Bisnis Menara Masih Menjanjikan

JAKARTA—Bisnis penyediaan menara telekomunikasi diyakini masih menjanjikan hingga 10 tahun mendatang walau pertumbuhan industri seluler memasuki masa saturasi.

“Di Indonesia bisnis penyediaan menara itu masih menjanjikan hingga 10 tahun mendatang. Walaupun tahun ini pertumbuhan industri telekomunikasi di kisaran 7 persen, tetapi kebutuhan menara tetap tinggi,” ungkap Praktisi telematika Teguh Prasetya di Jakarta, Rabu (7/3).

Dijelaskannya, untuk peluang penyewa menara bisa datang dari pemain Broadband Wireless Access (BWA) yang akan komersial tak lama lagi, serta ekspansi operator GSM atau CDMA ke area baru. “Tetapi untuk pendirian menara baru di kota-kota besar akan berat. Pasalnya, aturan mulai ketat dan tren teknologi menggunakan Pico Cell, bukan radio besar yang membutuhkan menara,” katanya.

Diungkapkannya, tantangan lain yang akan dihadapi para pemain di penyedia menara adalah tren penggunaan serat optik di masa depan untuk transmisi. “Sekarang mulai banyak yang bangun serat optik di dalam kota besar. Ini untuk mengakali sewa penempatan repeater yang mahal di atas gedung. Para pemain bisnis menara harus mulai diversikasi ke sewa serat optic dengan mengajukan lisensi jaringan tertutup,” katanya.

Berdasarkan catatan Asosiasi Penyedia Menara Telekomunikasi (Aspimtel) saat ini diperkirakan ada  45.000 menara yang berdiri di tanah air. Sebanyak  13 persen diantaranya disediakan oleh pemain lokal. Pada tahun ini  nilai bisnis sub sektor ini diperkiaran  bisa mencapai  40 triliun rupiah.

Secara terpisah CEO Tower Bersama Infrastructure Group Tbk (TBIG) Hardi Wijaya Liong mengungkapkan, perseroan pada 2011 berhasil membukukan pendapatan konsolidasian sebesar  970 miliar rupiah   atau meningkat 45 persen dibandingkan 2010.

Sedangkan Laba konsolidasian sebelum bunga, pajak dan penyusutan (EBITDA) pada periode yang sama adalah  764 miliar rupiah meningkat 49 persen  dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Rasio EBITDA konsolidasian dibandingkan pendapatan juga meningkat dari sebelumnya 76,4 persen  menjadi 78,8 persen  pada tahun 2011.

Jika hasil Q4 2011 disetahunkan, maka pendapatan dan EBITDA masing – masing adalah  1.124 triliun rupiah  dan  889 miliar rupiah.

Per tanggal 31 Desember 2011, pinjaman  perseroan sebesar  3.611 triliun rupiah   dan saldo kas sebesar 613 miliar rupiah, sehingga dengan demikian menjadikan rasio pinjaman bersih Perseroan

terhadap EBITDA Q4 2011 yang disetahunkan sebesar 3.4x.

Pada tanggal 1 Januari 2011, TBIG memiliki 4.729 penyewaan. Hingga 31 Desember 2011, TBIG memiliki 7.002 penyewaan, meningkat 48 persen selama tahun 2011.

“Kami senang dapat mencatat pertumbuhan usaha, pendapatan dan marjin keuntungan yang mengesankan sepanjang 2011. Keberhasilan perseroan mencapai pertumbuhan organik

dengan membangun lebih dari 1.100 menara (dengan 1.600 penyewaan) diluar pertumbuhan dari akuisisi MSI dan pertumbuhan yang akan diperoleh dari transaksi dengan Indosat,” katanya.

Dijelaskannya, perseroan mengalami pertumbuhan sekitar 2.300 penyewaan, dibandingkan dengan

perkiraan pertumbuhan antara 1.600 sampai 2.000 penyewaan.

Sebelumnya, Moody’s Investors Service menempatkan prospek peringkat B2 TBIG   dalam perhatian dan berpotensi diturunkan. Hal ini  berkaitan dengan transaksi pembelian 2.500 menara dari Indosat .

Nilai dari transaksi tersebut  406 juta dollar AS, yang dari jumlah tersebut sejumlah 350 juta dollar AS akan dibayarkan tunai dan sisanya dibayar menggunakan 5% saham baru TBIG.

Moody’s  memperhatikan rencana pendanaan akuisisi itu karena jumlahnya akan substansial dalam memperberat metrik rasio utang Tower Bersama (leverage).

Akuisisi dengan jumlah menara terbanyak itu, lanjutnya, akan diikuti dengan pertanyaan seputar kemampuan emiten untuk mengintegrasikan dan sukses mangelola aset seiring dengan pertumbuhan rasio penyewaan.

Tingginya arus kas yang berada di sekitar akuisisi itu, pertumbuhan yang diharapkan dari tambahan menara dan kemampuan untuk mengeksekusinya, membuat Moody’s menilai penurunan peringkat Tower Bersama tidak hanya akan terjadi untuk satu level, tergantung dari sifat pendanaan, akan memengaruhi peringkat Ba2.

Sementara itu, hingga perdagangan Rabu (7/3) saham TBIG bermain di kisaran tertinggi 2775 rupiah dan terendah 2700 rupiah dengan volume saham diperjualbelikan 6.228.000 lembar. Nilai pasar dari TBIG diperkirakan mencapai 12,42 triliun rupiah.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s