Menyimak Goyangan Emiten Telekomunikasi

Pada awal tahun ini Lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch)  memprediksi  rating industri telekomunikasi Indonesia stabil  dimana  kompetisi akan dipengaruhi oleh lima operator besar   yang memegang 90% pangsa pasar di tanah air.

Kelima operator itu adalah Telkom dan anak usahanya Telkomsel, Indosat, XL, dan Bakrie Telecom (BTEL).

Head of Telecommunication Media and Technology Fitch Ratings Steve Durose untuk kawasan Asia pasifik mengatakan persaingan kelima operator tersebut di Indonesia  akan membawa industri telekomunikasi Indonesia pada tren penurunan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) dan margin setiap operator.

Fitch mencatat, tren penurunan ARPU suara dan SMS dimulai sejak 2008, sedangkan ARPU layanan data sejak 2010.

Diyakini, kelima operator besar itu akan mempertahankan margin laba sebelum biaya bunga, pajak, amortisasi, dan depresiasi (EBITDA) rata-rata sebesar 47% selama periode 2012-2014. perolehan margin tersebut dinilai lebih tinggi dari kebanyakan operator telekomunikasi di Asia Pasifik pada 2012.

Margin EBITDA lima operator tersebut tinggi karena biaya operasional rendah dari hasil penjualan aset dan cenderung turun.

Operator telekomunikasi di Indonesia juga diprediksi berupaya menurunkan pinjaman dan berusaha memperbesar arus kas. Hal tersebut mendorong pertumbuhan arus kas yang bisa digunakan untuk membiayai pembangunan jaringan dan pengembangan teknologi.

Fitch mengestimasi belanja modal di lima operator tersebut pada tahun ini berkisar 20-30% dari laba 2011.

Prediksi Fitch boleh dikatakan tepat hanya untuk pemain tiga besar yakni Telkom grup termasuk di dalamnya Telkomsel, Indosat, dan XL. Sisanya bisa dikatakan meleset jika melihat kinerja operator lainnya pada 2011 yang bisa menjadi rujukan pada 2012.

Telkom mencatat  pertumbuhan negatif selama 2011 untuk bottom line. Berdasarkan laporan keuangan perseroan dalam situs resminya tergambar  EBITDA pada 2011 sebesar Rp 36,558 triliun atau turun 1,5% dibandingkan 2010 sekitar Rp 37,103 triliun.

EBITDA margin pun turun 2,8% dari 54,1% pada 2010 menjadi 51,3% pada 2011. Alhasil Laba bersih dibukukan pada 2011 sebesar Rp 10,965 triliun atau turun 5% dibandingkan 2011 sebesar Rp 11,537 triliun.

Pada 2011 Telkom berhasil meraih total omset sebesar Rp 71,3 triliun atau  naik 3,8 % dibanding  2010 sebesar Rp 68,62 triliun rupiah.

Anak usahanya, Telkomsel,  pada 2011 meraih omset Rp 48,73 triliun rupiah atau  naik 7 persen dibandingkan  2010 sebesar Rp 45,57 triliun.  EBITDA dari Telkomsel pada 2011 sebesar Rp 27,549 triliun atau tumbuh 4% dibandingkan 2010 sebesar Rp 26,598 triliun.

EBITDA margin pada 2011 sebesar 57% atau turun 1% dibandingkan 2010 sebesar 58%. Sementara laba bersih pada 2011 dibukukan Rp 12,823 triliun atau tumbuh 4% dibandingkan 2010 sebesar Rp 12,362 triliun.

Indosat berhasil meraih omset   sebesar  Rp 20.576,9 triliun  atau naik 3,9 persen dibandingkan 2010 sebesar Rp 19.796,5 triliun. Bisnis seluler dengan 51,7 juta pelanggan  membukukan omset Rp  16.750,9 triliun  pada 2011 atau naik 4,5 persen dibandingkan 2010 sebesar  Rp 16.027 triliun.

Sedangkan  laba bersih dibukukan  sebesar  Rp 835 miliar   pada 2011 atau naik 29 persen dibandingkan 2010 sebesar  Rp 647,2 miliar.

XL berhasil meraih  omset sebesar Rp 18,92 triliun pada 2011  atau naik 7% dibandingkan 2010 sebesar 17,6 triliun. Kinerja EBITDA mengalami peningkatan  sebesar 1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar  Rp 9,3 triliun   dengan marjin sebesar 49%

Sementara  laba bersih bertahan pada Rp  2,8 triliun  untuk periode 12 bulan yang berakhir di bulan Desember 2011 atau turun 3,4%  dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar  Rp 2,9 triliun.

Nasib pahit dialami oleh pemain berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) seperti BTEL dan Smartfren Telecom (Fren). BTEL  mencatat kerugian bersih Rp 782,70 miliar. Angka itu berbanding terbalik pada 2010   dimana pemilik merek dagang esia ini mampu membukukan  laba bersih Rp 9,97 miliar.

Hal yang mengagetkan adalah omset yang diraih BTEL pun melorot.   Pendapatan bersih BTEL di 2011 turun 6,16% menjadi Rp 2,59 triliun dari 2010 sebesar Rp  2,76 triliun.

Fren juga membukukan kerugian Rp 2,4 triliun pada 2011 atau naik 71% dibandingkan 2010 sebesar Rp 1,4 triliun.

Namun, Fren masih mampu mencatat omset pada 2011 sebesar Rp 954,331 miliar atau naik 152% dibandingkan 2010 sekitar Rp 376,551 miliar.

Bergeser

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengakui, industri telkomunikasi khususnya bagi penyelenggara jaringan dan layanan terjadi pergeseran. “Jika diibaratkan di matriks Boston Consulting Grup (BCG), operator itu bergeser dari bintang (star) ke sapi perahan (cash cow). Kondisi ini sama dengan industri rokok. Pertumbuhan masih ada di industri telekomunikasi tetapi dari sektor Information, Media, dan Edutainment (IME) yang dipicu oleh penetrasi akses data,” ,” katanya.

Diungkapkannya, puncak pertumbuhan dobel digit dari industri telekomunikasi adalah pada 2007 yakni sebesar 24,3% dengan total nilai pasar sekitar Rp 90 triliun.

Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) kala itu tumbuh 18,7% dengan nilai Rp 50 triliun. Sementara laba bersih tumbuh 15,6% dengan besaran Rp 18 triliun.

Setelah itu industri telekomunikasi secara perlahan tetapi pasti berpindah matriks dari Star ke Cash Cow.

Hal itu bisa dilihat dari pertumbuhan pendapatan   pada 2011 hanya dikisaran 6,2% dengan nilai pasar sekitar Rp 119 triliun. EBITDA tumbuh 2,5% dengan nilai sekitar Rp 55 triliun dan laba bersih justru turun 3,9% sekitar Rp 16 triliun.

Presiden Direktur XL Axiata mengungkapkan,  penetrasi selular di Indonesia  sudah lebih dari 100 persen. Jumlah pelanggan sudah menembus angka 250 juta nomor melampaui populasi penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta.

Hal itu berdampak pertumbuhan perusahaan menjadi  sulit mencapai double digit. “Tapi, ini sudah menjadi tantangan kami yang harus tetap kompetitif supaya bisa bertahan dan mencapai kepuasan pelanggan,” kata Hasnul.

Sementara  para analis pasar modal menilai kinerja saham-saham operator telekomunikasi pada tahun Naga Air ini jauh dari sentimen positif.

Kepala Riset Hennan Putihrai Felix Sindhunata menjelaskan, penetrasi pasar telekomunikasi di Indonesia sudah mencapai 90% sehingga operator akan sulit meningkatkan pendapatan.

“Persaingan antaroperator yang memicu perang tarif membuat pertumbuhan kinerjanya terbatas,” katanya.

Disarankannya, investor mencermati arus kas operator sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada salah satu saham telekomunikasi. Pasalnya, arus kas sangat menentukan kemampuan untuk melakukan ekspansi usaha melalui pengembangan produk baru dan layanan turunannya.

Sebelumnya, para pelaku di industri seluler sudah memberikan sinyal bahwa tahun ini salah satu masa  yang paling sulit karena pertumbuhan hanya di kisaran 8-9 persen.

Pasalnya, layanan data belum bisa menjadi pemasok pendapatan secara signifikan menggantikan jasa suara dan SMS. Sementara layanan value Added Services (VAS) belum bangkit  setelah adanya unreg massal pada medio Oktober lalu.

Pengamat Telematika Ruby Hermanto mengungkapkan, rendahnya pertumbuhan omset dan tertekannya bottom line pemain tiga besar tak bisa dilepaskan dari korban akselerasi hasil penurunan biaya interkoneksi pada 2008 yang memicu terjadinya perang tarif di suara dan SMS.

“Kala biaya interkoneksi dipangkas 20 – 40 persen pada 2008, itu direspons oleh Telkomsel melalui produk simPATI yang menurunkan tarif ritelnya. Setelah itu, perang tarif dimulai dengan aksi XL yang secara signifikan membangun citra sebagai operator tarif murah,” katanya.

Dampak positif dari kondisi itu adalah bagi perekonomian nasional, sektor telekomunikasi    berhasil menjadi salah satu kontributor untuk menekan inflasi nasional.

“Tetapi korbannya revenue dan marjin turun.  Bahkan hampir mustahil bisa kembali seperti sebelum 2008 walau ada bisnis data yang didengungkan sebagai alat untuk bertahan,” katanya.[dni]

 

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s