Perbarui PSS, Garuda Investasi US$ 3 juta

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menanamkan investasi sebesar tiga juta dollar AS untuk mengembangkan sistem teknologi reservarsi penumpang atau lebih dikenal dengan  Passenger Services System (PSS)

“Kami menggandeng  Amadeus IT Group SA untuk menjadikan grade PSS mencapai level 5. Kita keluarkan investasi tidak besar, sekitar tiga juta dollar AS. Kita hanya mengeluarkan  biaya implementasi, karena untuk license, hardware, dan network memnggunakan pola pay per use,” ungkap Direktur Keuangan  Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan di Jakarta, Jumaat (20/4).

Diungkapkannya, Garuda telah mengubah pola konsep berinvestasi di sektor Teknologi Informasi (TI) dari berbasis belanja modal menjadi biaya operasional melalui pengembangan komputasi awan (Cloud Computing).

Ditegaskannya, pola investasi TI berbasis cloud computing hal yang umum digunakan maskapai penerbangan.

“Aspek security dan Service Level Agreement (SLA)  sudah proven. Hampir semua airlines di Indonesia juga menggunakan cloud system untuk reservation system. Citilink juga sedang migrasi ke Navitaire, akan jalan di awal Juni 2012,” ungkapnya.

Direktur Pemasaran Garuda Indonesia Arif Wibowo menjelaskan  terpasangnya PSS baru memungkinkan penerbangan Garuda terkoneksi dengan maskapai aliansi globalnya, dan ditargetkan mampu menjaring 6 juta penumpang.

Pasalnya, sistem PSS community dari Amadeus ini merupakan platform yang digunakan oleh maskapai-maskapai penerbangan di aliansi global Sky Team, yang terdiri dari 15 maskapai.

Beberapa maskapai global yang tergabung di aliansi ini diantaranya KLM, Air France, TAROM, Air Europa, Czech Airlines, MEA, Delta Airlines, dan Korea Air Lines.

“Kita targetkan bisa terpasang penuh  pada tahun depan. Konsep pay per use. dikenakan biaya per penumpang, rata-rata 0,7 sen dolar AS” katanya.

Menurutnya,  dengan memiliki PSS community ini, penerbangan Garuda Indonesia dengan 15 maskapai anggota Sky Team akan menjadi satu flight number (nomor penerbangan).

“Sky Team ini, dari 15 maskapai, ada 926 destinasi dengan jumlah penumpang 151 juta orang. Misalnya Delta Air, dari Tokyo ke AS itu ada 26 penerbangan per hari. Semua maskapai aliansi nya full servis. Ini merupakan pasar yang sangat potensial,” kata Arif.

Pada tahun ini Garuda Indonesia menargetkan jumlah penumpang 22 juta, atau naik 29% dari posisi tahun lalu 17 juta penumpang, dengan 3,1 juta diantaranya merupakan penumpang internasional.

Jumlah rute penerbangan Garuda mencapai 19 rute internasional dan  36 rute domestik. Dengan adanya tambahan penumpang dari aliansi global pasca terpasangnya sistem PSS community ini, jumlah penumpang internasional Garuda akan menjadi 9 juta.

Vice President Airline IT Amadeus John Chapman mengatakan kerjasama ini berlaku lima tahun.

Sistem ini juga digunakan oleh 115 maskapai internasional seperti Korea Airlines, Qantas, Singapore Airlines, ANA, Thai, Cathay, Luhfansa, KLM, Soffi, TACA dan TAM.

“Jika Garuda sudah terpasang dengan PSS community Amadeus ini, penerbangan Garuda bisa terhubung dengan ke-115 maskapai yang menggunakan sistem kami,” tuturnya.[dni]

 

Garuda Beli 11 Pesawat A330-300

JAKARTA— PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk (Garuda) membeli tambahan 11 pesawat  jenis A330-300 dari  Airbus Industrie dengan nilai kontrak mencapai 2,54 miliar  dollar AS.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengungkapkan, kesebelas pesawat tersebut   tersebut secara bertahap akan bergabung dengan armada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu  mulai tahun 2013 hingga 2017 mendatang.

“Published price tipe   A330-300 sekitar 231.1 juta dollar AS,  sehingga total harga dari kesebelas pesawat sebesar 2,54 miliar dollar AS. Saat ini Garuda Indonesia telah mengoperasikan sebanyak 14 pesawat jenis A330 series yang terdiri dari enam pesawat A330-300 dan delapan A330-200,” ungkap Emir kala dihubungi Rabu (11/4).

Diungkapkannya,  pembelian tambahan 11 pesawat A330-300  bagian dari program pengembangan armada yang dilakukan oleh perseroan  dalam rangka peningkatan kapasitas dan pengembangan jaringan/rute penerbangan pada rute menengah dan rute jarak jauh Garuda.

“Sesuai dengan program Quantum Leap yang saat ini dijalankan, maka pada tahun 2015 mendatang Garuda akan mengoperasikan sebanyak 194 pesawat terdiri dari B737-800NG, A330-300/200, B777-300ER dan A320 ( dioperasikan Citilink)  dengan rata – rata umur pesawat 5 tahun,” katanya.

Diskon

Direktur Keuangan Garuda Indonesia  Elisa Lumbantoruan  mengungkapkan pendanaan dari 11 armada tambahan ini menggunakan metode Predelivery Payment secara bertahap. “Kita  cicil mulai 24 bulan sebelum delivery.  Pendanaan dari  internal free cash flow dan pinjaman. Satu hal yang pasti, itu harga publik, kita akan minta diskon karena sudah menjalin kerjasama lama dengan Airbus,” ungkapnya.

Sebelumnya, Garuda Indonesia telah melaksanakan penandatanganan MoU pembelian pesawat dengan Airbus berupa 10 A330-200 pada tahun 2010 dan pembelian 50 A320 untuk Citilink pada tahun 2011.

Pada tahun 2012 ini, Garuda Indonesia akan menerima 21 pesawat baru yang terdiri dari 4 B737-800NG, 2 A330-200, 10 pesawat A320 untuk Citilink, dan 5 pesawat sub-100 Bombardier CRJ1000 NextGen. Dari 21 pesawat tersebut, Garuda telah menerima 1 B737-800NG dan 1 A330-200 pada bulan Februari lalu. Dengan kedatangan pesawat – pesawat baru tersebut, maka pada tahun 2012 jumlah armada Garuda Indonesia akan mencapai sebanyak 105 pesawat dengan rata – rata usia 5,8 tahun.

Sejalan dengan peningkatan potensi pasar internasional, Garuda akan membuka rute penerbangan baru Denpasar ke Haneda (Tokyo) terhitung mulai  27 April 2012 dan penerbangan dari Jakarta ke Taipei mulai  24 Mei 2012.

Menurut Executive Vice President  Programmes Airbus Tom Enders , A330 adalah pesawat yang memimpin di kelasnya. Selain memiliki salah satu kabin ternyaman di udara, A330 menawarkan tingkat keterandalan yang telah teruji dan biaya operasional yang rendah.

Pesawat bermesin ganda A330 adalah salah satu pesawat widebody yang paling banyak digunakan saat ini. Airbus telah mencatat hampir 1,200 pesanan untuk beragam versi dari pesawat A330, dan lebih dari 800 pesawat sedang dioperasikan oleh 90 perusahaan penerbangan di seluruh dunia.[dni]

Stanchart akan Kontribusi 36% Omset Kontrak Global Garuda

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memprediksi sebanyak 80  ribu dari total 400 ribu pemilik kartu kredit Standard Chartered Bank dapat menyumbang omset sekitar 162 miliar rupiah atau 36 persen dari total target 450 miliar rupiah yang akan diraih melalui  strategi menggandeng korporat global dalam memenuhi pendapatan penjualan korporasi 2012 sebesar 3 triliun rupiah.

“Tahun ini Garuda membidik  15-20 akun korporasi global untuk meraih target yang ditetapkan. Belum lama ini kita menggandeng Shell, sekarang Stanchart,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (9/4).

Diprediksinya, sebanyak 20% dari total 400 ribu pengguna kartu kredit StanChart akan memanfaatkan program yang dirancang dengan Stanchart dalam kerangka kontrak global tersebut.

“Perkiraan pengeluaran rata-rata setiap orang mencapai  200 dollar AS untuk membeli tiket pesawat. Jika 20% dari 400.000 pemilik kartu  162 miliar rupiah,” jelas Emirsyah.

Dikatakannya,  kerjasama dengan Stanchart ini merupakan lanjutan dari sebelumnya terkait transaksi pemesanan sepuluh pesawat Boeing 737-800 Next Generation. Sepuluh pesawat ini akan disewa oleh Garuda Indonesia dari Pembrokade Lease France Sas, salah satu anak perusahaan Stanchart yang bergerak di bidang penyewaan pesawat terbang, pembiayaan, dan manajemen.

Dijelaskannya, tujuan lain dari menggandeng StanChart adalah  mengembangkan pasar internasional dan domestik.  Beberapa manfaat langsung bagi pemegang kartu kredit StanChart  adalah mencakup diskon sampai 12% untuk pembelian tiket pesawat semua rute internasional dan domestik. Ada juga potongan harga hingga 30% untuk pembelian tiket pesawat dengan rute internasional menuju Jakarta serta Denpasar.

Regional Head of Consumer Banking Standard Chartered Bank, Som Subroto mengatakan selain pengguna kartu kredit Standard Chartered di Indonesia, fasilitas ini juga bisa digunakan enam pasar lain yaitu Singapura, Thailand, Malaysia, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan. “Ada enam market lain di Asia yang populasi pengguna kartu kredit cukup besar,” jelasnya.

Sebelumnya, Garuda berhasil menggandeng Shel  International Limited yang  menjadi akun global pertama yang didapat perseroan.[dni]

Gandeng Susi Air, Garuda Garap Pasar Hub and Spoke

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menggandeng maskapai Susi Air untuk mengoptimalkan omset dari pasar pengumpul dan pengumpan (Hub and Spoke) yang belum tergarap secara penuh oleh operator penerbangan berbasis full service di Indonesia.

“Kami menggandeng Susi Air yang selama ini terkenal bermain di rute-rute kota-kota yang tak bisa dijangkau oleh pesawat berbadan lebar seperti di Kabupaten atau kawasan Indonesia Timur. Kita ajak maskapai ini kerjasama di bidang penjualan tiket, agar penumpang kedua maskapai bisa terkoneksi. Ini kerjasama hub and spoke yang bagus di pasar penerbangan Indonesia,” ungkap Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia, M. Arief Wibowo di Jakarta, Kamis (12/4).

Dijelaskannya, adanya kerjasama dengan Susi Air  menjadikan penumpang maskapai tersebut  bisa menggunakan jasa Garuda   ke berbagai rute penerbangan di Indonesia yang tersambung (connect) dengan rute penerbangan Susi Air. Untuk mendukung hal tersebut, Garuda Indonesia akan menfasilitasi Susi Air dengan layanan penjualan tiket Garuda Indonesia secara elektronik melalui Garuda Online Sales (GOS). Selain itu, kerjasama ini juga meliputi bidang Sumber Daya Manusia dan bidang operasional lainnya.

“Tahap awal kerjasamanya seperti itu dulu. Kita bantu Susi Air berjualan tiketnya, sementara Garuda juga akan membantu secara Teknologi informasinya (TI). Kita belum bisa melakukan satu harga tiket untuk kedua maskapai karena sistem TI yang digunakan berbeda. Garuda sudah berbasis IATA, Susi Air masih TIC Aero. jika sistem TI Susi Air sudah di-upgrade, bisa saja terjadi satu harga untuk penumpang yang manfaatkan Susi Air dan Garuda,” jelasnya.

Ditargetkannya, melalui kerjasama yang dilakukan Garuda bisa mendapatkan  pendapatan sebesar 30 miliar rupiah setiap bulan. Perolehan pendapatan tersebut berasal dari jumlah penumpang Susi Air setiap harinya dimana transaksi per penumpang sekitar  500 ribu rupiah hingga satu  juta rupiah, dimana Garuda menargetkan mendapatkan seribu penumpang.

Presiden Direktur Susi Air, Susi Pudjiastuti mengharapkan, kerjasama ini adalah awal sebelum dijalankannya satu tarif untuk penumpang yang ingin menggunakan Garuda dan Susi Air. “Penumpang Susi Air itu umumnya pasti ingin ke kota besar yang dilayani Garuda. Kita harapkan ada kerjasama semacam Code share nantinya,” katanya.

Untuk diketahui, Susi Air merupakan maskapai penerbangan Indonesia yang dioperasikan oleh PT ASI Pudjiastuti Aviation dengan penerbangan berjadwal dan charter. Berkantor-pusat di Pangandaran, Jawa Barat, Susi Air beroperasi di beberapa kota utama di Indonesia antara lain di Medan, Padang, Jakarta, Kupang, Balikpapan, Ternate, Biak, Timika dan Jayapura.

Kargo

Pada kesempatan lain, Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar   meresmikan penggunaan gudang kargo domestik yang berada di area pergudangan bandara Soekarno – Hatta.

Gudang yang telah direnovasi tersebut, memiliki kapasitas ruangan lebih luas yaitu 4,625.12 M, serta memiliki fasilitas khusus seperti jalur khusus untuk “go product” yang terdiri dari “go synergy” yang merupakan layanan khusus bagi pelanggan sejak pelaksanaan reservasi hingga penerimaan barang; “go priority speed”, layanan eksklusif pengiriman paket dan dokumen antar bandara; “go priority heavy”, layanan khusus pengiriman barang-barang berat (heavy cargo) antar bandara secara cepat dan aman; dan “go select”, layanan pengiriman barang antar bandara yang memerlukan perhatian khusus. Selain jalur khusus “go product” tersebut, gudang cargo domestik tersebut juga dilengkapi oleh fasilitas x-ray yang digunakan untuk mendeteksi barang berbahaya.

Emirsyah menjelaskan, renovasi gudang kargo tersebut merupakan upaya perseroan   untuk secara terus menerus meningkatkan layanannya kepada para pengguna jasa – khususnya para pengguna jasa kargo. “Upaya ini juga merupakan salah satu bagian dari program jangka menengah dimana pada tahun 2015 mendatang, Cargo Garuda Indonesia akan menjadi leader for Asian Cargo Brand, jelas  Emirsyah.

Emirsyah juga memperkenalkan  penampilan website baru Garuda Indonesia Cargo serta implementasi e-cargo (Cargo Management System) sistem yang memungkinkan para pengguna jasa untuk dapat melakukan pembukuan secara online. Sebelumnya reservasi dilakukan melalui call center. Selain fasilitas pembukuan secara online, para pengguna jasa juga dapat memanfaatkan web tersebut untuk melakukan “tracking” barang.

Garuda Indonesia Cargo merupakan salah satu Strategic Business Unit Garuda Indonesia yang bergerak di bidang pengiriman barang. Saat ini, Garuda Indonesia melayani pengiriman barang baik ke kota-kota rute domestik maupun internasional sesuai dengan penerbangan Garuda Indonesia. Garuda Indonesia – pada tahun 2011 – berhasil mengangkut sebanyak 229 ribu ton cargo, meningkat sebanyak 10,8 persen dari tahun 2010 yang sebanyak 207 ribu ton kargo.[dni]

Mandala Jadikan Terminal III Basis Layanan

JAKARTA—PT Mandala Airlines  menjadikan terminal III Bandara Soekarno-Hatta (BSH) sebagai basis layanannya setelah resmi mengudara  pada 5 April 2012.

Presiden Direktur Saratoga Capital Sandiaga Uno menjelaskan terminal III BSH dijadikan basis layanan karena infrastrukturnya telah memenuhi standar bandara udara internasional.

“Mandala  senantiasa mendukung rencana besar Angkasa Pura II untuk merealisasikan Grand Design guna meningkatkan kapasitas serta menjadikan Bandara Soekarno-Hatta menjadi lebih cantik dan modern dengan mengusung konsep Aerotropolis,” katanya di Jakarta, Rabu (4/4).

Diungkapkannya, Mandala akan melakukan penerbangan perdana dari Jakarta ke Medan pada 5 April 2012. Penerbangan internasional dari Singapura ke Medan akan dimulai pada 20 April, dan penerbangan Jakarta ke Kuala Lumpur dimulai pada 4 Mei.

“Dengan menawarkan sederet pesawat A320 baru yang terus didatangkan sepanjang tahun 2012, masih banyak lagi destinasi menarik yang akan diluncurkannya,”  katanya.

Saratoga Group adalah  pemegang 51,30% saham Mandala Airlines. Perseroan  menyiapkan  dana sebesar  250 juta dollar AS atau setara  2,12 triliun rupiah untuk pengadaan 10 pesawat Airbus A320 hingga akhir 2012.

Saratoga akan menggunakan skema sewa dan sewa lalu beli (lease to puchase) untuk pengadaan pesawat yang dipasok oleh Tiger Airways Holdings Limited sebagai mitra strategis. Tiger memiliki 33% saham di Mandala. Sementara 15% dimiliki 345 kreditor pemilik piutang 2,45 triliun rupiah, serta 0,7% sisanya dimiliki PT Cardig dan Indigo. Rencananya dana yang digunakan untuk mendatangkan pesawat tersebut berasal dari kas internal.

Sebelumnya, Investment Manager Saratoga Capital Devin Wirawan memastikan sampai akhir tahun ini pihaknya hanya akan mendatangkan lima pesawat Airbus A320 secara  bertahap.[dni]

GMF Bidik Omset tumbuh 5%

JAKARTA— PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF) membidik meraih omset sebesar 1,7 triliun rupiah pada 2012 atau tumbuh  5 persen dibandingkan  2011  sebesar   1,62 triliun rupiah.

Direktur Utama Garuda Maintenance Richard Budihadianto menjelaskan, ditetapkannya target yang lebih kecil dibandingkan pertumbuhan pendapatan 2011 terhadap 2010 karena kondisi krisis yang terjadi di Eropa maupun Amerika Serikat.

“Kami realistis dengan kondisi industri penerbangan, karena itu target ditetapkan moderat,” katanya di Jakarta, Rabu (4/4).

Pada 2011, pertumbuhan pendapatan GMF sebesar  7,5 persen  dibandingkan2010 sebesar  1,51 triliun rupiah.

Sedangkan  laba bersih dibukukan   54,95 miliar rupiah atau naik 91 persen dibandingkan laba bersih 2010 yang sebesar  28,77 miliar rupiah.

Perseroan menganggarkan belanja modal  615 miliar rupiah pada 2012. Sebesar  500 miliar rupiah  disiapkan untuk mendanai rencana pembangunan hanggar pesawat di Makassar dan 115 miliar rupiah  digunakan untuk membeli peralatan bengkel.

Strategi

Lebih lanjut diungkapkannnya, perseroan menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai target pendapatan 2012, diantaranya aktif di pameran kedirgantaraan internasional.

Pada Februari lalu GMF mengikuti Singapore Airshow 2012 dan berhasil memeroleh 12 kontrak senilai 101 juta dollar AS dari ajang tersebut.

“Kami akan membidik   ajang The Farnborough International Airshow di Perancis pada 9-15 Juli 2012 untuk memperoleh kontrak pekerjaan perawatan dan perbaikan pesawat. Dalam waktu dekat kami akan melakukan evaluasi dengan mengunjungi perusahaan pengelola ajang tersebut, sehingga bisa mendapat bahan untuk menganalisis potensi kontrak yang bisa didapat,” tuturnya.

Dijelaskannya, jika manajemen menilai keikutsertaan di ajang tersebut dapat memberi kontribusi pendapatan bagi perseroan, maka Garuda Maintenance akan mendaftarkan diri sebagai peserta Farnborough Airshow.

“Kita optimistis bisa mendpaatkan kontrak karena kondisi krisis ekonomi di kawasan Eropa, sebagian besar maskapai di Eropa tengah mencari bengkel alternatif di luar kawasan tersebut,” katanya.

Menurutnya, menyerahkan perbaikan pesawat kepada bengkel di Eropa sudah terlalu mahal, kondisi ini ingin dimanfaatkan perseroan.

“Namun kami hanya akan mencari kontrak-kontrak untuk mengerjakan perbaikan pesawat berbadan lebar, sehingga biaya avtur yang harus kami tanggung untuk mendatangkan pesawat tersebut ke Indonesia tidak terlalu besar. Selain itu kami juga harus memperhatikan kapasitas hanggar,” katanya.

Saat ini Garuda Maintenance memiliki tiga hanggar di Soekarno-Hatta dengan total kapasitas 25 pesawat. Hanggar I diperuntukkan bagi pesawat berbadan lebar dengan kapasitas empat pesawat, hanggar II khusus digunakan untuk melakukan line maintenance dengan kapasitas delapan pesawat berbadan sedang, dan hanggar III berkapasitas 13 pesawat berbadan sedang.

Keterbatasan kapasitas hanggar yang dimiliki GMF  merupakan kendala utama yang dihadapi perseroan sejak dua tahun terakhir dalam melakukan ekspansi.

Pada Januari 2011, PT Angkasa Pura II (Persero) membatalkan rencana kerja sama pembangunan hanggar di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng senilai  50 juta dollar AS. Pemegang saham Angkasa Pura II menilai perawatan dan perbaikan pesawat bukanlah jasa yang harus disediakan oleh perusahaan pengelola bandara.

Mensiasati hal tersebut, GMF  membuat nota kesepahaman kerja sama dengan PT Angkasa Pura I (Persero) untuk membangun hanggar di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar senilai  80 miliar rupiah pada 31 Mei 2011.

Namun dalam perkembangannya kedua perusahaan tidak kunjung mencapai kesepakatan atas skema kerja sama sewa operasi hanggar tersebut. Akibatnya, konstruksi awal yang sedianya dilakukan September 2011 tidak terpenuhi sehingga target operasi hanggar yang semula ditetapkan awal 2012 dipastikan mundur.[dni]

Citilink akan Agresif Mulai Kuartal II/2012

JAKARTA—Maskapai berbasis biaya rendah (low cost carrier/LCC) milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), Citilink, akan lebih agresif melakukan ekspansi penambahan frekuensi dan membuka rute baru pada kuartal II/2012 seiring datangnya secara bertahap 10 Airbus A320-200 mulai April 2012.

Vice President Citilink Con Korfiatis mengungkapkan, 10 Airbus A320-200 yang akan datang tersebut merupakan bagian dari total 11 pesawat yang akan didatangkan tahun ini. Selain Airbus A320-200, Citilink juga mendatangkan satu unit Boeing 737-300, yang pada awal tahun telah diterima dari Garuda.

“Untuk Airbus A320-200 kami belum menerimanya sama sekali sampai saat ini. Pesawat tersebut akan diterima secara bertahap sebanyak enam unit mulai April sampai Juli, lalu empat sisanya akan diterima pada November sampai Desember,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (4/4).

Dikatakannya, tambahan 11 pesawat tersebut akan menjadikan jumlah pesawat yang dioperasikan Citilink sampai akhir 2012 sebanyak 20 unit, terdiri dari tujuh Boeing 737 seri klasik serta 13 Airbus A320-200. Pembukaan rute dan pengoperasian armada baru membuat manajemen Citilink optimistis dapat meningkatkan 150 persen jumlah penumpang 2012 menjadi 4 juta dari realisasi penumpang 2011 sebanyak 1,6 juta.

“Tahun ini kami akan menambah banyak frekuensi penerbangan, serta membuka penerbangan ke empat kota baru. Ekspansi tersebut ditargetkan dapat menghasilkan laba bagi Citilink setelah pada 2011 belum menghasilkan laba,” ujarnya.

Spin Off
Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan mengungkapkan, Kementerian Perhubungan diperkirakan akan menerbitkan Air Operator Certificate (AOC) untuk Citilink pada April 2012.

Saat ini Citilink sedang menyelesaikan proses tahap empat untuk mendapatkan AOC tersebut yaitu berupa inspeksi pesawat dan kru kabin yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

“Proses tersebut diperkirakan selesai April dan bisa langsung diterbitkan AOC nya. Kemudian proses spin off diperkirakan selesai pada Mei 2012 dan secara resmi Citilink berdiri sendiri terpisah dari Garuda,” ujar Elisa.

Sebelumnya, Elisa mengungkapkan, untuk spin off Citilink perseroan mengeluarkan dana sekitar 1,7 triliun rupiah. Dana tersebut antara lain digunakan untuk modal disetor 430 miliar rupiah dan lima pesawat Boeing 737-300 milik Garuda yang digunakan Citilink. Kemudian dana deposit sewa 23 pesawat Airbus A320 sebesar 23 miliar rupiah, joining fee pilot sebesar 25 miliar rupiah, biaya training tenaga kerja 20 miliar rupiah, dan biaya training awak kabin sebesar 50 juta rupiah per orang.

“Garuda sudah berkomitmen untuk menanamkan investasi di Citilink, sehingga bisa menjadi maskapai yang besar di segmen low cost carrier di Indonesia. Ini sesuai dengan rencana yang kami paparkan kala jelang melantai ke bursa saham,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan, Garuda menargetkan dapat melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) pada 2014 dengan tujuan memperkuat struktur permodalan setelah lepas dari Garuda.

Garuda optimistis pelaksanaan IPO Citilink mendapat respons positif dari pasar jika dua kondisi tercapai. Pertama, Citilink ditargetkan sudah menghasilkan laba sebesar 200 miliar rupiah pada 2013 atau satu tahun sebelum IPO dilakukan. Kedua, segmen low cost carrier yang dilayani Citilink merupakan segmen dengan pangsa pasar tertinggi dibandingkan dengan maskapai yang melayani segmen medium services atau full services.[dni]