2013, Indosat Kembali Jual Menara

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) berencana kembali menjual menara sebagai bagian dari upaya perseroan mendapatkan dana segar dan efisiensi operasional.

 

“Untuk 2012, Indosat fokus menyelesaikan transaksi penjualan 2.500 menara dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Kemungkinan pada tahun depan akan dilakukan lelang untuk penjualan menara Indosat yang berpotensi dilepas ke peminat aset tersebut. Kami memiliki sekitar 10-12 ribu menara yang siap dijual,” ungkap Direktur Keuangan Indosat Curt Stefan Carlsson usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Indosat di Jakarta, Senin (14/5).

 

Ditegaskannya, dalam penjualan tahap kedua tersebut, belum tentu TBIG menjadi preferred buyer karena lelang menyesuaikan dengan kondisi pada tahun depan.

 

“Kita akan mengevaluasi nilai tambah yang diberikan calon penawar dan faktor penentu lainnya. Urusan dengan TBIG untuk 2.500 menara, sedangkan sisa menara yang akan dilepas pada 2013 itu komitmen berbeda. Bisa saja TBIG kembali memenangkan lelang tersebut, bisa juga pihak lain,” katanya.

 

Menurutnya, penjualan aset tersebut akan menentukan kinerja dari bottom line perseroan tidak hanya pada tahun ini, tetapi juga tahun depan. “Jika transaksi dengan TBIG untuk 2.500 menara itu bisa diselesaikan pada kuartal kedua atau awal kuartal ketiga,  akan mengangkat kinerja dari bottom line perseroan,” ungkapnya.

 

Untuk diketahui, pembelian menara Indosat dilakukan oleh  anak usaha TBIG, PT Solusi Menara Indonesia (SMI) seharga US$ 518,5 juta.

 

Dari nilai tersebut, sekitar US$ 406 juta merupakan harga pembelian menara telekomunikasi termasuk pengambilalihan hak dan kewajiban Indosat berdasarkan kontrak sewa menyewa tempat pada menara telekomunikasi tersebut.

 

Sementara sebesar US$ 112,5 juta  merupakan klaim kontijen jika tercapai kondisi dan persyaratan seperti tertera dalam asset purchase management.

 

SMI akan melakukan pembayaran atas US$ 406 juta dengan menebitkan surat utang (promissory notes) senilai  Rp 661,2 miliar. TBIG  akan mengambil alih kewajiban SMI tersebut (Rp 661,2 miliar) dengan menebitkan surat utang wajib konversi yang akan dilego ke Indosat.

 

Pada saat bersamaan, Indosat akan menukarkan surat utang wajib konversi tersebut dengan jumlah saham 239,8 juta saham. Tower Bersama akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement.

 

TBIG sendiri masih berminat untuk menuntaskan pembelian menara Indosat, minimal mencapai 4 ribu unit sesuai dengan kajian awal kala penjajakan dilakukan.

 

Proyeksi

Lebih lanjut Stefan mengungkapkan, perseroan pada tahun ini mencadangkan belanja modal sekitar 700 juta dollar AS, dimana sumber pendanaan berasal dari kas internal, pinjaman, dan penerbitan obligasi.

 

“Acuannya bisa naik 10 persen dari belanja modal tahun lalu sebesar 6 triliun rupiah. Untuk penerbitan obligasi obligasi dan sukuk ijarah telah diajukan dengan maksimum penerbitan masing–masing  2,5 triliun rupiah  dan  500 miliar rupiah, sekarang dalam tahap persiapan, kita harapkan bisa segera terealisasi,” katanya.

 

Sementara untuk target pertumbuhan pendapatan pada tahun ini diharapkan sama dengan industri yakni sebesar 5-6 persen dengan Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) di kisaran 46-48 persen.

 

Sedangkan strategi untuk menghindari rugi atas transaksi yang melibatkan dollar AS, ditetapkan nilai lindung (hedging) sebesar 25 persen dari transaksi. “Kami tidak ingin terlalu  besar melakukan hedging karena 50 persen belanja modal berasal dari dollar AS, sementara hutang 40 persen juga menggunakan mata uang yang sama,” jelasnya.

 

Untuk diketahui, laba  Indosat  mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I-2012 dari posisi  483,7 miliar rupiah pada kuartal I-2011 menjadi 16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini karena rugi kurs.

 

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko Tirtojondro menambahkan, perseroan akan terus melakukan efisiensi dan memfokuskan anak usaha guna mendukung bisnis inti yakni seluler yang menjadi penopang utama pendapatan.

 

“Anak usaha Indosat Mega Media (IM2) yang berjualan produk data difokuskan kepada inovasi, sementara produknya ditarik ke Indosat. Lintas Arta sekarang lebih difokuskan untuk pasar korporasi,” katanya.

 

Harry optimistis pada 2012 perseroan akan lebih agresif menggarap pasar seluler dengan masuknya mantan Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menjadi Direktur Pemasaran dan Chief Marketing Officer Indosat menggantikan Lazlo Imre Brata.

 

“Masuknya Erik akan memperkuat posisi Indosat sebagai pemain kedua terbesar di pasar seluler Indonesia,” katanya.

 

Berkaitan dengan pembagian dari dividen, Harry mengungkapkan,  alokasi penggunaan laba bersih tahun buku yang berakhir 31 Desember 2011 untuk dividen sebesar  76,83  rupiah per saham, dengan dividen pay out ratio sebesar 50% dan sisa untuk re-investasi dan modal kerja.

 

Indosat pada 2011 membukukan laba bersih sebesar 835 miliar rupiah, hal ini berarti dividen yang dibagikan mencapai 417,5 miliar rupiah.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s