251108 Dana Aktivitas Sosial Indosat Meningkat 33 %

indosatPT Indosat Tbk (Indosat) mengalokasikan dana sebesar 40 miliar rupiah  untuk
melakukan aktivitas sosial alias Corporate Social Responsibility (CSR). Angka
tersebut meningkat 33 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 30 miliar rupiah.

Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam menjelaskan, selama tiga tahun terakhir
ini aktivitas sosial perusahannya dibalut dengan tema “Indosat Cinta Indonesia”
dimana di dalamnya terdapat tiga  program yaitu Indonesia Belajar, Indonesia Sehat,
dan Indonesia Hijau.

“Program CSR merupakan wujud komitmen perusahaan untuk tetap peduli terhadap
pengembangan masyarakat. Karena itu anggarannya tiap tahun kita tingkatkan sesuai
pertumbuhan pendapatan perseroan yang positif,” katanya kepada Koran Jakarta, akhir
pekan lalu.

Dijelaskannya, program Indonesia Belajar merupakan bantuan pendidikan terintegrasi
antara lain pembinaan guru IPA/Matematika, Indosat Wireless
Innovation Contest (IWIC),  pembinaan guru olahraga panahan, pengembangan
sekolah unggulan dan bantuan sarana pendidikan, beasiswa pendidikan,
serta Indosat Science Multimedia School.

Sementara, Program Indonesia Sehat fokus pada peningkatan kesehatan masyarakat ibu
dan anak dengan pelayanan berkeliling ke berbagai kota di seluruh Indonesia.

Dan Indonesia Hijau, berupaya melestarikan lingkungan melalui penggunaan energi
alternatif untuk menara radio pemancar (BTS) dan program penanaman sejuta pohon di
seluruh Indonesia.

“Indonesia Hijau merupakan inisiatif CSR terbaru yang memanfaatkan tenaga surya,
matahari, angin dan biofuel untuk memfungsikan sejumlah BTS di Indonesia,” katanya.

Direktur Corporate Services Indosat Wahyu Widjayadi  mengatakan, tiga hal penting
program CSR yaitu komitmen berkelanjutan, melibatkan pihak-pihak kompeten, dan
pengembangan inovasi yang selalu terbuka untuk semua pihak.[dni]

211108 Indosat Cairkan Pinjaman

indosat_copyOperator telekomunikasi kedua terbesar di Indonesia, PT Indosat Tbk (Indosat), berhasil mencairkan semua pinjaman berjangka lima tahun  sebesar 450 juta dollar AS dari sindikasi bank asing yang dipimpin Bank DBS dan ING pada bulan ini.
Fasilitas pinjaman telah dicairkan sebagian di bulan September 2008 sebesar 150 juta dollar AS. Selanjutnya, pada bulan Nopember 2008, kelseluruhan sisa pinjaman sebesar  300 juta dollar AS.
Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam menjelaskan, dana hasil pinjaman sebagian telah dipergunakan untuk pendanaan belanja modal dan keperluan lain perusahaan termasuk pelunasan awal obligasi dollar yang jatuh tempo pada tahun 2010 dan
2012 terkait dengan perubahan kepemilikan, setelah akuisisi atas seluruh saham perusahaan
yang dimiliki oleh Singapore Technology Telemedia (STT) oleh Qatar Telecom.

“Fasilitas ini juga akan mendukung  ekspansi belanja modal dalam rangka memenuhi permintaan
atas jasa kami yang meningkat dan juga untuk memenuhi kewajiban kami kepada pemegang
obligasi di tahun 2008,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Kamis (20/11).

Berdasarkan catatan, belanja modal Indosat tahun ini sebesar 1,4 miliar dollar AS dan telah terserap sebesar 80 persen hinga bulan ini.[dni]

201108 Rencana Pemisahan Pontap Indosat: Telepon (Belum) Untuk Semuanya

indosat_copyKetika layanan telepon tetap nirkabel (Fixed Wireless Access/FWA) dengan merek dagang StarOne diluncurkan oleh Indosat empat tahun lalu, slogan memberikan telepon bagi semua kalangan digadang-gadang oleh operator tersebut.

Keyakinan menjadikan StarOne sebagai telepon yang akan digunakan semua kalangan tersebut tak dapat dilepaskan dari optimisme Indosat bahwa masyarakat membutuhkan akses telekomunikasi murah guna menunjang keperluan sehari-hari.

Ya, telekomunikasi murah memang menjadi andalan dari StarOne karena tarif yang diberikan bisa dibanting di bawah seluler mengingat lisensi yang dikantongi adalah telepon tetap (Pontap) dan teknologi diusung Code Division Multiple Access (CDMA).

Namun, seiring perjalanan waktu, StarOne tidak pernah mewujudkan mimpinya menjadi telepon untuk semuanya. Pertumbuhan pelanggannya sangat jauh berbeda dengan layanan seluler Indosat (Mentari, IM3, dan Matrix)

Saat ini diperkirakan StarOne hanya memiliki pelanggan di bawah satu juta atau sekitar 800 ribu pelanggan. Angka tersebut di bawah kapasitas terpasang yang mencapai dua juta sambungan. Karena itu tidak heran, pendapatan usaha dari segmen tersebut hingga 30 Juni 2008 hanya sekitar 853 miliar rupiah.

Jika dibandingkan dengan pemain yang baru muncul seperti Smart Telecom atau Hepi dari Mobile-8 Telecom, angka pelanggan StarOne memang membuat pemerhati menjadi miris. Smart yang dilansir pertengahan tahun lalu diperkirakan telah memiliki dua juta pelanggan, sedangkan Hepi yang keluar awal tahun ini sudah memiliki 400.000 pelanggan.

Pemisahan

Melihat rendahnya penetrasi dari StarOne, banyak kalangan menilai adalah hal yang wajar jika jasa tersebut dipisahkan dari Indosat jika Qatar Telecom (Qtel) merealisasikan niatnya menguasai saham Indosat sebesar 65 persen.

“StarOne kan kurang berkembang, sebaiknya memang dipisah saja dari Indosat,” ujar Menteri Negara BUMN Sofian Djalil belum lama ini seusai pemerintah mengumumkan sikapnya tentang batas kepemilikan Qtel di Indosat.

Sikap pemerintah tentang kepemilikan Qtel adalah mengizinkan operator padang pasir tersebut menguasai 65 persen saham di Indosat. Namun, jasa pontap harus dipisah dan memiliki entitas sendiri. Untuk pemisahan tersebut pemerintah memberikan batas waktu dua tahun bagi Qtel.

Kebijakan tersebut merujuk pada aturan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Daftar Negatif Investasi (DNI). Beleid tersebut secara tegas menyebutkan kepemilikan asing pada penyelenggara jaringan tetap tidak boleh melebihi 49 persen, sementara di seluler maksimal 65 persen.

Sikap pemerintah tersebut dapat dikatakan hasil kompromi antara kantor Menko Perekonomian dan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Depkominfo didukung Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) secara tegas mengacu pada DNI, sementara kantor Menko lebih liberal. Akhirnya, sikap yang diambil adalah jalan tengah yakni Qtel diperkenankan berkuasa hingga 65 persen, tetapi pontap dilepas.

Kendala

Jika pemerintah konsisten untuk meminta Indosat melepas entitas pontap miliknya, maka dapat dipastikan tidak hanya StarOne yang akan dilepas tetapi pontap kabel dan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) miliknya.

Sementara untuk Sambungan Langsung Internasional (SLI) sepertinya masih bisa dipertahankan oleh Indosat mengingat jasa tersebut dapat dicantolkan ke layanan seluler.

“Pemisahan tersebut menyangkut semua lisensi pontap yang mensyaratkan kepemilikan asing 49 persen. itu akan diawasi secara konsisten,” tegas Ketua BRTI Basuki Yusuf Iskandar kepada Koran Jakarta, Rabu (19/10).

Untuk diketahui, jasa pontap kabel milik Indosat dibanderol dengan nama I-Phone. Layanan ini nasibnya lebih miris ketimbang StarOne. I-Phone saat ini hanya memiliki 50 ribu pelanggan. Sementara untuk kode akses SLJJ hanya memiliki interkoneksi penuh di Balikpapan. Sedangkan di kota lainnya belum dibuka oleh Telkom.

Tidak dibukanya kode akses tersebut tak dapat dilepaskan dari tidak agresifnya pertumbuhan pelanggan pontap. Padahal, syarat pembukaan adalah adanya pertumbuhan pelanggan sesuai kesepakatan Telkom, pemerintah, dan Indosat awal tahun ini.

Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengatakan, pemisahan pontap milik Indosat menunggu petunjuk pelaksanaan (juklak) dari pemerintah. “Terus terang untuk soal ini manajemen belum bisa bicara banyak. Selain tender offer belum jalan, pemisahan ini akan mengalami banyak kendala jika dilaksanakan,” katanya.

Dia mengatakan, jika pemisahan dilakukan ada dua cara yang bisa dipilih yakni penjualan ke perusahaan lain atau memisahkan unit bisnis tersebut anak perusahaan baru.

Apapun yang akan dipilih, bentuk pemisahan Star One akan sangat berkiatan erat dengan manajemen jaringan, mengingat dalam satu menara telekomunikasi (base transceiver station/BTS), terdapat radio dari semua layanan Indosat, baik Mentari, IM3, Matrix, maupun Star One.

Bila pemisahan berupa penjualan ke perusahaan lain, bentuk manajemen jaringannya bisa berupa sewa menara dan tentunya perlu mekanisme kerja sama lebih lanjut. Sementara bila bentuknya pemisahan menjadi anak perusahaan baru, hal tersebut akan lebih memudahkan dalam konsolidasi jaringan dan layanan.

Guntur meminta, khusus untuk StarOne regulator harus memberikan pengertian yang komprehensif tentang jasa tersebut. “Saat ini pengertian telepon tetap nirkabel itu kan sumir. Sebaiknya definisnya diperjelas dulu, baru bicara pemisahan,” kataya.

Guntur membantah, StarOne berjalan di tempat dan tidak mendapatkan perhatian dari manajemen. Hal itu dibuktikan dengan keseriusan menggelar jaringan di 70 kota di seluruh Indonesia.

“Perkembangan StarOne tergantung pada banyak faktor, tidak bisa di isolasi pada faktor tertentu saja. Indosat memiliki banyak jasa sehingga pengaturan positioning dan offering akan disesuaikan dengan situasi pasar dan kompetisi,” katanya.

Dijelaskannya, di seluler pun Indosat memperhatikan situasi pasar (kebutuhan pasar) dan kompetisi (brand/jasa apa yang ditawarkan kompetitor). Sebagai contoh, IM3 agresif diposisikan untuk acquisition brand dengan komunikasi Above The Line yang gencar.

Sementara Mentari untuk retention dan frequent caller dengan komunikasi yang mengandalkan word-of-mouth. “Dalam situasi perang harga yang gencar di seluler, kurang manfaatnya bagi StarOne di”perang”kan dengan jasa tersebut. Lebih baik akuisisi lewat komunitas,” jelasnya.

Di luar faktor pasar dan kompetisi, guntur masih menggunakan alasan kuno yakni, lambatnya pembukaan interkoneksi oleh incumbent alias Telkom.”Interkoneksi menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan StarOne terutama untuk kota-kota kecil yang belum memiliki interkoneksi,” tegasnya.


Salah Pemerintah

Pengamat Telematika Miftadi Sudjai menilai kebijakan yang diambil oleh pemerintah dengan memisahkan jasa pontap milik Indosat sebagai bentuk kesalahan regulator dalam memberikan lisensi.

“Seharusnya kejadian dimana Indosat akhirnya benar-benar lepas dari Bumi Pertiwi sudah bisa diprediksi oleh pemerintah dan BRTI. Proses itu kan sudah bisa diprediksi ketika dilepas ke Singapore Technologies Telemedia (STT) dan akhirnya ke Qtel,” jelasnya.

Dikatakannya, seharusnya setelah investor asing menguasai Indosat, regulator tidak perlu lagi memanja Indosat untuk memberikan keistimewaan dalam mengembangkan lisensi pontap. Hal ini karena investor asing hanya ingin mencari keuntungan dengan menggeber jasa seluler.

“Buat apa dipaksa dibuka kode akses SLJJ oleh Telkom, kalau tidak dimanfaatkan juga oleh Indosat. Semua itu dapat dibuktikan dengan tidak adanya perkembangan berarti dari jasa SLJJ Indosat. Ironisnya lagi, BRTI kala itu seperti pasang badan atas nama liberalisasi,” sesalnya.

Menurut dia, kebijakan pemerintah untuk memaksakan dipisahkannya entitas pontap tak lebih dari upaya mencuci dosa karena selama ini terlalu memanjakan Indosat. “Tetapi ini justru menjadi buruk bagi citra pemerintah. Investor asing akan melihat tidak adanya konsistensi. Memang kondisi ini simalakama,” katanya.[dni]

201108 Nafsu Besar yang Akan Menurunkan Nilai Perusahaan

indosat_copyKetika investor baru masuk, biasanya akan membawa angin segar bagi kinerja perseroan. Tetapi tidak demikian dengan Qatar Telecom (Qtel).

Sejak perusahaan milik para Sheikh tersebut ingin menjadi penguasa penuh di Indosat, nilai (Value) perusahaan tersebut bukannya makin naik, tetapi justru menurun.

Kalangan analis menilai jika Qtel merealisasikan niatnya menguasai Indosat hingga 65 persen justru akan membuat saham perusahaan tersebut tidak menarik lagi diperdagangkan, karena jumlah floating share berkurang.

Terakhir, masalah harus dilepasnya entitas telepon tetap (Pontap) milik Indosat jika benar Qtel tetap bernafsu menguasai saham operator tersebut secara mayoritas.

“Yang paling dirugikan jika pemisahan entitas pontap terjadi adalah Indosat. Operator ini akan menurun nilai tawarnya dalam berkompetisi,” ujar Pengamat Telematika Miftadi Sudjai kepada Koran Jakarta, Rabu (19/11).

Penurunan nilai tawar, lanjutnya, akan terjadi dalam permintaan pembukaan interkoneksi dengan incumbent atau Kompetitor lainnya. Hal itu karena untuk pembukaan interkoneksi biasanya yang dijadikan acuan adalah basis pelanggan pontap.

Semua ini karena pelanggan pontap lebih memiliki loyalitas tinggi dan tingkat pindah layanannya rendah (churn rate). Berbeda dengan seluler dimana churn rate tinggi, sehingga dalam permintaan interkoneksi tidak bisa djadikan acuan.

“Ini akan membuat Indosat sama saja dengan operator seluler lainnya. Padahal Indosat bisa menjadi nomor dua terbesar karena kepemilikan lisensi yang lengkap setelah Telkom,” tegasnya.

Sementara dari sisi pelanggan, Miftadi menyakini, tidak akan memberikan nilai tambah karena belum tentu entitas baru dari pontap Indosat mampu bersaing.

“Kendala yang akan diterima nantinya bagaimana mengakuisisi pasar, mengingat merek dagang tentu akan berganti. Belum lagi masalah interkoneksi dan kepemilikan frekuensi,” katanya.

Jika mengacu pada regulasi, kepemilikan berganti tidak membuat lisensi frekuensi mengikuti secara otomatis. Sementara untuk interkoneksi tentunya akan ada hitung-hitungan baru dengan incumbent atau Indosat sendiri. “Ini justru akan membuat pengembangan entitas baru itu menjadi lambat,” jelasnya.

Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengatakan, kewajaran dari permintaan pemisahan pontap tersebut bisa dilihat dari perspektif masing-masing stakehaloder.

Jika dari sisi perusahaan, tugas perusahaan adalah memberikan shareholder value dengan investasi yang ditanamkan untuk pontap, baik secara standalone atau secara portfolio jasa2 Indosat.

Guntur menegaskan, pontap merupakan kelengkapan portfolio jasa Indosat dalam memberikan pilihan layanan kepada pelanggan, baik itu fixed service, limited mobility atau mobile service.

Juru Bicara Indosat Adita Irawati menambahkan, layanan pontap memiliki arti penting bagi Indosat meskipun kontribusi dari jasa tersebut hanya sekitar 10 persen dari total pendapatan perusahaan hingga kuartala ketiga tahun ini.

“Meskipun hanya berkontribusi 1,3 triliun rupiah, tetapi artinya sangat strategis karena merupakan portofolio dan salah keunggulan Indosat,” katanya.

Ya, jika memang akhirnya nafsu besar Qtel mengalahkan segalanya. Maka dapat dipastikan pada Kamis (20/11) nanti merupakan keikutsertaan terakhir dari jasa Pontap (StarOne, SLJJ, dan i-Phone) untuk ikut memeriahkan HUT ke 41 Indosat. Setelah itu, tentunya jasa tersebut akan bekerja kepada ‘Tuan Barunya” yang semoga membawa perubahan kepada dirinya dan indsustri telekomunikasi Indonesia.[doni Ismanto]

191108 Spin Off Pontap Indosat Tidak Hanya StarOne

staronePermintaan pemisahan entitas telepon tetap (pontap) milik Indosat tidak hanya berlaku untuk jasa Fixed Wireless Access (FWA) StarOne, namun berlaku juga untuk jasa lainnya yang berkaitan dengan lisensi pontap. Jasa lain yang dimaksud adalah pontap kabel dan Sambungan Langsung Internasional (SLI).

“Pemisahan yang kami minta jika Qatar Telecom (Qtel) tetap bersikeras memiliki 65 persen saham Indosat adalah memberikan entitas baru bagi pontap-nya. Jadi, bukan hanya StarOne. Hal ini karena pontap kabel dan SLI bisa berjalan jika ada lisensi penyelenggara pontap, tentunya kedua itu juga harus dilepas,” tegas Juru bicara Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) Gatot S Dewa Broto kepada Koran Jakarta, Selasa (18/11).

Ditegaskannya, permintaan pemisahan tersebut sebagai bentuk konsistensi dari Depkominfo sebagai departemen teknis untuk menegakkan aturan Daftar Negatif Investasi (DNI). Sesuai regulasi tersebut, komposisi investor asing untuk penyelenggara seluler sebesar 65 persen dan pontap 49 persen. “Nah, di tender offer Qtel minta saham 65 persen, tentunya konsekuensi harus melepas pontap milik Indosat sesuai DNi. Kita berikan waktu dua tahun jika memang akhirnya Qtel menguasai 65 persen saham Indosat,” ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengatakan, pemisahan pontap milik Indosat menunggu petunjuk pelaksanaan (juklak) dari pemerintah. “Terus terang untuk soal ini manajemen belum bisa bicara banyak. Selain tender offer belum jalan, pemisahan ini akan mengalami banyak kendala jika dilaksanakan,” katanya.

Dia mengatakan, jika pemisahan dilakukan ada dua cara yang bisa dipilih yakni penjualan ke perusahaan lain atau memisahkan unit bisnis tersebut anak perusahaan baru.

Apapun yang akan dipilih, bentuk pemisahan Star One akan sangat berkiatan erat dengan manajemen jaringan, mengingat dalam satu menara telekomunikasi [base transceiver station], terdapat radio dari semua layanan Indosat, baik Mentari, IM3, Matrix, maupun Star One.

Bila pemisahan berupa penjualan ke perusahaan lain, bentuk manajemen jaringannya bisa berupa sewa menara dan tentunya perlu mekanisme kerja sama lebih lanjut. Sementara bila bentuknya pemisahan menjadi anak perusahaan baru, hal tersebut akan lebih memudahkan dalam konsolidasi jaringan dan layanan.

Juru Bicara Indosat Adita Irawati menambahkan, layanan pontap memiliki arti penting bagi Indosat meskipun kontribusi dari jasa tersebut hanya sekitar 10 persen dari total pendapatan perusahaan hingga kuartala ketiga tahun ini. “Meskipun hanya berkontribusi 1,3 triliun rupiah, tetapi artinya sangat strategis karena merupakan portofolio dan salah keunggulan Indosat,” katanya.

Indosat untuk layanan telepon tetap nirkabel mengusung merek dagang Star One. Sementara untuk telepon tetap kabel merek dagangnya I-Phone. Saat ini StarOne memiliki dua kanal di frekuensi 800 MHZ.

Star One sebenarnya bukanlah produk andalan dari Indosat. Pertumbuhan jumlah pelanggannya yang sangat jauh berbeda dengan layanan selulernya. Pantas saja Indosat menjadikan seluler sebagai anak emas, karena pendapatan usaha dari segmen tersebut hingga 30 Juni 2008 adalah mencapai 6,6 triliun rupiah, sementara dari layanan tetap hanya sekitar Rp853 miliar.

Padahal, kapasitas terpasang dari StarOne sudah mencapai lebih dari dua juta sambungan, tetapi jumlah pelanggannnya tak pernah melebihi sejuta orang, masih sekitar 650.000 orang sampai September, jauh lebih rendah dari jumlah pelanggan operator baru seperti Smart Telecom yang sudah sekitar dua juta pelanggan, atau bahkan terancam terkejar layanan baru milik Mobile-8 Telecom, Hepi, yang pelanggannya sudah mencapai 400.000 orang. Padahal Hepi baru dirilis oleh Mobile-8 pada awal tahun ini.

Sementara untuk I-Phone lebih menyedihkan. Pelanggannya hanya berjumlah 50 ribu nomor, sementara Telkom memiliki 8,3 juta pelanggan kabel.[dni]

151008 Lisensi Pontap Indosat Terancam Dicabut

Lisensi telepon tetap (Pontap) milik PT Indosat Tbk (Indosat) terancam dicabut oleh regulator jika kepemilikan asing di perusahaan tersebut melebihi 49 persen.

“Kita akan minta Indosat mengembalikan lisensi pontap yang dikantonginya. Karena sesuai aturan kepemilikan asingnya tidak boleh melewati 49 persen,” tegas Ketua Umum Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Basuki Yusuf Iskandar di Jakarta, Selasa (14/10).

Dijelaskannya, sesuai aturan Daftar Negatif Investasi (DNI) investor asing hanya boleh memiliki saham maksimal 49 persen untuk penyelenggara jaringan tetap. Sementara untuk penyelenggara seluler asing diperbolehkan berkuasa hingga 65 persen.

”Perubahan kepemilikan di Indosat dari Singapore Technologies Telemedia (STT) ke Qatar Telecom (Qtel) telah membuat regulator menetapkan acuan pembatasan kepemilikan asing di Indosat berdasarkan pontap bukan seluler meskipun operator itu menguasai kedua lisensi tersebut,” jelasnya.


Basuki menjelaskan, langkah tersebut diambil oleh regulator karena tidak menginginkan investor asing terlalu menguasai bisnis telekomunikasi di Indonesia. ”Indosat pemain kedua terbesar dengan lisensi lumayan lengkap. Ini harus dijaga keseimbangannya dengan pemain lain,” tuturnya.


Sikap yang ditunjukkan Basuki tersebut berbanding terbalik dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melalui pernyataannya memperbolehkan Qtel memiliki saham di Indosat hingga 65 persen melalui proses tender offer. “Tender offer diperbolehkan sesuai aturan pemerintah yang membuka ruang untuk angka sebesar itu,” katanya.


Secara terpisah, Komisaris Indosat yang berasal dari Qtel, Rachmat Gobel mengatakan, tender offer akan dilakukan oleh investor timur tengah tersebut setelah mendapatkan kejelasan aturan dari pemerintah. “Kita ikut pemerintah saja,” katanya.


Sementara itu Ketua Umum Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia (KNTI) Srijanto Tjokrosudarmo mendukung rencana BRTI untuk meminta kembali lisensi pontap milik Indosat tersebut.


“Selama ini Indosat hanya mengangkangi lisensi tersebut. Mereka sibuk mengembangkan jaringan seluler. Kalau maunya Qtel ingin dominan di Indosat, harus ada yang dikorbankan. Masak semuanya mau dimakan, nggak adil itu,”katanya.

Berdasarkan catatan, lisensi pontap oleh Indosat dikembangkan melalui dua layanan yakni telepon kabel dengan merek dagang I-Phone dan telepon nirkabel StarOne.


Saat ini I-Phone memiliki 40 ribu pelangga dan StarOne 800 ribu pelanggan. Angka tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan Telkom yang memiliki 8,7 juta pelanggan telepon kabel dan 9 juta pelanggan telepon nirkabel.[dni]

101008 Indosat Legowo Kelola Slot Orbit Bersama Telkom

PT Indosat Tbk (Indosat) mengambil sikap legowo dengan kebijakan pemerintah yang menganjurkan operator tersebut mengelola bersama slot orbit 150,5 derajat bersama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dalam bentuk konsorsium.

Bahkan, operator kedua terbesar di Indonesia ini terkesan pasrah saja menerima kenyataan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut menjadi pemimpin dari konsorsium tersebut.

“Harus bagaimana lagi. Jika pemerintah maunya seperti itu kita terima saja,” ujar Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam di Jakarta, Kamis (9/10).

Menurut Johnny, slot orbit adalah properti milik pemerintah. Sementara operator hanyalah organisasi yang diserahkan sebagai pihak untuk mengisi dan mengelolanya. “Jika yang punya maunya dikelola bersama, tidak mungkin kita mendesak dikuasai sendiri bukan,” katanya.

Untuk diketahui, slot orbit satelit 150,5 derajat sebenarnya diserahkan ke Indosat oleh pemerintah untuk dikelola operator tersebut.

Namun dua tahun lalu, International Telecommunication Union (ITU) menginformasikan bahwa sejumlah filing satelit Indonesia yang didaftar ke lembaga tersebut sejak era 1990-an sempat dihapus oleh lembaga tersebut. Salah satu slot yang sempat dihapus adalah slot orbit 150,5 derajat. Langkah tersebut diambil karena slot tersebut selama ini tidak dimanfaatkan oleh Indosat.
Untunglah pemerintah bergerak cepat dengan berdasarkan proposal komitmen dari Indosat untuk mengisi slot sebelum 2009. Hasilnya, Indonesia tetap memiliki slot tersebut.

Sejak saat itu, pemerintah mengambil kebijakan untuk berhati-hati dalam menyerahkan pengelolaan slot orbit satelit ke operator. Kebijakan yang diambil pemerintah lebih kepada mengelola bersama-sama agar pemanfaatan slot dapat dioptimalkan. Bahkan sempat terlontar ide dari pemerintah untuk meneder slot orbit yang masih kosong.

Melihat hal itu, Telkom mengirimkan proposal kepada Ditjen Postel untuk mengelola slot yang dulunya milik Indosat. Aksi korporasi seperti ini pernah dilakukan BUMN tersebut terhadap slot orbit 118 derajat Bujur Timur yang haknya sebelumnya juga di kuasai Indosat.

Secara terpisah, Kepala Divisi Infrastruktur Telkom Sarwoto Atmosutarno mengakui, Telkom bersama Indosat menjalankan konsorsium untuk mengelola slot orbit tersebut.

“Kami akan kelola bersama. Tetapi tidak akan tertutup kemungkinan ada perusahaan lain yang akan ikut bergabung,” katanya.

Ketika ditanya bentuk kontribusi yang harus disetor oleh anggota konsorsium, Sarwoto menjelaskan, semuanya masih dini untuk diputuskan. “Kita belum tahu apakah berbentuk kapasitas atau jumlah uang disetor. Meluncurkan satelit itu butuh waktu lama. Biasanya 30 bulan setelah tender penentuan pabrikasi satelit,” katanya.

“Untuk slot 150,5 derajat sendiri dipastikan akan lebih lama mengingat Telkom sendiri sedang sibuk dalam tender satelit Telkom 3 yang akan dimulai prosesnya Oktober ini,” jelasnya.
Berdasarkan catatan, satelit Telkom-3 akan diluncurkan pada 2011 nanti. Saat ini BUMN tersebut merupakan pengelola slot satelit 118o BT melalui satelit Telkom-2 yang akan segera diganti dengan satelit Telkom-3. Nilai investasi dari pengadaan satelit Telkom 3 sekitar 200 juta dollar AS. Dari bisnis satelit, Telkom meraih pendapatan sekitar Rp650 miliar-Rp700 miliar setiap tahunnya.

Sementara Indosat juga akan meluncurkan satelit Palapa D pada September 2009 yang menelan investasi 200 juta dollar AS. Bisnis satelit sendiri di Indonesia masih menjanjikan mengingat industri penyiaran dan telekomunikasi menunjukkan pertumbuhan yang positif.[dni]