Icon+ Bidik Omset Tembus Rp 1 triliun

JAKARTA–PT Indonesia Comnets Plus (ICON+) membidik omsetnya bisa menembus angka lebih dari satur triliun rupiah hingga akhir tahun 2012 dengan agresif menggarap pasar korporasi.

“Pada 2011, ICON+ meraih pendapatan 700 miliar rupiah. Tahun ini kita harapkan pertumbuhan omset sebesar 50 persen sehingga berhasil menembus sekitar 1,050 triliun rupiah,” ungkap Presiden Director ICON+, M Danny Buldansyah di Jakarta, Kamis (24/5).

Diungkapkannya, guna mencapai target tersebut perseroan terus berbenah diri dengan lebih serius menggarap pasar korporasi diluar melayani solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari  induk perusahaan, PT PLN (Persero).

“Saat ini perseroan telah melayani lebih dari 920 perusahaan di Indonesia. Perusahaan itu termasuk perusahaan 110 telekomunikasi, 70 perbankan serta sektor keuangan, pemerintahan dan manufaktur,” ungkapnya.

Dijelaskannya, komposisi penopang omset perseroan pada tahun lalu adalah dari induk perusahaan sebesar 40 persen, sedangkan dari pasar korporasi di luar PLN sisanya.

“Perusahaan ini didirikan memang untuk melayani solusi TIK bagi PLN, tetapi kita juga tidak mau kapasitas dari infrastruktur yang ada menjadi sia-sia. Dan pemanfaatan kapasitas dengan melayani pasar non PLN justru memberikan dampak positif. Buktinya pada 2011 keuntungan ICON + mencapai 50 miliar rupiah dengan Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) margin sekitar 30 persen,” katanya.

Diungkapkannnya, pada tahun ini perseroan mengalokasikan dana sekitar 600 miliar rupiah untuk membangun serat optik di Sulawesi, Sumatera, dan meningkatkan performa dari infrastruktur yang sudah ada. Pendanaan berasal dari kas internal dan pinjaman induk usaha, khususnya untuk proyek pengadaan bagi PLN.

“Kami memiliki serat optik sepanjang hampir 89.000 km di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Kalimantan. Tetapi baru menguasai 10 persen pangsa pasar jasa data komunikasi untuk pasar korporasi. Ini artinya kita belum  optimal, karena itu pada tahun ini akan didorong lebih agresif,” katanya.

Dikatakannya,  salah satu strategi untuk lebih agresif adalah  menyediakan layanan yang selelu siap dengan down time minimal sehingga memenuhi service level agreement, ICON+ didukung oleh SDM yang berkompeten dan jaringan

“Kami punya keunggulan dalam soal pemasangan jika bicara infrastruktur dengan right of way karena tiang listrik milik PLN tinggal dipasang serat optik. Apalagi harga kita terjangkau, sehingga tidak minder untuk bersaing dengan pemain besar,” tegasnya.[dni]

Telkom Investasi Rp 3 triliun Demi Satu Juta Titik WiFi

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengalokasikan investasi sekitar tiga triliun rupiah untuk membangun satu juta titik WiFi guna mendukung bisnis Information, Media, dan Edutainment (IME).

“Proyek membangun satu juta titik WiFi ini dimulai pada tahun ini. Lelang akan dilakukan dimana dari 19 peserta sudah 7 yang lolos,” ungkap EGM Telkom Multimedia Joddy Hernandy di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, para peserta yang sudah lolos dan akan ditentukan pemenang tender tak lama lagi diantaranya Cisco, Ruckus, Bellair, dan HP. “Proyek ini akan selesai empat tahun dari sekarang atau sekitar 2016,” ungkapnya.

Direktur IT Solution & Strategic Telkom Indra Utoyo menambahkan, pada tahun ini perseroan membidik ada 50 ribu titik WiFi yang selesai dibangun. “Itu anggarannya sekitar  285 miliar rupiah, dimana didalamnya sudah termasuk  mengembangkan konten, aplikasi, dan  membangun 50 ribu titik WiFi,” jelasnya.

Menurutnya, Telkom dalam membangun ekosistem bisnis IME berbasiskan pada Device, network, dan Application (DNA). “Kita harus bisa memberikan konten yang multi play (telephone, internet, dan video) di multi screen  yakni ponsel, desktop, dan televisi. Membangun akses WiFi sebagai salah satu cara mendukung ekosistem itu.,” katanya.

Dikatakannya,  Telkom dalam melihat bisnis IME juga mengapresiasi shadow revunue yang dihasilkan jasa ini guna mendukung bisnis akses. Hal itu sudah dipertunjukkan anak usaha, Telkom Sigma yang bisa memberikan multiplier effect 4,8 kali bagi omset Telkom grup pada 2010 dan 6,3 kali di kuartal pertama 2011.

“Pada 2011 bisnis IME berkontribusi sekitar 9% bagi total omset perseroan dan mengalami pertumbuhan di atas rata-rata industri. Pada 2015, IME diharapkan  bisa berkontribusi 15% bagi total omset,” katanya.[dni]

2013, Indosat Kembali Jual Menara

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) berencana kembali menjual menara sebagai bagian dari upaya perseroan mendapatkan dana segar dan efisiensi operasional.

 

“Untuk 2012, Indosat fokus menyelesaikan transaksi penjualan 2.500 menara dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Kemungkinan pada tahun depan akan dilakukan lelang untuk penjualan menara Indosat yang berpotensi dilepas ke peminat aset tersebut. Kami memiliki sekitar 10-12 ribu menara yang siap dijual,” ungkap Direktur Keuangan Indosat Curt Stefan Carlsson usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Indosat di Jakarta, Senin (14/5).

 

Ditegaskannya, dalam penjualan tahap kedua tersebut, belum tentu TBIG menjadi preferred buyer karena lelang menyesuaikan dengan kondisi pada tahun depan.

 

“Kita akan mengevaluasi nilai tambah yang diberikan calon penawar dan faktor penentu lainnya. Urusan dengan TBIG untuk 2.500 menara, sedangkan sisa menara yang akan dilepas pada 2013 itu komitmen berbeda. Bisa saja TBIG kembali memenangkan lelang tersebut, bisa juga pihak lain,” katanya.

 

Menurutnya, penjualan aset tersebut akan menentukan kinerja dari bottom line perseroan tidak hanya pada tahun ini, tetapi juga tahun depan. “Jika transaksi dengan TBIG untuk 2.500 menara itu bisa diselesaikan pada kuartal kedua atau awal kuartal ketiga,  akan mengangkat kinerja dari bottom line perseroan,” ungkapnya.

 

Untuk diketahui, pembelian menara Indosat dilakukan oleh  anak usaha TBIG, PT Solusi Menara Indonesia (SMI) seharga US$ 518,5 juta.

 

Dari nilai tersebut, sekitar US$ 406 juta merupakan harga pembelian menara telekomunikasi termasuk pengambilalihan hak dan kewajiban Indosat berdasarkan kontrak sewa menyewa tempat pada menara telekomunikasi tersebut.

 

Sementara sebesar US$ 112,5 juta  merupakan klaim kontijen jika tercapai kondisi dan persyaratan seperti tertera dalam asset purchase management.

 

SMI akan melakukan pembayaran atas US$ 406 juta dengan menebitkan surat utang (promissory notes) senilai  Rp 661,2 miliar. TBIG  akan mengambil alih kewajiban SMI tersebut (Rp 661,2 miliar) dengan menebitkan surat utang wajib konversi yang akan dilego ke Indosat.

 

Pada saat bersamaan, Indosat akan menukarkan surat utang wajib konversi tersebut dengan jumlah saham 239,8 juta saham. Tower Bersama akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement.

 

TBIG sendiri masih berminat untuk menuntaskan pembelian menara Indosat, minimal mencapai 4 ribu unit sesuai dengan kajian awal kala penjajakan dilakukan.

 

Proyeksi

Lebih lanjut Stefan mengungkapkan, perseroan pada tahun ini mencadangkan belanja modal sekitar 700 juta dollar AS, dimana sumber pendanaan berasal dari kas internal, pinjaman, dan penerbitan obligasi.

 

“Acuannya bisa naik 10 persen dari belanja modal tahun lalu sebesar 6 triliun rupiah. Untuk penerbitan obligasi obligasi dan sukuk ijarah telah diajukan dengan maksimum penerbitan masing–masing  2,5 triliun rupiah  dan  500 miliar rupiah, sekarang dalam tahap persiapan, kita harapkan bisa segera terealisasi,” katanya.

 

Sementara untuk target pertumbuhan pendapatan pada tahun ini diharapkan sama dengan industri yakni sebesar 5-6 persen dengan Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) di kisaran 46-48 persen.

 

Sedangkan strategi untuk menghindari rugi atas transaksi yang melibatkan dollar AS, ditetapkan nilai lindung (hedging) sebesar 25 persen dari transaksi. “Kami tidak ingin terlalu  besar melakukan hedging karena 50 persen belanja modal berasal dari dollar AS, sementara hutang 40 persen juga menggunakan mata uang yang sama,” jelasnya.

 

Untuk diketahui, laba  Indosat  mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I-2012 dari posisi  483,7 miliar rupiah pada kuartal I-2011 menjadi 16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini karena rugi kurs.

 

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko Tirtojondro menambahkan, perseroan akan terus melakukan efisiensi dan memfokuskan anak usaha guna mendukung bisnis inti yakni seluler yang menjadi penopang utama pendapatan.

 

“Anak usaha Indosat Mega Media (IM2) yang berjualan produk data difokuskan kepada inovasi, sementara produknya ditarik ke Indosat. Lintas Arta sekarang lebih difokuskan untuk pasar korporasi,” katanya.

 

Harry optimistis pada 2012 perseroan akan lebih agresif menggarap pasar seluler dengan masuknya mantan Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menjadi Direktur Pemasaran dan Chief Marketing Officer Indosat menggantikan Lazlo Imre Brata.

 

“Masuknya Erik akan memperkuat posisi Indosat sebagai pemain kedua terbesar di pasar seluler Indonesia,” katanya.

 

Berkaitan dengan pembagian dari dividen, Harry mengungkapkan,  alokasi penggunaan laba bersih tahun buku yang berakhir 31 Desember 2011 untuk dividen sebesar  76,83  rupiah per saham, dengan dividen pay out ratio sebesar 50% dan sisa untuk re-investasi dan modal kerja.

 

Indosat pada 2011 membukukan laba bersih sebesar 835 miliar rupiah, hal ini berarti dividen yang dibagikan mencapai 417,5 miliar rupiah.[dni]

XL Hanya Harapkan Rp 630 Miliar dari VAS

JAKARTA— PT XL Axiata Tbk (XL) hanya mengharapkan layanan nilai tambah (Value Added Services/VAS) memiliki omset  sekitar 420-630 miliar rupiah atau berkontribusi dua hingga tiga persen dari target total pendapatan 2012 sekitar 21 triliun rupiah.

 

”Kami harus realistis dengan kondisi yang ada di bisnis konten dimana belum juga bangkit sejak terjadi unreg massal pada Oktober 2011 lalu. Jika pada 2011, bisnis VAS bisa  berkontribusi sekitar 7 persen bagi perseroan, rasanya tahun ini sudah 2-3 persen saja bagus,” ungkap  Direktur Teknologi,Content,dan New Busines XL, Dian Siswarini di Jakarta, Rabu (16/5).

 

Diprediksinya, bisnis konten baru akan bangkit dan bisa berkontribusi normal bagi XL mulai tahun depan seiring masyarakat teredukasi dengan baik dan produk yang disediakan tidak ada lagi kesan manipulasi. ”Tahun depan baru mulai membaik. Tetapi kami harus bekerja dari sekarang dengan terus meluncurkan produk yang benar agar masyarakat teredukasi,” jelasnya.

 

Diungkapkannya, salah satu yang dilakukan perseroan adalah bekerjasama dengan MusicaStudio’s meluncurkan  Musikkamu yang merupakan sebuah layanan konten yang dapat dinikmati di ponsel dengan konsep fans-base.

 

”Kami menyediakan konsep kerjasama yang melibatkan semua pihak dengan menyingkirkan pola pikir orang telekomunikasi dimana semua harus dikerjakan sendiri. Musica membawa artis dan platform, XL membawa basis pelanggan dan kemampuan billing. Jika pun XL berinvestasi itu untuk promosi dan edukasi,” jelasnya.

 

Dikatakannya, produk  Musikkamu adalah layanan konten musik pertama di Indonesia yang dibangun dengan mempertimbangkan beberapa hal di antaranya Games,  musik digital, social media, mobile platform,  dan menyediakan akses  artis bisa berkomunikasi langsung dengan penggemarnya.

 

”Tantangan dari meluncurkan layanan konten itu adalah menjaga hype dan keinginan pelanggan untuk terus mengakses. Kami sengaja investasi untuk membuat kondisi itu terwujud dengan menggandeng pemain-pemain di social media,” katanya.

 

GM Content & Applications Strategic Business & Innovation  XL Revie Sylviana menambahkan, bagi artis bisa mendapatkan pendapatan dari  sisi konten yang membuat dirinya terhubung dengan penggemar.

 

”Kami membidik ada  200 ribu pelanggan di tiga bulan pertama. Angka itu dari  dari 1,5 juta hingga 2 juta penggemar artis MusicaStudio’s. Rencananya  kita akan ajak semua label rekaman dan artisnya untuk bekerjasama,” ungkapnya.[dni]

 

 

 

Mengalir Seperti Air

Elvizar KH adalah salah seorang anak muda yang menjadi andalan di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) guna mengembangkan bisnis media melalui anak usaha PT  Indonusa Telemedia (TelkomVision).

Hal itu dibuktikan oleh urang awak ini pada 2011 dimana  secara performa kinerja TelkomVision melewati semua anak usaha Telkom jika mengacu pada pencapaian Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP).

Pada tahun itu, perseroan yang terkenal dengan produk YesTV dan Groovia itu berhasil membukukan pendapatan 500 miliar rupiah, memiliki satu juta pelanggan, dan keuntungan 100 miliar rupiah.

Pada tahun Naga Air ini, TelkomVision membidik keuntungan 200 miliar rupiah dengan dukungan pendapatan satu triliun rupiah dan 2,5 juta pelanggan. Sedangkan belanja modal yang disiapkan 650 miliar rupiah

Angka-angka positif itu berbanding terbalik jika melongok keadaan TelkomVision tiga tahun lalu kala Pria yang akrab disapa EL ini masuk ke pemain kedua terbesar TV berbayar itu pada  November 2009. Saat itu  perseroan mengalami arus kas negatif dengan pelanggan hanya sekitar 180 ribuan.

“Kala itu kondisi perusahaan jika diibaratkan warung yang menjual satu barang, tetapi uang di kantong tidak ada alias arus kas negatif. Kami harus bekerja keras untuk melakukan turn around,” katanya kala ditemui di kantornya belum lama ini.

Timbulkan Antusiasme
Diungkapkan oleh pria yang hobi bermain golf ini, aksi yang dilakukan pertama kali adalah melakukan restrukturisasi biaya khususnya untuk  konten dan pembelian decoder. Pasalnya, dua komponen ini sangat dominan berkontribusi ke total biaya operasional.

“Setelah itu saya harus membenahi Sumber Daya Manusia (SDM). Kala itu SDM di TelkomVision tingkat turn over-nya sangat  tinggi. Saya harus menimbulkan antusiasme, semangat, dan kepercayaan karyawan kepada  TelkomVision, bahwa ini adalah pemain besar yang berada di grup perusahaan raksasa,” katanya.

Diungkapkannya, untuk menunjukkan tiga hal tersebut kepada para karyawan, maka sejumlah aksi korporasi dilakukan. Misalnya, mengubah logo dari perusahaan yang menunjukkan hanya satu payung merek yakni TelkomVision dengan dua produk yakni YesTV dan Groovia.

Selain itu, tagline Nice & Easy baru saja diperkenalkan sebagai strategi perusahaan untuk menjadi pemimpin pasar dengan menggaet pelanggan baru.

Nice yang berarti menyenangkan merupakan komitmen memberikan pelayanan prima kepada pelanggan berupa produk, pelayanan, dukungan, dan pengembangan. Sedangkan Easy yang berarti mudah merupakan komitmen perusahaan untuk memberikan kemudahan dalam memberikan layanan.

“Tagline  Nice & Easy  bukan  sekadar slogan  namun  dapat menjadi roh bagi jiwa masing-masing  individu  karyawan  untuk bekerja dengan  tulus, ikhlas serta berkomitmen  memberikan  pelayanan  terbaik bagi pelanggan.” Katanya.

Aksi lainnya adalah menggandeng perbankan, pembiayaan, Telkom grup, dan penyedia perangkat untuk memperluas jumlah pelanggan melalui bundling produk.  “Kami menyakinkan semuanya untuk bersama-sama melakukan penetrasi pasar.  Khusus kerjasama dengan Telkom Grup itu punya dua makna, satu mencari tambahan pelanggan, kedua menunjukkan kepada karyawan, TelkomVision itu ada di grup perusahaan besar,” katanya.

Menurutnya, potensi pasar TV berbayar di Indonesia sangat besar karena penjualan televisi terus tumbuh.
“Rumah tangga yang memiliki televisi itu besar. Kita jangan terus terkungkung dengan persepsi melawan siaran televisi free to air atau parabola di daerah pinggiran. Nilai lebih harus ditawarkan ke pasar. Salah satu keunggulan dari TelkomVision adalah memiliki semua platform untuk menjalankan konten,” jelasnya.

Untuk diketahui, dari sisi infrastruktur perusahaan menggunakan satelit Telkom-1 dan Palapa dengan teknologi Direct To Home dan kompresi MPEG4 untuk menjangkau pasar secara nasional. Sementara bagi produk Groovia TV didukung Internet Protocol TV (IPTV).

Masih menurutnya, kondisi dari pasar TV berbayar itu sangat mirip dengan seluler kala pertama kali hadir di Indonesia. Potensi besar, tetapi yang menggunakan sedikit. Dibesarkan dari industri telekomunikasi, Elvizar banyak meniru strategi dari seluler untuk penetrasi pasar. Misalnya, membuat paket dengan harga terjangkau atau direct selling yang melibatkan komunitas.

Dampak dari strategi tersebut, saat ini  pelanggan  ritel  TelkomVision mencapai  75% dari total jumlahpelanggan. Namun  dalam perjalanan  bisninya  TelkomVision  juga membidik  pangsa pasar korporat sekitar 46%   atau  memberi  kontribusi  sebesar  25 %   dari total pelanggan  yang dimiliki

TelkomVision dalam rangka meningkatkan jumlah pelanggan juga berencana memperluas areal pelayanan sehingga 33 provinsi dapat terlayani seluruhnya. Saat ini TelkomVision didukung 10 kantor regional untuk memberikan layanan kepada masyarakat di Indonesia.

Selalu Siap
Lebih lanjut Pria Kelahiran Pekanbaru, 12 September 1963 ini mengungkapkan, dalam menjalankan  sejumlah aksi korporasi perusahaan selalu menyiapkan rencana cadangan jika implementasi tak berjalan sesuai jadwal.

”Saya selalu siap dengan rencana A, B, atau C. Ini sama dengan konsep saya menjalani hidup. Saya selalu siap dengan perubahan dan percaya jika semuanya adalah rencana dari Allah SWT untuk diambil hikmahnya,” katanya.

Menurutnya, mensyukuri setiap nikmat dan pemberian Allah SWT serta menjalani hidup  mengalir seperti air adalah pilihan yang paling tepat berada di bumi selagi masih bernafas.

”Saya selalu  bilang kepada teman-teman tidak ada hal yang tak mungkin diraih jika memiliki keyakinan dan kerja keras yang optimal. Saya masih teringat kala memasang target, awalnya anak buah tak percaya dengan mimpi target itu.  Mereka nilai mimpi saya terlalu tinggi di awang-awang. Ternyata, mimpi itu bisa tercapai, bahkan melampaui target jika optimistis,” ujarnya.

Hal lain yang disukurinya adalah, di tengah kesibukan membesarkan perseroan, dirinya masih sempat menikmati waktu bersama keluarga. ”Saya bersyukur bisa menikmati waktu bersama keluarga dan tak membawa urusan kantor ke ruang makan. Ini salah satu kunci hidup sehat lahir dan batin,” katanya berbagi rahasia.[dni]

.

Telkom Tuntaskan Reorganisasi Telkomsel

JAKARTA – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) selaku penguasa 65% saham Telkomsel menuntaskan reorganisasi di anak usahanya itu dengan  merombak susunan direksi pada Rabu (16/5).

“Jajaran direksi Telkomsel dirombak agar lebih Solid, Speed, dan Smart,” ungkap Direktur Utama Telkom Arief Yahya kala dihubungi Rabu (16/5).

Head of Corporate Communication and Affair Telkom Eddy Kurnia menambahkan berdasarkan hasil keputusan Pemegang Saham Telkomsel, yang berlaku efektif mulai Rabu (16/5)  telah ditetapkan direksi baru Telkomsel sebagai berikut: Alex Janangkih Sinaga menjadi President Director, Mas’ud Khamid sebagai Director of Sales, Heri Supriadi menduduki posisi Director of Finance, Herdy Rosadi Harman sebagai Director of Human Capital Management,  Abdus Somad Arif sebagai  Director of Network.

Nama-nama di atas adalah perwakilan dari Telkom, Sementara Singtel yang memiliki 35 persens aham menempatkan  Edward Ying Siew Heng sebagai Director of Planning and Transformation,  Ng Soo Kee  menjadi  Director of IT, dan Goh Hui Min Rachel di  Director of Marketing.

Untuk diketahui, sebelum perombakan susunan direksi Telkomsel terdiri atas direktur utama,   dukungan Direktorat  Keuangan, Perencanaan & Pengembangan, Operasi, dan   Niaga.

Sementara, Presdir Telkomsel  yang lama, Sarwoto Atmosutarno mendapatkan penugasan baru dari Telkom sebagai Chief of The Mission Peluncuran Satelit Telkom-3.

Sarwoto yang dikenal sebagai ahli satelit yang telah teruji dan berpengalaman, diyakini akan dapat mensukseskan peluncuran Satelit Telkom-3 yang rencananya akan meluncur Juni 2012

Diharapkannya,  dengan formasi Direksi baru Telkomsel ini akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan yang jauh lebih bagus. Transformasi Bisnis Telkom dan Telkomsel akan melaju dengan pesat.

Kinerja Telkomsel sejak 2010 memang kurang berkilau dimana selalu tidak mencapai target yang ditetapkan. Pada 2010, Telkomsel gagal meraih 100 juta pelanggan alias terpatok di angka 95 juta pelanggan. Sementara pertumbuhan omset hanya 5% dimana seharusnya 10 persen.

Pada 2011 Telkomsel meraih omset  48,73 triliun rupiah atau  naik 7 persen dibandingkan  2010 sebesar 45,57 triliun rupiah.  Pada tahun itu Telkomsel meraih  107 juta nomor.

Perolehan tersebut bisa dikatakan tidak mencapai target karena kala pencapaian 100 juta pelanggan pada 2011  Sarwoto Atmosutarno   optimismtis  mampu meraih 115 juta pelanggan dengan pertumbuhan omset di kisaran dobel digit.[dni]

Telkom dan Pelindo II Dirikan JV

JAKARTA – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) telah mendirikan perusahaan patungan (Joint Ventures/JV) dengan nama PT Indonesia Logistic Community System (ILCS) guna menggarap bisnis pelayanan solusi teknologi informasi bagi perusahaan logistik.

“Kami membuat JV tersebut pada Februari lalu. Kita menargetkan pada semester II/2012 sudah bisa operasional dengan melayani terlebih dulu pelabuhan di bawah kelola PT Pelindo II. Setelah itu baru dibidik dari pelaku usaha lainnya,” ungkap Direktur IT Solution & Strategic Portfolio Telkom Indra Utoyo di Jakarta, Kamis (3/5).

Diungkapkannya, kedua perusahaan menyiapkan investasi awal sebesar 100 miliar rupiah untuk mendirikan JV tersebut dengan komposisi saham 51 persen dari Telkom dan 49 persen sisanya dari Pelindo II. CEO dari JV ini akan diduduki wakil Telkom, sementara Komisaris Utama dari Pelindo II.

“Sisa pendanaan nantinya akan diminta perusahaan tersebut berkreasi, bisa dari pinjaman atau lainnya. Dibentuknya JV agar ada kreatifitas dalam berusaha,” katanya

Menurutnya, sebagai perusahaan baru JV ini belum dibebani target yang muluk dari sisi omset atau keuntungan. “Kita memantapkan sistem kerja dan pelayanan. Tujuan lain membentuk JV ini untuk mendukung National Single Window (NSW) dan meningkatkan daya saing logistic Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, aksi membentuk JV ini tak bisa dilepaskan dari ditandatanganinya nota kesepahaman pembangunan Indonesia Logistics Community Services berbasis teknologi informatika pada tahun lalu yang melibatkan enam belas badan usaha milik negara (BUMN).

Dalam nota kesepahaman tersebut, pengembangan ILCS akan dipimpin  Telkom dengan inisiatif dari  Pelindo II . BUMN lain yang ikut menandatangani nota kesepahaman, antara lain, Pelindo I, Pelindo III, Pelindo IV, PT Kereta Api Indonesia, PT ASDP Indonesia Ferry, serta PT Angkasa Pura I dan II.

Berkaitan dengan aksi akuisisi, Indra menjelaskan, perseroan masih terus mencari perusahaan berbasis solusi Teknologi Informasi untuk di ambil alih. “Masalahnya di Indonesia perusahaan teknologi informasi itu terbatas. Kita terus pasang mata dan telinga jika ada yang bisa diakuisisi dan disinergikan dengan milik Telkom melalui vertical solution,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Pelindo II Richard Joost Lino mengakui memang mendorong dibentuknya anak usaha untuk setiap pengelolaan bisnis baru di lingkungan usahanya. “Membentuk anak usaha itu bagus karena bisa mendorong sumber daya manusia menjadi kreatif,” katanya.

Terkait dengan sistem dari  ILCS sendiri, diprediksi Lino   dilakukan pada Juli 2012. Sistem ini memungkinkan tersedianya platform layanan di antaranya E-payment, Tracking dan Tracing, Booking Shipment dan Trucking. Dengan ILCS, waktu tunggu kapal dapat diturunkan dari rata-rata 5,5 hari menjadi 4,5 hari.

“Pelindo II akan melakukan sosialisasi kepada para pengguna jasa dan kami berharap seluruh sistem ini telah mampu diadaptasi dalam jangka waktu enam bulan setelah penerapannya,” jelasnya.

Selain itu, Pelindo II  akan menerapkan peningkatan layanan bongkar muat yang ditetapkan tahun ini yang berbasis information and computer technology (ICT) di seluruh pelabuhan cabang Pelindo II.

Sebelumnya, layanan tersebut memungkinkan pemilik barang untuk mengecek keberadaan barangnya tanpa harus datang ke pelabuhan.

Menurutnya,  seluruh komponen di dalamnya dapat menurunkan waktu total peti kemas keluar dari kapal hingga keluar pintu area pelabuhan (dwelling time) dari enam hari menjadi tiga hari. “Ini akan menekan biaya logistik dan terwujudnya konektivitas nasional Indonesia,” katanya.[dni]

  • Kalender

    • Januari 2020
      S S R K J S M
      « Jul    
       12345
      6789101112
      13141516171819
      20212223242526
      2728293031  
  • Cari