161208 Badung Terancam Black Out

tower-doangLayanan telekomunikasi di kabupaten Badung, Bali, terancam akan black out jika rencana satuan polisi pengaman praja (Satpol PP) setempat merealisasikan rencananya merubuhkan 148 menara milik berbagai operator telekomunikasi terwujud bulan ini.

“Saya mendapat laporan dari Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI ) siang ini bahwa pemerintah daerah setempat berencana merubuhkan menara yang ada dan memaksa operator untuk menggunakan 43 menara yang telah dibangun oleh rekanan Pemda yang ditunjuk sebelumnya,” ungkap Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Senin (15/12).

Menurut Heru, pemaksaan yang dilakukan oleh Pemda Badung tersebut beretentangan dengan Permenkominfo No 2/2008 tentang Menara Telekomunikasi dimana mengharamkan adanya monopoli dalam penyewaan menara.

“Regulasi yang kami buat adalah mengoptimalkan menara yang ada bukan merubuhkan infrastruktur yang telah ada,” kata Heru.

Dikatakannya, jika Pemda Badung memaksakan perubuhan, Black out sinyal telekomunikasi dipastikan terjadi dan akhirnya yang dirugikan adalah pelanggan. “Harus diingat wilayah Badung juga tujuan wisata. Apa kata turis asing jika tidak bisa berkomunikasi,” sesal Heru.

Sebelumnya, Ketua Umum ATSI Merza Fachys mengungkapkan, aturan Pemda yang menjadi topik hangat di kalangan operator saat ini adalah Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Badung, Bali tentang menara telekomunikasi. Perda tersebut prinsipnya mengatur seluruh ijin pembangunan menara telekomunikasi hanya diberikan kepada satu perusahaan yang ditunjuk oleh Pemda Badung.

Selanjutnya, operator telekomunikasi diharuskan menyewa site dan menempatkan Base Transceiver Station (BTS) miliknya di site-site yang telah dibangun oleh perusahaan tersebut dengan harga yang ditentukan oleh perusahaan tersebut.

Tidak hanya itu, jumlah dan lokasi menara yang diijinkan untuk dibangun pun telah ditentukan. Dan menara-menara yang saat ini milik operator harus dibongkar dan BTS dipindahkan ke lokasi-lokasi ditentukan.

“Perda seperti ini kan bisa menghambat kontinuitas ekspansi dan kualitas jaringan. Belum lagi adanya peraturan lain dari Pemda seperti pungutan Pendapatan Asli Daerah (PAD), fasilitas sosial dan fasilitas umum yang ujung-ujungnya high cost economy terjadi,” sesal Merza.[dni]

031208 Rame-rame Menjual Menara

menara2-11Belakangan ini ada fenomena menarik yang terjadi di industri telekomunikasi selain terjadinya penurunan tarif retail. Fenomena itu adalah menjual aset tetap berupa menara yang dimiliki oleh operator ke pihak ketiga alias perusahaan penyedia menara.

Perusahaan pertama yang mengumumkan niatnya untuk menjual menara adalah pemain ketiga terbesar yakni PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL). Sebanyak tujuh ribu menara milik XL dimana 65 persen berada di Pulau Jawa siap dilelang. Nilai dari lelang tersebut sekitar satu triliun rupiah.

Seharusnya pada akhir Oktober lalu XL telah mengumumkan pemenang dari tender tersebut. Tetapi karena adanya krisis ekonomi, membuat peserta tender jadi surut langkahnya. Dan hingga sekarang aksi korporasi tersebut masih sebatas tahap lelang.

Terbaru adalah Bakrie Telecom yang juga berniat untuk menjual 543 menara miliknya pada enam perusahaan penyedia menara yang akan mengikuti tender pada bulan ini. Jika 543 menara itu terjual Bakrie Telecom akan mendapatkan dana segar sebesar 380 miliar rupiah.

Jika XL dan Bakrie Telecom dengan penuh kehebohan melakukan aksi penjualan menaranya, lain lagi dengan Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT). Pemilik merek dagang 3 (three) tersebut malah melakukan aksi jual menara secara diam-diam.

Tepatnya, sehari setelah Permenkominfo No 2/2008 tentang Menara Telekomunikasi disahkan pada 17 Maret 2008, HCPT melakukan transaksi penjualan 3.692 menara miliknya ke Protelindo. Protelindo merupakan perusahaan telekomunikasi milik Pan Asia Tower yang bermarkas di Singapura.

Pan Asia Tower sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pengusaha asal Amerika Serikat bernama J Michael Gearon. Nilai dari transaksi tersebut sekitar 500 juta dollar AS. Banyak kalangan kala itu mempertanyakan aksi korporasi HCPT karena menurut Permenkominfo No2/2008, investor asing tidak boleh bermain di bisnis menara. Ditjen Postel pun kala itu berjanji akan menyelidiki transaksi tersebut, tetapi hingga sekarang hasil penyelidikan tidak diketahui rimbanya.

Keberhasilan dari Protelindo membeli menara milik HCPT tersebut membuat perusahaan ini menjadi penguasa di bisnis tersebut saat ini. Diperkirakan Protelindo saat ini memiliki 5 ribu menara yang siap disewakan. Pemain kedua terbesar adalah Indonesia Tower dengan dua ribu menara, dan lainnya adalah Tower Bersama.

Saat ini diperkirakan ada 45.000 menara yang berdiri di tanah air. Sebanyak 13 persen diantaranya disediakan oleh pemain lokal. Sementara untuk tahun 2008 ini, industri telekomunikasi diperkirakan membutuhkan 16.000 menara dengan nilai bisnis mencapai 100 miliar rupiah.

Rampingkan Aset

Direktur Jaringan XL Dian Sisworini menjelaskan, tujuan penjualan dari menara adalah untuk merampingkan aset yang dimiliki perseroan. “Rasanya di pembukuan jadi berat kalau terlalu banyak aset tetap. Karena itu perlu dirampingkan agar tidak terbebani oleh nilai penyusutan,” jelasnya kepada Koran Jakarta Rabu (3/12).

Jika aset tetap itu dijual, lanjutnya, maka berubah menjadi modal yang produktif karena ada dana segar yang masuk ke kantong perusahaan. “Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan teknologi dan jasa. Selain itu ke depannya operator akan lebih fokus mengembangkan jasanya, sementara masalah aset tetap seperti menara itu memang akan diserahkan ke pihak ketiga,” tuturnya.

Wadirut Bakrie Telecom Bidang Jaringan, Muhammad Buldansyah menambahkan, penjualan menara itu sebagai bagian dari strategi perseroan untuk mengimplementasikan light asset strategy.

“Ke depan nilai depresiasi dari menara itu akan besar. Nah, dari pada ujungnya memberatkan perseroan, mending dijual sekarang. Selain itu dananya juga bisa menambah belanja modal perusahaan pada tahun depan,” tuturnya.

Pria yang akrab dipanggil Danny tersebut mengungkapkan, nantinya Bakrie Telecom akan menyewa kembali menara tersebut kepada pemenang karena titik menara tersebut selama ini sesuai dengan pengembangan jaringan perseroan.

“Karena itu saya tidak khawatir langkah ini menghambat ekspansi jaringan di masa depan. Wong, site itu masih bisa dipakai kok,” tuturnya.

Langkah seperti Bakrie Telecom yang menyewa kembali menara dijual juga dilakukan oleh XL, ”Site yang kita punya jika masih sesuai dengan road map jaringan akan tetap dipakai. Menyewa itu membuat dana yang dikeluarkan lebih sedikit ketimbang membangun dan memelihara sendiri,” kata Dian.

Secara terpisah, Analis dari HD Capital Adrian Rusmana menilai, penjualan menara itu akan memberikan solusi likuiditas bagi perseroan. “Hasil penjualan itu bisa untuk mendanai operasional dan sisanya bisa untuk menyewa kembali menara tersebut,” paparnya.

Dia menilai strategi menjual menara dan menyewanya kembali itu merupakan langkah yang tepat. Pasalnya, kata Adrian , di saat likuiditas ketat seperti sekarang ini, menjual aset menjadi salah satu solusi untuk mendapatkan dana. Selain itu, penggunaan menara bersama juga bisa menciptakan efisiensi bagi perusahaan telekomunikasi.

Pada kesempatan lain, pengamat telematika
Miftadi Sudjai menjelaskan, pola bisnis dari operator telekomunikasi saat ini memang mulai berubah. Jika sebelumnya lebih fokus kepada membangun jaringan dan menjual jasa, sekarang untuk membangun jaringan mulai melibatkan pihak ketiga alias di-outsourcing.

“Dulu semuanya ingin dikerjakan oleh operator. Sekarang operator mulai sadar itu membuat mereka terbebani dari sisi pengelolaan aset. Karena itu pengerjaannya mulai dialihkan pada pihak ketiga,” jelasnya.

Diungkapkannya, ketika akan membangun menara dan Base Transceiver Station (BTS) 10 tahun lalu yang mahal adalah Radio Base Station (RBS). Namun, saat ini terbalik. Pembangunan menara lebih mahal ketimbang membeli RBS.

Berdasarkan catatan, saat ini harga satu menara berkisar satu miliar rupiah. Sementara BTS berkisar 400 juta rupiah hingga 600 juta rupiah. “Mahalnya membangun menara itu bukan di besinya. Tetapi pembebasan lahan dan izin yang banyak sekali harus dipenuhi. Karena itu menurut saya wajar pekerjaan ini diserahkan pada kontraktor lokal,” katanya.

Masih menurut Miftadi, strategi operator untuk menyewa kembali menara yang disewa tak dapat dilepaskan dari upaya untuk mengurangi beban dari belanja modal dan mengalihkannya ke beban operasional. “Jika dihitung sebagai beban operasional tentu itu tidak terlalu memberatkan operator. Apalagi mulai tahun depan operator akan kesulitan untuk mencari belanja modal,” jelasnya.

Berkaitan dengan masalah kualitas layanan dari operator ketika menaranya dijual, Miftadi menjelaskan, tidak akan terjadi penurunan level of service asalkan persyaratan teknis dipenuhi oleh operator.

Persyaratan teknis yang dimaksud adalah pemasangan RBS di setiap menara harus mematuhi aturan jarak agar tidak terjadi interferensi frekuensi. “Nanti di menara itu tentu tidak hanya digunakan oleh satu operator, tetapi beberapa operator. Sudah menjadi tugas dari penyedia menara mengatur spasi dari setiap RBS agar tidak terjadi kopling magnetik yang bisa menimbulkan interferensi,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Penyewaan Infrastruktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel), Sakti Wahyu Trenggono mengaku tidak yakin target yang ditetapkan oleh operator untuk meraup keuntungan dari penjualan menara dapat terealisasi jika krisis ekonomi masih terjadi.

“Penjualan menara XL ketika proses tender dimulai banyak peminatnya. Begitu krisis menghantam semua mundur teratur. Ini karena perusahaan penyedia menara sedang kesulitan mencari pembiayaan,” tuturnya.

Sakti juga mengkhawatirkan, aksi jual menara oleh operator tersebut membuat suplai di pasar berlebihan ketimbang permintaanya. “Jika semua menjual menara, yang terjadi harga sewa jadi murah karena suplai lebih banyak dari permintaan,” katanya.[dni]

111108 XL Belum Berhasil Lego Menara

xljadiPT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) hingga saat ini belum berhasil melelang tujuh ribu
menara miliknya.

Padahal, perseroan menargetkan awal November ini proses tender telah selesai sering
peserta lelang tersisa enam perusahaan. Rencananya, dari penjualan menara tersebut
XL akan mendapatkan dana segar sebesar 700 juta hingga satu miliar dollar AS.

“Hingga saat ini kami belum berhasil memutuskan pemenang tender. Semua ini karena
adanya perubahan kondisi ekonomi global yang membuat perseroan harus hati-hati
sebelum mengambil keputusan,” ujar  Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kepada
Koran Jakarta, Senin (10/11).

Meskipun menara belum berhasil dijual, lanjutnya, aksi korporasi tersebut tidak
mempengaruhi kinerja keuangan XL pada kuartal ketiga tahun ini. Tercatat, perseroan
memperoleh laba bersih sebesar 891 miliar rupiah.

Sedangkan marjin EBITDA meningkat tiga persen menjadi 45 persen dan
laba bersih normal sebesar Rp754 miliar atau naik 64 persen dibanding
kurun waktu yang sama 2007.

Laba bersih normal (normalized net income) adalah pendapatan bersih
yang telah disesuaikan dengan selisih kurs yang belum direalisasi setelah pajak dan
pengaruh dari pajak penghasilan atas bunga dari obligasi Dolar Amerika Serikat
setelah pajak untuk periode Januari – September.

Dijelaskannya, kinerja yang postif tersebut karena perseroan   berhasil
mendapatkan pelanggan   sebanyak 25,1 juta orang atau naik 96 persen dibandingkan
periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan jumlah pelanggan tersebut juga ditopang oleh  jumlah “outgoing minutes”
dari pelanggan  yang  meningkat 1.076 persen menjadi sebesar 37,9 milliar menit.

“Tingginya trafik karena  tarif menelepon menurun sebesar 82 persen  dari 740
rupiah  pada periode Januari – September 2007 menjadi 130 pada periode yang sama
tahun ini,” katanya.

Sementara untuk infrastruktur, lanjutnya, mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Tercatat, hingga  September 2008, XL memiliki 15.111 BTS. Angka itu akibat adanya
penambahan  5.164 BTS sepanjang 12 bulan terakhir alias  meningkat 52 persen
dibandingkan periode Januari – September 2007.

Jika dirujuk, XL tahun ini mencatat kinerja perseroan yang lebih positif
dibandingkan Indosat. Tercatat, Indosat pada tahun ini dengan belanja modal hampir
setara XL yakni sekitar 1,2 miliar dollar AS hanya menargetkan membangun 3.000 BTS.

Dan pada kuartal ketiga tahun ini jumlah BTS Indosat pun kalah dari XL yang hanya
sekitar  13.096 site dengan 35,5 juta pelanggan.[dni]