Menyoal Konsolidasi Ala BTEL-STI

Konsolidasi antar sesama pemain  kembali terjadi di industri telekomunikasi Indonesia. Kali ini melibatkan pemain kedua terbesar di pasar Code Division Multiple Access (CDMA), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan peringkat terbawah di klasemen PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI).

Kedua perusahaan telah  menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement/CSPA (CSPA) pada 13 Maret 2012. STI merupakan operator CDMA dengan merek dagang Ceria yang dimiliki oleh Sampoerna Strategic dan Polaris, sementara BTEL   dengan produknya, Esia, merupakan perusahaan publik yang sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.

Kedua perusahaan berencana melakukan  merjer  dengan melakukan tukar guling saham atau share swap di antara keduanya. Kedua perusahaan juga akan mengintegrasikan operasi bisnis di bawah satu manajemen BTEL. Tujuannya untuk penetrasi layanan seluler dan memanfaatkan pertumbuhan bisnis telekomunikasi.

Hal yang menarik disimak adalah dari mana dana BTEL untuk bisa mengakuisisi STI? Bukankah perseroan sedang tertekan harus membayar hutang? Bahkan, belum lama ini tiga lembaga pemerintah kompak menurunkan peringkat BTEL dan peringkat utang BTEL.

Fitch Ratings menurunkan peringkat utang (downgrade)  BTEL menjadi CCC dari sebelumnya B. Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) juga menurunkan peringkat obligasi I-2007  BTEL menjadi idBBB- dari sebelumnya idBBB+.

Ini dia jawabannya, BTEL   akan melakukan dua aksi koporasi. Pertama, melakukan non-preemptive rights (NPR) atau Penerbitan Saham Baru Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Non-HMETD) maksimal 10 persen dari total saham  900 miliar rupiah. Dengan jumlah saham Bakrie Telecom saat ini tercatat 28,48 miliar lembar, penerbitan saham baru maksimal 2,85 miliar saham.

Kedua, BTEL berusaha memperoleh pinjaman bank sebesar  500 miliar rupiah   sehingga total target perolehan dana BTEL  1,4 triliun rupiah.

Wow, jika ini terealisasi maka sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui oleh BTEL.  Dana dari non-preemptive rights itu akan digunakan untuk melunasi surat utang senilai 650 miliar rupiah. Sisa dana akan dibelanjakan untuk ekspansi bisnis layanan suara, data, dan membayar vendor-vendor.

Belum lagi sinyal yang dilontarkan Presiden Direktur Bakrie Telecom  Anindya N Bakrie dalam kurun waktu tiga tahun ke depan jika negosiasi selama perjanjian jual beli bersyarat  berjalan mulus akan mengambil 100 persen saham STI, dan sebagai imbalannya, Sampoerna Strategic akan menjadi pemegang saham BTEL yang cukup berarti.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menilai aksi  BTEL menjual 10 persen sahamnya kepada  STI dapat membawa angin segar bagi BTEL.

“Untuk jangka pendek, BTEL jadi punya sources  melunasi utang yang jatuh tempo pada September mendatang,” ungkap Associate Director, Fitch Ratings Any Sirapurna Putri.

Sementara Analis Indosurya Securities Reza Priambada mengatakan, pelaku pasar masih mencermati bagaimana skema transaksi ini. Pasalnya transaksi ini memang tidak mudah dicerna.

“Hal yang menarik dicermati  bagaimana sebenarnya skema ini akan dilakukan. Itu yang ditunggu oleh pelaku pasar,” jelas Reza.

Menurutnya,  langkah penerbitan saham baru melalui private placement menjadi   pemicu tekanan atas salah satu saham Grup Bakrie ini. “Otomatis, karena dia menerbitkan saham baru, maka porsi kepemilikan pemegang saham (publik) akan mengalami dilusi. Ini juga akan menjadi pertimbangan pelaku pasar,” jelasnya.

Sementara Pengamat telematika Ruby Hermanto mengatakan, aksi yang dilakukan kedua operator lumayan menarik, terutama untuk BTEL yang akan lebih leluasa bermain di jasa data.

”Frekuensi 450 MHz yang dimiliki STI itu memiliki jangkauan yang luas dan membutuhkan belanja modal yang murah untuk pengembangannya. Kelemahannya frekuensinya agak kotor, tetapi itu tidak masalah jika hanya untuk bermain data karena beda di suara, jika ada sesi putus tak begitu terasa,” jelasnya.

Diungkapkannya, di luar negeri ada operator yang sukses dengan frekuensi 450 MHz yakni di Rumania yang mengembangkan jasa data berbasis sumber daya alam terbatas itu. ”Memang secara cost device agak mahal karena skala ekonominya kecil. Tetapi itu akan tertutup oleh belanja modal dan operasi yang lebih kecil untuk belanja BTS,” katanya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s