Dua Emiten Telekomunikasi Bukukan Kinerja Suram di Kuartal I-2012

JAKARTA–Dua emiten telekomunikasi membukukan kinerja yang suram selama kuartal
pertama 2012. Kedua emiten tersebut adalah PT Sarana Menara Nusantara Tbk
(TOWR) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

Sarana Menara  membukukan laba bersih  75,187 miliar rupiah pada periode
kuartal I-2012 atau anjlok 50,3% dibandingkan periode sama tahun lalu yang
mencapai 151,255 miliar rupiah.

Dalam laporan keuangan sarana Menara ke otoritas bursa dirilis Senin (7/5)
terungkap,  keuntungan merosot meskipun di kuartal pertama tahun ini perusahaan
mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 30,4% dari 369.047 miliar rupiah pada
kuartal pertama 2011 menjadi  481,504 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Laba kotor Perseroan pun masih tercatat naik sebesar 34 persen menjadi  319,804
miliar rupiah, meskipun beban pokok juga melonjak hingga 42 persen.
Bottom line Sarana Menara digerus oleh  kerugian akibat selisih kurs.

Di kuartal pertama tahun ini, rugi selisih kurs mencapai  55 miliar rupiah
dibanding periode sama 2011  yang mencatatkan laba kurs  132 miliar rupiah.
Kerugian kurs tersebut berasal dari pinjaman perusahaan kepada Stewat island
investment Pte.Ltd., dan pinjaman fasilitas lainnya.

Merosotnya keuntungan Sarana Menara menjadikan  laba bersih per saham dasar
atau earning per share (EPS)  juga tergerus dari semula  148 rupiah per saham
di triwulan pertama 2011, menjadi  74 rupiah per saham di triwulan 2012.
Namun, kinerja yang suram tidak menjadikan saham Sarana Menara tidak bersinar.
Saham Sarana menara pada perdagangan Senin (7/5) ditutup 14.900 rupiah dan
sempat mencapai 15 ribu rupiah.

FREN
Sementara itu, Smartfren melanjutkan kinerja buruk yang diperoleh pada akhir
2011, dimana mengalami kerugian bersih sebesar 533.430 miliar rupiah pada
kuartal pertama 2012 atau naik 89 persen dibandingkan periode sama 2011 sebesar
281.0477 miliar rupiah.

Kerugian yang dialami Smartfren salah satunya karena beban usaha mengalami
kenaikan sebesar 17 persen dari 629.679 miliar rupiah pada kuartal pertama 2011
menjadi 739.139 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Namun, Smartfren masih mampu mempertahankan kinerja yang positif untuk omset
dimana terjadi kenaikan 48 persen yakni 210 688 miliar rupiah pada kuartal
pertama 2011 menjadi 312.093 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Kinerja Smartfren ini meleset dari perkiraan banyak analis pada awal tahun ini
dimana diperkirakan mulai cerah  karena sukses menggelar rights issue awal
2012.

Kala itu diprediksi keuntungan Smartfren mencapai 80 miliar rupiah  didukung
penjualan perusahaan yang meningkat 20% dibanding tahun lalu.Saham Smartfren
pun belum terangkat secara signifikan walaupun rumor tentang kepemilikan
frekuensi yang besar coba diapungkan. Saham Smartfren ditutup pada perdagangan
Senin (7/5) 101 rupiah dan sempat mencapai 104 rupiah.[dni]

XL Siapkan US$ 20 juta Kembangkan Bisnis Non Seluler

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) menyiapkan dana sebesar 20 juta dollar AS atau sekitar 1,8 triliun rupiah untuk mengembangkan bisnis diluar jasa seluler.

“Sekitar 22,5 persen dari total belanja modal 8 triliun rupiah dialokasikan untuk pengembangan bisnis diluar seluler atau yang dikenal dengan New Wave,” ungkap Direktur Teknology, Content, & New Business XL Dian Siswarini di Jakarta, Kamis (10/5).

New wave adalah bisnis baru di industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi tetapi beralih kepada konten, portal, media, dan solusi teknologi informasi dimana infrastruktur telekomunikasi dijadikan sebagai tulang punggungnya.  Jasa yang dijual XL untuk New Wave adalah mobile payment, machine to machine, cloud computing, dan mobile commerce.

“Alokasi dana banyak terserap untuk mengemmbangkan platform di jasa new wave. Kami belum menargetkan omset yang besar dari bisnis new wave karena baru mulai membangunnya pada tahun ini. Jika pun ada rencana perolehan omset pada tahun ini diperkirakan sekitar satu triliun rupiah atau hanya 4,7 persen dari total target omset keseluruhan sebesar 21 triliun rupiah,” jelasnya.

Rencana
Lebih lanjut Dian mengungkapkan, perseroan telah memiliki beberapa rencana untuk mengembangkan bisnis new wave agar mampu menopang penurunan di jasa seluler atau suara dan SMS. “Kami sudah meluncurkan layanan cloud computing hari ini. Menyusul mPayement akhir bulan ini. Sedangkan untuk Machine to machine pada Juni 2012, dan mobile commerce di akhir tahun nanti,” ungkapnya.

General Manager Cloud and Marketing Machine Technology XL  Arkav Juliandri mengungkapkan, perseroan menanamkan investasi satu juta dollar AS atau sekitar 9 miliar rupiah untuk mengembangkan cloud computing dengan merek dagang  XCloud.

“Kami hanya investasi di supporting platform dan web channel. Misalnya tenaga penjual, customer service, dan pemasaran. Sementara untuk masalah infrastruktur seperti data center dan lainnya, ada mitra yang diajak bekerjasama, “ ungkapnya.

Diungkapkannya, untuk merealisasikan XCloud, XL bekerjasama dengan 6 mitra bisnis. Mereka adalah Huawei, Fujitsu, IBM, Intratech, Mandawani, dan Microsoft. Saat ini solusi yang ditawarkan oleh XCloud memiliki fokus pada area Public Infrastructure as a Services (IaaS). Pada jenis layanan ini, XL menyiapkan layanan hosting, penyimpanan data, serta server melalui jaringan publik internet. Selain itu, XCloud juga siap menyediakan layanan Software as a Services (SaaS) bagi produk Microsoft Office 365, yang merupakan produk baru dari Microsoft.

“Kami membidik sekitar 200 dari 2000 perusahaan yang telah menjadi pelanggan enterprise XL mau berlangganan jasa XCloud. Kita optimistis pada tahun depan XCloud bisa menghasilkan omset sekitar 5-6 juta dollar AS,” ujarnya.

Vice President Enterprise and Community XL Axiata Titus Dondi mengungkapkan, selain segmen korporasi, XCloud juga akan menggarap pasar Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan komunitas. “Kami percaya bisa kompetitif karena untuk menyediakan layanan Cloud Computing lebih efisien dari sisi operasional sehingga tarif yang ditawarkan bisa lebih terjangkau,” katanya.

Pengamat Telematika dari Swiss German University Charles Lim  mengungkapkan, bisnis cloud computing sebenarnya sudah lama ada tetapi banyak pihak tidak menyadari hal itu sudah digunakan. Masuknya operator telekomunikasi ke bisnis tersebut, menjadikan kian mendesak adanya  badan regulasi untuk cloud computing di Indonesia yang bisa mengatur standarisasi aspek bisnis, regulasi, teknis, dan keamanan data.

“Pemerintah bisa meniru badan sejenis di Amerika Serikat, Eropa, atau Korea Selatan,” katanya.[dni]

Dua Distributor Telekomunikasi Catat Kinerja Positif Kuartal I-2012

JAKARTA—Dua emiten distributor perangkat dan vocher telekomunikasi mencatat kinerja yang positif selama kuartal pertama 2012. Kedua emiten tersebut adalah PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dan PT PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk (TELE).

Erajaya membukukan laba bersih selama kuartal pertama 2012 sebesar 79.716  miliar rupiah atau naik 40,7 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 56.622 miliar rupiah. Sementara omsetnya melesat jauh yakni sekitar 220 persen dari 989.263 miliar rupiah pada kuartal pertama 2011 menjadi 3.172 triliun rupiah di kuartal pertama 2012.

Kinerja Erajaya yang kinclong tak bisa dilepaskan dari selesainya perseroan mengakuisisi PT Teletama Artha Mandiri (TAM) senilai 736,3 miliar rupiah pada tahun lalu. Saat ini Teletama memiliki 18 cabang distribusi dan mengelola 18 BlackBerry Expert Centres di Indonesia. Teletama dikenal sebagai distributor BlackBerry, Sony, Samsung, dan Venera. Teletama  diperkirakan akan menyumbang kontribusi omset lebih dari 50% bagi perseroan pada 2012.

Saham Erajaya pada perdagangan Senin (7/5) ditutup di 1.690 rupiah dan sempat menyentuh angka 1.730 rupiah.

TELE
Sementara Tiphone membukukan laba bersih naik tipis sebesar 6,9 persen dari 36.528 miliar rupiah pada kuartal pertama 2011 menjadi 39.083 miliar rupiah pada kuartal pertama 2012. Omset TiPhone juga hanya tumbuh 16,5 persen dair 1.396 triliun rupiah di kuartal pertama 2011 menjadi 1.627 triliun rupiah di kuartal pertama 2012.

Naik tipisnya laba bersih emiten yang dikabarkan tengah dibidik sahamnya oleh Samsung dan Research In Motion (RIM) karena beban usaha melonjak 27 persen dari 31.231 miliar rupiah pad kuartal pertama 2011 menjadi 39.934 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Aksi korporasi TiPhone terdekat  segera menuntaskan akuisisi atas perusahaan distributor produk Apple Inc terbesar di Indonesia semester pertama 2012. Nilai aksi korporasi ini diperkirakan mencapai  40 juta dollar AS.

Rencananya TiPhone menggunakan kas internal untuk aksi korporasi ini. Setelah akuisisi selesai, TiPhone akan menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan distributor Apple tersebut.

Setelah akuisisi distributor Apple,  TiPhone membidik dua perusahaan yang bergerak di bidang distribusi voucher dan ritel. Kemungkinan besar akuisisi ini dilakukan pada semester kedua 2012.

Saat ini pendapatan terbesar TiPhone berasal dari pemasaran voucher telepon seluler. Dari keseluruhan penjualan, voucher Telkomsel menempati proporsi terbesar, 70 persen. Sebanyak 20 persen merupakan voucher dari konten dan TiPhone.

Saham TiPhone sejak beredar isu akan diakuisisi oleh dua perusahaan asing terus naik. Pada perdagangan Senin (7/5) ditutup 390 rupiah dan sempat menyentuh 400 rupiah.[dni]

Dian Siswarini : Banyak Berdoa

Ada hal yang menarik dari paparan presentasi Direktur Teknology, Content, & New Business XL Dian Siswarini kala meluncurkan layanan Cloud Computing, XCloud pada Kamis (10/5) lalu.

Di slide terakhir paparan, Dian mengajak semua undangan untuk berdoa agar layanan yang baru diluncurkan anak usaha Axiata itu sukses di pasar.

“Saya terus terang banyak berdoa agar layanan ini sukses. Cloud Computing memang akan menjadi tren, tetapi tidak ada jaminan di Indonesia itu bisa menjadi bisnis menguntungkan walau sejak tiga tahun lalu sudah digadang-gadang,” ungkapnya.

Dikatakannya, XL kala memutuskan untuk turun ke bisnis Cloud Computing pun memerlukan waktu persiapan selama dua tahun, baru setelah itu berani ikut terjun di jasa yang memiliki nilai bisnis sekitar 100 juta dollar AS tahun ini.

“Kami sudah banyak mendengar upaya pemain telekomunikasi lainnya yang susah payah mengembangkan Cloud. Kita banyak belajar dari yang sudah terjun duluan. Makanya saya bilang, selain usaha dan berdoa itu juga harus banyak agar Xl suskses di Cloud,” katanya.

Menurutnya, jika layanan cloud ingin sukses di Indonesia, semua ekosistem harus bergerak bersama dalam satu persepsi dan berkolaborasi mengembangkannya. “Tidak bisa masing-masing pemain menonjolkan egonya, kalau itu dilakukan, tak akan bisa melawan pemain asing. Makanya di XL kita percaya dengan konsep open cloud alias terbuka bekerjasama dengan siapa saja,” katanya.

Untuk diketahui, guna mengembangkan XCloud, Dian mengajak   6 mitra bisnis. Mereka adalah Huawei, Fujitsu, IBM, Intratech, Mandawani, dan Microsoft.

Saat ini solusi yang ditawarkan oleh XCloud memiliki fokus pada area Public Infrastructure as a Services (IaaS). Pada jenis layanan ini, XL menyiapkan layanan hosting, penyimpanan data, serta server melalui jaringan publik internet. Selain itu, XCloud juga siap menyediakan layanan Software as a Services (SaaS) bagi produk Microsoft Office 365, yang merupakan produk baru dari Microsoft.[dni]

BTEL Evaluasi Restrukturisasi Anak Usaha

JAKARTA–PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tengah melakukan evaluasi untuk restrukturisasi anak usaha, PT Bakrie Connectivity (Bconnect) agar dapat meningkatkan efektifitas kinerja organisasi.

“Kita sedang melakukan evaluasi agar dapat meningkatkan efektifitas kinerja organisasi. Baru dalam tahap evaluasi,” ungkap Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi ketika dihubungi Rabu (9/5).

Rakhmat diminta tanggapannya terkait isu yang beredar dimana karyawan Bconnect akan ditarik ke BTEL sehingga isu restrukturisasi dan perampingan karyawan pun mengapung.

Bahkan, kabarnya, direktorat sumber daya manusia BTEL dikabarkan telah mengeluarkan pengumuman kepada karyawan Bconnect yang menyatakan perseroan akan menggunakan satu entity atau perusahaan saja untuk semua produk baik itu  Voice, SMS dan Data Services, yaitu PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Adanya keputusan tersebut menjadikan karyawan yang selama ini  di tugaskan ke  Bakrie Connectivity secara administratif akan kembali berada di bawah manajemen BTEL.

Selama ini banyak karyawan BTEL yang mengeluh walau menempati dua posisi (BTEL dan Bconnect) tetapi kompensasi yang diterima tetap untuk satu posisi.

Kala isi dari pengumuman itu dikonfirmasi, Rakhmat kembali menegaskan, semua itu baru sebatas evaluasi.

Untuk diketahui, Bakrie Connectivity adalah anak usaha BTEL yang dilahirkan pada tahun lalu dan telah menelan investasi sebesar 100 juta dollar AS. Anak usaha ini fokus berjualan layanan data dan telah memiliki 500 ribu pelanggan.

Bakrie Connectivity yang terkenal dengan produk AHA Broadband ini baru saja ditinggalkan oleh Presiden Direkturnya Erik Meijer yang juga Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom.[dni]

Manajemen Telkom Dirombak

JAKARTA–Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPST/LB) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) memutuskan untuk merombak susunan direksi penguasa pasar telekomunikasi itu dengan alasan regenerasi.

Komisaris Utama Telkom Jusman Syafii Djamal mengatakan alasan pergantian untuk regenerasi dan penyegaran.

“Pergantian ini hanya untuk penyegaran agar Telkom menjadi lebih baik. Kinerja manajemen lama tidak jelek, bahkan saya nilai mereka sudah menyelesaikan tugasnya secara baik dan amanah,” ungkapnya usai RUPST/LB Telkom di Jakarta, Jumaat (11/5).

Dikatakannya, para direksi yang terpilih memimpin Telkom periode 2012-2017 banyak diisi kalangan muda dan internal Telkom sehingga bisa lebih kompetitif menghadapi persaingan.

Deputi Meneg BUMN Yanti Tjahjaningsih menjelaskan, alasan pergantian manajemen Telkom karena sebagian yakni 6 orang memang sudah habis masa jabatannya.

“Kami mencari dari kalangan internal agar Telkom menjadi lebih baik,” katanya.

Untuk diketahui, hasil RUPST/LB Telkom pada Jumaat (11/5) memutuskan mengangkat Arief Yahya yang sebelumnya menjadi Direktur Enterprise and Wholesales sebagai Direktur Utama menggantikan Rinaldi Firmansyah.

Sementara Honesti Basyir (Direktur Keuangan) menggantikan Sudiro Asno, M Awaludin (Direktur Enterprises and Whole Sales) menggantikan Arief Yahya.

Priyantono Rudito (Direktur Human Capital General Affair) menggantikan Faisal Syam.

Selanjutnya Indra Utoyo tetap menjabat Direktur IT and Solution Strategic, Ririek Adriansyah (Direktur Compliance and Risk Management) menggantikan Prasetio.

Sedangkan Rizkan Chandra (Direktur Network Services) menggantikan Ermady Dahlan, Sukardi Silalahi (Direktur Konsumer) menggantikan I Nyoman G Wiryanata.

RUPS tersebut juga menetapkan susunan komisaris yaitu Komisaris Utama tetap dijabat Jusman Syafii Djamal, dengan anggota komisaris Parikesit Suprapto menggantikan Mahmudin Yasin.

Hadiyanto menggantikan Bobby Nazif, Virano Nasution menggantikan Rudiantara, dan Jhonny Swandi Sjam.

Arief Yahya mengakui jajaran manajemen yang baru diisi anak muda dan berisi dari kalangan internal. “Saya berumur 51  tahun. Sementara yang lain masih 40-an tahun,” katanya.

Diungkapkannya, Telkom di bawah kepemimpinannya akan memberikan lebih banyak untuk bisa kian optimal berkontribusi bagi negara.

“Saya akan lebih agresif. Kita akan fokus di produk dan pasar end user,” katanya.

Dijelaskannya, untuk produk akan memaksimalkan bisnis Information, Media, dan Edutainment (IME) melalui aliansi, akuisisi, atau mengembangkan sendiri.

Sementara untuk pasar ke pengguna langsung akan mengoptimalkan kinerja dari Telkomsel, Flexi, dan divisi konsumer.

Bagi Dividen
Pada kesempatan sama, Head Of Corporate Communication Affair (HCCA) Telkom Eddy Kurnia mengungkapkan, pemegang saham memutuskan menyetorkan dividen tahun 2012 sebesar 7,12 triliun rupiah atau sebesar 65 persen dari laba bersih perseroan tahun buku 2011 sebesar 10,965 triliun rupiah.

Dividen sebesar 7,12 triliun rupiah tersebut berasal dari dividen tunai sebesar 55 persen atau 6,030 triliun rupiah, dan spesial dividen tunai 10 persen atau 1,096 triliun rupiah.

Dengan demikian jumlah dividen per lembar saham mencapai 371,054 rupiah per lembar.

Selain itu, pemegang saham juga menyetujui alokasi laba ditahan sebesar 3,84 triliun rupiah  yang akan digunakan untuk pengembangan usaha perseroan.[dni]

Waspadai Apresiasi Dollar AS

Pergerakan mata uang dollar AS yang terus menunjukkan penguatan terhadap Rupiah patut diwaspadai oleh pelaku usaha, terutama bagi yang banyak mengandalkan  transaksi atau pendanaan dengan dollar AS.

Pada akhir pekan lalu posisi satu dollar AS setara dengan 9.239 rupiah. Jika dirujuk pada seminggu terakhir bulan April, nilai tukar rupiah   mengalami kondisi yang stagnan.  Jelang tutup April Rupiah bergerak tipis di posisi  9.183 rupiah  dipicu oleh intervensi Bank Indonesia di pasar uang.

Sedangkan pada awal Mei ini hal yang memicu terpuruknya rupiah adalah  kekhawatiran terhadap pertumbuhan global dimana menjelang keluarnya data tenaga kerja dan angka pengangguran AS yang diperkirakan mengecewakan membuat pelaku pasar melepas portofolio asetnya dalam mata uang yang dianggap berisiko tinggi di pasar berkembang, seperti rupiah dan mata uang regional lainnya. Imbasnya, bursa dan mata uang Asia kembali terdepreasi terhadap dolar AS.

Secara keseluruhan menguatnya dollar sejak kuartal pertama 2012 tak bisa dilepaskan dari masih belum menentunya kondisi perekonomian di Eropa. Sedangkan di dalam negeri  kebijakan pemerintah terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih mengambang membuat Rupiah menari-nari memicu jantung berdegup kencang.
 

Pengamat pasar uang dari Monex Investindo Futures  Yohanes Ginting mengungkapkan ekonomi yang mulai mengalami kontraksi, melambatnya aktivitas manufaktur kawasan Eropa, serta sinyal perlambatan ekonomi AS membuat para pelaku pasar kembali memburu mata uang yang dianggap aman, yakni dolar AS dan yen Jepang.

Diduganya, jika pun terjadi penguatan rupiah tak bisa dilepaskan dari Bank Indonesia yang selalu konsisten di pasar untuk menjaga mata uangnya agar tidak berfluktuasi terlalu tajam mampu meredam pelemahan rupiah lebih dalam.  

Analis dari Indosurya Asset Management Reza Priyambada menyarankan pelaku usaha untuk mewaspadai apresiasi dollar AS selama kuartal kedua 2012 karena akan berpengaruh pada bottom line perseroan.

“Pelaku usaha seperti di telekomunikasi harus mewaspadai melemahnya rupiah. Kondisi di kuartal pertama jangan terulang dimana bottom line banyak terpukul karena apresiasi dollar AS,” katanya.

Berdasarkan catatan, dua operator besar terhantam oleh apresiasi dollar AS kinerjanya. Laba  Indosat mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I/2012 dari posisi  483,7 miliar rupiah pada kuartal I/2011 menjadi  16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini.

Penurunan laba terjadi karena menguatnya (Apresiasi) nilai tukar dollar Amerika Serikat sehingga walau terjadi pertumbuhan pendapatan tak mampu menutupi penurunan. Indosat memiliki transaksi dengan dollar AS yakni dalam menjual Sambungan Langsung Internasional (SLI), tetapi anak usaha Qatar Telecom (Qtel) ini banyak juga berhutang dan berinvestasi menggunakan dollar AS.
 
Kondisi yang sama juga terjadi di XL. Anak usaha Axiata ini menderita penurunan laba bersih 11% di triwulan I-2012, menjadi 667,207 miliar rupiah dari tahun sebelumnya dengan periode yang sama  756,052 miliar rupiah.

Turunnya kinerja laba XL tak bisa dilepaskan juga  dari kerugian nilai tukar mata uang asing karena terapresiasinya dollar AS. Apalagi, beban operasional mengalami kenaikan  terutama pada biaya infrastruktur yang biasanya dalam dollar AS naik hingga 33% di kuartal I/2012 dari  918 miliar rupiah  menjadi  1,216 triliun rupiah.
 
Disarankan Reza, operator   melakukan lindung nilai (Hedging) untuk setiap transaksi yang melibatkan dollar AS. ”Ini bisa melindungi dari kerugian jika dollar AS menguat seperti kuartal pertama lalu. Apalagi tren penguatan dollar AS ini berlanjut ke kuartal kedua 2012,” sarannya.

Menurutnya, jika operator melakukan Hedging akan menguntungkan karena nilai dollar AS dipatok di angka tertentu kala transaksi dilakukan, ketimbang mengandalkan nilai pasar. ”Jika ada potensi kerugian itu kalau salah hitung dalam angka hedging. Tetapi jika semua aspek dihitung dengan tepat, tidak akan meleset,” jelasnya.

Masih menurutnya, pertumbuhan industri telekomunikasi pada kuartal kedua tak akan jauh berbeda dengan kuartal pertama 2012 karena kondisi pasar yang sudah jenuh. ”Operator mengandalkan pertumbuhan dari segmen komunitas dan jasa data. Kalau membuka pasar baru rasanya tidak ada yang mau beresiko tinggi karena nilai investasinya besar,” katanya.[dni]