Telkom dan Pelindo II Dirikan JV

JAKARTA – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) telah mendirikan perusahaan patungan (Joint Ventures/JV) dengan nama PT Indonesia Logistic Community System (ILCS) guna menggarap bisnis pelayanan solusi teknologi informasi bagi perusahaan logistik.

“Kami membuat JV tersebut pada Februari lalu. Kita menargetkan pada semester II/2012 sudah bisa operasional dengan melayani terlebih dulu pelabuhan di bawah kelola PT Pelindo II. Setelah itu baru dibidik dari pelaku usaha lainnya,” ungkap Direktur IT Solution & Strategic Portfolio Telkom Indra Utoyo di Jakarta, Kamis (3/5).

Diungkapkannya, kedua perusahaan menyiapkan investasi awal sebesar 100 miliar rupiah untuk mendirikan JV tersebut dengan komposisi saham 51 persen dari Telkom dan 49 persen sisanya dari Pelindo II. CEO dari JV ini akan diduduki wakil Telkom, sementara Komisaris Utama dari Pelindo II.

“Sisa pendanaan nantinya akan diminta perusahaan tersebut berkreasi, bisa dari pinjaman atau lainnya. Dibentuknya JV agar ada kreatifitas dalam berusaha,” katanya

Menurutnya, sebagai perusahaan baru JV ini belum dibebani target yang muluk dari sisi omset atau keuntungan. “Kita memantapkan sistem kerja dan pelayanan. Tujuan lain membentuk JV ini untuk mendukung National Single Window (NSW) dan meningkatkan daya saing logistic Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, aksi membentuk JV ini tak bisa dilepaskan dari ditandatanganinya nota kesepahaman pembangunan Indonesia Logistics Community Services berbasis teknologi informatika pada tahun lalu yang melibatkan enam belas badan usaha milik negara (BUMN).

Dalam nota kesepahaman tersebut, pengembangan ILCS akan dipimpin  Telkom dengan inisiatif dari  Pelindo II . BUMN lain yang ikut menandatangani nota kesepahaman, antara lain, Pelindo I, Pelindo III, Pelindo IV, PT Kereta Api Indonesia, PT ASDP Indonesia Ferry, serta PT Angkasa Pura I dan II.

Berkaitan dengan aksi akuisisi, Indra menjelaskan, perseroan masih terus mencari perusahaan berbasis solusi Teknologi Informasi untuk di ambil alih. “Masalahnya di Indonesia perusahaan teknologi informasi itu terbatas. Kita terus pasang mata dan telinga jika ada yang bisa diakuisisi dan disinergikan dengan milik Telkom melalui vertical solution,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Pelindo II Richard Joost Lino mengakui memang mendorong dibentuknya anak usaha untuk setiap pengelolaan bisnis baru di lingkungan usahanya. “Membentuk anak usaha itu bagus karena bisa mendorong sumber daya manusia menjadi kreatif,” katanya.

Terkait dengan sistem dari  ILCS sendiri, diprediksi Lino   dilakukan pada Juli 2012. Sistem ini memungkinkan tersedianya platform layanan di antaranya E-payment, Tracking dan Tracing, Booking Shipment dan Trucking. Dengan ILCS, waktu tunggu kapal dapat diturunkan dari rata-rata 5,5 hari menjadi 4,5 hari.

“Pelindo II akan melakukan sosialisasi kepada para pengguna jasa dan kami berharap seluruh sistem ini telah mampu diadaptasi dalam jangka waktu enam bulan setelah penerapannya,” jelasnya.

Selain itu, Pelindo II  akan menerapkan peningkatan layanan bongkar muat yang ditetapkan tahun ini yang berbasis information and computer technology (ICT) di seluruh pelabuhan cabang Pelindo II.

Sebelumnya, layanan tersebut memungkinkan pemilik barang untuk mengecek keberadaan barangnya tanpa harus datang ke pelabuhan.

Menurutnya,  seluruh komponen di dalamnya dapat menurunkan waktu total peti kemas keluar dari kapal hingga keluar pintu area pelabuhan (dwelling time) dari enam hari menjadi tiga hari. “Ini akan menekan biaya logistik dan terwujudnya konektivitas nasional Indonesia,” katanya.[dni]

Telkom Alokasi Rp 4 triliun di Serat Optik

JAKARTA–PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengalokasikan dana sebesar empat triliun rupiah untuk pengembangan serat optik guna meningkatkan kualitas layanan dan diversifikasi produk bagi masyarakat.

“Pada 2012 ini perseroan melakukan program modernisasi jaringan akses dengan target sebanyak 2,4 juta satuan sambungan layanan di 66 Sentral Telepon Otomat (STO). Ini sudah kami lakukan sejak 2011 dimana  jaringan

akses sebanyak 360.000 satuan sambungan layanan di 8 STO di dua kota besar di Indonesia yaitu Jakarta dan Surabaya telah dilakukan,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Senin (30/4).

Diungkapkannya,  Untuk wilayah Jakarta modernisasi dilakukan di STO Cengkareng, Gandaria, Kebayoran Baru, Semanggi1, Slipi, Rawamangun dan Kelapa Gading, sedangkan untuk wilayah Surabaya meliputi STO Injoko dan Manyar. Sementara di 66 STO pada 2012 meliputi   Jakarta, Bandung, Cirebon, Pekalongan, Purwokerto, Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Bandarlampung, Medan, Padang, Palembang dan Pekanbaru.

“Pada hari ini kami   secara resmi mematikan jaringan  (phase out) akses telekomunikasi kabel tembaga yang selama ini melayani kebutuhan telekomunikasi pelanggan di kawasan Segitiga Emas: Sudirman, Thamrin dan Kuningan,” katanya.

Phase out menandai diimplementasikannya next generation network (NGN) secara end 2 end mulai dari internet protocol (IP) core hingga jaringan akses secara masif yang ditandai dengan di-phaseout-nya sentral telepon digital Indonesia dan diganti dengan softswitch dan digantikannya jaringan kabel tembaga dengan jaringan kabel fiber optic.

Dijelaskannya, perseroan menyiapkan dana sebesar dua miliar dollar AS untuk memodernisasi jaringan dari kabel tembaga ke serat optik. “Untuk yang empat triliun rupiah tahun ini diambil dari belanja modal 2012. Secara total program pergantian jaringan dari tembaga ke serat optik ini sekitar dua miliar dollar AS kebutuhan dananya,” jelasnya.

Dikatakannya, hingga 2015 program modernisasi jaringan akses ditargetkan sebanyak 13 juta satuan sambungan dengan kemampuan true broadband. Pembangunan fiber optic dilakukan dari secara nationwide dari ujung barat sampai ujung timur kepulauan Indonesia dengan total panjang 23.713 km mencakup 345 kabupaten atau sekitar 69% secara nasional dengan target 100% pada 2016.

Total kapasitas bandwidth di optical backbone mencapai 1,78 tera bit per second (Tbps ) dengan didukung jaringan metro ethernet untuk aggregasi regional sebanyak 1006 node metro seluruh Indonesia.

Lebih lanjut dijelaskannya, langkah Telkom menghentikan secara permanen jaringan akses telekomunikasi berbasis kabel tembaga sebagai aksi strategis  menuju jaringan information & communication technology (ICT) nasional berbasis IP dan optical network yang menjadi tulang punggung terbentuknya next generation nationwide broadband network (NG-NBN).

“Penggunaan serat optik ini menjadikan kapasitas semakin besar sehingga layanan berbasis video pun bisa dinikmati oleh pelanggan telepon tetap. Selain itu pelanggan telepon tetap bisa menikmati akses Wifi dengan kecepatan lebih luas. Sementara dengan jasa seluler bisa juga digunakan sebagai backbone,” katanya.

Berdasarkan catatan,  jika menggunakan kabel tembaga kecepatan akses yang didapat hanya mampu menyalurkan maksimal hingga 4Mbps. Jika menggunakan serat optik mampu menyalurkan bandwith hingga 100Mbps dengan  teknologi berbasis multi service access node (MSAN) & gigabit passive optical network (GPON).

Guna medukung peningkatan  bandwidth yang dimiliki, Telkom  menyiapkan kapasitas bandwidth gateway Internet sebesar 123 giga bit per second (Gbps), dengan didukung infrastruktur content deliver network (CDN) Google, Youtube, Akamai sebesar 82 Gbps di Jakarta, Batam dan Surabaya serta  peering domestik sebesar 32 Gbps.[dni]

TELE kaji Lepas Saham

JAKARTA–PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) sedang mengaji melepas sebagian saham yang dimilikinya ke mitra strategis untuk memperkuat perseroan menghadapi kompetisi di industri perangkat dan distribusi produk telekomunikasi.

“Saya mendapat informasi ada investor yang menghubungi sekuritas,” ungkap Presiden Komisaris TELE Hengky Setiawan di Jakarta, Selasa (1/5).

Diungkapkannya, pihaknya akan melepas sebagian saham yang dimiliki jika ada investor luar berani mengambil. “Jika ada yang mau akan dipertimbangkan, tetapi kami harus melapor dulu ke otoritas bursa untuk meminta saran,” jelasnya.

Sebelumnya, beredar kabar TELE tengah dibidik oleh produsen BlackBerry, Research in Motion (RIM), dan vendor ponsel dari Korea, Samsung. Dikabarkan harga saham yang ditawarkan oleh kedua perusahaan tersebut berkisar  600 rupiah per lembar saham.

Harga saham TELE sendiri diperdagangkan pada Selasa (1/5) dikisaran 375-390 rupiah. Perseroan pada tahun lalu meraup omset 6.988 triliun rupiah atau naik 12% dari 2010 sekitar 6.191 triliun rupiah. Sedangkan laba komprehensif tahun berjalan 2011 sebesar 146,8 miliar rupiah atau naik 216% dari 2010 sebesar  46.401 miliar rupiah.

TELE mencatatkan saham perdananya di bursa pada Kamis (12/1/12). Jumlah saham yang dicatatkan di papan utama BEI sebanyak 5,35 miliar saham yang terdiri dari saham ditawarkan sebanyak 1,35 miliar saham dan saham pendiri sebanyak 4 miliar saham.

 

Harga saham perdana yang ditawarkan kepada publik sebesar 310 per saham.

Pada tahun ini perseroan memiliki aksi korporasi mengakuisisi tiga perusahaan di sektor telekomunikasi yang menjadi prioritas akuisisi.

Ketiga perusahaan tersebut sebagian besar bergerak di bidang bisnis voucer dan telepon seluler dengan merek utama masih didominasi keluaran China. Untuk mengakuisisi tiga perusahaan itu, perseroan membutuhkan dana sekitar 600 miliar rupiah. Sebagian dana investasi akan diambil dari belanja modal(capex) tahun 2012 dan kas internal.[dni]

 

Q1/2012, Omset XL Tumbuh 9%

JAKARTA –PT XL Axiata Tbk (XL) mencetak  pendapatan sebesar  4,952 triliun rupiah selama kuartal I/ 2012 atau naik  9 persen dibandingkan periode sama 2011 sekitar   4,529 triliun rupiah.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi  menjelaskan, kenaikan pendapatan selama periode  kuartal I/2012 akibat tingginya pertumbuhan pendapatan  dari layanan data, dan  suara. “Potensi pendapatan memang datang dari jasa data dan suara. Di data pertumbuhannya tinggi, tetapi margin masih tipis,” ungkapnya kala dihubungi di Jakarta, Senin (30/4).

Diungkapkannya,  pendapatan layanan data internet dan jasa nilai tabah (VAS) selama tiga bulan pertama 2012 mencapai 857 miliar rupiah  melonjak 19 persen dari periode sama 2011 sebesar 721 miliar rupiah.

Sementara  pendapatan dari layanan SMS menembus angka 1,146 tiliun rupiah di kuartal I/2012  atau  tumbuh 18 persen dari sebelumnya hanya 973 miliar rupiah pada kuartal I/2011. Pendapatan dari jasa interkoneksi seluler dan roaming internasional mencapai 426 miliar rupiah pada kuartal I/2012 dari sebelumnya sebesar 419 miliar rupiah di kuartal I/2011. Pendapatan layanan suara juga meningkat dari sebelumnya 1,945 triliun rupiah pada kuartal I/2011 menjadi 2,032 triliun rupiah di kuartal pertama 2012.

“Produk yang dihasilkan belum lama ini berhasil mendorong  pertumbuhan pada layanan percakapan. Untuk pertama kalinya sejak empat kuartal terakhir layanan percapakan menunjukkan pertumbuhan sejak pasar memasuki masa jenuh,” katanya.

Lebih lanjut diungkapkannya, hingga kuartal I/ 2012,  XL meningkatkan cakupan layanan data dengan pembangunan BTS terbanyak sepanjang sejarah mencapai 6.498 unit NodeB (BTS 3G) dari kuartal I 2011 sebanyak 3.023 NodeB.

“Pengguna layanan data telah mencapai  27,9 juta  pelanggan, meningkat sebesar 50 persen dari periode sama 2011,” ujarnya.

Dikatakannya,  sesuai dengan fokus untuk menerapkan metode tarif layanan data yang lebih tepat, XL telah menghentikan penawaran paket layanan data unlimited (tanpa batas) dan hanya fokus kepada penawaran  Pay as you use  (bayar sesuai pemakaian) seperti paket  Hot Rod 3G+.

“XL telah memperluas cakupan untuk layanan ini di 4 kota lainnya dan sekarang tersedia di Jakarta, Surabaya, Medan, Denpasar, Bandung, Semarang, Yogyakarta and Palembang. Hot Rod

3G+ XL lebih dapat diandalkan dengan kecepatan yang lebih baik hingga 3,6 Mbps,” katanya.

Serapan Capex

Berkaitan dengan belanja  modal yang telah terserap selama kuartal I/2012, Hasnul mengungkapkan, perseroan mencatat pembayaran untuk belanja modal sebesar 1,76 triliun rupiah  dari total 4,8 triliun rupiah yang dianggarkan selama 2012.

Perseroan juga berhasil mempertahankan arus kas positif selama kuartal I/2012  sebesar 346 miliar rupiah. Pada periode kuartal I/2012 terdapat beberapa pembiayaan kembali hutang dan perjanjian pinjaman Bank yang baru di bulan Maret 2012 dengan BCA yang telah dicairkan sebesar 1,1 triliun rupiah.

Hal ini membawa total hutang meningkat dari 9 triliun rupiah di kuartal I/2011 menjadi 11,5 triliun rupiah di kuartal I/2012. Akan tetapi, posisi keuangan XL tetap sehat pada 1Q12 dengan rasio Hutang Bersih/Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi sebesar 1,0x dari 0,9x setahun yang lalu dan Hutang/Ekuitas sebesar 0,9x dari 0,7x setahun sebelumnya.

Sementara untuk laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (Earning Before Interset tax Depreciation and Amortization/EBITDA) meningkat sebesar satu persen  atau  2,4 triliun rupiah  dengan margin 48 persen dan laba bersih sebesar 656 miliar rupiah untuk kuartal pertama 2012.

“Kinerja yang positif selama kuartal I/2012 menjadikan kami optimistis dengan target yang ditetapkan untuk 2012 yakni tumbuh sama dengan rata-rata industri yakni 7-8%, atau bisa di atasnya sedikit,” katanya.[dni]

Obligasi Indosat Tetap Diminati

JAKARTA—Obligasi milik PT Indosat Tbk (Indosat) yang akan diterbitkan pada Mei ini diyakini tetap diminati oleh pasar walau kinerja dari perseroan selama kuartal pertama 2012 tidak begitu menggembirakan.

Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada menjelaskan, investor dalam membeli obligasi lebih melihat peringkat yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat dan kemampuan membayar dari penerbit, selain kinerjanya.

“Investor itu mempercayai laporan yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat seperti PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) atau lembaga pemeringkat internasional, Fitch Rating. Pasalnya, lembaga tersebut dalam memberikan peringkat sudah melakukan valuasi menyeluruh dari penerbit,” jelasnya di Jakarta, Rabu (2/5).

Ditambahkannya, sentimen positif juga menghinggapi Indosat karena mantan Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom, Erik Meijer, bergabung ke operator tersebut menjadi Director and Chief Commercial Officer menggantikan Laszlo Imre Barta tak lama lagi.

“Sosok Erik ini memiliki reputasi yang harum di industri telekomunikasi karena rekam jejaknya selalu cemerlang di setiap operator yang memperkerjakannya. Sosok ini sama dengan Sebastian Paredes yang mampu mengangkat saham bank Danamon kala dirinya bergabung,” katanya.

Secara terpisah, Corporate Secretary Indosat Strasfiatri Auliana mengungkapkan, perseroan telah mendaftarkan ke Bapepam untuk penerbitan obligasi dan sukuk ijarah yang telah diajukan dengan maksimum penerbitan masing–masing  2,5 triliun rupiah  dan  500 miliar rupiah.

“Sedang dalam proses di Bapepam. Kita targetkan bulan ini sudah diterbitkan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Pefindo menaikkan Indosat   ke level idAA plus dengan outlook stabil.

Selain itu, lembaga pemeringkat internasional, Fitch Rating, juga telah menaikkan peringkat surat utang Indosat untuk Long-Term Foreign- dan  Local-Currency Issuer Default Ratings (Rp) serta Foreign Currency senior unsecured rating dari posisi BBB minus menjadi BBB dengan outlook stabil.

Pada saat bersamaan, pemeringkat juga memberikan peringkat nasional Long-Term ‘AAA(idn)’ dan ‘AAA(idn)’ untuk obligasi dan sukuk ijarah yang telah diajukan dengan maksimum penerbitan masing–masing 2,5 triliun rupiah  dan  500 miliar rupiah.

Kenaikan peringkat ini mencerminkan perbaikan dalam profil kredit Indosat dan ekspektasi Fitch bahwa arus dana operasional dari uutang bersih akan terdorong oleh penjualan 2.500 menara kepada PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Faktor lain adalah arus kas bebas positif yang berkelanjutan.

Kredit profil Indosat tetap mencerminkan posisi Indosat sebagai operator kedua terbesar berdasarkan pangsa pasar pelanggan dan pangsa pasar pendapatan diantara lima operator telekomunikasi terbesar, yang diyakini oleh Fitch bahwa perusahaan papan atas di pasar telekomunikasi Indonesia akan tetap meraup laba tertinggi di wilayah Asia Pasifik.

Kinerja Indosat selama kuartal I/2012 kurang menggembirakan. Tercatat,  laba  mengalami penurunan   96,5% selama kuartal I/2012 dari posisi  483,7 miliar rupiah pada kuartal I/2011 menjadi  16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini.

Sedangkan  omset Indosat pada kuartal I/2012 naik sebesar 2,1% dari 4,874 triliun rupiah  pada kuartal I/2011 menjadi  4,977 triliun rupiah  di kuartal I/2012.

Saham Indosat pada perdagangan Rabu (2/5) ditutup 4825 rupiah dengan pergerakan terendah 4800 rupiah dan tertinggi 4900 rupiah. Sedangkan saham yang diperdagangkan sebanyak 2.283.500 lembar.[dni]

Laba Indosat Turun 96,5%

JAKARTA—PT Indosat tbk (Indosat) mengalami penurunan laba sebesar 96,5 persen selama kuartal I/2012 dari posisi 483,7 miliar rupiah pada kuartal I/2011 menjadi 16,7 miliar rupiah di kuartal I tahun ini.

Presiden Direktur & CEO Indosat Harry Sasongko menjelaskan, penurunan laba terjadi karena menguatnya nilai tukar dollar Amerika Serikat, sehingga walau terjadi pertumbuhan pendapatan tak mampu menutupi penurunan.

“Sebenarnya selama kuartal I/2012 Indosat mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 2,1% dari 4,874 triliun rupiah pada kuartal I/2011 menjadi 4,977 triliun rupiah di kuartal I/2012,” ungkapnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (1/5).

Dijelaskannya, jasa seluler masih menjadi penopang pendapatan dari Indosat sebesar 4,97 triliun rupiah atau tumbuh 3% dibandingkan periode sama kuartal I/2011 sebesar 4,07 triliun rupiah. Jumlah pelanggan seluler mencapai 52,1 juta nomor atau naik 14% dibandingkan periode sama 2011.

Namun, penurunan terjadi di jasa non seluler dimana pada kuartal I/2012 diraih sebesar 913,4 miliar rupiah atau turun 1,8%  dibanding periode sama kuartal I/2011 sebesar 897,2 miliar rupiah.

Sementara Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) naik 3,6% menjadi 2,33 triliun rupiah pada kuartal I/2012 dari 2,256 triliun rupiah di kuartal I/2011. Sedangkan margin EBITDA naik 0,7% menjadi 47%.

Di kuartal I, perusahaan berhasil mengurangi utang secara signifikan hingga tinggal 23,1 triliun rupiah atau turun 3,5% dibandingkan periode sama 2011 sebesar 23,95 triliun rupiah.

Pelunasan Obligasi

Lebih lanjut Harry menjelaskan, manajemen memiliki keyakinan  dengan likuditas perusahaan yang makin kuat, sehingga  memutuskan pelunasan awal obligasi Indosat II Seri B Tahun 2002 dengan harga 101 persen dari nilai pokok. Surat utang ini semula akan jatuh tempo pada 2031 dengan nilai pokok 200 miliar rupiah.

“Ini sebagai bagian dari strategi pembiayaan perusahaan di tahun 2012, dan juga sebagai menunjukkan posisi likuiditas Indosat yang kuat di tengah kondisi global makroekonomi global yang penuh tantangan,” jelasnya.

Diungkapkannya,  pengumuman pelunasan awal obligasi ini rencananya dilakukan pada 4 Mei 2012.

Menurutnya, keputusan Indosat melunasi obligasi lebih awal dari jadwal jatuh tempo tak terlepas dari naiknya peringkat perusahaan ke level idAA plus dengan outlook stabil. Kenaikkan itu disampaikan oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo)

Selain itu, lembaga pemeringkat internasional, Fitch Rating, juga telah menaikkan peringkat surat utang Indosat untuk Long-Term Foreign- dan  Local-Currency Issuer Default Ratings (Rp) serta Foreign Currency senior unsecured rating dari posisi BBB minus menjadi BBB dengan outlook stabil.

Pada saat bersamaan, pemeringkat juga memberikan peringkat nasional Long-Term ‘AAA(idn)’ dan ‘AAA(idn)’ untuk obligasi dan sukuk ijarah yang telah diajukan dengan maksimum penerbitan masing–masing 2,5 triliun rupiah dan 500 miliar rupiah.

Diyakininya, kenaikan peringkat ini mencerminkan perbaikan dalam profil kredit Indosat dan ekspektasi Fitch bahwa arus dana operasional dari uutang bersih akan terdorong oleh penjualan 2.500 menara kepada PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Faktor lain adalah arus kas bebas positif yang berkelanjutan.

Kredit profil Indosat tetap mencerminkan posisi Indosat sebagai operator kedua terbesar berdasarkan pangsa pasar pelanggan dan pangsa pasar pendapatan diantara lima operator telekomunikasi terbesar, yang diyakini oleh Fitch bahwa perusahaan papan atas di pasar telekomunikasi Indonesia akan tetap meraup laba tertinggi di wilayah Asia Pasifik

“Kami optimistis menghadapi tantangan 2012.Kami melihat tanda-tanda penguatan dalam beberapa segmen penting termasuk data. Kami bekerja dengan teliti untuk menjamin kesiapan jaringan, produk dan jasa kami untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Keuntungan dari inisiatif-inisiatif dalam skala Group sebagai usaha meningkatkan bisnis telah kami rasakan, dan kami yakin bahwa  akan menjadi tahun yang penuh dengan kemajuan,” tandasnya.[dni]

Garuda Cetak Omset Rp 6,45 triliun

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) selama kuartal pertama 2012 mencetak omset sebesar  6,45 triliun rupiah atau tumbuh 23 persen  dari posisi kuartal pertama 2011 sebesar  5,29 triliun rupiah.

“Garuda mencatat kinerja pendapatan yang positif pada kuartal I/2012 di tengah musim sepi penumpang selama periode ini. Kuartal pertama tiap tahun sebenarnya merupakan saat-saat berat bagi bisnis penerbangan. Pada kuartal pertama itu tidak banyak liburan dan kebanyakan orang menahan diri untuk bepergian. Hampir semua maskapai di dunia mengalami masa sulit, kecuali maskapai di daerah China dan sekitarnya yang ada liburan hari raya Imlek,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emisyah Satar di Jakarta, Senin (30/4).

Dijelaskannya, pertumbuhan tersebut disebabkan oleh kenaikan kinerja operasional. Pada kuartal pertama 2012 ini  Garuda  meraih laba komprehensif berjalan 4,9 juta dollar AS atau  meningkat dibanding kuartal pertama tahun lalu yang rugi 19,34 juta dollar AS.

Kondisi tersebut didapat dari kenaikan jumlah penumpang yang diangkut oleh Garuda pada kuartal I 2012 sebesar 25,33 persen yaitu sebanyak 4,6 juta penumpang dibanding periode yang sama tahun lalu yaitu 3,7 juta penumpang.

“Penumpang domestik mengalami peningkatan sebesar 23,01 persen dari 2,6 juta penumpang pada kuartal I 2011 menjadi 3,2 juta penumpang pada kuartal 1 2012, penumpang internasional juga meningkat menjadi 834.000 penumpang dari tahun lalu yang hanya 706.800 penumpang atau naik 18,05 persen,” jelasnya.

Menurutnya, sistem pemesanan tiket di muka (early bird) dan Garuda Fair yang memberikan potongan tiket kepada penumpang menjadi program yang mendongkrak kenaikan jumlah penumpang. Kapasitas produksi Garuda juga meningkat sebesar 16,5 persen menjadi 8,57 miliar dari 7,35 miliar seat kilometer pada periode yang sama tahun lalu.

“Kenaikan jumlah penumpang tersebut meningkatkan passanger revenue sebesar 27,5 persen yaitu sebesar 598 juta dolar AS,” katanya.

Berkaitan dengan penambahan armada, diungkapkannya, hingga kuartal pertama 2012, Garuda juga sudah menambah 64 pesawat dan pesawat untuk Citilink sebesar 9 pesawat. Dengan pesawat-pesawat baru tersebut maka pada 2012 jumlah armada Garuda akan mencapai sebanyak 105 pesawat dengan rata¿rata usia 5,8 tahun.

“Pada 2013, jumlah pesawat Garuda akan berjumlah 128, selanjutnya pada 2014 berjumlah 163 pesawat dan pada 2015 mencapai 194 pesawat dengan 33 di antaranya adalah wide body, sisanya adalah pesawat narrow body,” jelas Emir.

Dengan rata-rata harga pesawat berbadan lebar adalah 100 juta dolar AS dan berbadan kecil 50 juta dolar AS maka Garuda membutuhkan dana sekitar 11,35 miliar dolar AS hingga 2015 untuk mencapai target penambahan pesawat. “Untuk  pendanaan hingga 2013 sudah aman,” tegasnya.

Kedepannya, Emir tetap optimis Garuda akan tetap menangguk untung. Pasalnya, pasar penerbangan domestik akan tetap meningkat.  “Kami hanya perlu mewaspadai  fluktuasi harga avtur yang saat ini telah menjulang tinggi,” katanya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, perwakilan karyawan Garuda Indonesia, Dr Ikhwan Zulhizan, menyambut gembira lancarnya pergantian jajaran direksi di Garuda dan kinerja yang positif selama kuartal pertama 2012.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada pemegang saham yang telah menetapkan direksi Garuda yang baru, yang terdiri dari angkatan muda dan credible  sehingga program transformasi di Garuda Indonesia akan dapat berlanjut dengan baik”, katanya.

Ditegaskannya,  seluruh karyawan Garuda akan mendukung sepenuhnya program-program pengembangan Garuda ke depan dengan semangat one team, one spirit, one goal.”Kami berharap tidak ada lagi pihak-pihak yang mengganggu program pengembangan Garuda ke depan,” tandasnya.[dni]

Dnet Bidik Omset Tumbuh 11%

JAKARTA—PT Dyviacom Intrabumi Tbk (Dnet) membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 11 persen pada 2012 atau mencetak omset sekitar 20 miliar rupiah dari 18.371 miliar rupiah pada 2011.

“Kita mengalokasikan belanja modal untuk 2012 sebesar 600 juta rupiah atau naik 20 persen ketimbang 2011 sebesar 500 juta rupiah. Belanja modal akan banyak terserap untuk mengembangkan bisnis solusi Teknologi Informasi (TI) karena menjadi penopang omset pada 2011 sebesar 60 persen. Bisnis Penyedia Jasa Internet (PJI) hanya berkontribusi 30 persen bagi total omset,” ungkap Direktur Dyviacom Intrabumi Devi S Talim di Jakarta, akhir pekan lalu.

Diungkapkannya, pada 2011  Dnet berhasil meraih keuntungan sebesar 694.104 juta rupiah atau tumbuh 58 persen dibandingkan 2010 sebesar 439.264 juta rupiah.

Sedangkan pendapatan pada 2011  tumbuh  sebesar 11,85 %, naik dari 16.425 miliar  pada akhir tahun 2010 menjadi  18.371 miliar rupiah pada akhir 2011. Pertumbuhan pendapatan paling besar disebabkan oleh bisnis IT Solution yang tumbuh dari  15.653 miliar rupiah pada akhir tahun 2010 menjadi  17.088 miliar rupiah pada akhir tahun 2011 atau naik 9,16% .

Laba sebelum pajak pada 2011 juga meningkat dari  609.850 juta rupiah   pada akhir tahun 2010 menjadi 969.667 juta rupiah pada akhir tahun 2011 atau meningkat sebesar 59%. Peningkatan Laba Sebelum

Pajak disebabkan karena penurunan beban usaha. Pada 2011, perseroan memilih untuk menggunakan tenaga professional, sehingga pada tahun 2011 ini tidak ada lagi biaya outsourcing seperti  2010 yaitu sebesar 322.756 juta rupiah.

Diungkapkannya, untuk menjaga kestabilan kinerja operasional, perseroan masih terus menggunakan Bridging Loan dari pemegang saham mayoritas PT Philadel Terra Lestari sebesar  1.359 miliar rupiah.

“Langkah ini masih terus dilanjutkan untuk memberi kesempatan kepada proyek-proyek ICT yang sedang dikembangkan, diuji coba, diimplementasikan dan dipasarkan sehingga dapat menghasilkan pendapatan bagi perseroan,” katanya.

Kembangkan Portal

Lebih lanjut Devi mengungkapkan, pada tahun ini akan semakin agresif mengembangkan portal ogahrugi.com yang bermain di segmen daily deal dan vivaioinc.com sebagai alat untuk bermain di digital marketing.

“Vivaionic digunakan untuk membidik segmen korporasi. Saat ini sudah ada 4 perusahaan yang menjadi klien dan ditargetkan menjadi 12 perusahaan pada akhir 2012. Sementara Ogahrugi.com sudha memiliki 850 merchant dimana dalam sehari ada merchant melakukan aktivitas daily deal,” ungkapnya.

Dikatakannya,  di bisnis aplikasi, Dnet sudah  mengembangkan produk aplikasi mini ERP (Enterprise Resources Planning) untuk bisnis distribusi dan retailer yang berbasis teknologi cloud computing.

Sementara untuk bisnis PJI, Dnet terus meningkatkan  layanan Manajemen Infrastruktur seperti manajemen Bandwidth, Load Balancing, Fail Over, VPN serta Traffic monitoring dengan terus meningkatkan kapasitas Bandwith, POP serta manajemen redundant POP dengan koneksi wireless dan fibre optik.[dni]

 

Telkom Bangkit di Kuartal I/2012

JAKARTA– PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) menunjukkan sinyal kebangkitan pada kuartal pertama 2012 dengan berhasil mengalami pertumbuhan dobel digit pada kinerja bottom line.

“Pencapaian Telkom selama kuartal pertama 2012  sangat menggembirakan karena di tengah-tengah kompetisi yang sangat ketat, perseroan masih mampu membukukan laba bersih dengan pertumbuhan yang signifikan”, ujar Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Kamis (26/4).

Diungkapkannya, pada triwulan I/2012 Telkom berhasil membukukan laba bersih sebesar  3,32  triliun rupiah atau tumbuh sebesar 17,50% dibanding periode sama tahun lalu sebesar 2,828 triliun rupiah.

Sedangkan pendapatan operasi mencapai 17,8 triliun rupiah atau tumbuh sebesar 6,50% dibanding periode sama tahun lalu sebesar 16,706 triliun rupiah.

Earning Before Interests, Taxes, Depreciation and Amortization (EBITDA)   tumbuh 11,40% menjadi Rp 9,62 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011 sebesar 8,642 triliun rupiah. Margin EBITDA Triwulan 1/2012 54,10% atau tumbuh  2,40% dibandingkan tahun lalu sebesar 51,70%.

Dijelaskannya, pendapatan operasi  Triwulan I/2012 dikontribusi oleh bisnis seluler  sebesar 7,20 triliun rupiah atau tumbuh 6,50% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 6,754.8 triliun.

Interkoneksi 876 miliar rupiah atau tumbuh 3,50 dibandingkan periode sama tahun lalu sebsar 846.1 miliar. Data, Internet dan IT sekitar  6,12 triliun rupiah atau tumbuh 12,20 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar5,451.9 triliun rupiah.

Pendapatan fixed line  mencapai 2,81 triliun rupiah atau turun 4,30% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 2,929.6 triliun rupiah. “Penurunan tersebut lebih baik dibanding penurunan 2011 sebesar 11,40%. Ini  merupakan sinyal bahwa program retensi perseroan terhadap pelanggan fixed line menunjukkan hasil yang positif. Selain itu jumlah pelanggan fixed line tumbuh menjadi 8,69 juta atau 4,20%, artinya minat masyarakat terhadap telepon kabel mulai meningkat kembali,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya,  dalam persaingan yang sangat tajam, salah satu tantangan besar adalah bagaimana perseroan mengelola biaya.

Dikatakannya, pada Triwulan I/2012, cash operating expenses Telkom mencapai 8,17 triliun atau rupiah atau tumbuh 1,40% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 7,5 triliun rupiah. Angka ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 6,50%.

Pencapaian ini berhasil dilakukan sehubungan dengan telah diterapkannya program cost optimization dan quality assurance initiatives, antara lain sentralisasi outsourcing, pensiun dini sukarela, optimalisasi properti/aset, optimalisasi collection fee, pengelolaan travel management system.

Program lain cost optimization adalah, inovasi teknologi salah satunya modernisasi jaringan akses dari kabel tembaga ke optik, sentralisasi pengelolaan kendaraan bermotor (KBM) dan bahan bakar minyak (BBM), implementasi green energy dengan mengganti freon air conditioner dengan retrofit hydrocarbon bekerjasama dengan Pertamina dan beberapa program lain yang menguatkan kepada sinergi TelkomGroup maupun BUMN.

“Meskipun program cost optimization ini baru dilaksanakan secara konsisten sekitar setahun, kami gembira karena telah memberikan hasil yang positif. Tentu program ini akan berlanjut karena efisiensi dan efektivitas dengan  sasaran yang tepat merupakan kebutuhan perusahaan modern”, jelasnya.

Anak Usaha

Berkaitan dengan kinerja dari anak usaha, Rinaldi menjelaskan, Telkomsel sebagai bagian dari TelkomGroup, pada triwulan I/2012   menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Pendapatan Telkomsel mencapai 12,30 triliun rupiah atau tumbuh 9 % dibandingkan Triwulan I/2011 sebsar 11,297 triliun rupiah. sedangkan laba bersihnya mencapai 3,51 triliun rupiah atau tumbuh 23% dibandingkan periode sama tahun lalu . EBITDA mencapai 7,08 triliun rupiah atau tumbuh 13,30% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar  6,245 triliun rupiah dengan margin 57,50%.

“Anak Perusahaan lainnya yang bergerak dalam bisnis telecommunication, information, media dan edutainment (TIME) seperti Mitratel, MetraGroup, TelkomVision, PINS, GSD juga menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang menjanjikan sebesar 55,40% meskipun secara nominal kontribusinya belum besar”, jelasnya.

Jumlah Pelanggan

Seiring dengan pertumbuhan pendapatan dan laba perseroan, jumlah pelanggan telephony juga terus bertambah: pelanggan Seluler (Telkomsel) mencapai 109,88 juta atau tumbuh 10,60%; Pelanggan wire line mencapai 8,69 juta atau tumbuh 4,20%; Pelanggan Flexi mencapai 15,12 juta atau turun 19,20%.

“Penurunan pelanggan yang dialami Flexi  karena Telkom  memang melakukan terminasi terhadap pelanggan tidak produktif yang dievaluasi secara berkala,” katanya.

Ditegaskannya, dalam rangka meningkatkan kualitas layanan Flexi maka pada Oktober 2011, Telkom menggelar layanan broadband mobile dengan teknologi Evolution Data Optimized (EVDO) yang mendapat sambutan positif dari pelanggan. Dalam kurun waktu sekitar tiga bulan hingga Maret 2012 tersebut, jumlah pelanggan EVDO sudah mencapai 103 ribu.

Sementara itu, jumlah pelanggan broadband mencapai 10,47 juta atau tumbuh 35,90% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pelanggan mobile broadband (Flash) mencapai 5,24 juta atau tumbuh 20,90%, pelanggan fixed broadband (Speedy) mencapai 1,88 juta atau tumbuh 5,20%, pelanggan Blackberry mencapai 3,35 juta atau tumbuh 111,90%.

“Kami yakin TelkomGroup sudah mulai bangkit karena transformasi perseroan yang dilakukan beberapa tahun lalu sudah mulai dirasakan hasilnya pada Triwulan I/2012 ini,” tandasnya.

Untuk diketahui, kinerja Telkom selama 2011 meleset dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Pada 2011, Telkom mencatat pertumbuhan realisasi pendapatan sebesar 3,8 persen menjadi  71,25 triliun rupiah  dari sebelumnya  68,63 triliun rupiah pada 2010.

Laba bersih pada 2011 turun menjadi  10,97 triliun rupiah dari 11,54 triliun rupiah pada 2010.

Pendapatan Telkom pada 2011 hanya mencapai 99,3 persen dari RKAP 2011 yang ditargetkan sekitar  71,8 triliun rupiah.

Sedangkan pada 2012 dalam RKAP  Telkom memasang target pendapatan  sebesar  76,4 triliun rupiah. Angka ini bertumbuh 7,15 persen dari RKAP 2011 sebesar 71,8 triliun rupiah.[dni]

TBIG Kaji Tambah Beli Menara Indosat

JAKARTA—PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mengaji kemungkinan menambah jumlah pembelian menara milik Indosat usai dituntaskannya pembayaran 2.500 infrastruktur sejenis yang dibeli pada awal Februari 2012.

“Sebagai perusahaan penyedia menara, TBIG selalu terbuka untuk mengakuisisi menara milik operator atau perusahaan sejenis. Saat ini kami fokus membereskan pembayaran 2.500 menara yang dibeli dari Indosat pada awal Februari lalu. Jika dibuka kemungkinan untuk membeli sisa menara yang berpotensi untuk dijual sekitar 1.500 menara lagi, tentu kita senang,” ungkap Presiden Direktur TBIG Herman Setya Budi di Jakarta, Rabu (25/4).

Diungkapkannya, jika pembayaran 2.500 menara selesai pada Mei nanti, ada kemungkinan melakukan inventarisir sisa 1.500 menara yang berpotensi dilepas oleh Indosat. “Sekarang belum ada inventarisir. Kita fokus membereskan masalah pembayaran itu dulu,” katanya.

Ditambahkannya, tidak hanya menara milik Indosat yang akan dibidik,  jika XL Axiata serius melepas 8 ribu menara yang dimilikinya, perseroan juga tertarik. “Sayangnya, hingga sekarang masih belum ada penawaran dari XL. Karena itu untuk pertumbuhan menara kami mengandalkan organik dimana selama kuartal pertama telah dibangun 700 menara yang menelan belanja modal sekitar 281 miliar rupiah,” ungkapnya.

Pembayaran Indosat

Pada kesempatan sama, Chief Financial Officer TBIG, Helmy Yusman mengungkapkan,  Rapat Umum Pemegang Saham menyetujui pembelian 2.500 menara telekomunikasi milik  Indosat. Pembayaran dimuka terdiri dari uang tunai  dan penerbitan saham baru sebanyak 239.826.310 lembar saham   dengan harga per saham 2.757 rupiah. Nilainya sekitar  661,2 miliar rupiah. Jumlah tersebut setara dengan kepemilikan 5% saham.

“Harga per lembar saham berdasarkan trailing market price di selang waktu sebelum penutupan proses penjualan. Ini sesuai dengan aturan bursa,” jelasnya.

Selain itu, perseroan akan mencairkan pinjaman bank senilai  250 juta dollar AS dari alokasi  2 miliar dollar AS dengan opsi penambahan (greenshoe) sebesar  75  juta dollar AS guna menutup kekurangan transaksi pembelian.

Untuk diketahui, Tower Bersama memiliki pinjaman sindikasi senilai US$ 2 miliar dari 11 bank dalam negeri dan asing.

Agar pinjaman cair, perseroan wajib memenuhi persyaratan antara lain rasio net senior debt terhadap Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) maksimal 4,5 kali. Net debt terhadap EBITDA tidak melebihi 5 kali. Dan loan to value ratio maksmilam 80%.

Perseroan telah mencairkan pinjaman tersebut sebanyak tiga kali pada 2010 dan 2011 senilai  550 juta dollar AS.

Pembelian menara Indosat dilakukan oleh  anak usaha TBIG, PT Solusi Menara Indonesia (SMI) seharga 518,5 juta dollar AS.

Dari nilai tersebut, sekitar  406 juta dollar AS merupakan harga pembelian menara telekomunikasi termasuk pengambilalihan hak dan kewajiban Indosat berdasarkan kontrak sewa menyewa tempat pada menara telekomunikasi tersebut. Sementara sebesar 112,5 juta dollar AS merupakan klaim kontijen jika tercapai kondisi dan persyaratan seperti tertera dalam asset purchase management.

SMI akan melakukan pembayaran atas   406 juta dollar AS dengan menebitkan surat utang (promissory notes) senilai  661,2 miliar rupiah. TBIG  akan mengambil alih kewajiban SMI tersebut (Rp 661,2 miliar) dengan menebitkan surat utang wajib konversi yang akan dilego ke Indosat.

Pada saat bersamaan, Indosat akan menukarkan surat utang wajib konversi tersebut dengan jumlah saham 239,8 juta saham. Tower Bersama akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement.

Lebih lanjut Herman mengungkapkan, perseroan  tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham karena ingin fokus pada ekspansi usaha.

Dijelaskannya,   perseroan masih membutuhkan dana untuk terus mengembangkan core bisnis yaitu operator menara seluler. Dengan fokus pada pengembangan modal usaha, diharapkan dapat mencapai pertumbuhan yang optimal.

Menurutnya,  pembelian menara diharapkan dapat mendongkrak kinerja mengingat berada di lokasi-lokasi strategis. “Kami optimis ke depan mampu menarik lebih banyak tenant untuk memanfaatkan fasilitas menara tersebut,” katanya.

Berdasarkan catatan, selama 2011 perseroan mencatat laba bersih mencapai  474 miliar rupiah dengan pendapatan sebesar 970 miliar rupiah.

Hingga kuartal I-2012, Tower Bersama membukukan pendapatan sebesar 310 miliar rupiah  dan EBITDA mencapai  245 miliar rupiah. Perolehan ini masing-masing tumbuh 45 persen dan 47 persen dibandingkan kuartal pertama 2011.[dni]