Dari Time ke Times

JAKARTA – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) telah memiliki nakhoda baru sejak pertengahan Mei lalu. Arief Yahya atau yang akrab di sapa AY sejak menjabat posisi Telkom-1 terkesan menjauh dari media.

Selidik punya selidik, ternyata AY sedang berkonsentrasi untuk konsolidasi di internal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) halo-halo itu. Rotasi di Telkomsel dengan ditunjuknya pejabat baru adalah bentuk kongkrit aksi AY.

Berikutnya, gerbong  The Dream Team yang digadang-gadang mantan Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom ini sedang mempersiapkan pejabat-pejabat yang akan menduduki posisi yang ditinggalkan oleh personal karena dipromosikan menjadi direksi di Telkom atau Telkomsel.

Kesibukan lain yang dilakukan oleh AY dalam rangka konsolidasi internal adalah mensosialisasikan tentang Time ke Times. Telecomunication Information Media dan Edutainment (TIME) adalah jargon transformasi yang dilakukan oleh Telkom sejak 2009.

“Saya menambah huruf  “S” alias service sehingga menjadi TIMES. Telkom punya produk yang banyak dan menyasar segmen beragam. Service harus dihaja oleh semua elemen Telkom,” katanya beberapa waktu lalu.

AY menegaskan, jika terkesan Telkom memiliki produk yang saling bermain di pasar yang sama, itu tak bisa dilepaskan dari strategi merek. “Misalnya Simpati dan AS di kartu prabayar seluler. Kita posisikan AS itu attacker sementara Simpati defender. Semua ada porsinya Telkom sebagai penguasa pasar tetap terjaga,” katanya.

Menurutnya, masa depan dari produk-produk Telkom nantinya akan datang dari tiga segmen yakni eksisting market, new market, dan future market.
“Saya tebak-tebakan kalau untuk produk  bisa hidup itu harus menggarap new dan future market. Jika tak menggarap kedua pasar itu, berarti tidak berjiwa muda,” katanya.[dni]

Iklan

BTEL akan Terus Merugi

JAKARTA – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan terus merugi hingga semester pertama 2012 karena tekananhutang dalam bentuk dollar AS dan belum membaiknya penjualan dari pemilik merek dagang Esia itu sejak tahun lalu.

“Kami sudah pernah ungkapkan beberapa waktu lalu perseroan akan terus merugi karena turn around belum selaesai. Kita perkirakan kondisi rugi ini akan berlanjut hingga semester pertama tahun ini. Baru di semester kedua, sinyal positif didapat,” ungkap Wakil Deputi Presiden Direktur dan Direktur Keuangan Jastiro Abi ketika dihubungi Jumaat (1/6).

Diungkapkannya, faktor pemicu meruginya perseroan pada kuartal I-2012 tak bisa dilepaskan dari tidak bagusnya penjualan dari Esia. “Kita investasi besar, wajar ada depresiasi. Tetapi penjualan tidak mampu menaikkan Average Revenue Per User (ARPU). Beberapa perbaikan sedang dilakukan seperti membentuk tim pemasaran baru. Kalau bicara hutang dalam bentuk dollar AS, kita lakukan lindung nilai (hedging) hampir 75 persen,” jelasnya.

Dalam keterbukaan informasi perseroan pada otoritas bursa, terungkap  BTEL mengalami kerugian 355,62 miliar rupiah atau naik  764,67 persen  dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang hanya 41,128 miliar rupiah.

Direktur Utama Bakrie Telecom  Anindya Bakrie dalam keterbukaan tersebut menyatakan perseroan  mengalami  rugi kurs  sebesar 56,466 miliar rupiah dalam tiga bulan pertama di 2012, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang membukukan keuntungan kurs 115,871 miliar rupiah.

Sedangkan pendapatan bunga  mengalami penurunan sebesar 88,71 persen dari 4,07 miliar rupiah kini tercatat 452,205 juta rupiah. Beban keuangan turut meningkat  tipis 4,801 persen menjadi 210,206 miliar rupiah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 200,575 miliar rupiah.

Kondisi ini menyebabkan beban lain-lain perseroan melonjak 256,83 persen menjadi 266,365 miliar rupiah dari sebelumnya  74,646 miliar rupiah.

Pendapatan usaha   turun 26,61 persen menjadi 526,599 miliar  rupiah di tiga bulan pertama 2012 dibanding dengan periode yang sama tahun lalu 717,940 miliar rupiah.

Penurunan pendapatan usaha ini disebabkan turunnya pendapatan jasa telekomunikasi sebesar 26,07 persen dari 830,999 miliar rupiah menjadi 614,355 miliar rupiah. Selain itu, jasa interkoneksi juga turut turun 14,58% menjadi 58,963 miliar rupiah dibanding periode yang sama tahun lalu 69,033 miliar rupiah.

Posisi kas dan setara kas anak usaha Kelompok Usaha Bakrie ini melorot sampai 215,29 miliar rupiah pada Maret 2012 dibandingkan Maret 2011 yang sebesar 802,3 miliar rupiah.

Perseroan hanya berhasil menekan beban usaha sekitar 1,13% dari 704,981 miliar rupiah menjadi 696,967 miliar rupiah.Sedangkan rugi usaha diderita sebesar 170,368 miliar rupiah.

Hingga kuartal I-2012, total aset esia tercatat 12,028 triliun rupiah. Angka ini mengalami penurunan 1,51 persen  bila dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2011 sebesar 12,213 triliun rupiah.

Sebelumnya, peringkat  Bakrie Telecom  dan obligasi I tahun 2007 diturunkan menjadi idBBB- dari sebelumnya idBB oleh Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Peringkat tersebut pun ditempatkan pada posisi credit watch dengan implikasi negatif.

Penurunan peringkat ini mencerminkan meningkatnya risiko pembiayaan kembali untuk obligasi perseroan sebesar 650 miliar rupiah yang jatuh tempo 4 September 2012. Padahal,  BTEL dikabarkan  akan mendapatkan  fasilitas kredit baru yang akan digunakan untuk melunasi 70 persen dari jumlah pokok obligasi  yang tengah difasilitasi oleh Credit Suisse AG cabang Singapura.

Makin runyam, rencana perusahaan untuk mengundang investor strategis baru melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) yang akan digunakan untuk melunasi 30 persen sisa hutang juga masih memiliki ketidakpastian yang tinggi.[dni]

Antam Negosiasi Harga Jual Komoditas

JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) segera melakukan negosiasi harga jual komoditas yang dimilikinya ke para pembeli potensial terkait adanya ketentuan bea keluar 20 persen yang harus ditanggung perseroan.

“Kami akan melakukan negosiasi dengan para pembeli. Umumnya para pembeli mau menanggung secara bersama Pass through sebesar 20 persen itu. Adanya keinginan negosiasi ini sudah angin segar bagi Antam,” ungkap Direktur Antam, Alwinsyah Loebis di Jakarta, usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Kamis (31/5).

Untuk diketahui, bea keluar 20 persen sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar. Beleid tersebut berlaku sejak 16 Mei 2012. Melalui aturan itu, 65 jenis mineral mentah dikenakan tarif 20 persen.

Diungkapkannya, perseroan sudah mendapatkan izin untuk melanjutkan kembali ekspor bijih nikel dan bauksit dengan kuota 2,275 juta ton untuk tiga bulan ke depan.   Antam tidak mengubah target volume penjualan bijih nikel dan bauksit di tahun 2012, walaupun ijin telah dikeluarkan.

“Sebanyak 24 persen dari total omset pada 2011 dikontribusi oleh Nikel. Kami harus melakukan negosiasi dengan pembeli untuk mau menanggung minimal 50:50 biaya pass through itu. Jika sebanyak 20 persen beban ditanggung oleh Antam, maka omset dari penjualan nikel bisa turun sekitar 8-10 persen,” ungkapnya.

Alwinsyah mengungkapkan, komposisi pemasaran komoditas perseroan ke Eropa pada tahun lalu sebanyak 25%, Korsel (15%), Jepang (10%), China (9%), Singapura (10%), dan domestik (30%).

“Kita harapkan ada efek seperti menekan balon dengan adanya krisis di Eropa, dimana permintaan dari Asia justru meningkat untuk komoditas yang dihasilkan oleh Antam. Untungnya, pembeli dari Eropa komoditas Antam itu dari Jerman dan Inggris yang tidak begitu terkena krisis,” jelasnya.

Direktur Operasional Antam Winardi mengungkapkan, saat ini pembeli dari China sudah bersedia untuk ikut menanggung biaya pass through sebesar 20 persen.
“Bisnis Feronikel di China masih bergairah, karena itu pelaku usahanya tidak keberatan menanggung pass through. Hal ini berbeda dengan pembeli yang terikat kontrak jangka panjang seperti dari Eropa dan Jepang. Kita harapkan tim pemasaran bisa bernegosiasi,” katanya.

Winardi memperkirakan adanya kebijakan pass through sebesar 20 persen akan menekan ekpor biji nikel dari Indonesia.” Jika pada tahun lalu ada 33 juta ton yang diekspor, tahun ini pasti akan kurang. Antam mensiasati dengan negosiasi, efisiensi, dan mengejar target produksi,” katanya.

Hingga akhir  April 2012, Antam telah mengapalkan 2,34 juta wmt bijih nikel.  Sampai dengan akhir bulan April 2012, Antam telah melakukan ekspor bijih bauksit sebesar 31.402 wmt. Antam menargetkan capaian produksi (feronikel) di tahun 2012 sebesar 18.000 TNi (ton nikel) dengan target volume penjualan sebesar 19.500 TNi.

Produksi feronikel tahun ini diperkirakan mengalami penurunan 8,5 persen dibandingkan produksi tahun 2011 yang tercatat 19.600 TNi. Namun, dari sisi penjualan, Antam memperkirakan akan relatif sama dengan 2011 sebesar 19.500 TNi.

Sedangkan untuk produksi bijih nikel, tingkat permintaan bijih nikel di tahun 2012 masih tetap kuat dan menargetkan volume produksi bijih nikel mencapai 9,4 juta wmt (wet metric ton) dengan volume penjualan sebesar 7,8 juta wmt.

Antam juga akan memacu produksi emasnya di tahun ini. Perseroan mengincar pertumbuhan produksi hingga 16,5 persen, dari 2.667 kilogram di 2011 menjadi 3.109 kilogram di tahun 2012.

Pada 2011 lalu, Antam melalui anak perusahaan, PT Indonesia Coal Resources (ICR), berhasil memproduksi 583.794 ton batu bara. Pada 2012, ICR menargetkan peningkatan produksi batu bara menjadi 1 juta ton.

Bagi Dividen
Lebih lanjut Alwinsyah mengungkapkan, RUPS Tahunan menyetujui untuk membagi dividen sebesar 867,55 miliar atau 45% dari laba bersih 2011 sekitar 1,9 triliun rupiah.

“Tadinya sempat ada wacana pembagian dividen mencapai 50% dari laba bersih, tetapi kami ada kebutuhan untuk investasi. Manajemen malah mengusulkan 30%, akhirnya diambil jalan tengah 45%,” jelasnya.

Sementara Direktur Keuangan Antam Djaja Tambunan mengatakan, perseroan masih menahan diri untuk mengeluarkan obligasi sebesar satu triliun rupiah yang sebelumnya sudah direncanakan sejak tahun lalu untuk pembiayaan proyek yang mendukung kinerja perseroan.

“Obligasi sebesar satu triliun rupiah akan menunggu kondisi pasar keuangan kembali stabil dan kemajuan dari proyek yang dibiayai oleh obligasi itu. Sebelumnya kita sudah menerbitkan obligasi sebesar 3 triliun rupiah untuk membiayai beberapa proyek,” katanya.

Diungkapkannya, strategi lainnya yang memungkinkan untuk membiayai proyek adalah melalui pinjaman ke bank lokal atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Export Credit Agency (ECA) di Eropa, khususnya untuk pengadaan peralatan proyek. “Kita incar ECA dari Eropa dan Asia Utara yang sedang melirik pasar baru untuk berinvestasi,” katanya.

Untuk diketahui, Antam saat ini  tengah berfokus pada pembangunan proyek-proyek utama perusahaan, diantaranya   pembangunan pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan yang menelan investasi 450 juta dollar AS, pembangunan pabrik Feronikel Halmahera Timur dengan investasi 1,6 miliar dollar AS, proyek Modernisasi dan Optimasi Pabrik Feronikel Pomalaa , yang juga mencakup pembangunan PLTU Pomalaa dengan investasi 450-500 juta dollar AS. Konstruksi ketiga proyek ini telah dimulai dan diharapkan telah dapat beroperasi pada tahun 2014.

Kinerja BUMN ini selama kuartal I-2012  membukukan  laba bersih  379 miliar rupiah  atau naik 9,6 persen dibandingkan periode sama sebelumnya sebesar 346,16 miliar rupiah. Komoditas emas kembali menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan perusahaan pelat merah tersebut.

Sedangkan penjualan bersih perusahaan selama kuartal I-2012 meningkat 24 persen dibandingkan periode sama 2011 menjadi 2,5 triliun rupiah. Peningkatan ini seiring naiknya volume penjualan feronikel, bijih nikel, dan emas. Sementara omset Antam selama 2011 sebesar  10,3 triliun rupiah.[dni]

Anak Usaha Telkom Bidik Keuntungan Rp 22,75 Miliar

JAKARTA–PT Finnet Indonesia (Fin@Net) membidik keuntungan sebesar 22,75 miliar rupiah hingga akhir 2012 atau tumbuh 75 persen dibandingkan 2011 sebesar 13 miliar rupiah.

Presiden Direktur Finnet Indonesia Walden R Bakara mengungkapkan, guna mencapai target keuntungan tersebut perseroan mengharapkan omset tumbuh sekitar 21 persen pada tahun ini.

“Pada 2011 Finnet mendapatkan omset 165 miliar rupiah. Tahun ini kita bidik 200 miliar rupiah. Sedangkan alokasi belanja modal sekitar 30 miliar rupiah yang banyak diserap untuk membangun aplikasi dan interface antara merchant dengan bank,” jelasnya di Jakarta, Rabu (30/5).

Diungkapkannya perseroan bergerak di bisnis penyediaan layanan solusi sistem transaksi pembayaran secara elektronik (e-payment) untuk segala keperluan transaksi pembayaran transaksi.

Finnet Indonesia bekerjasama dengan lebih dari 50 bank guna menyediakan layanan proses mengintegrasikan dan mentransformasikan semua entitas bisnis baik bank, billers atau merchant, regulator, agents, dan end user yang terlibat dalam transaksi finansial menjadi lebih sederhana dengan menggunakan switching Fin@Net.

“Kami sekarang menjadi platform e-payment dan juga memiliki portal belanja http://www.belanjakeinternet.com guna mendorong penggunaan produk Finpay sebagai layanan proses pembayaran yang ditujukan untuk bisnis online,” jelasnya.

Menurutnya, Finnpay adalah sistem pembayaran yang mudah serta aman bagi pembeli dan pebisnis.

Sistem ini memungkinkan transaksi secara online dari pembeli atau pelanggan dengan menggunakan berbagai cara pembayaran antara lain dengan kartu kredit, bank transfer secara elektronik melalui ATM, internet banking, mobile banking atau e-money seperti Mcmobilecash.

“Kita bidik ada satu juta transaksi terjadi di toko belanjakeinternet dengan finnpay melalui 1000 merchant. Saat ini kontribusi utama pemasukan perseroan masih Telkom grup seperti Telkomsel atau pelanggan telepon kabel. Itu hampir 80%, sisanya dari voucher prabayar PLN dan lainnya,” katanya.

Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengharapkan Finnet akan menjadi penyedia platform payment terbesar di Indonesia karena memiliki produk yang lengkap baik secara online atau offline.

“Perubahan teknologi membuat ekosistem berubah, begitu juga dengan metode pembayaran. Finnet akan menjadi pemain besar jika mampu mengoptimalkan pelanggan eksisting, baru, dan masa depan dengan membangun komunitas,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, praktisi telematika Bayu Samudiyo mengatakan, Telkom sudah memiliki lini produk yang banyak di bisnis internet.

“Pekerjaan rumah Telkom adalah membuat setiap produk itu tumbuh dan melakukan penetrasi di luar pasar Telkom Grup,” katanya.[Dni]

2013, Emiten Seluler Optimistis Catat BEP

JAKARTA– PT Smartfren Telecom Tbk (Smartfren) optimistis di akhir 2013 nanti akan mampu mencatat kinerja keuangan yang positif seiring kian kuatnya kontribusi jasa data bagi omset perseroan.

“Kami optimistis pada 2013 akan mencatat Break Even Point (BEP), jika semua rencana yang dibuat pada tahun ini berjalan mulus,” ungkap Deputy CEO Commercial Smartfren Djoko Tata Ibrahim di Jakarta, Rabu (30/5).

Diungkapkannya, rencana besar yang dimiliki perseroan pada tahun ini adalah bisa meraih omset sekitar dua hingga 2,5 triliun rupiah dimana jasa data berkontribusi 60-75 persen bagi total omset.

“Pada tahun lalu omset data baru berkontribusi 35% dengan jumlah pelanggan ratusan ribu nomor. Jika pendapatan terus  naik, sementara beban dapat dijaga flat pertumbuhannya. itu signifikan menekan bottom line perseroan,” jelasnya.

Menurutnya, mencetak omset dua kali lipat dibandingkan 2011 bukan merupakan pekerjaan berat melihat penjualan yang berhasil dilakukan perseroan belum lama ini.

Pasalnya, produk donggle atau modem Smartfren menguasai hampir 60 persen pangsa pasar. Tercatat, dari 10 ribu modem yang terjual, sekitar 6 ribu merupakan produk Smartfren.

Menurutnya, diminatinya donggle yang dijual Smartfren tak bisa dilepaskan dari paket berlangganan data yang terjangkau. Terbaru, perseroan melepas USB Modem EV-DO Rev B Phase 2 seri CE 81B seharga 399 ribu rupiah.

Belum lagi di layanan BlackBerry yang pada April lalu berjumlah 110-120 ribu pelanggan. “Sejak bulan lalu, setiap bulan ada sekitar 30 ribu pelanggan BlackBerry baru datang ke galeri Smartfren. Ini karena mereka mencari jaringan yang berkualitas,” katanya.

Dia optimistis, pengguna jasa data Smartfren hingga akhir tahun nanti bisa berjumlah sekitar 3,8 juta nomor melonjak dari posisi sekarang  1,8 juta nomor.

Lebih lanjut diungkapkannya, untuk menopang jasa data perseroan  berencana akan menambah 40 persen BTS dari jumlah yang ada saat ini, 4300 BTS.

Berikutnya, membangun serat optik untuk koneksi ke luar negeri bekerjasama dengan Moratel dengan rute Jawa-Bangka-Batam-Singapura yang menelan investai sekitar 20 juta dollar AS.

Sementara untuk rute Surabaya-Jakarta yang selama ini menjadi backhaul baru saja ditingkatkan kapasitasnya dari 5 Gbps menjadi 10 Gbps.

Terakhir, menggunakan solusi Netsnapper untuk membantu  optimize bandwidth dan memindahkan trafik kala padat (offloading)  ke ke Wifi.

Untuk diketahui, berdasarkan laporan keuangan perseroan pada otoritas bursa,  Smartfren mengalami kerugian bersih sebesar 533.430 miliar rupiah   pada kuartal pertama 2012 atau naik 89 persen dibandingkan periode sama 2011 sebesar  281.0477 miliar rupiah .

Namun, Smartfren masih mampu mempertahankan kinerja yang positif untuk omset dimana terjadi kenaikan 48% yakni   210 688 miliar rupiah  pada kuartal pertama 2011 menjadi  312.093 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Sedangkan pada 2011, perseroan  mencetak kerugian  sebesar  2,4 triliun rupiah  atau naik 71% dibandingkan 2010 sebesar  1,4 triliun rupiah. Kerugian yang dialami oleh  Fren karena naiknya  beban usaha dan hutang.[Dni]

Merpati Tak akan Andalkan Pinjaman Pemerintah

JAKARTA—PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) tidak akan mengandalkan pinjaman dana dari pemerintah untuk selamat dari jurang kebangkrutan.

”Kami tidak akan meminta pinjaman kembali dari pemerintah. Cukup yang digelontorkan dulu. Sekarang Merpati akan berjuang untuk bangkit dan bisa mencatat keuangan positif pada Oktober 2012,” tegas Presiden Direktur Merpati Rudy Setyopurnomo di Jakarta, akhir pekan lalu.

Berdasarkan catatan, pada tahun ini Merpati mendapatkan dana dari pemerintah sebesar 296,47 miliar rupiah berupa Penyertaan Modal Negara (PMN). Tahun lalu pemerintah mencairkan dana penyertaan modal negara kepada Merpati sebesar  561 miliar rupiah

Diungkapkan Rudy, aksi yang dipersiapkannya untuk menjadikan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu kembali positif dari menderita kerugian tiga miliar rupiah setiap hari salah satunya  akan merestrukturisasi rute.

“Kemungkinan ada 10-20 persen rute yang akan ditutup karena merugi pada Juni nanti. Merpati mencatat 90% dari 124 rute yang diterbanginya merugi, atau hanya 12 rute yang memberi keuntungan,” jelasnya.

Diungkapkannya, dampak dari dibiarkannya rute yang merugi beroperasi,   pihaknya mencatat kerugian 350 miliar rupiah  pada kuartal I/2012, sedangkan pada akhir 2011,
tercatat rugi 750 miliar rupiah. Untuk itu pihaknya akan melakukan pemulihan biaya operasi dan bahan bakar dengan melakukan efisiensi.

“Tidak benar kalau alasan pada kuartal I biasanya maskapai mengalami musim sepi penumpang atau low seassion, karena pada Januari itu seharusnya mampu menghasilkan pendapatan yang tinggi karena masih musim liburan, untuk itu kami akan melakukan restrukturisasi rute. Masa rute Halim (Jakarta)-Bandung penumpangnya hanya 2 orang,”
kesalnya.

Lebih lanjut dikatakannya, selama melakukan restrukturisasi rute,   manajemen juga
akan menghentikan sementara pembelian pesawat, termasuk pesawat yang baru dipesan yakni pesawat jet ARJ 21-700 sebanyak 40 unit.

Sebelumnya, Direktur Utama Merpati yang lama Sardjono Jhony melakukan penandatangan memorandum of understanding (MoU) pembelian 40 pesawat jet ARJ 21-700 berkapasitas 100 tempat duduk buatan China senilai total1,2 miliar dollar AS.

“Perjanjian beli 40 pesawat ARJ itukan masih MoU, belum mengikat, dengan demikian masih bisa dihentikan, selain itu, pembelian itu tidak ada dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP,” tegas Rudy.

Ditambahkannya,  pihaknya akan fokus membenahi rute-rute yang ada dengan menggunakan pesawat yang tersedia, yakni 30 unit, dengan 10 diantaranya jenis jet.

“Tetapi, untuk pesawat yang akan datang dan sudah deal, akan tetap didatangkan karena sudah mengikat,” ucapnya.

Dia optimistis,   dengan pengalamannya membenahi sejumlah perusahaan di Indonesia, akan   mampu membawa Merpati untung operasional pada enam bulan pasca pengangkatannya sebagai dirut baru di Merpati.

“Enam bulan kedepan, dengan kerja keras dan doa, kami akan untung operasi, yakni Oktober 2012. Untuk itu kami perlu berbenah, termasuk merubah budaya kerja, melakukan tes IQ untuk karyawan yang selanjutnya akan menempatkan orang-orang yang tepat diposisinya. Akibatnya akan ada perombakan susunan organisasi termasuk jabatan direktur,” katanya.

Dijelaskannya,  pasca mencapai laba operasi, barulah kembali memikirkan untuk menambah armada termasuk menambah rute penerbangan, juga memberikan peningkatan kesejahteraan bagi karyawan.

”Saya memiliki target membawa Mepati menjadi pemain kedua besar untuk rute domestik. Kita akan melayani rute-rute pariwisata yang tak bisa dimasuki pesawat berbadan besar. Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah mendukung aksi ini,” katanya.[dni]

Merpati Kembali Rujuk dengan Garuda

JAKARTA–PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) akan lebih intensif menjalin kerjasama dengan salah satu pemegang sahamnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), baik dari sisi bisnis atau sumber daya manusia (SDM).

“GIAA adalah pemilik 10 persen saham Merpati. Kami tidak akan berkompetisi atau saling berhadapan dengan Garuda. Kita akan jalan beriringan,” ungkap President Director  Merpati Nusantara Rudy Setyopurnomo di Jakarta, Jumaat (25/5).

Dijelaskannya, aliansi dengan Garuda adalah langkah realistis yang dilakukan perseroan mengingat sumber daya yang dimiliki Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu sangat besar.

Misalnya, dari sisi SDM, para pilot Merpati yang ingin promosi menerbangkan pesawat tipe jet, akan ditawarkan ke Garuda yang membutuhkan pilot lokal.

“Para pilot Merpati hebat-hebat, sementara pesawat tipe jet hanya 10 unit. Bagi pilot menerbangkan pesawat jet itu satu kebanggaan,” jelasnya.

Sementara aliansi secara bisnis adalah menjadi feeder dari Garuda untuk rute-rute kota-kota kabupaten atau kecil yang tidak bisa dimasuki oleh pesawat besar.

“Kita akan bantu para turis yang dibawa Garuda ke Raja Ampat atau daerah-daerah wisata lainnya. Daerah-daerah itu biasanya dimasuki oleh pesawat kecil. Ini juga akan menyukseskan industri wisata lokal,” jelasnya.

Aliansi secara bisnis lainnya adalah membidik pekerjaan pemeliharaan pesawat yang dilakukan oleh anak usaha Garuda Indonesia, yakni Garuda Maintenance Facilities (GMFY).

“Merpati Maintenance Facilities (MMF) memiliki kompetensi memperbaiki pesawat tipe propeller dan jet. Belum lama ini MMF memiliki sertifikat dari European Aviation Safety Aagency (EASA). Nilai bisnis pemeliharaan pesawat itu di Indonesia 10 miliar dollar AS, GMF hanya menggarap 10 persen karena kurang kapasitas. Jika MMF dan GMF beraliansi tentu akan besar pasarnya,” katanya.

Rudy optimistis, hubungan manis antara kedua BUMN akan kembali terjadi karena dirinya sebelumnya lama menjadi eksekutif di Garuda Indonesia dan masakpai itu juga yang ikut mengangkat dirinya menggantikan Sardjono Jhonny pada pertengahan Mei 2012.

“Saya optimistis berbagai kerjasama itu akan terwujud. Bahkan ada wacana GIAA akan memberikan pesawat tipe ATR ke Merpati kok,” ungkapnya.

Lebih lanjut Rudy mengaku tetap optimistis laba operasi dari maskapainya akan positif pada Oktober 2012 atau enam bulan usai dirinya diangkat menjadi orang nomor satu di maskapai itu.

“Saya sudah siapkan banyak program yang dikemas dalam Patriotic Action. Pada tanggal 20 dan 21 Mei 2012, Merpati sudah mulai positif. Bayangkan sebelumnya setiap hari rugi 3 miliar,” jelasnya.

Untuk diketahui, pada 2011 Merpati mengalami rugi usaha 458 miliar rupiah, rugi bersih 745 miliar rupiah, dan negatif equity 2.791 triliun rupiah.
Sementara pendapatan usaha hanya 1,6 triliun rupiah, jauh dari target yang ditetapkan 3 triliun rupiah.

Hingga April 2012 Merpati mengalami kerugian 350 miliar rupiah.

Secara terpisah, Direktur Pemasaran Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengaku terbuka untuk bekerjasama dengan Merpati.

“Kita sambut gembira rencana itu,” katanya.

Sebelumnya, di era kepemimpinan Sardjono Jhonny, Merpati terkesan berkompetisi dengan GIAA, walaupun keduanya adalah BUMN transportasi.

Hal itu terlihat jelas kala Merpati ikut-ikutan membeli pesawat kelas Sub-100 dari China dengan merek ARJ 72-100,  setelah GIAA memborong 18 unit Bombardier kala Singapore Airshow Februari 2012.

“Kami belum ada rencana menambah pesawat, kecuali yang sudah deal atau akan datang 8 jet tahun ini. Tetapi kalau untuk tipe Sub 100 harus direview semua. Kemarin itu baru sebatas Memorandum of Understanding,” katanya.[Dni]