261108 Perpanjangan Embargo Akibat Kelalaian Regulator

20_18_2-air-atlanta-boeing-747-200-tf-atb_webDiperpanjangnya larangan terbang (embargo) maskapai penerbangan lokal oleh Uni Eropa (UE) ke wilayah udara kawasan tersebut dapat dilepaskan dari kelalaian regulator yang terlabat membuat rencana perbaikan (corrective plan).

“Corrective plan tersebut baru dibuat oleh regulator pada evaluasi Juli lalu. Dan UE baru mulai membahasnya bulan ini. Jadi, tidak salah kalau embargo diperpanjang karena mereka baru akan membahas rencana yang dibuat bulan ini,” ungkap pengamat kebijakan publik Agus Pambagio kepada Koran Jakarta, Selasa (25/11).

Dikatakannya, pada pembahasan sebelum Juli, UE telah menyarankan pada regulator lokal untuk memenuhi dan membuat perencanaan berkaitan keselamatan penerbangan di Indonesia sesuai aturan otoritas penerbangan sipil internasional. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh regulator. “Mereka (regulator) baru membuat corrective plan itu pada presentasi Juli dan itu pun pengiriman datanya mepet. Coba dari dulu dilakukan, bisa saja pencabutan lebih cepat,” katanya.

Menurut dia, dalam corrective plan tersebut seharusnya pemerintah cukup mencantumkan hal-hal yang akan dilakukan beserta tenggat waktu untuk memenuhi regulasi otoritas penerbangan sipil internasional tanpa perlu menunggu Rancangan Undang-undang Penerbangan disahkan. “Terbuka saja kalau sekarang lagi disusun UU penerbangan. Tetapi, ditegaskan kalau kita berkomitmen. UE butuh komitmen tersebut,” tegasnya.

Ditegaskannya, setelah berbicara dengan pejabat UE, terungkap selama ini mereka tidak melihat kurang berkompetensinya operator lokal. “Yang dipermasalahkan itu regulatornya. Jadi, setiap izin terbang yang dikeluarkan regulator lokal itu dipertanyakan, seperti keabsahan log book dan lainya. Itu jelas tercantum dalam situs mereka,” katanya.

Masih menurut Agus, melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, besar kemungkinan pembahasan mengenai pencabutan embargo maskapai Indonesia baru terjadi sekitar Februari atau Maret 2009. “Itu pun belum tentu dicabut, kalau regulator tidak memiliki komitmen. Jadi, optimisme yang disemburkan oleh regulator itu tergantung kemampuan memenuhi komitmen,” tandasnya.

Secara terpisah, juru bicara Mandala Airlines Trisia Megawati mengaku kecewa dengan kebijakan yang diambil oleh UE memperpanjang larangan terbang bagi maskapai lokal. Hal ini karena tidak semua maskapai dikelola dengan buruk.

Dicintohkannya, Mandala telah membenahi sisi operasional secara fundamental dengan peremajaan armada pesawat melalui pembelian 30 bnew airbus A320 senilai 1.8 miliar dollar AS dan didukung oleh internasional manajemen yang berpengalaman di maskapai internasional dari berbagai belahan dunia.

Mandala juga tidak mengoperasikan Boeing B737-200 dan bahkan akhir tahun ini akan mempensiunkan Boeing B737-400 sehingga nantinya hanya akan mengoperasikan satu jenis pesawat yaitu Airbus dengan rata-rata usia pesawat yang termuda. “Seharusnya ini dipertimbangkan oleh UE sebelum membuat keuputsan,” tegasnya.

Mandala adalah salah satu maskapai yang diusulkan oleh regulator untuk diperbolehkan terbang ke UE. Maskapai lainnya adalah PT Garuda Indonesia PT Premi Air, dan PT Air Fast.

Sebelumnya, pada situs resmi UE diumumkan embargo bagi maskapai lokal diperpanjang. Selain Indonesia, ada sejumlah negara yang semua maskapainya dilarang melintasi UE yaitu Angola, Equatorial Guinea, Republik Kirgistan, Liberia, Sierra Leone, Swaziland, Republik Demokratik Kongo dan Gabon.

Sementara itu UE juga memberlakukan pelarangan terhadap maskapai-maskapai dalam suatu negara untuk terbang ke wilayah tersebut. maskapai tersebut antara lain, Siem Reap Airways International dari Kamboja, Air Koryo (Korea Utara), Air West (Sudan), Ariana Afgan Airlines (Afganistan), Silverback Cargo Freighters (Rwanda), Ukraine Cargo Airways, Ukraine Mediteranean Airlines dan Volare Aviation, ketiganya dari Ukraina.

Sebenarnya, berlanjutnya embargo tersebut sudah diperkirakan sebelumnya oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal. Beberapa waktu lalu Jusman mengatakan, bila hal yang dipermasalahkan UE adalah masalah berkaitan dengan aturan penerbangan yang saat ini masih direvisi dari RUU Penerbangan, maka pencabutan embargo sulit terlaksana

tahun ini.

Meski demikian, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Budhi Muliawan Suyitno meyakini pelarangan terbang bakal dicabut tahun depan. Hal ini dirasakan setelah Komisi UE telah mulai membuka diri dan terus mengurangi temuan-temuan masalah penerbangan di Indonesia .

“Insya Allah larangan terbang ke Indonesia akan dicabut tahun depan, karena sekarang tinggal sembilan masalah yang masih bisa di nego dan 29 masalah yang berkaitan dengan RUU Penerbangan,” kata Budhi pekan lalu.

UE, jelasnya, bahkan telah mau bekerja sama dalam peningkatan keselamatan. Negara-negara anggota UE juga sudah mulai melakukan kerjasama antar pemerintah terkait dengan peningkatan keselamatan penerbangan di Indonesia.[dni]

281108 Nasib Pencabutan Embargo UE Tergantung Regulator

planeJakarta-Nasib pencabutan dari larangan terbang (embargo) maskapai lokal ke Uni Eropa (UE) tergantung pada kinerja regulator dalam memenuhi aturan penerbangan sipil internasional.

Sekjen Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Tengku Burhanuddin, menegaskan, dari sisi operator semuanya sudah berkomitmen untuk meningkatkan aspek keselamatan dan memenuhi standar keselamatan penerbangan internasional.

“Alasan dari UE kemarin kan lebih pada faktor regulator. Jika bicara maskapai, semuanya sudah berkomitmen untuk memperhatikan aspek keselamatan,” tegasnya kepada Koran Jakarta, Jumat (21/11).

Dikatakannya, jika pun ada optimisme dari regulator bahwa embargo akan dicabut pada tahun depan, tentunya itu karena pemerintah merasa sudah memenuhi standar penerbangan internasional dengan melakukan pemisahan fungsi regulator dan operator.

“Tahun depan undang-undang penerbangan akan disahkan, mungkin ini yang membuat regulator optimistis dengan pencabutan tersebut,” jelasnya.

Seperti diketahui, pada Juli tahun lalu UE mengembargo maskapai lokal masuk ke wilayah udaranya. Kebijakan tersebut diambil oleh UE karena menilai keselamatan penerbangan Indonesia belum sesuai standar internasional.

Banyak pengamat memperkirakan pelarangan penerbangan yang dilakukan UE akan berdampak buruk terhadap arus kunjungan wisatawan Eropa ke Indonesia . Diperkirakan pada tahun ini jumlah wisatawan dari negeri tersebut akan turun sebesar 20 persen dari 700 ribu wisatawan pada tahun lalu.

Sedangkan secara bisnis bagi Garuda Indonesia misalnya, larangan terbang tersebut membuat perseroan mengalami kerugian (potential loss) sebesar 13,8 miliar rupiah per bulan.

Untuk mempercepat pencabutan, regulator mengusulkan empat maskapai untuk diperbolehkan terbang ke UE. Keempat maskapai tersebut adalah PT Garuda Indonesia , PT Mandala Airlines, PT Premi Air, dan PT Air Fast.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Budhi Muliawan Suyitno mengungkapkan, terdapat indikasi positif akan terjadi pencabutan larangan terbang terhadap seluruh maskapai nasional oleh UE. Hal itu dapat dilihat dari ketersediaan UE membuka diri untuk bekerja sama dalam berbagai hal terkait penerbangan.

Sejumlah temuan yang dipersoalkan UE dalam larangan terbangnya, kata Budhi, mayoritas sudah dinyatakan closed (selesai). Dari 69 temuan yang dipersoalkan, sebanyak 33 temuan sudah terselesaikan. Tujuh temuan lain di antaranya, terkait pengayaan sumber daya manusia instruktur pesawat berbadan lebar dan navigasi penerbangan, masih dalam proses negosiasi.

Sedangkan sisa 29 temuan lain yang terkait regulasi, penyelesaiaannya menunggu disahkannya Rancangan Undang – Undang (RUU) Penerbangan akhir tahun ini. Bahkan Pada Jumat (21/11) ini, Direktorat Perhubungan Udara akan menggelar telekonferensi dengan Unit Keselamatan Penerbangan Uni Eropa perihal kemajuan yang telah dilakukan Indonesia . Telekonferensi ini untuk membahas lebih lanjut masalah seputar pelarangan terbang dengan pihak UE.

”UE sudah membuka diri dan siap untuk bekerja sama dengan Indonesia . Telekonferensi nanti adalah salah satu buktinya. Jadi, mereka tidak hanya menjatuhkan larangan terbang, mereka juga sudah bersedia menawarkan kerjasama memperbaiki kondisi penerbangan kita,” ujarnya.

Juru Bicara Departemen Perhubungan Bambang S Ervan menambahkan, pihak UE sudah mengirimkan inspekturnya untuk memeriksa kondisi keselamatan penerbangan Indonesia . Selain itu dari Belanda, juga dilakukan shadow checking oleh pihak otoritas penerbangan sipil negara tersebut terhadap Garuda Indonesia .

“Kedua inspektur dari negara tersebut sudah datang bulan ini. tentu ini menjadi sinyal positif bagi Indonesia ,” jelasnya.

Secara terpisah, juru bicara Mandala Airlines Trisia Megawati mengaku siap maskapainya diperiksa oleh inspektur UE. “Mandala sebelumnya sudah diperiksa oleh Boeing, Airbus, dan perusahaan mitra lainnya. Jadi, kami tidak takut dengan inspektur UE itu,”katanya.


Menurut Trisia, sikap UE yang membabibuta mengembargo maskapai lokal tidaklah adil karena masih ada maskapai Indonesia yang memiliki tingkat keselamatan sesuai standar internasional.

“Seharusnya dilakukan embargo secara selektif. Bagi kami embargo yang dilakukan UE merupakan hal aneh karena Mandala menggunakan pesawat dan sistem keselamatan dari Eropa,” tuturnya.[dni]