Indosat Utilisasi Pasar Korporasi

JAKARTA–PT Indosat Tbk (Indosat) tetap mengutilisasi pasar korporasi guna menjaga pertumbuhan omset menyamai industri yakni sekitar 5-6 persen hingga akhir tahun ini.

“Pasar korporasi di bawah direktorat  wholesale infrastructure tetap digenjot penjualannya tahun ini, meskipun penopang utama pendapatan masih dari jasa seluler di retail,” ungkap Director and Chief Wholesale Infrastructure Officer Fadzri Sentosa di Jakarta

Diungkapkannya, pada tahun lalu segmen korporasi mampu berkontribusi sebesar  25 persen bagi total omset. Dimana sumbangan utama berasal dari jasa Multimedia, Komunikasi Data, dan Internet (MIDi), disusul sambungan langsung internasional.

Berdasarkan catatan, Indosat pada 2011 meraih omset sebesar   sebesar  20.576,9 triliun rupiah  atau naik 3,9 persen dibandingkan 2010 sebesar 19.796,5 triliun rupiah.

Bisnis seluler dengan 51,7 juta pelanggan  membukukan omset 16.750,9 triliun rupiah  pada 2011 atau naik 4,5 persen dibandingkan 2010 sebesar  16.027 triliun rupiah.

Jasa MIDI meraup omset 2.576 triliun rupiah pada 2011 atau naik 4 persen dibandingkan 2010 2.476 triliun rupiah.

Dijelaskannya, salah satu cara untuk menggenjot pasar korporasi dengan menawarkan solusi cloud computing yang masuk sebagai bagian dari Value Added Services (VAS) untuk segmen korporasi.

Cloud Computing  adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dan pengembangan berbasis internet (awan) dimana informasi secara permanen tersimpan di server internet, dan sementara di komputer pengguna (client) termasuk pada desktop, komputer tablet, notebook, gadget dan lainnya.

“Secara industri VAS berbasis cloud computing tumbuh 40 persen. Kami membidik sama dengan itu,” katanya.

Diungkapkannya, perseroan memiliki infrastruktur berupa jaringan seluler untuk koneksi internet dan data center guna mendukung cloud computing. Data center di kantor pusat Indosat disiapkan seluas 1.000 meter, sementara Disaster Recovery Center (DRC) dengan tingkat okupansi 70 persen dimiliki seluas 2 ribu meter.

“Kami rencananya akan menambah kapasitas data center di kantor Indosat seluas 200 meter tahun ini. Investasinya sekitar satu juta dollar AS. vendornya Dimension data,” jelasnya.

Aksi  Telkom
Pada kesempatan sama Direktur IT Solution and Strategic Telkom Indra Utoyo mengungkapkan, perseroan telah terlebih dahulu mengembangkan inovasi cloud computing

“Pada tahun lalu Telkom berinvestasi sekitar 10 juta dolar AS untuk cloud computing. Pada tahun ini besaran investasi untuk cloud computing akan diseuaikan dengan tren bisnis. Jika diperlukan kita akan meningkatkannya,” kata Indra.

Menurut Indra, sejak resmi meluncurkan awal Juni 2011, layanan cloud computing Telkom sudah digunakan sejumlah Usaha Kecil Menengah dan korporasi (UKM).

“Kita memang menargetkan aplikasi layanan cloud untuk masuk ke pasar enterprise termasuk ke lembaga-lembaga pemerintah melalui program e-government,” ujarnya.

Ditegaskannya,  Telkom akan terus mengembangkan layanan ke ekosistem bisnis seperti perbankan, perindustrian, rumah sakit hingga koperasi.

“Saat ini sektor UKM dan perbankan mendominasi penggunaan cloud computing dengan aplikasi BPR-1 yang sudah diperkenalkan sejak tahun 2010,” ujarnya.

Menurutnya, solusi cloud banyak diaplikasikan pada sisi Enterprises Resources Planning (ERP), Customer Relationship Management (CRM), dan horizontal aplication.

“Kita memiliki semua platform tersebut yang disesuaikan dengan keinginan pengguna,” ujarnya.

Ditegaskannya, bisnis cloud computing di Indonesia sudah menunjukkan geliat yang lumayan besar cuma saja harus segera diikuti dengan regulasi karena inovasi ini menjadi penopang omset di segmen korporasi.

“Kita memperkirakan dalam 2-3 tahun ke depan nilai bisnis cloud computing di Indonesia akan semakin membesar, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan akan akses jaringan internet,” katanya.

Secara terpisah, Aktivis Indonesia Cloud Forum Teguh Prasetya mengatakan, cloud computing memang akan menjadi salah satu mesin pendapatan bagi operator di masa depan jika mampu membangun ekosistem secara bersama-sama.

“Operator tidak bisa hanya mengambil posisi sebagai penghantar data dalam menjual cloud computing. Model bisnis saling menguntungkan harus dicari secara bersama agar tidak hanya menjadi penonton,” katanya.[dni]

Icon+ Bidik Omset Tembus Rp 1 triliun

JAKARTA–PT Indonesia Comnets Plus (ICON+) membidik omsetnya bisa menembus angka lebih dari satur triliun rupiah hingga akhir tahun 2012 dengan agresif menggarap pasar korporasi.

“Pada 2011, ICON+ meraih pendapatan 700 miliar rupiah. Tahun ini kita harapkan pertumbuhan omset sebesar 50 persen sehingga berhasil menembus sekitar 1,050 triliun rupiah,” ungkap Presiden Director ICON+, M Danny Buldansyah di Jakarta, Kamis (24/5).

Diungkapkannya, guna mencapai target tersebut perseroan terus berbenah diri dengan lebih serius menggarap pasar korporasi diluar melayani solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari  induk perusahaan, PT PLN (Persero).

“Saat ini perseroan telah melayani lebih dari 920 perusahaan di Indonesia. Perusahaan itu termasuk perusahaan 110 telekomunikasi, 70 perbankan serta sektor keuangan, pemerintahan dan manufaktur,” ungkapnya.

Dijelaskannya, komposisi penopang omset perseroan pada tahun lalu adalah dari induk perusahaan sebesar 40 persen, sedangkan dari pasar korporasi di luar PLN sisanya.

“Perusahaan ini didirikan memang untuk melayani solusi TIK bagi PLN, tetapi kita juga tidak mau kapasitas dari infrastruktur yang ada menjadi sia-sia. Dan pemanfaatan kapasitas dengan melayani pasar non PLN justru memberikan dampak positif. Buktinya pada 2011 keuntungan ICON + mencapai 50 miliar rupiah dengan Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) margin sekitar 30 persen,” katanya.

Diungkapkannnya, pada tahun ini perseroan mengalokasikan dana sekitar 600 miliar rupiah untuk membangun serat optik di Sulawesi, Sumatera, dan meningkatkan performa dari infrastruktur yang sudah ada. Pendanaan berasal dari kas internal dan pinjaman induk usaha, khususnya untuk proyek pengadaan bagi PLN.

“Kami memiliki serat optik sepanjang hampir 89.000 km di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Kalimantan. Tetapi baru menguasai 10 persen pangsa pasar jasa data komunikasi untuk pasar korporasi. Ini artinya kita belum  optimal, karena itu pada tahun ini akan didorong lebih agresif,” katanya.

Dikatakannya,  salah satu strategi untuk lebih agresif adalah  menyediakan layanan yang selelu siap dengan down time minimal sehingga memenuhi service level agreement, ICON+ didukung oleh SDM yang berkompeten dan jaringan

“Kami punya keunggulan dalam soal pemasangan jika bicara infrastruktur dengan right of way karena tiang listrik milik PLN tinggal dipasang serat optik. Apalagi harga kita terjangkau, sehingga tidak minder untuk bersaing dengan pemain besar,” tegasnya.[dni]

Garuda Incar 9 juta Anggota Accor Hotel

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) meningcar sembilan juta anggota Accor Hotels di kawasan Asia Pasifik melalui kerjasama kemitraan global antara kedua perusahaan yang ditandatangani pada Rabu (23/5).

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar  mengatakan kerjasama kemitraan global dengan Accor Group sebagai pemilik  memiliki jaringan hotel yang sangat luas sebagai upaya perseroan untuk secara terus menerus meningkatkan layanan kepada para pengguna jasa, serta untuk menjadi pemain global.

”Anggota Accor Hotels yang tercantum dalam websitenya sudah 9 juta di Asia Pasifik. Nah, inilah yang kami sasar untuk menggunakan Garuda sebagai transportasi udaranya untuk terbang ke destinasi-destinasi di seluruh dunia,” katanya di Jakarta Rabu (23/5).

Dijelaskannya, sejalan dengan transformasi bisnis yang dilaksanakan, maka Garuda secara intensif terus melakukan sinergi dengan institusi internasional untuk mengembangkan pangsa pasarnya.

”Kami berterima kasih kepada Accor Group, karena selain akan memberikan benefit (manfaat) bagi pengguna  jasa kedua perusahaan, kerjasama ini juga tentunya akan semakin meningkatkan pangsa pasar Garuda di Internasional. Kru Garuda akan menggunakan jaringan hotel Accor sehingga akan menghemat biaya,” jelasnya.

Menurutnya, dengan ditandatanganinya kerjasama yang berlaku di seluruh destinasi dan jaringan Garuda Indonesia dan Accor ini, maka para penumpang Garuda yang menggunakan fasilitas Accor Group dan tamu Accor Group yang terbang dengan Garuda akan mendapatkan discount khusus sebesar 10 persen,  baik untuk harga tiket pesawat Garuda maupun untuk harga kamar di setiap hotel Accor Group melalui website Accor Hotel yakni http://www.accorhotels.com/garuda.

Kerjasama ini juga meliputi pemberian harga khusus di hotel-hotel Accor Group di seluruh dunia anggota Garuda Frequent Flyer (GFF) melalui http://www.accorhotels.com/gff, serta bagi para pegawai Garuda Indonesia Group.

“Garuda Indonesia juga memiliki 600.000 pemegang kartu GFF. GFF ini berkontribusi 10%-15% terhadap penjualan Garuda, karena dalam setahun rata-rata terbang 3-4 kali,” kata Emirsyah.

Direktur Utama PT Accor Asia Pacific Corporation (AAPC) Indonesia Gerard Guillouet mengakui Garuda Indonesia merupakan mitra Accor yang telah bekerja sama selama bertahun-tahun.

”Kami sangat antusias untuk melanjutkan kemitraan strategis dengan Garuda Indonesia, tidak hanya untuk loyalty programs, namun juga untuk mengembangkan program kemitraan korporat yang lebih erat. Salah satu elemen penting dalam kemitraan kami yang baru ini adalah komitmen Accor untuk memastikan tersedianya akomodasi bagi para awak pesawat serta penumpang Garuda Indonesia di seluruh hotel-hotel jaringan Accor,” tuturnya.[dni]

Emiten Transportasi Bidik Omset Tumbuh 17,21%

JAKARTA—PT Samudera Indonesia Tbk ( Samudera Indonesia) membidik pertumbuhan omset sebesar 17,21 persen pada tahun ini atau mencapai 6 triliun rupiah dari posisi akhir 2011 sekitar 5,119 triliun rupiah.

“Pada tahun lalu omset Samudera Indonesia 5,119 triliun atau tumbuh 18,2 persen dibandingkan 2010 sekitar 4.33 triliun rupiah. Kita optimistis pada tahun ini bisa meraih sekitar enam triliun atau sama dengan umur saya sekarang,” ungkap Direktur Utama Samudera Indonesia Masli Mulia di Jakarta, Selasa (22/5).

Diungkapkannya, kenaikan pendapatan pada 2011 tak bisa dilepaskan dari bergeraknya bisnis inti perseroan yaitu pelayaran, logistic, dan terminal. “Hampir 50% omset dipasok dari bisnis pelayaran. Sementara terminal 15% dan keagenan 15%,” ungkapnya.

Dikatakannya, untuk laba yang diraih perseroan selama 2011 sebesar 97,9% atau tumbuh 44,6 persen dibandingkan 2010 sekitar 67,7 miliar rupiah. “Bottom line perseroan tertekan oleh beban jasa, usaha, dan lain-lain. Akhirnya margin yang didapat kecil,” jelasnya.

Namun, perseroan tetap membagikan dividen bagi pemegang saham sekitar 32% dari laba bersih yakni sekitar 31.32 miliar rupiah dengan nilai saham per lembar 200 rupiah. Angka itu naik dari 2010 yang 160 rupiah per lembar saham.

“Kita mencadangkan sisa laba bersih sebagian untuk membayar hutang  dan digunakan sebagai modal kerja,” katanya.

Wakil Direktur Utama Samudera Indonesia Torkis David Parlaungan Batubara mengungkapkan, perseroan pada tahun ini akan lebih fokus ke pasar domestic karena kondisi pasar regional masih tidak menentu. “Krisis  di Amerika Serikat dan Eropa belum selesai. Selain itu, harga minyak sebagai kebutuhan utama transportasi terus naik. Kami harus fokus dalam investasi agar pertumbuhan terus terjaga,” katanya.

Diprediksinya pasar regional tetap akan memasok sebesar 40% bagi pendapatan perseroan tahun ini, sedangkan pasar domestic 30%, dan sisanya dari jasa logistic. “Jika pada tahun lalu kami menetapkan belanja modal sebesar 900 miliar rupiah, maka tahun ini kita tidak berani menetapkan nilai  investasi. Jika pun ada yang kita lakukan adalah memprioritaskan infrastruktur dan utilisasi secara maksimal. Untuk investasi akan sangat selektif,” jelasnya.[dni]

Q1, Keuntungan Pelindo II Naik 45,9%

JAKARTA –  PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) berhasil membukukan keuntungan sebesar 513 miliar rupiah selama kuartal I-2012 atau  naik 45,9% dibanding periode yang sama tahun lalu, sebesar 351 miliar rupiah.

Direktur Utama Pelindo II RJ Lino menjelaskan naiknya keuntungan perseroan selama kuartal I-2012 tak bisa dilepaskan dari  pendapatan sebesar 1.269 triliun rupiah  pada triwulan pertama tahun 2012. Angka ini lebih tinggi 42% dibanding periode yang sama tahun lalu, sebesar 894 miliar rupiah.

“Kinerja Pelindo II sangat memuaskan selama kuartal pertama tahun 2012,” katanya di Jakarta, Selasa (22/5).

Diungkapkannya, pendapatan perusahaan diperoleh dari pendapatan jasa kapal, jasa barang, pengusahaan alat, pelayanan terminal, pelayanan terminal peti kemas, pengusahaan TBAL, fasilitas rupa-rupa, dan kerjasama dengan mitra usaha.

Dikatakannya, dalam triwulan pertama 2012, IPC menanamkan investasi sebesar 357 miliar rupiah. Angka ini sendiri baru menyerap 8,32% anggaran investasi 2012 sebesar 4,3 triliun rupiah.

Beberapa investasi yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok adalah penguatan dan pemasangan rel gantry luffing crane dan pekerjaan pembangunan lapangan peti kemas. Di luar Pelabuhan Tanjung Priok, IPC melakukan investasi seperti perbaikan besar-besaran pada Pelabuhan Pontianak, pengerukan pelabuhan Banten dan Bengkulu, serta pembangunan stock pile batu bara di Pelabuhan Jambi.

Perusahaan juga menambah dua puluh tujuh cranes di 5 (lima) pelabuhan untuk mempercepat  proses bongkar muat barang. Investasi tersebut masih ditambah dengan pengadaan 8 (delapan) kapal yang mendukung operasional pelabuhan-pelabuhan yang dikelola oleh IPC. Untuk pengembangan sumber daya manusia, IPC terus melaksanakan program pasca sarjana luar negeri atas biaya perusahaan yang teranggarkan hingga Rp576,05 miliar. Perubahan logo pun diikuti oleh penyusunan roadmap dan implementasi corporate restructuring sehingga perbaikan layanan benar-benar terlaksana secara menyeluruh.
“Investasi besar yang kami lakukan, bertujuan untuk memperbaiki seluruh layanan pelabuhan. Jika  layanan pelabuhan baik, kapal-kapal besar mau dan pasti datang  di pelabuhan-pelabuhan yang dikelola IPC. Itu akan mengurangi biaya logistik di Indonesia, meng-energize perdagangan dan roda ekonomi!” tegasnya.

Dari segi pelayanan peti kemas, Pelabuhan Tanjung Priok melayani 1,4 juta TEUs kontainer atau mencapai 93% dari seluruh kontainer yang dilayani oleh pelabuhan-pelabuhan di bawah pengelolaan IPC. Angka tersebut juga menunjukkan kenaikan layanan Tanjung Priok sebesar 13,6% dibanding tahun lalu.

Pada triwulan pertama 2012, perusahaan juga telah memulai kajian pembentukan 9 (sembilan) anak perusahaan, yang pembentukannya akan dilaksanakan bertahap dalam 5 (lima) prioritas.

Selain itu, IPC pun semakin mengintensifkan penggunaan information communication and technology (ICT) untuk mempercepat terkoneksinya sistem kepelabuhan. Setelah sebelumnya diterapkan di 4 (empat) pelabuhan, IPC mulai menerapkan pembangunan aplikasi car terminal dan TPK Teluk Bayur.

“Aplikasi ini memungkinkan pemilik kapal dan pemilik barang mengetahui jadwal sandar kapal serta bongkar muat barang, sehingga proses logistik di pelabuhan dapat menjadi lebih efisien,”katanya.[dni]

Telkom Investasi Rp 3 triliun Demi Satu Juta Titik WiFi

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengalokasikan investasi sekitar tiga triliun rupiah untuk membangun satu juta titik WiFi guna mendukung bisnis Information, Media, dan Edutainment (IME).

“Proyek membangun satu juta titik WiFi ini dimulai pada tahun ini. Lelang akan dilakukan dimana dari 19 peserta sudah 7 yang lolos,” ungkap EGM Telkom Multimedia Joddy Hernandy di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, para peserta yang sudah lolos dan akan ditentukan pemenang tender tak lama lagi diantaranya Cisco, Ruckus, Bellair, dan HP. “Proyek ini akan selesai empat tahun dari sekarang atau sekitar 2016,” ungkapnya.

Direktur IT Solution & Strategic Telkom Indra Utoyo menambahkan, pada tahun ini perseroan membidik ada 50 ribu titik WiFi yang selesai dibangun. “Itu anggarannya sekitar  285 miliar rupiah, dimana didalamnya sudah termasuk  mengembangkan konten, aplikasi, dan  membangun 50 ribu titik WiFi,” jelasnya.

Menurutnya, Telkom dalam membangun ekosistem bisnis IME berbasiskan pada Device, network, dan Application (DNA). “Kita harus bisa memberikan konten yang multi play (telephone, internet, dan video) di multi screen  yakni ponsel, desktop, dan televisi. Membangun akses WiFi sebagai salah satu cara mendukung ekosistem itu.,” katanya.

Dikatakannya,  Telkom dalam melihat bisnis IME juga mengapresiasi shadow revunue yang dihasilkan jasa ini guna mendukung bisnis akses. Hal itu sudah dipertunjukkan anak usaha, Telkom Sigma yang bisa memberikan multiplier effect 4,8 kali bagi omset Telkom grup pada 2010 dan 6,3 kali di kuartal pertama 2011.

“Pada 2011 bisnis IME berkontribusi sekitar 9% bagi total omset perseroan dan mengalami pertumbuhan di atas rata-rata industri. Pada 2015, IME diharapkan  bisa berkontribusi 15% bagi total omset,” katanya.[dni]

2013, Indosat Kembali Jual Menara

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) berencana kembali menjual menara sebagai bagian dari upaya perseroan mendapatkan dana segar dan efisiensi operasional.

 

“Untuk 2012, Indosat fokus menyelesaikan transaksi penjualan 2.500 menara dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Kemungkinan pada tahun depan akan dilakukan lelang untuk penjualan menara Indosat yang berpotensi dilepas ke peminat aset tersebut. Kami memiliki sekitar 10-12 ribu menara yang siap dijual,” ungkap Direktur Keuangan Indosat Curt Stefan Carlsson usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Indosat di Jakarta, Senin (14/5).

 

Ditegaskannya, dalam penjualan tahap kedua tersebut, belum tentu TBIG menjadi preferred buyer karena lelang menyesuaikan dengan kondisi pada tahun depan.

 

“Kita akan mengevaluasi nilai tambah yang diberikan calon penawar dan faktor penentu lainnya. Urusan dengan TBIG untuk 2.500 menara, sedangkan sisa menara yang akan dilepas pada 2013 itu komitmen berbeda. Bisa saja TBIG kembali memenangkan lelang tersebut, bisa juga pihak lain,” katanya.

 

Menurutnya, penjualan aset tersebut akan menentukan kinerja dari bottom line perseroan tidak hanya pada tahun ini, tetapi juga tahun depan. “Jika transaksi dengan TBIG untuk 2.500 menara itu bisa diselesaikan pada kuartal kedua atau awal kuartal ketiga,  akan mengangkat kinerja dari bottom line perseroan,” ungkapnya.

 

Untuk diketahui, pembelian menara Indosat dilakukan oleh  anak usaha TBIG, PT Solusi Menara Indonesia (SMI) seharga US$ 518,5 juta.

 

Dari nilai tersebut, sekitar US$ 406 juta merupakan harga pembelian menara telekomunikasi termasuk pengambilalihan hak dan kewajiban Indosat berdasarkan kontrak sewa menyewa tempat pada menara telekomunikasi tersebut.

 

Sementara sebesar US$ 112,5 juta  merupakan klaim kontijen jika tercapai kondisi dan persyaratan seperti tertera dalam asset purchase management.

 

SMI akan melakukan pembayaran atas US$ 406 juta dengan menebitkan surat utang (promissory notes) senilai  Rp 661,2 miliar. TBIG  akan mengambil alih kewajiban SMI tersebut (Rp 661,2 miliar) dengan menebitkan surat utang wajib konversi yang akan dilego ke Indosat.

 

Pada saat bersamaan, Indosat akan menukarkan surat utang wajib konversi tersebut dengan jumlah saham 239,8 juta saham. Tower Bersama akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement.

 

TBIG sendiri masih berminat untuk menuntaskan pembelian menara Indosat, minimal mencapai 4 ribu unit sesuai dengan kajian awal kala penjajakan dilakukan.

 

Proyeksi

Lebih lanjut Stefan mengungkapkan, perseroan pada tahun ini mencadangkan belanja modal sekitar 700 juta dollar AS, dimana sumber pendanaan berasal dari kas internal, pinjaman, dan penerbitan obligasi.

 

“Acuannya bisa naik 10 persen dari belanja modal tahun lalu sebesar 6 triliun rupiah. Untuk penerbitan obligasi obligasi dan sukuk ijarah telah diajukan dengan maksimum penerbitan masing–masing  2,5 triliun rupiah  dan  500 miliar rupiah, sekarang dalam tahap persiapan, kita harapkan bisa segera terealisasi,” katanya.

 

Sementara untuk target pertumbuhan pendapatan pada tahun ini diharapkan sama dengan industri yakni sebesar 5-6 persen dengan Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) di kisaran 46-48 persen.

 

Sedangkan strategi untuk menghindari rugi atas transaksi yang melibatkan dollar AS, ditetapkan nilai lindung (hedging) sebesar 25 persen dari transaksi. “Kami tidak ingin terlalu  besar melakukan hedging karena 50 persen belanja modal berasal dari dollar AS, sementara hutang 40 persen juga menggunakan mata uang yang sama,” jelasnya.

 

Untuk diketahui, laba  Indosat  mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I-2012 dari posisi  483,7 miliar rupiah pada kuartal I-2011 menjadi 16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini karena rugi kurs.

 

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko Tirtojondro menambahkan, perseroan akan terus melakukan efisiensi dan memfokuskan anak usaha guna mendukung bisnis inti yakni seluler yang menjadi penopang utama pendapatan.

 

“Anak usaha Indosat Mega Media (IM2) yang berjualan produk data difokuskan kepada inovasi, sementara produknya ditarik ke Indosat. Lintas Arta sekarang lebih difokuskan untuk pasar korporasi,” katanya.

 

Harry optimistis pada 2012 perseroan akan lebih agresif menggarap pasar seluler dengan masuknya mantan Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menjadi Direktur Pemasaran dan Chief Marketing Officer Indosat menggantikan Lazlo Imre Brata.

 

“Masuknya Erik akan memperkuat posisi Indosat sebagai pemain kedua terbesar di pasar seluler Indonesia,” katanya.

 

Berkaitan dengan pembagian dari dividen, Harry mengungkapkan,  alokasi penggunaan laba bersih tahun buku yang berakhir 31 Desember 2011 untuk dividen sebesar  76,83  rupiah per saham, dengan dividen pay out ratio sebesar 50% dan sisa untuk re-investasi dan modal kerja.

 

Indosat pada 2011 membukukan laba bersih sebesar 835 miliar rupiah, hal ini berarti dividen yang dibagikan mencapai 417,5 miliar rupiah.[dni]