Koran Jakarta, Senin  (22/2).

IP-TV milik Telkom rencananya akan dijalankan oleh konsorsium yang dinisiasi anak usaha PT Indonusa Telemedia (Indonusa). Indonusa  yang menyelenggarakan TV berbayar memiliki dua anak usaha yaitu Telkom Vision dan Yes TV dengan jumlah pelanggan pada tahun lalu sekitar 200 ribu rumah tangga.

Direktur PT Indonusa Telemedia Harjawan Balaningrath mengungkapkan, saat ini pihaknya juga agresif meningkatkan  jumlah pelanggan TV berbayarnya. “Kami mencari 400 ribu pelanggan baru tahun ini,” katanya.

Dijelaskannya, salah satu pasar yang dibidik adalah pengguna parabola yang berjumlah 12 juta rumah tangga. “Kami menawarkan bagi pengguna parabola untuk memakai set top box agar bisa menikmati siaran TV berbayar. Sebanyak 60 ribu unit telah disiapkan untuk menyasar pasar ini,” katanya.

Dikatakannya,  tersedianya perangkat tersebut membuat siaran TelkomVision dan YesTV dapat diakses di beberapa kota besar di Indonesia yaitu Medan, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Sementara Eddy mengatakan, sebagai anak usaha yang bergerak di bidang edutainment, kontribusi Indonusa belum terasa bagi induk usaha. “Tetapi Indonusa   merupakan salah satu “kendaraan’ perseroan  dalam mengembangkan bisnis edutainment. Tahun ini diharapkan   pertumbuhan pendapatan Indonusa  bisa  di atas 50 persen sejalan dengan  pertumbuhan jumlah pelanggan,” katanya.[dni]

210210 Izin Prinsip Internux Terancam Dicabut

JAKARTA–Izin prinsip penyelenggara Broadband Wireless Accsess (BWA) yang dimiliki  PT Internux terancam dicabut oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) karena belum membayar kewajiban up front fee dan Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) frekuensi pada negara hingga batas akhir peringatan ketiga dikeluarkan pada 20 Februari 2010.

Untuk diketahui, hingga tanggal jatuh tempo  17 November 2009 dan kemudian memasuki tahap perpanjangan pertama yaitu 20 November 2009 negara telah menerima kewajiban pembayaran BHP frekuensi radio dari para pemenang tender BWA non konsorsium yaitu  PT Telkom, PT Indosat Mega Media dan PT First Media.

Kemudian setelah tanggal 20 November 2009, PT. Berca Hardayaperkasa dan PT. Jasnita Telekomindo menyusul memenuhi kewajiban.  Khusus untuk PT. Jasnita Telekomindo telah memenuhi pembayaran BHP frekuensi radio beserta denda, sedangkan PT. Berca Hardayaperkasa baru memenuhi kewajiban pembayaran BHP frekuensi radio.

Hutang Internux kepada negara yang memenangkan zona Jabotabek di tender BWA tersebut hanya dari upfront fee sebesar 110,033 miliar rupiah.

“Batas akhir pembayaran untuk Internux adalah 20 Februari lalu, tetapi karena tanggal tersebut adalah hari libur, maka kami perlu melakukan verifikasi pada Senin (22/2) adakah pembayaran. Jika tidak, tentu akan dicabut izin prinsipnya,” ungkap Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S Dewo Broto di Jakarta, Minggu (21/2).

Diungkapkannya, pemerintah memberikan batas waktu hingga 20 Februari 2010 bagi Internux untuk menyelesaikan kewajibannya kepada negara. Jika tidak dipenuhi, maka izin prinsip yang dikantongi perusahaan itu akan dicabut.

“Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepastian hukum dan perlakuan yang sama bagi penyelenggara jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi 2.3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel,” tegasnya.

Internux dikenal sebagai Penyedia Jasa Internet (PJI) di Makassar. Ketika tenggat waktu pertama pembayaran jatuh tempo, perusahaan ini mengulur waktu dengan menanyakan kesiapan perangkat dalam negeri untuk teknologi BWA.

Kabar beredar kepemilikan saham di perusahaan ini sekarang didominasi oleh perusahaan asal Korea Selatan.

Sedangkan pembayaran lainnya yang ditunggu oleh pemerintah dari pemenang berbentuk konsorsium.Kedua pemenang itu adalah Konsorsium Wimax Indonesia (  Wireless Telecom Universal/WTU) serta Konsorsium Comtronics Systems dan Adiwarta Perdania.

WTU sendiri telah menyatakan siap membayar denda sebesar 100 juta rupiah karena keterlambatan pembayaran dan akan melunasi kewajibannya sebesar lima miliar rupiah.

Internet Murah
Selanjutnya Gatot mengharapkan, para pemenang tender BWA dapat memenuhi tenggat waktu operasional agar dapat mewjudkan tarif internet murah di Indonesia.

Dijelaskannya, tujuan adanya tender BWA untuk  mengejar ketertinggalan teledensitas ICT dan penyebaran layanan secara merata ke seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, mendorong ketersediaan tarif akses internet yang terjangkau (murah) di Indonesia, membuka peluang bangkitnya industri manufaktur, aplikasi dan konten dalam negeri,  serta  mendorong optimalisasi dan efisiensi penggunaan spektrum frekuensi radio.

Menurut Gatot, saat ini penetrasi Internet di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor seperti jumlah permintaan yang sangat dipengaruhi oleh daya beli dan  distribusi, “Berdasarkan pada laporan kinerja operasi Internet Service Porvider (ISP) di Indonesia tahun 2008, penetrasi internet masih terkonsentrasi di pulau Jawa khususnya Jakarta dan sekitarnya,” katanya.

Sedangkan masalah tarif internet yang juga belum terjangkau sepenuhnya oleh para pengguna, ditentukan oleh tingkat kompetisi yang sesungguhnya  telah cukup banyak produk substitusi broadband internet baik wireline maupun wireless; dan komponen biaya penyelenggaraan yang meliputi biaya bandwidth, biaya operasional (Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), SDM, Marketing dan lain sebagainya) dan belanja modal (harga spektrum up front / annual dan investasi perangkat).

“Harapan terhadap kemungkinan penurunan tarif internet ini sudah barang tentu sangat ditentukan oleh tingkat keseriusan para penyelenggara BWA  Tingkat keseriusan ini di antaranya harus dibuktikan dengan komitmen para pemenang  dalam pembayaran up front fee dan BHP frekuensi radio,” ketusnya.  [Dni]