Indosat Bidik Pertumbuhan di Atas Industri

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) membidik pertumbuhan omset selulernya di atas industri pada 2011 melalui sejumlah produk baru yang diluncurkan sejak awal tahun.

“Para analis memprediksi pertumbuhan omset seluler sekitar 6-7 persen. Kami mengincar di atas angka itu. Kalau bisa mencapai dobel digit,” ungkap Group Head Segment Management Indosat Insan Prakarsa di Jakarta, Senin (19/3).

Diungkapkannya, perseroan tidak lagi mengutamakan mencari jumlah pelanggan pada tahun ini tetapi meningkatkan produktivitas pelanggan yang ada.

“Kita melihat potensi itu ada di segmen pekerja dan anak muda. Pasalnya, 30 persen pengguna ponsel itu pekerja dan 25 persen pelajar,” katanya.

Segmen lainnya yang mau digarap adalah pengguna internet dimana 61 persen akses dilakukan melalui ponsel dan 89 persen social media diakses juga melalui ponsel.

“Karena itu kami mengeluarkan produk Indosat Mobile yang menyasar para pekerja dan pelajar,” jelasnya.

Berdasarkan catatan,  bisnis seluler Indosat  dengan 51,7 juta pelanggan  membukukan omset 16.750,9 triliun rupiah  pada 2011 atau naik 4,5 persen dibandingkan 2010 sebesar   16.027 triliun rupiah. Sedangkan nilai bisnis industri seluler pada 2011 diperkirakan mencapai 119 triliun rupiah.

Bayar Hutang

Pada kesempatan sama, Group Head Corporate Communication Indosat Djarot Handoko mengungkapkan pada tahun ini perseroan akan membayar beberapa hutang yang jatuh tempo.

Pada tahun ini perseroan  tercatat memiliki hutang dengan nilai141,2 juta dollar AS  atau 1,29 triliun rupiah  yang akan jatuh tempo tahun ini dan 2,06 triliun rupiah  yang akan akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan.

“Kami akan melunasi hutang yang berbunga tinggi terlebih dahulu,” katanya.

Pada 2011 perseroan  mengalami penurunan total hutang sebesar  2,7 persen menjadi   23.405,9 triliun rupiah dengan rating perusahaan tetap stabil.

Indosat mengurangi total hutang sebesar 2,7 persen  setelah membayar hutang jatuh tempo selama tahun 2011 sebagai berikut: Obligasi Indosat IV sebesar 815,0 miliar rupiah. Obligasi Syariah Ijarah I sebesar  285,0 miliar rupiah.

Pinjaman Sindikasi US$ sebesar 220,5 juta dollar AS. cicilan Pinjaman SEK Tranche A, B dan C sebesar  45,0 juta dollar AS . HSBC Coface dan Sinosure sebesar  20,1 juta dollar AS .

Pinjaman Komersial 9 tahun dari HSBC sebesar  2,7 juta dollar AS   dan pinjaman Kredit Ekspor FEC sebesar  3,8 juta dollar AS.

Pinjaman BCA dan Mandiri sebesar  600,0 miliar rupiah  dan fasilitas Kredit Niaga sebesar  34,9 miliar rupiah.[Dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s