Merpati Siapkan Jalan Menuju Privatisasi

JAKARTA–PT Merpati Nusantara Airlines (Merpati) tengah menyiapkan rencana bisnis untuk bisa privatisasi pada 2018 nanti.

“Kita sudah siapkan rencana bisnis sejak dua tahun lalu. Dari 2010 hingga 2018 itu ada tahapannya yang akan dijalani perseroan menuju privatisasi,” ungkap Direktur Utama  Merpati Nusantara Sardjono Jhony Tjitrokusumo di Jakarta, Kamis (8/3).

Diungkapkannya, pada periode 2010-2011 adalah masa bertahan alias survival. Pada 2012 adalah masa revitalisasi, mulai dari pesawat, fleet, hingga restrukturisasi organisasi.

Tahun berikutnya (2013-2014) adalah reposisi di pasar. Sedangkan pada 2015-2016 masa perseroan mengalami keuntungan (profitisasi). “Pada 2018, kita siap privatisasi. Skemanya banyak, bisa penawaran saham perdana, mendapatkan investor strategis, atau lainnya. Strategi privatisasi itu ada banyak,” jelasnya.

Diungkapkannya, berkaca pada kinerja tahun lalu perseroan masih mengalami kerugian yakni sekitar 400 miliar rupiah karena dampak harga avtur dan beban bunga. Padahal, maskapai pelat merah ini berhasil meraih omset sebesar 1,6 triliun rupiah dengan mengangkut sekitar 2,5 juta penumpang.

Berdasarkan catatan,  Merpati mempunyai beban utang sebesar  3,4 triliun rupiah. Terdiri dari 3,4 triliun utang dalam bentuk Subsidiary Loan Agreement (SLA) kepada pemerintah dan  2 triliun rupiah  berupa utang kepada sejumlah BUMN dan pihak pemberi pinjaman lainnya.

Pada tahun ini Merpati akan mendapatkan dana dari pemerintah sebesar 296,47 miliar rupiah berupa Penyertaan Modal Negara (PMN).

Tahun lalu pemerintah mencairkan dana penyertaan modal negara kepada Merpati sebesar  561 miliar rupiah.

Dana itu digunakan untuk membayar utang kepada Pertamina atas pemakaian bahan bakar avtur dan merevitalisasi armada.

Dana subsidi tahun ini akan dipergunakan untuk subsidi operasi sebesar  279,19 miliar rupiah  dan subisidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar  17,27 miliar rupiah.

“Kami juga tetap mengembangkan Merpati Maintenance Facilities (MMF) dengan menanamkan investasi sebesar 12 miliar rupiah. Ada 3 pihak asing yang diajak bekerjasama mengembangkan MMF yakni Sandong,  Xian Taico, dan Aero turbin. Kontribusi MMF masih kecil bagi omset perseroan, tetapi memiliki klien yang menjanjikan seperti angkatan udara Indonesia dan maskapai dari Pakistan,” jelasnya.

Fokus Sub 100

Lebih lanjut dijelaskannya, melihat tren perkembangan industri penerbangan tanah air dimana landasan pacu dengan panjang 1.400 meter akan terus diperluas yang berdampak tertekannya pasar pesawat dengan kursi dibawah 50 atau 20 unit, maka perseroan akan lebih fokus di segmen Sub 100 seater.

“Kita putuskan fokus di Sub-100 seater karena secara alami pesawat tipe propeller akan tergusur ke area yang lebih terpencil. Karena itu kita mulai dengan membeli 40 pesawat jet ARJ 21-700 berkapasitas 100 tempat duduk buatan China senilai total 1,2 miliar dollar AS,” katanya.

Ditegaskannya, langkah yang diambil oleh perseroan sudah tepat dan tidak ragu jika nantinya berhadapan dengan Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, atau Lion Air di segmen tersebut.

“Kala 2010 kita ada 3 strategi yang ditawarkan ke pemerintah agar bertahan. Survival of the fit, competition in harmony, atau merger. Melihat kenyataan, berkompetisi tidak bisa secara harmoni dengan Garuda, merger pun tak bisa dengan perusahaan seperti Batavia Air, tentu harus siap bersaing,” tegasnya.

Diungkapkannya, dalam menggarap pasar Sub-100 harus dipahami strategi yang digunakan oleh maskapai. Pertama, sebagai komplimen untuk mengisi frekuensi yang ada. Kedua, membuka pasar baru.

“Bagi Merpati Sub 100 adalah masa depannya untuk menghadapi era open sky 2015 nanti. Sebagai perusahaan Merpati masih menjanjikan karena selalu tumbuh 20 persen,” katanya.

Berdasarkan catatan, 40 pesawat ARJ milik Merpati  mulai datang pada 2013 sebanyak empat unit, sisanya akan datang bertahap hingga 2017.

Pada 2017, Merpati akan memiliki 75 unit pesawat. Pada saat ini Merpati. memiliki 35 pesawat, dan 25 diantaranya yang beroperasi.

Adapun pesawat-pesawat yang beroperasi tersebut yakni Boeing 737 series lima unit, Twin Otter (5), Cassa (2), Fokker 100 (1), B 737-200 (1), dan MA 60 (11).

Belum lama ini PT Garuda Indonesia (persero) Tbk (GIAA)   mengeluarkan dana sekitar dua miliar dollar AS demi mendatangkan sekitar 36 unit armada CRJ 1000 NextGen besutan  Bombardier Aerospace,  Kanada, untuk menggarap segmen penumpang Sub-100 dan memperkuat posisi di pasar regional dan domestik.

Sementara Lion Air mengikat kerjasama dengan pabrikan ATR asal Prancis senilai 610 juta dollar AS untuk  membeli 27 pesawat ATR 72-600s. Sebelumnya  maskapai ini  sudah memborong 33 ATR, sehingga genap menjadi 60 unit hingga akhir 2014.

Pada tahun lalu,  Sriwijaya Air, secara resmi memesan 20 pesawat jet Embraer 190 (E 190) dengan hak untuk pembelian lebih dari 10 unit. Nilai total dari perjanjian kesepakatan sesuai daftar harga adalah sebesar 856 juta dollar AS.  Jika semua hak atas pembelian tersebut direalisasikan akan mencapai 1,28 miliar dollar AS.[Dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s