271108 Outlook Telekomunikasi 2009: Pertumbuhan Pelanggan Akan Melambat

illustration-orange-handphone-thumb3575446Pada akhir tahun nanti diperkirakan penetrasi layanan telekomunikasi di Indonesia
menembus angka 65 persen dari total populasi penduduk. Jika itu tercapai, maka pada
akhir 2009 akan ada 143 juta nomor aktif yang digunakan oleh penduduk Indonesia.

Prestasi tersebut diraih melalui 11 operator yang beredar di jagat telekomunikasi
Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2008 tingkat pertumbuhan pelanggan secara
industri mencapai 30 persen dan menit pemakaian meningkat puluhan kali lipat
dibandingkan tahun sebelumnya akibat penurunan biaya interkoneksi pada April lalu.

Tercatat, menit pemakiaan tertinggi dimiliki oleh XL, dimana hingga kuartal ketiga
lalu pemakaian layanannya meningkat lebih dari 10 kali lipat dari 1,7 miliar
menit pada Juni 2007 menjadi 19,3 menit pada Juni 2008. Disusul berikutnya oleh
Indosat dengan 103 menit per pelanggan per bulan.

Meskipun menit pemakaian dan nomor aktif meningkat, tetapi masa pertumbuhan
pendapatan dua digit sepertinya mulai berlalu pada 2008. Hingga akhir tahun nanti
diperkirakan, pertumbuhan pendapatan tak sedahsyat tahun sebelumnya akibat tarif
retail semakin murah.

“Jika situasi ekonomi masih seperti kuartal keempat 2008, diperkirakan pertumbuhan
pelanggan akan melambat pada tahun depan,” ungkap Ketua Umum Asosiasi
Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys kepada Koran Jakarta, Rabu
(26/11).

Diperkirakan, pada tahun depan tingkat pertumbuhan pelanggan hanya sebesar 20
persen, sementara menit pemakaian akan tetap naik empat hingga lima kali lipat dari
tahun ini. Sedangkan untuk pertumbuhan pendapatan diperkirakan akan flat layaknya
tahun ini. Hal ini berarti masa emas Earning Before Income Tax Depreciation, and
Amortization (EBITDA) margin di atas 50 persen usai sudah.

“Semua ini karena pasar yang disasar nantinya adalah segmen menengah bawah dimana
permainan tarif murah akan mendominasi untuk menggaetnya,” katanya.

Merza juga memperkirakan, mulai tahun depan perang tarif yang marak pada tahun ini
akan mulai mereda seiring besaran dari belanja modal (Capital Expenditure/Capex)
mengerut dibandingkan tahun ini.

“Untuk mendapatkan dana segar sekarang susah karena pembiayaan dari luar negeri
tidak seroyal dulu. Mengandalkan bank lokal juga tidak menarik karena suku bunganya
tinggi,” jelasnya.

Direktur Niaga Telkomsel Leong Shin Loong menambahkan, jika kondisi ekonomi
Indonesia pada tahun depan lebih buruk dibandingkan sekarang, pertumbuhan dari
pelanggan bisa di bawah angka 20 persen. “Semuanya tergantung pada situasi
ekonomi, begitu juga dengan pengadaan Capex,” katanya.

Telkomsel, ungkap Leong, akan tetap menganggarkan Capex sama dengan tahun ini yakni
sebesar 15 triliun rupiah, meskipun kondisi perekonomian tidak secerah tahun ini.
“Yang harus diperhatikan hanya nilai kurs. Hal ini karena sebagian pembelian
infrastruktur menggunakan dollar AS atau Euro,” katanya.

Pertahankan Pelanggan
Berkaitan dengan strategi dari pengembangan infrastruktur pada tahun depan, Direktur
Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi mengungkapkan, operator akan lebih
menitikberatkan pada peningkatan kapasitas jaringan agar kualitas layanan terjamin.

“Penurunan tarif membuat kualitas layanan dari operator menurun pada tahun ini.
Tahun depan itu titik berat operator adalah menjaga pelanggan yang didapat tidak
hilang, karena itu kapasitas dinaikkan agar menit pemakaiaan yang tinggi dapat
terpenuhi oleh jaringan,” jelasnya.

Merza meminta, dalam mengembangkan dan meningkatkan kapasitas jaringan tersebut,
regulasi yang dibuat oleh pemerintah tidak memberatkan operator. Regulasi yang
dimaksud tidak hanya lansiran Ditjen Postel atau Badan Regulasi Telekomunikasi
Indonesia (BRTI), tetapi dari pemerintah daerah.

“Sekarang semua unsur ingin mengatur sektor telekomunikasi. Untuk membangun satu
BTS, bisa puluhan regulasi yang dipenuhi. Kalau begini namanya operator terkena
ekonomi biaya tinggi,” tukasnya.

Rakhmat mengakui, masalah regulasi akan berdampak juga kepada tarif yang ditawarkan
ke pelanggan karena komponen pembentukan tarif terdiri dari biaya ditambah margin
dan kekuatan investasi.

“Operator akan dipaksa mengurangi margin keuntungan atau mengefisienkan biaya
agar bisa berinvestasi kembali. Tetapi jika ekonomi biaya tinggi dengan regulasi
yang memberatkan, bisa tidak ada operator yang untung,” tuturnya.

Leong mengungkapkan, selain meningkatkan kapasitas, Telkomsel akan tetap
memperluas jaringannya hingga ke pelosok daerah dengan program “Telkomsel Merah
Putih”. “Kita tetap akan memperluas jangkauan. Karena itu saya bilang Capex
tetap dibutuhkan besar akibat membangun infrastruktur di daerah tersebut lumayan
mahal. Terutama untuk menyewa satelit,’ jelasnya.

Gejala Merger
Hal lain yang mungkin terjadi pada tahun depan adalah terealisasinya merger dari
beberapa operator kecil sebagai seleksi alamiah akibat kompetisi yang ketat.

“Tahun depan sepertinya akan terjadi merger. Bisa jadi merger itu dalam bentuk
level kesepahaman. Dan fenomena ini sebenarnya tidak harus ditakutkan, karena dalam
berbisnis itu hal yang biasa,” ungkap Rakhmat.

Merza menambahkan, bagi operator kecil sebenarnya kebutuhan untuk merger mendesak
dilakukan mengingat perbedaan kemampuan infrastruktur dan fundamental dengan tiga
besar (Telkom grup, Indosat, dan XL) sangatlah besar.

‘Ibarat lomba lari, tiga besar itu sudah setengah lapangan. Sementara operator
kecil masih digaris start. Jika mereka merger, tentunya akan bisa menjadi kekuatan
besar untuk mengimbangi incumbent,” jelasnya.

Untuk diketahui, isu merger paling hangat menjelang tutup tahun ini adalah
bergabungnya Mobile-8 dengan Bakrie Telecom. Hal itu dipertegas dengan pernyataan
dari pemilik Mobile-8 yang akan melepas sebagian besar sahamnya untuk membesarkan
Mobile-8. Investor dari Timur Tengah, Jeerash Investment sudah membeli sebagian
saham Mobile-8. Dikabarkan sisanya akan diambil oleh Bakrie Telecom.

Ketika hal ini dokonfirmasikan pada Rakhmat dan Merza yang juga menjabat Direktur
Korporasi Mobile-8, segendang sepenarian keduanya hanya melempar senyum penuh arti
tanpa mau memberikan konfirmasi.

Menurut Merza, merger terpaksa dilakukan karena jumlah operator di Indonesia
terlalu banyak sehingga level kompetisi hanya dirasakan oleh para incumbent.
“Karena itu idealnya jumlah operator itu hanya setengah dari sekarang. Kira-kira
lima atau enam operator sudah cukup,” katanya.

Jika merger terjadi, lanjut Merza, regulator harus secepatnya mempersiapkan regulasi
untuk menjamin pelaksanaannya. “Nanti akan dipertanyakan masalah lisensi dan
penguasaan frekuensi. Sebaiknya regulator sudah mempersiapkan semua itu mulai
sekarang,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Juru Bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto mengakui, regulator
telah memperkirakan akan teradi fenomena merger sejak dua tahun lalu. “Kita sudah
tahu ini akan terjadi. Tetapi regulator tidak akan mengeluarkan regulasi jika isinya
memaksa operator melakukan merger. Biarlah berjalan alami prosesnya secara
bisnis,” katanya.

Namun, tegas Gatot, regulator telah mempersiapkan suatu regulasi khusus berkaitan
dengan lisensi dan frekuensi jika benar ada operator yang akan merger. “Merger ini
kan kasuistis. Nantinya regulasinya akan menyesuaikan dengan yang merger,”
jelasnya.

Sementara itu, pengamat telematika Moch S Hendrowijono mengungkapkan, penetrasi
sebesar 65 persen itu hanyalah nomor yang aktif. Tetapi untuk pertambahan pelanggan
secara riil jauh di bawah itu.

“Angka tepatnya saya tidak tahu, tetapi pasti di bawah besaran nomor aktif. Hal
ini karena operator sekarang mencatat pelanggan berdasarkan aktivasi bukan
pertambahan pelanggan bersih,” katanya.

Menurut dia, masyarakat sangat senang dengan adanya perang tarif promosi yang
dilakukan oleh operator belakangan ini karena bisa menikmati jasa seluler lebih
murah. “Pelanggan pun tidak mau peduli bagaiamana dengan keadaan keuangan operator
yang memaksa mereka perlu merger atau tidak. Pokoknya bisa menggunakan telepon
dengan tarif murah dan layanan berkualitas,” tuturnya.[dni]