TBIG Kaji Tambah Beli Menara Indosat

JAKARTA—PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mengaji kemungkinan menambah jumlah pembelian menara milik Indosat usai dituntaskannya pembayaran 2.500 infrastruktur sejenis yang dibeli pada awal Februari 2012.

“Sebagai perusahaan penyedia menara, TBIG selalu terbuka untuk mengakuisisi menara milik operator atau perusahaan sejenis. Saat ini kami fokus membereskan pembayaran 2.500 menara yang dibeli dari Indosat pada awal Februari lalu. Jika dibuka kemungkinan untuk membeli sisa menara yang berpotensi untuk dijual sekitar 1.500 menara lagi, tentu kita senang,” ungkap Presiden Direktur TBIG Herman Setya Budi di Jakarta, Rabu (25/4).

Diungkapkannya, jika pembayaran 2.500 menara selesai pada Mei nanti, ada kemungkinan melakukan inventarisir sisa 1.500 menara yang berpotensi dilepas oleh Indosat. “Sekarang belum ada inventarisir. Kita fokus membereskan masalah pembayaran itu dulu,” katanya.

Ditambahkannya, tidak hanya menara milik Indosat yang akan dibidik,  jika XL Axiata serius melepas 8 ribu menara yang dimilikinya, perseroan juga tertarik. “Sayangnya, hingga sekarang masih belum ada penawaran dari XL. Karena itu untuk pertumbuhan menara kami mengandalkan organik dimana selama kuartal pertama telah dibangun 700 menara yang menelan belanja modal sekitar 281 miliar rupiah,” ungkapnya.

Pembayaran Indosat

Pada kesempatan sama, Chief Financial Officer TBIG, Helmy Yusman mengungkapkan,  Rapat Umum Pemegang Saham menyetujui pembelian 2.500 menara telekomunikasi milik  Indosat. Pembayaran dimuka terdiri dari uang tunai  dan penerbitan saham baru sebanyak 239.826.310 lembar saham   dengan harga per saham 2.757 rupiah. Nilainya sekitar  661,2 miliar rupiah. Jumlah tersebut setara dengan kepemilikan 5% saham.

“Harga per lembar saham berdasarkan trailing market price di selang waktu sebelum penutupan proses penjualan. Ini sesuai dengan aturan bursa,” jelasnya.

Selain itu, perseroan akan mencairkan pinjaman bank senilai  250 juta dollar AS dari alokasi  2 miliar dollar AS dengan opsi penambahan (greenshoe) sebesar  75  juta dollar AS guna menutup kekurangan transaksi pembelian.

Untuk diketahui, Tower Bersama memiliki pinjaman sindikasi senilai US$ 2 miliar dari 11 bank dalam negeri dan asing.

Agar pinjaman cair, perseroan wajib memenuhi persyaratan antara lain rasio net senior debt terhadap Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) maksimal 4,5 kali. Net debt terhadap EBITDA tidak melebihi 5 kali. Dan loan to value ratio maksmilam 80%.

Perseroan telah mencairkan pinjaman tersebut sebanyak tiga kali pada 2010 dan 2011 senilai  550 juta dollar AS.

Pembelian menara Indosat dilakukan oleh  anak usaha TBIG, PT Solusi Menara Indonesia (SMI) seharga 518,5 juta dollar AS.

Dari nilai tersebut, sekitar  406 juta dollar AS merupakan harga pembelian menara telekomunikasi termasuk pengambilalihan hak dan kewajiban Indosat berdasarkan kontrak sewa menyewa tempat pada menara telekomunikasi tersebut. Sementara sebesar 112,5 juta dollar AS merupakan klaim kontijen jika tercapai kondisi dan persyaratan seperti tertera dalam asset purchase management.

SMI akan melakukan pembayaran atas   406 juta dollar AS dengan menebitkan surat utang (promissory notes) senilai  661,2 miliar rupiah. TBIG  akan mengambil alih kewajiban SMI tersebut (Rp 661,2 miliar) dengan menebitkan surat utang wajib konversi yang akan dilego ke Indosat.

Pada saat bersamaan, Indosat akan menukarkan surat utang wajib konversi tersebut dengan jumlah saham 239,8 juta saham. Tower Bersama akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement.

Lebih lanjut Herman mengungkapkan, perseroan  tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham karena ingin fokus pada ekspansi usaha.

Dijelaskannya,   perseroan masih membutuhkan dana untuk terus mengembangkan core bisnis yaitu operator menara seluler. Dengan fokus pada pengembangan modal usaha, diharapkan dapat mencapai pertumbuhan yang optimal.

Menurutnya,  pembelian menara diharapkan dapat mendongkrak kinerja mengingat berada di lokasi-lokasi strategis. “Kami optimis ke depan mampu menarik lebih banyak tenant untuk memanfaatkan fasilitas menara tersebut,” katanya.

Berdasarkan catatan, selama 2011 perseroan mencatat laba bersih mencapai  474 miliar rupiah dengan pendapatan sebesar 970 miliar rupiah.

Hingga kuartal I-2012, Tower Bersama membukukan pendapatan sebesar 310 miliar rupiah  dan EBITDA mencapai  245 miliar rupiah. Perolehan ini masing-masing tumbuh 45 persen dan 47 persen dibandingkan kuartal pertama 2011.[dni]

Pelindo II Bentuk Anak Usaha Kembangkan Pelabuhan

JAKARTA—PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) atau  Indonesia Port Corporation (IPC) membentuk anak usaha yang akan khusus mengembangkan infrastruktur pelabuhan seperti di Kali Baru atau New Priok.

“Kita telah membentuk anak usaha yakni PT Pengembang Pelabuhan Indonesia untuk mengembangkan infrastruktur di atas lahan IPC. Proyek pertamanya itu di New Priok. Kita akan suntik investasi awal di anak usaha itu tiga triliun rupiah untuk mengembangkan New Priok. Sisanya akan disuruh mencari pendanaan dari eksternal,” ungkap Direktur Utama Pelindo II RJ Lino di Jakarta, Senin (23/4).

Diungkapkannya, anak usaha yang baru dibentuk ini   akan mencari pendanaan untuk menutup proyek New Priok sebesar 11,75 triliun rupiah yang menjadi tanggungan Pelindo II. Sumber dana bisa berasal dari pinjaman, obligasi, dan pembayaran dimuka yang dilakukan oleh mitra operator pemenang tender pengelola terminal.

“Total nilai proyek New Priok tahap pertama sebesar 22,66 triliun rupiah. Pelindo II menanggung sekitar 11,75 triliun rupiah, sisanya dari operator yang beroperasi di terminal baru dibentuk dimana akan membangun suprastrukturnya,” ungkapnya.

Dijelaskannya, infrastruktur yang menjadi tanggungan Pelindo II melalui anak usahanya diantaranya break water, dermaga, dan lainnya. Untuk pengerjaan infrastruktur ini tender sedang berlangsung.

“Kalau ada yang disebutkan 3 perusahaan konstruksi BUMN, kita masih mengkaji siapa yang berhak membangun New Priok Port tersebut. Berikutnya akan dibuka tender untuk mitra operator tiga terminal. Kemungkinan anak usaha Pelindo lainnya, Terminal Peti Kemas, akan menggandeng mitra dari pelayaran global untuk ikut mengelola tiga terminal yang akan dibangun pada tahap pertama ini,” jelasnya.

Dijelaskannya, untuk tahap pertama pengembangan New Priok akan dibangun tiga kontainer terminal serta dua terminal bahan bakar dan gas. Pelabuhan ini didesain dengan kedalaman draft hingga kurang lebih 20 mLWS dengan tahap pertama akan dilakukan pengerukan sedalam 16 MLWS, dan alur pelayaran dua arah hampir 300 meter untuk mempercepat arus kedatangan dan keberangkatan kapal.

Tahap pertama ini, pelabuhan akan dibangun di atas lahan seluas 195 hektar dengan panjang deramga 4.000 meter dan mampu menampung hingga 4,6 juta TEUs.

“Diharapkan tahap pertama pembangunan bisa beroperasi pada 2014. Pemancangan tiang pertama (ground breaking) direncanakan pada Juli 2012. Kita sudah kirim design ke Kemenhub pada 20 April lalu, sesuai amanat Peraturan Presiden No 36/2012 tentang penugasan kepada Pelindo II untuk membangun dan mengoperasikan New Priok Port, satu bulan harus sudah diputuskan,” jelasnya.

Menurutnya, keluarnya Perpres No. 36 Tahun 2012 yang  ditandatangani pada 5 April 2012 menjadikan Pelindo II memiliki wewenang yang besar untuk membangun New Priok. “Ini tidak ada dana negara. Proyek sebesar ini pertama kali ada di dunia tanpa dana negara,” katanya.

Sebelumnya, ada tarik menarik anatar Kementrian Perhubungan (Kemenhub) dengan Pelindo II soal design pengembangan Kali Baru. Dalam skema usulan Pelindo II akan ada reklamasi pantai secara total dan membangun seaway atau jembatan layang. Sedangkan Kemenhub tidak menginginkan adanya reklamasi total.

Setelah membatalkan skema lelang pengerjaan proyek Kalibaru, pihak Kemenhub jmenyatakan rancangan pelabuhan versi mereka tidak berlaku lagi. Kemenhub memberikan kesempatan kepada Pelindo II, selaku pihak yang ditugasi mengerjakan Kalibaru, untuk mengajukan proposal rancangan pelabuhan tersebut.

Akses Tol

Lebih lanjut Lino mengungkapkan, untuk mempermudah akses ke New Priok akan dibangun  jalan tol sepanjang 7 kilometer (km) senilai  1,3 triliun rupiah yang membentang dari kawasan Kalibaru hingga Marunda.

Jalan tol itu akan berdampingan dengan jalan arteri Cilincing. Jalan tol dibangun dengan sistem layang (elevated) bertiang pendek yang berdiri di atas laut.Di atas jalan tol tersebut nantinya juga akan dibangun jalur kereta api .

“Kita belum menunjuk siapa untuk membangun jalan tol seperti di Tanjung Benoa itu. Kalau PT Jasa Marga Tbk mau, kita MoU sekarang,” tuturnya.

Diperkirakan pembangunan secara keseluruhan New Priok tahap pertama dan kedua  selesai pada  2023 mendatang dengan kapasitas 13 juta TEUs.

“Keberadaan New Priok Port akan mampu mendorong penguatan dan efisiensi mata rantai logistik nasional sehingga menarik investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Tingkat produktivitas pelabuhan juga ditargetkan berada di level internasional,” katanya.[dni]

 

Garuda Cari Pendanaan US$ 200 Juta di Kuartal III/2012

JAKARTA— PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA)  berencana mencari pendanaan sebesar 200 juta dollar AS pada kuartal ketiga tahun ini untuk menutupi kekurangan belanja modal.

“Kita akan mencari pendanaan pada kuartal ketiga tahun ini. Bisa bentuknya pinjaman ke bank atau menerbitkan obligasi. Tergantung yang murah mana bunganya,” ungkap Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan di Jakarta usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jumaat (27/4).

Diungkapkannya, perseroan pada tahun ini menetapkan belanja modal sebesar 450 juta dollar AS atau setara dengan 1,4 triliun rupiah. Sebanyak  250 juta dollar AS sudah dipenuhi dari cash   dan  dana sisa Initial Public Offering (IPO) pada tahun lalu.

“Sisanya sekitar 200 juta dollar AS akan dicari pendanaan dalam bentuk pinjaman atau penerbitan obligasi. Banyak yang tertarik untuk memberikan pinjaman bagi Garuda,” katanya.

Dijelaskannya, penggunaan belanja modal akan terserap untuk   uang muka pemesanan pesawat, dan pembayaran utang yang jatuh tempo pada tahun ini.

Berdasarkan catatan, Garuda menganggarkan pengeluaran di luar beban operasional sekitar 6,45 triliun rupiah  sepanjang tahun ini yang terdiri dari belanja modal  sebesar 1,4 triliun rupiah, pengembalian uang muka pemesanan pesawat (pre delivery payment/PDP) 420 juta dollar AS  dan pembayaran utang  sekitar 1,2 triliun rupiah. Total utang Garud saat ini tercatat sebesar 4,14 triliun rupiah.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menambahkan, perseroan pada tahun ini mengincar pertumbuhan penumpang dan pendapatan sebesar 20 persen. Sedangkan armada akan bertambah sekitar 18 unit sehingga menjadi 105 pesawat.

Pada 2011 Garuda berhasil membukukan pendapatan  sebesar  27,2 triliun rupiah  meningkat sebesar 39,1 persen dibanding periode  2010 sebesar  19,5 triliun rupiah. Garuda meraih laba operasional sebesar  1.01 triliun rupiah, meningkat dari rugi sebesar 67.2  miliar rupiah, serta berhasil meraih laba bersih  sebesar 808,7 miliar rupiah  dan laba komprehensif sebesar  858,8 miliar  rupiah  mengalami peningkatan sebesar 285,4 persen dari  2010.

Dijelaskannya, perseroan belum berencana membagi dividen karena laba ditahan masih negatif. Sehingga tidak diperbolehkan membayar dividen. “Melihat kondisi ini, kita punya kemampuan membayar dividen setelah kuasi reorganisasi selesai pada semester I/2012. Proses kuasi reorganisasi masih berlangsung menggunakan laporan keuangan 2011,” katanya.

Berkaitan dengan hasil  RUPST,  Emirsyah mengungkapkan, salah satunya terjadi perubahan jajaran direksi. “Walaupun ada perubahan, tidak akan mengubah program Quantum Leap yang dicanangkan jauh hari dimana Garuda akan menjadi maskapai berbintang lima,” ungkapnya.

Untuk diketahui, susunan Direksi Garuda Indonesia berdasarkan hasil RUPST adalah Emirsyah Satar (Direktur Utama), Handrito Hardjono (Direktur Keuangan), Faik Fahmi (Direktur Layanan), Elisa Lumbantoruan (Direktur Pemasaran dan Penjualan), Heriyanto Agung Putra (Direktur SDM dan Umum),   Batara Silaban (Direktur Teknik dan Pengembangan Armada), Judi Rifajantoro (Direktur Strategi Pengembangan Bisnis dan Manajemen Resiko), dan Capt. Novijanto Herupratomo (Direktur Operasi).

Saham

Sedangkan terkait dengan masuknya pemegang saham baru di maskapai pelat merah tersebut, Emirsyah mengaku belum mendapatkan informasi resmi karena belum teregister secara formal. “Kami baru mendengar dari media massa. Kami memang sangat menginginkan pengusaha nasional yang masuk karena bisa berdampak positif. Tetapi hingga sekarang saya tidak tahu siapa yang masuk,” katanya.

Berdasarkan data transaksi di Bursa Efek Indonesia pada pukul 10.30 WIB, hari ini, Jumat 27 April 2012, terjadi pengalihan saham (crossing) saham Garuda dari tiga perusahaan sekuritas BUMN itu. Transaksi pembelian saham Garuda dari tiga perusahaan sekuritas itu difasilitasi oleh Credit Suisse Securities Indonesia. Tiga perusahaan sekuritas itu adalah PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Mandiri Sekuritas.

Pengusaha nasional Chairul Tanjung, melalui PT Trans Airways, resmi menguasai 10,88 persen atau sekitar 2,47 miliar saham  Garuda Indonesia yang sebelumnya dimiliki tiga perusahaan sekuritas pada harga 620 rupiah. Nilai uang yang dikeluarkan diperkirakan sekitar 1,53 triliun rupiah.

EVP Corporate Communication  Mandiri Sekuritas Febriati Nadira mengatakan perseroan mendukung proses penjualan saham Garuda sesuai prosedur dan peraturan yang berlaku serta tentunya berpedoman pada kaidah transparansi, “Untuk detail trannsaksi kita sudah serahkan ke financial advisor yang ditunjuk yakni Morgan Stanley,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Morgan Stanley Oki Ramadhana mengakui, sisa saham Garuda yang dimiliki tiga sekuritas BUMN diborong oleh pengusaha Chairul Tanjung. “Benar sisa saham itu dibeli oleh Chairul Tanjung dengan total nilai sekitar 1,53 triliun rupiah. Pilihan ini dianggap terbaik,” katanya.

Sementara itu, saham Garuda pada hari ini melesat dan sempat menyentuh angka 720 rupiah dan ditutup di kisaran 710 rupiah. Ini adalah angka tertinggi setelah sempat turun menyentuh 390 rupiah sejak IPO tahun lalu.[dni]

30% Belanja Modal Telkom Andalkan Pinjaman

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengandalkan pinjaman dari perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) guna memenuhi 30 persen atau sekitar 4,8 triliun rupiah dari total belanja modal 2012 sebesar 16 triliun rupiah.

“Telkom memiliki dana internal yang kuat untuk pemenuhan belanja modal tahun ini. Jika pun harus mengambil dari eksternal, itu hanya sekitar 30 persen dari total belanja dan diprioritaskan dengan Bank-bank BUMN,” ungkap Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno di Jakarta, Selasa (24/4).

Diungkapkannya, sejauh ini Telkom telah menjalin kerjasama dengan BRI. Selain itu sedang dijajaki kerjasama dengan Bank Mandiri dan Bank BNI. Sedangkan opsi untuk menerbitkan obligasi pada tahun ini tidak direncanakan.

“Dengan BRI sudah dimulai kerjasama  sejak tahun lalu. Kuartal pertama 2012, anak usaha Telkom Visionn mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar 225 miliar rupiah guna memenuhi belanja modalnya tahun ini,” ungkapnya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, perseroan memang memiliki hutang yang kecil karena kas internal lumayan kuat untuk memenuhi pendanaan. “Kita banyak investasi untuk membangun jaringan. Hingga 2014 ada 12 juta serat optik diseluruh Indonesia dibangun,” katanya.

Sementara itu, Direktur Bisnis Kelembagaan dan BUMN Bank BRI Asmawi Syam mengungkapkan, perseroan pada tahun ini menyiapkan plafon sebesar 4-5 triliun rupiah bagi Telkom Grup. “Adanya fasilitas pinjaman untuk Telkom Vision, menjadikan hingga saat ini sudah ada pendanaan sekitar 6,18 triliun rupiah bagi Telkom Grup sejak tahun lalu. Pinjaman bagi Telkom Vision berjangka waktu lima tahun dengan bunga Jibor 3 bulan +3,76% per tahun,” katanya.

Diungkapkannya, BRI juga sedang menyiapkan pinjaman bagi anak usaha Telkom lainnya yang tengah disiapkan melantai ke bursa saham yakni PT Dayamitra Telekomunikasi Indonesia (Mitratel). “Mitratel sudah disuntik tahun lalu satu triliun rupiah. Kita akan siapkan dua hingga tiga triliun untuk Mitratel pada tahun ini karena membutuhkan pendanaan yang banyak jelang ke bursa,” ungkapnya.

Anak usaha Telkom lainnya, lanjutnya, yang tengah dibidik diberikan pinjaman adalah PT Infomedia Nusantara (Infomedia) dengan kredit sekitar satu triliun rupiah. “Ini masih dikaji terus dengan Infomedia. Tak lama lagi akan diumumkan. BRI memang mengalokasikan kredit korporasi lebih banyak ke BUMN. Ada 105 BUMN yang menjadi mitra,” katanya.

Pada kesempatan sama, Direktur Utama Telkom Vision Elvizar KH mengungkapkan, pinjaman yang didapatkan dari BRI melengkapi total belanja modal perseroan pada tahun ini sekitar 650 miliar rupiah. “Selain dari BRI, kami mendapatkan dari induk usaha, Telkom, sebesar 425 miliar rupiah,” ungkapnya.

Diungkapkannya, belanja modal akan dinvestasikan untuk peningkatan layanan bagi pelanggan yang bisa meningkatkan pendapatan pada tahun ini. Diantaranya, penyediaan recorder, kartu prabayar, head end, alat untuk control content, dan memproduksi in house content.

“Kami sedang menggarap potensi 6 juta pengguna antena parabola yang belum menjadi pengguna TV berbayar. Kita akan bersinergi dengan BRI nantinya, terutama untuk pembelian voucher atau pembayaran langganan karena ATM-nya berada hingga tingkat pelosok,” jelasnya.

Saat ini Telkom Vision  memiliki sekitar 1,257 juta pelanggan yang terdiri dari prabayar dan pasca bayar. Pada tahun ini perseroan membidik memiliki 2,5 juta pelanggan dengan omset mencapai satu triliun rupiah atau melesat 100 persen dari perolehan 2011   mencapai  500 miliar rupiah.[dni]

2012-2015, Garuda Butuh Dana US$ 5,3 miliar

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan anak usahanya membutuhkan  dana sebesar  5,3 miliar dollar AS untuk  periode 2012-2015 guna melakukan  ekspansi usaha termasuk pengadaan armada baru dan  membangun hanggar keempat GMF Aeroasia.

“Dana sebesar itu untuk mensukseskan program Quantum Leap,” ungkap  Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan di Jakarta, Rabu (25/4).

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menambahkan, maskapai yang dipimpinnya  akan menjadi bintang lima versi sky track. “Garuda kita targetkan pada program quantum leap 2015 memiliki 194 unit pesawat dari saat ini 92 unit mengatakan Garuda Indonesia dan anak usaha. Kita butuh modal kerja yang besar, jika ada bank berminat, tentu akan senang sekali, terutama untuk membangun hangar keempat milik GMF pendirian hotel di setiap ibukota provinsi untuk Aerowisata,” katanya.

Dijelaskannya, ekspansi yang dilakukan Garuda tak bisa dilepaskan dari  potensi pasar Indonesia baik di perbankan maupun di maskapai sangat besar.Tercatat,  pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,7%, pendapatan per kapita Indonesia sudah mencapai 3.300 dollar AS dengan 10% kelas menengah-atas.

“Karena itu kita senang sekali bersinergi dengan perbankan. Baik itu sinergi pemasaran atau pendanaan, seperti yang dilakukan dengan PT Bank Jabar Banten Tbk (Bank BJB),” katanya.

Diungkapkannya,  melalui nota kesepahaman dengan BJB,   kedua perusahaan sepakat untuk melaksanakan kerjasama dalam berbagai bidang yang saling menguntungkan untuk meningkatkan sinergi sesuai dengan jenis usaha masing-masing pihak, dimana Bank BJB serta nasabahnya dapat menikmati layanan Garuda Indonesia dan pihak Garuda Indonesia dapat memanfaatkan layanan perbankan dari bank ini.

“Bank BJB merupakan salah satu bank daerah terbesar di Indonesia yang terus berkembang dan telah memiliki kantor-kantor cabang, tidak hanya di Jawa Barat dan Banten, namun juga tersebar di kota-kota besar Indonesia lainnya, sehingga menjadikannya sebagai pangsa pasar yang cukup potensial bagi Garuda Indonesia. Dengan kerjasama dan sinergi ini kiranya dapat memberikan nilai tambah bagi kedua perusahaan dalam upaya mendukung program transformasi yang tengah dijalankan kedua perusahaan,” tuturnya.

Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia M. Arif Wibowo menambahkan,  ditandatanganinya nota kesepahaman dengan Bank BJB tersebut, Garuda akan memiliki kesempatan untuk meningkatkan pangsa pasarnya mengingat saat ini Bank BJB memiliki lebih dari 1,5 juta nasabah di daerah Jawa Barat dan Banten maupun wilayah lainnya di Indonesia.

Diungkapkannya,   pada tahun ini, Garuda Indonesia menargetkan untuk menjalin kerjasama dengan 1.600 corporate partner dengan target pendapatan sebesar 3 triliun rupiah. Hingga saat ini Garuda Indonesia telah melaksanakan kerjasama corporate sales dengan lebih dari 1.469 perusahaan besar di Indonesia.

Pada kesempatan sama, Direktur Utama Bank BJB Bien Subiantoro  berharap upaya pengembangan network dan kerjasama dengan Garuda  akan semakin memudahkan nasabahnya dalam melakukan perjalanan dengan transportasi udara maupun dalam melakukan transaksi lainnya.

“Kami miliki 5.000 karyawan, dengan cabang induk sebanyak 56 unit dan 460 jaringan yang tersebar di Jabar dan Banten, Batam, Pekanbaru, Lampung, Palembang, Balikpapan, Semarang, Surabaya, Solo,” tuturnya.

Berkaitan dengan  kebutuhan pembiayaan untuk Garuda dan grupnya, Dijelaskan Bien, banknya   siap mendanai hingga 1,2 triliun rupiah, sesuai Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK).

Diungkapkannya, pada tahun lalu pihaknya sudah membantu pembiayaan renovasi hotel di Bandung milik anak usaha Garuda Indonesia. “Kami siap membantu pendanaan ekspansi Garuda dan anak usahanya, dana yang tersedia sudah ada sesuai BMPK,” jelasnya.[dni]

Diandalkan Tapi Minim Dukungan

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia pada tahun ini ditargetkan  memberikan setoran dividen  sebesar 30,776 triliun rupiah naik 9,2% dibandingkan   2011 sekitar 28,171 triliun rupiah

Untuk itu Kementrian BUMN menargetkan laba bersih seluruh perusahaan pelat merah mencapai sekitar 145,564 triliun rupiah atau naik 17,45 persen dibanding prognosa laba bersih 2011 sebesar 123,935 triliun rupiah.

Sedangkan belanja modal seluruh 141 BUMN perkirakan  mencapai sekitar 217,38 triliun rupiah naik 52,7 % dari 2011 sebesar 142,33 triliun rupiah. Operational expenditure (Opex) dialokasikan sebesar 1.216,45 triliun rupiah  turun 0,8% dari 2011 sekitar 1.226,55 triliun rupiah.

Jika disimak, BUMN memiliki andil yang besar bagi bergeraknya roda perekonomian dan pemasukan negara. Lantas sudahkah optimal dukungan yang diterima oleh perusahaan pelat merah?

Pertanyaan ini sering menjadi polemik, apalagi sejak Indonesia masuk ke era ekonomi global sejak sepakat dengan konsep yang diusung oleh World Trade Organization (WTO).

Regulasi teknis ternyata selamanya tidak memihak kepada BUMN dalam berusaha. Contohnya yang dialami oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Fakta menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun kontribusi Telkom terhadap negara dalam bentuk pajak-pajak (PPH, PPN, PBB, dan sebagainya), dividen, Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi dan lain-lain, selalu signifikan.

Pada 2009 dan 2010, Telkom mampu memberikan kontribusi yang signifikan ke kas negara dengan nilai mencapai hampir  20 triliun rupiah.

Hingga 2015, Telkom berkomitmen menyediakan jaringan broadband ke 90 persen ibukota kabupaten/kota. Komitmen itu ditunjukkan dengan meneruskan pembangunan Palapa Ring 10 yang menjangkau Ternate, Ambon, Fakfak, Timika, Sorong, Manokwari, dan Jayapura yang menelan investasi sekitar 2,4 triliun rupiah dengan panjang serat optic sekitar 4 ribu km.

Jalur ini melanjutkan tahap pertama yang dikenal dengan nama  Mataram Kupang Cable System (MKCS)  sepanjang 1.041 km yang menelan biaya sekitar 600 miliar rupiah. Harap diingat, pembangunan infrastruktur itu awalnya akan dikerjakan oleh konsorsium beberapa operator, namun akhirnya menyerah.

Lantas demikian besar sumbangan Telkom  untuk kemajuan sektor telekomunikasi, adakah mendapatkan fasilitas yang istimewa? Jika menilik dari aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah khususnya Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemnkominfo) sepertinya tidak ada kata dimanja.

Banyak contoh yang bisa diapungkan mulai dari migrasi frekuensi layanan Fixed Wireless Access (FWA) Flexi, pembukaan kode akses Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), atau paling mutakhir  dibukanya standar teknologi untuk frekuensi 2,3 GHz selain WiMax 16d.

Pembukaan standar wiMax tersebut menjadikan Telkom mengembalikan beberapa zona yang dimiliki dan kehilangan waktu serta uang karena hampir tiga tahun terus membayar BHP, selain upfront fee frekuensi.

“Di setiap negara itu posisi BUMN selalu diistimewakan dalam menghadapi pesaing asing. Namun, Telkom sebagai BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi tidak mendapatkan hal itu sejak liberalisasi terjadi,” keluh Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah.

Diungkapkannya, sebenarnya para investor asing yang bermain di industri telekomunikasi Indonesia dan menjadi pemilik saham dominan di beberapa operator lokal adalah BUMN di negaranya dan mendapatkan keistimewaan di negara asalnya.

“Anehnya, kala mereka (BUMN asing) masuk ke Indonesia meminta perlakuan yang tidak ada pembedaan dengan BUMN lokal. Padahal semua tahu di negara asalnya sejumlah keistimewaan di dapat. Kami sebagai BUMN lokal  menjadi kewalahan melawan BUMN asing ini,” katanya.

Berdasarkan catatan, BUMN asing yang menguasai operator lokal adalah Telekom Malaysia di XL Axiata, Saudi Telecom (Axis Telekom Indonesia), dan Qatar Telecom (Indosat).

Diharapkannya, pemerintah bisa memberikan dua keistimewaan bagi Telkom yang selama ini telah terbukti paling berkomitmen tinggi membangun infrastruktur dasar telekomunikasi Indonesia.

Pertama, masalah kepastian mendapatkan frekuensi tanpa harus mengikuti proses lelang. Kedua, insentif untuk pembangunan infrastruktur. Misalnya meniadakan tarikan Universal Service obligation (USO) sebesar 1,25 persen dari omset di wilayah yang telah dibangun fasilitasnya oleh Telkom.

“Untuk frekuensi kami akan tetap membayar  BHP frekuensi, tapi jangan lagi dipaksa ikut lelang yang memberatkan pendanaan. Sedangkan tarikan USO itu wajar dihapuskan. Misalnya untuk rute serat optic Palapa Ring dimana hanya Telkom yang selama ini membangun. Kita minta untuk rute Manado-Papua yang akan dibangun dihapuskan pungutan USO-nya,” katanya.

Belakangan, pemerintah sepertinya mulai sadar bahwa BUMN harus didukung. Lihatlah keluarnya Peraturan Presiden No 36/2012 yang memberikan tugas pada Pelindo II membangun Terminal Kali Baru. Ini seperti angin segar bagi BUMN, karena setitik keistimewaan itu masih bisa dicicipi. Tentunya asal jangan disia-siakan kepercayaan menjadi ladang korupsi.[dni]

Telkom dan eBay Bentuk Perusahaan Patungan

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan eBay sepakat membentuk perusahaan patungan (Joint Ventures/JV) bernama PT MetraPlasa untuk menggarap bisnis e-commerce di Indonesia.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan,  eBay akan menguasai sebesar 40 persen saham di MetraPlasa yang selama ini mengelola situs e-commerce Plasa.com.

“Anak usaha Telkom yang selama ini bergerak di bidang investasi untuk sektor Information, Media, dan Edutainment (IME), PT Multimedia Nusantara (Metra), menguasai 60 persen saham perusahaan tersebut. Tetapi ada opsi, kepemilikan eBay meningkat di perusahaan patungan ini,” ungkapnya  di Jakarta, Senin (16/4).

Diungkapkannya, nilai dari pembelian 40 persen saham Plasa.com itu berlipat ganda dari investasi perseroan pada 2009 lalu yang sekitar 5 juta dollar AS. “Nilai 40 persen saham itu berkali lipat. Tidak bisa disebutkan karena eBay perusahaan terbuka yang tercatat di bursa Amerika Serikat. Satu hal yang pasti, nilai uang itu ditanamkan kembali ke Plasa.com untuk pengembangan,” jelasnya.

Menurutnya, ketertarikan eBay terhadap Plasa.com tak bisa dilepaskan dari basis pelanggan mobile yang dimiliki perseroan sebesar 120 juta pelanggan. “eBay akan masuk ke pasar mobile commerce.

Kekuatan Telkom grup dengan basis pelanggan yang besar menjadi daya tarik bagi mereka,” katanya.

Direktur Utama Multimedia Nusantara (Metra) Alex J Sinaga mengungkapkan, adanya suntikan dana dari eBay akan membuat Plasa.com kian berkembang karena perusahaan tersebut adalah pemain nomor satu untuk e-commerce di dunia.

“Sebagai perusahaan investasi di bidang IME pada tahun lalu kami berhasil meraup omset sebesar 3 triliun rupiah dengan laba bersih 50 miliar rupiah. Kita akan terus melakukan aliansi strategis dengan pihak-pihak yang ahli di bidangnya untuk mengangkat bisnis anak usaha,” katanya.

Berdasarkan laporan keuangan Telkom, pada 2011 kontribusi bisnis IME mencapai 23,92 triliun rupiah atau naik 20,8 persen dibanding 2010 sebesar 19,80 triliun rupiah.

Berdasarkan data dari buku Digital Creative & Information and Communication Technology Industries terbitan Infomedia, Plasa.com telah memiliki 1.700 merchant dengan omset sekitar  10 miliar rupiah pada 2011. Sedangkan menurut riset yang dilakukan Frost & Sullivan pada 2011 total nilai transaksi e-commerce di Indonesia mencapai satu miliar dollar AS.

Menurut Senior Vice President  eBay Asia Pasifik  Jay Lee menjelaskan Indonesia merupakan pasar potensial untuk sektor e-commerce. Seiring semakin jumlah pengguna internet menunjukkan semakin membaiknya perrekonomian dalam negeri.

“Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan Telkom dan berharap meningkatkan pengalaman belanja online di Indonesia, khususnya bagi mereka yang ingin melakukan transaksi jual beli produk ke seluruh dunia, dimanapun dan kapanpun mereka inginkan. Pada 2011 ada 17% transaksi yang berasal dari Indonesia ,” ujarnya.

Jay meyakini relasi yang kuat antara Telkom dengan pelanggannnya di seluruh Indonesia dan pengalaman eBay di pasar internasionalnya serta platform online market yang dimilikinya akan mendorong peningkatan aktivitas e-commerce di Indonesia.[dni]