TBIG Kaji Tambah Beli Menara Indosat

JAKARTA—PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mengaji kemungkinan menambah jumlah pembelian menara milik Indosat usai dituntaskannya pembayaran 2.500 infrastruktur sejenis yang dibeli pada awal Februari 2012.

“Sebagai perusahaan penyedia menara, TBIG selalu terbuka untuk mengakuisisi menara milik operator atau perusahaan sejenis. Saat ini kami fokus membereskan pembayaran 2.500 menara yang dibeli dari Indosat pada awal Februari lalu. Jika dibuka kemungkinan untuk membeli sisa menara yang berpotensi untuk dijual sekitar 1.500 menara lagi, tentu kita senang,” ungkap Presiden Direktur TBIG Herman Setya Budi di Jakarta, Rabu (25/4).

Diungkapkannya, jika pembayaran 2.500 menara selesai pada Mei nanti, ada kemungkinan melakukan inventarisir sisa 1.500 menara yang berpotensi dilepas oleh Indosat. “Sekarang belum ada inventarisir. Kita fokus membereskan masalah pembayaran itu dulu,” katanya.

Ditambahkannya, tidak hanya menara milik Indosat yang akan dibidik,  jika XL Axiata serius melepas 8 ribu menara yang dimilikinya, perseroan juga tertarik. “Sayangnya, hingga sekarang masih belum ada penawaran dari XL. Karena itu untuk pertumbuhan menara kami mengandalkan organik dimana selama kuartal pertama telah dibangun 700 menara yang menelan belanja modal sekitar 281 miliar rupiah,” ungkapnya.

Pembayaran Indosat

Pada kesempatan sama, Chief Financial Officer TBIG, Helmy Yusman mengungkapkan,  Rapat Umum Pemegang Saham menyetujui pembelian 2.500 menara telekomunikasi milik  Indosat. Pembayaran dimuka terdiri dari uang tunai  dan penerbitan saham baru sebanyak 239.826.310 lembar saham   dengan harga per saham 2.757 rupiah. Nilainya sekitar  661,2 miliar rupiah. Jumlah tersebut setara dengan kepemilikan 5% saham.

“Harga per lembar saham berdasarkan trailing market price di selang waktu sebelum penutupan proses penjualan. Ini sesuai dengan aturan bursa,” jelasnya.

Selain itu, perseroan akan mencairkan pinjaman bank senilai  250 juta dollar AS dari alokasi  2 miliar dollar AS dengan opsi penambahan (greenshoe) sebesar  75  juta dollar AS guna menutup kekurangan transaksi pembelian.

Untuk diketahui, Tower Bersama memiliki pinjaman sindikasi senilai US$ 2 miliar dari 11 bank dalam negeri dan asing.

Agar pinjaman cair, perseroan wajib memenuhi persyaratan antara lain rasio net senior debt terhadap Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) maksimal 4,5 kali. Net debt terhadap EBITDA tidak melebihi 5 kali. Dan loan to value ratio maksmilam 80%.

Perseroan telah mencairkan pinjaman tersebut sebanyak tiga kali pada 2010 dan 2011 senilai  550 juta dollar AS.

Pembelian menara Indosat dilakukan oleh  anak usaha TBIG, PT Solusi Menara Indonesia (SMI) seharga 518,5 juta dollar AS.

Dari nilai tersebut, sekitar  406 juta dollar AS merupakan harga pembelian menara telekomunikasi termasuk pengambilalihan hak dan kewajiban Indosat berdasarkan kontrak sewa menyewa tempat pada menara telekomunikasi tersebut. Sementara sebesar 112,5 juta dollar AS merupakan klaim kontijen jika tercapai kondisi dan persyaratan seperti tertera dalam asset purchase management.

SMI akan melakukan pembayaran atas   406 juta dollar AS dengan menebitkan surat utang (promissory notes) senilai  661,2 miliar rupiah. TBIG  akan mengambil alih kewajiban SMI tersebut (Rp 661,2 miliar) dengan menebitkan surat utang wajib konversi yang akan dilego ke Indosat.

Pada saat bersamaan, Indosat akan menukarkan surat utang wajib konversi tersebut dengan jumlah saham 239,8 juta saham. Tower Bersama akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement.

Lebih lanjut Herman mengungkapkan, perseroan  tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham karena ingin fokus pada ekspansi usaha.

Dijelaskannya,   perseroan masih membutuhkan dana untuk terus mengembangkan core bisnis yaitu operator menara seluler. Dengan fokus pada pengembangan modal usaha, diharapkan dapat mencapai pertumbuhan yang optimal.

Menurutnya,  pembelian menara diharapkan dapat mendongkrak kinerja mengingat berada di lokasi-lokasi strategis. “Kami optimis ke depan mampu menarik lebih banyak tenant untuk memanfaatkan fasilitas menara tersebut,” katanya.

Berdasarkan catatan, selama 2011 perseroan mencatat laba bersih mencapai  474 miliar rupiah dengan pendapatan sebesar 970 miliar rupiah.

Hingga kuartal I-2012, Tower Bersama membukukan pendapatan sebesar 310 miliar rupiah  dan EBITDA mencapai  245 miliar rupiah. Perolehan ini masing-masing tumbuh 45 persen dan 47 persen dibandingkan kuartal pertama 2011.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s