XL Belum Akan Lepas Menara

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) mengaku belum menadapatkan proposal yang menarik dari pihak-pihak yang ingin membeli menaranya sehingga tidak ingin   terburu-buru menjual 8 ribu aset yang dimilikinya itu.

“Hingga saat ini belum ada proposal yang masuk dan menarik untuk dibahas. Karena itu kami memutuskan tidak mau terburu-buru menjual menara,” ungkap Chief Operating Officer XL, Willem Lucas Timmermans di Jakarta, Senin (2/4).

Dijelaskannya, jika pun perseroan akan melepas menara yang dimilikinya pihak yang dicari adalah  pembeli berkualitas. Harapannya   mendapatkan harga yang tinggi disertai service berkualitas mengingat aset tersebut nantinya akan disewa kembali.

Diungkapkannya, selama ini  dalam  proses penjualan menara selama ini XL menemukan harga dipasang tinggi, tetapi kualitas tidak linear atau kualitas tinggi, tetapi tidak diiringi oleh harga yang memuaskan.

Sebelumnya, pada awal tahun 2012 tiga emiten yang bergerak di bisnis penyedia menara dikabarkan tengah mengincar menara milik  XL. Ketiga perusahaan itu adalah  PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Adapun nilai aset yang dilepas berkisar berkisar  14 triliun –  15 triliun rupiah untuk sebanyak  8.000 menara.

Untuk diketahui, pada 2008 XL juga pernah berkeinginan menjual menara miliknya tetapi tersandung krisis ekonomi global yang menghantam nilai tukar rupiah dan kemampuan membeli perusahaan penawar. Kala itu, Moratel telah keluar menjadi pemenang untuk aset yang ditawarkan.

Kerjasama Jaringan

Lebih lanjut Wim mengungkapkan, perseroan tengah melakukan kerjasama berbagi jaringan aktif dengan PT Hutchinson CP Telecom (HCPT) untuk menekan biaya investasi.

“Jaringan aktif yang dibagi penggunaanya adalah radio akses. Kita sedang uji coba penggunaan Multi Operartion Radio RAN dimana satu radio bisa digunakan dua operator,” ungkapnya.

Diharapkannya, dari uji coba tersebut dapat ditemukan hambatan dan keunggulan dari kerjasama yang akan dijalankan. “Kalau dari sisi teknis kabarnya ini bisa menghemat biaya hingga 40 persen,” katanya.

Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi  menegaskan, berbagi infrastruktur aktif seperti radio akses atau di tingkat transmisi itu tidak haram dan  sudah menjadi fenomena di luar negeri. “Tidak eranya lagi menutup infrastruktur aktif, lebih baik bersaing di produk dan layanan,” ungkapnya.

Diungkapkannya, fenomena berbagi infrastruktur sudah terjadi di Inggris antara operator T-Mobile dengan Three untuk mobile broadband dengan mengkonsolidasikan jaringan 3G milik keduanya sekitar 12.400 sites melalui pendirian Joint Ventures.

Aksi keduanya menjadikan mampu menawarkan layanan 3G terbaik di negeri itu dengan biaya termurah dan roll out jaringan lebih cepat. Dalam dua tahun bisa memiliki kapasitas 49 juta pelanggan yang normalnya itu dilakukan selama 5-6 tahun.

“XL sudah mulai melakukan berbagi infrastruktur ini. Resikonya di pasar terkadang yang menyewa jaringan menjadikannya sebagai gimmick pemasaran untuk mengklaim luasnya jangkuan layanan. Tetapi itu resiko dan tantangan dari konsep ini,” katanya.

Sebelumnya, XL melakukan kerjasama domestik roaming dengan PT Axis Telekom Indonesia (Axis) untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s