Pupuk Indonesia akan Bangun Pabrik Petrokimia di Papua

JAKARTA— PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) berencana membangun pabrik petrokimia di Papua guna memastikan cukupnya pasokan bahan baku dan menekan keluarnya devisa karena mengimpor komoditi tersebut.

“Investasi untuk membangun pabrik itu sekitar 5,2 miliar dollar AS. Kita akan buat perusahaan patungan (Joint Ventures/JV) dengan satu atau dua investor asing,” ungkap  Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company Arifin Tasrif di Jakarta, Rabu (18/4).

Diungkapkannya, saat ini ada beberapa investor asing yang tertarik untuk ikut menanamkan sahamnya di JV yang akan dibentuk tersebut. “Ada dari Korea, Jepang, dan Jerman. Sepertinya kita akan menggandeng dua investor asing untuk pabrik tersebut,” katanya.

Dijelaskannya, aksi lain untuk pemenuhan bahan baku membuat pupuk adalah  menjajaki pembelian ladang gas Exxon di Aceh.  “Saat ini kami sedang mengikuti tender pembelian ladang gas Exxon di Aceh untuk menjamin pasokan gas PT Pupuk Iskandar Muda (PIM),” katanya.

Dikatakannya,  ladang gas tersebut dijual gas Exxon karena sudah tidak ekonomis untuk mengekspor gas ke berbagai negara dan kontak ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) Exxon ke berbagai negara akan berakhir pada 2014. “Namun sisa-sisa gas yang ada masih ekonomis untuk menjadi bahan baku pupuk urea untuk PIM. Perseroan bersama PGN dan Medco membentuk konsorsium untuk mengikuti tender tersebut,” katanya.

Diungkapkannya, perseroan perlu ekspansif membangun pasokan petrokimia karena Indonesia sangat besar mengimpor komoditi tersebut. Komoditi petrokimia yang biasa diimpor adalah methanol, ethylene, propylene, polyethylene, polypropylene, dan acetic acid. Total semua komoditi tersebut diimpor dengan nilai mencapai 6.443 miliar dollar  AS hanya pada dua tahun lalu.

“Nilai pasarnya besar untuk digarap. Jika pabrik-pabrik itu terealisasi, kita bisa menghemat devisa,” katanya.

Menanggapi aksi tersebut, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan mendukung, bahkan mengusulkan  membeli ladang gas Kepodang di Blok Muria, Laut Jawa, yang dikelola Petronas.

“Bila PIHC bisa membeli ladang gas itu lebih baik, karena ada jaminan pasokan gas sebagai bahan baku utama, dan harga tidak naik, sehingga secara bisnis juga menguntungkan,” katanya

Menurutnya, di Indonesia ada keanehan dimana gas yang seharusnya digunakan untuk bahan baku pupuk digunakan untuk pembangkit listrik. “Seharusnya pembangkit listrik menggunakan batu bara dan gas cair itu dialihkan ke pupuk. Pemikiran melakukan swap ini harus dikaji,” jelasnya.

Nama Baru

Lebih lanjut Arifin Tasrif mengungkapkan, saat ini perseroan resmi bernama  PT Pupuk Indonesia Holding Company  sebagai pengganti nama PT Pupuk Sriwijaya (Pusri).

Holding ini terdiri dari  lima BUMN pupuk yakni PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) Palembang, PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM).

“Penggantian nama dan logo bagian dari ketetapan pemegang saham sebagai tindak lanjut restrukturisasi holding dan ketentuan perjanjian spin off PT Pusri Palembang. Penggunaan satu merek juga dimaksudkan untuk menghilangkan fanatisme merek. Kami sudah sosialisasikan ke tingkat petani dan semua berjalan dengan baik,” katanya,” jelasnya.

Dikatakannya, dengan adanya holding menjadikan perseroan lebih cepat dalam bertindak dan berdaptasi dengan kompetisi. “Kita membidik pendapatan pada 2012 sebesar 45 triliun rupiah naik dari 2011 sebesar 40 triliun rupiah. Selain itu, kita juga ingin pada 2015 memiliki kapasitas 15 juta ton dari 12 juta ton pada 2011,” ungkapnya.

Dahlan juga menyambut gembira perubahan nama tersebut agar lebih mudah dikenal public. “Selama ini ada tumpang tindih nama antara PT Pusri Holding dan PT Pusri Palembang sebagai unit produksi. Karena itulah, nama dan logo PT Pusri Holding diubah menjadi PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC),”kata Dahlan.

Ditegaskannya, walau ada nama baru   tidak ada yang berubah dari sisi manajemen.   “PT Pupuk Indonesia memiliki 100% saham pada lima BUMN pupuk tersebut,” kata Dahlan.

Menurutnya,  pembentukan induk perusahaan BUMN pupuk tersebut sangat efektif untuk mengatasi berbagai persoalan di anak perusahaan yang membutuhkan kecepatan, seperti dalam distribusi pupuk, masalah pasokan gas, dan lain-lain.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s