201008 Bisnis Pelayaran Mulai Terkena Dampak Krisis

Bisnis pelayaran internasional mulai merasakan dampak krisis global karena negara-negara yang selama ini aktif melakukan perdagangan mulai menghentikan kegiatannya.

Salah satu negara yang mengambil langkah tersebut adalah China . Jika pada kuartal pertama tahun ini total nilai ekspor dan impor dari China 570,4 miliar dollar AS, maka mulai kuartal keempat ini terjadi penurunan yang signifikan. Indonesia sendiri diperkirakan nilai ekspornya akan menurun sebesar 30 persen pad kuartal keempat tahun ini.

“Angkanya saya tidak tahu persis berapa turunnya. Tetapi di pelayaran internasional itu terjadi penurunan muatan 20 hingga 90 persen akibat menyusutnya perdagangan dunia,” ungkap Ketua Umum Indonesia Shipping Association (ISA) Jaka A Singgih, akhir pekan lalu ketika dihubungi sedang berada di Singapura untuk konsolidasi anggota International Maritime Organization (IMO).

Dia menjelaskan, fenomena yang terjadi di sejumlah negara yang sebelumnya aktif melakukan impor adalah menggalakkan industri dalam negerinya. “Akhirnya jika pun ada barang dari luar negeri yang masuk ke satu negara itu pasti lebih mahal,” jelasnya.

Jika pengimpor melakukan banting harga, jelasnya, akan menyulitkannya mengingat biaya transportasi cukup tinggi. Disisi lain, para pengusaha pelayaran sulit menurunkan tarif muatan, karena biaya pokok transportasi masih sangat tinggi.

“Saat ini harga minyak dunia memang turun tapi tetap belum imbang dengan muatan yang diterima pemilik kapal,” katanya.

Dia memperkirakan, jika kondisi seperti ini berlangsung lebih dari enam bulan, dapat dipastikan industri pelayaran internasional bakal gulung tikar. Padahal saat ini banyak galangan kapal di dunia seperti China dan Jerman sedang membuat kapal baru.

Di China misalnya dalam beberapa bulan ini sedang membangun kapal sedikitnya sebanyak 400 unit. “Mau dikemanakan kapal sebanyak itu, karena yang ada saat ini saja sulit mendapatkan muatan dan mau tidak mau pemilik kapal dari berbagai negara mengurangi kapalnya,” kata Jaka.

Dia menyebutkan hasil pertemuannya dengan sejumlah assosiasi pelayaran dunia di Singapura yang juga dihadiri Sekjen IMO (Internasional Maritim Organization) menyimpulkan, sejumlah perusahaan pelayaran dunia mulai bersiap-siap mengurangi kapalnya dan ada yang menjualnya dengan pihak ketiga.

“Krisis keuangan dunia saat ini benar-benar cukup menakutkan, karena telah menimpa negara besar dunia. Kalau begitu tentu akan berimbas ke negara-negara berkembang seperti Indonesia dan ini sulit dihindari,” katanya.

Untuk kondisi Indonesia , Jaka menghimbau pemerintah turun tangan dengan melakukan stabilisasi perekonomian dalam negeri melalui fokus pada kebutuhan bahan pokok.

Secara terpisah, Presdir PT Arpeni Pratama Ocean Line Oentoro Surya meghimbau pemerintah melakukan stimulus ekonomi pasar dalam negeri secara total. “Jangan setengah-setengah. Ini pasti akan membuat bisnis pelayaran tetap bergairah,” katanya.

Dia mengungkapkan, potensi muatan untuk digarap pelayaran lokal lumayan besar. Tercatat, komoditas batu bara sebanyak 200 juta ton per tahun, minyak sawit 60 juta ton, dan kontainer sekitar 120 juta ton.

Belum lagi potensi dari crude oil 360 juta barel atau sekitar 55 juta ton, LNG 8 juta ton, LPG 2 juta ton, dan general kargo 50 juta ton.

“Itu ratusan miliar dollar AS. Nah dengan membuat kebijakan yang pro kepada pengusaha dalam negeri, ancaman kebangkrutan pelayaran dalam negeri dapat dihindari,” tegasnya.[dni]

201008 Pengusaha Pelayaran Desak BBM Industri Turun 30%

Para pengusaha yang tergabung dalam Indonesia Shipping Association (ISA) mendesak Pertamina untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi industri pelayaran sebesar 20 hingga 30 persen dari yang berlaku saat ini.

“Permintaan itu saya rasa wajar karena harga yang berlaku di Indonesia sekarang lebih tinggi dibanding di luar negeri sekitar 10 pesen,” ungkap Ketua Umum ISA Jaka A Singgih ketika dihubungi, Jumat (17/10).

Menurut dia, harga BBM yang terlalu tinggi saat ini membuat para pemain di bisnis pelayaran kehilangan keunggulan kompetitifnya. “BBM tinggi tentunya membuat biaya operasional menjadi tinggi. Ujung-ujungnya pada biaya angkut yang mahal dibebankan ke konsumen,” jelasnya.

Secara terpisah, Direktur Utama Samudera Indonesia Randy Effendi mengakui, permintaan penurunan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat harga minyak mentah dunia telah turun secara signifikan.

Tercatat, dalam perdagangan terakhir harga minyak mentah dibanderol 79 dollar AS. Jauh turun ketika diperdagangkan sebulan lalu yang masih berkisar 100-an dollar AS.

“Penurunan harga BBM itu akan membantu para pengusaha pelayaran. Khususnya dalam meringankan beban biaya operasional,” kata Randy.

Randy mengatakan, para pengusaha pelayaran saat ini harus bisa mengantisipasi secara dini dampak dari krisis ekonomi global dengan melakukan berbagai langkah efisiensi.

“Salah satunya mengefisienkan beban operasional. Dan saya rasa permintaan inii wajar karena harga BMM industri sudah seharusnya mengikuti harga minyak mentah dunia ,” katanya.

Untuk beberapa bulan pertama, jelasnya, krisis global belum mempengaruhi jalannya bisnis pelayaran karena permintaan masih tinggi. Tetapi jika krisis berlanjut menjadi resesi dunia dikhawatirkan tingkat isian kapal (load factor) akan berkurang.

“Jika resesi ini berlanjut maka dipastikan akan ada oversupply kapal sehingga freight turun,” jelasnya.

Data di Tanjung Priok mencatat, realisasi bongkar muat barang strategis dan kebutuhan pokok untuk ekspor impor ataupun antarpulau melalui dermaga konvensional pelabuhan tersebut hingga September 2008 sebanyak 5,21 juta ton, atau turun 21 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 6,6 juta ton.

Penurunan disebabkan menurunnya volume komoditas impor khususnya beras, gula pasir, jagung, makanan ternak, dan hewan.

Menanggapi hal itu, juru bicara Pertamina Wisnuntoro mengatakan pihaknya selalu melakukan penyesuaian harga BBM industri setiap dua minggunya.

“Review harga selalu kita lakukan sesuai harga minyak dunia,” jelasnya.

Berdasarkan data yang dirilis situs Pertamina, harga minyak solar untuk industri berkisar antara 8.862- 8.339 rupiah per liter. Dibandingkan harga pada 1 September 2008, harga BBM non subsidi periode 15 September 2008 mengalami perubahan harga untuk minyak Solar sebesar 1,3 persen.[dni]