101208 Belanja Modal Sektor Telematika Stagnan

anindya_btelJAKARTA – Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) memperkirakan belanja modal
dari sektor telematika pada tahun depan akan mengalami stagnasi alias tidak ada
pertumbuhan jika dibandingkan tahun ini.

Pada tahun ini belanja modal atau capital expenditure (Capex) dari sektor telematika
berkisar 70 triliun rupiah. Hampir 80 persen terserap untuk sektor telekomunikasi
dan sisanya mengembangkan industri pendukung seperti perangkat lunak dan lainnya.

“Kami memperkirakan besaran dari Capex tahun depan akan sama dengan tahun ini. Hal
ini karena adanya krisis ekonomi global yang membuat perusahaan kesulitan mencari
pembiayaan dan melambatnya pertumbuhan pelanggan telekomunikasi,” ungkap   Ketua
Komite Tetap Telematika Kadin Anindya N. Bakrie, di Jakarta, Rabu (9/12).

Diungkapkannya, pada tahun ini penetrasi dari layanan telekomunikasi telah mencapai
65 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Hal itu membuat ada sekitar 143
juta nomor yang aktif hingga akhir tahun nanti.

“Pada tahun ini ada pertumbuhan pelanggan di sektor telekomunikasi sekitar 40
persen. Namun, mulai tahun depan pertumbuhan akan melambat menjadi 20 persen,”
ungkap Anindya.

Pertumbuhan yang melambat tersebut, lanjutnya, membuat Capex dari operator akan
banyak terserap untuk meningkatkan kapasitas dari jaringan, sedangkan untuk
perluasan hanya sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Yang mahal itu kan sebenarnya perluasan jaringan karena biaya tinggi untuk site
aqcuisition dan lainnya. Kalau meningkatkan kapasitas, kan hanya mengoptimalkan
infrastruktur yang sudah ada,” katanya.

Anindya mengungkapkan, pemenuhan belanja modal sektor telematika pada tahun depan
tidak lagi didominasi oleh pembiayaan asing melainkan dari perbankan lokal. “Nilai
dollar terlalu tinggi. Bank-bank lokal akan menjadi incaran dari para operator untuk
mencari dana. Kendala di bank lokal ini hanya di maslah suku bunga yang terlalu
tinggi,” katanya.

Sumber lainnya, lanjut Anindya, datang dari pemilik sahamberupa suntikan dana segar
langsung dan kas internal perusahaan. “Perusahaan akan berpikir untuk mencari dana
dari luar negeri. Karena persyaratannya lebih berat. Karena itu lebih senang
menggunakan dana  sendiri,” tuturnya.

Selanjutnya Anindya mengungkapkan, mulai tahun depan di sektor telematika mulai
terjadi euforia bisnis new media. Bisnis ini adalah mengandalkan teknologi internet
sebagai penghantar informasi.

“Pada tahun ini new media sudah menyerap belanja iklan hingga 80 miliar rupiah.
Kemungkinan tahun depan akan terjadi pertumbuhan yang positif,” tuturnya.

Ketua Indonesia Mobile and Online Content (IMOCA) A. Haryawirasma menambahkan,
khusus untuk bisnis konten bagi pelanggan telekomunikasi nilai bisnisnya tahun ini
mencapai 1,5 hingga dua triliun rupiah.

Sebanyak 60 persen dari layanan ini menghasilkan pendapatan bagi perusahaan penyedia
konten berasal dari Ring Back Tone, setelah itu disusul oleh SMS Premium dan SMS
Polling.

“Tahun depan saya yakin bisnis ini akan tetap tumbuh karena tidak memerlukan modal
yang besar untuk mendirikan penyedia konten. Modal utama adalah kreatifitas.
Pertumbuhannya diperkirakan mencapai 40 persen,” jelasnya.

Anindya mengharapkan, bertumbuhnya bisnis new media dan jasa kreatif lainnya harus
diimbangi oleh regulasi tentang penyatuan ranah bisnis (konvergensi). “Dua bisnis
ini sedang berkembang. Dan keduanya menyentuh banyak ranah seperti penyiaran dan
telekomunikasi. Karena itu dibutuhkan suatu undang-undang (UU) baru yang
mengakomodasi regulasi,” katanya.

“Realisasi dari adanya UU baru itu  diperkirakan    terlaksana akhir 2009 atau
awal  2010 nanti. Hal ini karena situasi politik baru kondusif  pada masa
itu,”  tambahnya.[dni]