100208 Ruang Gerak Operator Semakin Terbatas

Ruang gerak operator telekomunikasi dalam meningkatkan jumlah pelangganya   akan semakin terbatas seiring  rencana regulator mengeluarkan  kode etik pemasaran tak lama lagi.

 

Tujuan dari kode etik tersebut agar persaingan antaroperator menjadi sehat dan efisien dalam mengeluarkan dana promosi.

 

Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Basuki Yusuf Iskandar menjelaskan, hal-hal yang diatur dalam kode etik tersebut diantaranya  tentang materi periklanan atau program promosi dari operator.

 

 “Kami melihat selama ini operator dalam beriklan saling menjatuhkan dan tidak terbuka memberikan informasi ke pelanggan. Perilaku seperti ini tak ubahnya membohongi publik,” katanya di Jakarta, Sabtu (9/2).

 

Menurut dia, gencarnya operator berpromosi memicu masyarakat berprilaku konsumtif karena selalu diimingi tarif murah atau hadiah mobil mewah untuk suatu program undian.”Dampak dari itu semua masyarakat berfikir industri ini sangat wah. Jadinya, ketika pemerintah meminta tarif diturunkan, operator kelabakan,” katanya.

 

Dia menyarankan, anggaran besar yang disiapkan operator untuk program pemasaran dialihkan ke program yang meningkatkan kualitas pelayanan bagi pelanggan seperti penambahan BTS atau lainnya.

 

Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio mengatakan, untuk jangka pendek regulator dapat mendesak  perkumpulan Pengusaha Periklanan Indonesia (P3I) menerapkan kode etiknya bagi pembuatan iklan operator telekomunikasi. “Kode etik dari P3I sebenarnya sudah mengatur   materi iklan   tidak menjatuhkan. Untuk jangka panjang, saya setuju ada kode etik pemasaran bagi operator agar tidak ada yang merasa dirugikan,” katanya.

 

Menanggapi hal itu, President Director XL, Hasnul Suhaimi menjelaskan, iklan operator yang terkesan saling menyerang justru menjadi bagian dari pendidikan bagi publik. “Publik dapat menilai dari iklan yang dikeluarkan produk mana yang terbaik untuk dia,” katanya.

 

Dikatakan, selama ini operator sudah berusaha transparan dalam beriklan. Jika terkesan ada yang ditutupi itu karena keterbatasan ruang di media massa.”Jika semua kita paparkan bisa habis dua halaman koran. Dana kita kan terbatas juga,” katanya.

 

Berdasarkan catatan, pada 2007 lalu industri telekomunikasi menempati peringkat kedua sebagai pembelanja iklan terbesar setelah industri rokok. Hal itu tak dapat dilepaskan dari kebijakan operator yang mengalokasikan 5 persen dari total belanja modalnya untuk aktivitas pemsaran seperti iklan, undian, dan lainnya.

 

Besaran 5 persen itu tergolong besar jika kita mengambil contoh dari dua operator besar, Telkomsel dan Indosat, yang pada 2007 lalu memiliki anggaran belanja modal sebesar US$ 1,2 miliar. Sayangnya, dana yang dikucurkan lumayan besar dinilai sebagian kalangan sia-sia terutama yang berkaitan dengan iklan yang cenderung mengelabui publik seperti promosi tarif Rp 0 dari indosat, dan Rp 0,5 per detik dari Telkomsel. Kedua operator tesebut tidak transparan menyebutkan tarif  murah tersebut mensyaratkan pemakaiaan dalam waktu tertentu sehingga masyarakat banyak yang merasa tertipu.[DN]