221008 Pengusaha Harus Ubah Orientasi Pasar

Para  pengusaha dihimbau untuk lebih berorientasi ke pasar dalam negeri ketimbang
mengandalkan pasar luar negeri selama krisis global berlangsung.
 
“Produk-produk yang berorientasi ke pasar dalam negeri akan mampu bertahan di
tengah krisis saat ini. Jika masih mengandalkan pasar ekspor akan susah, karena
kondisi ekonomi global sedang mengkerut,” ujar Ekonom UI Arianto A. Patunru di
Jakarta, Selasa (21/10).
 
Dijelaskannya, selain harus mengubah orientasi, para produsen lokal juga harus
mengurangi ketergantungannya pada bahan baku yang diimpor dan bermain di pasar low
end.
 
“Untuk beberapa industri yang mampu bertahan dan membalikkan keadaan jika
mengikuti saran  di atas adalah sektor alas kaki, garmen, dan furnitur akan mampu
bertahan,” ujarnya.
 
Peneliti dari CSIS Dionisius Ardianto memperkirakan sangat susah mengihtung dampak
dari krisis global dalam jangka pendek karena belum ada pengaruhnya. “Hitungannya
itu baru terasa setelah melewati waktu enam bulan atau pertengahan tahun depan.
Tetapi satu hal yang jelas, pasar global untuk beberapa sektor manufaktur mengalami
pengecilan meskipun kita belum tahu angka pastinya,” katanya.
 
Dikatakannya, selama kurun waktu tujuh tahun belakangan ini sektor garmen dan 
furnitur telah tumbuh sebesar tiga persen setiap tahunnnya. Hal ini karena dipicu
oleh langkah para pengusaha yang mengekspor produk ke pasar yang sedang tumbuh dan
hasil produksinya lebih bervariasi.
 
“Begitu juga di sektor komponen otomotif yang mengalami peningkatan sebesar 24
persen setiap tahunnya. Produk dari sektor ini di pasar internasional sangat
diperhitungkan,” katanya.
 
Sedangkan untuk alas kaki mengalami penurunan ekspor setiap tahunnya rata-rata
sebesar tiga persen karena pangsa pasar dunia sedang stagnan dan menurun. 
 
Konsultan Senada Henrietta Lake mengaku optimistis pasar garmen Indonesia akan
tumbuh meskipun negara tujuan ekspor terbesar, AS, sedang mengalami krisis ekonomi.
“AS merupakan negara terbesar yang menyerap ekpor garmen Indonesia. Hampir 60
persen ekspor garmen ke negara tersebut. Tetapi ini bisa dialihkan ke dalam negeri
dan negara lainnya,” katanya.
“Kunci sukses dari mempertahankan tren positiif tersebut bagi industri garmen
adalah meningkatkan produktivitas dan mendapat dukungan dari pemerintah,” katanya.
 
Menanggapi hal itu, Deputy Chairman Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto
mengaku para pengusaha di Indonesia sudah lama mulai berkonsentrasi ke pasar lokal
karena sadar itu merupakan bagian dari pasar global. “Sudah banyak pengusaha yang
bermain di pasar domestik. Yang kurang itu cuma dukungan dari pemerintah bagi
pengusaha lokal,” katanya.
 
Dia mengatakan, dukungan yang diminta pengusaha hanyalah kondisi bisnis yang
kondusif dan ketegasan terhadap barang selundupan. “Target ekspor alas kaki
sebesar 1,8 miliar dollar AS tahun ini saya masih yakin terpenuhi. Wong, sekarang
sudah mencapai 1,6 miliar dollar AS, kok. Jika dicapur dengan pasar lokal, tentunya
akan makin banyak pengusaha bergairah bergerak di sektor ini,” jelasnya.[dni]

101008 IISIA Waspadai “Muntahan” Ekspor

Para pengusaha baja yang tergabung di dalam Indonesian Iron and Steel Indistry Association (IISIA) meminta pemerintah untuk mewaspadai masuknya produk baja “muntahan” ekspor yang berasal dari negara Asia Timur ke dalam negeri.

 

“Muntahan” ekspor yang dimaksud adalah masuknya produk yang   seharusnya dari negara asal dikirim ke Amerika Serikat (AS), namun melihat kondisi ekonomi negara tersebut yang sedang krisis, pengiriman sengaja  dibelokkan ke Indonesia.

 

Negara yang diwaspadai melakukan tindakan semacam itu adalah China. Hal ini mengingat produksi bajanya bisa mencapai 500 juta ton per tahunnya. Angka itu bak langit dan bumi dengan produksi nasional yang hanya berkisar   6,36 juta ton atau naik enam persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai enam juta ton.

 

“Pemerintah harus melindungi produsen dalam negeri dari tindakan yang merugikan mereka. Saya rasa ini sudah dihimbau oleh Presiden. Tinggal bawahannya harus mengimplementasikan secara konsisten,” kata  Direktur Eksekutif Komite Indonesian Iron and Steel Indistry Association (IISIA), Hidajat Triseputro kepada Koran Jakarta, Rabu (9/10).

 

Diungkapkannya, selama ini memang  telah ada produk hasil impor ilegal yang beredar di pasar tanpa diketahui besaran yang pasti jumlahnya. ”Barang itu ada dan bisa dirasakan tetapi tidak bisa dihitung. Terus terang ini menganggu pengusaha nasional,” katanya.

 

Biasanya produk tersebut masuk dengan menumpang impor barang untuk industri. Seperti pipa dan seng yang diimpor dimana serial number-nya disamakan tetapi dicampur antara kebutuhan komersial dan industri. ”Polanya seperti itu yang ditemukenali di lapangan,” katanya.

 

 Dikatakannya, saat ini pengusaha nasional sangat bergantung kepada komitmen dari pemerintah mengingat dampak dari krisis ekonomi di AS bisa saja menjalar ke sektor baja nasional.

 

 ”Produksi kita banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur nasional, ekspor tidak lebih dari 20 persen. Biaya proyek itu hampir semuanya  dari anggaran belanja negara. Kita harapkan pemerintah tetap komitmen untuk menjalankan proyek agar industri baja tetap bernapas,” jelasnya.

 

Sementara untuk pembangunan yang dibiayai oleh swasta, Hidajat mengharapkan, Bank Indonesia tidak terlalu tinggi menaikkan suku bunga. ”Jika BI rate tinggi biasanya terjadi pengetatan uang. Ini bisa membahayakan sektor hilir di baja,” katanya.

 

Ketika ditanya tentang meningkatkan nilai ekspor baja, Hidajat mengatakan, kemungkinan tersebut bisa saja terjadi mengingat saat ini nilai tukar rupiah sedang turun. ”Layaknya krisis pada 1998, justru ekspor meningkat karena produk Indonesia punya nilai kompetitif di luar negeri yakni harganya lebih murah. Kita lihat saja perkembangannya ke depan,” tuturnya.

 

Berdasarkan catatan, utilitas pabrik baja nasional pada tahun lalu baru mencapai 60 persen. Hal ini tak dapat dilepaskan dari masih rendahnya konsumsi baja yang baru mencapai 30 Kg per kapita per tahun. Berbeda dengan  negara tetangga seperti Malaysia yang bisa mencapai tiga setengah kali lipatnya.   

 

Rendahnya konsumsi baja tersebut membuat nilai pasar dari baja nasional pada tahun lalu hanya mencapai 60 hingga 66 triliun rupaih  untuk  sektor hulu dan hilir dengan asumsi harga baja sekitar 10 hingga 11 ribu rupiah per kilogramnya.[dni]