Aksi Cerdik Meningkatkan Omset

Krisis yang terjadi di benua Eropa dan fluktuatifnya harga avtur menjadikan maskapai penerbangan harus pintar-pintar mengatur langkah mengarungi tahun Naga Air.

Selain efisiensi, aksi aliansi harus lebih banyak dilakukan agar utilisasi aset tetap terjaga. Salah satu maskapai yang merealisasikan konsep tersebut adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut baru saja menggandeng dua perusahaan global dan satu maskapai lokal untuk beraliansi.

Dua perusahaan global yang digandeng adalah Shell International Limited dan Standard Chartered Bank (Stanchart). Sementara maskapai lokal yang diajak beraliansi adalah Susi Air.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengungkapkan, perseroan menargetkan  tahun ini ada 20 kontrak global lagi yang akan menyumbang 15 persen atau 450 miliar rupiah dari target pendapatan penjualan korporasi 2012 sebesar 3 triliun rupiah.

Dijelaskannya,   melalui kerjasama dengan perusahaan global  bisa meningkatkan pangsa pasar perseroan. Misalnya,  kerjasama dengan Shell dimana karyawannya  akan memakai Garuda untuk bepergian, dari dan ke Belanda, Singapura, Jepang, Hong Kong, dan semua destinasi Garuda.

Hal yang sama dengan Stanchart dimana dengan perkiraan pengeluaran rata-rata setiap orang mencapai  200 dollar AS untuk membeli tiket pesawat. Jika 20% dari 400.000 pemilik kartu  menggunakan Garuda, ada  162 miliar rupiah mengalir ke kocek perseroan.

Belum lagi dari sebaran penggunaan yang menyasar ke   enam pasar  yaitu Singapura, Thailand, Malaysia, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selata

Lain lagi pola kerjasama dengan  Susi Air yang selama ini terkenal sebagai maskapi berjadwal dan charter dengan wilayah operasi di kabupaten-kabupaten. Garuda menyadari penumpang Susi tentu ingin terkoneksi dengan kota-kota besar. Tak rela potensi pasar ini disabet oleh kompetitor, Susi Air pun digandeng dengan menawarkan penjualan tiket secara bersama-sama.

Untuk mendukung hal tersebut, Garuda Indonesia akan menfasilitasi Susi Air dengan layanan penjualan tiket Garuda Indonesia secara elektronik melalui Garuda Online Sales (GOS). Selain itu, kerjasama ini juga meliputi bidang Sumber Daya Manusia dan bidang operasional lainnya.

“Tahap awal kerjasamanya seperti itu dulu. Kita bantu Susi Air berjualan tiketnya, sementara Garuda juga akan membantu secara Teknologi informasinya (TI). Kita belum bisa melakukan satu harga tiket untuk kedua maskapai karena sistem TI yang digunakan berbeda. Garuda sudah berbasis IATA, Susi Air masih TIC Aero. jika sistem TI Susi Air sudah di-upgrade, bisa saja terjadi satu harga untuk penumpang yang manfaatkan Susi Air dan Garuda,” jelas Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia, M. Arief Wibowo

Ditargetkannya, melalui kerjasama yang dilakukan Garuda bisa mendapatkan  pendapatan sebesar 30 miliar rupiah setiap bulan. Perolehan pendapatan tersebut berasal dari jumlah penumpang Susi Air setiap harinya dimana transaksi per penumpang sekitar  500 ribu rupiah hingga satu  juta rupiah, dimana Garuda menargetkan mendapatkan seribu penumpang.

Sinyal Positif

Menurut Pengamat Ekonomi dari Universitas Trisakti DR Fransiscus Paschalis aksi korporasi yang agresif dilakukan Garuda bisa memberikan sinyal positif bagi pasar bahwa rute-rute domestik bisa menjadi kekuatan penopang omset di kala krisis ekonomi melanda dunia.

“Saat ini rute jarak jauh sedang mengalami krisis, terutama ke Eropa. Garuda bisa memperlihatkan kepada publik dengan mengandalkan pada pasar domestik dan rute jarak jauh yang terseleksi seperti ke Jepang, pertumbuhan terus terjadi,” katanya.

EVP Corporate Communication Mandiri Sekuritas Febriati Nadira optimistis adanya sinyal-sinyal positif yang terus dilontarkan Garuda bisa mempermulus proses penjualan sisa saham BUMN transportasi itu ke calon pembeli.

”Kinerja Garuda tahun lalu bagus, ini bisa memberikan sinyal postif bagi publik. Kita harapannya bisa melepas saham tersisa itu di harga optimal seperti tahun lalu dibeli yakni 750 rupiah. Mudah-mudahan bisa sama atau di atasnya,” katanya.

Berdasarkan catatan, pada 2011 laba usaha Garuda melonjak 16 kali lipat atau 1.606 persen  menjadi 1,01 triliun rupiah  dari posisi tahun lalu yang masih merugi 67,16 miliar rupiah pada 2010.

Sementara laba komprehensif pada 2011 sebesar 858.8 miliar rupiah atau tumbuh 285, 46% dibandingkan 2010 sebesar 22.8 miliar rupiah. Omset yang diraih sebesar   27,16 triliun rupiah atau naik 39,06 % dibandingkan 2010  19,534 triliun rupiah.

Seperti diketahui, penjualan sisa 10,88 persen  saham Garuda  di tangan tiga BUMN  sekuritas memasuki babak baru seiring ditunjuknya Morgan Stanley sebagai penasehat keuangan (financial advisor).

Ketiga  BUMN sekuritas itu adalah  PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Danareksa yang menjadi penjamin emisi Garuda  kala go public tahun lalu. Ketiganya  terpaksa menyerap saham perdana Garuda karena saat IPO tidak laku di pasar saham saat karena dinilai terlalu mahal.

Publik menanti, akankah saham Garuda mampu terjual minimal 10 persen di atas harga pasar saat ini atau sama dengan kala Initial Public Offering (IPO) tahun lalu yakni sekitar 750 rupiah. Saham Garuda sendiri pada perdagangan Jumaat (13/4) senilai 630 rupiah.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s