111108 Telkom Grup Garap Wilayah Tertinggal

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) beserta anak perusahaannya, Telkomsel
semakin giat menggarap daerah tertinggal di Indonesia.

pulauPada Senin (10/11) dimana bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Telkom
menyediakan fasilitas telekomunikasi di  di Pulau Berhala. Pulau tersebut merupakan
sebuah pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Sementara Telkomsel pada hari yang sama berhasil menyediakan perangkat GSM di kapal
milik PT Pelni yakni KM Gunung Dempo. Kapal tersebut melayani jalur laut Jakarta –
Papua. Hadirnya layanan telekomunikasi milik Telkomsel memungkinkan penumpang kapal
tersebut  berkomunikasi suara dan data di sepanjang jalur laut.

“Penyediaan  fasilitas telekomunikasi di pulau terluar itu sebagai bagian dari
program kami menjadikan Sumatera sebagai Pulau Digital,” ungkap General
Manager Telkom Divre I, Muhammad Awaluddin kepada Koran Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, pembangunan fasilitas telekomunikasi di Pulau Berhala hanya memakan
waktu selama satu hari. Fasilitas yang disediakan adalah  layanan telepon, akses
internet Broadband berkecepatan 128 Kbps serta layanan komunikasi faksimili.

Sementara itu, juru bicara Telkomsel Suryo Hadiyanto mengungkapkan, KM GN Dempo
merupakan kapal ketiga milik Pelni yang dipasangi perangkat telekomunikasi. Dua
kapal sebelumnya adalah  KM Labobar dan Kelud pada Juni dan September lalu.

“Di tahun ini direncanakan 12 Kapal dapat terlayani dan menyusul keseluruhan 24
kapal penumpang milik Pelni,” ujarnya. [dni].

061108 Telkom Upayakan Revitalisasi Telepon Kabel

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) memulai usahanya untuk merevitalisasi
logo_telkomlayanan telepon kabel miliknya dengan memberikan stimulus bagi para pelanggan untuk
menggunakan jasa telephony dasar dari layanan tersebut.

Stimulus diberikan dengan menggelar program retensi “Telepon Rumah, Rejeki
Tumpah” bagi pelanggan yang menggunakan jasa telepon kabel berupa hadiah mobil dan
barang-barang beraharga lainya.

“Program retensi ini untuk memicu pelanggan kembali menggunakan telepon kabel
layaknya ketika layanan ini mengalami masa jayanya tahun-tahun lalu,” ujar
Direktur Konsumer Telkom I Nyoman G Wiryanata di Jakarta, Rabu (5/11).

Dijelaskannya, program retensi   tersebut hanya berlaku untuk segmen residensial.
Sedangkan untuk segmen bisnis, tidak diberlakukan. “Segmen perumahan sudah
melupakan dahsyatnya kehebatan telepon rumah. Mereka lebih senang menggunakan jasa
seluler dibandingkan jasa tersebut. Padahal secara kualitas, telepon kabel lebih
hebat,” jelasnya.

Data mencatat,  pelanggan telepon kabel milik Telkom hingga kuartal ketiga tahun
ini hanya tersisa 8,653 juta dengan pendapatan  sebesar 10,28 triliun.

Ketika ditanya akankah program tersebut mampu mendongkrak penggunaan telepon kabel,
Nyoman mengaku tidak muluk-muluk. “Kami berusaha saja. Kita kan juga sedang
mengembangkan triple play untuk mempertahankan eksistensi dari layanan ini,”
jelasnya.

Sementara itu, Komisaris Utama Telkom Tanri Abeng menegaskan, meskipun jumlah
pelanggan telepon kabel cenderung menunjukkan   penurunan, namun layanan ini masih
menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi pendapatan perusahaan.

“Meski relatif masih diminati, memang telepon kabel ada penurunan pendapatan tiga
persen. Tetapi  tren turun itu sudah menjadi masalah global,” jelasnya. [dni]

011108 Akhirnya, Telkom Akui Penurunan Tarif Pukul Kinerja Keuangan


PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhirnya mengakui penurunan biaya
interkoneksi sebesar 20-40 persen pada April lalu memukul kinerja keuangan operator
pelat merah tersebut.

Hal itu terlihat pada kinerja kuartal ketiga tahun ini dimana laba bersih pemimpin
pasar itu hanya sekitar 8,9 triliun rupiah atau turun 9 persen dibandingkan periode
yang sama tahun lalu sebesar 9,8 triliun rupiah.

Penurunan juga terjadi pada laba usaha sebesar 13,66 persen atau meraup 17,179
tiliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu 19,897 triliun rupiah.

Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno menjelaskan, melambatnya kinerja keuangan
hingga kuartal ketiga tahun ini akibat adanya krisis global dan penurunan biaya
interkoneksi.

“Krisis global membuat kami rugi selisih kurs dan beban bunga meningkat karena
suku bunga naik. Ini karena sebagian belanja modal (Capital Expenditure/Capex)
dibiayai oleh utang,” jelasnya di Jakarta, Jumat (31/10).

Diungkapkannya, kerugian akibat dua faktor tersebut sekitar 75 hingga 85 miliar
rupiah. Sementara faktor lain adalah meningkatnya beban sewa frekuensi di luar
perhitungan perseroan. “Sebelumnya kami perkirakan perhitungan frekuensi berbasis
bandwith, ternyata sebagiana ada yang berdasarkan izin stasiun radio (ISR).
Besarannya sekitar 400 miliar rupiah,” tuturnya.

Sementara dari sisi laba usaha terjadi penurunan karena melambatnya pendapatan usaha
perseroan. Tercatat pada kuartal ketiga tahun ini Telkom meraup 44,6 triliun rupiah
atau hanya naik 2,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 43,647
triliun rupiah.

Sudiro mengakui, faktor penurunan biaya interkoneksilah yang membuat pendapatan
usaha Telkom melambat, meskipun dari sisi jumlah pelanggan dan menit pemakaian
terjadi peningkatan.

Tercatat, Telkomsel pada triwulan III meraih 60,5 juta pelanggan atau naik 36 persen
dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 16 juta pelanggan. Sedangkan
pelanggan TelkomFlexi sebesar 9,15 juta pelanggan atau naik 63 persen dibandingkan
periode yang sama tahun lalu.

“Telkomsel yang selama ini berkontribusi sebesar 62,1 persen melakukan pemotongan
tarif hingga 75 persen sejak adanya beleid baru itu. Ini membuat belum didapatnya
keseimbangan baru meskipun dari sisi fundamental terjadi kenaikan,” jelasnya.

Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja mengungkapkan, laba bersih  pemain
seluler terbesar di negeri itu pada triwulan III 2008 mencapai 9,08 triliun rupiah
atau turun 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 9,7 triliun
rupiah,” katanya.

Penurunan laba akibat melonjaknya beban perusahaan seperti biaya jaringan dan sewa
frekuensi.

Fundamental Kuat
Chief Operating Officer Telkom Ermady Dahlan meminta dalam melihat kinerja Telkom
saat ini tidak hanya dari sisi keuangan, tetapi fundamental perusahaan yang kokoh,
seperti jumlah pelanggan yang meningkat dan bisnis baru mulai menunjukkan kinerja
postif.

“Di broadband internet terjadi lonjakan pelanggan dan pendapatan. Begitu juga
untuk TV kabel,” katanya.

Tercatat, pendapatan data dan internet pada kuartal ketiga tahun ini sebesar 10,8
triliun atau naik 6 persen dibandingkan periode lalu sebesar 10,2 triliun rupiah.
Hal itu berkat raihan jumlah pelanggan internet Speedy mencapai 593 ribu satuan
sambungan layanan hingga kuartal ketiga lalu.

Kiskenda menambahkan, sebagai incumbent di pasar telekomunikasi adalah wajar dari
sisi keuangan mengalami pukulan karena adanya “warisan” privilege yang harus
disesuaikan. Warisan yang dimaksud adalah tarif yang tinggi tanpa diganggu
regulator.

“Dulu kita lebih pro ke pemegang saham dengan tarif yang tinggi. Sekarang kita pro
ke masyarakat dengan memberikan tarif murah. Konsekuensinya tentu ada dari semua
ini,” jelasnya.

Ermady menyakinkan, hingga akhir tahun nanti pendapatan Telkom tetap akan mengalami
pertumbuhan karena perseroan telah berjalan di jalur yang benar seperti
mengembangkan unit bisnis baru yakni broadband internet dan triple play atau
mengembangkan sayap dengan mengakuisisi perusahaan lain.

“Saat ini kita juga sedang mengaji untuk mengakuisisi operator di Iran dan Timur
Tengah lainnya,” ungkapnya.

Sudiro menambahkan, sisa waktu di tahun ini akan dioptimalkan oleh perseroan untuk
melakukan ekspansi jaringan dan menggenjot pertumbuhan pelanggan. Hal ini karena
penyerapan Capex hingga kuartal ketiga tahun ini baru mencapai 50 hingga 55 persen.

“Tahun ini Capex kita sebesar 2,5 miliar dollar AS. Memasuki kuartal keempat ini
saya yakin penyerapannya sebesar 95 persen,” tuturnya.

Masalah krisis ekonomi sendiri sebenarnya tak dikhawatirkan oleh manajemen mengingat
jumlah kewajiban perseroan didominaso oleh mata uang dalam negeri. “Dari total
hutang senilai 16-17 triliun rupiah sebanayak 65 persen dalam bentuk rupiah sisanya
valas,” jelasnya.

Secara terpisah, Analis dari Sinarmas Sekuritas Alfiansyah mengungkapkan, pasar
sebenarnya sudah memprediksi kinerja keuangan dari Telkom hingga akhir tahun nanti
tidak begitu baik.

“Ketika beleid interkoneksi baru keluar, semua sudah memprediksi. Tetapi Telkom
kan selalu bilang tidak akan bermasalah. Sekarang semua terbukti,” katanya.

Namun, dia memperkirakan, sebagai emiten yang tergolong blue chip, saham Telkom
tetap akan mampu menopang kinerja indeks saham.

“Telkom kan sedang melakukan buyback saham semoga ini bisa mengimbangi sentimen
negatif dari kinerja keuangan mereka pada kuartal ketiga ini,” katanya sambil
menambahkan hingga penutupan bursa saham Telkom ditutup senilai 5.400 rupiah. [dni]

301008 Telkom Enggan Turunkan Tarif Internet

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) sepertinya enggan  mengikuti himbauan dari regulator untuk menurunkan tarif retail internet sebesar 20 hingga 40 persen.

Kesempatan menurunkan tarif yang  terbuka lebar dilakukan oleh operator tersebut melalui produk barunya, Speedy Prabayar, tidak digunakan oleh operator tersebut.

Hal itu dilihat dari “keukueh-nya” Telkom masih mempertahankan harga koneksi sebesar 4.500 rupiah per jam alias 75 rupiah per menit.

Sebenarnya ada penurunan jika dilihat dari harga bundling produk. Jika di pascabayar kan harganya 75 ribu rupiah, nah untuk kartu perdana prabayar 55 ribu rupiah,” ujar Direktur Konsumer Telkom I G Wiryanata, di Jakarta, Rabu (29/10).

Nyoman memperkirakan, adanya produk prabayar tersebut akan membuat Average Revenue Per Users (ARPU) dari pelanggan Speedy mengalami penurunan sebesar 40 persen alias dari biasanya 280 ribu menjadi 200 ribu nantinya.

“Itu hal yang biasa karena produk semakin massal. Tapi akan ditutup oleh trafik yang meningkat dan kapasitas terisi makin naik,” jelasnya.

Guna mendukung semakin banyak pelanggan menggunakan aksesinternet, Nyoman mengungkapkan, Telkom telah membangun sebanyak 7 ribu titik Hotspot di seluruh Indonesia. Sebanyak 32 persen atau 2.259 titik disebar di wilayah Jakarta.

Target kami pelanggan Speedy prabayar akhir tahun nanti akan berjumlah sebanyak 150 ribu pelanggan. Sedangkan pelanggan Speedy hingga saat ini telah digunakan 662 ribu pelanggan,” katanya.[dni]

121008 Desember 2009, Telkom Selesaikan Buyback

PT Telekomunikasi Indonesia , Tbk (Telkom) menargetkan program pembelian kembali saham periode ketiganya yang dimulai pada 23 Juni 2008 akan berakhir 22 Desember 2009 nanti.

 

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menjelaskan,  SBB III telah disetujui dalam Rapat Usaha Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 20 Juni 2008. ”Dananya dicadangkan sebesar tiga triliun rupiah yang diambil dari kas internal,” katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

 

Dijelaskannya, program  SBB tahap III didorong oleh keinginan Telkom untuk meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan mengembalikan kelebihan arus kas (excess cash) pada para pemegang saham.

 

“Kami  menganggap harga saham perseroan saat ini masih berada jauh di bawah nilai wajarnya sebagai akibat dari sentimen negatif yang terjadi pada bursa global. Kesadaran tersebut  sudah berlangsung lama dan semakin kuat ketika bursa saham global mengalami guncangan hebat akibat krisis di AS,” jelasnya.

 

Diungkapkannya, program SBB dimulai Telkom sejak 2005.  Program SBB I yang disetujui RUPSLB Telkom 21 Desember 2005 dan berakhir 21 Juni 2007,  berhasil membeli kembali sejumlah 211.290.500 lembar saham atau 1,05 persen dari seluruh modal Perseroran yang telah ditempatkan dan disetor dengan harga rata-rata sebesar  8.654 rupiah per saham.

 

Berikutnya, RUPST Telkom pada 29 Juni 2007 menyetujui program SBB II yang diakhiri jangka waktu pembeliannya pada 19 Juni 2008. Sampai dengan tanggal 16 Mei 2008, Telkom telah membeli kembali sebanyak 187.130.500 saham atau 0,93 persen dari seluruh modal perseroan yang telah ditempatkan dan disetor dengan harga rata-rata sebesar  9.326 rupiah per saham atau seluruhnya sejumlah 1.745.989.133.288 rupiah. 

 

Sampai dengan 18 Juni 2008 Telkom telah melakukan pembelian kembali sejumlah 202.520.000 lembar saham pada harga rata-rata 9,235 per lembar saham atau senilai total sekitar 1,9 triliun rupiah.[dni]