BTEL Optimistis Right Issue akan Diminati Pasar

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) optimistis langkah menerbitkan 2,84 miliar saham baru yang setara dengan 10% dari modal disetor perusahaan akan diminati oleh pasar nantinya. Right issue tersebut akan diterbitkan dengan skema tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD).

“Kita optimistis dengan langkah ini. Kita tetapkan harga saham ditawarkan minimum sebesar  265 rupiah per saham. Harga itu melihat 25 hari pergerakan selama ini di pasar,” ungkap Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi di Jakarta, Selasa (27/3)

Dalam prospektus yang diberikan perusahaan pada Selasa (27/3) disebutkan bahwa harga right issue yang ditawarkan adalah  265 rupiah per saham.  Jika semua saham itu terserap, pemilik merek dagang Esia itu  akan mendapatkan dana segar sebesar  754,78 miliar rupiah.

Rencananya dana tersebut akan digunakan untuk membayar sebagai utang, melakukan pembelian 35% saham operator CDMA milik PT Sampoerna Telekom Indonesia (STI) dengan skema pertukaran saham. Dan sisanya akan digunakan untuk modal kerja.

Utang anak usaha Grup Bakrie yang akan jatuh tempo tahun ini pun diperkirakan mencapai 650 miliar rupiah. Angka tersebut berasal dari obligasi BTEL yang akan jatuh tempo 4 September mendatang.

Untuk menggelar right issue, BTEL akan menyelenggarakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 19 April mendatang. “Untuk jadwal dan detailnya setelah RUPSLB. Masalah pembayaran hutang, kita juga ada kombinasi pinjaman dari Bank. Jadi itu bisa diatasi pembayarannya,” tegasnya.

Sebelumnya, BTEL dan STI  telah  menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement/CSPA (CSPA) pada 13 Maret 2012. STI merupakan operator CDMA dengan merek dagang Ceria yang dimiliki oleh Sampoerna Strategic dan Polaris, sementara BTEL   dengan produknya, Esia, merupakan perusahaan publik yang sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.

Ceria diperkirakan menguasai 0,1% pangsa pasar seluler dan menguasai sekitar 10 MHz frekuensi di 450 MHz. Sementara esia menguasai frekuensi sebesar 5 MHz di 800 MHz dengan pangsa pasar sekitar 5,3%.

Kedua perusahaan berencana melakukan  merjer  dengan melakukan tukar guling saham atau share swap di antara keduanya. Kedua perusahaan juga akan mengintegrasikan operasi bisnis di bawah satu manajemen BTEL. Tujuannya untuk penetrasi layanan seluler dan memanfaatkan pertumbuhan bisnis telekomunikasi.

BTEL menganggarkan dana untuk tukar guling saham STI dari perolehan penawaran saham dan pinjaman bank.

BTEL   akan melakukan dua aksi koporasi. Pertama, melakukan non-preemptive rights (NPR) atau Penerbitan Saham Baru Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Non-HMETD) maksimal 10 persen dari total saham  900 miliar rupiah. Dengan jumlah saham Bakrie Telecom saat ini tercatat 28,48 miliar lembar, penerbitan saham baru maksimal 2,85 miliar saham.

Kedua, BTEL berusaha memperoleh pinjaman bank sebesar Rp 500 miliar   sehingga total target perolehan dana BTEL  1,4 triliun rupiah.

Jika itu terealisasi,   total target perolehan dana BTEL  1,4 triliun rupiah. Dana dari non-preemptive rights itu akan digunakan untuk melunasi surat utang senilai  650 miliar rupiah. Obligasi tersebut bakal jatuh tempo enam bulan lagi atau pada September 2012 mendatang. Kebutuhan lainnya, BTEL akan membelanjakan untuk ekspansi bisnis layanan suara, data, dan membayar vendor-vendor.

Presiden Direktur Bakrie Telecom  Anindya N Bakrie kala itu  mengungkapkan, dalam kurun waktu tiga tahun ke depan jika negosiasi selama perjanjian jual beli bersyarat  berjalan mulus.

“Dalam tiga tahun ke depan  BTEL  akan mengambil 100 persen saham STI, dan sebagai imbalannya, Sampoerna Strategic akan menjadi pemegang saham BTEL yang cukup berarti,” ungkapnya.

Analis dari Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengungkapkan, jikao harga saham yang ditawarkan kala right  issue di atas harga pasar kemungkinan besar sudah ada pembeli siaga yang siap menyerap saham baru itu.

“Harga saham BTEL sekitar 245 rupiah, jika mau membidik investor retail, tentu akan dilepas di harga di  bawah harga pasar. Ini kemungkinan sudah ada standing buyer untuk menyerap right issue tersebut,” katanya.

Pada perdagangan Selasa (27/3) saham BTEL ditutup 245 rupiah dengan volume perdagangan 2.082.500 lembar saham.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s