300710 Pelindo II Optimistis Tingkatkan Produktivitas Pelabuhan

JAKARTA—PT  Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) optimistis mampu menaikkan kapasitas pelabuhan yang berada di bawah naungannya dengan menerapkan program operasional  24/7 guna menaikkan daya saing biaya logistik nasional.

Program operasional 24/7 adalah jaminan dari Pelindo II untuk beraktifitas selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu dalam memberikan layanan bagi pengguna pelabuhan. Layanan ini telah dimulai sejak awal tahun lalu.

“Jika program ini berjalan, peringkat daya saing biaya logistik Indonesia yang berada di peringkat 70 dunia bisa naik. Soalnya tidak ada lagi kapal yang menunggu lama untuk merapat ke dermaga atau bongkar muat. Dampak dari efisiensi di pelabuhan ini sangat luar biasa bagi pertumbuhan perekonomian nasional,” kata Direktur Utama Pelindo II RJ Lino di Jakarta, Kamis (29/7).

Diungkapkannya, umumnya di Indonesia untuk kapal membawa kontainer membutuhkan waktu 5-10 hari agar barang bisa keluar dari pelabuhan. Padahal, di luar negeri hanya membutuhkan waktu di bawah 5 hari. “Jika pelaku usaha bisa berhemat waktu berurusan dengan pelabuhan tentunya  perputaran barang lebih cepat dan harga menjadi makin murah. Belum lagi pengusaha kapal akan lebih bersemangat berinvestasi membeli kapal baru karena alat produksi dituntut bekerja optimal,” jelasnya.

Dijelaskannya, untuk meningkatkan kapasitas pelabuhan di bawah naungannya, Pelindo II menyiapkan belanja modal sebesar 1,6 miliar dollar AS hingga 8 tahun mendatang. Sedangkan untuk periode 2010-2013 perseroan menyiapkan investasi sebesar 12 triliun rupiah dimana 2,7 triliun rupiah telah dilaokasikan untuk pembelian fasilitas bongkar muat peti kemas pada tahun ini.

Investasi lainnya yang telah dilakukan  adalah pelaksanaan bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Pelindo II saat ini telah mengaplikasikan sistem TIK, menggandeng PT Telkom Tbk. “Dengan TIK yang ada, laju informasi bisnis dapat termonitor secara online dan terbuka untuk diakses bagi divisi terkait di 12 pelabuhan yang dibawah naungan Pelindo II. Kami soalnya telah menjanjikan bagi pengguna jasa akan menikmati Nearly Zero Waiting Time (Waktu tunggu kapal di pelabuhan yang sangat singkat pada tahun depan,” janjinya.

Dikatakannya, khusus untuk pengembangan pelabuhan Tanjung Priok, proyek pengembangan utara dermaga pelabuhan ini telah mendapatkan dukungan dari pemerintah. Proyek yang akan dilakukan dengan cara reklamasi terbagi atas tiga tahap. tahap pertama  reklamasi pantai sepanjang 1 km dengan luas lahan  96 Hektar dan diperkirakan selesai pada 2013.

Selanjutnya akan dibangun tambahan dermaga sepanjang 1 km dengan reklamasi pantai 60 ha yang bakal selesai pada 2015. “Pada tahap ketiga, penambahan dermaga sepanjang 1,5 km dengan reklamasi lahan seluas 90 ha yang selesainya pada 2018,” tandasnya.

Diharapkan, dengan proyek tersebut  Pelabuhan Tanjung Priok pada 2020 mendatang mampu menampung arus peti kemas sebanyak 9,5 juta TEUs. Saat ini kapasitas maksimal pelebuhan ini hanya 4 juta TEUs. Hal ini karena pelabuhan tersebut  bisa menampung  kapal-kapal besar berukuran Suezmax Post Panamax yang berdaya angkut 5.000 TEUs. “Pola pembiayaan akan 50:50 dengan rekanan strategis. Sedangkan untuk investasi tahun ini kami menggunakan dana internal,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Indonesia National Shipsowners Association (INSA) Johnson W Sutjipto meminta Pelindo II untuk menandatangani Service Level Agreement (SLA) dengan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Insa agar bisa terukur peningkatan layanan yang diberikan.

“Pelindo II harus bisa memberikan data Port Information yang berkaitan dengan waktu singgah kapal atau layanan yang diberikan setiap harinya. Nanti kita bisa lihat, apa benar sudah ada peningkatan layanan. Ini namanya transparansi,” katanya.

Kinerja
Sementara itu, Direktur Personalia dan Umum Pelindo II Mulyono mengungkapkan, perseroan hingga semester I lalu  mengantongi pendapatan  1,60 triliun rupiah  atau baru mencapai  47 persen  dari realiasasi target yang dipancang untuk periode itu sebesar  3,4 triliun rupiah.

“Tetapi setelah dikurangi pos biaya  894,7 miliar rupiah, kami masih
mengantongi laba  710,2 miliar rupiah. Setelah dikurangi lagi beban pajak
dan hak minoritas maka laba bersih kami 566,4 miliar rupiah dari target
laba akhir tahun sebesar 1,2 triliun rupiah,” kata Mulyono

Dijelaskannya,  tidak tercapainya target pendapatan pada semester I  2010  karena ada sejumlah pelabuhan dan unit bisnis lain yang dikelola Pelindo II masih memiliki rapor merah dalam hal kinerja. Diantaranya pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan Panjang, pusat pelatihan kepelabuhanan dan PT Multi Terminal Indonesia.

“Tanjung Priok memang masih belum mencapai target pendapatan Semester
I sebesar  732,9 miliar rupiah. Mereka baru mendapat  549,6 miliar rupiah, padahal pelabuhan tersebut penyumbang terbesar pendapatan bagi perseroan,”jelasnya.

Namun, dia optimistis pada semester II 2010  seluruh pelabuhan akan meningkat pendapatannya. “Secara umum pendapatan Semester I biasanya 48 persen dan semester II 52 persen. Perseroan sendiri menargetkan total pendapatan hingga akhir tahun nanti sebesar 3,4 triliun rupiah,” katanya.[dni]

Iklan

300710 Kapal Wajib Miliki Asuransi P&I

JAKARTA—Kapal-kapal pengangkut barang di Indonesia wajib memiliki asuransi P&I (Protection and Indemnity) untuk menjamin kepastian dan kenyamanan usaha.

“Ausransi P&I itu diamanahkan oleh undang-undang pelayaran. Masalahnya masih ada pemilik kapal yang tidak menyadari ini. Kebanyakan berfikir memiliki asuransi all risk dan total lost only saja sudah cukup,” ungkap Ketua Umum Indonesia National Shipsowners Association (INSA) Johnson W Sutjipto di Jakarta, Kamis (29/7).

Asuransi P&I menanggung kerugian yang dialami kapal ketika berada di alur dermaga. Lembaga yang mengelola sistem asuransi ini tidak berbentuk perusahaan (company, corporation) melainkan perkumpulan (club). Premi asuransi yang dibayarkan tergantung pada besaran kapal.

Cara kerja P&I adalah iuran yang dipungut dari para pemilik kapal dalam satu tahun digunakan untuk menutupi kerugian kapal-kapal anggota club selama tahun itu dan kalau club mengalami defisit (jumlah iuran kurang dari nilai kerugian) maka iuran untuk tahun berikutnya dinaikkan. Demikian juga kalau jumlah kerugian dalam setahun yang sudah berjalan lebih kecil daripada jumlah iuran peserta (terdapat surplus) maka kelebihan itu dapat digunakan untuk memperkuat posisi kas club sementara iuran untuk tahun berikutnya mungkin dapat diturunkan.

Diungkapkannya, akibat kurangnya kesadaran dari pemilik kapal memiliki asuransi P&I, di Suarabaya ada 12 kapal yang tenggelam di alur menuju dermaga sempat tidak terurus. “Itu sangat merugikan karena asuransi all risk atau total lost tidak menanggung kerugian tersebut. Kami berharap mulai Januari tahun depan, empat pelabuhan utama yaitu Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Belawan (Medan) dan SoekarnoHatta (Makassar) mewajibkan kapal yang masuk dermaga harus memiliki asuransi P&I,” tegasnya.

Dikatakannya, mekanisme yang dipilih oleh INSA adalah bekerjasama dengan Pelindo I, II, dan III untuk menunjuk perusahaan asuransi yang menyediakan P&I bagi pemilik kapal yang belum memiliki asuransi tersebut. “Kabarnya akan ada tender bagi perusahaan asuransi yang terpilih. INSA akan ikut menentukan. Nanti kapal masuk, kalau tidak punya P&I harus beli dulu dengan Pelindo sebagai pengelola pelabuhan. Ini tidak akan berpengaruh ke biaya sewa kapal karena sangat kecil,” katanya.

Direktur Utama Pelindo II RJ Lino mengakui akan ada seleksi perusahaan asuransi yang akan menyediakan P&I. “Kemungkinan Jasindo, tetapi kita tunggu dulu teman-teman dari INSA. Soalnya pemain di produk ini banyak,” katanya.[dni]

290710 Perbaikan Jalur KA Digeber Menjelang Lebaran

JAKARTA–Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menggeber  perbaikan jalur kereta api (KA) di Jawa
dan Sumatera menjelang Lebaran alias H-10 guna menjamin kelancaran arus mudik.

“Mulai hari ini Dirjen Perkeretaapian juga sedang mengecek kesiapan stasiun di sepanjang jalur Jakarta-Semarang-Solo-Madiun-Banyuwangi. Pengecekan juga dilakukan terhadap bantalan rel dan sebagainya,” ungkap Sekretaris Ditjen Perkeretaapian Nugroho Indrio Nugroho di Jakarta, Rabu (28/7).

Dikatakannya,   pemerintah juga  tidak akan mengizinkan PT Kereta Api (Persero) atau PTKA menaikkan tarif tiket kelas ekonomi saat lebaran
tahun ini.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Freddy Numberi memperkirakan jumlah pemudik yang menggunakan moda kereta api akan naik 1,62 persen  dari 3,13 juta tahun lalu menjadi 3,18 juta pada Lebaran tahun ini.

Kemenhub juga sudah meminta PTKA untuk menyediakan setidaknya 214 kereta api
dengan kapasitas 3,75 juta penumpang untuk melayani mudik Lebaran tahun ini.

Tender  KA Bandara
Berkaitan denga proyek kereta bandara Soekarno-Hatta, Nugroho menjanjikan, pemerintah akan menggelar tender terbatas  setelah proses kaji ulang tender tersebut selesai dilakukan.

“Kemungkinan lelang juga akan diikuti oleh tiga perusahaan yang telah lolos prakualifikasi itu,” katanya.

Ketiga perusahaan itu  adalah PT Railink, Mitsui, dan China Harbour.

Diungkapkannya,  saat ini ada konsultan independen yang mereview proyek tersebut. Kaji ulang dilakukan menyusul adanya kemungkinan pembengkakan nilai investasi dari perkiraan awal sebesar  4,6 triliun rupiah.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perkeretaapian Tundjung Inderawan
menjelaskan, dukungan pendanaan  1,5 triliun rupiah dari pemerintah untuk menyediakan tanah proyek tersebut terpaksa dicabut karena keterbatasan dana.

Proyek rel bandara Soekarno-Hatta memiliki panjang 30,3 kilometer dan diperkirakan membutuhkan dana sampai  4,6 triliun rupiah. Lintas kereta bandara akan menghubungkan Stasiun Manggarai, Dukuh Atas, Tanah Abang, Duri, Angke, Pluit menuju bandara.

Seharusnya proyek ini sudah mulai dikerjakan pada 2007 lalu dengan
target operasi 2009. Namun realisasinya beberapa kali tertunda.[Dni]

290710 Pajak Pesawat Latih Kemungkinan Berkurang 38%

JAKARTA–Kementrian Keuangan kemungkinan hanya mengurangi pajak pesawat latih sebesar 38 persen.

“Permohonan Kemenhub itu penghapusan, tapi menurut Kemenkeu tetap ada
pajak yang harus dibayar. Kalau tidak salah 12 persen,” ungkap Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kemenhub Dedi Darmawan, di Jakarta,  Rabu (28/7).

Jika  pesawat latih masih dikenakan pajak 12 persen hal itu berarti Kemenkeu mengurangi besaran PPnBM sebesar 38 persen. Karena sesuai Pasal 1 ayat (5) huruf b Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6/2003 tentang Kelompok Barang
Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Yang Dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, impor pesawat udara dikenakan pajak dengan tarif 50 persen kecuali untuk keperluan negara atau angkutan udara niaga.

Dedi memperkirakan,   keputusan final atas permohonan peninjauan ulang pengenaan PPnBM pesawat latih tersebut akan keluar pekan ini.

PPnBM sebesar 50 persen dari harga beli yang dikenakan Kemenkeu atas impor pesawat latih dikeluhkan oleh banyak sekolah penerbangan dan maskapai pengguna pilot hasil didikan sekolah tersebut.

Pajak yang tinggi mengakibatkan mahalnya biaya pendidikan pilot di
Indonesia sehingga menciutkan minat calon siswa untuk mengikuti
sekolah penerbangan. Akibatnya sekolah penerbangan juga membatasi jumlah lulusan yang diwisudanya setiap tahun karena sepi peminat.

Padahal jika PPNBM dihilangkan, biaya pendidikan pilot bisa berkurang 30  sampai 40 persen. Saat ini biaya pendidikan penerbang di Indonesia selama 12 bulan sampai 18 bulan berkisar antara  500 juta sampai 600 juta rupiah.

Saat ini sekolah pilot di Indonesia  ada 10, sementara kebutuhan pilot
per tahunnya sebanyak 400 orang. STPI Curug sendiri hanya bisa menghasilkan 160 penerbang setiap tahun, sisanya sebisa mungkin disediakan sekolah swasta.[Dni]

290710 Dua Operator Naikkan Kapasitas Data

JAKARTA–Dua operator menaikkan kapasitas akses data untuk memberikan kenyamanan bagi pelanggannya.

Kedua operator itu adalah Telkom dan XL. Telkom  meningkatkan kecepatan layanan Speedy dari 384 Kbps menjadi 512 Kbps untuk paket Socialia  dan dari 512 Kbps menjadi 1 Mbps untuk paket Load. Pilot project untuk peningkatan ini dipilih area  Jakarta Selatan dan Surabaya Selatan.

Sementara XL meningkatkan kapasitas server ke Research In Motion (RIM) untuk layanan BlackBerry menjadi 800 Mbps.

Vice President Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia mengatakan, meskipun kecepatan ditingkatkan tetapi tarif berlangganan tidak direvisi.

”Saat ini memang baru Jakarta Selatan dan Surabaya selatan yang mendapat kesempatan menikmati extra speed. Pelanggan cukup menghubungi 147 untuk mendapatkan program ini” ujarnya di Jakarta, Rabu (28/7).

Diungkapkannya, saat ini pelanggan Speedy di seluruh Indonesia telah mencapai 1,4 juta pelanggan dan menjangkau 378 kota di Indonesia. Pada akhir tahun nanti diharapkan menjadi 2,2 juta pelanggan.

Sementara Head of Marketing Mobile Data Services XL Budi Harjono menjelaskan, pertumbuhan pelanggan BlackBerry sebesar 18 persen dalam tiga bulan terakhir menjadi 450 ribu nomor aktif memicu ditingkatkannya kapasitas ke server RIM.

“Kapasitas sebesar itu dapat menampung sejuta pelanggan. Untuk saat ini kapasitas sebesar itu yang terbesar di Indonesia,” katanya.

Diungkapkannya, walau layanan BlackBerry memasuki perang tarif, tetapi Average Revenue Per User (ARPU) XL berkisar 90 ribu rupiah dan cenderung naik karena pelanggan tidak hanya menggunakan untuk akses data, tetapi juga untuk SMS dan suara.

Sebelumnya, Telkomsel menargetkan hingga akhir tahun nanti  mampu meraup satu juta pelangan BlackBerry, Indosat (800 ribu pelanggan), dan  XL (500 ribu pelanggan).

Indosat tengah meningkatkan kapasitas ke server RIM dari 400 Mbps menjadi 1,2 Gbps hingga akhir tahun nanti. Sedangkan  Telkomsel masih memiliki kapasitas sebesar 400 Mbps.

Saat ini diperkirakan pengguna layanan BlackBerry  di Indonesia adalah XL (430 ribu pelanggan),  Indosat (400 ribu pelanggan), Telkomsel (500 ribu pelanggan), Axis (50 ribu pelanggan), Hutchison CP Telecom (HCPT/Tri) (50 ribu pelanggan),  dan Smart Telecom (2 ribu pelanggan).[Dni]

290710 Ponsel Data Murah Bantu CDMA

JAKARTA— Kehadiran telepon seluler (Ponsel) dengan kemampuan data yang dijual di bawah 500 ribu rupiah membantu pemain berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) memikat pelanggan.

“Lebih dari 50 persen  akses internet dari Indonesia ternyata didapatkan melalui ponsel bukan komputer. Padahal masih banyak masyarakat yang belum tersentuh layanan Internet. Hal ini menjadi peluang bagi pemain CDMA menawarkan ponsel data murah,” ungkap  Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer di Jakarta, Rabu (28/7)

Diungkapkannya, Esia menjawab kebutuhan tersebut dengan menawarkan ponsel seharga 150 ribu rupiah besutan Huawei sebanyak 100 ribu unit untuk tahap awal. “ Menyediakan ponsel  bundling memang merupakan andalan untuk mendapatkan 14 juta pelanggan tahun ini. Masyarakat lebih memilih ponsel bundling karena alasan kepraktisan dan nilai kedekatan kepribadian dengan fitur yang ada di dalamnya,” katanya.

Pada kesempatan lain, e-Touch merk dagang yang dimiliki oleh perusahaan asal hongkong First Mobile Group  yang juga bermain di pasar ponsel Indonesia bermimpi   menjadi 5 besar dunia dalam waktu dua tahun mendatang.   “E-Touch pertama kali masuk indonesia di pertengahan Agustus 2008. Sampai dengan satu tahun hadir di indonesia, e-Touch telah mengeluarkan lebih dari 30 produk ke pasaran,” ungkap GM Product and Marketing E Touch Mobile Hendru Susilo.

Produk terbaru yang dikeluarkan oleh vendor ini adalah eTouch 757Pro, ponsel Qwerty  dual navigator dengan WiFi. Ponsel ini didukung juga dengan dual simcard GSM-GSM, fitur TV analog dengan kemampuan merekam siaran TV plus kamera 2MP.

Fitur jejaring sosial andalan seperti Facebook juga tetap hadir di samping fitur pendukung lainnya seperti Stopwatch, calendar, world clock, alarm, notepad, calculator, Opera, Skype serta MSN/ Yahoo messenger. Tak lupa fitur email untuk membuka  membuka email pribadi dimana dan kapan saja lewat konektivitas WiFi atau GPRS dari ponsel yang dibanderol seharga 899 ribu rupiah ini.[dni]

290710 Geliat Medioker di Kompetisi

Lembaga keuangan JP Morgan belum lama ini  menyebutkan industri telekomunikasi Indonesia masuk dalam kategori “Ex Growth” bersama Philipina dan Thailand. “Ex Growth” adalah kategori dimana pertumbuhan industri berada di bawah dobel digit.

JP Morgan memperkirakan sektor telekomunikasi Indonesia hanya tumbuh 8 persen, sedangkan  Thailand berada di bawah angka itu yakni    2.8 persen dan Philipina (3,6%).

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno mengakui, industri agak melambat belakangan ini. “Persaingan kian keras sementara kondisi ekonomi baru mengarah membaik. Hanya operator yang terus berinovasi akan meraih buah yang manis,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Kondisi di pasar pun memperlihatkan persaingan memang tidak hanya milik tiga pemain besar (Telkomsel, Indosat, dan XL) yang di dukung oleh pendanaan yang kuat.  Para operator seluler yang berada di papan tengah (medioker) dengan jumlah pelanggan di bawah 10 juta nomor  pun sengit mempertahankan posisi agar tidak terdegradasi di akhir tahun nanti. Kaum  medioker yang pantas diapungkan untuk disimak sepak terjangnya adalah  Axis, Tri, dan SmartFren.

Axis merupakan operator termuda di Indonesia telah memiliki 4.500 BTS guna melayani sekitar 6 juta pelanggan. Pada tahun ini operator yang sudah berinvestasi sebesar 1,5 miliar dollar AS itu  berencana membangun dua ribu BTS.

Belum lama ini, Axis memperlebar sayap ke Kalimantan dan Sulawesi selain Sumatera, Jawa, Bali, Lombok guna menjangkau  70 persen populasi di Indonesia. Ekspansifnya Axis bergerak tak bisa dilepaskan dari adanya kerjasama roaming nasional dengan XL yang ditandatangani tahun lalu. Kerjasama itu memungkinkan pelanggan Axis memanfaatkan jaringan XL kala berada di area dimana infrastruktur pemilik tagline “GSM yang Baik”  itu belum hadir.

Sementara Hutchison CP Telecommunications (HCPT) sebagai pemilik merek dagang Tri telah hadir selama tiga tahun di Indonesia dan menjangkau 76 persen populasi  di 23 provinsi dan lebih dari 3000 kecamatan di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan dan Sulawesi dengan sekitar 8,5 juta pelanggan.

Sedangkan kolaborasi Smart Telecom dan Mobile-8 Telecom (SmartFren) terlihat semakin kuat di layanan data. Saat ini Smart memiliki 2,5 juta pelanggan dan  Mobile-8 melalui merek dagang Fren dan Hepi memikat   3,5 juta pelanggan.  Smart  memiliki 2 ribu  unit   base transceiver station (BTS), sementara Mobile-8 sekitar  1700 unit BTS. Target meraih  10 juta pelanggan pada akhir tahun pun telah dipancang.

Tiga pemain ini sangat terlihat aksinya di pasar terutama dalam penawaran tarif murah. Lihat saja aksi  membanting harga  layanan BlackBerry menjadi  79 ribu rupiah per bulan (Axis) dan 69 ribu rupiah per bulan (Tri) yang membuat para incumbent menjadi pusing. Belum lagi Smart yang agresif menawarkan modem murah dengan tarif akses data yang membuat para punggawa operator besar menjadi memodifikasi  program pemasaran yang diberikan.

Infrastruktur Matang

Chief Commercial Tri Suresh Reddy mengatakan, ekspansi Tri yang lumayan cepat berkat telah matangnya infrastruktur telekomunikasi di Indonesia sehingga banyak hal yang bisa dilakukan untuk efisiensi operasional biaya jaringan seperti menggunakan menara bersama atau bermitra dengan pengelola jaringan dalam konsep managed service.

Berkat efisiensi, Tri bisa  fokus pada produk dan layanan yang  bernilai tambah bagi pelanggan. “Tarif masih menjadi pertimbangan masyarakat Indonesia pada umumnya ketika mereka memilih layanan, Hal inilah yang mendorong Tri untuk berinovasi mengembangkan sistem tarif yang berbeda. Contohnya,  tarif paket 555  dimana bayar 1 bisa untuk telepon, sms dan data,” jelasnya.

VP Sales and Distribution Axis Syakieb Sungkar mengungkapkan, tantangan terberat bagi Axis sebagai pemain baru adalah   masalah skala ekonomis. Mengingat masih memiliki skala yang kecil, maka dibutuhkan upaya ekstra untuk menunjukkan kemampuan agar bisa diterima pasar. Performa itu ditunjukkan dengan terus membesarkan  footprint seperti  jangkauan, basis pelanggan, dan awareness  dalam waktu cepat.

“Kami didukung oleh investor yang solid. Jadi, walau terkesan bermain dengan tarif, tetapi kualitas masih terjaga. Lihat saja di BlackBerry yang memberikan akses cepat atau di suara dan SMS yang jernih serta cepat pengirimannya,” katanya.

Division Head Core Product & Branding Smart Telecom Ruby Hermanto mengatakan, sebagai pemain baru investasi banyak tersedot ke jaringan dan biaya pemasaran. Konsekuensinya Earning Before Interest Tax, Depreciation, and Amortization (EBITDA) negatif di tahun-tahun awal. “Agar EBITDA cepat positif,  sedapat mungkin harus ada pertumbuhan pelanggan dan Average Revenue Per User (ARPU),” katanya.

Diungkapkannya, cara untuk menarik pelanggan adalah menawarkan tarif murah. “Namun, tarif hanya sebagai hygine factor. Artinya kalau tarif tidak murah konsumen lari. Tapi ini tidak membuat konsumen setia. Andalan utama tetap  pembangunan kualitas jaringan,” katanya.

Smart pun jeli melihat peluang dengan beralih lebih fokus kepada jasa data karena sadar memiliki spektrum frekuensi yang lebih longgar. “Data itu arena bermain baru dimana semua pemain berada di garis start yang sama, berbeda dengan suara dan SMS.  Kita punya teknologi dan spektrum yang cukup untuk bertarung di sana,” tegasnya.

Bersolek

Pada kesempatan lain, Pengamat telekomunikasi Bayu Samudiyo menilai masih agresifnya operator kecil di tengah kian sengitnya kompetisi tak bisa dilepaskan dari upaya bersolek agar dilirik oleh investor besar dari dalam atau luar negeri.

“Para operator kecil harus bertahan dengan margin yang kecil sembari menunggu pinangan dari investor besar. Soalnya produk yang ditawarkan hampir sama dengan incumbent sehingga mudah dimentahkan oleh pemain besar. Apalagi jalur distribusi handset dan kartu perdana masih dikuasai beberapa pemain.  Jika ingin bertahan harus konsolidasi atau merana dengan EBITDA yang negatif,” katanya.

Isu konsolidasi memang menyeruak kian deras di awal 2010  sejak terjadinya aliansi pemasaran Smart dan Mobile-8.  Axis sempat diisukan akan dibeli oleh induk usaha XL (Axiata), HCPT dilirik Air Asia grup yang tengah menggodok budget operator, atau Smart yang digoda oleh China Mobile. Lantas, apakah hingga akhir tahun nanti para medioker tetap bertahan? Kita tunggu saja.[dni]