Dnet Bidik Omset Tumbuh 11%

JAKARTA—PT Dyviacom Intrabumi Tbk (Dnet) membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 11 persen pada 2012 atau mencetak omset sekitar 20 miliar rupiah dari 18.371 miliar rupiah pada 2011.

“Kita mengalokasikan belanja modal untuk 2012 sebesar 600 juta rupiah atau naik 20 persen ketimbang 2011 sebesar 500 juta rupiah. Belanja modal akan banyak terserap untuk mengembangkan bisnis solusi Teknologi Informasi (TI) karena menjadi penopang omset pada 2011 sebesar 60 persen. Bisnis Penyedia Jasa Internet (PJI) hanya berkontribusi 30 persen bagi total omset,” ungkap Direktur Dyviacom Intrabumi Devi S Talim di Jakarta, akhir pekan lalu.

Diungkapkannya, pada 2011  Dnet berhasil meraih keuntungan sebesar 694.104 juta rupiah atau tumbuh 58 persen dibandingkan 2010 sebesar 439.264 juta rupiah.

Sedangkan pendapatan pada 2011  tumbuh  sebesar 11,85 %, naik dari 16.425 miliar  pada akhir tahun 2010 menjadi  18.371 miliar rupiah pada akhir 2011. Pertumbuhan pendapatan paling besar disebabkan oleh bisnis IT Solution yang tumbuh dari  15.653 miliar rupiah pada akhir tahun 2010 menjadi  17.088 miliar rupiah pada akhir tahun 2011 atau naik 9,16% .

Laba sebelum pajak pada 2011 juga meningkat dari  609.850 juta rupiah   pada akhir tahun 2010 menjadi 969.667 juta rupiah pada akhir tahun 2011 atau meningkat sebesar 59%. Peningkatan Laba Sebelum

Pajak disebabkan karena penurunan beban usaha. Pada 2011, perseroan memilih untuk menggunakan tenaga professional, sehingga pada tahun 2011 ini tidak ada lagi biaya outsourcing seperti  2010 yaitu sebesar 322.756 juta rupiah.

Diungkapkannya, untuk menjaga kestabilan kinerja operasional, perseroan masih terus menggunakan Bridging Loan dari pemegang saham mayoritas PT Philadel Terra Lestari sebesar  1.359 miliar rupiah.

“Langkah ini masih terus dilanjutkan untuk memberi kesempatan kepada proyek-proyek ICT yang sedang dikembangkan, diuji coba, diimplementasikan dan dipasarkan sehingga dapat menghasilkan pendapatan bagi perseroan,” katanya.

Kembangkan Portal

Lebih lanjut Devi mengungkapkan, pada tahun ini akan semakin agresif mengembangkan portal ogahrugi.com yang bermain di segmen daily deal dan vivaioinc.com sebagai alat untuk bermain di digital marketing.

“Vivaionic digunakan untuk membidik segmen korporasi. Saat ini sudah ada 4 perusahaan yang menjadi klien dan ditargetkan menjadi 12 perusahaan pada akhir 2012. Sementara Ogahrugi.com sudha memiliki 850 merchant dimana dalam sehari ada merchant melakukan aktivitas daily deal,” ungkapnya.

Dikatakannya,  di bisnis aplikasi, Dnet sudah  mengembangkan produk aplikasi mini ERP (Enterprise Resources Planning) untuk bisnis distribusi dan retailer yang berbasis teknologi cloud computing.

Sementara untuk bisnis PJI, Dnet terus meningkatkan  layanan Manajemen Infrastruktur seperti manajemen Bandwidth, Load Balancing, Fail Over, VPN serta Traffic monitoring dengan terus meningkatkan kapasitas Bandwith, POP serta manajemen redundant POP dengan koneksi wireless dan fibre optik.[dni]

 

Telkom Bangkit di Kuartal I/2012

JAKARTA– PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) menunjukkan sinyal kebangkitan pada kuartal pertama 2012 dengan berhasil mengalami pertumbuhan dobel digit pada kinerja bottom line.

“Pencapaian Telkom selama kuartal pertama 2012  sangat menggembirakan karena di tengah-tengah kompetisi yang sangat ketat, perseroan masih mampu membukukan laba bersih dengan pertumbuhan yang signifikan”, ujar Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Kamis (26/4).

Diungkapkannya, pada triwulan I/2012 Telkom berhasil membukukan laba bersih sebesar  3,32  triliun rupiah atau tumbuh sebesar 17,50% dibanding periode sama tahun lalu sebesar 2,828 triliun rupiah.

Sedangkan pendapatan operasi mencapai 17,8 triliun rupiah atau tumbuh sebesar 6,50% dibanding periode sama tahun lalu sebesar 16,706 triliun rupiah.

Earning Before Interests, Taxes, Depreciation and Amortization (EBITDA)   tumbuh 11,40% menjadi Rp 9,62 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011 sebesar 8,642 triliun rupiah. Margin EBITDA Triwulan 1/2012 54,10% atau tumbuh  2,40% dibandingkan tahun lalu sebesar 51,70%.

Dijelaskannya, pendapatan operasi  Triwulan I/2012 dikontribusi oleh bisnis seluler  sebesar 7,20 triliun rupiah atau tumbuh 6,50% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 6,754.8 triliun.

Interkoneksi 876 miliar rupiah atau tumbuh 3,50 dibandingkan periode sama tahun lalu sebsar 846.1 miliar. Data, Internet dan IT sekitar  6,12 triliun rupiah atau tumbuh 12,20 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar5,451.9 triliun rupiah.

Pendapatan fixed line  mencapai 2,81 triliun rupiah atau turun 4,30% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 2,929.6 triliun rupiah. “Penurunan tersebut lebih baik dibanding penurunan 2011 sebesar 11,40%. Ini  merupakan sinyal bahwa program retensi perseroan terhadap pelanggan fixed line menunjukkan hasil yang positif. Selain itu jumlah pelanggan fixed line tumbuh menjadi 8,69 juta atau 4,20%, artinya minat masyarakat terhadap telepon kabel mulai meningkat kembali,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya,  dalam persaingan yang sangat tajam, salah satu tantangan besar adalah bagaimana perseroan mengelola biaya.

Dikatakannya, pada Triwulan I/2012, cash operating expenses Telkom mencapai 8,17 triliun atau rupiah atau tumbuh 1,40% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 7,5 triliun rupiah. Angka ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 6,50%.

Pencapaian ini berhasil dilakukan sehubungan dengan telah diterapkannya program cost optimization dan quality assurance initiatives, antara lain sentralisasi outsourcing, pensiun dini sukarela, optimalisasi properti/aset, optimalisasi collection fee, pengelolaan travel management system.

Program lain cost optimization adalah, inovasi teknologi salah satunya modernisasi jaringan akses dari kabel tembaga ke optik, sentralisasi pengelolaan kendaraan bermotor (KBM) dan bahan bakar minyak (BBM), implementasi green energy dengan mengganti freon air conditioner dengan retrofit hydrocarbon bekerjasama dengan Pertamina dan beberapa program lain yang menguatkan kepada sinergi TelkomGroup maupun BUMN.

“Meskipun program cost optimization ini baru dilaksanakan secara konsisten sekitar setahun, kami gembira karena telah memberikan hasil yang positif. Tentu program ini akan berlanjut karena efisiensi dan efektivitas dengan  sasaran yang tepat merupakan kebutuhan perusahaan modern”, jelasnya.

Anak Usaha

Berkaitan dengan kinerja dari anak usaha, Rinaldi menjelaskan, Telkomsel sebagai bagian dari TelkomGroup, pada triwulan I/2012   menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Pendapatan Telkomsel mencapai 12,30 triliun rupiah atau tumbuh 9 % dibandingkan Triwulan I/2011 sebsar 11,297 triliun rupiah. sedangkan laba bersihnya mencapai 3,51 triliun rupiah atau tumbuh 23% dibandingkan periode sama tahun lalu . EBITDA mencapai 7,08 triliun rupiah atau tumbuh 13,30% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar  6,245 triliun rupiah dengan margin 57,50%.

“Anak Perusahaan lainnya yang bergerak dalam bisnis telecommunication, information, media dan edutainment (TIME) seperti Mitratel, MetraGroup, TelkomVision, PINS, GSD juga menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang menjanjikan sebesar 55,40% meskipun secara nominal kontribusinya belum besar”, jelasnya.

Jumlah Pelanggan

Seiring dengan pertumbuhan pendapatan dan laba perseroan, jumlah pelanggan telephony juga terus bertambah: pelanggan Seluler (Telkomsel) mencapai 109,88 juta atau tumbuh 10,60%; Pelanggan wire line mencapai 8,69 juta atau tumbuh 4,20%; Pelanggan Flexi mencapai 15,12 juta atau turun 19,20%.

“Penurunan pelanggan yang dialami Flexi  karena Telkom  memang melakukan terminasi terhadap pelanggan tidak produktif yang dievaluasi secara berkala,” katanya.

Ditegaskannya, dalam rangka meningkatkan kualitas layanan Flexi maka pada Oktober 2011, Telkom menggelar layanan broadband mobile dengan teknologi Evolution Data Optimized (EVDO) yang mendapat sambutan positif dari pelanggan. Dalam kurun waktu sekitar tiga bulan hingga Maret 2012 tersebut, jumlah pelanggan EVDO sudah mencapai 103 ribu.

Sementara itu, jumlah pelanggan broadband mencapai 10,47 juta atau tumbuh 35,90% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pelanggan mobile broadband (Flash) mencapai 5,24 juta atau tumbuh 20,90%, pelanggan fixed broadband (Speedy) mencapai 1,88 juta atau tumbuh 5,20%, pelanggan Blackberry mencapai 3,35 juta atau tumbuh 111,90%.

“Kami yakin TelkomGroup sudah mulai bangkit karena transformasi perseroan yang dilakukan beberapa tahun lalu sudah mulai dirasakan hasilnya pada Triwulan I/2012 ini,” tandasnya.

Untuk diketahui, kinerja Telkom selama 2011 meleset dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Pada 2011, Telkom mencatat pertumbuhan realisasi pendapatan sebesar 3,8 persen menjadi  71,25 triliun rupiah  dari sebelumnya  68,63 triliun rupiah pada 2010.

Laba bersih pada 2011 turun menjadi  10,97 triliun rupiah dari 11,54 triliun rupiah pada 2010.

Pendapatan Telkom pada 2011 hanya mencapai 99,3 persen dari RKAP 2011 yang ditargetkan sekitar  71,8 triliun rupiah.

Sedangkan pada 2012 dalam RKAP  Telkom memasang target pendapatan  sebesar  76,4 triliun rupiah. Angka ini bertumbuh 7,15 persen dari RKAP 2011 sebesar 71,8 triliun rupiah.[dni]

TBIG Kaji Tambah Beli Menara Indosat

JAKARTA—PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mengaji kemungkinan menambah jumlah pembelian menara milik Indosat usai dituntaskannya pembayaran 2.500 infrastruktur sejenis yang dibeli pada awal Februari 2012.

“Sebagai perusahaan penyedia menara, TBIG selalu terbuka untuk mengakuisisi menara milik operator atau perusahaan sejenis. Saat ini kami fokus membereskan pembayaran 2.500 menara yang dibeli dari Indosat pada awal Februari lalu. Jika dibuka kemungkinan untuk membeli sisa menara yang berpotensi untuk dijual sekitar 1.500 menara lagi, tentu kita senang,” ungkap Presiden Direktur TBIG Herman Setya Budi di Jakarta, Rabu (25/4).

Diungkapkannya, jika pembayaran 2.500 menara selesai pada Mei nanti, ada kemungkinan melakukan inventarisir sisa 1.500 menara yang berpotensi dilepas oleh Indosat. “Sekarang belum ada inventarisir. Kita fokus membereskan masalah pembayaran itu dulu,” katanya.

Ditambahkannya, tidak hanya menara milik Indosat yang akan dibidik,  jika XL Axiata serius melepas 8 ribu menara yang dimilikinya, perseroan juga tertarik. “Sayangnya, hingga sekarang masih belum ada penawaran dari XL. Karena itu untuk pertumbuhan menara kami mengandalkan organik dimana selama kuartal pertama telah dibangun 700 menara yang menelan belanja modal sekitar 281 miliar rupiah,” ungkapnya.

Pembayaran Indosat

Pada kesempatan sama, Chief Financial Officer TBIG, Helmy Yusman mengungkapkan,  Rapat Umum Pemegang Saham menyetujui pembelian 2.500 menara telekomunikasi milik  Indosat. Pembayaran dimuka terdiri dari uang tunai  dan penerbitan saham baru sebanyak 239.826.310 lembar saham   dengan harga per saham 2.757 rupiah. Nilainya sekitar  661,2 miliar rupiah. Jumlah tersebut setara dengan kepemilikan 5% saham.

“Harga per lembar saham berdasarkan trailing market price di selang waktu sebelum penutupan proses penjualan. Ini sesuai dengan aturan bursa,” jelasnya.

Selain itu, perseroan akan mencairkan pinjaman bank senilai  250 juta dollar AS dari alokasi  2 miliar dollar AS dengan opsi penambahan (greenshoe) sebesar  75  juta dollar AS guna menutup kekurangan transaksi pembelian.

Untuk diketahui, Tower Bersama memiliki pinjaman sindikasi senilai US$ 2 miliar dari 11 bank dalam negeri dan asing.

Agar pinjaman cair, perseroan wajib memenuhi persyaratan antara lain rasio net senior debt terhadap Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) maksimal 4,5 kali. Net debt terhadap EBITDA tidak melebihi 5 kali. Dan loan to value ratio maksmilam 80%.

Perseroan telah mencairkan pinjaman tersebut sebanyak tiga kali pada 2010 dan 2011 senilai  550 juta dollar AS.

Pembelian menara Indosat dilakukan oleh  anak usaha TBIG, PT Solusi Menara Indonesia (SMI) seharga 518,5 juta dollar AS.

Dari nilai tersebut, sekitar  406 juta dollar AS merupakan harga pembelian menara telekomunikasi termasuk pengambilalihan hak dan kewajiban Indosat berdasarkan kontrak sewa menyewa tempat pada menara telekomunikasi tersebut. Sementara sebesar 112,5 juta dollar AS merupakan klaim kontijen jika tercapai kondisi dan persyaratan seperti tertera dalam asset purchase management.

SMI akan melakukan pembayaran atas   406 juta dollar AS dengan menebitkan surat utang (promissory notes) senilai  661,2 miliar rupiah. TBIG  akan mengambil alih kewajiban SMI tersebut (Rp 661,2 miliar) dengan menebitkan surat utang wajib konversi yang akan dilego ke Indosat.

Pada saat bersamaan, Indosat akan menukarkan surat utang wajib konversi tersebut dengan jumlah saham 239,8 juta saham. Tower Bersama akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement.

Lebih lanjut Herman mengungkapkan, perseroan  tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham karena ingin fokus pada ekspansi usaha.

Dijelaskannya,   perseroan masih membutuhkan dana untuk terus mengembangkan core bisnis yaitu operator menara seluler. Dengan fokus pada pengembangan modal usaha, diharapkan dapat mencapai pertumbuhan yang optimal.

Menurutnya,  pembelian menara diharapkan dapat mendongkrak kinerja mengingat berada di lokasi-lokasi strategis. “Kami optimis ke depan mampu menarik lebih banyak tenant untuk memanfaatkan fasilitas menara tersebut,” katanya.

Berdasarkan catatan, selama 2011 perseroan mencatat laba bersih mencapai  474 miliar rupiah dengan pendapatan sebesar 970 miliar rupiah.

Hingga kuartal I-2012, Tower Bersama membukukan pendapatan sebesar 310 miliar rupiah  dan EBITDA mencapai  245 miliar rupiah. Perolehan ini masing-masing tumbuh 45 persen dan 47 persen dibandingkan kuartal pertama 2011.[dni]

Pelindo II Bentuk Anak Usaha Kembangkan Pelabuhan

JAKARTA—PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) atau  Indonesia Port Corporation (IPC) membentuk anak usaha yang akan khusus mengembangkan infrastruktur pelabuhan seperti di Kali Baru atau New Priok.

“Kita telah membentuk anak usaha yakni PT Pengembang Pelabuhan Indonesia untuk mengembangkan infrastruktur di atas lahan IPC. Proyek pertamanya itu di New Priok. Kita akan suntik investasi awal di anak usaha itu tiga triliun rupiah untuk mengembangkan New Priok. Sisanya akan disuruh mencari pendanaan dari eksternal,” ungkap Direktur Utama Pelindo II RJ Lino di Jakarta, Senin (23/4).

Diungkapkannya, anak usaha yang baru dibentuk ini   akan mencari pendanaan untuk menutup proyek New Priok sebesar 11,75 triliun rupiah yang menjadi tanggungan Pelindo II. Sumber dana bisa berasal dari pinjaman, obligasi, dan pembayaran dimuka yang dilakukan oleh mitra operator pemenang tender pengelola terminal.

“Total nilai proyek New Priok tahap pertama sebesar 22,66 triliun rupiah. Pelindo II menanggung sekitar 11,75 triliun rupiah, sisanya dari operator yang beroperasi di terminal baru dibentuk dimana akan membangun suprastrukturnya,” ungkapnya.

Dijelaskannya, infrastruktur yang menjadi tanggungan Pelindo II melalui anak usahanya diantaranya break water, dermaga, dan lainnya. Untuk pengerjaan infrastruktur ini tender sedang berlangsung.

“Kalau ada yang disebutkan 3 perusahaan konstruksi BUMN, kita masih mengkaji siapa yang berhak membangun New Priok Port tersebut. Berikutnya akan dibuka tender untuk mitra operator tiga terminal. Kemungkinan anak usaha Pelindo lainnya, Terminal Peti Kemas, akan menggandeng mitra dari pelayaran global untuk ikut mengelola tiga terminal yang akan dibangun pada tahap pertama ini,” jelasnya.

Dijelaskannya, untuk tahap pertama pengembangan New Priok akan dibangun tiga kontainer terminal serta dua terminal bahan bakar dan gas. Pelabuhan ini didesain dengan kedalaman draft hingga kurang lebih 20 mLWS dengan tahap pertama akan dilakukan pengerukan sedalam 16 MLWS, dan alur pelayaran dua arah hampir 300 meter untuk mempercepat arus kedatangan dan keberangkatan kapal.

Tahap pertama ini, pelabuhan akan dibangun di atas lahan seluas 195 hektar dengan panjang deramga 4.000 meter dan mampu menampung hingga 4,6 juta TEUs.

“Diharapkan tahap pertama pembangunan bisa beroperasi pada 2014. Pemancangan tiang pertama (ground breaking) direncanakan pada Juli 2012. Kita sudah kirim design ke Kemenhub pada 20 April lalu, sesuai amanat Peraturan Presiden No 36/2012 tentang penugasan kepada Pelindo II untuk membangun dan mengoperasikan New Priok Port, satu bulan harus sudah diputuskan,” jelasnya.

Menurutnya, keluarnya Perpres No. 36 Tahun 2012 yang  ditandatangani pada 5 April 2012 menjadikan Pelindo II memiliki wewenang yang besar untuk membangun New Priok. “Ini tidak ada dana negara. Proyek sebesar ini pertama kali ada di dunia tanpa dana negara,” katanya.

Sebelumnya, ada tarik menarik anatar Kementrian Perhubungan (Kemenhub) dengan Pelindo II soal design pengembangan Kali Baru. Dalam skema usulan Pelindo II akan ada reklamasi pantai secara total dan membangun seaway atau jembatan layang. Sedangkan Kemenhub tidak menginginkan adanya reklamasi total.

Setelah membatalkan skema lelang pengerjaan proyek Kalibaru, pihak Kemenhub jmenyatakan rancangan pelabuhan versi mereka tidak berlaku lagi. Kemenhub memberikan kesempatan kepada Pelindo II, selaku pihak yang ditugasi mengerjakan Kalibaru, untuk mengajukan proposal rancangan pelabuhan tersebut.

Akses Tol

Lebih lanjut Lino mengungkapkan, untuk mempermudah akses ke New Priok akan dibangun  jalan tol sepanjang 7 kilometer (km) senilai  1,3 triliun rupiah yang membentang dari kawasan Kalibaru hingga Marunda.

Jalan tol itu akan berdampingan dengan jalan arteri Cilincing. Jalan tol dibangun dengan sistem layang (elevated) bertiang pendek yang berdiri di atas laut.Di atas jalan tol tersebut nantinya juga akan dibangun jalur kereta api .

“Kita belum menunjuk siapa untuk membangun jalan tol seperti di Tanjung Benoa itu. Kalau PT Jasa Marga Tbk mau, kita MoU sekarang,” tuturnya.

Diperkirakan pembangunan secara keseluruhan New Priok tahap pertama dan kedua  selesai pada  2023 mendatang dengan kapasitas 13 juta TEUs.

“Keberadaan New Priok Port akan mampu mendorong penguatan dan efisiensi mata rantai logistik nasional sehingga menarik investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Tingkat produktivitas pelabuhan juga ditargetkan berada di level internasional,” katanya.[dni]

 

Meretas Masa Depan Melalui TIME

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) meretas masa depan menjadi perusahaan berbasis Telecommunication, Information, Media, and Edutainment (TIME) sejak tiga tahun lalu tidak main-main.

Aksi akuisisi, aliansi, atau menyuntikkan dana segar bagi anak usaha yang bergerak di bisnis Information, Media, dan Edutainement (IME) dilakukan agar bisa berkembang dan menjadi pemain kunci di setiap sektor dengan memanfaatkan keunggulan basis Telkom grup yang mencapai 129 juta pelanggan.

“Saat ini industri telekomunikasi bergeser dari Star ke Cash Cow. Kondisi ini sama dengan industri rokok. Pertumbuhan masih ada di industri telekomunikasi tetapi dari sektor  IME yang dipicu oleh penetrasi akses data. Kondisi ini sudah diprediksi Telkom, karena itu transformasi menjadi perusahaan TIME dilakukan sejak tiga tahun lalu,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah.

Diungkapkannya, untuk menggarap bisnis IME, perseroan mengandalkan beberapa anak usaha.

Pertama, PT Multimedia Nusantara atau Metra Holding  yang menjadi  strategic investment company untuk menjalankan bisnis IME. Metra pada tahun lalu   berhasil meraup omset sebesar Rp 3 triliun  dengan laba bersihRp  50 miliar

Metra memiliki enam anak usaha. Pertama,  PT. Infomedia Nusantara, bergerak di bidang bisnis layanan contact center & outsourcing dan layanan digital media & rich content (DMRC), business process outsourcing/knowledge process outsourcing (BPO/KPO). Pada 2011, Infomedia berhasil masuk jajaran elit anak usaha Telkom karena meraih omset di atas Rp 1 triliun. Pada 2012, Infomedia akan menopang 41% total omset Metra.

Kedua, PT. Sigma Citra Caraka, dikenal dengan Telkom Sigma, bergerak di bidang managed services, software, system integration dan IT consulting and advisory services. Pada 2011, pertumbuhan revenue telkomsigma mencapai 30% berarti di atas pertumbuhan rata-rata industri yang hanya berkisar 25 %.

Ketiga, PT. Finnet Indonesia (Finnet), bergerak di bidang aggregator collecting agent, interbank switching, payment channel and application, dan SWIFT service bureau.

Keempat, PT. AdMedika, bergerak di bidang healthcare third administrator, health information system, emergency medical travel and personal assistance program. Perusahaan ini  memiliki akses jaringan 825 rumah sakit dan klinik di Indonesia serta 30 rumah sakit di luar negeri, selain juga  terkoneksi ke 42 perusahaan, private company serta BUMN dengan total 3.000 asuransi kesehatan serta 1,8 juta peserta.

Kelima, PT. MelOn Indonesia bergerak di bidang online digital music content. Tercatat sudah lebih dari 250.000 register member tergabung di jejaring pengunjung situs MelOn Keenam, Metranet yang bergerak di portal multimedia seperti PlasaMSN.

“Metra berhasil menggandeng situs ternama ebay membantuk perusahaan patungan MetraPlasa belum lama ini guna menggarap pasar e-commerce. Keberhasilan menggandeng ebay itu menujukkan, walau secara kontribusi IME belum siginifikan bagi total omset Telkomgrup, tetapi untuk nilai di masa depan sangat tinggi,” jelas Rinaldi

Lebih lanjut Rinaldi mengungkapkan, andalan lain di bidang IME adalah  PT Indonusa Telemedia (TelkomVision) yang mengelola bisnis televisi berbayar dengan brand TelkomVision dan layanan televisi interaktif berbasis internet protocol television (IPTV) dengan brand GrooviaTV yang memungkinkan pelanggan untuk rewind, record, pause dan forward.

Jumlah pelanggan TelkomVision hingga Maret 2012 telah mencapai 1,2 juta dengan pangsa pasar sebesar 45%. TelkomVision menargetkan pertumbuhan jumlah pelanggan hingga 150 % menjadi 2,5 juta pelanggan pada akhir 2012.

“Kita percaya video adalah konten masa depan. Tak lama lagi akan diluncurkan Groovia Lite. Layanan ini menyasar segmen menengah bawah untuk IPTV. Kita siapkan belanja modal untuk TelkomVision pada 2012 sebesar Rp 650 miliar,” ungkap Direktur Utama Telkom Vision Elvizar KH.

Sementara untuk perusahaan yang bermain di infrastruktur, Telkom memiliki   PT. Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), bergerak di bidang usaha tower dan infrastructure provider dengan  menyediakan beberapa layanan, yaitu jasa pemeliharaan base transceiver station (BTS) full service, jasa penyewaan BTS, jasa penyewaan menara telekomunikasi, jasa penyewaan genset untuk BTS dan jasa penyewaan in-building coverage system (IBS).

”Saat ini Mitratel memiliki tidak kurang dari 3.500 menara yang melayani TelkomGroup dan operator telekomunikasi lainnya. Jumlah tersebut akan bertambah terus mengingat permintaan akan menara BTS semakin meningkat.,” kata Direktur Utama Mitratel Edy Irianto

Telkom juga memiliki anak usaha yang bergerak di bidang perdagangan customer premises equipment (CPE) yakni  PT. Pramindo Ikat Nusantara (PINS).

PINS memiliki pilar bisnis, yaitu penyediaan CPE seperti handset, komputer, USB modem, modem ADSL, set top box, router dan lain-lain. Selain itu, PINS memberikan layanan pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan segala jenis perangkat CPE yang ada di lokasi pelanggan yang disebut juga Premises Integration diantaranya adalah Digital Lounge (DILO), Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK), Wi-fi dan lain-lain.

“Di tahun 2012 PINs akan membangun 400 gerai (outlets) PINs Point sebagai saluran distribusi dari PINs untuk CPE distribution,” kata Direktur Utama PINS,Syarifuddin Saguni.

Terakhir untuk layanan telekomunikasi internasional dan strategic investment di bisnis telekomunikasi international yang juga berperan sebagai kepanjangan tangan Telkom dalam mengelola dan mengembangkan lini bisnis internasional, Telkom mengandalkan,  Telkom Indonesia Internasional (Telin).

Telin memiliki dua anak perusahaan masing-masing di Singapura (Telin Singapore) dan di Hong Kong (Telin Hong Kong) yang melayani main gateways ke pasar telekomunikasi internasional sedangkan di Scicom (MSC) Berhad Malaysia yang merupakan layanan contact center for outsourcing terbesar di Malaysia, Telin memiliki saham 29,71 persen.[dni]

Menyimak Goyangan Emiten Telekomunikasi

Pada awal tahun ini Lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch)  memprediksi  rating industri telekomunikasi Indonesia stabil  dimana  kompetisi akan dipengaruhi oleh lima operator besar   yang memegang 90% pangsa pasar di tanah air.

Kelima operator itu adalah Telkom dan anak usahanya Telkomsel, Indosat, XL, dan Bakrie Telecom (BTEL).

Head of Telecommunication Media and Technology Fitch Ratings Steve Durose untuk kawasan Asia pasifik mengatakan persaingan kelima operator tersebut di Indonesia  akan membawa industri telekomunikasi Indonesia pada tren penurunan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) dan margin setiap operator.

Fitch mencatat, tren penurunan ARPU suara dan SMS dimulai sejak 2008, sedangkan ARPU layanan data sejak 2010.

Diyakini, kelima operator besar itu akan mempertahankan margin laba sebelum biaya bunga, pajak, amortisasi, dan depresiasi (EBITDA) rata-rata sebesar 47% selama periode 2012-2014. perolehan margin tersebut dinilai lebih tinggi dari kebanyakan operator telekomunikasi di Asia Pasifik pada 2012.

Margin EBITDA lima operator tersebut tinggi karena biaya operasional rendah dari hasil penjualan aset dan cenderung turun.

Operator telekomunikasi di Indonesia juga diprediksi berupaya menurunkan pinjaman dan berusaha memperbesar arus kas. Hal tersebut mendorong pertumbuhan arus kas yang bisa digunakan untuk membiayai pembangunan jaringan dan pengembangan teknologi.

Fitch mengestimasi belanja modal di lima operator tersebut pada tahun ini berkisar 20-30% dari laba 2011.

Prediksi Fitch boleh dikatakan tepat hanya untuk pemain tiga besar yakni Telkom grup termasuk di dalamnya Telkomsel, Indosat, dan XL. Sisanya bisa dikatakan meleset jika melihat kinerja operator lainnya pada 2011 yang bisa menjadi rujukan pada 2012.

Telkom mencatat  pertumbuhan negatif selama 2011 untuk bottom line. Berdasarkan laporan keuangan perseroan dalam situs resminya tergambar  EBITDA pada 2011 sebesar Rp 36,558 triliun atau turun 1,5% dibandingkan 2010 sekitar Rp 37,103 triliun.

EBITDA margin pun turun 2,8% dari 54,1% pada 2010 menjadi 51,3% pada 2011. Alhasil Laba bersih dibukukan pada 2011 sebesar Rp 10,965 triliun atau turun 5% dibandingkan 2011 sebesar Rp 11,537 triliun.

Pada 2011 Telkom berhasil meraih total omset sebesar Rp 71,3 triliun atau  naik 3,8 % dibanding  2010 sebesar Rp 68,62 triliun rupiah.

Anak usahanya, Telkomsel,  pada 2011 meraih omset Rp 48,73 triliun rupiah atau  naik 7 persen dibandingkan  2010 sebesar Rp 45,57 triliun.  EBITDA dari Telkomsel pada 2011 sebesar Rp 27,549 triliun atau tumbuh 4% dibandingkan 2010 sebesar Rp 26,598 triliun.

EBITDA margin pada 2011 sebesar 57% atau turun 1% dibandingkan 2010 sebesar 58%. Sementara laba bersih pada 2011 dibukukan Rp 12,823 triliun atau tumbuh 4% dibandingkan 2010 sebesar Rp 12,362 triliun.

Indosat berhasil meraih omset   sebesar  Rp 20.576,9 triliun  atau naik 3,9 persen dibandingkan 2010 sebesar Rp 19.796,5 triliun. Bisnis seluler dengan 51,7 juta pelanggan  membukukan omset Rp  16.750,9 triliun  pada 2011 atau naik 4,5 persen dibandingkan 2010 sebesar  Rp 16.027 triliun.

Sedangkan  laba bersih dibukukan  sebesar  Rp 835 miliar   pada 2011 atau naik 29 persen dibandingkan 2010 sebesar  Rp 647,2 miliar.

XL berhasil meraih  omset sebesar Rp 18,92 triliun pada 2011  atau naik 7% dibandingkan 2010 sebesar 17,6 triliun. Kinerja EBITDA mengalami peningkatan  sebesar 1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar  Rp 9,3 triliun   dengan marjin sebesar 49%

Sementara  laba bersih bertahan pada Rp  2,8 triliun  untuk periode 12 bulan yang berakhir di bulan Desember 2011 atau turun 3,4%  dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar  Rp 2,9 triliun.

Nasib pahit dialami oleh pemain berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) seperti BTEL dan Smartfren Telecom (Fren). BTEL  mencatat kerugian bersih Rp 782,70 miliar. Angka itu berbanding terbalik pada 2010   dimana pemilik merek dagang esia ini mampu membukukan  laba bersih Rp 9,97 miliar.

Hal yang mengagetkan adalah omset yang diraih BTEL pun melorot.   Pendapatan bersih BTEL di 2011 turun 6,16% menjadi Rp 2,59 triliun dari 2010 sebesar Rp  2,76 triliun.

Fren juga membukukan kerugian Rp 2,4 triliun pada 2011 atau naik 71% dibandingkan 2010 sebesar Rp 1,4 triliun.

Namun, Fren masih mampu mencatat omset pada 2011 sebesar Rp 954,331 miliar atau naik 152% dibandingkan 2010 sekitar Rp 376,551 miliar.

Bergeser

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengakui, industri telkomunikasi khususnya bagi penyelenggara jaringan dan layanan terjadi pergeseran. “Jika diibaratkan di matriks Boston Consulting Grup (BCG), operator itu bergeser dari bintang (star) ke sapi perahan (cash cow). Kondisi ini sama dengan industri rokok. Pertumbuhan masih ada di industri telekomunikasi tetapi dari sektor Information, Media, dan Edutainment (IME) yang dipicu oleh penetrasi akses data,” ,” katanya.

Diungkapkannya, puncak pertumbuhan dobel digit dari industri telekomunikasi adalah pada 2007 yakni sebesar 24,3% dengan total nilai pasar sekitar Rp 90 triliun.

Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) kala itu tumbuh 18,7% dengan nilai Rp 50 triliun. Sementara laba bersih tumbuh 15,6% dengan besaran Rp 18 triliun.

Setelah itu industri telekomunikasi secara perlahan tetapi pasti berpindah matriks dari Star ke Cash Cow.

Hal itu bisa dilihat dari pertumbuhan pendapatan   pada 2011 hanya dikisaran 6,2% dengan nilai pasar sekitar Rp 119 triliun. EBITDA tumbuh 2,5% dengan nilai sekitar Rp 55 triliun dan laba bersih justru turun 3,9% sekitar Rp 16 triliun.

Presiden Direktur XL Axiata mengungkapkan,  penetrasi selular di Indonesia  sudah lebih dari 100 persen. Jumlah pelanggan sudah menembus angka 250 juta nomor melampaui populasi penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta.

Hal itu berdampak pertumbuhan perusahaan menjadi  sulit mencapai double digit. “Tapi, ini sudah menjadi tantangan kami yang harus tetap kompetitif supaya bisa bertahan dan mencapai kepuasan pelanggan,” kata Hasnul.

Sementara  para analis pasar modal menilai kinerja saham-saham operator telekomunikasi pada tahun Naga Air ini jauh dari sentimen positif.

Kepala Riset Hennan Putihrai Felix Sindhunata menjelaskan, penetrasi pasar telekomunikasi di Indonesia sudah mencapai 90% sehingga operator akan sulit meningkatkan pendapatan.

“Persaingan antaroperator yang memicu perang tarif membuat pertumbuhan kinerjanya terbatas,” katanya.

Disarankannya, investor mencermati arus kas operator sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada salah satu saham telekomunikasi. Pasalnya, arus kas sangat menentukan kemampuan untuk melakukan ekspansi usaha melalui pengembangan produk baru dan layanan turunannya.

Sebelumnya, para pelaku di industri seluler sudah memberikan sinyal bahwa tahun ini salah satu masa  yang paling sulit karena pertumbuhan hanya di kisaran 8-9 persen.

Pasalnya, layanan data belum bisa menjadi pemasok pendapatan secara signifikan menggantikan jasa suara dan SMS. Sementara layanan value Added Services (VAS) belum bangkit  setelah adanya unreg massal pada medio Oktober lalu.

Pengamat Telematika Ruby Hermanto mengungkapkan, rendahnya pertumbuhan omset dan tertekannya bottom line pemain tiga besar tak bisa dilepaskan dari korban akselerasi hasil penurunan biaya interkoneksi pada 2008 yang memicu terjadinya perang tarif di suara dan SMS.

“Kala biaya interkoneksi dipangkas 20 – 40 persen pada 2008, itu direspons oleh Telkomsel melalui produk simPATI yang menurunkan tarif ritelnya. Setelah itu, perang tarif dimulai dengan aksi XL yang secara signifikan membangun citra sebagai operator tarif murah,” katanya.

Dampak positif dari kondisi itu adalah bagi perekonomian nasional, sektor telekomunikasi    berhasil menjadi salah satu kontributor untuk menekan inflasi nasional.

“Tetapi korbannya revenue dan marjin turun.  Bahkan hampir mustahil bisa kembali seperti sebelum 2008 walau ada bisnis data yang didengungkan sebagai alat untuk bertahan,” katanya.[dni]

 

 

Telkom Mulai Memetik Hasil Transformasi

Kinerja Kuartal I/2012: Laba Telkom Melesat 17,5%

 

Transformasi yang dilakukan oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) sejak 2009 lalu mulai membuahkan hasil yang menggembirakan.

Sejak tiga tahun lalu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu mengubah diri dari   perusahaan berbasis  InfoCom menjadi operator berbasis Telekomunikasi, Information, Media, dan Edutainment (TIME).

“Sebagai perusahaan Telkom sangat sehat kinerja keuangannya. Jika dilihat dari teori siklus perusahaan, Telkom sedang berada di posisi mature. Nah, untuk mengantisipasi agar tidak masuk ke titik penurunan, transformasi merupakan hal yang mutlak dilakukan,” ujar Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah kala itu.

Setelah tiga tahun berlalu, ucapan yang dilontarkan Rinaldi mulai menunjukkan bukti nyata. Kinerja yang positif selama kuartal pertama 2012 di tengah pasar telekomunikasi yang sudah di era jenuh tentu merupakan sesuatu yang luar biasa.

Pada triwulan I/2012 Telkom berhasil membukukan laba bersih sebesar  Rp 3,32  triliun atau tumbuh sebesar 17,50% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 2,828 triliun.

Sedangkan pendapatan operasi mencapai Rp 17,8 triliun  atau tumbuh sebesar 6,50% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 16,706 triliun.

Earning Before Interests, Taxes, Depreciation and Amortization (EBITDA)   tumbuh 11,40% menjadi Rp 9,62 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011 sebesar Rp 8,642 triliun. Margin EBITDA Triwulan 1/2012 54,10% atau tumbuh  2,40% dibandingkan tahun lalu sebesar 51,70%.

Rahasia

Rinaldi kala dihubungi mengungkapkan terdapat tiga rahasia kesuksesan yang dicapai Telkom selama kuartal I/2012.

Tiga rahasia itu adalah. Pertama, omset dari telepon tetap kabel tidak turun drastis seperti tahun lalu. Pendapatan fixed line  mencapai Rp 2,81 triliun atau turun 4,30% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,929.6 triliun. Penurunan tersebut diklaim lebih baik dibanding penurunan 2011 sebesar 11,40%.

“Ini merupakan sinyal bahwa program retensi perseroan terhadap pelanggan fixed line menunjukkan hasil yang positif. Selain itu jumlah pelanggan fixed line tumbuh menjadi 8,69 juta atau 4,20%, artinya minat masyarakat terhadap telepon kabel mulai meningkat kembali,” jelasnya.

Kedua, jasa selain suara yakni data menunjukkan pertumbuhan, begitu juga dengan anak-anak usaha berbasis Information, Media, and Edutainment (IME).  seperti Mitratel, MetraGroup, TelkomVision, Pramindo Ikat Nusantara (PINS), dan GSD juga menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang menjanjikan sebesar 55,40% meskipun secara nominal kontribusinya belum besar.

Sementara untuk jumlah pelanggan telephony juga terus bertambah: pelanggan Seluler (Telkomsel) mencapai 109,88 juta atau tumbuh 10,60%; Pelanggan wire line mencapai 8,69 juta atau tumbuh 4,20%; Pelanggan Flexi mencapai 15,12 juta atau turun 19,20%.

“Penurunan pelanggan yang dialami Flexi  karena Telkom  memang melakukan terminasi terhadap pelanggan tidak produktif yang dievaluasi secara berkala,” katanya.

Ditegaskannya, dalam rangka meningkatkan kualitas layanan Flexi maka pada Oktober 2011, Telkom menggelar layanan broadband mobile dengan teknologi Evolution Data Optimized (EVDO) yang mendapat sambutan positif dari pelanggan. Dalam kurun waktu sekitar tiga bulan hingga Maret 2012 tersebut, jumlah pelanggan EVDO sudah mencapai 103 ribu.

Sementara itu, jumlah pelanggan broadband mencapai 10,47 juta atau tumbuh 35,90% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pelanggan mobile broadband (Flash) mencapai 5,24 juta atau tumbuh 20,90%, pelanggan fixed broadband (Speedy) mencapai 1,88 juta atau tumbuh 5,20%, pelanggan Blackberry mencapai 3,35 juta atau tumbuh 111,90%.

Rahasia ketiga, perseroan berhasil mencatat kinerja yang positif adalah kemampuan  mengelola biaya. Pada Triwulan I/2012, cash operating expenses Telkom mencapai Rp 8,17 triliun atau tumbuh 1,40% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 7,5 triliun. Angka ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 6,50%.

Pencapaian ini berhasil dilakukan sehubungan dengan telah diterapkannya program cost optimization dan quality assurance initiatives, antara lain sentralisasi outsourcing, pensiun dini sukarela, optimalisasi properti/aset, optimalisasi collection fee, pengelolaan travel management system.

Program lain cost optimization adalah, inovasi teknologi salah satunya modernisasi jaringan akses dari kabel tembaga ke optik, sentralisasi pengelolaan kendaraan bermotor (KBM) dan bahan bakar minyak (BBM), implementasi green energy dengan mengganti freon air conditioner dengan retrofit hydrocarbon bekerjasama dengan Pertamina dan beberapa program lain yang menguatkan kepada sinergi TelkomGroup maupun BUMN.

“Program cost optimization ini baru dilaksanakan secara konsisten sekitar setahun, kami gembira karena telah memberikan hasil yang positif. Tentu program ini akan berlanjut karena efisiensi dan efektivitas dengan  sasaran yang tepat merupakan kebutuhan perusahaan modern. Kesimpulannya, kinerja yang positif kuartal I/2012 tak bisa dilepaskan dari strategi yang matang dipersiapkan sejak lama,” tegasnya.

Semakin Optimis

Awal yang baik di dapat pada kuartal I/2012 menjadikan Rinaldi kian bergairah menatap tahun Naga Air ini.

“Kita memprediksi pertumbuhan di kisaran 4-7%. Satu hal yang pasti, kami yakin TelkomGroup sudah mulai bangkit karena transformasi perseroan yang dilakukan beberapa tahun lalu sudah mulai dirasakan hasilnya pada Triwulan I/2012 ini,” tandasnya.

Untuk diketahui, dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2012 Telkom  memasang target pendapatan  sebesar  Rp 76,4 triliun. Angka ini bertumbuh 7,15 persen dari RKAP 2011 sebesar Rp 71,8 triliun.

Senada dengan Rinaldi,  punggawa anak usaha berbasis IME pun menunjukkan gairah mendukung target yang dibebankan oleh induk usaha.

Direktur Utama Telkom Vision Elvizar KH mematok omset yang diraih perseroan bisa  melesat 100% dari Rp 500 miliar menjadi Rp 1 triliun pada tahun ini. “Kami optimistis itu bisa diraih karena pasar TV berbayar baru 3 persen yang digarap,” katanya.

Presiden Direktur Infomedia Muhammad Awaluddin mengungkapkan, melihat kinerja yang positif pada kuartal I/2012, maka target meraih  omset sebesar  Rp 1.3 triliun pada tahun ini bisa dicapai.

“Pada kuartal I/2012 Infomedia  mencetak omset Rp 216.736 miliar     atau naik 21,5 persen dibandingkan periode sama 2011 sebesar Rp 178.425 miliar,” ungkap Awal.

Sementara Presiden Direktur Telkom Sigma Rizkan Chandra menetapkan  target  omset sebesar Rp 750 miliar pada 2012 atau tumbuh 30% dari 2011 sebesar Rp 578 miliar.

Rinaldi optimistis, melihat kinerja yang terus tumbuh dari anak-anak usaha berbasis IME, dalam   lima tahun ke depan  60 persen pendapatan Telkom Grup akan datang dari industri new wave.

“Kita sudah rintis dari tiga tahun lalu, dan sekarang sedikit demi sedikit terlihat hasilnya. Telkom sudah berada di jalan yang benar menatap masa depan  dimana tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi tetapi beralih kepada konten, portal, media, dan solusi teknologi informasi dimana infrastruktur telekomunikasi dijadikan sebagai tulang punggungnya,” jelasnya.[dni]