Emiten Media Investasi US$ 6 juta Kembangkan Bisnis Konten TV Berbayar

JAKARTA—PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) akan membuat anak usaha yang bergerak di bisnis konten olahraga untuk dijual ke penyelenggara TV berbayar di Indonesia.

“Kita akan membuat saluran untuk TV berbayar. Anak usaha itu namanya SportOne. Rencananya bisa operasional tahun ini atau paling lambat kuartal pertama 2012. Kita investasi sekitar 6 juta dollar AS untuk infrastrukturnya,” ungkap Presiden Direktur VIVA, Erick Thohir di Jakarta, usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Viva di Jakarta, Selasa (20/3).

Diungkapkannya, anak usaha yang baru dibentuk itu akan fokus menjual konten olahraga ke para penyelenggara TV berbayar di Indonesia. “Penetrasi TV berbayar di Indonesia masih rendah. Pemain besarnya  cuma ada dua. Kita akan tawarkan konten ke semua penyelenggara. Model bisnisnya dari berlangganan konten dan iklan,” jelasnya.

Dikatakannya, saat ini perseroan melalui stasiun TV ANTV juga sedang terlibat negosiasi dengan penyedia konten untuk membeli hak siar olahrga dan hiburan.

“Kita sedang melakukan penawaran untuk konten  bola yang rencananya baru minggu depan.  Konten ini sifatnya multiyears. Sedangkan untuk konten hiburan isinya film-film. Dalam waktu tiga bulan lagi akan diumumkan hasil negosiasinya.   Dananya dari  Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA), laba bersih, dan Initial Public Offering (IPO) tahun lalu,” jelasnya.

Dikatakannya, aksi lain dari perusahaan pada tahun ini adalah meluncurkan portal Viva Sport dan Viva Life. Viva Sport membidik segmen komunitas olahraga sedangkan Viva Life lebih ke segmen wanita. “Sebagai pemain di tiga media (Internet, Mobile, dan Televisi) kami harus memperkaya konten yang dimiliki agar pengguna senang mengakses atau melihat,” jelasnya.

Ubah Penggunaan

Erick menjelaskan, agresifnya perseroan pada tahun ini menjadikan perlu diubah penggunaan dana hasil penawaran umum pada tahun lalu melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Direktur Keuangan VIVA Charlie Kasim mengungkapkan,  perseroan menganggarkan belanja modal sebesar 400 miliar rupiah pada 2012. “Tetapi ini dapat meningkat  meningkat, tergantung hasil pembelian konten olahraga, hak siar olahraga, dan konten  premium entertainment untuk ANTV,” katanya.

Dijelaskannya, perseroan akan menggunakan 20 persen  dana hasil  IPO untuk membayar sebagian utang ke Credit Suisse. Utang tersebut akan dicicil dua kali.

Awalnya penggunaan dana IPO sebesar  40 persen atau sekitar 185,86 miliar rupiah  digunakan langsung untuk membayar utang ke Credit Suisse yang akan dibayarkan tujuh hari setelah pencatatan. Tapi, akhirnya sepakat untuk membayar 92,9 miliar rupiah atau 20 persen dana IPO terlebih dahulu.

“Mengubah jadwal pembayaran ini lebih bagus bagi perusahaan. Karena pembayaran tidak langsung,” jelas Erick.

Sementara sisanya, sebesar 92,9 miliar rupiah  akan dilunasi induk tiga media elektronik ini dalam jangka waktu sembilan bulan setelah pembayaran pertama tersebut.   Sementara total utang Viva diperkirakan  mencapai 464,6 miliar rupiah.

Charlie mengungkapkan,  negosiasi penjadwalan pembayaran utang tersebut dilaksanakan satu bulan setelah IPO. Sisa utang sebesar 20 persen atau 92,931 miliar rupiah dialokasikan untuk deposit bidding hak siar sepakbola.

Menurutnya,  utang jatuh tempo VIVA tahun ini mencapai 47 juta dollar AS dari Credit Suisse, yang akan dibayarkan kembali dengan mencari pinjaman dari bank atau penerbitan obligasi. “Kita cari bunga yang lebih murah. Bunga pinjaman dari Credit Suisse sendiri 7,5 persen plus labor,” jelas Charlie.

Diungkapkan  Charlie   beban utang VIVA mencapai 20 persen dari pendapatan. Untuk itu, VIVA berencana mengurangi beban utang pada tahun ini menjadi 15 persen.

Berkaitan dengan kinerja perseroan pada 2011, Erick mengungkapkan omset mencapai satu triliun rupiah atau tumbuh 13 persen dibandingkan 2010. Sementara EBITDA 2011 sebesar 240 miliar rupiah atau naik 70 persen dibandingkan 2010, dan laba bersih sekitar 30 miliar rupiah atau naik 700 persen dibandingkan 2010.

“Tetapi itu semua unaudited. Nanti secara resmi kita umumkan angka tepatnya. Tahun ini kita harapkan bisa tumbuh omset di atas Advertising Expenditure (ADex) yakni 12 persen,” katanya.

Analis dari Indosurya Asset Management Reza Priyambada menilai aksi perubahan alokasi penggunaan dana IPO memberikan dampak positif dan negative bagi perseroan. Dampak positif karena penggunaan untuk mengembangkan konten akan bisa meningkatkan pangsa pasar.

Dampak negatif pengunduran pembayaran hutang menjadikan beban hutang yang ditanggung perseroan bertambah.

“Saham Viva dibandingkan dengan kompetitornya kurang seksi untuk dikoleksi sekarang karena bergerak stagnan dan masa pengembalian keuntungan masih panjang,” jelasnya.

Hingga Selasa (20/3) sore harga saham Viva stagnan di 510 rupiah dengan kapitalisasi pasar  7.886,7 triliun rupiah. [dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s