2013, Indosat Kembali Jual Menara

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) berencana kembali menjual menara sebagai bagian dari upaya perseroan mendapatkan dana segar dan efisiensi operasional.

 

“Untuk 2012, Indosat fokus menyelesaikan transaksi penjualan 2.500 menara dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Kemungkinan pada tahun depan akan dilakukan lelang untuk penjualan menara Indosat yang berpotensi dilepas ke peminat aset tersebut. Kami memiliki sekitar 10-12 ribu menara yang siap dijual,” ungkap Direktur Keuangan Indosat Curt Stefan Carlsson usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Indosat di Jakarta, Senin (14/5).

 

Ditegaskannya, dalam penjualan tahap kedua tersebut, belum tentu TBIG menjadi preferred buyer karena lelang menyesuaikan dengan kondisi pada tahun depan.

 

“Kita akan mengevaluasi nilai tambah yang diberikan calon penawar dan faktor penentu lainnya. Urusan dengan TBIG untuk 2.500 menara, sedangkan sisa menara yang akan dilepas pada 2013 itu komitmen berbeda. Bisa saja TBIG kembali memenangkan lelang tersebut, bisa juga pihak lain,” katanya.

 

Menurutnya, penjualan aset tersebut akan menentukan kinerja dari bottom line perseroan tidak hanya pada tahun ini, tetapi juga tahun depan. “Jika transaksi dengan TBIG untuk 2.500 menara itu bisa diselesaikan pada kuartal kedua atau awal kuartal ketiga,  akan mengangkat kinerja dari bottom line perseroan,” ungkapnya.

 

Untuk diketahui, pembelian menara Indosat dilakukan oleh  anak usaha TBIG, PT Solusi Menara Indonesia (SMI) seharga US$ 518,5 juta.

 

Dari nilai tersebut, sekitar US$ 406 juta merupakan harga pembelian menara telekomunikasi termasuk pengambilalihan hak dan kewajiban Indosat berdasarkan kontrak sewa menyewa tempat pada menara telekomunikasi tersebut.

 

Sementara sebesar US$ 112,5 juta  merupakan klaim kontijen jika tercapai kondisi dan persyaratan seperti tertera dalam asset purchase management.

 

SMI akan melakukan pembayaran atas US$ 406 juta dengan menebitkan surat utang (promissory notes) senilai  Rp 661,2 miliar. TBIG  akan mengambil alih kewajiban SMI tersebut (Rp 661,2 miliar) dengan menebitkan surat utang wajib konversi yang akan dilego ke Indosat.

 

Pada saat bersamaan, Indosat akan menukarkan surat utang wajib konversi tersebut dengan jumlah saham 239,8 juta saham. Tower Bersama akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement.

 

TBIG sendiri masih berminat untuk menuntaskan pembelian menara Indosat, minimal mencapai 4 ribu unit sesuai dengan kajian awal kala penjajakan dilakukan.

 

Proyeksi

Lebih lanjut Stefan mengungkapkan, perseroan pada tahun ini mencadangkan belanja modal sekitar 700 juta dollar AS, dimana sumber pendanaan berasal dari kas internal, pinjaman, dan penerbitan obligasi.

 

“Acuannya bisa naik 10 persen dari belanja modal tahun lalu sebesar 6 triliun rupiah. Untuk penerbitan obligasi obligasi dan sukuk ijarah telah diajukan dengan maksimum penerbitan masing–masing  2,5 triliun rupiah  dan  500 miliar rupiah, sekarang dalam tahap persiapan, kita harapkan bisa segera terealisasi,” katanya.

 

Sementara untuk target pertumbuhan pendapatan pada tahun ini diharapkan sama dengan industri yakni sebesar 5-6 persen dengan Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) di kisaran 46-48 persen.

 

Sedangkan strategi untuk menghindari rugi atas transaksi yang melibatkan dollar AS, ditetapkan nilai lindung (hedging) sebesar 25 persen dari transaksi. “Kami tidak ingin terlalu  besar melakukan hedging karena 50 persen belanja modal berasal dari dollar AS, sementara hutang 40 persen juga menggunakan mata uang yang sama,” jelasnya.

 

Untuk diketahui, laba  Indosat  mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I-2012 dari posisi  483,7 miliar rupiah pada kuartal I-2011 menjadi 16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini karena rugi kurs.

 

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko Tirtojondro menambahkan, perseroan akan terus melakukan efisiensi dan memfokuskan anak usaha guna mendukung bisnis inti yakni seluler yang menjadi penopang utama pendapatan.

 

“Anak usaha Indosat Mega Media (IM2) yang berjualan produk data difokuskan kepada inovasi, sementara produknya ditarik ke Indosat. Lintas Arta sekarang lebih difokuskan untuk pasar korporasi,” katanya.

 

Harry optimistis pada 2012 perseroan akan lebih agresif menggarap pasar seluler dengan masuknya mantan Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menjadi Direktur Pemasaran dan Chief Marketing Officer Indosat menggantikan Lazlo Imre Brata.

 

“Masuknya Erik akan memperkuat posisi Indosat sebagai pemain kedua terbesar di pasar seluler Indonesia,” katanya.

 

Berkaitan dengan pembagian dari dividen, Harry mengungkapkan,  alokasi penggunaan laba bersih tahun buku yang berakhir 31 Desember 2011 untuk dividen sebesar  76,83  rupiah per saham, dengan dividen pay out ratio sebesar 50% dan sisa untuk re-investasi dan modal kerja.

 

Indosat pada 2011 membukukan laba bersih sebesar 835 miliar rupiah, hal ini berarti dividen yang dibagikan mencapai 417,5 miliar rupiah.[dni]

XL Hanya Harapkan Rp 630 Miliar dari VAS

JAKARTA— PT XL Axiata Tbk (XL) hanya mengharapkan layanan nilai tambah (Value Added Services/VAS) memiliki omset  sekitar 420-630 miliar rupiah atau berkontribusi dua hingga tiga persen dari target total pendapatan 2012 sekitar 21 triliun rupiah.

 

”Kami harus realistis dengan kondisi yang ada di bisnis konten dimana belum juga bangkit sejak terjadi unreg massal pada Oktober 2011 lalu. Jika pada 2011, bisnis VAS bisa  berkontribusi sekitar 7 persen bagi perseroan, rasanya tahun ini sudah 2-3 persen saja bagus,” ungkap  Direktur Teknologi,Content,dan New Busines XL, Dian Siswarini di Jakarta, Rabu (16/5).

 

Diprediksinya, bisnis konten baru akan bangkit dan bisa berkontribusi normal bagi XL mulai tahun depan seiring masyarakat teredukasi dengan baik dan produk yang disediakan tidak ada lagi kesan manipulasi. ”Tahun depan baru mulai membaik. Tetapi kami harus bekerja dari sekarang dengan terus meluncurkan produk yang benar agar masyarakat teredukasi,” jelasnya.

 

Diungkapkannya, salah satu yang dilakukan perseroan adalah bekerjasama dengan MusicaStudio’s meluncurkan  Musikkamu yang merupakan sebuah layanan konten yang dapat dinikmati di ponsel dengan konsep fans-base.

 

”Kami menyediakan konsep kerjasama yang melibatkan semua pihak dengan menyingkirkan pola pikir orang telekomunikasi dimana semua harus dikerjakan sendiri. Musica membawa artis dan platform, XL membawa basis pelanggan dan kemampuan billing. Jika pun XL berinvestasi itu untuk promosi dan edukasi,” jelasnya.

 

Dikatakannya, produk  Musikkamu adalah layanan konten musik pertama di Indonesia yang dibangun dengan mempertimbangkan beberapa hal di antaranya Games,  musik digital, social media, mobile platform,  dan menyediakan akses  artis bisa berkomunikasi langsung dengan penggemarnya.

 

”Tantangan dari meluncurkan layanan konten itu adalah menjaga hype dan keinginan pelanggan untuk terus mengakses. Kami sengaja investasi untuk membuat kondisi itu terwujud dengan menggandeng pemain-pemain di social media,” katanya.

 

GM Content & Applications Strategic Business & Innovation  XL Revie Sylviana menambahkan, bagi artis bisa mendapatkan pendapatan dari  sisi konten yang membuat dirinya terhubung dengan penggemar.

 

”Kami membidik ada  200 ribu pelanggan di tiga bulan pertama. Angka itu dari  dari 1,5 juta hingga 2 juta penggemar artis MusicaStudio’s. Rencananya  kita akan ajak semua label rekaman dan artisnya untuk bekerjasama,” ungkapnya.[dni]

 

 

 

TPK Koja Layani Kapal Panamax Class

JAKARTA—Terminal Peti Kemas (TPK) Koja  berhasil melayani kapal berkapasitas 5.000 TEUs  atau  dikenal sebagai  Panamax Class yang  merupakan standar kapal kontainer  digunakan oleh perusahaan pelayaran internasional karena sifat efisiensinya.

General Manager TPK Koja Arif Isnawan melalui keterangan tertulisnya mengungkapkan, kapal berkapasitas 5.000 TEUs yang tiba di TPK Koja dioperasikan oleh  Orient Overseas Container Line, Ltd  (OOCL ) sebuah perusahaan pelayaran besar dari Hongkong.

“OOCL  semakin memantapkan posisinya sebagai sebuah perusahaan pelayaran yang memiliki reputasi tinggi, dengan memperbesar (upsize) pengoperasian kapalnya dari kapasitas 3.200 TEUs menjadi 4.600 (hingga 5.000) TEUs, serta memberikan kepercayaan pada TPK Koja untuk melayani kegiatan bongkar muat peti kemas setiap minggunya,” ungkapnya di Jakarta, Selasa (15/5).

Menurutnya, upsize kapal ini jelas merupakan suatu kepercayaan yang tinggi dari OOCL sebagai pelanggan terbesar. Adanya upsize kapal ini semakin memantapkan komitmen TPK Koja untuk meningkatkan level of service dan produktivitasnya.

Dijelaskannya, TPK Koja sebelumnya memiliki kapasitas terpasang sebesar 680.000 TEUs. Namun dengan melakukan berbagai upaya optimalisasi atas fasilitas infra dan suprastruktur yang ada, TPK Koja kini mampu meningkatkan kapasitasnya menjadi 840.000 TEUs. Hal ini telah dibuktikan dengan pencapaian throughput lebih dari 823.000 TEUs pada tahun 2011 lalu.

Perolehan throughput TPK Koja pada tahun 2012 ini, sampai dengan April, mencapai 271.781 TEUs, mengalami kenaikan 10.55% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 245.844 TEUs. Sementara, untuk kinerja GCR (Gross Crane Rate) mengalami kenaikan sebesar 17.49% dari 22,3 box/jam pada tahun 2011 menjadi 26,2 box/jam pada tahun 2012.

“Pencapaian ini merupakan bentuk kepercayaan yang sangat tinggi dari seluruh pelanggan setia kami kepada TPK Koja, dan juga merupakan bentuk dedikasi dan profesionalisme dari semua karyawan TPK Koja,” jelasnya.

Diungkapkannya,  pada awal tahun 2013, TPK Koja akan memperluas container yard, menambah jalur gate, serta menambah fasilitas bangunan dan pendukung operasional. Untuk paralatan pendukung, TPK Koja akan melakukan penambahan 1 unit QCC, 3 unit RTG, 8 unit head truck, serta fasilitas suprastruktur lainnya. Perbaikan fasilitas dan penambahan area ini akan mampu meingkatkan kapasitas layanan TPK Koja menjadi 1.000.000 TEUs.

“Capaian TPK Koja ini menjadi suatu hal yang sangat menggembirakan. Ini membuktikan bahwa Pelabuhan Tanjung Priok dengan layanan berstandar internasional, telah benar-benar siap menjadi hub-port regional guna mengantisipasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, kawasan Asia, dan dunia, “  kata Direktur Utama Pelindo II RJ Lino.[dni]

Mengalir Seperti Air

Elvizar KH adalah salah seorang anak muda yang menjadi andalan di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) guna mengembangkan bisnis media melalui anak usaha PT  Indonusa Telemedia (TelkomVision).

Hal itu dibuktikan oleh urang awak ini pada 2011 dimana  secara performa kinerja TelkomVision melewati semua anak usaha Telkom jika mengacu pada pencapaian Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP).

Pada tahun itu, perseroan yang terkenal dengan produk YesTV dan Groovia itu berhasil membukukan pendapatan 500 miliar rupiah, memiliki satu juta pelanggan, dan keuntungan 100 miliar rupiah.

Pada tahun Naga Air ini, TelkomVision membidik keuntungan 200 miliar rupiah dengan dukungan pendapatan satu triliun rupiah dan 2,5 juta pelanggan. Sedangkan belanja modal yang disiapkan 650 miliar rupiah

Angka-angka positif itu berbanding terbalik jika melongok keadaan TelkomVision tiga tahun lalu kala Pria yang akrab disapa EL ini masuk ke pemain kedua terbesar TV berbayar itu pada  November 2009. Saat itu  perseroan mengalami arus kas negatif dengan pelanggan hanya sekitar 180 ribuan.

“Kala itu kondisi perusahaan jika diibaratkan warung yang menjual satu barang, tetapi uang di kantong tidak ada alias arus kas negatif. Kami harus bekerja keras untuk melakukan turn around,” katanya kala ditemui di kantornya belum lama ini.

Timbulkan Antusiasme
Diungkapkan oleh pria yang hobi bermain golf ini, aksi yang dilakukan pertama kali adalah melakukan restrukturisasi biaya khususnya untuk  konten dan pembelian decoder. Pasalnya, dua komponen ini sangat dominan berkontribusi ke total biaya operasional.

“Setelah itu saya harus membenahi Sumber Daya Manusia (SDM). Kala itu SDM di TelkomVision tingkat turn over-nya sangat  tinggi. Saya harus menimbulkan antusiasme, semangat, dan kepercayaan karyawan kepada  TelkomVision, bahwa ini adalah pemain besar yang berada di grup perusahaan raksasa,” katanya.

Diungkapkannya, untuk menunjukkan tiga hal tersebut kepada para karyawan, maka sejumlah aksi korporasi dilakukan. Misalnya, mengubah logo dari perusahaan yang menunjukkan hanya satu payung merek yakni TelkomVision dengan dua produk yakni YesTV dan Groovia.

Selain itu, tagline Nice & Easy baru saja diperkenalkan sebagai strategi perusahaan untuk menjadi pemimpin pasar dengan menggaet pelanggan baru.

Nice yang berarti menyenangkan merupakan komitmen memberikan pelayanan prima kepada pelanggan berupa produk, pelayanan, dukungan, dan pengembangan. Sedangkan Easy yang berarti mudah merupakan komitmen perusahaan untuk memberikan kemudahan dalam memberikan layanan.

“Tagline  Nice & Easy  bukan  sekadar slogan  namun  dapat menjadi roh bagi jiwa masing-masing  individu  karyawan  untuk bekerja dengan  tulus, ikhlas serta berkomitmen  memberikan  pelayanan  terbaik bagi pelanggan.” Katanya.

Aksi lainnya adalah menggandeng perbankan, pembiayaan, Telkom grup, dan penyedia perangkat untuk memperluas jumlah pelanggan melalui bundling produk.  “Kami menyakinkan semuanya untuk bersama-sama melakukan penetrasi pasar.  Khusus kerjasama dengan Telkom Grup itu punya dua makna, satu mencari tambahan pelanggan, kedua menunjukkan kepada karyawan, TelkomVision itu ada di grup perusahaan besar,” katanya.

Menurutnya, potensi pasar TV berbayar di Indonesia sangat besar karena penjualan televisi terus tumbuh.
“Rumah tangga yang memiliki televisi itu besar. Kita jangan terus terkungkung dengan persepsi melawan siaran televisi free to air atau parabola di daerah pinggiran. Nilai lebih harus ditawarkan ke pasar. Salah satu keunggulan dari TelkomVision adalah memiliki semua platform untuk menjalankan konten,” jelasnya.

Untuk diketahui, dari sisi infrastruktur perusahaan menggunakan satelit Telkom-1 dan Palapa dengan teknologi Direct To Home dan kompresi MPEG4 untuk menjangkau pasar secara nasional. Sementara bagi produk Groovia TV didukung Internet Protocol TV (IPTV).

Masih menurutnya, kondisi dari pasar TV berbayar itu sangat mirip dengan seluler kala pertama kali hadir di Indonesia. Potensi besar, tetapi yang menggunakan sedikit. Dibesarkan dari industri telekomunikasi, Elvizar banyak meniru strategi dari seluler untuk penetrasi pasar. Misalnya, membuat paket dengan harga terjangkau atau direct selling yang melibatkan komunitas.

Dampak dari strategi tersebut, saat ini  pelanggan  ritel  TelkomVision mencapai  75% dari total jumlahpelanggan. Namun  dalam perjalanan  bisninya  TelkomVision  juga membidik  pangsa pasar korporat sekitar 46%   atau  memberi  kontribusi  sebesar  25 %   dari total pelanggan  yang dimiliki

TelkomVision dalam rangka meningkatkan jumlah pelanggan juga berencana memperluas areal pelayanan sehingga 33 provinsi dapat terlayani seluruhnya. Saat ini TelkomVision didukung 10 kantor regional untuk memberikan layanan kepada masyarakat di Indonesia.

Selalu Siap
Lebih lanjut Pria Kelahiran Pekanbaru, 12 September 1963 ini mengungkapkan, dalam menjalankan  sejumlah aksi korporasi perusahaan selalu menyiapkan rencana cadangan jika implementasi tak berjalan sesuai jadwal.

”Saya selalu siap dengan rencana A, B, atau C. Ini sama dengan konsep saya menjalani hidup. Saya selalu siap dengan perubahan dan percaya jika semuanya adalah rencana dari Allah SWT untuk diambil hikmahnya,” katanya.

Menurutnya, mensyukuri setiap nikmat dan pemberian Allah SWT serta menjalani hidup  mengalir seperti air adalah pilihan yang paling tepat berada di bumi selagi masih bernafas.

”Saya selalu  bilang kepada teman-teman tidak ada hal yang tak mungkin diraih jika memiliki keyakinan dan kerja keras yang optimal. Saya masih teringat kala memasang target, awalnya anak buah tak percaya dengan mimpi target itu.  Mereka nilai mimpi saya terlalu tinggi di awang-awang. Ternyata, mimpi itu bisa tercapai, bahkan melampaui target jika optimistis,” ujarnya.

Hal lain yang disukurinya adalah, di tengah kesibukan membesarkan perseroan, dirinya masih sempat menikmati waktu bersama keluarga. ”Saya bersyukur bisa menikmati waktu bersama keluarga dan tak membawa urusan kantor ke ruang makan. Ini salah satu kunci hidup sehat lahir dan batin,” katanya berbagi rahasia.[dni]

.

Pejabat Merpati Ramai-ramai Mengundurkan Diri

JAKARTA—Pergantian Direktur Utama (Dirut) Merpati Nusantara yang terkesan mendadak dan tidak transparan ternyata berbuntut panjang. Para pejabat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) transportasi itu ramai-ramai mengundurkan diri dengan alasan memberikan jalan bagi Dirut yang baru menjalankan tugasnya.

“Setahu saya sudah ada tiga pejabat yang mengundurkan diri dan mengirimkan surat resmi ke Dirut. Mereka adalah Sekretaris Perusahaan Imam Turidi, SVP Corporate Planning Erry Wardhana, dan  VP Marketing  Yose Rizal,” ungkap Sekretaris Perusahaan Imam Turidi kala dihubungi Selasa (15/5).

Diungkapkannya, dirinya memilih jalan mengundurkan diri karena ingin memberikan kesempatan bagi Dirut yang baru untuk menetapkan strategi bagi perseroan.

“Saya terlalu dekat dan banyak menjadi bagian dari Dirut yang lama dalam pengambilan keputusan. Lebih baik saya mundur dan memberikan kesempatan bagi yang lain untuk mendukung pimpinan baru. Sekarang tinggal menunggu keputusan direksi saja terkait surat yang dikirimkan,” katanya.

Untuk diketahui, pada Senin (14/5) Menneg BUMN Dahlan Iskan merealisasikan niatnya mengganti Dirut Merpati Nusantara dari Sardjono Jhony Tjitrokusumo ke  PJS  Dirut  Rudy Setyopurnomo.

Alasan yang diapungkan Dahlan Iskan adalah Merpati terus mengalami kerugian dan membutuhkan pemimpin yang lebih tegas dalam memimpin BUMN tersebut.  Merpati  selama kuartal I 2012 mencatat rugi hingga 250 miliar rupiah dan per hari rugi dua miliar rupiah.

Senior Vice President Corporate Planning Merpati Erry Wardhana  mengatakan langkah mengundurkan diri dilakukan karena menilai  pencopotan Jhony tidak sesuai mekanisme yang seharusnya.

Jhony kala dimintai tanggapan terkait aksi yang dilakukan mantan anak buahnya menegaskan tidak tahu sama sekali terkait aksi tersebut. “Saya tidak tahu menahu. Saya sekarang lebih senang diam ketimbang dituduh yang tidak-tidak. Bagi saya, biarkan semua berlalu,” katanya.

Menurutnya, dirinya sudah banyak memberikan sumbangsih bagi Merpati. “Saya rela standar gaji diturunkan demi menjadi Dirut Merpati  supaya maskapai ini bisa lebih bagus lagi. Sekarang semua sudah berlalu dan lebih baik bicara masa depan,” katanya.

Sementara Rudy kala dimintai pendapatnya mengaku tidak khawatir pejabat teras perseoran mengundurkan diri. “Tidak masalah. Kalau ada yang mundur tentu kita siap menggantinya dengan yang muda-muda, cerdas dan berbakti kepada negara,” kata Rudy.

Menurut Rudy, selain dari dari luar perusahaan, orang dalam Merpati juga masih banyak yang pintar-pintar dan potensial. “Mundur atau tidak itu merupakan hak setiap karyawan. Tidak masalah, karena dari internal perusahaan juga masih banyak yang memiliki kemampuan untuk memajukan Merpati,” kata Rudy.

Diungkapkannya, mulai besok  akan menseleksi dan melakukan tes ke para pegawai Merpati yakni test psikotes, dimana diharapkan ada bibit-bibit baru yang potensial untuk membawa Merpati menuju sukses.

“Kalau semuanya pegawai internal juga bekerja keras bersama-sama, maka dalam enam bulan Merpati sudah meraup untung,” tegasnya.[dni]

Telkom Tuntaskan Reorganisasi Telkomsel

JAKARTA – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) selaku penguasa 65% saham Telkomsel menuntaskan reorganisasi di anak usahanya itu dengan  merombak susunan direksi pada Rabu (16/5).

“Jajaran direksi Telkomsel dirombak agar lebih Solid, Speed, dan Smart,” ungkap Direktur Utama Telkom Arief Yahya kala dihubungi Rabu (16/5).

Head of Corporate Communication and Affair Telkom Eddy Kurnia menambahkan berdasarkan hasil keputusan Pemegang Saham Telkomsel, yang berlaku efektif mulai Rabu (16/5)  telah ditetapkan direksi baru Telkomsel sebagai berikut: Alex Janangkih Sinaga menjadi President Director, Mas’ud Khamid sebagai Director of Sales, Heri Supriadi menduduki posisi Director of Finance, Herdy Rosadi Harman sebagai Director of Human Capital Management,  Abdus Somad Arif sebagai  Director of Network.

Nama-nama di atas adalah perwakilan dari Telkom, Sementara Singtel yang memiliki 35 persens aham menempatkan  Edward Ying Siew Heng sebagai Director of Planning and Transformation,  Ng Soo Kee  menjadi  Director of IT, dan Goh Hui Min Rachel di  Director of Marketing.

Untuk diketahui, sebelum perombakan susunan direksi Telkomsel terdiri atas direktur utama,   dukungan Direktorat  Keuangan, Perencanaan & Pengembangan, Operasi, dan   Niaga.

Sementara, Presdir Telkomsel  yang lama, Sarwoto Atmosutarno mendapatkan penugasan baru dari Telkom sebagai Chief of The Mission Peluncuran Satelit Telkom-3.

Sarwoto yang dikenal sebagai ahli satelit yang telah teruji dan berpengalaman, diyakini akan dapat mensukseskan peluncuran Satelit Telkom-3 yang rencananya akan meluncur Juni 2012

Diharapkannya,  dengan formasi Direksi baru Telkomsel ini akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan yang jauh lebih bagus. Transformasi Bisnis Telkom dan Telkomsel akan melaju dengan pesat.

Kinerja Telkomsel sejak 2010 memang kurang berkilau dimana selalu tidak mencapai target yang ditetapkan. Pada 2010, Telkomsel gagal meraih 100 juta pelanggan alias terpatok di angka 95 juta pelanggan. Sementara pertumbuhan omset hanya 5% dimana seharusnya 10 persen.

Pada 2011 Telkomsel meraih omset  48,73 triliun rupiah atau  naik 7 persen dibandingkan  2010 sebesar 45,57 triliun rupiah.  Pada tahun itu Telkomsel meraih  107 juta nomor.

Perolehan tersebut bisa dikatakan tidak mencapai target karena kala pencapaian 100 juta pelanggan pada 2011  Sarwoto Atmosutarno   optimismtis  mampu meraih 115 juta pelanggan dengan pertumbuhan omset di kisaran dobel digit.[dni]

Penguasa dengan Nakhoda Baru

Kejutan dihadirkan Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan sebagai kuasa pemegang saham Dwiwarna di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Luar Biasa pada Jumaat (11/5) lalu, Dahlan mengganti  Direktur Utama Rinaldi Firmansyah dengan Arief Yahya yang sebelumnya menjabat Direktur Enterprise and Wholesale Telkom.

Arief Yahya yang akrab dipanggil AY pun diberikan kebebasan untuk menunjuk The Dream Team yang akan mendampinginya hingga 2017 mendatang.

AY memilih  anggota komisaris Mitratel Honesti Basyir, sebagai Direktur Keuangan menggantikan Sudiro Asno,  Presiden Direktur Infomedia M Awaludin menjadi Direktur Enterprises and Wholesales.

Priyantono Rudito menjadi Direktur Human Capital General Affair menggantikan Faisal Syam. Direktur Utama Telkom Internasional Ririek Adriansyah  menjadi Direktur Compliance and Risk Management menggantikan Prasetio.

Berikutnya, Direktur Utama Telkom Sigma Rizkan Chandra  menjadi Direktur Network Services menggantikan Ermady Dahlan, dan Sukardi Silalahi  menajdi Direktur Konsumer menggantikan I Nyoman G Wiryanata. Hanya   Indra Utoyo yang  tetap menjabat Direktur IT  Solution and  Strategic.

Komisaris Utama Telkom  Jusman Syafii Djamal  menjelaskan alasan pergantian tampuk pimpinan di penguasa pasar telekomunikasi itu untuk regenerasi dan penyegaran.

“Pergantian ini hanya untuk penyegaran agar Telkom menjadi lebih baik. Kinerja manajemen lama tidak jelek, bahkan saya nilai mereka sudah menyelesaikan tugasnya secara baik dan amanah,” tegasnya.

Dijelaskannya,  para direksi banyak diisi kalangan muda dan internal Telkom sehingga bisa lebih kompetitif menghadapi persaingan.

Strategi
Arief Yahya dalam konferensi pers pertamanya usai diangkat menjadi Telkom-1 menegaskan  akan lebih mempertajam bisnis yang selama ini digeluti perseroan dengan cara organik maupun anorganik.

“Telkom memiliki portofolio produk  Telecommunication, information, media and edutainment (TIME) dan  consumer portofolio. TIME kita akan akselerasi secepatnya. Kalau IME nanti akan lebih banyak aliansi dan akuisisi,” jelasnya.

Dikatakannya,  melalui anak usaha Telkom akan lebih mempertajam bisnis consumer. “Nanti ada divisi wholesales dan international juga. Akan kita pertajam,” katanya.

Diharapkannya, pertumbuhan bisnis perseroan, akan jauh melebihi industri. “Kini harus di atas rata-rata industri. Industri 6,1%, Telkom akan tumbuh  6,8%. Tapi susah menghafalkannya tapi rata-rata 8%- lah,” harapnya.

Menjanjikan
Guru Besar ITB Suhono Harso Supangkat menilai susunan direksi Telkom di bawah kepemimpinan AY cukup menjanjikan karena rekam jejak para direksi sudah teruji di beberapa lini memberikan pengalaman yang menambahkan.

”Namun, tantangan industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) juga semakin tajam. Tidak mudah untuk bisa menang dalam persaingan. Mudah-mudahan tim ini bisa memberikan inpirasi atau energi baru untuk menambah daya saing,” katanya.

Diharapkannya, Telkom di bawah kepemimpinan AY bisa mengubah cara pikir dari pemain telekomunikasi menjadi industri layanan dengan kompetisi dan model bisnis yang baru. ”Google atau Yahoo! Bisa menjadi tolak ukurnya. Telkom harus berani mengubah model bisnisnya di industri konten,” katanya.

Praktisi Telematika Suryatin Setiawan yang juga mantan direktur Telkom mengakui, sebagai karyawan yang merintis karir dari bawah di BUMN tersebut, AY pantas menjadi orang nomor satu.

”Pengalaman dan persiapannya sudah lengkap, jadi memang sudah waktunya untuk menjadi Telkom-1. Susunan direksi yang dipilih juga saling menutup kekurangan sehingga diharapkan bisa kompak hingga akhir masa bakti. Saya harapkan Telkom di bawah AY mulai menyiapkan diri ekspansi dengan tegas dan berskala ke luar Indonesia,” katanya.

Sementara Mantan Sekretaris Menneg BUMN Said Didu mengatakan, terdapat tiga hal yang harus dipertahankan oleh para direksi di bawah kepemimpinan AY yakni pintar mengelola keuangan dan investasi, selalu bisa beradaptasi dengan teknologi, dan tidak mau didikte oleh pemilik teknologi.

”Para direksinya banyak anak-anak muda. Semoga integritas dan idealismenya tetap terjaga,” katanya.[dni]

Dirut Merpati Mendadak Diganti

JAKARTA—Kementrian Badan Usaha Milik Negara (KBUMN) dikabarkan mengganti
Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Sardjono Jhony secara mendadak tanpa alasan yang jelas.

”Saya memang mendengar adanya pergantian Dirut dan rencanan pelantikan pejabat baru pada Senin (14/5),” ungkap SVP Corporate Planning Merpati Nusantara Erry Wardhana ketika dihubungi Minggu (13/5).

Dijelaskannya, sebagai perwakilan manajemen atau karyawan, dirinya tidak mengetahui alasan pergantian dan tidak ingin berspekulasi. ”Tetapi jika bicara soal kinerja, kami berani mempertanggungjawabkan. Di bawah kepemimpinan Pak Jhony selama satu setengah tahun belakangan ini ada perbaikan signifikan,” tegasnya.

Diungkapkannya, calon pengganti Jhonny kemungikinan Komisaris Utama Merpati  Rudi Setyopurnomo yang baru menggantikan Said Didu satu setengah bulan lalu. ”Saya sudah telepon Pak Rudi. Beliau seolah mengiyakan menjadi pengganti Dirut,” katanya.

Sebelumnya, pada Februari 2012, Jhony pernah mengisyaratkan akan mundur terkait  kasus kecelakaan pesawat Merpati MA-60 yang jatuh di Perairan Kaimana, Papua, 7 Mei 2011.

Permintaan mundur itu langsung diutarakannya pada saat rapat dengar pendapat di gedung DPR beberapa waktu lalu. Namun permintaan mundur dirinya tidak diterima oleh Menneg BUMN Dahlan Iskan.

”Kalau bicara isu Februari itu sudah clear. Pak Dahlan bicara dengan Pak Jhony dimana saya menyaksikan, meminta masalah Merpati secepatnya diselesaikan dan pencairan sebesar 296,47 miliar rupiah berupa Penyertaan Modal Negara (PMN),” katanya.

Perwakilan Pilot Merpati Nusantara Capt Hendra Jusack meminta jika pergantian dilakukan terhadap pimpinannya harus dengan alasan yang jelas. “Kami tidak akan mempertanyakan jika pergantian tidak mendadak dan tanpa alasan jelas. Kami masih berharap keputusan itu bisa berubah. Semoga Pak Dahlan Iskan bisa memutuskan dengan jernih,” katanya.

Diungkapkannya, Merpati selama kepemimpinan Jhony mampu mengangkat kesejahteraan karyawannya  dan sinyal perbaikan terjadi  di BUMN transportasi itu. “Bagi saya jika seorang pimpinan berhasil mengangkat  kesejahteraan karyawan itu hal yang baik. Kesejahteraan seluruh karyawan naik 30 persen di era Pak Jhony,” katanya.

Jhoni sendiri kala dikonfirmasi hanya menjawab singkat dengan membenarkan dirinya akan diganti oleh Komisaris Utamanya.  “Saya dipecat, bukan mundur,” ucapnya.

Namun dalam rilis resminya kepada para pilot yang dikabarkan menyiapkan aksi mogok karena simpati dengan nasib dirinya Jhony meminta para penerbang membatalkan aksi mogok karena bsia berakibat  berakibat fatal bagi perusahaan maupun orang banyak.

“Saya memohon, dan saya menghimbau, sebagai sesama penerbang maupun sebagai direktur Utama di perusahaan ini, jangan melakukan tindakan tindakan yang kontra produktif. Saya pribadi, menganggap bahwa pergantian direksi adalah sesuatu yang alami, dan jangan dijadikan dasar untuk melakukan hal hal yang nantinya bisa berakibat fatal,” tulis Jhony.

Sayangnya, Deputi Bidang Infrastruktur dan Logistik KBUMN Sumaryanto Widayatin tak bisa dikonfirmasi terkait pergantian direksi Merpati. Pesan singkat yang dikirimkan tak berbalas.

Kabar beredar mengatakan, tegangnya hubungan Jhony dengan Sumaryanto dan Rudi menjadi pemicu pergantian ini.[dni]

Telkom Bidik Omset Anak Usaha di Bidang IME Capai Rp 7,15 triliun

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menargetkan anak-anak usaha yang bergerak di bidang Information (IT Services) , Media, dan Edutainment (IME) bisa meraih omset sekitar 7,15 triliun rupiah pada akhir 2012 atau tumbuh 30 persen dibandingkan 2011 yang sebesar 5,5 triliun rupiah.

 

“Pada tahun lalu bisnis IME berkontribusi sekitar 9 persen bagi total omset perseroan. Kita optimistis anak-anak usaha di bidang IME itu bisa mencapai target, karena tahun lalu tumbuh di atas rata-rata industri,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Selasa (8/5).

 

Berdasarkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2012, Telkom memasang target pendapatan  sebesar Rp 76,4 triliun. Sedangkan pada 2011, perseroan   mencatat pertumbuhan realisasi pendapatan sebesar 3,8 persen menjadi Rp 71,25 triliun.

 

Diungkapkannya, anak-anak usaha yang bergerak di bidang IME adalah Telkom Sigma, Finnet, Ad Medika, Infomedia, Melon Music, Telkom Vision, Metrasat, dan Plasa.com. “Kami mengalokasikan investasi sekitar  3,285 – 4,285 triliun rupiah. Sekitar 285 miliar rupiah dialokasikan untuk mengembangkan konten, aplikasi, dan  membangun 50 ribu titik WiFi. Sementara tiga hingga empat triliun rupiah untuk memodernisasi kabel dan infrastruktur,” ungkapnya.

 

Direktur IT Solution and Strategic Indra Utoyo posisi yang ada sekarang bisnis IME belum bisa menggantikan kontribusi jasa telekomunikasi atau memberikan akses, terutama seluler bagi total omset Telkom grup.

 

“Namun  jika melihat dari sisi pertumbuhan, bisnis IME pada 2011 tumbuh 80%, internet 34%, fixed line turun 8%, dan seluler hanya 7%. Bisnis IME itu memberikan nilai sinergi yang tinggi bagi Telkom grup. Misalnya, Telkom Sigma, dari solusi IT Services-nya bisa memberikan multiplier effect hingga 6 kali bagi bisnis akses,” jelasnya.

 

Dijelaskan Indra, untuk mengakselerasi bisnis IME, Telkom menerapkan strategi invention dan investasi, partnership, Intergrated dengan akuisisi, atau membentuk perusahaan patungan. “Kami juga melakukan pendekatan ekosistem secara grup dimana setiap anak-anak usaha harus paham dan mengerti tugas dan porsinya dalam mengembangkan IME agar tidak terjadi saling tindih dalam berbisnis,” katanya.

 

Rinaldi menambahkan, dari sisi infrastruktur juga akan digeber pembangunan serat optik sebagai tulang punggung untuk akses broadband agar konten yang dihasilkan bisnis IME bisa dinikmati dengan nyaman.

 

“Kami sedang melakukan pelelangan proyek Palapa Ring tahap II. Satu atau dua bulan ke depan akan dilakukan e-auction. Paket pengerjaannya bisa satu atau dua. Salah satu pesertanya yang dulu mengerjakan Palapa Ring I, Huawei Marine,” ungkapnya.

 

Berdasarkan catatan, proyek Palapa Ring tahap II  diperkirakan akan menelan investasi sekitar 2,4 triliun rupiah dengan panjang serat optic sekitar 5.300 km. Rute yang akan dilalui adalah Menado, Ternate, Halmahera, Ambon, Fak-fak, Timika, hingga Sorong. Sedangkan Palapa Ring Tahap I telah selesai dibangun  dengan nama proyek Mataram-Kupang Cable System (MKCS)  sepanjang 1.041 km yang menelan biaya sekitar 600 miliar rupiah.

 

Isu Akuisisi

 

Indra mengatakan, dalam mengembangkan backbone dan last mile berbasis serat optic, perseroan menerapkan dua strategi. Pertama, tukar guling kabel tembaga dengan serat optic seperti yang dilakukan sejak tahun lalu dengan PT Inti, atau membeli serat optic baru.

 

Kala ditanya tentang rencana akuisisi perseroan terhadap operator kabe laut,   Pacnet Ltd, Indra enggan berkomentar lebih jauh. “Saya tidak tahu isu itu dan baru mendengar dari Anda,” kilahnya.

 

Sebelumnya, seperti diberitakan Reuters, Telkom diisukan memasukkan proposal untuk mengambil sebagian saham Pacnet dengan nilai satu miliar dollar AS termasuk hutang dari operator itu.

 

Dikabarkan, transaksi akan selesai pada  akhir kuartal kedua 2012.  Pacnet diinformasikan telah menunjuk  Credit Suisse dan  Goldman Sachs untuk konsultan penjualan. Isu Pacnet akan dijual sebenarnya telah beredar di pasar global sejak November 2011. Perusahaan ini memiliki equity value  sekitar 600 juta dollar AS, hutang sekitar 300 juta dollar AS, dan uang kas 100 juta dollar AS.

 

Pada 2011, Pacnet mencatat omset  528.6 juta dollar AS atau naik  4.4  persen dibandingkan 2010.  Saham Telkom sendiri pada Selasa (8/5) diperdagangkan di kisaran terendah 8.200, dan tertinggi 8.400 rupiah, sejak isu ini beredar Selasa (8/5) pagi.[dni]

Emiten Transportasi Tunda Aksi Korporasi

JAKARTA–PT Trada Maritime Tbk (TRAM) menunda dua aksi korporasi yang telah dirancang sejak tahun lalu karena ingin lebih fokus kepada rekonsiliasi internal organisasi dan penyelesaian ganti rugi satu kapal jenis Floating Storage & Offloading (FSO) yang terbakar pada akhir September 2011.

Dua aksi korporasi yang ditunda adalah rencana penerbitan saham baru (rights issue) yang sebelumnya akan  mendukung kebutuhan pendanaan ekspansi perseroan tahun ini dan  rencana akuisisi tambang batubara di Kalimantan.

“Aksi korporasi terpaksa ditunda dulu karena terbakarnya kapal FSO dengan nama Lentera Bangsa secara signifikan menganggu hubungan perseroan dengan perbankan. Jadi, kami lebih ingin fokus memperbaiki kembali hubungan dengan perbankan dan menyelesaikan masalah kapal yang terbakar itu,” ungkap Direktur Utama Trada Maritime, Danny Sihanouk de Mita di Jakarta, Rabu (9/5).

Dijelaskannya, kapal Lentera Bangsa harus diselesaikan masalah ganti ruginya karena menyangkut pinjaman dari perbankan untuk membeli armada tersebut yakni sebesar 50 juta dollar AS. “Kami sudah memiliki perusahaan asuransi dari Inggris, London yakni QBE untuk mengurus masalah ganti rugi. Kita harapkan akhir Juni 2012 proses pemindahan kapal dari Merak selesai sehingga bisa ditaksir kerugian,” jelasnya.

Menurutnya, jika pun masalah dengan asuransi bisa diselesaikan pada Juni nanti, potensi aksi korporasi yang bisa direalisasikan adalah mengakuisisi tambang batu bara di Kalimantan tersebut. “Tetapi kami tidak mau berandai-andai. Kita memang akan sangat fokus pada masalah Lentera Bangsa dulu,” katanya.

Ditegaskannya, walau satu kapal FSO terbakar, namun ada penggantinya jenis Panamax dengan nama Aquarius yang mendapatkan kontrak dari perusahaan asing, TORM, untuk mengangkut gas cair (LNG). “Kapal itu dibeli seharga 30 juta dollar AS. Lentera Bangsa biasanya berkontribusi sebesar 25 persen bagi total omset perseroan tetapi Aquarius dengan mengangkut LNG bisa menutupi potensi kerugian dari Lentera Bangsa itu,” katanya.

Dia optimistis, walau keadaan lumayan berat bagi perseroan dengan kehilangan satu kapal, namun tidak akan memberikan pengaruh bagi kinerja laba bersih yang diperediksi nominalnya sama dengan tahun lalu. Pada 2011, perseroan membukukan laba bersih sebesar 118 miliar rupiah.

“Kami memutuskan tidak membagi dividen pada tahun ini karena sebanyak 20 persen dari laba bersih akan dicadangkan sebagai laba ditahan 20 persen, sisanya untuk modal kerja dan investasi,” katanya.

Dikatakannya, perseroan pada tahun ini menganggarkan belanja modal sebesar 50 juta dollar AS  untuk peremajaan kapal, pengembangan segmen bisnis baru yaitu pengangkutan LNG serta mengembangkan lini bisnis yang sudah ada

Sumber dana untuk pengadaan belanja modal  akan diambilkan dari gabungan kas internal dan eksternal yaitu pinjaman perbankan.

“Komposisinya sekitar 70 persen dari kas internal dan 30 persen dari eksternal yaitu pinjaman bank. Hingga triwulan I 2012, perseroan telah menyerap dana hingga US$30 juta yang digunakan untuk pengembangan segmen bisnis baru yaitu pengangkutan LNG,” ujarnya.[dni]