311009 Bisnis Internet Jadi Masa Depan Telkom

new-telkom-logoJAKARTA–PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akan menggantungkan nasibnya pada bisnis internet di masa depan selain jasa seluler.

“Jasa telepon kabel terus menunjukkan penurunan. Kami harus mencari bisnis baru yang menunjukkan masa depan cerah,” ujar Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah kepada Koran Jakarta, Jumat (30/10).

Diungkapkannya, jasa internet yang akan menjadi andalan adalah broadband Speedy dan Telkomsel Flash. Speedy nyaris memiliki pelanggan sebesar satu juta satuan sambungan layanan, sedangkan Telkomsel Flash sekitar 700 ribu pelanggan.

“Pertumbuhan paling besar terjadi di Speedy. Hampir 50 persen pertumbuhannya. Selain kedua itu, kami juga ada teknologi Broadband Wireless Access (BWA) berbasis Wimax sebagai pelengkap. Wimax akan mendapatkan izin prinsip pada bulan depan,” katanya.

Selanjutnya dijelaskan, bisnis lainnya yang bisa berkontribusi besar bagi perseroan adalah seluler melalui anak usaha Telkomsel.

Divisi seluler pada kuartal ketiga ini mengalami kenaikan pendapatan usaha sebesar 15,1 persen menjadi 21,041 triliun rupiah dari sebelumnya 18,280 triliun rupiah.

Berkaitan dengan kinerja dari Telkom pada kuartal ketiga, terungkap terjadi kenaikan laba bersih 4,2 persen menjadi 9,3 triliun rupiah hingga kuartal III-2009.

Tahun lalu, pada periode yang sama, perseroan mencatat laba bersih sebesar 8,92 triliun rupiah.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan Telkom (yang tidak diaudit) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat 30 Oktober 2009, selama periode itu, laba usaha operator telekomunikasi terbesar di Indonesia itu naik tipis dari 17,17 triliun menjadi 17,95 triliun rupiah.

Sementara itu, pendapatan usaha mencapai 47,11 triliun rupiah atau naik sekitar 5,5 persen dari periode sama tahun sebelumnya 44,65 triliun rupiah.

Pendapatan dari data, internet, dan jasa teknologi informatika mengontribusi paling besar, yakni 12,42 triliun rupiah.

Namun, beban usaha juga naik 6,1 persen dari 27,47 triliun menjadi 29,16 triliun rupiah. Ekuitas perusahaan mencapai 37,5 triliun rupiah , atau naik 15,6 persen dari periode sama 2008 sebesar 32,5 triliun rupiah.[Dni]

Iklan

291009 TRG Investasi Rp 60 Miliar untuk Perangkat Wimax

JAKARTA–PT Teknologi Riset Global
(TRG) menanamkan dana sebesar 60 miliar rupiah guna mengembangkan perangkat wimax buatan lokal.

“Dana itu digunakan untuk mengembangkan assembly line di Batam. Kami menggandeng SIIX Electronics Indonesia untuk mengasembling perangkat,” ungkap Presiden Direktur TRG Sakti Wahyu Trenggono kepada Koran Jakarta, Rabu (28/10).

Dijelaskannya, perseroan semakin serius menggeber produksi perangkat wimax seiring telah adanya operator akan bermain  mengusung teknologi  wimax di spektrum 2,3 GHz dan 3,3 GHz.

“Regulasi dari pemerintah sangat mendukung keberadaan perangkat lokal untuk digunakan. Jadi, sekarang saatnya berproduksi untuk mencapai skala ekonomis,” jelasnya.

Ditegaskannya, produk yang dihasilkan oleh perseroannya telah memenuhi kandungan lokal sebesar 40 persen untuk BTS dan 30 persen untuk Consumer Premises Equipment (CPE).

“Produk kami memiliki reliabilitas, biaya yang efektif, dan didukung layanan purna jual. Saat ini kami sudah mendapatkan pemesanan dari Telkom untuk frekuensi 3,3 GHz,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk tahun ini assembly line hasil kerjasama dengan SIIX memiliki kapasitas produksi 80 BTS dan 4 ribu CPE per bulan.

Setelah itu pada tahun depan ditingkatkan menjadi 200 BTS dan 10 ribu CPE per bulan. Dan pada 2011 kemampuan produksi meningkat menjadi 400 BTS dan 20 ribu CPE per bulan.

“Kapasitas produksi yang ada itu baru satu shift. Jika pemesanan sudah banyak akan disesuaikan.Rencananya pada kuartal ketiga tahun depan TRG akan memiliki pabrik sendiri di Cikarang. Kami investasikan 100 miliar rupiah untuk membangun pabrik tersebut,” katanya.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menyambut gembira keseriusan dari TRG untuk memproduksi perangkat lokal bagi produk wimax.

“Pemerintah memang memberikan peluang besar bagi pemain lokal di teknologi ini. Sudah saatnya dihentikan Indonesia hanya menjadi pasar dari produk asing,” tegasnya.

Menurut Nonot, bangkitnya manufaktur lokal untuk perangkat telekomunikasi akan membuat devisa negara tidak lari seluruhnya ke luar negeri.

“Belanja modal telekomunikasi mencapai 70 triliun rupiah tahun ini. Realitasnya hanya 0,7 persen  dinikmati manufaktur lokal,” katanya.[Dni]

291009 Dari Penurunan Kecepatan hingga Pemotongan Kuota

Teknologi broadband mulai marak menjadi alat “perang”  bagi operator untuk memenangkan persaingan di Indonesia terjadi sejak dua tahun lalu.

Awalnya, teknologi  pipa  lebar untuk koneksi internet  itu belum dimaksimalkan oleh operator walaupun inovasi  3G sudah hadir di pertengahan 2006.

Teknologi 3G yang dipercaya bisa memberikan kecepatan akses hingga 2 Mbps, oleh operator awalnya  lebih ditonjolkan fitur video calling-nya. Namun, sejak hadirnya modem berupa USB donggle, maraklah perang menjual akses  broadband ke pelanggan, baik itu berbasis mobile atau fix.

Di kategori fix broadband nama yang patut diapungkan adalah Speedy milik Telkom dan Fastnet dari Firstmedia. Sedangkan di mobile broadband tentunya nama TelkomselFlash, XL, dan IM2 merupakan tiga nama besar yang saling bersaing. Terbaru, pesaing dari ketiga ini adalah Smart Telecom.

Saat pertama berjualan teknologi ini, hampir semua operator menawarkan paket dengan harga murah yang mengusung kecepatan akses  benar-benar “broadband” alias di atas 256 kbps dan kuota mencapai 3 GB. Tetapi, seiring pelanggan bertambah dan kapasitas jaringan mulai terisi, operator mulai melakukan  pembatasan kecepatan atau menurunkan kuota bandwitdh bagi pelanggan.

Untuk operator berbasis nirkabel (Speedy atau Fastnet)  yang mendorong dilakukan itu dari sisi jaringan adalah  pada  kapasitas gateway internasional dan transport atau backbone domestik. Namun, pada operator  wireless bukan hanya gateway dan backbone domestik,  tetapi kapasitas BTS (akses) juga memiliki keterbatasan.

Munculnya kasus pemotongan kuota bandwitdh milik pelanggan TelkomselFlash belum lama ini tentu menjadi pelajaran penting bagi pemain lainnya dalam berjualan akses mobile broadband.
Sekadar pengingat,  Telkomsel per 1 September 2009 memberlakukan kebijakan baru berupa penurunan kuota bandwidth Telkomsel Flash secara sepihak.
Kebijakan baru ini membuat kuota Paket Basic turun menjadi 500 MB dengan kecepatan maksimum 256 kbps, Paket Advance turun menjadi 1 GB dengan kecepatan maksimum 512 kbps, serta Paket Pro tetap 2 GB dengan kecepatan maksimum 3,6 Mbps. Sebelumnya, kuota yang diberikan untuk ketiga paket tersebut sama-sama 2 GB.

Bila penggunaan melebihi kuota, pelanggan memang tetap tidak dikenakan biaya tambahan, hanya saja, secara otomatis kecepatan maksimum akan berubah. Paket Pro menjadi 128 Kbps dan Paket Basic, serta Advance menjadi 64 Kbps.

Kebijakan terakhir dari Telkomsel ini menuai kritikan dari penggunanya karena telah diikat satu tahun berlangganan dengan kuota mencapai 2GB. Akhirnya Telkomsel mengalah dan menunda kebijakan pemotongan bandwitdh.

Banyak kalangan menilai, Telkomsel salah memperhitungkan perilaku pengguna kala menjual jasa broadband karena merujuk pada pola mengakses data melalui ponsel.  Akses internet dari ponsel penggunaannya  tidak akan melebihi 200 MB per bulan karena konten untuk ponsel  umumnya memang kecil.

Tetapi kenyataan di lapangan berbicara lain. Pengguna Telkomsel Flash banyak menggunakan modemnya di laptop atau desktop yang berujung bisa diunduhnya aplikasi yang membutuhkan bandwitdh besar. Padahal, kapasitas BTS High Speed Data packet Access (HSDPA) hanyalah n x 3,6 Mbps (n = jumlah carrier).

“Kami mengambil kebijakan tersebut untuk memberikan keadilan bagi pengguna lainnya. Realita di lapangan, banyak pelanggan unlimited menyalahgunakan kuota yang diberikan dengan mengunduh aplikasi diluar kewajaran. Akhirnya, pelanggan yang benar-benar ingin mengakses data tidak mendapat kesempatan,” jelas VP Marketing dan Product Telkomsel Mark Chamber kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Ketua  Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Dian Siswarini menjelaskan, tidak mudah memberikan kecepatan yang stabil bagi pengguna mobile broadband mengingat  jaringan nirkabel  menggunakan teknologi  sharing resources.

Hal itu membuat  kapasitas yang ada digunakan secara bergantian dengan besarnya kapasitas yang harus di-install ditentukan berdasarkan perhitungan statistik  memakai asumsi jumlah dan distribusi pelanggan tertentu. Hal ini berbeda dengan wireline dimana  jaringan aksesnya dedicated.

Semua itu  menyebabkan jaminan untuk memberikan trhoughput atau kecepatan tertentu untuk data service agak sulit dilakukan, kecuali jika margin kapasitas di semua lokasi cukup besar dan dapat menampung perubahan trafik yang mendadak. Margin kapasitas tersebut memerlukan investasi yang besar yang pada akhirnya bisa membebani pelanggan karena harga lebih tinggi.

“Operator tentu saja selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pengguna. Tetapi ada hal-hal yang membatasi, misalnya harga frekuensi 3G  yang relatif mahal.  Jika memang inigin kecepatan dan kuota yang stabil tentu semua stake holder harus duduk bersama mencari solusi,” katanya.

Head Of Sales & Marketing Radio Access Nokia Siemens Network (NSN) Markus Borchert, menyarankan, menawarkan harga layanan berbasis pada paket kuota atau kecepatan dengan persyaratan yang jelas adalah solusi bagi operator agar tidak dikomplain oleh pelanggan.

“Mobile broadband itu menggunakan frekuensi radio yang dibagi. Hal yang biasa jika kecepatan menurun ketika jaringan diduduki bersamaan. Solusinya ditawarkan saja berlangganan dengan paket kecepatan dan kuota tertentu,” katanya.[dni]

291009 Teknologi LTE: Mencari Keseimbangan Antara Trafik dan Pendapatan

Lembaga Informa’s Global Content & Services Traffic Forecast belum lama ini mengeluarkan data tentang pola trafik internet dalam lima tahun ke depan melalui mobile broadband.

Menurut lembaga tersebut di dunia selama satu tahun lalu telah terjadi kenaikan trafik internet mencapai 100 persen dengan menggunakan teknologi High Speed Packet Access (HSPA).

Namun, Seiring datangnya teknologi High Speed Packet Access+ (HSPA+) dan Long Term Evolution (LTE) mulai 2010, maka trafik internet melalui akses mobile broadband akan melonjak dua kali lipat. Pada 2013 saja diperkirakan lonjakan trafik internet di dunia akan mencapai 1683 persen yang diakses melalui  telepon seluler dan laptop.

Sayangnya, meski trafik diperkirakan melonjak tetapi tidak demikian halnya dengan kantong dari operator penyelenggara. Jika pada 2013 pertumbuhan trafik bisa mencapai ribuan persen, maka pendapatan operator saat itu terjadi hanya sekitar 188 persen.

Di Indonesia, pengguna jasa mobile broadband  sekitar 10 juta pelanggan. Diperkirakan pada 2012 nanti, tingkat penetrasi dari broadband bisa mencapai 20 persen dari total  populasi. Saat ini jasa tersebut hanya berkontribusi di bawah 5 persen bagi total pendapatan dari satu operator.

“Ada ketidakseimbangan dari pola trafik dan pendapatan yang diterima oleh operator jika melihat tren yang akan terjadi,” ungkap Head Of Sales & Marketing Radio Access Nokia Siemens Network (NSN) Markus Borchert, di Jakarta belum lama ini.

Ketidakseimbangan itu terjadi karena pelanggan banyak mengakses situs yang memiliki bandwitdh besar sehingga membebani jaringan dari para operator.

“Tentunya untuk mengatasi keterbatasan kapasitas operator akan berinvestasi di jaringan. Nah, jika salah memilih teknologi atau masih mempertahankan teknologi lama, bisa jadi prediksi bahwa pendapatan operator tidak akan sebesar trafik itu terjadi,” jelasnya.

Menurut Markus, operator yang menyelenggarakan mobile broadband harus mulai dari sekarang menimbang untuk menerapakan lanjutan dari teknologi 3G yaitu Long Term Evolution (LTE) guna mengantisipasi tren layanan di masa depan yakni pasar data. LTE  adalah siklus terakhir pengembangan teknologi data seluler  dengan standar  IEEE 802.20 yang diproyeksikan menemukan momentumnya pada 2010 nanti.

NSN sendiri telah berhasil mengujicobakan panggilan komersial melalui LTE  dan menjual BTS yang menunjang teknologi tersebut belum lama ini. Rencananya pada bulan depan LTE akan diujicoba di Indonesia dan pada tahun depan akan dikomersialkan secara global.

Markus menjelaskan, teknologi LTE memiliki keunggulan pada kemampuan  untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan akses data. Selain itu, kebutuhan spektrum bisa dijalankan di alokasi yang sudah dimiliki oleh operator. “Biaya investasi jaringan bisa dipangkas hingga 70 persen jika menggunakan teknologi ini,” jelasnya.

Indonesia Butuh
VP Product and Marketing Telkomsel Mark Chamber mengakui, industri telekomunikasi Indonesia akan membutuhkan kehadiran  LTE di masa depan guna mengantisipasi lonjakan trafik data dari pengguna internet.

“Indonesia tentunya akan membutuhkan LTE di masa depan. Hal ini jika menilik kepada penggunaan jasa pita lebar bergerak (mobile broadband) yang mengalami eksponensial selama setahun ini,” ujarnya.

Menurut Mark, masyarakat Indonesia saat ini dalam tahap edukasi tentang kegunaan dari broadband. Hal itu bisa dilihat dari kecenderungan mengakses pada situs jejaring sosial atau fasilitas chatting.

“Itu hal yang biasa dalam tahap awal pengenalan teknologi. Setelah itu akan muncul kreatifitas mengembangkan aplikasi. Nah, ketika aplikasi lokal ini berkembang  dibutuhkan mobile broadband dengan kecepatan yang lumayan tinggi. LTE bisa menjadi jawaban dari kebutuhan itu nantinya,” jelasnya.

Mark menjelaskan, teknologi broadband tidak hanya dibutuhkan oleh para operator tetapi negara. Hal ini dapat dilihat dari survei yang dilakukan belum lama ini dimana menunjukkan setiap 10 persen penetrasi basic telephony bisa meningkatkan GDP negara sebear 0,6 persen. tetapi, jika broadband tumbuh sebesar 10 persen dampaknya ke GDP lebih dahsyat yakni sekitar 1,2 persen.

Software Policy Director Business Software Alliance (BSA) Asia Pasifik Claro Parlade menambahkan, meningkatkan penggunaan broadband juga dapat menaikkan daya  saing Teknologi Informasi  suatu negara.

“Saat ini Indonesia berada di peringkat 59 dari 66 negara. Kesenjangan daya saing ini bisa semakin lebar bagi negara yang lemah dalam mengadopsi jaringan broadband,” jelasnya.

Mark mengungkapkan, operator di Indonesia saat ini sedang serius mengembangkan jaringan mobile broadband miliknya. “Kendala di Indonesia saat ini adalah ketersediaan infrastruktur. Sekarang operator terus menggelar jaringan. Tentunya jika LTE bisa memenuhi kebutuhan operator akan digunakan,” jelasnya.

Praktisi telematika Suryatin Setiawan menjelaskan, masalah infrastruktur bisa diatasi jika pemerintah memiliki komitmen untuk membangun masyarakat berbasis broadband. “Semua aspek administrasi dari pemerintah harus di-online-kan. Itu akan menimbulkan kebutuhan dan stimulus bagi operator,” jelasnya.

Jika kondisi tersebut diciptakan, maka operator akan mengoptimalkan fitur Enhanced Data rates for GSM Evolution (EDGE) yang telah ada di jaringannya selama ini.

EDGE adalah teknologi evolusi dari GSM dan IS-136 dengan  kecepatan datanya sebesar 384 kbps, dan secara teori dapat mencapai 473,6 kbps.

”Kalau layanan data selular mau disediakan dengan kecepatan antara 0,5 sampai 2 Mbps maka fitur EDGE yang umumnya sudah ada di mesin selular GSM dapat diaktifkan bersamaan dengan konfigurasi jaringan radio dan transmisinya. Ini membuat publik segera mendapat layanan data yang lebih baik dari GPRS  dan tidak perlu menunggu operator menyediakan layanan 3G di seluruh wilayah. Kalau sudah begini pasar broadband akan lebih cepat matang di Indonesia,” jelasnya.

Model Bisnis
Pada kesempatan lain, Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto menjelaskan, tidak berimbangnya antara trafik dan pendapatan yang diraih oleh operator dalam menyelenggarakan mobile broadband saat ini karena belum ditemukan model bisnis yang ideal oleh operator.

”Indosat mencatat dalam satu hari saja ada tujuh miliar hit ke situs Facebook dari Indonesia. Ini salah satu jumlah yang terbesar di dunia. Pertanyaannya, operator dapat apa dari hit yang tinggi itu,” katanya.

Guna mengantisipasi lonjakan trafik, Indosat menghadirkan teknologi HSPA+ yang memiliki  kecepatan downlink 21 Mbps dan uplink 5.8 Mbps.  Pada tahap awal  teknologi ini  akan diterapkan untuk pelanggan di Jabodetabek.

Indar mengungkapkan, pihak yang menikmati keuntungan saat ini adalah pengembang aplikasi karena melalui hasil kreatifitasnya bisa menangguk keuntungan berupa iklan. ”Lihatlah Facebook, semua kegiatan dilakukan di situ. Pengembangnya dapat iklan, operator tidak dapat apa-apa. Jika diibaratkan, kami ini kan hanya membangun jalan tol, sementara mobil yang mau berhenti di ”rest area” kan tidak bisa diatur,” katanya.

Indar menyarankan, harus bisa dibangun secepatnya ekosistem antara operator dan pengembang aplikasi untuk mengembangkan mobile broadband. ”Jika tidak operator yang berdarah-darah, para pengembang bisa terus menangguk keuntungan. Mungkin bisa dipikirkan pola pembagian berdasarkan trafik yang masuk atau solusi lainnya. Sejatinya dari bisnis ini harus saling berbagi,” katanya.[dni]

281009 Tender Desa Pinter Diragukan

JAKARTA–Program Desa Pinter yang sedang memasuki proses tender diragukan efektifitasnya jika masih berbasis pada proyek pengadaan barang.

“Jika pemerintah bersikukuh pelaksanaan tender Desa Pinter itu mengacu pada pelaksanaan proyek layaknya pengadaan barang, maka sama saja ini dengan menabur garam ke laut,” ungkap Anggota Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Yadi Heryadi di Jakarta, Selasa (27/10).

Menurut Yadi, sangat disayangkan dana yang disediakan pemerintah untuk program tersebut mencapai triliunan rupiah jika akhirnya menjadi sia-sia akibat salah konsep.

“Jika konsepnya pengadaan barang, tidak akan tercapai itu target menaikan jumlah pengguna internet,” katanya.

Disarankannya, Depkominfo saling berkoordinasi dengan departemen lain seperti usaha kecil dan menengah, serta perindustrian mendorong pengusaha membangun outlet internet di desa kategori Universal Service Obligation (USO).

“Sebaiknya alokasi dana USO itu digunakan sebagai penjaminan subsidi bunga. Akhirnya para  pengusaha bisa mendapatkan kredit bunga 0 persen. Tetapi semuanya diberikan kewajiban membangun outlet internet itu,” katanya.

Secara terpisah, juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto mengungkapkan, sebanyak 25 penyelenggara jasa Internet (PJI) mengikuti tender proyek Desa Pinter dan delapan di antaranya mengikuti seluruh paket proyek untuk 5.738 kecamatan dengan total pagu anggaran tahun pertama 370,5 miliar rupiah.

Dijelaskannya, untuk tender kali ini Depkominfo melalui Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan (BTIP) Ditjen Postel membagi pengerjaan proyek Desa Pinter dari dana USO menjadi 11 paket pekerjaan.

“Hingga akhir masa pendaftaran peserta prakualifikasi 21 Oktober lalu, kami menerima 25 perusahaan, delapan di antaranya mendaftar di semua paket. Ada tiga paket yang menjadi favorit para peserta. Akhir November nanti diharapkan tender sudah selesai,” ujarnya.

Diungkapkannya,  satu paket paling tinggi diminati oleh 17 perusahaan. Ketiga paket tersebut yaitu paket 4 Jawa Barat dan Banten dengan pagu anggaran tahun pertama 41,5 miliar rupiah, paket 5 Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan pagu senilai 35,6 miliar rupiah, serta paket 7 Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan pagu senilai 27,9 miliar rupiah.

Sebanyak 16 perusahaan berminat terhadap paket 6 Jawa Timur dengan pagu 32,7 miliar rupiah dan paket 8 seluruh wilayah Kalimantan senilai 40,4 miliar rupiah.

Paket dengan minat terbanyak lainnya (sebanyak 14 perusahaan) adalah paket 1 untuk wilayah Nanggro Aceh Darussalam dan Sumatra Utara senilai 40 miliar rupiah.

Evaluasi dokumen para calon peserta prakualifikasi berlangsung sejak 22 Oktober hingga 27 Oktober 2009. Hasil prakualifikasi, masa sanggah, dan penyampaian undangan bagi para peserta akan diumumkan pada pekan pertama November 2009.

Gatot menegaskan pihaknya lebih menilai tingkat kemampuan dukungan finansial para peserta tender pada saat evaluasi nantinya.

Program desa pinter sendiri masuk dalam penilaian kinerja 100 hari pertama pejabat menkominfo baru, Tifatul Sembiring.

Tifatul menargetkan dalam 3 bulan terdapat 100 desa dengan masing-masing memiliki 1 komputer.[Dni]

241009 Pelayanan Angkutan Haji Harus Ditingkatkan

JAKARTA—Operator bandara dan maskapai yang terlibat dalam penyelenggaraan angkutan haji diminta untuk terus meningkatkan pelayanannya karena kegiatan tersebut merupakan rutinitas tahunan.

“Kegiatan haji adalah rutinitas yang ada setiap tahun. Operator bandara dan maskapai harus terus meningkatkan layanannya. Jangan tiap tahun kualitasnya sama. Itu berarti tidak ada peningkatan,” ujar Menteri Perhubungan Freddy Numberi di Jakarta, Selasa (27/10).

Freddy mengungkapkan hal tersebut dalam kunjungan kerjanya bersama Menteri Agama Suryadarma Ali, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti, Dirut PT Angkasa Pura II Eddy Haryoto, serta Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Menurut Freddy,  saat ini  keberadaan terminal khusus haji yang ada di Bandara Soetta cukup merepresentasikan upaya peningkatan mutu pelayanan kepada jamaah.

”Penyediaan terminal khusus haji ini sudah bagus, karena jamaah tidak perlu berbaur dengan penumpang reguler di terminal umum. Saya berharap, mutu pelayanan yang baik tidak hanya saat berangkat, tetapi juga pada saat proses pemulangan jamaah dari tanah suci,” katanya.

Freddy meminta,  Garuda sebagai maskapai yang mengangkut jemaah haji dapat  memberikan kemudahan pengangkutan bagasi.

“Setiap tahun masalah bagasi selalu menjadi permasalahan sendiri dalam pelaksanaan angkutan haji. Berilah penumpang kemudahan untuk bagasi, kalau perlu digratiskan sehingga mereka tidak perlu membawa barang  banyak-banyak ke dalam kabin yang ruang bagasinya sangat terbatas itu. Saya yakin, kalau itu disosialisasikan dengan baik, memintah jamaah untuk mengepak barangnya dengan baik, pasti bisa. Jamaah pasti akan mengerti,” katanya.

Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Syatar mengatakan, pihaknya akan berupaya melaksanakan instruksi Menhub untuk terus melakukan upaya peningkatan mutu pelayanan terhadap jamaah. ”Kami akan terus berupaya untuk meningkatkan mutu pelayanan. Karena itu, kami selalu berusaha untuk menyediakan armada yang baik,” ujar Emir.

Selain armada, Emir menambahkan, untuk memudahkan proses komunikasi jamaah selama penerbangan berlangsung, pihaknya juga merekrut putra dan putri daerah dari masing-masing wilayah embarkasi. ”Masih banyak jamaah yang tidak bisa berkomunikasi bahasa Indonesia, karena itu untuk membantu mereka, kita ambil pramugari dan pramugara dari daerah asal masing-masing,” tambahnya.

Kecewa Terminal I
Jika puas dengan layanan angkutan haji, sebaliknya Freddy mengaku kecewa dengan kondisi Terminal I Soetta.

“Sangat disayangkan, kita ini bukan negara miskin dan banyak orang pintar, tapi mengapa terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta amburadul,” katanya.

.Menurut Freddy, amburadulnya pengelolaan ini juga mencerminkan kepribadian masyarakat, antara lain sejumlah toilet yang tidak bersih dan puntung rokok tidak pada tempatnya.

“Ke depan, kamar mandi-WC harus lebih baik dan bersih karena inilah kesan pertama yang dilihat oleh orang asing. Jika kotor, maka kesan mereka bangsa ini tak sanggup bersih dan seterusnya,” katanya.

Ditegaskannya,  untuk masalah ini, tidak ada alasan untuk tidak baik. “Tak ada lagi ruang bagi petugas dan masyarakat bertindak seenaknya karena ini semua adalah refleksi kultur bangsa,” katanya.

Menanggapi kondisi terminal 1 Bandara Soekarno Hatta, Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura II, Sudaryanto mengatakan, pihaknya terus melakukan perbaikan dan peningkatan pelayanan, khususnya di bidang kebersihan.

Sudaryanto merinci sejak Januari 2008 hingga Juni 2009 dan akan terus berkelanjutan telah digelar kegiatan Road to Clean Airport.”Itu meliputi semua aspek, termasuk kebersihan 300-an toilet di bandara. Anggarannya mencapai 1,1 miliar rupiah,” katanya.

Hasilnya, penilaian Asosiasi Toilet Indonesia selama Januari-Oktober 2009, Bandara Soekarno-Hatta masuk peringkat dua.

Dikataknnya,  kebersihan toilet di bandara tidak bisa disamakan dengan di hotel. “Standarnya beda,” katanya sambil menambahkan, saat ini dari 10 toilet, sekitar 1-2 toilet masih kurang bersih.

Khusus di terminal 1, Sudaryanto mengakui, yang kurang bersih adalah toilet di sekitar “air side”, “apron” dan sekitarnya.

“Kalau di ruang terminal dan gate, sudah bagus,” katanya. [Dni]

281009 Susi Air Butuh Investasi Rp 200 Miliar

JAKARTA—Maskapai penerbangan Susi Air membutuhkan dana segar sebesar 200 miliar rupiah guna menambah armadanya untuk melayani rute-rute yang dimiliki..

Presiden Direktur Susi Air, Susi Pudjiastuti mengungkapkan, saat ini maskapainya memiliki armada  berjumlah 22 unit yang terdiri dari jenis

Susi air adalah maskapai yag memulai bisnisnya sebagai  penerbangan carter di sekitar Medan dan Aceh sejak 2004. Saat ini, maskapai tersebut telah memiliki wilayah pelayanan  ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Papua.

Beberapa rute yang dilayani adalah    Jakarta-Bandung, Jakarta-Pangandaran, Jakarta-Cilacap, dan Bandung-Pangandaran.  Sebelumnya, maskapai ini telah mengajukan ke regulator untuk mendapatkan sertifikat angkutan berjadwal dari sebelulmnya melayani pasar carter.

Pelita Air
Pada kesempatan lain, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Herry Bakti S Gumay, membantah telah  mencabut izin terbang pesawat milik maskapai penerbangan Pelita Air.

”Kita tidak pernah mencabut izin terbang Pelita Air. Pesawat itu tidak beroperasi karena memang harus sudah masuk bengkel sesuai siklus inspeksi rutin pesawat. Karena harus masuk bengkel, pesawat maka otomatis tidak akan terbang,” jelasnya.

Herry memaparkan, pesawat carter jenis Fokker-28 yang melayani rute Denpasar—Labuan Bajo—Maumere—Kupang serta rute Tambulaka—Ende—Kupang tersebut, saat ini berada di bengkel perawatan pesawat Pelita Air di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten.

Di luar pengecekan seluruh komponen, keberadaan pesawat berkapasitas 85 penumpang itu di bengkel adalah untuk menjalani heavy maintenance, yang salah satunya meliputi modifikasi pintu kokpit (reinforced cockpit door) agar tahan peluru sesuai dengan standar keselamatan penerbangan internasional. Kurun waktu yang dibutuhkan dalam menjalani inspeksi ini berkisar antara 4 minggu hingga sebulan ke depan.

”Pesawat ini harus heavy maintenance atau pemeriksaan di level D-Check, karena sudah memasuki siklus inspeksi 12 ribu jam terbang. Sebelum memasuki level ini, pesawat juga telah menjalani inspeksi rutin sesuai siklus terbangnya, seperti A-Check pada 100 jam terbang, B-Check (600 jam), serta C Check (3000 jam),” jelasnya.

Ditambahkan Herry, meski pesawat Pelita Air tersebut tidak beroperasi untuk sementara waktu, proses pengangkutan penumpang di rute-rute yang biasa dilayaninya tidak akan terhambat. ”Karena di sana ada pesawat lain, seperti Merpati, Riau Airlines, serta Trigana. Jadi, tidak akan ada masalah,” katanya.[dni]