Anak Usaha Telkom Bidik Keuntungan Rp 22,75 Miliar

JAKARTA–PT Finnet Indonesia (Fin@Net) membidik keuntungan sebesar 22,75 miliar rupiah hingga akhir 2012 atau tumbuh 75 persen dibandingkan 2011 sebesar 13 miliar rupiah.

Presiden Direktur Finnet Indonesia Walden R Bakara mengungkapkan, guna mencapai target keuntungan tersebut perseroan mengharapkan omset tumbuh sekitar 21 persen pada tahun ini.

“Pada 2011 Finnet mendapatkan omset 165 miliar rupiah. Tahun ini kita bidik 200 miliar rupiah. Sedangkan alokasi belanja modal sekitar 30 miliar rupiah yang banyak diserap untuk membangun aplikasi dan interface antara merchant dengan bank,” jelasnya di Jakarta, Rabu (30/5).

Diungkapkannya perseroan bergerak di bisnis penyediaan layanan solusi sistem transaksi pembayaran secara elektronik (e-payment) untuk segala keperluan transaksi pembayaran transaksi.

Finnet Indonesia bekerjasama dengan lebih dari 50 bank guna menyediakan layanan proses mengintegrasikan dan mentransformasikan semua entitas bisnis baik bank, billers atau merchant, regulator, agents, dan end user yang terlibat dalam transaksi finansial menjadi lebih sederhana dengan menggunakan switching Fin@Net.

“Kami sekarang menjadi platform e-payment dan juga memiliki portal belanja http://www.belanjakeinternet.com guna mendorong penggunaan produk Finpay sebagai layanan proses pembayaran yang ditujukan untuk bisnis online,” jelasnya.

Menurutnya, Finnpay adalah sistem pembayaran yang mudah serta aman bagi pembeli dan pebisnis.

Sistem ini memungkinkan transaksi secara online dari pembeli atau pelanggan dengan menggunakan berbagai cara pembayaran antara lain dengan kartu kredit, bank transfer secara elektronik melalui ATM, internet banking, mobile banking atau e-money seperti Mcmobilecash.

“Kita bidik ada satu juta transaksi terjadi di toko belanjakeinternet dengan finnpay melalui 1000 merchant. Saat ini kontribusi utama pemasukan perseroan masih Telkom grup seperti Telkomsel atau pelanggan telepon kabel. Itu hampir 80%, sisanya dari voucher prabayar PLN dan lainnya,” katanya.

Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengharapkan Finnet akan menjadi penyedia platform payment terbesar di Indonesia karena memiliki produk yang lengkap baik secara online atau offline.

“Perubahan teknologi membuat ekosistem berubah, begitu juga dengan metode pembayaran. Finnet akan menjadi pemain besar jika mampu mengoptimalkan pelanggan eksisting, baru, dan masa depan dengan membangun komunitas,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, praktisi telematika Bayu Samudiyo mengatakan, Telkom sudah memiliki lini produk yang banyak di bisnis internet.

“Pekerjaan rumah Telkom adalah membuat setiap produk itu tumbuh dan melakukan penetrasi di luar pasar Telkom Grup,” katanya.[Dni]

2013, Emiten Seluler Optimistis Catat BEP

JAKARTA– PT Smartfren Telecom Tbk (Smartfren) optimistis di akhir 2013 nanti akan mampu mencatat kinerja keuangan yang positif seiring kian kuatnya kontribusi jasa data bagi omset perseroan.

“Kami optimistis pada 2013 akan mencatat Break Even Point (BEP), jika semua rencana yang dibuat pada tahun ini berjalan mulus,” ungkap Deputy CEO Commercial Smartfren Djoko Tata Ibrahim di Jakarta, Rabu (30/5).

Diungkapkannya, rencana besar yang dimiliki perseroan pada tahun ini adalah bisa meraih omset sekitar dua hingga 2,5 triliun rupiah dimana jasa data berkontribusi 60-75 persen bagi total omset.

“Pada tahun lalu omset data baru berkontribusi 35% dengan jumlah pelanggan ratusan ribu nomor. Jika pendapatan terus  naik, sementara beban dapat dijaga flat pertumbuhannya. itu signifikan menekan bottom line perseroan,” jelasnya.

Menurutnya, mencetak omset dua kali lipat dibandingkan 2011 bukan merupakan pekerjaan berat melihat penjualan yang berhasil dilakukan perseroan belum lama ini.

Pasalnya, produk donggle atau modem Smartfren menguasai hampir 60 persen pangsa pasar. Tercatat, dari 10 ribu modem yang terjual, sekitar 6 ribu merupakan produk Smartfren.

Menurutnya, diminatinya donggle yang dijual Smartfren tak bisa dilepaskan dari paket berlangganan data yang terjangkau. Terbaru, perseroan melepas USB Modem EV-DO Rev B Phase 2 seri CE 81B seharga 399 ribu rupiah.

Belum lagi di layanan BlackBerry yang pada April lalu berjumlah 110-120 ribu pelanggan. “Sejak bulan lalu, setiap bulan ada sekitar 30 ribu pelanggan BlackBerry baru datang ke galeri Smartfren. Ini karena mereka mencari jaringan yang berkualitas,” katanya.

Dia optimistis, pengguna jasa data Smartfren hingga akhir tahun nanti bisa berjumlah sekitar 3,8 juta nomor melonjak dari posisi sekarang  1,8 juta nomor.

Lebih lanjut diungkapkannya, untuk menopang jasa data perseroan  berencana akan menambah 40 persen BTS dari jumlah yang ada saat ini, 4300 BTS.

Berikutnya, membangun serat optik untuk koneksi ke luar negeri bekerjasama dengan Moratel dengan rute Jawa-Bangka-Batam-Singapura yang menelan investai sekitar 20 juta dollar AS.

Sementara untuk rute Surabaya-Jakarta yang selama ini menjadi backhaul baru saja ditingkatkan kapasitasnya dari 5 Gbps menjadi 10 Gbps.

Terakhir, menggunakan solusi Netsnapper untuk membantu  optimize bandwidth dan memindahkan trafik kala padat (offloading)  ke ke Wifi.

Untuk diketahui, berdasarkan laporan keuangan perseroan pada otoritas bursa,  Smartfren mengalami kerugian bersih sebesar 533.430 miliar rupiah   pada kuartal pertama 2012 atau naik 89 persen dibandingkan periode sama 2011 sebesar  281.0477 miliar rupiah .

Namun, Smartfren masih mampu mempertahankan kinerja yang positif untuk omset dimana terjadi kenaikan 48% yakni   210 688 miliar rupiah  pada kuartal pertama 2011 menjadi  312.093 miliar rupiah di kuartal pertama 2012.

Sedangkan pada 2011, perseroan  mencetak kerugian  sebesar  2,4 triliun rupiah  atau naik 71% dibandingkan 2010 sebesar  1,4 triliun rupiah. Kerugian yang dialami oleh  Fren karena naiknya  beban usaha dan hutang.[Dni]

Merpati Tak akan Andalkan Pinjaman Pemerintah

JAKARTA—PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) tidak akan mengandalkan pinjaman dana dari pemerintah untuk selamat dari jurang kebangkrutan.

”Kami tidak akan meminta pinjaman kembali dari pemerintah. Cukup yang digelontorkan dulu. Sekarang Merpati akan berjuang untuk bangkit dan bisa mencatat keuangan positif pada Oktober 2012,” tegas Presiden Direktur Merpati Rudy Setyopurnomo di Jakarta, akhir pekan lalu.

Berdasarkan catatan, pada tahun ini Merpati mendapatkan dana dari pemerintah sebesar 296,47 miliar rupiah berupa Penyertaan Modal Negara (PMN). Tahun lalu pemerintah mencairkan dana penyertaan modal negara kepada Merpati sebesar  561 miliar rupiah

Diungkapkan Rudy, aksi yang dipersiapkannya untuk menjadikan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu kembali positif dari menderita kerugian tiga miliar rupiah setiap hari salah satunya  akan merestrukturisasi rute.

“Kemungkinan ada 10-20 persen rute yang akan ditutup karena merugi pada Juni nanti. Merpati mencatat 90% dari 124 rute yang diterbanginya merugi, atau hanya 12 rute yang memberi keuntungan,” jelasnya.

Diungkapkannya, dampak dari dibiarkannya rute yang merugi beroperasi,   pihaknya mencatat kerugian 350 miliar rupiah  pada kuartal I/2012, sedangkan pada akhir 2011,
tercatat rugi 750 miliar rupiah. Untuk itu pihaknya akan melakukan pemulihan biaya operasi dan bahan bakar dengan melakukan efisiensi.

“Tidak benar kalau alasan pada kuartal I biasanya maskapai mengalami musim sepi penumpang atau low seassion, karena pada Januari itu seharusnya mampu menghasilkan pendapatan yang tinggi karena masih musim liburan, untuk itu kami akan melakukan restrukturisasi rute. Masa rute Halim (Jakarta)-Bandung penumpangnya hanya 2 orang,”
kesalnya.

Lebih lanjut dikatakannya, selama melakukan restrukturisasi rute,   manajemen juga
akan menghentikan sementara pembelian pesawat, termasuk pesawat yang baru dipesan yakni pesawat jet ARJ 21-700 sebanyak 40 unit.

Sebelumnya, Direktur Utama Merpati yang lama Sardjono Jhony melakukan penandatangan memorandum of understanding (MoU) pembelian 40 pesawat jet ARJ 21-700 berkapasitas 100 tempat duduk buatan China senilai total1,2 miliar dollar AS.

“Perjanjian beli 40 pesawat ARJ itukan masih MoU, belum mengikat, dengan demikian masih bisa dihentikan, selain itu, pembelian itu tidak ada dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP,” tegas Rudy.

Ditambahkannya,  pihaknya akan fokus membenahi rute-rute yang ada dengan menggunakan pesawat yang tersedia, yakni 30 unit, dengan 10 diantaranya jenis jet.

“Tetapi, untuk pesawat yang akan datang dan sudah deal, akan tetap didatangkan karena sudah mengikat,” ucapnya.

Dia optimistis,   dengan pengalamannya membenahi sejumlah perusahaan di Indonesia, akan   mampu membawa Merpati untung operasional pada enam bulan pasca pengangkatannya sebagai dirut baru di Merpati.

“Enam bulan kedepan, dengan kerja keras dan doa, kami akan untung operasi, yakni Oktober 2012. Untuk itu kami perlu berbenah, termasuk merubah budaya kerja, melakukan tes IQ untuk karyawan yang selanjutnya akan menempatkan orang-orang yang tepat diposisinya. Akibatnya akan ada perombakan susunan organisasi termasuk jabatan direktur,” katanya.

Dijelaskannya,  pasca mencapai laba operasi, barulah kembali memikirkan untuk menambah armada termasuk menambah rute penerbangan, juga memberikan peningkatan kesejahteraan bagi karyawan.

”Saya memiliki target membawa Mepati menjadi pemain kedua besar untuk rute domestik. Kita akan melayani rute-rute pariwisata yang tak bisa dimasuki pesawat berbadan besar. Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah mendukung aksi ini,” katanya.[dni]

Merpati Kembali Rujuk dengan Garuda

JAKARTA–PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) akan lebih intensif menjalin kerjasama dengan salah satu pemegang sahamnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), baik dari sisi bisnis atau sumber daya manusia (SDM).

“GIAA adalah pemilik 10 persen saham Merpati. Kami tidak akan berkompetisi atau saling berhadapan dengan Garuda. Kita akan jalan beriringan,” ungkap President Director  Merpati Nusantara Rudy Setyopurnomo di Jakarta, Jumaat (25/5).

Dijelaskannya, aliansi dengan Garuda adalah langkah realistis yang dilakukan perseroan mengingat sumber daya yang dimiliki Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu sangat besar.

Misalnya, dari sisi SDM, para pilot Merpati yang ingin promosi menerbangkan pesawat tipe jet, akan ditawarkan ke Garuda yang membutuhkan pilot lokal.

“Para pilot Merpati hebat-hebat, sementara pesawat tipe jet hanya 10 unit. Bagi pilot menerbangkan pesawat jet itu satu kebanggaan,” jelasnya.

Sementara aliansi secara bisnis adalah menjadi feeder dari Garuda untuk rute-rute kota-kota kabupaten atau kecil yang tidak bisa dimasuki oleh pesawat besar.

“Kita akan bantu para turis yang dibawa Garuda ke Raja Ampat atau daerah-daerah wisata lainnya. Daerah-daerah itu biasanya dimasuki oleh pesawat kecil. Ini juga akan menyukseskan industri wisata lokal,” jelasnya.

Aliansi secara bisnis lainnya adalah membidik pekerjaan pemeliharaan pesawat yang dilakukan oleh anak usaha Garuda Indonesia, yakni Garuda Maintenance Facilities (GMFY).

“Merpati Maintenance Facilities (MMF) memiliki kompetensi memperbaiki pesawat tipe propeller dan jet. Belum lama ini MMF memiliki sertifikat dari European Aviation Safety Aagency (EASA). Nilai bisnis pemeliharaan pesawat itu di Indonesia 10 miliar dollar AS, GMF hanya menggarap 10 persen karena kurang kapasitas. Jika MMF dan GMF beraliansi tentu akan besar pasarnya,” katanya.

Rudy optimistis, hubungan manis antara kedua BUMN akan kembali terjadi karena dirinya sebelumnya lama menjadi eksekutif di Garuda Indonesia dan masakpai itu juga yang ikut mengangkat dirinya menggantikan Sardjono Jhonny pada pertengahan Mei 2012.

“Saya optimistis berbagai kerjasama itu akan terwujud. Bahkan ada wacana GIAA akan memberikan pesawat tipe ATR ke Merpati kok,” ungkapnya.

Lebih lanjut Rudy mengaku tetap optimistis laba operasi dari maskapainya akan positif pada Oktober 2012 atau enam bulan usai dirinya diangkat menjadi orang nomor satu di maskapai itu.

“Saya sudah siapkan banyak program yang dikemas dalam Patriotic Action. Pada tanggal 20 dan 21 Mei 2012, Merpati sudah mulai positif. Bayangkan sebelumnya setiap hari rugi 3 miliar,” jelasnya.

Untuk diketahui, pada 2011 Merpati mengalami rugi usaha 458 miliar rupiah, rugi bersih 745 miliar rupiah, dan negatif equity 2.791 triliun rupiah.
Sementara pendapatan usaha hanya 1,6 triliun rupiah, jauh dari target yang ditetapkan 3 triliun rupiah.

Hingga April 2012 Merpati mengalami kerugian 350 miliar rupiah.

Secara terpisah, Direktur Pemasaran Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengaku terbuka untuk bekerjasama dengan Merpati.

“Kita sambut gembira rencana itu,” katanya.

Sebelumnya, di era kepemimpinan Sardjono Jhonny, Merpati terkesan berkompetisi dengan GIAA, walaupun keduanya adalah BUMN transportasi.

Hal itu terlihat jelas kala Merpati ikut-ikutan membeli pesawat kelas Sub-100 dari China dengan merek ARJ 72-100,  setelah GIAA memborong 18 unit Bombardier kala Singapore Airshow Februari 2012.

“Kami belum ada rencana menambah pesawat, kecuali yang sudah deal atau akan datang 8 jet tahun ini. Tetapi kalau untuk tipe Sub 100 harus direview semua. Kemarin itu baru sebatas Memorandum of Understanding,” katanya.[Dni]

Indosat Utilisasi Pasar Korporasi

JAKARTA–PT Indosat Tbk (Indosat) tetap mengutilisasi pasar korporasi guna menjaga pertumbuhan omset menyamai industri yakni sekitar 5-6 persen hingga akhir tahun ini.

“Pasar korporasi di bawah direktorat  wholesale infrastructure tetap digenjot penjualannya tahun ini, meskipun penopang utama pendapatan masih dari jasa seluler di retail,” ungkap Director and Chief Wholesale Infrastructure Officer Fadzri Sentosa di Jakarta

Diungkapkannya, pada tahun lalu segmen korporasi mampu berkontribusi sebesar  25 persen bagi total omset. Dimana sumbangan utama berasal dari jasa Multimedia, Komunikasi Data, dan Internet (MIDi), disusul sambungan langsung internasional.

Berdasarkan catatan, Indosat pada 2011 meraih omset sebesar   sebesar  20.576,9 triliun rupiah  atau naik 3,9 persen dibandingkan 2010 sebesar 19.796,5 triliun rupiah.

Bisnis seluler dengan 51,7 juta pelanggan  membukukan omset 16.750,9 triliun rupiah  pada 2011 atau naik 4,5 persen dibandingkan 2010 sebesar  16.027 triliun rupiah.

Jasa MIDI meraup omset 2.576 triliun rupiah pada 2011 atau naik 4 persen dibandingkan 2010 2.476 triliun rupiah.

Dijelaskannya, salah satu cara untuk menggenjot pasar korporasi dengan menawarkan solusi cloud computing yang masuk sebagai bagian dari Value Added Services (VAS) untuk segmen korporasi.

Cloud Computing  adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dan pengembangan berbasis internet (awan) dimana informasi secara permanen tersimpan di server internet, dan sementara di komputer pengguna (client) termasuk pada desktop, komputer tablet, notebook, gadget dan lainnya.

“Secara industri VAS berbasis cloud computing tumbuh 40 persen. Kami membidik sama dengan itu,” katanya.

Diungkapkannya, perseroan memiliki infrastruktur berupa jaringan seluler untuk koneksi internet dan data center guna mendukung cloud computing. Data center di kantor pusat Indosat disiapkan seluas 1.000 meter, sementara Disaster Recovery Center (DRC) dengan tingkat okupansi 70 persen dimiliki seluas 2 ribu meter.

“Kami rencananya akan menambah kapasitas data center di kantor Indosat seluas 200 meter tahun ini. Investasinya sekitar satu juta dollar AS. vendornya Dimension data,” jelasnya.

Aksi  Telkom
Pada kesempatan sama Direktur IT Solution and Strategic Telkom Indra Utoyo mengungkapkan, perseroan telah terlebih dahulu mengembangkan inovasi cloud computing

“Pada tahun lalu Telkom berinvestasi sekitar 10 juta dolar AS untuk cloud computing. Pada tahun ini besaran investasi untuk cloud computing akan diseuaikan dengan tren bisnis. Jika diperlukan kita akan meningkatkannya,” kata Indra.

Menurut Indra, sejak resmi meluncurkan awal Juni 2011, layanan cloud computing Telkom sudah digunakan sejumlah Usaha Kecil Menengah dan korporasi (UKM).

“Kita memang menargetkan aplikasi layanan cloud untuk masuk ke pasar enterprise termasuk ke lembaga-lembaga pemerintah melalui program e-government,” ujarnya.

Ditegaskannya,  Telkom akan terus mengembangkan layanan ke ekosistem bisnis seperti perbankan, perindustrian, rumah sakit hingga koperasi.

“Saat ini sektor UKM dan perbankan mendominasi penggunaan cloud computing dengan aplikasi BPR-1 yang sudah diperkenalkan sejak tahun 2010,” ujarnya.

Menurutnya, solusi cloud banyak diaplikasikan pada sisi Enterprises Resources Planning (ERP), Customer Relationship Management (CRM), dan horizontal aplication.

“Kita memiliki semua platform tersebut yang disesuaikan dengan keinginan pengguna,” ujarnya.

Ditegaskannya, bisnis cloud computing di Indonesia sudah menunjukkan geliat yang lumayan besar cuma saja harus segera diikuti dengan regulasi karena inovasi ini menjadi penopang omset di segmen korporasi.

“Kita memperkirakan dalam 2-3 tahun ke depan nilai bisnis cloud computing di Indonesia akan semakin membesar, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan akan akses jaringan internet,” katanya.

Secara terpisah, Aktivis Indonesia Cloud Forum Teguh Prasetya mengatakan, cloud computing memang akan menjadi salah satu mesin pendapatan bagi operator di masa depan jika mampu membangun ekosistem secara bersama-sama.

“Operator tidak bisa hanya mengambil posisi sebagai penghantar data dalam menjual cloud computing. Model bisnis saling menguntungkan harus dicari secara bersama agar tidak hanya menjadi penonton,” katanya.[dni]

Icon+ Bidik Omset Tembus Rp 1 triliun

JAKARTA–PT Indonesia Comnets Plus (ICON+) membidik omsetnya bisa menembus angka lebih dari satur triliun rupiah hingga akhir tahun 2012 dengan agresif menggarap pasar korporasi.

“Pada 2011, ICON+ meraih pendapatan 700 miliar rupiah. Tahun ini kita harapkan pertumbuhan omset sebesar 50 persen sehingga berhasil menembus sekitar 1,050 triliun rupiah,” ungkap Presiden Director ICON+, M Danny Buldansyah di Jakarta, Kamis (24/5).

Diungkapkannya, guna mencapai target tersebut perseroan terus berbenah diri dengan lebih serius menggarap pasar korporasi diluar melayani solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari  induk perusahaan, PT PLN (Persero).

“Saat ini perseroan telah melayani lebih dari 920 perusahaan di Indonesia. Perusahaan itu termasuk perusahaan 110 telekomunikasi, 70 perbankan serta sektor keuangan, pemerintahan dan manufaktur,” ungkapnya.

Dijelaskannya, komposisi penopang omset perseroan pada tahun lalu adalah dari induk perusahaan sebesar 40 persen, sedangkan dari pasar korporasi di luar PLN sisanya.

“Perusahaan ini didirikan memang untuk melayani solusi TIK bagi PLN, tetapi kita juga tidak mau kapasitas dari infrastruktur yang ada menjadi sia-sia. Dan pemanfaatan kapasitas dengan melayani pasar non PLN justru memberikan dampak positif. Buktinya pada 2011 keuntungan ICON + mencapai 50 miliar rupiah dengan Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) margin sekitar 30 persen,” katanya.

Diungkapkannnya, pada tahun ini perseroan mengalokasikan dana sekitar 600 miliar rupiah untuk membangun serat optik di Sulawesi, Sumatera, dan meningkatkan performa dari infrastruktur yang sudah ada. Pendanaan berasal dari kas internal dan pinjaman induk usaha, khususnya untuk proyek pengadaan bagi PLN.

“Kami memiliki serat optik sepanjang hampir 89.000 km di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Kalimantan. Tetapi baru menguasai 10 persen pangsa pasar jasa data komunikasi untuk pasar korporasi. Ini artinya kita belum  optimal, karena itu pada tahun ini akan didorong lebih agresif,” katanya.

Dikatakannya,  salah satu strategi untuk lebih agresif adalah  menyediakan layanan yang selelu siap dengan down time minimal sehingga memenuhi service level agreement, ICON+ didukung oleh SDM yang berkompeten dan jaringan

“Kami punya keunggulan dalam soal pemasangan jika bicara infrastruktur dengan right of way karena tiang listrik milik PLN tinggal dipasang serat optik. Apalagi harga kita terjangkau, sehingga tidak minder untuk bersaing dengan pemain besar,” tegasnya.[dni]

Garuda Incar 9 juta Anggota Accor Hotel

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) meningcar sembilan juta anggota Accor Hotels di kawasan Asia Pasifik melalui kerjasama kemitraan global antara kedua perusahaan yang ditandatangani pada Rabu (23/5).

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar  mengatakan kerjasama kemitraan global dengan Accor Group sebagai pemilik  memiliki jaringan hotel yang sangat luas sebagai upaya perseroan untuk secara terus menerus meningkatkan layanan kepada para pengguna jasa, serta untuk menjadi pemain global.

”Anggota Accor Hotels yang tercantum dalam websitenya sudah 9 juta di Asia Pasifik. Nah, inilah yang kami sasar untuk menggunakan Garuda sebagai transportasi udaranya untuk terbang ke destinasi-destinasi di seluruh dunia,” katanya di Jakarta Rabu (23/5).

Dijelaskannya, sejalan dengan transformasi bisnis yang dilaksanakan, maka Garuda secara intensif terus melakukan sinergi dengan institusi internasional untuk mengembangkan pangsa pasarnya.

”Kami berterima kasih kepada Accor Group, karena selain akan memberikan benefit (manfaat) bagi pengguna  jasa kedua perusahaan, kerjasama ini juga tentunya akan semakin meningkatkan pangsa pasar Garuda di Internasional. Kru Garuda akan menggunakan jaringan hotel Accor sehingga akan menghemat biaya,” jelasnya.

Menurutnya, dengan ditandatanganinya kerjasama yang berlaku di seluruh destinasi dan jaringan Garuda Indonesia dan Accor ini, maka para penumpang Garuda yang menggunakan fasilitas Accor Group dan tamu Accor Group yang terbang dengan Garuda akan mendapatkan discount khusus sebesar 10 persen,  baik untuk harga tiket pesawat Garuda maupun untuk harga kamar di setiap hotel Accor Group melalui website Accor Hotel yakni http://www.accorhotels.com/garuda.

Kerjasama ini juga meliputi pemberian harga khusus di hotel-hotel Accor Group di seluruh dunia anggota Garuda Frequent Flyer (GFF) melalui http://www.accorhotels.com/gff, serta bagi para pegawai Garuda Indonesia Group.

“Garuda Indonesia juga memiliki 600.000 pemegang kartu GFF. GFF ini berkontribusi 10%-15% terhadap penjualan Garuda, karena dalam setahun rata-rata terbang 3-4 kali,” kata Emirsyah.

Direktur Utama PT Accor Asia Pacific Corporation (AAPC) Indonesia Gerard Guillouet mengakui Garuda Indonesia merupakan mitra Accor yang telah bekerja sama selama bertahun-tahun.

”Kami sangat antusias untuk melanjutkan kemitraan strategis dengan Garuda Indonesia, tidak hanya untuk loyalty programs, namun juga untuk mengembangkan program kemitraan korporat yang lebih erat. Salah satu elemen penting dalam kemitraan kami yang baru ini adalah komitmen Accor untuk memastikan tersedianya akomodasi bagi para awak pesawat serta penumpang Garuda Indonesia di seluruh hotel-hotel jaringan Accor,” tuturnya.[dni]

Emiten Transportasi Bidik Omset Tumbuh 17,21%

JAKARTA—PT Samudera Indonesia Tbk ( Samudera Indonesia) membidik pertumbuhan omset sebesar 17,21 persen pada tahun ini atau mencapai 6 triliun rupiah dari posisi akhir 2011 sekitar 5,119 triliun rupiah.

“Pada tahun lalu omset Samudera Indonesia 5,119 triliun atau tumbuh 18,2 persen dibandingkan 2010 sekitar 4.33 triliun rupiah. Kita optimistis pada tahun ini bisa meraih sekitar enam triliun atau sama dengan umur saya sekarang,” ungkap Direktur Utama Samudera Indonesia Masli Mulia di Jakarta, Selasa (22/5).

Diungkapkannya, kenaikan pendapatan pada 2011 tak bisa dilepaskan dari bergeraknya bisnis inti perseroan yaitu pelayaran, logistic, dan terminal. “Hampir 50% omset dipasok dari bisnis pelayaran. Sementara terminal 15% dan keagenan 15%,” ungkapnya.

Dikatakannya, untuk laba yang diraih perseroan selama 2011 sebesar 97,9% atau tumbuh 44,6 persen dibandingkan 2010 sekitar 67,7 miliar rupiah. “Bottom line perseroan tertekan oleh beban jasa, usaha, dan lain-lain. Akhirnya margin yang didapat kecil,” jelasnya.

Namun, perseroan tetap membagikan dividen bagi pemegang saham sekitar 32% dari laba bersih yakni sekitar 31.32 miliar rupiah dengan nilai saham per lembar 200 rupiah. Angka itu naik dari 2010 yang 160 rupiah per lembar saham.

“Kita mencadangkan sisa laba bersih sebagian untuk membayar hutang  dan digunakan sebagai modal kerja,” katanya.

Wakil Direktur Utama Samudera Indonesia Torkis David Parlaungan Batubara mengungkapkan, perseroan pada tahun ini akan lebih fokus ke pasar domestic karena kondisi pasar regional masih tidak menentu. “Krisis  di Amerika Serikat dan Eropa belum selesai. Selain itu, harga minyak sebagai kebutuhan utama transportasi terus naik. Kami harus fokus dalam investasi agar pertumbuhan terus terjaga,” katanya.

Diprediksinya pasar regional tetap akan memasok sebesar 40% bagi pendapatan perseroan tahun ini, sedangkan pasar domestic 30%, dan sisanya dari jasa logistic. “Jika pada tahun lalu kami menetapkan belanja modal sebesar 900 miliar rupiah, maka tahun ini kita tidak berani menetapkan nilai  investasi. Jika pun ada yang kita lakukan adalah memprioritaskan infrastruktur dan utilisasi secara maksimal. Untuk investasi akan sangat selektif,” jelasnya.[dni]

Q1, Keuntungan Pelindo II Naik 45,9%

JAKARTA –  PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) berhasil membukukan keuntungan sebesar 513 miliar rupiah selama kuartal I-2012 atau  naik 45,9% dibanding periode yang sama tahun lalu, sebesar 351 miliar rupiah.

Direktur Utama Pelindo II RJ Lino menjelaskan naiknya keuntungan perseroan selama kuartal I-2012 tak bisa dilepaskan dari  pendapatan sebesar 1.269 triliun rupiah  pada triwulan pertama tahun 2012. Angka ini lebih tinggi 42% dibanding periode yang sama tahun lalu, sebesar 894 miliar rupiah.

“Kinerja Pelindo II sangat memuaskan selama kuartal pertama tahun 2012,” katanya di Jakarta, Selasa (22/5).

Diungkapkannya, pendapatan perusahaan diperoleh dari pendapatan jasa kapal, jasa barang, pengusahaan alat, pelayanan terminal, pelayanan terminal peti kemas, pengusahaan TBAL, fasilitas rupa-rupa, dan kerjasama dengan mitra usaha.

Dikatakannya, dalam triwulan pertama 2012, IPC menanamkan investasi sebesar 357 miliar rupiah. Angka ini sendiri baru menyerap 8,32% anggaran investasi 2012 sebesar 4,3 triliun rupiah.

Beberapa investasi yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok adalah penguatan dan pemasangan rel gantry luffing crane dan pekerjaan pembangunan lapangan peti kemas. Di luar Pelabuhan Tanjung Priok, IPC melakukan investasi seperti perbaikan besar-besaran pada Pelabuhan Pontianak, pengerukan pelabuhan Banten dan Bengkulu, serta pembangunan stock pile batu bara di Pelabuhan Jambi.

Perusahaan juga menambah dua puluh tujuh cranes di 5 (lima) pelabuhan untuk mempercepat  proses bongkar muat barang. Investasi tersebut masih ditambah dengan pengadaan 8 (delapan) kapal yang mendukung operasional pelabuhan-pelabuhan yang dikelola oleh IPC. Untuk pengembangan sumber daya manusia, IPC terus melaksanakan program pasca sarjana luar negeri atas biaya perusahaan yang teranggarkan hingga Rp576,05 miliar. Perubahan logo pun diikuti oleh penyusunan roadmap dan implementasi corporate restructuring sehingga perbaikan layanan benar-benar terlaksana secara menyeluruh.
“Investasi besar yang kami lakukan, bertujuan untuk memperbaiki seluruh layanan pelabuhan. Jika  layanan pelabuhan baik, kapal-kapal besar mau dan pasti datang  di pelabuhan-pelabuhan yang dikelola IPC. Itu akan mengurangi biaya logistik di Indonesia, meng-energize perdagangan dan roda ekonomi!” tegasnya.

Dari segi pelayanan peti kemas, Pelabuhan Tanjung Priok melayani 1,4 juta TEUs kontainer atau mencapai 93% dari seluruh kontainer yang dilayani oleh pelabuhan-pelabuhan di bawah pengelolaan IPC. Angka tersebut juga menunjukkan kenaikan layanan Tanjung Priok sebesar 13,6% dibanding tahun lalu.

Pada triwulan pertama 2012, perusahaan juga telah memulai kajian pembentukan 9 (sembilan) anak perusahaan, yang pembentukannya akan dilaksanakan bertahap dalam 5 (lima) prioritas.

Selain itu, IPC pun semakin mengintensifkan penggunaan information communication and technology (ICT) untuk mempercepat terkoneksinya sistem kepelabuhan. Setelah sebelumnya diterapkan di 4 (empat) pelabuhan, IPC mulai menerapkan pembangunan aplikasi car terminal dan TPK Teluk Bayur.

“Aplikasi ini memungkinkan pemilik kapal dan pemilik barang mengetahui jadwal sandar kapal serta bongkar muat barang, sehingga proses logistik di pelabuhan dapat menjadi lebih efisien,”katanya.[dni]

Telkom Investasi Rp 3 triliun Demi Satu Juta Titik WiFi

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengalokasikan investasi sekitar tiga triliun rupiah untuk membangun satu juta titik WiFi guna mendukung bisnis Information, Media, dan Edutainment (IME).

“Proyek membangun satu juta titik WiFi ini dimulai pada tahun ini. Lelang akan dilakukan dimana dari 19 peserta sudah 7 yang lolos,” ungkap EGM Telkom Multimedia Joddy Hernandy di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, para peserta yang sudah lolos dan akan ditentukan pemenang tender tak lama lagi diantaranya Cisco, Ruckus, Bellair, dan HP. “Proyek ini akan selesai empat tahun dari sekarang atau sekitar 2016,” ungkapnya.

Direktur IT Solution & Strategic Telkom Indra Utoyo menambahkan, pada tahun ini perseroan membidik ada 50 ribu titik WiFi yang selesai dibangun. “Itu anggarannya sekitar  285 miliar rupiah, dimana didalamnya sudah termasuk  mengembangkan konten, aplikasi, dan  membangun 50 ribu titik WiFi,” jelasnya.

Menurutnya, Telkom dalam membangun ekosistem bisnis IME berbasiskan pada Device, network, dan Application (DNA). “Kita harus bisa memberikan konten yang multi play (telephone, internet, dan video) di multi screen  yakni ponsel, desktop, dan televisi. Membangun akses WiFi sebagai salah satu cara mendukung ekosistem itu.,” katanya.

Dikatakannya,  Telkom dalam melihat bisnis IME juga mengapresiasi shadow revunue yang dihasilkan jasa ini guna mendukung bisnis akses. Hal itu sudah dipertunjukkan anak usaha, Telkom Sigma yang bisa memberikan multiplier effect 4,8 kali bagi omset Telkom grup pada 2010 dan 6,3 kali di kuartal pertama 2011.

“Pada 2011 bisnis IME berkontribusi sekitar 9% bagi total omset perseroan dan mengalami pertumbuhan di atas rata-rata industri. Pada 2015, IME diharapkan  bisa berkontribusi 15% bagi total omset,” katanya.[dni]