Loop Line Diminta Lebih Dipersiapkan

JAKARTA–Kementrian Perhubungan (Kemenhub) meminta  PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Kereta Commuter Jakarta (KCJ) lebih mempersiapkan uji coba Loop Line agar tidak terjadi penumpukan penumpang dan keterlambatan kereta.

“Rendahnya persiapan internal dari KAI dan KCJ memicu penumpukan penumpang kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek,” ungkap Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Tundjung Indrawan di Jakarta, Jumaat (2/12).

Menurutnya, persiapan sarana dengan rencana, harus saling bersinergi, sehingga tujuan dari sistem jalur melingkar (Loop Line)  mampu terwujud.

“Sarana yang dioperasikan dengan rencana yang baru harus matching, dalam arti antara feeder dengan loopline,” katanya.

Menurutnya,  pembangunan prasarana belum mendukung secara penuh pelaksanaan sistem loop line. Dinamika masyarakat dalam melakukan perpindahan harus diiringi dengan fasilitas yang memadai.

“Kalau saya katakan siap 100 persen belum, tapi sedang mengarah kesana, ada fasilitas-fasilitas yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

Dikatakannya, minimnya sosialisasi kepada masyarakat akan perubahan jadwal dari sistem loop line juga menjadi masalah. Banyak penumpang kereta api belum memahami dari perubahan single operation menjadi pola melingkar.

Dijelaskannya, kekacauan dari sistem loop line pada uji coba akan menjadi bahan evaluasi. “Tidak menutup kemungkinan perpanjangan waktu sebelum menerapkan secara penuh dari pola jalur melingkar,” katanya.

Seperti diketahui, PT KAI terhitung mulai Kamis, 1 Desember 2011 memberlakukan perubahan grafik perjalanan  kereta api (Gapeka).

Perubahan ini ditetapkan dengan Surat Keputusan Direksi No. D3/189 tanggal 17 November 2011 setelah adanya persetujuan dari Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian, dengan surat No. KA.407/A-259/DJKA/10/11 tanggal 28 Oktober 2011 tentang pelaksanaan Gapeka tahun 2011 dan Peraturan Direktur Jenderal Perkeretaapian No. KA.407/SK.102/DJKA/10/2011, tanggal 26 Oktober 2011 tentang Gapeka tahun 2011.

Masa uji coba sistem loop line berlaku 1-4 Desember, selanjutnya pada 5 Desember mulai penerapan.[Dni]

Pemisahan Aset Kereta Api Segera Selesai

JAKARTA—Proses Pemisahan  aset kereta api nasional senilai 55,68 triliun rupiah segera  selesai pada tahun ini guna menunjang hadirnya  multioperator perkeretaapian.

“Prosesnya sudah selesai di Kementrian Perhubungan (Kemenhub), selanjutnya  diserahkan ke Kementerian Keuangan. Kebetulan, temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan pemisahan aset perkeretaapian antara milik negara dan PT Kereta Api Indonesia (KAI)sebagai  syarat untuk pelaksanaan proyek kerjasama pemerintah dan swasta. Targetnya  tahun ini selesai,” ungkap Dirjen Perkertaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya,   pemisahan aset  merupakan amanat UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Regulasi mengamanatkan aset perkeretaapian harus dipisahkan antara milik negara dan PT KAI. Pemisahan aset ini juga akan sebagai dasar untuk menetapkan neraca awal PT KAI. Langkah ini  juga  sebagai acuan munculnya multioperator perkeretaapian di Tanah Air.

“Aset-aset itu sedang diaudit atau diinventarisasi oleh Ditjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan. Diharapkan semuanya tuntas tahun ini,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan Kemenhub   total aset prasarana perkeretaapian nasional mencapai 55,68 triliun rupiah. Aset sebesar itu tengah diinventarisasi untuk dipisahkan antara aset negara dan aset PT Kereta Api Indonesia(KAI).

Aset itu terdiri dari aset tanah (Rp34,91 triliun), aset jalan kereta api (Rp18,73 triliun), aset jembatan (Rp 1,98 triliun), dan aset gedung dan bangunan kereta api (Rp 52,84 miliar). Aset sebesar itu  yang sudah dicatat Kemenhub tersebut sudah didasarkan pada ketentuan UU No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Selanjutnya Tundjung mengungkapkan,  nantinya juga akan ada pemisahan badan usaha yang mengelola sarana dan prasarana perkeretaapian.

“Pemisahannya itu berbentuk badan usaha, hanya akan dipisah menjadi dua. Jadi namanya, PT KAI sarana dan PT KAI prasarana, keduanya merupakan badan usaha baru penyelenggara prasarana dan badan usaha baru penyelenggara sarana,” jelasnya.

Dikatakannya,  badan usaha yang mengurusi sarana perkeretaapian itu murni akan mengurus operasional kereta api, seperti penjualan tiket. Kemudian prasarana itu akan mengatur pelaksanaan seperti jadwal kereta api.

Menurutnya, seiring dengan adanya pemisahan aset serta terbentuknya dua badan usaha perkeretaapian, akan lebih mudah mengatur soal subsidi untuk kereta api yang dituangkan dalam Track Access Charge (TAC) dan Infrastructure Maintenance and Operations (IMO), serta Public Service Obligation (PSO).

“Nanti anak keluar peraturan soal IMO, TAC dan PSO yang benar. Dengan aturan itu akan mendorong percepatan pemisahan aset,” katanya.[dni]

Agen Inspeksi Sebaiknya Dikelola Negara

JAKARTA–Pengelolaan pemeriksaan keamanan kargo udara sebaiknya dikelola oleh negara bukan agen inspeksi swasta (Regulated Agent/RA) karena berpotensi menimbulkan ekonomi biaya tinggi dan menghilangkan pendapatan negara.

“Kami mendesak agar aturan tentang Agen Inspeksi ini dicabut. Jika dipaksakan akan menimbulkan ekonomi biaya tinggi dan mempengaruhi daya saing produk Indonesia di pasar luar negeri,” ungkap Koordinator Investigasi dan Advokasi Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khadafi di Jakarta, Minggu (4/12).

Menurutnya, adanya agen inspeksi justru terjadi kenaikan tarif pemeriksaan kargo udara sebesar 1250 persen, dimana tarif sebelumnya hanya sebesar 60 rupiah menjadi 1050 rupiah per Kg.

Padahal, di Singapura hanya diterapkan tarif 140 rupiah per Kg, dan di Thailand diberlakukan gratis dimana negara yang menanggung.

“Belum lagi potensi kehilangan pendapatan  negara sebesar 368 miliar rupiah karena agen inspeksi itu semua swasta,” ungkapnya.

Disarankannya, pemerintah memegang peranan agen inspeksi ini dengan melakukan tender ulang, sementara biaya pengoperasian ditanggung oleh negara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kami tidak anti dengan agen inspeksi, tetapi proses dan implementasinya harus transparan sehingga tidak merugikan negara,” tegasnya.

Cabut Tarif .
Sementara itu, sejumlah perusahaan jasa pengiriman dan pemilik barang yang tergabung dalam Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress Indonesia (Asperindo), Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB), Serikat Pekerja Surat Kabar (SPS), dan PT Pos Indonesia meminta Kementerian Perhubungan membatalkan pemberlakuan tarif baru RA yang berlaku mulai 1 Desember 2011.

Bahkan asosiasi ini mengancam untuk melakukan aksi mogok tidak angkut kargo pada 14 Desember 2011.

Selain soal tarif, beberapa maskapai juga menemukan barang yang terlarang masuk kargo pesawat. Barang-barang kargo tersebut sebenarnya sudah diperiksa x-ray perusahaan RA.

Garuda Indonesia melakukan pengecekan secara acak atau random cek untuk barang kargo yang hendak masuk pesawat di gudang lini 1. Berdasarkan pantauan seorang penjaga mesin x-ray di gudang domestik Garuda itu, ditemukan sejumlah barang yang tidak boleh masuk pesawat seperti aerosol, aki, stabilizer.

Begitu juga dengan Lion Air yang melakukan pengecekan ulang terhadap seluruh barang kargo domestik yang akan diangkut ke pesawat. Petugas x-ray maskapai ini juga banyak menemukan barang-barang yang tidak boleh masuk pesawat.
Cabut tarif baru

Ketua ALFI untuk Bandara Soekarno-Hatta Arman Yahya menegaskan,  Kemenhub harus membatalkan pemberlakuan tarif baru RA yang efektif pada 1 Desember 2011 yang diumumkan dengan selebaran yang tertempel di gudang RA tanpa ditandatangani satu pihakpun.

Namun dalam selebaran itu tertera logo dari Kementerian Perhubungan, PT Angkasa Pura II, PT Fajar Anugerah Semesta, PT Padjajaran Global Service, dan PT Duta Angkasa Prima Kargo.

Dalam selebaran yang bertuliskan pemberitahuan tersebut disebutkan terhitung 1 Desember 2011 jam 00.00 WIB biaya jasa pemeriksaan keamanan barang dan pos internasional melalui Bandara Soekarno-Hatta yang dilakukan RA di pergudangan lini 1.

Diungkapkannya,  pihaknya memang sempat ada rencana mogok pada 1 Desember, namun belum terlaksana karena pemberitahuannya mendadak dan tidak semua anggota dan pemilik barang tahu. “Kami baru dapat info kenaikan tarif RA internasional pada 30 November sore, maka malamnya, kami langsung buat pernyata mogok. Tetapi banyak anggota dan pengusaha yang tidak tahu. Mereka pada 1 Desember antar barang kargo ke bandara. Makanya kami putuskan untuk tetap angkut kargo karena nanti kan barang mereka busuk, kita gak mau itu terjadi,” kata Arman.

Untuk itu pihaknya mempunyai opsi kedua, yakni pada 14 Desember pihaknya menghimbau kepada pengusaha untuk tidak mengirim barang. “Kalaupun memang mau mengirimkan barang melalui laut atau darat,” kata Arman.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk ketidakpuasan dan sikap tegas dari forwarder.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengatakan pemerintah tidak berwenang menentukan tarif, itu sepenuhnya diserahkan kepada perusahaan RA.[Dni]

Garuda Ekspansi Rute Internasional

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA)  akan melakukan ekspansi pembukaan rute baru dan penambahan frekuensi penerbangan internasional pada 2012 nanti.
Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengungkapkan, rute baru internasional yang akan dibuka Garuda Indonesia yaitu  Jakarta-Haneda pada 27 April 2012.
”Rute tersebut akan dilayani sebanyak lima kali selama seminggu dan akan menggunakan pesawat jenis Airbus A330-200. Khusus rute Haneda, kami sudah mengajukan ke Kementerian Perhubungan. Target segmen Haneda yaitu bisnis dan pariwisata,” katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.
Dikatakannya, untuk  dua rute internasional lainnya yaitu Jakarta-Taipei pada 19 Mei, dan  Jakarta-New Delhi yaitu pada kuartal III 2012. ”Kami akan agresif pada tahun depan. Kita garap semua segmen pasar mulai business traveler hingga wisatawan,” katanya.
Diungkapkannya, untuk menggarap segmen korporasi, perseroan aktif menggandeng kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar. Salah satunya baru-baru ini adalah  pengembang properti PT Jababeka Tbk untuk meningkatkan pangsa pasar korporasi (corporate sales) di wilayah kawasan perindustrian Jababeka.
“Dengan jumlah tenant lebih dari 1.500 perusahaan baik lokal maupun internasional yang terdiri dari 600 ribu pegawai dari 30 negara, Jababeka merupakan pangsa pasar yang menjanjikan bagi Garuda,” jelasnya.
Dikatakannya, melalui kerjasama tersebut para tenant di Jababeka akan  memperoleh harga spesial, kemudahan  pemesanan, city check in, dan pembukuan group. “Layanan tersebut tidak hanya mencakup untuk perjalanan dinas namun juga untuk perjalanan pribadi bagi karyawan Jababeka beserta keluarganya,” tambahnya.
Diungkapkannya,  pada tahun depan Garuda juga akan mengembangkan perusahaannya di wilayah tersebut dengan membuka kantor cabang. Tidak hanya itu,  Garuda  juga berminat untuk membangun hotel melalui anak perusahaan di wilayah Jababeka. “Nanti konsepnya Building Operation Transfer (BOT), dimana Jababeka menyediakan lahan, kita membangun hotelnya. Kita rencananya bangun hotel bintang 4 atau 5,” katanya.
Dijelaskannya,  hingga saat ini maskapai pelat merah tersebut telah melaksanakan kerjasama penjualan korporasi dengan lebih dari 1.400 perusahaan besar di Indonesia. Dari kerjasama tersebut, hingga akhir tahun ini Garuda berhasil memperoleh pendapatan 1,5 triliun rupiah.

Jual Pesawat

Selanjutnya Emirsyah mengungkapkan, perseroan telah   menjual empat unit pesawat jenis Boeing 737-400 pada 2012 kepada maskapai asal Nigeria. Hal itu dilakukan perseroan sebagai langkah peremajaan armada pesawat tahun depan.
Diungkapaknnya, proses penjualan empat unit pesawat ke maskapai asal Nigeria tersebut dilakukan melalui lelang terbuka pada September 2011 yang diikuti sejumlah maskapai nasional dan asing. Maskapai asal Nigeria tersebut diketahui memiliki tawaran harga beli yang cukup bagus sehingga terpilih menjadi pemenang dari lelang.
“Rencananya empat unit pesawat tersebut akan dikirim tahun depan, saat ini empat pesawat tersebut masih dalam perbaikan,” katanya.
Sebelumnya,  Garuda juga diketahui telah menjual dua unit lagi ke Angkatan Udara Republik Indonesia dan salah satu maskapai nasional. Namun Emirsyah enggan menyebutkan nama maskapai yang dimaksud.
Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengatakan satu unit pesawat yang dijual ke maskapai Nigeria tersebut seharga 3 juta-5 juta dollar AS. Penjualan pesawat tersebut untuk membatasi usia armada pesawat Garuda Indonesia menjadi tujuh tahun dari sebelumnya 12 tahun.
Salah satu strategi perseroan untuk membatasi usia pesawat, Garuda juga berencana untuk mendatangkan delapan pesawat baru pada 2012. Delapan pesawat baru tersebut terdiri dari enam unit Boeing 737-800 dan dua unit Airbus 330-200. Hal itu dilakukan perseroan untuk menggantikan phase out tujuh pesawat Boeing 737-400. [dni]

Garuda Selesaikan Penerbangan Haji

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyelesaikan penerbangan haji phase II pada Minggu (11/12) yang sekaligus menandai berakhirnya pelaksanaan Penerbangan Haji 1432H/2011 M dengan tingkat ketepatan penerbangan (On Time Performance/OTP) secara keseluruhan sebesar 83.3 persen.

“Terjadi peningkatan ketepatan penerbangan yang cukup signifikan dibandingkan dengan pelaksanaan penerbangan haji tahun lalu,” ungkap juru bicara Garuda Pujobroto di Jakarta, Senin (12/12).

Diungkapkannya, penerbangan terakhir haji phase II (phase kepulangan) tersebut adalah GA 8216 yang merupakan kloter 16 (kloter terakhir) dari debarkasi Banjarmasin, yang mendarat di Banjarmasin pada hari Minggu (11/12) pukul 09.42 WITA.

Dikatakannya, dalam pelaksanaan penerbangan Haji 1432 H ini, untuk Phase I (Phase Keberangkatan), Garuda Indonesia berhasil mencapai tingkat ketepatan penerbangan (on time performance/OTP) sebesar 97.21 persen,  sementara tingkat ketepatan penerbangan untuk Phase II (Phase kepulangan) adalah sebesar 69.46 persen, mengalami peningkatan dari tahun lalu yang dibawah 50 persen.

Menurutnya,  peningkatan ketepatan waktu penerbangan phase pemulangan tersebut  merupakan kontribusi dari digunakannya West Terminal Bandara King Abdul Aziz Jeddah mulai tahun ini sehingga mengurangi penumpukan penumpang seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Pelaksanaan Penerbangan Haji 1432H/2011 Garuda Indonesia dimulai pada tanggal 2 Oktober hingga 31 Oktober 2011 (Phase I / Keberangkatan), sementara Phase II / Kepulangan dilaksanakan pada tanggal 11 Nopember hingga 11 Desember 2011. Pada tahun ini penerbangan langsung ke Madinah hanya dilayani oleh embarkasi Jakarta (periode 1 – 19 Oktober 2011), dan kembali pulang ke Indonesia langsung dari Madinah pada 29 Nopember hingga 11 Desember 2011.

Pada musim haji 2011/1432H ini, Garuda Indonesia telah menerbangkan sebanyak 113.064 jemaah haji atau sejumlah 99.73 persen dari jumlah jemaah haji yang direncanakan sebanyak 113.360 jemaah yang tergabung dalam 299 kelompok terbang (kloter) dari 9 embarkasi, yaitu embarkasi Banda Aceh 4.809 jemaah (14 kloter), Medan 8.427 jemaah (19 kloter), Padang 7.801 jemaah (22 kloter), Palembang  7.657 jemaah (22 kloter), Jakarta 23.221 jemaah (51 kloter), Solo 33.672 jemaah (90 kloter), Banjarmasin 5.386 jemaah (17 kloter), Balikpapan 5.825 jemaah (18 kloter)  dan Makassar 16.266 jemaah (46 kloter). Sejumah 296 jemaah haji dilaporkan sakit/meninggal sehingga tidak dapat melakukan perjalanan Haji.

Dalam pelaksanaan penerbangan haji tahun 2011 ini, Garuda Indonesia mengoperasikan 14 pesawat berbadan lebar terdiri  dari 3 pesawat B-747 (kapasitas seat 455), satu pesawat B-767 (325 seat), dua pesawat A330-300 (375 seat) dan delapan pesawat A330-200 (360 seat). Pesawat–pesawat tersebut rata rata berusia muda dan bahkan ada pesawat yang di produksi pada tahun 2009. Proses tender pesawat tersebut dilaksanakan secara terbuka dan transparan, dan diumumkan di media cetak nasional dan internasional.[Dni]

AP II Bangun Terminal Baru di Sultan Thaha

JAKARTA–PT Angkasa Pura II (AP II)menjalankan  pembangunan terminal baru di Bandara Sultan Thaha, Jambi, mulai  Senin, (12/12) untuk meningkatkan kapasitas infrastruktur tersebut menjadi 1,5 juta pergerakan penumpang per tahun.

”Pembangunan terminal baru ini mutlak untuk dilakukan dan menjadi solusi konkret untuk mengatasi kelebihan kapasitas yang terjadi di Bandara Sultan Thaha saat ini,” ungkap Wakil Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Rinaldo J. Aziz di Jakarta, Senin (12/12).

Diungkapkannya, pada 2011, jumlah pergerakan penumpang telah mencapai lebih dari 1 juta di Sutan Thaha, sementara kapasitas yang tersedia hanya untuk 300 ribu penumpang per tahun.

“Jumlah pergerakan pada 2011 tersebut, mengalami peningkatan sebesar 11,9 persen  dibandingkan 2010 yang mencapai 936 ribu pergerakan. Kemudian pada 2012, pertumbuhan penumpang di Bandara ini diprediksi akan mengalami peningkatan sebesar 8,48 persen menjadi 1,13 juta pergerakan per tahun, dan akan mencapai 1,4 juta pergerakan pada tahun 2015,” katanya.

Dijelaskannya, pengembangan Bandara Sultan Thaha tersebut merupakan program yang dirancang PT Angkasa Pura II dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan terhadap para pengguna jasa angkutan udara, yang juga erat kaitannya dengan faktor keselamatan dan keamanan operasional penerbangan.

”Pengembangan ini juga mengacu pada Surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 63 tahun 2009 tentang Rencana Induk Bandar Udara Sultan Thaha,” jelasnya.

Dilanjutkannya, selain untuk memberikan ruang gerak yang cukup bagi para pengguna jasa bandara, pengembangan Bandara Sultan Thaha ini juga sebagai salah satu upaya antisipasi terhadap lonjakan pergerakkan penumpang dari dan menuju Jambi maupun kota-kota lain di sekitarnya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Diungkapkannya, Bandara Sultan Thaha saat ini masih melayani rute penerbangan domestik dengan lima maskapai penerbangan reguler berjadwal. Garuda Indonesia, Sky Airline, Sriwijaya Air, Lion Air, Batavia air dengan jumlah penerbangan mencapai 20 penerbangan per hari ke sejumlah tujuan, seperti Jakarta dan Batam.

Rencananya, ungkapnya, pembangunan Tahap I akan terfokus pada upaya peningkatan kapasitas terminal agar mampu melayani hingga 1,5 juta pergerakan per tahun.

Upaya yang dilakukan adalah dengan menambah luas bangunan terminal dari 2.308 m2 menjadi 13.015 m2. Proses pembangunan yang diperkirakan akan menggunakan anggaran PT Angkasa Pura II sebesar 107,5 miliar ini, ditargetkan akan selesai pada pertengahan 2013 mendatang.

Berdasarkan catatannya, pergerakan pesawat di Bandara Sultan Thaha telah mencapai 8.694 pergerakan atau meningkat sekitar 6,5 persen  dari tahun 2010 yang mencapai 8.157 pergerakan. Kemudian, seiring laju pertumbuhan yang terjadi, pada 2015 diperkirakan akan mencapai hingga 10.000 pergerakan pesawat per tahun. Sejalan dengan pembangunan gedung terminal baru, direncanakan pula perpanjangan landasan pacu serta melakukan perluasan apron dan taxiway sehingga dapat menampung lebih banyak pergerakan pesawat.

Tidak hanya pergerakan penumpang dan pesawat yang mengalami peningkatan di Bandara Sultan Thaha, pergerakan angkutan barang pun mengalami hal serupa.

Pada tahun 2010, jumlah pergerakan barang di bandara ini mencapai 5.200 ton. Sementara pada tahun 2011 ini pergerakannya telah mencapai hampir 6.000 ton, atau meningkat sebesar 14,5 persen.

Dengan melihat tren yang ada, selanjutnya pada tahun 2015 mendatang pergerakan angkutan barang di Bandara Sultan Thaha akan mencapai hingga 7.500 ton pada tahun 2015.

”Kami berharap, pengembangan Bandara Sultan Thaha yang mendapat dukungan besar dari Pemerintah Pusat baik melalui peran Kementerian Perhubungan maupun Kementerian Negara BUMN ini serta Pemerintah Provinsi Jambi, akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian Provinsi Jambi maupun pertumbuhan perekonomian nasional sesuai dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI),” ujarnya.[Dni]

Lion Air Targetkan Angkut 120 Ribu Ton Kargo

JAKARTA–PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) menargetkan mengangkut 120 ribu ton kargo udara pada tahun depan atau naik 42 persen dibandingkan tahun ini yang mengangkut 84 ribu ton.

“Kami biasanya sebulan  mengangkut sekitar 7 ribu ton kargo udara ke seluruh Indonesia. Khusus dari Jakarta ada sekitar 5 ribu ton per bulan. Kontribusi dari bisnis kargo ini dua persen bagi total omset perseroan,” ungkap Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Jakarta, Kamis (15/12).

Diharapkannya, pada 2012 kontribusi omset kargo akan naik bagi total pendapatan perseroan menjadi 10-15 persen seiring naiknya volume yang diangkut. “Walau Lion tidak memiliki pesawat kargo, tetapi kami optimis karena untuk beberapa rute, banyak kargo diangkut setelah penumpang,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk meningkatkan layanan bagi agen kargo yang menjadi mitra perseroan, sejumlah inovasi dilakukan, salah satunya meluncurkan B2B online Cargo Payment dengan Bank Internasional Indonesia (BII).

“Solusi ini merupakan pertama di Indonesia yang ditujukan mempermudah mitra Lion melakukan pembayaran jasa pengiriman melalui platform BII CoolPay,” katanya.

Menurutnya, platform ini akan menjadikan bisnis agen kargo yang menjadi mitra Lion kian berkembang dan berdampak langsung pada kecepatan proses pengiriman barang. Selain itu, ini juga akan meningkatkan keamanan pengiriman barang karena lebih mudah melacak pengirim.

“Kami memiliki 80 agen kargo yang menjadi mitra. Tidak ada kewajiban harus menabung di BII untuk fasilitas ini. Kita hanya menawarkan pilihan kenyamanan dalam bertransaksi,” katanya.[Dni]

Langit Indonesia Masih Cerah

Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini melansir data jumlah penumpang domestik periode Januari-Oktober 2011 yang mencapai 42,59 juta orang atau naik 20,37 persen dibandingkan periode yang sama 2010 sebanyak 35,38 juta penumpang.
Sedangkan jumlah penumpang angkutan udara internasional periode Januari sampai Oktober 8,99 juta orang atau naik 13,36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 7,93 juta orang.
Jika merujuk pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah penumpang yang diangkut oleh maskapai memang menunjukkan tren kenaikan lebih dari 10 persen. Pada 2010 total penumpang pesawat di Indonesia sebanyak 58,15 juta penumpag naik 19,22 persen dibanding realisasi jumlah penumpang 2009 sebesar 48,77 juta.
Jumlah penumpang pada 2009 mengalami pertumbuhan 17,51% disbanding realisasi jumlah penumpang sepanjang 2008 yang sebanyak 41,50 juta orang.
Masih Cerah
Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, langit Indonesia masih cerah pada tahun depan alias pertumbuhan penumpang akan tetap tinggi di kisaran dobel digit.
“Jika dilihat secara konservatif, pertumbuhan penumpang tahun depan untuk domestik bisa mencapai 15%. Hal ini karena biasanya jumlah penumpang yang diangkut dua kali pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika optimistis bisa di angka 22%,” ungkapnya di Jakarta, kemarin.
Diungkapkannya, jika pun ada ancaman terkait pertumbuhan penumpang, akan terjadi di penerbangan internasional karena adanya krisis global. Tetapi jika bicara rute domestik, tetap bergairah. ”Lion Air menargetkan mengangkut 27 juta penumpang pada 2012,” katanya.
Ketua Umum  Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Emirsyah Satar menegaskan, krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa belum berpengaruh terhadap bisnis penerbangan nasional. “Hingga kuartal ketiga 2011  pertumbuhan penerbangan dunia melambat hanya tumbuh 3,7 persen, sementara pertumbuhan nasional mencapai 15 persen,” ungkapnya.
Emir yang juga  Dirut Garuda Indonesia mengungkapkan, maskapai yang dipimpinnya  saat ini mengalami pertumbuhan pasar sebesar  39 persen untuk pasar domestik, meningkat lima persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 26 persen.
Sedangkan pasar internasional tumbuh sebesar 32 persen diatas maskapai lainnya yang sebesar 10 persen. Saat ini, Garuda menguasai pasar penerbangan nasional sebesar 23 persen, masih dibawah Lion Air yang mencapai hampir 50 persen.
“Walau ada krisis ekonomi global,  berbagai rencana maskapai lokal  untuk mengadakan pesawat terus berjalan dan tidak terpengaruh oleh krisis. Lion Air, Sriwijaya Air dan Garuda tetap terus menambah pesawat,” katanya.
Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan menargetkan peningkatan jumlah penumpang pada 2012 sebesar 15 persen menjadi 19,55 juta orang dari target tahun ini  17 juta orang. ”Ekspansi rute domestik dan armada akan mempengaruhi jumlah penumpang yang diangku tahun depan,” katanya.
Berdasarkan catatan, hingga 30 September 2011 Garuda mengoperasikan 85 unit pesawat. Perseroan masih akanmenerima 7 unit pesawat hingga akhir 2011. Pada 2012, Garuda akan menerima sebanyak 6 pesawat.
Sementara itu, Direktur Komersial Batavia Air Sukirno Sukarna menargetkan jumlah penumpang yang diangkutnya pada 2012 sebanyak 7,7 juta penumpang naik dari target 2011 sekitar 7 juta penumpang. ”Tambahan pesawat dan daya beli masyarakat yang terus naik menjadi pertimbangan ditetapkan target tersebut,” katanya.
Dijelaskannya, untuk dapat mencapai target pertumbuhan jumlah penumpang, perseroan bernecana menambah tiga Airbus A320 dan tiga Airbus A321. Saat ini Batavia Air mengoperasikan 35 pesawat.
Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo mengungkapkan, pada 2012 maskapainya mematok target mengakut 10,40 juta penumpang, terdiri dari 10 juta penumpang rute domestik dan 400 ribu penumpang internasional.
Saat ini Siriwjaya Air mengoperasikan 30 unit pesawat, terdiri dari 12 Boeing 737-200, 12 Boeing 737-300, dan enam Boeing 737-400. pada Desember 2011, Sriwijaya masih akan mendatangkan satu unit Boeing 737-200 dan Boeing 737-400.
Toto mengungkapkan, maskapainya berencana mengakuisisi 12 unit pesawat milik Continental Airlines, maskapai asal Chicago, Amerika Serikat, secara bertahap mulai April-Desember 2012. Kedatangan pesawat tersebut untuk menggantikan 12 unit Boeing 737-200 yang akan di-phase out perseroan.
”Pengadaan pesawat dilakukan dengan skema lease to purchase dalam waktu 12 tahun. Harga per unit berkisar lima-tujuh juta dollar AS,” katanya.
Selain mendatangkan 12 Boeing 737-500, Sriwijaya juga berencana mendatangkan lima Boeing 737-800 NG dengan status sewa dan lima Embraer E195. Pengiriman lima pesawat Embraer yang dimulai Agustus 2012 merupakan bagian dari pemesanan 20 unit Embraer E175 dan Embraer E195 yang telah dipesan pada November 2010 dengan harga 40,50 juta dollar AS per unit.
Pada kesempatan lain, Sekjen Inaca Tengku Burhanudin mengatakan, bisnis penerbangan berbeda dengan jasa lainnya dimana jumlah penumpang yang diangkut seasonal. ”Biasanya bulan-bulan yang kosong itu ditutup oleh masa peak season seperti Lebaran, Natal, dan Tahun Baru,” katanya.
Diharapkannya, pemerintah terus mendukung bisnis penerbangan dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai seperti bandara yang nyaman dan akses yang mudah ke fasilitas tersebut.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan pemerintah akan menggandeng pihak swasta untuk mengembangkan bandar udara (Bandara) di tanah air yang masuk dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dengan nilai investasi mencapai 32 triliun rupiah. Peluang bagi swasta dibuka dalam bentuk tender dengan pola kerjasama pemerintah dan swasta atau public private partnership (PPP).
“Ada sejumlah bandara yang harus dikembangkan dan masuk dalam program MP3EI.  Pengembangannya butuh dana 32 triliun rupiah,” katanya.
Diungkapkannya,  dari total kebutuhan dana tersebut, pemerintah hanya mampu menyiapkan dana sebesar 20 persen atau 6,4 triliun rupiah. Sisanya akan dibuka kesempatan bagi investor berpartisipasi dengan menggunakan pola kerjasama pemerintah dan swasta atau PPP.
“Nanti investor akan kembangkan atau bangun bandara dan mereka akan mendapat konsesi, setidaknya 30 tahun atau bisa diperpanjang,” jelasnya.
Dikatakannya, pola yang diadopsi untuk pengembangan dan pembangunan sejumlah bandara ini akan sama seperti yang diberlakukan untuk proyek di pelabuhan, yakni menggunakan pola PPP. Bagi operator, misalnya PT Angkasa Pura I atau II  yang sudah lebih dulu mengelola bandara terkait, dan berinisiatif untuk mengembangkan, akan mendapat hak keistimewaan.[dni]

Ketat di Full Service

Pada tahun depan pasar full service diperkirakan akan kian ketat Segmen ini hanya menguasai 16,9 persen pangsa pasar penumpang dari total 51,3 juta orang yang diangkut pada tahun lalu, dengan Coumpund Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 7 persen untuk 2010-2015, namun peminatnya mulai bertambah.

Jika sebelumnya untuk rute domestik Garuda Indonesia bermain sendirian, tahun depan akan ada Pacific Royale dan awal 2013, Space Jet milik Lion Air akan menyusul.
Pacific Royale baru saja mengantongi Surat Izin Angkutan Udara (SIAU) atau Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) dan  berjanji akan membuka pasar baru di layanan full service agar bisa bersaing di industri penerbangan.
“Pacific Royale tidak akan mengambil rute-rute Garuda Indonesia selaku kompetitor di kelas full service (layanan penuh). Kami akan ambil rute yang tidak banyak didatangi Garuda Indonesia,” ungkap  Managing Director Pacific Royale Samudera Sukardi.
Dijelaskannya, langkah itu dilakukan perseroan karena ini porsi pasar full service  masih sedikit dibanding pasar low cost carier (LCC) atau tarif rendah. “Ini adalah alasan dibidik pasar full service. Kalau masuk kelas LCC, artinya kami nekat karena sudah banyak yang memasuki pasar ini,” jelasnya.
Ditargetkannya, armada  Pacific Royale menerbangi kota-kota di Indonesia mulai Februari 2012 setelah Air Operation Certificate (AOC) dikantongi.
Pacific Royale saat ini sudah memiliki 10 pesawat, terdiri dari lima milik yakni Fokker 50, dan lima sewa Airbus 320. Hal ini untuk memenuhi ketentuan dalam UU No.1/2009 tentang Penerbangan. Untuk key person  sudah memiliki pilot dari maskapai Mandala Airlines dan Riau Airlines.
Diungkapkannya,  biaya pendirian sebuah maskapai baru tergolong bermodal besar. Pihaknya sudah investasi 25 juta dollar AS sesuai dengan persyaratan dari Kementerian Perhubungan.
Dkatakannya,  dalam 1 tahun pertama akan mengoperasikan 10 pesawat, nantinya akan ditambah seiring waktu. Saat terbang perdana, kemungkinan akan mengoperasikan 4 pesawat.
Pada penerbangan awal nanti, pihaknya akan menerbangi rute-rute domestik terlebih dahulu dengan hub dari Jakarta. Kota-kota yang menjadi pilihan yakni Medan, Batam, dan Surabaya.
“Awalnya kami terbang ke rute domestik dahulu dengan hub dari Jakarta dan sub hub di Medan, Batam, dan Surabaya. Nantinya akan terbangi regional dan internasional,” katanya.
Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, telah mengurus SIUP milik Space Jet.
“Awal 2013 akan dioperasikan. Kita akan ubah konfigurasi pesawat yang ada dimana nantinya ada layanan hiburan dan komunikasi yang canggih, serta tempat duduk lebih nyaman,” katanya.
Diungkapkannya, untuk menggarap segmen full service, perseroan akan mengalokasikan sekitar 12 pesawat tipe Boeing 737-900 ER yang telah dimodifikasi interiornya sesuai dengan segmen yang dilayani. “Kami sekarang telah memiliki 50 pesawat tipe Boeing 737-900 ER, hingga akhir tahun nanti akan menjadi 54 unit. Sedangkan pada 2016 nanti akan menjadi 178 unit,” katanya.
Sementara Sriwijaya Air yang tadinya berencana ikut menggarap segmen full service pada awal tahun depan menunda keinginannya. “Untuk rencana menggarap segmen full service terpaksa kami tunda karena ternyata membutuhkan investasi dan persiapan yang matang,” kata Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo.
Secara terpisah,  Direktur Keuangan Garuda Indonesia  Elisa Lumbantoruan menyambut gembira hadirnya maskapai baru yang pasarnya sama dengan perseroan. “Industri penerbangan memang butuh tambahan kapasitas,” katanya.
Namun, diingatkannya,  pasar  full service sangat keras, justru di  LCC yang lebih menguntungkan. “Makanya maskapai sekelas Singapore Airlines  SQ mau masuk ke LCC, layaknya  kebanyakan maskapai  full service mau punya LCC,” jelasnya.
Menurutnya, untuk Full Service, investasi awalnya sangat besar, begitu juga dengan struktur biayanya. Sehingga harga jual menjadi lebih mahal.  “Harus punya modal kuat agar nafas panjang. Mustinya kalau baru mulai, lebih baik   ke LCC saja. Kalau Lion Air mau ke full service masih lebih rasional karena   bisa cross subsidy dari LCC-nya,” katanya.[dni]

Garuda Operasikan Simulator Baru

JAKARTA–Maskapai Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengoperasikan dua simulator penerbangan generasi terbaru masing-masing  untuk pesawat Airbus 330-200 dan Boeing  737-800 NG dengan investasi 26 juta dollar AS.

“Penggunaan kedua simulator penerbangan generasi termutakhir (kelas D) tersebut akan semakin melengkapi fasilitas dan infrastruktur Garuda Indonesia Training Center dalam mendukung upaya Garuda mencetak pilot-pilot baru yang handal,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Jumaat (16/12).

Dijelaskannya,  kedua simulator ini sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi peningkatan pangsa pasar di industri penerbangan yang pesat, seiring rencana Garuda melalui program Quantum Leap 2015 ingin mengoperasikan 154 pesawat termasuk A330-200 dan B737-800 NG.

“Kedua simulator ini juga akan semakin meningkatkan kualitas keamanan perusahaan, menurunkan biaya pelatihan pilot hingga 50 persen,” jelasnya.

Diungkapkannya, saat ini Garuda Indonesia memiliki 1.000 pilot yang sebagian besar merupakan pilot Airbus 330 series dan Boeing 737-800 NG. Dengan pengembangan armada yang dilaksanakan, dan untuk memenuhi kebutuhan pilot hingga 2015, Garuda akan merekrut 400 pilot lagi.

Kedua simulator penerbangan ini, lanjutnya, merupakan Airbus 330-200 dan Boeing 737-800 NG yang disesuaikan dengan program penambahan armada Garuda kedepan, yakni sebagian besar armada Garuda merupakan pesawat jenis ini. Kedua simulator ini dibeli dari CAE, perusahaan internasional yang berkedudukan di Montreal Kanada yang begerak dibidang pembuatan peratan pelatihan penerbangan sipil maupun militer berbasis teknologi.

“Kedua simulator penerbangan ini merupakan jenis terbaru dari produk-produk CAE yang menggunakan system electric motion, menggantikan era hydraulic motion, sehingga efisiensi pengunaan listrik dapat ditekan hingga 40 persen,” katanya.

Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengungkapkan investasi untuk membeli kedua simulator itu senilai 26 juta dollar AS yang menggunakan kas internal perusahaan.

Menurut Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono terdapat  empat faktor yang harus dipenuhi agar mampu menjawab kebutuhan pelayanan maksimal di bidang penerbangan, yang setiap tahun menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Faktor-faktor tersebut, pertama, prasarana diantaranya bandara, trafic control dan lain sebagainya. Kedua, sarana yakni penyediaan pesawat yang laik dan prima.

Selanjutnya adalah manajeman maskapai, dimana seluruh operator harus memperhatikan piranti pendukung bersamaan dengan terus bertambahnya jumlah armada yang digunakan. Terakhir adalah sumber daya manusia (SDM) yang sangat penting untuk dipenuhi kualitasnya.

Ditegaskannya,  kemampuan pilot untuk menerbangkan pesawat harus terus ditingkatkan seiring dengan semakin tingginya teknologi dalam penerbangan.

“Pilot harus bisa menyeimbangkan antara manual flight dan digital flight, karena pesawat tidak mengenal siapa yang mengemudi, namun dengan penguasaan keduanya maka akan sangat penting sehingga bisa membawa pesawat dengan aman,” ujarnya.

Diharapkannya, ketersediaan simulator pesawat udara seperti yang dikembangkan Garuda Indonesia  dapat mendukung operasional penerbangan dan melaksanakan pengembangan kualitas SDM.[Dni]