Waspadai Apresiasi Dollar AS

Pergerakan mata uang dollar AS yang terus menunjukkan penguatan terhadap Rupiah patut diwaspadai oleh pelaku usaha, terutama bagi yang banyak mengandalkan  transaksi atau pendanaan dengan dollar AS.

Pada akhir pekan lalu posisi satu dollar AS setara dengan 9.239 rupiah. Jika dirujuk pada seminggu terakhir bulan April, nilai tukar rupiah   mengalami kondisi yang stagnan.  Jelang tutup April Rupiah bergerak tipis di posisi  9.183 rupiah  dipicu oleh intervensi Bank Indonesia di pasar uang.

Sedangkan pada awal Mei ini hal yang memicu terpuruknya rupiah adalah  kekhawatiran terhadap pertumbuhan global dimana menjelang keluarnya data tenaga kerja dan angka pengangguran AS yang diperkirakan mengecewakan membuat pelaku pasar melepas portofolio asetnya dalam mata uang yang dianggap berisiko tinggi di pasar berkembang, seperti rupiah dan mata uang regional lainnya. Imbasnya, bursa dan mata uang Asia kembali terdepreasi terhadap dolar AS.

Secara keseluruhan menguatnya dollar sejak kuartal pertama 2012 tak bisa dilepaskan dari masih belum menentunya kondisi perekonomian di Eropa. Sedangkan di dalam negeri  kebijakan pemerintah terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih mengambang membuat Rupiah menari-nari memicu jantung berdegup kencang.
 

Pengamat pasar uang dari Monex Investindo Futures  Yohanes Ginting mengungkapkan ekonomi yang mulai mengalami kontraksi, melambatnya aktivitas manufaktur kawasan Eropa, serta sinyal perlambatan ekonomi AS membuat para pelaku pasar kembali memburu mata uang yang dianggap aman, yakni dolar AS dan yen Jepang.

Diduganya, jika pun terjadi penguatan rupiah tak bisa dilepaskan dari Bank Indonesia yang selalu konsisten di pasar untuk menjaga mata uangnya agar tidak berfluktuasi terlalu tajam mampu meredam pelemahan rupiah lebih dalam.  

Analis dari Indosurya Asset Management Reza Priyambada menyarankan pelaku usaha untuk mewaspadai apresiasi dollar AS selama kuartal kedua 2012 karena akan berpengaruh pada bottom line perseroan.

“Pelaku usaha seperti di telekomunikasi harus mewaspadai melemahnya rupiah. Kondisi di kuartal pertama jangan terulang dimana bottom line banyak terpukul karena apresiasi dollar AS,” katanya.

Berdasarkan catatan, dua operator besar terhantam oleh apresiasi dollar AS kinerjanya. Laba  Indosat mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I/2012 dari posisi  483,7 miliar rupiah pada kuartal I/2011 menjadi  16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini.

Penurunan laba terjadi karena menguatnya (Apresiasi) nilai tukar dollar Amerika Serikat sehingga walau terjadi pertumbuhan pendapatan tak mampu menutupi penurunan. Indosat memiliki transaksi dengan dollar AS yakni dalam menjual Sambungan Langsung Internasional (SLI), tetapi anak usaha Qatar Telecom (Qtel) ini banyak juga berhutang dan berinvestasi menggunakan dollar AS.
 
Kondisi yang sama juga terjadi di XL. Anak usaha Axiata ini menderita penurunan laba bersih 11% di triwulan I-2012, menjadi 667,207 miliar rupiah dari tahun sebelumnya dengan periode yang sama  756,052 miliar rupiah.

Turunnya kinerja laba XL tak bisa dilepaskan juga  dari kerugian nilai tukar mata uang asing karena terapresiasinya dollar AS. Apalagi, beban operasional mengalami kenaikan  terutama pada biaya infrastruktur yang biasanya dalam dollar AS naik hingga 33% di kuartal I/2012 dari  918 miliar rupiah  menjadi  1,216 triliun rupiah.
 
Disarankan Reza, operator   melakukan lindung nilai (Hedging) untuk setiap transaksi yang melibatkan dollar AS. ”Ini bisa melindungi dari kerugian jika dollar AS menguat seperti kuartal pertama lalu. Apalagi tren penguatan dollar AS ini berlanjut ke kuartal kedua 2012,” sarannya.

Menurutnya, jika operator melakukan Hedging akan menguntungkan karena nilai dollar AS dipatok di angka tertentu kala transaksi dilakukan, ketimbang mengandalkan nilai pasar. ”Jika ada potensi kerugian itu kalau salah hitung dalam angka hedging. Tetapi jika semua aspek dihitung dengan tepat, tidak akan meleset,” jelasnya.

Masih menurutnya, pertumbuhan industri telekomunikasi pada kuartal kedua tak akan jauh berbeda dengan kuartal pertama 2012 karena kondisi pasar yang sudah jenuh. ”Operator mengandalkan pertumbuhan dari segmen komunitas dan jasa data. Kalau membuka pasar baru rasanya tidak ada yang mau beresiko tinggi karena nilai investasinya besar,” katanya.[dni]
 
 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s