Garuda Beli 11 Pesawat A330-300

JAKARTA— PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk (Garuda) membeli tambahan 11 pesawat  jenis A330-300 dari  Airbus Industrie dengan nilai kontrak mencapai 2,54 miliar  dollar AS.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengungkapkan, kesebelas pesawat tersebut   tersebut secara bertahap akan bergabung dengan armada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu  mulai tahun 2013 hingga 2017 mendatang.

“Published price tipe   A330-300 sekitar 231.1 juta dollar AS,  sehingga total harga dari kesebelas pesawat sebesar 2,54 miliar dollar AS. Saat ini Garuda Indonesia telah mengoperasikan sebanyak 14 pesawat jenis A330 series yang terdiri dari enam pesawat A330-300 dan delapan A330-200,” ungkap Emir kala dihubungi Rabu (11/4).

Diungkapkannya,  pembelian tambahan 11 pesawat A330-300  bagian dari program pengembangan armada yang dilakukan oleh perseroan  dalam rangka peningkatan kapasitas dan pengembangan jaringan/rute penerbangan pada rute menengah dan rute jarak jauh Garuda.

“Sesuai dengan program Quantum Leap yang saat ini dijalankan, maka pada tahun 2015 mendatang Garuda akan mengoperasikan sebanyak 194 pesawat terdiri dari B737-800NG, A330-300/200, B777-300ER dan A320 ( dioperasikan Citilink)  dengan rata – rata umur pesawat 5 tahun,” katanya.

Diskon

Direktur Keuangan Garuda Indonesia  Elisa Lumbantoruan  mengungkapkan pendanaan dari 11 armada tambahan ini menggunakan metode Predelivery Payment secara bertahap. “Kita  cicil mulai 24 bulan sebelum delivery.  Pendanaan dari  internal free cash flow dan pinjaman. Satu hal yang pasti, itu harga publik, kita akan minta diskon karena sudah menjalin kerjasama lama dengan Airbus,” ungkapnya.

Sebelumnya, Garuda Indonesia telah melaksanakan penandatanganan MoU pembelian pesawat dengan Airbus berupa 10 A330-200 pada tahun 2010 dan pembelian 50 A320 untuk Citilink pada tahun 2011.

Pada tahun 2012 ini, Garuda Indonesia akan menerima 21 pesawat baru yang terdiri dari 4 B737-800NG, 2 A330-200, 10 pesawat A320 untuk Citilink, dan 5 pesawat sub-100 Bombardier CRJ1000 NextGen. Dari 21 pesawat tersebut, Garuda telah menerima 1 B737-800NG dan 1 A330-200 pada bulan Februari lalu. Dengan kedatangan pesawat – pesawat baru tersebut, maka pada tahun 2012 jumlah armada Garuda Indonesia akan mencapai sebanyak 105 pesawat dengan rata – rata usia 5,8 tahun.

Sejalan dengan peningkatan potensi pasar internasional, Garuda akan membuka rute penerbangan baru Denpasar ke Haneda (Tokyo) terhitung mulai  27 April 2012 dan penerbangan dari Jakarta ke Taipei mulai  24 Mei 2012.

Menurut Executive Vice President  Programmes Airbus Tom Enders , A330 adalah pesawat yang memimpin di kelasnya. Selain memiliki salah satu kabin ternyaman di udara, A330 menawarkan tingkat keterandalan yang telah teruji dan biaya operasional yang rendah.

Pesawat bermesin ganda A330 adalah salah satu pesawat widebody yang paling banyak digunakan saat ini. Airbus telah mencatat hampir 1,200 pesanan untuk beragam versi dari pesawat A330, dan lebih dari 800 pesawat sedang dioperasikan oleh 90 perusahaan penerbangan di seluruh dunia.[dni]

Perpres Holding BUMN Kehutanan Terbit April

JAKARTA–Kementerian Badan Usaha Milik Negara (KBUMN)  mengharapkan Peraturan Presiden (Perpres) pembentukan Holding BUMN Kehutanan terbit pada April 2012 guna memuluskan penggabungan lima perusahaan Perum Perhutani dan PT Inhutani I-V pada semester I 2012.

“Kita berharap pada April 2012 Perpres sudah diteken,” ungkap Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementerian BUMN Pandu Djajanto di Jakarta, Selasa (10/4).

Dikatakannya,  Perpres tentang Holding BUMN Kehutanan seharusnya bersamaan dengan Perpres pembentukan Holding BUMN Perkebunan, namun hingga kini belum terealisasi.

Jadwal Perpres tersebut sudah terlambat karena sebelumnya ditargetkan selesai pada 1 Maret 2012.

Namun,  rencana pembentukan induk perusahaan kehutanan maupun perkebunan sedang difinalisasi.

“Untuk BUMN Kehutanan masih di Sekretaris Negara, sedangkan Perkebunan masih di Kementerian Keuangan,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan memperkirakan pembentukan Holding Kehutanan bisa terealisasi lebih dulu dibandingkan  BUMN Perkebunan.

“BUMN Kehutanan sepertinya sudah lebih siap,  karena jumlah perusahaan yang relatif lebih sedikit dibanding Perkebunan. Holding BUMN Kehutanan juga sudah dipersiapkan sejak jauh hari,” ujar Dahlan.

Diungkapkan Dahlan,  pembentukan holding BUMN Kehutanan awalnya menemui beragam kendala seperti permasalahan lahan, pendanaan dan kemampuan keuangan yang rendah.

“Namun sekarang sudah semakin positif karena sudah mendapat dukungan penuh dari Menteri Kehutanan Zulkifli hasan, agar bagaimana hutan Indonesia dapat dikelola dengan baik dan lebih produktif,” ujar Dahlan.

Jika holding BUMN Perkebunan yang menyatukan potensi PTPN I-XIII ini rampung, maka perseroan memiliki aset hingga sekitar 50 triliun rupiah, dengan perkiraan kemampuan mencetak laba bersih di atas 5,3 triliun rupiah.

Sedangkan holding Kehutanan akan meningkatkan sinergi antara Perhutani dan Inhutani sehingga lebih mudah memperoleh modal untuk pengembangan investasi industri di sektor kehutanan, termasuk meningkatkan kompetensi dalam merehabilitasi hutan.[dni]

Stanchart akan Kontribusi 36% Omset Kontrak Global Garuda

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memprediksi sebanyak 80  ribu dari total 400 ribu pemilik kartu kredit Standard Chartered Bank dapat menyumbang omset sekitar 162 miliar rupiah atau 36 persen dari total target 450 miliar rupiah yang akan diraih melalui  strategi menggandeng korporat global dalam memenuhi pendapatan penjualan korporasi 2012 sebesar 3 triliun rupiah.

“Tahun ini Garuda membidik  15-20 akun korporasi global untuk meraih target yang ditetapkan. Belum lama ini kita menggandeng Shell, sekarang Stanchart,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (9/4).

Diprediksinya, sebanyak 20% dari total 400 ribu pengguna kartu kredit StanChart akan memanfaatkan program yang dirancang dengan Stanchart dalam kerangka kontrak global tersebut.

“Perkiraan pengeluaran rata-rata setiap orang mencapai  200 dollar AS untuk membeli tiket pesawat. Jika 20% dari 400.000 pemilik kartu  162 miliar rupiah,” jelas Emirsyah.

Dikatakannya,  kerjasama dengan Stanchart ini merupakan lanjutan dari sebelumnya terkait transaksi pemesanan sepuluh pesawat Boeing 737-800 Next Generation. Sepuluh pesawat ini akan disewa oleh Garuda Indonesia dari Pembrokade Lease France Sas, salah satu anak perusahaan Stanchart yang bergerak di bidang penyewaan pesawat terbang, pembiayaan, dan manajemen.

Dijelaskannya, tujuan lain dari menggandeng StanChart adalah  mengembangkan pasar internasional dan domestik.  Beberapa manfaat langsung bagi pemegang kartu kredit StanChart  adalah mencakup diskon sampai 12% untuk pembelian tiket pesawat semua rute internasional dan domestik. Ada juga potongan harga hingga 30% untuk pembelian tiket pesawat dengan rute internasional menuju Jakarta serta Denpasar.

Regional Head of Consumer Banking Standard Chartered Bank, Som Subroto mengatakan selain pengguna kartu kredit Standard Chartered di Indonesia, fasilitas ini juga bisa digunakan enam pasar lain yaitu Singapura, Thailand, Malaysia, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan. “Ada enam market lain di Asia yang populasi pengguna kartu kredit cukup besar,” jelasnya.

Sebelumnya, Garuda berhasil menggandeng Shel  International Limited yang  menjadi akun global pertama yang didapat perseroan.[dni]

Susi Air Kaji Terbitkan Obligasi

JAKARTA–Maskapai penerbangan Susi Air tengah mengaji menerbitkan obligasi untuk memenuhi belanja modal 2012 sekitar 100 juta dollar AS jika tidak berhasil mendapatkan pinjaman dari perbankan.

“Jika kita tidak mendapatkan pinjaman dari perbankan, bisa saja diterbitkan obligasi untuk menutup belanja modal. Pasalnya kas internal hanya mampu menutup belanja modal sebesar 20 persen,” ungkap Presiden Direktur Susi Air,  Susi Pudjiastuti di Jakarta, Kamis (12/4).

Diungkapkannya,perseroan tengah terlibat pembicaraan serius dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) untuk pemenuhan belanja modal tersebut. “Kita memiliki rekam jejak yang baik dengan BRI. Saya optimistis BRI akan bantu,” katanya.

Ditegaskannya, tidak hanya dengan BRI, bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti BNI juga menjalin kerjasama yang baik dengan maskapainya. “Pembiayaan empat pesawat tipe caravan Susi Air dibiayai oleh BNI sebesar 60 miliar rupiah,” ungkapnya.

Dikatakannya, perseroan pada tahun ini  berencana mendatangkan maksimal 16 pesawat yang membutuhkan dana sekitar 100 juta dollar AS. Pesawat yang akan didatangkan adalah tipe  baling-baling seperti Cessna C208B Grand Caravan, Piaggio P180 Avanti, dan Pilatus PC-6 Porter.

“Kami tahun ini membidik omset naik 20 persen ketimbang tahun lalu yang sebesar 200 miliar rupiah. Tahun lalu kita mengangkut 35-40 ribu penumpang, tahun ini kita harapkan naik menjadi 50 ribu penumpang. Kita makin optimistis target omset tercapai karena memenangkan juga rute perintis  dengan pagu anggaran 25 miliar rupiah di Kuasa Pemegang Anggaran (KPA) Kalimantan sebanyak 15 rute,” ungkapnya.

Saat ini Susi Air memiliki 47 pesawat terdiri dari jenis Cessna C208B Grand Caravan, unit Pilatus PC-6 Porter,  Piaggio P180 Avanti,  dan helikopter. Pesawat jenis Cessna selama ini dioperasikan untuk rute-rute antarkabupaten di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Pesawat berkapasitas 12 kursi-14 kursi tersebut dipesan langsung dari Cessna Aircraft Company yang bermarkas di Wichita, Kansas, Amerika Serikat. Sementara Piaggio P180 Avanti adalah pesawat turboprop bermesin ganda dari Italia yang dibuat Piaggio Aero berkapasitas sembilan kursi.

Sebelumnya perseroan memprediksi untuk periode 2011-2013 perseroan membutuhkan belanja modal sebesar US$ 350 juta yang sebagian besar dialokasikan untuk memperkuat armada dan kebutuhan operasi perusahaan.[dni]

XL Targetkan Kontribusi Segmen Komunitas Muda Capai 8%

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) menargetkan kontribusi segmen komunitas muda mencapai 7-8% dari total omset yang diraih pada 2012.

“Pada tahun lalu kontribusi segmen komunitas muda bagi perseroan sekitar 5% dari total omset. Kita harapkan  dengan agresifnya ke pasar melalui XL Edusolution, kontribusinya meningkat menjadi 7-8%,” ungkap VP Enterprise and Community XL Titus Dondi di Jakarta, Senin (9/4).

Diungkapkannya, dari 46,4 juta nomor yang dimiliki perseroan pada 2011, sebanyak 2,2 juta nomor berasal dari komunitas segmen muda dengan Average Revenue Per User (ARPU) 27 ribu rupiah. “Kita targetkan akan ada 3,5 juta nomor berasal dari komunitas segmen muda agar tujuan meningkatkan kontribusi bisa tercapai,” ujarnya.

Berdasarkan catatan, pada 2011  XL memiliki omset  18,92 triliun rupiah. Hal ini berarti sebanyak lima persen atau  sekitar  946 miliar rupiah disumbang oleh komunitas segmen muda. Sedangkan pada tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan omset setara industri  yakni 8 persen atau mencapai  20,42  triliun rupiah dan segmen komunitas muda akan menyumbang sekitar   1,663 triliun rupiah.

VP Corporate Communication XL Axiata Turina Farouk menjelaskan, perseroan  membidik segmen  anak muda karena pangsa  pasarnya besar dan mudah untuk dipengaruhi agar bisa diakuisisi. “Pasar anak muda ini besar. Di XL juga dominan usia muda yang menjadi pengguna. Tetapi yang digarap dalam komunitas segmen muda baru 2,2 juta nomor,” jelasnya.

Gandeng Bank

Lebih lanjut Titus menjelaskan, untuk menggarap pasar anak sekolah perseroan menggandeng perbankan yang juga ingin menggarap segmen tersebut. Perbankan yang telah diajak kerjasama adalah Bank Syariah Mandiri untuk menyediakan kartu 3 in 1 bagi komunitas muda XL.

“Saat ini kita sedang berbicara dengan Bank Permata Syariah untuk menawarkan juga kartu 3 in 1 ke sekolah-sekolah yang menjadi bidikan bersama,” katanya.

Dijelaskannya, kartu 3 in 1 adalah kartu yang berfungsi sebagai alat komunikasi, tabungan, dan informasi sekolah. Kartu ini bisa dipasarkan berkat strategi XL menjalankan Sistem Informasi Sekolah Terpadu (Sifoster) di seribu sekolah, dimana sebanyak 185 sekolah telah dibekali Wifi. Kartu 3 in 1 sendiri telah digunakan oleh murid-murid dari 15 sekolah.

Sifoster adalah layanan digital terintegrasi melalui platform internet dan SMS berfungsi untuk memberikan informasi dari sekolah dan kampus dengan cepat kepada pelajar atau mahasiswa.

“Kita menargetkan Sifoster ini akan terpasang di 2.500 sekolah atau kampus, sementara Wifi di 500 lokasi. Ini bagian dari strategi untuk berinvestasi di depan agar bisa mengakuisisi segmen sekolah nantinya melalui kartu 3 in 1 yang dipasarkan bersama perbankan. Investasi untuk pemasangan satu server Sifoster itu sekitar 10 juta rupiah,” ungkapnya.[dni]

 

Gandeng Susi Air, Garuda Garap Pasar Hub and Spoke

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menggandeng maskapai Susi Air untuk mengoptimalkan omset dari pasar pengumpul dan pengumpan (Hub and Spoke) yang belum tergarap secara penuh oleh operator penerbangan berbasis full service di Indonesia.

“Kami menggandeng Susi Air yang selama ini terkenal bermain di rute-rute kota-kota yang tak bisa dijangkau oleh pesawat berbadan lebar seperti di Kabupaten atau kawasan Indonesia Timur. Kita ajak maskapai ini kerjasama di bidang penjualan tiket, agar penumpang kedua maskapai bisa terkoneksi. Ini kerjasama hub and spoke yang bagus di pasar penerbangan Indonesia,” ungkap Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia, M. Arief Wibowo di Jakarta, Kamis (12/4).

Dijelaskannya, adanya kerjasama dengan Susi Air  menjadikan penumpang maskapai tersebut  bisa menggunakan jasa Garuda   ke berbagai rute penerbangan di Indonesia yang tersambung (connect) dengan rute penerbangan Susi Air. Untuk mendukung hal tersebut, Garuda Indonesia akan menfasilitasi Susi Air dengan layanan penjualan tiket Garuda Indonesia secara elektronik melalui Garuda Online Sales (GOS). Selain itu, kerjasama ini juga meliputi bidang Sumber Daya Manusia dan bidang operasional lainnya.

“Tahap awal kerjasamanya seperti itu dulu. Kita bantu Susi Air berjualan tiketnya, sementara Garuda juga akan membantu secara Teknologi informasinya (TI). Kita belum bisa melakukan satu harga tiket untuk kedua maskapai karena sistem TI yang digunakan berbeda. Garuda sudah berbasis IATA, Susi Air masih TIC Aero. jika sistem TI Susi Air sudah di-upgrade, bisa saja terjadi satu harga untuk penumpang yang manfaatkan Susi Air dan Garuda,” jelasnya.

Ditargetkannya, melalui kerjasama yang dilakukan Garuda bisa mendapatkan  pendapatan sebesar 30 miliar rupiah setiap bulan. Perolehan pendapatan tersebut berasal dari jumlah penumpang Susi Air setiap harinya dimana transaksi per penumpang sekitar  500 ribu rupiah hingga satu  juta rupiah, dimana Garuda menargetkan mendapatkan seribu penumpang.

Presiden Direktur Susi Air, Susi Pudjiastuti mengharapkan, kerjasama ini adalah awal sebelum dijalankannya satu tarif untuk penumpang yang ingin menggunakan Garuda dan Susi Air. “Penumpang Susi Air itu umumnya pasti ingin ke kota besar yang dilayani Garuda. Kita harapkan ada kerjasama semacam Code share nantinya,” katanya.

Untuk diketahui, Susi Air merupakan maskapai penerbangan Indonesia yang dioperasikan oleh PT ASI Pudjiastuti Aviation dengan penerbangan berjadwal dan charter. Berkantor-pusat di Pangandaran, Jawa Barat, Susi Air beroperasi di beberapa kota utama di Indonesia antara lain di Medan, Padang, Jakarta, Kupang, Balikpapan, Ternate, Biak, Timika dan Jayapura.

Kargo

Pada kesempatan lain, Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar   meresmikan penggunaan gudang kargo domestik yang berada di area pergudangan bandara Soekarno – Hatta.

Gudang yang telah direnovasi tersebut, memiliki kapasitas ruangan lebih luas yaitu 4,625.12 M, serta memiliki fasilitas khusus seperti jalur khusus untuk “go product” yang terdiri dari “go synergy” yang merupakan layanan khusus bagi pelanggan sejak pelaksanaan reservasi hingga penerimaan barang; “go priority speed”, layanan eksklusif pengiriman paket dan dokumen antar bandara; “go priority heavy”, layanan khusus pengiriman barang-barang berat (heavy cargo) antar bandara secara cepat dan aman; dan “go select”, layanan pengiriman barang antar bandara yang memerlukan perhatian khusus. Selain jalur khusus “go product” tersebut, gudang cargo domestik tersebut juga dilengkapi oleh fasilitas x-ray yang digunakan untuk mendeteksi barang berbahaya.

Emirsyah menjelaskan, renovasi gudang kargo tersebut merupakan upaya perseroan   untuk secara terus menerus meningkatkan layanannya kepada para pengguna jasa – khususnya para pengguna jasa kargo. “Upaya ini juga merupakan salah satu bagian dari program jangka menengah dimana pada tahun 2015 mendatang, Cargo Garuda Indonesia akan menjadi leader for Asian Cargo Brand, jelas  Emirsyah.

Emirsyah juga memperkenalkan  penampilan website baru Garuda Indonesia Cargo serta implementasi e-cargo (Cargo Management System) sistem yang memungkinkan para pengguna jasa untuk dapat melakukan pembukuan secara online. Sebelumnya reservasi dilakukan melalui call center. Selain fasilitas pembukuan secara online, para pengguna jasa juga dapat memanfaatkan web tersebut untuk melakukan “tracking” barang.

Garuda Indonesia Cargo merupakan salah satu Strategic Business Unit Garuda Indonesia yang bergerak di bidang pengiriman barang. Saat ini, Garuda Indonesia melayani pengiriman barang baik ke kota-kota rute domestik maupun internasional sesuai dengan penerbangan Garuda Indonesia. Garuda Indonesia – pada tahun 2011 – berhasil mengangkut sebanyak 229 ribu ton cargo, meningkat sebanyak 10,8 persen dari tahun 2010 yang sebanyak 207 ribu ton kargo.[dni]

Gandeng BRI Syariah, Telkom Kembangkan Uang Digital

JAKARTA— PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menggandeng PT  Bank BRI Syariah guna mengembangkan layanan uang digital.

“Kami menggandeng BRI Syariah untuk memperkuat layanan uang digital seperti Delivery Money Access (Delima) yang melayani   remittance. Porsi  Telkom berperan sebagai penyelenggara layanan dan BRISyariah sebagai mitra perbankan,” ungkap   Direktur Enterprise & Wholesale Telkom Arief Yahya di Jakarta, Rabu (11/4).

Diungkapkannya, tujuan kerjasama Telkom dengan BRISyariah untuk memperkuat jaringan agen Delima. Keunggulan  BRI Syariah yang memiliki 103 kantor cabang dan didukung oleh 152 ATM dan sekitar

6,500 mitra loket pembayaran dengan 700 loket dapat disinergikan untuk memperkuat layanan Delima sebagai menjadi cash point.

Direktur Bisnis BRISyariah Ari Purwandono mengharapkan, dari kerjasama ini  dapat meningkatkan pendapatan bank dari fee based income dan berbagai cross-selling program dengan Telkom.  “Delima sebuah layanan yang unik dan telah  berkembang pesat, karenanya kami memandang penting kerjasama ini,” kata Ari.

Delima atau Delivery Money Access adalah produk pengiriman uang (remittance) domestik dan internasional yang memberikan kemudahan untuk mengirim uang bagi masyarakat pada cash point yang berlogo Delima (Agent to Agent Service) atau melalui Handphone (Peer to   Peer Service).

Menurut Ari, bisnis remittance menjanjikan karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah tenaga kerja yang besar dengan distribusi utama di Saudi Arabia, Malaysia, Korea Selatan dan Hongkong . Layanan remittance dimaksud meliputi pengiriman uang baik secara cash to cash maupun cash to account.  “ Potensi devisa TKI sebesar 156 triliun rupiah, sangat menarik untuk digarap bersama,” katanya.

Delima dikomersialkan Telkom pada semester kedua 2011 dengan nilai investasi  15-20 miliar rupiah. Perseroan mengharapkan dalam jangka tiga-emapt tahun nilai investasi yang ditanamkan itu dapat kembali.

Bisnis pengiriman uang ini lumayan besar nilainya. Diperkirakan dari luar negeri ada uang sebesar 156 triliun rupiah yang dikirimkan ke negeri ini. Sedangkan di dalam negeri  yang dikirimkan mencapai 1,4 miliar dollar AS. Semua itu terjadi melalui 300 juta transaksi setiap tahunnya.

Telkom berharap dalam waktu tiga tahun pertama akan ada 20 persen dari 300 juta transaksi itu yang menggunakan Delima.[dni]

BTS XL Tembus 30 Ribu

JAKARTA—PT  XL Axiata (XL) berhasil menembus jumlah BTS melebihi 30 ribu site untuk 2G dan 3G guna mendukung memberikan layanan telekomunikasi berkualitas bagi sekitar 46,4 juta pelanggannya.

Presiden Direktur XL  Hasnul Suhaimi melalui keterangan tertulisnya  mengatakan,   tercapainya jumlah yang melebihi 30 ribu BTS tersebut semakin menjamin luasnya cakupan layanan XL (wider coverage), kapasitas layanan yang semakin besar (bigger capacity), serta kualitas layanan yang lebih baik (better quality) sehingga masyarakat Indonesa akan semakin nyaman dalam melakukan aktifitas komunikasi.

“Ketiga hal tersebut adalah syarat yang harus dilakukan XL mengingat jumlah pelanggan yang terus bertambah dan kini mencapai lebih dari 46,4 juta, juga karena meningkatnya permintaan pelanggan atas layanan data guna mendukung aktivitas mereka,” katanya.

Diungkapkannya, untuk mengimplementasikan ketiga hal itu, dari tahun ke tahun, XL melakukan peningkatan kualitas jaringan. Di tahun 2012 XL telah menetapkan belanja modal sebesar  7-8 triliun rupiah  di mana lebih dari 60 persen  akan khusus dialokasikan untuk mendukung bisnis layanan data termasuk untuk pengembangan infrastruktur jaringan.

Pengembangan infrastruktur ini perlu dilakukan di semua lapisan jaringan, mulai dari akses,backhaul, jaringan inti, juga backbone transmisi. Dari lebih 30 ribu BTS tersebut tersebar di Jawa (62%), Sumatera (20%), dan Kawasan Timur Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, & Papua) (8,5%).

Dijelaskannya,  20 persen dari  30 ribu BTS yang dimiliki di antaranya adalah BTS 3G. Saat ini XL berfokus pada pengembangan cakupan, terutama jaringan 3G karena lebih efisien. Tahun 2011 lalu, dari lebih 6.000 BTS baru, sebanyak 36% adalah Node B untuk jaringan 3G. Dengan demikian hingga akhir tahun 2011, XL memiliki 4.910 Node B di seluruh Indonesia.

Untuk tahun 2012, XL berencana membangun lagi sekitar 6000 BTS baru, di mana sekitar 4000 BTS di antaranya merupakan  BTS 3G. Pembangunan jaringan 3G ini termasuk mencakup kota kecil dan  bahkan pedesaan. Beberapa jaringan Node B XL di daerah tertentu akan menggunakan teknologi HSDPA sehingga bisa menyediakan akses internet cepat.

XL juga melakukan beberapa modernisasi jaringan untuk mengubah BTS 2G dan 3G-nya ke teknologi Single RAN dan teknologi LTE. Pada akhir 2011, XL telah menyelesaikan pekerjaan modernisasi di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera serta jaringan 3G di Jabodetabek. Selain itu, untuk mengantisipasi peningkatan lalu-lintas data karena penggunaan yang semakin besar, XL memastikan jaringan backhaul yang dimiliki mempunyai kapasitas sangat tinggi dengan menggunakan tekonologi yang paling efisien dan berkapasitas tinggi. Untuk itu XL mengadopsi teknologi baru yang menggunakan IP atau serat optik, dan memodernisasi jaringan.

Saat ini, semua RAN Backhaul dan sebagian RAN XL telah menggunakan teknologi IP yang memungkinkan kapasitas untuk naik menjadi 155 Mbps, jauh lebih tinggi dibanding teknologi lama yang hanya 20 Mbps.

Pada tahun 2011, transmisi XL dapat mengakses jaringan menggunakan kombinasi antara gelombang mikro dan serat optik. XL juga telah menggunakan teknologi hibrida yang menggabungkan teknologi TDM dengan IP dalam satu sistem. Saat ini, lebih dari 50 persen Node B XL telah tersambung dengan teknologi IP. Implementasi penuh sistem IP akan dilakukan pada tahun 2012.

Sementara itu, untuk backbone, XL memiliki jaringan backbone nasional yang menghubungkan semua daerah di Indonesia. Saat ini semua backbone XL di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan telah menggunakan kabel serat optik. XL juga mengoperasikan jaringan transmisi gelombang mikro di daerah di luar Jawa yang didukung oleh jaringan VSAT untuk menyediakan kapasitas jaringan dan cakupan di beberapa daerah terpencil di Indonesia.[dni]

Telkom Teruskan Program Buyback Saham

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akan meneruskan program pembelian saham publik (buyback) hingga November 2012  dalam rangka meningkatkan nilai pemegang saham dan kinerja keuangan emiten berkode TLKM itu.

“Kami masih melanjutkan program shares buyback IV yang telah dimulai sejak tahun lalu,” ungkap VP Investor Relations Telkom  Agus Murdiyatno  kala dihubungi Minggu (8/4).

Diungkapkannya, hingga 31 Desember 2011, perseroan telah membeli kembali 283.1 juta lembar saham dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan   New York Stock Exchange (NYSE) dengan nilai  2.06 triliun rupiah atau  41.2 persen dari  total target 5 trilliun rupiah.

“Program shares buyback IV ini berakhir November 2012. Kalau yang baru belum diusulkan,” ungkapnya.

Head of Corporate Communication and Affair Telkom Eddy Kurnia menambahkan, sepanjang 2011  perseroan  mencatatkan kinerja keuangan yang sangat memuaskan, yaitu meraih pendapatan  71,3 triliun rupiah naik 3,8% dibanding pendapatan 2010.

“Pencapaian tersebut menyiratkan selalu adanya pertumbuhan positif atas kinerja Telkom di tengah-tengah persaingan yang semakin tajam. Keterbukaan dan akuntabilitas

mendorong berbagai inovasi di dalam segmen layanan Telkom. Keterbukaan yang kami lakukan belum lama ini mendapakan penghargaan  The Best Environmental Responsibility dan The Best Investor Relations Professional dari   Majalah Corporate Governance Asia,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan, program buyback oleh Telkom ini bukan yang pertama kali.

Pada periode sebelumnya, yaitu sekitar 2005-2009, Telkom melakukan program pembelian saham publik sebanyak tiga kali. Hasilnya sebanyak 490.574.500 lembar saham sudah berhasil dibeli kembali. Nilai dari pembelian kembali selama periode tersebut mencapai  4,263 triliun rupiah.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah kala program shares buyback IV dilakukan menjelaskan, rencana pembelian kembali saham kali ini kembali dilakukan dalam rangka meningkatkan nilai pemegang saham dan kinerja keuangan.  Pelaksanaan buyback saham perusahaan di  BEI dipastikan akan membuat kepemilikan saham pemerintah seolah-olah mengalami penambahan.

Selain itu, buybcak juga akan membuat dividen yang diperoleh oleh pemegang saham akan lebih baik mengingat jumlah saham yang beredar lebih sedikit.

“Return-nya bagi stakeholder lebih tinggi, tapi saham pemerintah juga lebih tinggi di saat yang sama. Kalau dulu pemerintah 51,19 persen, sekarang pemerintah 53 persen,” kata Rinaldi tahun lalu.

 

 

 

First Media Bidik Kinerja Positif

JAKARTA— PT First Media Tbk (KLBV) mengharapkan dapat mencatat kinerja yang positif pada 2012 setelah mengalami penurunan laba bersih sebesar 91,42 persen pada 2011.

“Kami akan berusaha mencatat keuntungan pada tahun ini. Pada 2011,  banyak investasi yang belum menghasilkan. Diharapkan investasi yang dilakukan tahun lalu, mulai menghasilkan pada tahun ini,” ungkap  Presiden Direktur  First Media  Irwan Djaja.

Berdasarkan catatan, pada tahun lalu emiten penyiaran dan telekomunikasi ini  mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 91,42 persen menjadi  3,59 miliar rupiah dari  41,92 miliar rupiah di 2010. Laba bersih per saham First Media pada 2011 turun menjadi minus  25 rupiah  dari  30 rupiah  di 2010.

Penurunan laba bersih perusahaan disebabkan laba sebelum beban pajak penghasilan (EBIT) turun sebesar 46,16 persen mejadi  35,51 miliar rupiah dari 65,96 miliar rupiah. Penurunan kinerja perusahaan disebabkan kenaikan beban usaha, khususnya pada komponen beban administrasi yang naik 46,08 persen, beban penjualan yang naik 67,30 persen, dan beban penyusutan yang naik 35,41 persen.

Sedangkan pendapatan perusahaan sepanjang 2011 meningkat 25,24 persen menjadi  1,04 triliun rupiah dari  832 miliar rupiah di 2010. Perusahaan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan mencapai 20 persen pada tahun ini. Proyeksi tersebut didukung rencana perusahaan memperkuat infrastruktur bisnis broadband untuk menambah pelanggan internet dan televisi kabel berbayar.

Irwan menjelaskan, guna mendukung aksi mencapai kinerja yang positif, perseroan   menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) pada 2012 senilai total 110 juta-120 juta dollar AS untuk mengembangkan bisnis data,

Dana tersebut akan digunakan oleh perseroan untuk melakukan ekspansi terhadap dua lini bidang utama di bisnis data yang sudah dilakukan sejak tahun lalu, yaitu jaringan pita lebar nirkabel (broadband wireless) dan jaringan pita lebar berkabel (broadband kabel)

“Kami akan terus mengembangkan broadband, baik untuk yang wireless  maupun kabel,” ungkapnya.

Diungkapkannya, perseroan membutuhkan dana untuk membangun Base Transceiver Station (BTS) atau menara telekomunikasi dan perangkat keras yang diperkirakan membutuhkan dana sekitar 25 juta-30 juta dollar AS.

Sebelumnya, perseroan mengatakan akan menambah penyewaan menara telekomunikasi menjadi 1.500 unit di tahun ini dari 350 unit saat ini.

Sementara untuk broadband kabel, perseroan menganggarkan sekitar 80 juta dollar AS yang digunakan untuk mendukung operasional.  Perseroan juga sedang mengembangkan fiber optic lewat anak perusahaan Link Net dan membangun jaringan baru untuk homepass

“Untuk broadband kabel kami menargetkan ada penambahan sekitar 250.000 home pass, sehingga total menjadi sekitar 900.000 home pass,” ujar Irwan.

Dikatakannya, sumber pendanaan akan diambilkan dari kas internal, maupun pinjaman perbankan. “Kami juga bisa membuka opsi mengambil dari pasar modal, namun direksi belum memutuskan opsi pasar modal apa yang akan diambil,” tuturnya.

 

Perseroan juga telah berbicara dengan beberapa bank yang siap untuk membantu pendanaan perseroan, baik bank lokal maupun asing.

 

Sementara untuk layanan TV berlangganan,  perseroan juga terus mengembangkan fitur-fitur baru seperti High Definition Chanel yang ada di Beritasatu TV. “Sudah ada 21 chanel termasuk 1 chanel 3D,” paparnya.

 

Untuk diketahui, First Media memiliki bisnis inti sebagai penyedia layanan internet kabel dan televisi berbayar berbasis kabel. Perusahaan memiliki basis pelanggan terbesar di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Perusahaan juga menyediakan layanan terbatas di kota Surabaya dan Denpasar.[dni]